NovelToon NovelToon

Papaku Kaya Dengan Sistem

1

Melihat Arka yang tertidur pulas, hati Arhan terasa sakit. Dulunya, anak itu masih bisa tidur dengan nyenyak di atas kasur, tapi perceraiannya dengan Gina beberapa bulan yang lalu membuat putra kecilnya itu harus ikut susah bersamanya.

Cerita itu berputar kembali di ingatan Arhan, tepatnya 6 bulan yang lalu yang sangat menyakitkan.

Saat itu rumah mereka terbakarnya hebat, Arhan  menolong istri dan anaknya, ia rela terbakar hingga membuat ia menjadi pria buruk rupa, luka bakar di tubuhnya hampir 40 persen. Bahkan wajahnya, menghitam karena bekas bakar itu. 

Arka juga mengalami luka bakar di kakinya sejak kebakaran itu, karena sebelum diselamatkan, Arka sempat tertimpa oleh kayu yang terbakar membuat kakinya pincang, sementara Gina hanya mengalami luka bakar di tangannya dan itu telah sembuh. Sayangnya setelah kejadian itu, Gina berubah.

"Aku tidak mau hidup dengan pria buruk rupa dan anak yang cacat, hidup ku benar-benar hancur! Aku lebih baik pergi saja!" Kata Gina memilih untuk meninggalkan mereka. 

Gina datang bersama mertuanya dengan keras meminta ia menandatangani surat cerai itu, mertuanya tidak sudi memiliki menantu miskin seperti dirinya, dan yang ternyata, mantan istrinya itu juga telah menjalin kasih dengan rekan kerjanya di sebuah perusahaan.

Hancur hatinya setelah mengetahui hal itu, padahal selama ini, dengan hasil uang kerja ia sebagai tukang panggul yang berhasil membangun rumah impian yang pada akhirnya terbakar.

Dan bahkan rela meninggalkan putra kecil yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

"Maafkan Papa ya, Nak. Kamu ikut menderita bersama Papa," Arhan mengusap rambut Arka dengan pedih sebelum bangkit mencari selimut dari dalam lemari

"Papa janji akan bahagiain kamu.”

Tak terasa malam telah tiba, Arka terbangun, malam ini terasa berbeda seperti biasanya, rasanya sepi, tanpa tawa, tanpa canda, kebahagiaan itu telah lenyap meninggalkan mereka berdua.

"Papa, Arka  lapar, “ Ucap Arka sambil mengucek mata dengan tangan mungilnya itu. 

"Ya udah, ayo kita pergi, Papa punya uang sedikit, cukup untuk membeli makanan malam ini," Kata Arhan, ia mengambil jaket yang sedikit tebal untuk Arka, agar Arka tidak masuk angin.

Arhan  pun menggendong Arka di punggungnya, mereka pun  menyusuri di pinggir jalan untuk mencari makan, Arhan juga ingin mengajaknya berjalan agar putranya tidak sedih lagi, ini juga agar anaknya tidak ingat lagi dengan ibunya.

Di perjalanan, Arhan mengajak Arka mengobrol.

"Arka, lihat bintang kecil itu, ada berapa semuanya?" tanya Arhan menunjuk ke langit.

Arka melihat ke atas dan mencoba menghitungnya.

"Banyak." jawabannya singkat membuat Arhan tertawa kecil.

"Coba hitung lagi," ucapnya lagi.

"Banyak," jawab Arka dengan nada yang sama. 

Arhan tertawa lagi, setidaknya ini satu-satunya cara ia untuk menghibur anaknya.

"Di mana ya kita cari makan?" tanya Arhan bingung mereka harus membeli makanan di mana. Seketika, Arka langsung memberontak di gendongan Arhan. 

"Ada apa Arka?" tanya Arhan panik, di saat Arka berhasil turun ke bawah, Arka langsung lari. 

"Mama! Mama!" teriak Arka.

Ia melihat ibunya bersama seorang laki-laki yang ingin meninggalkan restoran di seberang jalan.

"Arka, jangan ke sana!" teriak Arhan panik.

"Mama! Mamaaaa!" teriak Arka yang berlari ke tengah jalan yang sama di lalui oleh pengendara.

Tapi Gina telah masuk ke dalam mobil bersama calon suaminya sambil tertawa bahagia.

Gina tidak menyadari jika ada yang memanggilnya, karena di pusat kota itu sangat bising dengan suara kendaraan, perlahan-lahan mobil itu pun melaju di jalan raya.

"Mamaaaaaaaaaa!" teriak Arka melihat mobil itu pergi dan mencoba mengejarnya.

"Arka berhenti!" teriak Arhan dan Arka saling kejar mengejar, mobil banyak melintas, hingga akhirnya sebuah mobil yang melintas dengan cepat, karena mobil itu sedang balapan liar, Arhan langsung mendorong Arka ke pinggir jalan, sayangnya ia tertabrak.

 Mobil itu bukannya berhenti, malah tetap melaju dengan kecepatan penuh, sehingga menabrak Arhan dan kaki kiri Arhan hingga terdengar bunyi "krek".

Ia menjerit karena sakit, Arhan masih sempat sadar dan mengangkat tangan, meminta tolong dengan suaranya yang lemah.

Naasnya, mobil  kedua yang sedang balapan juga tidak melihatnya, mobil itu menabrak tubuhnya lagi, membuatnya terhempas ke aspal.

Lalu, mobil ketiga yang mengikuti jejak mereka juga menabrak badannya yang sudah tergeletak, membuat ia merasakan sakit luar biasa yang melampaui batas.

Di dalam mobil kedua, seorang pemuda berambut pirang yang memegang setir menoleh ke samping.

"Hey, kita menabrak orang!" kata temannya dari jendela mobil yang terbuka.

 "Biarin aja, bukan salah kita. Siapa suruh dia di tengah jalan!" jawabnya dengan nada yang tak peduli, mata tetap terpaku ke jalan depan, hanya ingin menang dalam balapan liar itu.

Semua mobil yang balap itu lalu melaju lagi, meninggalkan Arhan yang berlumuran darah di aspal.

Karena Arka tidak bisa mengejar ibunya, ia berbalik Bandan dan terkejut

"Papaaa! Papaaaa!" Cepat-cepat, Arka  mendekat, matanya membesar melihat darah yang menggenangi baju ayahnya.

Arhan berusaha dengan kekuatan untuk mengangkat tangannya, jari-jarinya yang berdarah memegang pipi Arka yang sudah penuh air mata.

 Bibirnya bergetar saat mengucapkan kata-kata terakhirnya.

"Maafkan Papa... Nak. Papa... tidak menepati janji Papa... untuk menjaga dan... membahagiakan mu... maafkan... Pa... pa. "

Setelah itu, tangan Arhan yang lemah jatuh perlahan ke aspal, tidak bergerak lagi.

"Papaaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin Arka! Papa! Bangun Papaaaaa! Bangun lah..." Teriak Arka terdengar pilu dan menyayat hati dan tubuh yang gemetar.

 Air matanya mengalir deras di pipinya, mengalir ke dagunya, jatuh ke tangan yang masih memegang baju Arhan yang berlumuran darah.

Arka mengoyang-goyangkan tubuh Arhan yang mulai dingin, tapi ayahnya hanya tergeletak diam, mata terpejam rapat, bibir yang dulu selalu tersenyum untuknya kini ada bercak darah.

"Papa... jangan... Arka masih butuh Papa... besok ulang tahun Arka loh... Papa janji mau beli kue..." teriaknya dengan suara keras

Mulutnya di telinga Arhan yang sudah tidak bisa mendengar lagi.

 Orang-orang yang melihat Arka  hanya berdiri di kejauhan, mereka tidak berani untuk mendekat.

Beberapa orang menyembunyikan wajah dengan tangan karena ketakutan melihat darah yang menggenang di aspal.

Beberapa orang yang lain hanya menghela napas dengan sedih, tapi tidak satu pun yang berani mendekati Arka yang sedang berteriak ke ayahnya yang telah tiada.

Arka lalu meletakkan wajahnya di dada Arhan mencium bau baju ayahnya, bau keringat yang biasa ia cium.

"Papa... Arka sudah membuat kartu ulang tahun untuk Papa... di rumah... tapi Papa tidak akan melihatnya lagi ya..." tangisannya makin keras, tubuhnya terbatuk karena menangis terlalu keras, tapi dia tidak mau melepaskan ayahnya.

Di malam yang dingin itu, dia hanya ingin tetap di sisi Papa, meskipun dia tahu, ayahnya tidak akan pernah bangun lagi.

*****

Memuat...

Loading...

Menemukan Tuan...

Memindai...

Pengenalan Tuan...

Memproses....

Selesai...

Mengscan tubuh Tuan...

Selesai.

Nama: Arhan Dewa Garino

Umur: 28 tahun.

Pekerjaan: Tukang panggul.

Jenis kelamin: Pria.

Status: Duda.

Memproses...

Selesai

Memperbaiki tubuh Tuan dan memberi kesadaran kembali.

Memproses...

Selesai.

Ting

Suara dentingan yang memekakkan telinga membuat Arhan terbangun.

Ia berada di sebuah kegelapan yang tak ada ujungnya. Ia berdiri melihat sekeliling.

"Di mana ini? Kenapa gelap sekali? Bukannya aku sudah mati? Kenapa aku di sini? Apa ini surga atau neraka?" tanya penuh kebingungan.

Tiba-tiba saja ada sebuah cahaya biru datang, dan cahaya itu mengelilinginya, lalu berubahnya menjadi kode-kode untuk dan data-data base yang tidak ia mengerti.

"Benda apa ini?" tanya sambil menyentuh kode tersebut, tapi tembus di tangannya. Ada sebuah cahaya hologram yang membuat ia terkejut.

WELLCOME

[Selamat datang di system teknologi canggih, System keberuntungan. Anda akan menjadi Tuan dari system ini, Anda mendapatkan kekuatan dan kejayaan. System akan membantu Anda menjadi orang sukses]

"Ah, apa ini?" tanya Arhan ketakutan.

[Jangan takut, Ini adalah sistem super canggih, sistem yang akan mengubah hidup Anda]

"Sistem? Apa itu?" tanya Arhan ketakutan.

[Sistem adalah teknologi masa depan, sistem akan membuat Anda menjadi orang sukses]

"Menjadi orang sukses? Sukses seperti apa?" tanya Arhan sedikit takut, ia berputar-putar untuk mencari keberadaan sistem tersebut. Ia tidak bisa melihat siapa pun, tetapi suara itu terus berbicara kepadanya.

[Menjadi orang sukses di masa depan, menjadi orang yang memiliki kekuasaan, membangun usaha sendiri dan menjadi orang yang terkenal di dunia]

 "Ti-tidak mungkin! Aku hanya tukang panggul. Bagaimana aku bisa jadi orang sukses?" tanya Arhan dengan nada rendah.

[Tidak perlu khawatir, sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda. Anda hanya perlu mengikuti instruksi yang diberikan]

"Siapa kamu sebenarnya?! Ada di mana kamu?!" teriak Arhan lagi.

[Saya adalah sistem teknologi canggih. Saya ada di dalam tubuh Anda, silakan sentuh layar di depan Anda, jika Anda setuju untuk menjadi bagian dari sistem, maka sentuh tulisan [ya] untuk menerimanya]

Tiba-tiba, sebuah layar muncul di depannya, dengan tulisan

[Apakah Anda menerima sistem menjadi bagian dari Anda? Klik [Ya] jika Anda setuju].

Arhan melihat ada dua pilihan, Ya dan Tidak. Ia merasa ragu-ragu, tetapi kemudian ia memutuskan untuk menyentuh tulisan Ya.

Saat ia menyentuh tulisan Ya, sebuah cahaya terang muncul di sekitarnya, dan Arhan merasa seperti sedang dihisap ke dalam suatu dimensi yang tidak diketahui. Ia merasa seperti sedang mengalami perubahan yang besar.

[Selamat, Anda telah menjadi bagian dari sistem. Sistem akan membantu Anda mencapai tujuan Anda]

[Terima kasih karena Anda sudah bergabung dengan sistem. Maka sistem akan menjelaskan cara kerjanya]

[Sistem akan memberikan sebuah misi, misi secara acak, Anda cukup melakukan seperti yang di perintahkan. Misi ini akan memberikan hadiah jika misinya berhasil, Apa Anda mengerti?]

"Aku... aku belum mengerti sepenuhnya," kata Arhan ragu-ragu.

[Tidak apa-apa, nanti sistem akan membantu Anda di misi pertama, dan kembali ke dunia nyata Anda]

"Hey Tunggu! Aaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Arhan. 

2 Misi Selesai

Bab 2

Arhan langsung terbangun, ia terkejut saat ia sadar jika tubuhnya tertutup kain.

Arhan pun membuka selimut yang menutupinya itu, baju telah di lepas dan ia di tutup dengan kain putih.

"Di mana aku?" suaranya serak, penuh kebingungan.

Ia melirik ke samping, dan mata besarnya langsung membelok ke satu arah, ada sesosok yang terbaring diam, tertutup kain putih yang sama seperti yang menutupi dirinya. Tubuh itu tak bergerak sama sekali, tak ada nafas yang terlihat.

"Aaaaaa!" teriaknya dengan suara penuh kepanikan, tangannya cepat-cepat menggulung kain putih di pinggang untuk menutupi bagian tubuhnya yang tidak mengenakan baju tersebut.

Ia melompat dari tempat tidur itu dan pergi keluar ruangan tanpa melihat ke belakang.

Saat pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada papan nama di atas pintu, huruf-huruf hitam di atas latar putih yang terasa sejuk dan menakutkan.

KAMAR MAYAT

"Jadi aku di kamar mayat?" bisiknya tak percaya, dada masih naik turun kencang.

Ia menekan dada sendiri, ada denyutan jantung yang kuat. "Eh, aku masih hidup? Bukannya aku sudah mati tertabrak mobil?"

Ingatan tadi malam tiba-tiba mengingatkan pada cahaya mobil yang menyala terang, suara kendaraan yang sangat keras, dan rasa sakit luar biasa sebelum semuanya hitam.

"Dan tadi aku mimpi apa?" Ia mengingat mimpi yang samar-samar.

Ting!

[Hadiah perkenalan]

[Saldo 500.000]

[Penampilan:1%]

[Pesona:1%]

[Kekuatan:1%]

[Kecepatan:1%]

[Kelincahan:1%]

[Pertahanan:1%]

[Kecerdasan:1%]

[Keberanian:1%]

[Kekayaan:0,00%]

[Poin:1.000]

"Ah, jadi ini beneran! Bukan mimpi!" teriaknya lagi, mata tidak bisa melepaskan pandangan dari layar transparan yang hanya ia bisa lihat.

Garis-garis hijau menyilang di atas ruang pandangnya, dengan tulisan yang menyala terang:

[Ya, sistem ini nyata, jadi silakan ambil hadiah perkenalkan Anda]

Arhan memiringkan kepala, jari-jari tangannya terasa gemetar. "Bagaimana aku mengambilnya?" tanyanya, suara penuh rasa tidak percaya.

Langsung saja, tulisan baru muncul:

Anda cukup sentuh gambar uang, maka uang itu menjadi nyata.

Di tengah layar, gambar dompet dengan lembaran uang 500.000 rupiah muncul. Tanpa ragu lagi, meskipun masih bingung, Arhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Dalam sekejap, rasa sentuhan kertas yang nyata menyentuh telapak tangannya. Ia membuka tangan: benar-benar ada lembaran uang 500.000 yang terlipat rapi.

"Wow..." bisiknya, memegangnya erat. Lalu tulisan sistem muncul lagi:

[Baiklah, Anda silakan melanjutkan hidup Anda kembali dan menunggu sistem memberi misi]

Tiba-tiba, ia ingat tentang Arka.

"Ah iya, Arka, di mana Arka, aku harus mencari Arka sekarang!" teriaknya, langkahnya menjadi lebih cepat lagi.

Ia tak tahu mengapa, tapi ada rasa mendesak yang luar biasa, seolah jika ia terlambat, sesuatu yang buruk akan terjadi pada dia.

Ia melompat melewati bangku di koridor, tiba-tiba bertemu dengan seorang perawat yang sedang membawa rak obat.

Perawat itu melihat Arhan yang hanya memakai kain putih, rambut kacau, dan mata yang membelok-belok. Wajahnya memucat, bibirnya terbuka lebar.

"Aaaaaaaaa! Mayat hidup!" teriaknya dengan suara gemetar ketakutan. Tak lama, tubuhnya roboh ke lantai, pingsan sepenuhnya.

Arhan berhenti sebentar, ingin menolong, tapi rasa mendesak tentang Arka membuatnya tidak bisa berdiam.

Ia melompati tubuh perawat itu dan melanjutkan jalan, keluar dari bangunan rumah sakit yang sepi, ia sedang kebingungan ingin segera bertemu dengan Arka.

Saat itu, layar sistem muncul lagi, tapi kali ini dengan warna oranye yang lebih mencolok:

[MISI PERTAMA TERSEDIA: CARI ARKA DALAM WAKTU DUA JAM

[HADIAH: KEMAMPUAN UNIK DAN KENDARAAN RODA DUA]

[UANG 3.000.000. ]

[JIKA GAGAL: RASA KEHILANGAN YANG TAK BISA DILUPAKAN]

Arhan menggigit bibirnya. Ia melihat jam di dinding luar rumah sakit: jam 23.30. Ia punya waktu sekitar 2 jam, tapi tak tahu satu pun petunjuk tentang di mana mencari Arka.

"Arka! Arka! Di mana kamu Nak! Arka! Arka!" Teriak Arhan di rumah sakit itu seperti orang gila mencari anaknya karena memakai kain putih tanpa baju.

"Aaaaaaaa! Mayat!" teriak yang lain terbirit-birit ketakutan.

Arhan berkeliling rumah sakit itu sambil berteriak, bahkan orang-orang berlari ketakutan, rumah sakit itu malah jadi heboh karena ada mayat yang sedang berjalan mencari anaknya.

"Dimana anakku? Apa kalian melihat anakku?" tanya Arhan tak putus asa, atau ia akan kehilangan anaknya selamanya.

Ia tak peduli dengan orang-orang yang ketakutan dan memandangnya seram. Tapi tak satu pun yang memberi tahu keberadaan anaknya karena mereka keburu panik.

Setelah lama berputar, ia naik ke lantai 5, Arhan tak sengaja melihat Arka yang sedang berada di sebuah sebuah ruangan bersama polisi dan dokter yang sedang menanyainya.

"Apa kamu tidak tahu di mana keluargamu tinggal di mana?" tanya polisi itu, ingin mencari keberadaan keluarga Arka agar bisa membawa jenazah ke rumah duka.

"Arka!" teriak  Arhan berlari ke arah ruangan tersebut dan langsung memeluk Arka.  Tangisnya langsung pecah, seolah-olah ia menemukan jiwanya yang hilang.

Sementara polisi dan dokter itu berhamburan  dan terjatuh melihat Arka. "Hantu! Hantu!" Teriak mereka panik, karena ini pertama kalinya mereka melihat hantu secara nyata.

Arhan menyeka air matanya dan menatap polisi dan dokter itu. "Maaf Pak, saya bukan hantu, saya manusia. Terima kasih karena telah menjaga anak saya," kata Arhan melayangkan senyumnya yang pilu itu.

"Papa." Arka menatap Arhan dengan tatapan kebingungan dan seolah-olah ia terkejut dan membuat ia bingung mau melakukan apa, bukannya Papanya tadi mati, kenapa sekarang hidup lagi.

"Bagaimana mungkin! Kami sudah memastikan jika kamu sudah mati!" kata dokter itu panik hingga kacamatanya miring.

"Ada keajaiban datang kepada saya, dan ini bukan  hal mustahil bagi Tuhan. Terima kasih sekali lagi karena telah menjaga anak saya. Kalau begitu saja permisi dulu," kata Arhan menggendong Arka untuk segera pergi dari sana.

Ia memeluk dan mencium pipi Arka yang masih kebingungan itu dengan penuh cinta dan kasih.

Polisi dan Dokter itu melihat kepergian Arhan dengan penuh tanda tanya dan kebingungan, bagaimana mungkin orang mati bisa hidup lagi, dan mereka sangat yakin jika Arhan kehabisan darah, tubuhnya remuk, dan beberapa organ di dalam tubuhnya rusak.

Lantas bagaimana ia hidup kembali? Ini sungguh misteri yang sulit di pecahkan.

"Sayang, Papa senang banget ketemu kamu lagi, Papa janji tidak akan meninggalkan Arka lagi, Papa akan berjuang untuk kehidupan kita  hidup bahagia," kata Arhan merasa bersyukur bisa memeluk putra yang ia cintai, dan berjanji memberikan seluruh kebahagiaan ndengan segenap jiwa dan raganya.

Ting!

Misi selesai

[Selamat Anda berhasil menyelesaikan misi]

[Selamat Anda mendapatkan sebuah Kemampuan unik, yaitu bisa menemukan titik lokasi misi]

[Selamat Anda mendapatkan sepeda motor]

[Selamat Anda mendapatkan uang 3.000.000]

[Selamat Anda mendapatkan 1000 poin]

[Saldo Anda: 3.500.000]

[Penampilan:2%]

[Pesona:2%]

[Kekuatan:2%]

[Kecepatan:2%]

[Kelincahan:2%]

[Pertahanan:2%]

[Kecerdasan:2%]

[Keberanian:2%]

[Poin: 2000]

[Level: 1]

3

Bab 3

Arhan dan Arka meninggalkan rumah sakit dengan langkah yang pelan. Udara malam sedikit sejuk menyentuh wajah mereka, dan lampu jalan menyinari jalan raya yang sepi.

Arka, yang baru saja melihat ayahnya yang masih hidup, ia masih merasa tak percaya.

"Papa, tadi aku pikir Papa meninggal,” ujar Arka dengan suara lemah, lalu ia memeluk bahu ayahnya erat.

Mata Arka masih sedikit berkaca-kaca karena ia masih merasa sedih dan terkejut melihat ayahnya mati di depannya.

Arhan menundukkan kepala, tangannya menyentuh kepala Arka dengan lembut.

"Sebenarnya… tadinya iya. Cuma ada keajaiban lain yang datang pada Papa, dan memberi kesempatan hidup sekali lagi. Seperti ada tangan yang menarik Papa kembali dari dunia lain," katanya dengan nada yang tenang tapi penuh makna.

"Apa itu, Papa?" tanya Arka dengan wajah polos, mata besarnya menatap Arhan dengan rasa penasaran yang tulus. Dia tidak mengerti apa yang ayahnya maksud dengan “keajaiban”.

"Hm… “ Arhan bingung mau menjelaskan. Dia tahu jika dia memberitahu tentang sistem yang muncul di kepalanya saat dia hampir mati, Arka yang baru berusia 5 tahun tak akan paham.

Dia menggeleng-geleng sedikit. "Pokoknya sesuatu yang luar biasa lah, sayang. Yang membuat Papa bisa kembali ke sisi Arka," katanya demgan senyum lebar.

Saat itu, Arhan teringat pada hadiah yang didapat dari sistem, sebuah sepeda motor. Dia belum sempat mencobanya, dan sekarang mereka butuh cara pulang yang cepat.

"Sistem, bagaimana aku mengambil sepeda motor ku?” tanya Arhan dalam hati, sedikit kebingungan.

Sebuah tulisan muncul di depan matanya yang hanya dia bisa lihat.

[Sama seperti Anda mengambil uang, Anda cukup sentuh layar gambar motor, maka motor akan keluar dengan sendirinya. Begitu juga dengan hadiah yang lain]

Arhan mengangguk-angguk mengerti. Dia membuka layar sistem di depan matanya, menemukan ikon gambar sepeda motor, dan menyentuhnya dengan pikiran.

Tiba-tiba, cahaya terang menyala sebentar, dan sebuah sepeda motor muncul tiba-tiba di hadapannya, membuat Arhan dan Arka terkejut dan melompat sedikit.

"Wah, motor ini keren banget!” celetuk Arhan terkagum-kagum, mata memandang motor dengan penuh kagum.

Ini adalah motor pengeluaran terbaru, warna hitam metalik dengan desain yang gagah. Dia tidak menduga sistem bisa memberikannya sesuatu yang seharga itu dengan mudah.

"Papa, ini motor datang dari mana?” tanya Arka dengan mata yang membulat lebar, masih tidak percaya apa yang dilihatnya.

"Hm… he he he, Papa bisa sulap kok!” kata Arhan sambil menggaruk kepalanya dengan ragu, tersenyum lebar. 

Arhan berkata pada diri sendiri“Lain kali aku harus hati-hati, jangan keluarin hadiah di depan anak lagi.” 

Arhan memeriksa motor tersebut, sudah ada kunci motornya, bahan bakar juga terisi penuh, kemudian ia membuka jok belakang dan di sana ada helm kecil dan besar, sepertinya motor ini memuat disediakan untuk mereka. 

Malam semakin dingin membuat Arhan sedikit mengigil karena ia tidak memakai baju.

"Ya udah, kita pulang yuk. Duduk baik-baik ya, sayang.” Arhan mendudukkan Arka di belakang jok, menutupnya dengan helm yang ada di dalam jok motor, lalu ia duduk di depan setir motor. Mesin menyala dengan bunyi yang halus, dan mereka melaju meninggalkan rumah sakit menuju rumah mereka.

Arhan menggeser tuas gas dengan lembut, dan motor melaju dengan lancar di jalan raya yang sepi.

"Wah, motornya bagus banget dan tarikannya juga lembut," ujar dia sambil mengangguk-angguk, mata penuh kagum.

Dia merasakan keamanan yang baru dari jok motor ini, sangat berbeda dari motor lama yang sering mogok, dan sekarang tidak pernah di pakai lagi karena tak punya uang untuk memperbaikinya. 

Sambil mengendarai, dia menurunkan tangan kanannya sedikit dan memegang jari-jari Arka yang ada di belakang.

Sentuhan itu lembut tapi penuh kasih. Arhan tersenyum lebar, hati terasa penuh harapan.

"Setelah tadi dinyatakan meninggal karena kecelakaan, sekarang aku hidup lagi, dan hebatnya, aku mendapat sistem. Ini pasti pelangi setelah badai yang panjang ya?" gumamnya dalam hati.

"Arka, mulai sekarang, kamu pergi sekolah nggak perlu jalan kaki lagi atau naik ojek. Sekarang kita sudah punya motor baru, Papa akan antar jemput kamu setiap hari," kata Arhan dengan suara ceria

Arka yang duduk diam di belakang hanya menikmati angin yang menyentuh wajahnya, matanya melihat pemandangan jalan raya yang lewat. Dia merasa aman di belakang ayahnya.

"Arka senang nggak?" tanya Arhan lagi, memutar kepala sedikit ke belakang.

Arka mengangguk pelan, "Senang, Pa..." ujarnya dengan suara lemah tapi jelas.

Tak lama kemudian, mereka sampai di samping rumah sederhana yang telah menjadi tempat tinggal mereka setelah rumah besar mereka terbakar.

Arhan memarkir motor di depan pintu, lalu menurunkan Arka ke bawah dengan hati-hati. Dia membuka pintu rumah yang kusam, dan udara sejuk dari dalam menyambut mereka.

Rumah itu tampak sunyi, tanpa kehadiran istrinya, Gina, yang telah pergi meninggalkan mereka demi laki-laki lain.

Setiap sudut rumah menjadi saksi bisu atas kepergiannya, tapi meskipun begitu, bagi Arhan dan Arka, ini tetaplah rumah ternyaman di dunia.

Tiba-tiba, Arhan ingat sesuatu. Dia menghela napas.

"Oh, lupa!" katanya. Ia belum sempat membeli makan malam, terutama untuk Arka.

Arhan berjongkok di depan Arka, wajahnya menunjukkan rasa menyesal. "Sayang, apa kamu lapar? Papa minta maaf ya, lupa banget."

Arka menggeleng-geleng kepala, wajahnya tetap ceria. "Arka sudah kenyang, Pa. Tadi Om Dokter memberi Arka makanan yang enak, ada nasi putih dan ayam bakar," katanya sambil memegang pundak ayahnya.

Arhan merasa lega, napasnya terbebas. "Syukurlah kalau begitu. Mari kita istirahat, ya? Arka pasti capek setelah seharian di rumah sakit." Dia memegang tangan Arka dan mengantarkannya ke kamar kecil yang mereka bagikan. Besok pagi, Arka harus kembali ke sekolah.

Arhan menempatkan Arka di ranjang, menutupinya dengan selimut tebal. Dia duduk di tepi ranjang, mengusap kepala anaknya dengan lembut.

"Selamat malam, Arka, ayo tidur nak," ujarnya dengan suara pelan.

Matanya sedikit berkaca-kaca ketika dia menginga Gina. "Tolong lupakan Mama ya... dia sudah tidak menginginkan Arka dan Papa lagi. Tapi tenang, Papa akan selalu ada untuk Arka, selamanya."

Arka mengangguk, mata sudah mulai berat. "Iya, Pa... Arka hanya butuh Papa..." ujarnya sebelum mata nya tertutup dan dia terlelap.

Arhan tetap duduk di situ sebentar, menatap anaknya yang tidur, dan berdoa agar kehidupannya mulai membaik, dengan bantuan sistem yang baru didapatkannya.

******

Keesokan paginya, matahari baru saja terbit dan menyebarkan sinar emas ke seluruh halaman rumah Arhan.

Arhan telah bangun pagi-pagi sekali, jam 5 pagi dan sudah membersihkan motor baru yang parkir di depan pintu. Wajahnya dipenuhi semangat, sesuatu yang jarang terlihat sejak Gina pergi. Dia mengenakan baju favoritnya. 

Dia mendekati pintu kamar Arka dan mengetuk lembut.

"Ayo, Arka! Hari ini Papa antar kamu ke sekolah dengan motor baru!" ujarnya dengan senyum lebar, suaranya ceria dan penuh ceria

Pagi ini memang tampak berbeda dari pagi biasanya, udara segar, langit cerah tanpa awan, dan seolah-olah semua hal menebarkan kebahagiaan yang tiba-tiba muncul.

Dalam kamar, Arka  buru-buru mengambil tas sekolahnya. Dia mendengar suara ayahnya dan merasa senang, ini adalah pertama kalinya Papa terlihat begitu bahagia dalam waktu lama.

Arka keluar dari rumah dengan buru-buru, tasnya terikat sembrono di pundaknya. 

"Papa, tunggu!" teriak Arka sambil berlari cepat ke arah Arhan.

Arhan menunggu dengan senyum, tangan memegang helm untuk Arka. "Santai, sayang, jangan tergesa-gesa. Motornya nggak akan lari sendiri kok," katanya sambil menundukkan kepala dan memakaikan helm pada Arka dengan hati-hati. 

Dia memeriksa tali helm berkali-kali untuk memastikan kuat. Ia juga membetulkan tas Arka.

"Baik, siap? Hari ini kita akan sampai sekolah lebih cepat, dan mungkin bisa beli roti hangat di warung depan sekolah ya?" kata Arhan tersenyum.

Arka mengangguk dengan gembira.

"Siap, Pa! Arka mau roti coklat!" ujarnya sambil naik ke belakang motor dengan lincah.

Arhan naik ke depan, memutar kunci mesin, dan motor menyala dengan bunyi halus. Mereka melaju keluar dari halaman rumah, dengan perasaan bahagia

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!