NovelToon NovelToon

OBSESI CINTA PERTAMA

1. Sherra Adara

Tak ada yang mengerti rasa sakit sebelum merasakannya sendiri.

Mungkin berkata perihal kisah menyakitkan. Sherra akan menjadi salah satu dari ribuan kisah pelik. Gadis yang katanya sempurna namun nyatanya banyak diacuhkan. Banyak di kekang. Dan banyak lukanya.

Sherra Adara itu bukan gadis terbahagia. Orang tuanya berpisah sejak lama. Tumbuh tanpa kasih sayang ayah sudah menjadi cerita lama. Sherra lahir hanya dengan Mama Dinda yang penuh kasih sayang.

Dan seluruh bunga matahari yang Mamanya tanam. Iya bunga matahari.

Sejak dulu Sherra melihat dunia. Mama Dinda selalu berharap agar Sherra dapat menjadi bunga matahari. Yang cerah dan mengikuti kemanapun sumber cahaya pergi.

Entah apa maknanya, yang jelas Mama Dinda ingin masa depan Sherra selalu cerah. Walaupun kehidupan mereka sama gelapnya dengan malam tanpa bintang.

"Ma, kenapa Mama menerima kesepakatan ini?" tanya gadis itu pada Mama Dinda yang tengah sibuk menanam benih benih bunga Matahari untuk mata pencaharian keluarga itu.

"Mama ingin kamu hidup layak. Tidak seperti Mama"Jawab wanita paruh baya itu menyirami tanah. Sedangkan Sherra menghela nafas pelan kemudian berjalan menghampiri sang ibu. Ikut membantu wanita itu.

"Kamu menyukainya kan?" tanya Mama Dinda. Sherra terdiam.

Gadis itu menerawang jauh kedepan. Kehidupannya memang jauh dari cukup. Tapi kenapa orang orang itu, sangatlah terobsesi akan hidup Sherra yang miskin ini?

TOXICSERIES

"Hohoho Si Jeff udah pasti Win ini!"lelaki itu menyeringai.

Jeffranz Altair seorang Lelaki dengan netra madu yang mempesona.

Seantero SMA Smabara juga tau jika Jeff itu imam idaman kaum hawa.

Bagaimana tidak? Lelaki blasteran Australia itu benar benar menawan dengan kepribadian Introvert dan otak jeniusnya. Bahkan Jeff sering disebut sebut sebagai perfect boy karena semua yang ia miliki seolah tak memiliki kekurangan.

Lahir dari keluarga kaya, ayahnya merupakan pemiliki Bimbel Online RUANG BK. Ibunya juga merupakan seorang psikolog anak terkenal yang selalu diundang keacara televisi. Menambah nilai plus seorang Jefftanz yang membuatnya sulit digapai.

Selain derajat keluarganya yang luar biasa tinggi. Jeff juga merupakan juara umum Olimipiade Matematika dan Olimpiade Akuatiki tahun ini.

Benar benar sempurna. Nilai mata pelajarannya tak pernah kurang dari angka 80. Bahkan hampir semuanya mendekati nilai sempurna. Tak heran Jeff sudah menduduki Juara Paralel 2 tahun berturut turut di Smabara.

Siapapun pasti akan terkesan dengan pencapaian lelaki itu yang luar biasa. Bahkan tak sedikit orang iri dengan seluruh prestasinya.

PASBARA

Bukan kumpulan badboy apalagi anak Brandalan numpang tenar.

Seperti kata Jeff, Pasbara itu rumah bagi semua orang yang tak merasakannya. Rata rata anggotanya merupakan anak Broken home yang butuh hiburan dan dukungan. Bahkan beberapa diantaranya sudah tak memiliki orang tua lagi.

Walau begitu ada dari mereka yang masih memiliki keluarga lengkap. Jeff contohnya namun kendalanya ada dalam pertengkaran hebat membuat mereka tak nyaman dan memilih Pasbara sebagai pelampiasan penat.

Anggotanya ada 65 orang tahun ini. Dengan 7 Anggota inti. Yang terdiri dari

Arshaka Neolan sebagai ketua.

Disusul Orion Gibran, Jonathan Alpha, Baraja Atmaja, Nicholas Kanendra. Mona Delina dan dirinya. Jeffranz Altair, si perisai kebanggan.

"BARAA MINTA WA DONG?!"

"Udah ya cantik"kata lelaki godrong dengan wajah tampan bak kartun itu sambil mengedipkan sebelah matanya lalu mengembalikan ponsel milik gadis di sampingnya yang kini berteriak kegirangan.

"SHAKKA JANGAN GANTENG GANTENG DONG!MLEYOT NIEH GUE"

"JEFF LO SADAR GAK SIH KALO MUKA LO MIRIP SAMA JAKE ENHYPEN??!"

"BARA WALAUPUN TINGGI LO CUMAN SEBATAS BAHU GUE. TAPI GUE SIAP KOK JADI ISTRI LO HWHWH"

"ORION SENYUM DONG!"

"ORION MAH GAK SENYUM AJA MANISNYA BIKIN DIABETES!"

"JUJU GOMBALIN GUE DONG!"

Jojo, si lelaki gondrong itu langsung berjalan mendekat kearah gadis bernama Chika itu sambil terssenyum menggoda.

"Satu dua nyamuk mati"

"Cakeuppp"

"Senyum Chika bikin jatuh Hati"

"Mleyot!!"

Gadis bernama Chika itu seketika kejang kejang lebay sampai sampai harus dipegangi temannya untuk di bawa ke uks. Karena pelet gila seorang Jonathan Alpha. Playboynya SAMABARA.

Sedangkan Jeff lebih memilih mengabaikan teriakan teriakan berisik itu dengan menyetel musik dari airpodsnya. Sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku Hoddienya.

"Ngantin bro? "Tawar Orion yang ikut menyusul langkah Jeff di depannya. Lelaki itu menoleh sambil menyurai rambutnya kebelakang.

"Gue ngantuk. Lo aja sendiri"balasnya cuek

"Anjirlah! Masih pagi udah mau molor aja! Mending ikut gue ngecengin adek kelas"sahut Bara tiba tiba berada di samping mereka. Jeff mengendikkan bahunya tak peduli. Ia bukan orang yang suka menggoda.

"Gak Dulu"balasnya. Bara mendelik kesal lalu melirik Orion.

"Yon? Ikut Gak lo? "Orion dengan wajah datarnya menjawab.

"Gak"

"Bangsat!,"umpatnya kasar. Sepertinya ia salah mencari kawan. Karena sebagian besar anggota Pasbara tak lebih dari kulkas diberi nyawa. Sungguh menyebalkan.

"Susah emang punya temen Gak satu frekuensi"

TOXICSERIES

Jeff membelokkan langkahnya masuk kedalam kelas yang sudah terlihat ramai. Karena waktu juga masih menunjukkan pukul 07.45 itu artinya kurang dari 20 menit lagi bel masuk berbunyi.

Ia segera meletakkan ransel hitamnya juga melepas Hoddie kesayangannya. Tak seperti anggota yang lain, Jeff lebih suka memakai Hoddie hitam kesayangannya daripada jaket kebanggaan pasbara yang berwarna Army. menurutnya warnanya tak cocok untuk dirinya.

Jadi ia lebih memilih menggantungnya di kamar untuk pajangan.

Lelaki itu pun mulai melipat Hoddienya untuk dijadikannya bantal. Kemudian membaringkan kepalanya di sana.

Murid murid di kelas sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini di pagi buta.

Jeff memang terkenal sebagai anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Aktivitasnya di kelas hanya sebatas tidur dan kumpul Pasbara. Paling bantar Mengikuti turnamen basket dan sepak bola. Selebihnya adalah tidur

Namun hebatnya.

Lelaki itu selalu mendapat nilai sempurna di kelas. Bahkan menjadi juara paralel 2 tahun berturut turut.

"Selamat pagi Ganteng"

Jeff berdecak sebal saat suara menyebalkan yang selalu mengganggunya itu menggrma di telinganya. Matanya langsung terbuka dan dapat dipastikan takkan pernah bisa beristirahat lagi jika sudah begini.

"Hei!! Jeff Ganteng!!"Panggilnya sekali lagi tepat di depan telinga Jeff membuat lelaki itu berjingkat kaget kemudian menatap kearah gadis itu kesal.

Sherra Adara.

Gadis berkulit pucat yang dua tahun terakhir ini selalu mengejarnya.

Gadis menyebalkan yang ingin Jeff singkirkan dari muka bumi ini.

"Ada gajah di balik batu"

"Cakeupp!!"

"Lagi makan burung puyuh"

"Tuittt~"

"Lanjoottt"

"Dua hari gak ketemu, I miss youu"

"PERTRUSS PEPET REROSS~"

"AHAII!!"

"BISA AE NIH BUAYA BETINA"

Sorakan dan cuitan terdengar bergantian bersama senyum menggoda gadis itu. Jeff hanya menggeleng sambil memutar bola matanya malas. Sedangkan sang gadis yang di beri respon seperti itu langsung mendorong lengan Jeff, mengisyaratkan pada lelaki itu untuk menggeser tempat duduknya.

"Ck lo apaan sih?!"Ketusnya.

Gadis berkulit pucat itu mengerucutkan bibirnya.

"Aku kan mau duduk bareng calon suami! Emangnya kenapa? Gak boleh?" Jeff melorik sinis.

"Gak! "

Namun bukannya berhenti, gadis itu malah semakin agresif dengan memeluk lengan Jeff tiba tiba.

"Ck lo ngapain sih?"

"Kangen tau!" katanya manja."Jeff Kenapa sih harus ada Weekend? Aku jadi harus nabung rindu pingin ketemu setiap sabtu minggu"

"Ck lo bisa pergi? Gue ngantuk! Gak tidur semaleman!"

"Gak tidur? Omaygat!!! Pasti karena kamu kangen sama aku ya makannya kamu gak bisa tidur?" Ucapnya kepedean.

"Hadeuh Jeff sku emang ngangenin tapi jangan sampe Sebegitunya lah. Kan kita masih bisa ketem-

"Berisik!"Bentak Jeff.

"Telinga gue pengang denger bacotan lo! Sekarang pergi! "

Sherra menggeleng.

"Gak aku bakal tetep disini! Aku masih pingin duduk di deket kamu!" katanya kembali memeluk lengan Jeff yang tentu saja, langsung ditepisnya kasar

"Tapi gue gak mau!" Sentaknya, Jeff pun bangkit dari duduknya membuat Sherra langsung menegadah.

"Fine! Kalo lo gamau pergi? Biar gue yang pergi!"

Katanya lalu menyambar hoddienya di meja, meninggalkan Sherra yang masih terduduk di bangkunya sambil memasang wajah kesal.

"JEFF TUNGG-"

"LOH? KOK ADA ANAK IPS DISINI?"

Sherra langsung melipat bibirnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain saat ia baru saja bangkit dari duduknya tapi Pa Adi, guru MTK itu sudah sampai di kelas, dan kini tengah menatapnya keheranan.

"Saya gak salah kelas kan? "

"Enggak Pa... "

"Terus ini kenapa ada di sini?" Tunjuknya pada gadis itu.

Sherra cengengesan saat anak anak lain menatapnya. Gadis itu maju perlahan sambil menyembunyikan raut wajah malunya.

"Maaf Pa, tadi saya cuman mau nyamperin calon suami saya aja kok. Eh tapi orangnya keburu pergi" katanya enteng yang sontak membuat anak anak lain tertawa kecil. Sherra memang gadis yang berani.

Padahal sudah jelas yang di depannya adalah guru terkiller di Smabara. Tapi gadis itu masih bersikap kocak dengan memasang wajah tanpa dosa dengan obrolan yang melantur.

"Gausah banyak gaya kamu! Sekolah dulu yang bener baru boleh pacaran apalagi nikah! Nilai kamu saja masih banyak yang merah sok sokan punya suami!" Sambat Pa Adi Sarkas. Bukannya tersinggung Sherra malah terkekeh canggung.

"Duh kayaknya bapa gak nangkep maksud saya deh. Saya bilang kan calon suami jadi belum nikah dong? Lagian nih pa Harusnya bapa seneng kalo saya beneran pacaran atau sampai nikah sama Jeff, anak emas Bapak. Saya nanti jadi ikut pinter loh! Bisa dipastikan kalo saya pacaran sama Jeffranz nilai saya di atas kkm Pa. Percaya deh sama saya"

Pa Adi menggelengkan kepalanya sedangkan Sherra nyengir nyengir pede.

Sherra dilawan!

"Yaudah terserah kamu! Sekarang kembali kekelas kamu! Saya mau ngajar!"

"Siap Bapa Adi yang terhormat"katanya dengan gesture hormat kemudian berjalan keluar kelas sambil melemparkan senyuman manis kepada seluruh siswa kelas 12IPA 1.

Pa Adi kembali menggeleng heran. Bisa bisanya Siswi aneh seperti Sherra di terima di sekolah ini, pikirnya.

"Ada ada aja kelakuan anak sekarang!"gumamnya keras sambil membuka buku paketnya, "Sekarang kita mulai belajar -"

Tok

Tok

Tok

"Maaf ganggu lagi" Potong Sherra dengan kepala menyembul dari balik pintu.

"Tadi ada yang kelupaan"katanya berdiri tegak kemudian mengangkat tangannya yang memegang Pompom Cheerleader

tinggi tinggi kearah pa Adi. Sambil sesekali menggoyangkannya.

"Selamat ngajarnya Pa Adi! Hwaiting!!"

Teriaknya keras lalu membungkukkan badannya sebelum akhirnya berlari pergi. Anak anak lain sudah tertawa ngakak melihat tingkah menghibur Sherra di pagi hari ini. Bahkan Pa Adi yang terkenal garang pun diam diam tertawa melihat tinghah muridnya.

Ya Sherra selalu berhasil menghibur orang lain

Tapi tidak dengan dirinya sendiri

_____

2. Cinta pertama

"Sherra Adara!!"

Gadis yang semula menangakupkan kepalanya diatas meja seketika terjingkat kaget. Dengan wajah acak acakannya ia memegang dadanya sendiri saat Bu Dini selaku guru Bahasa inggrisnya memukul rotan kearah kursinya.

"Beraninya kamu tidur dikelas saya Sherra!!" Murka Bu Dini. Sherra yang nyawanya belum terkumpul menatap keatah gurunya kebingungan.

"Ibu.. Ngomong sama saya?"

"SHERRA ADARA KELUAR DARI KELAS SAYA!!"

BRUKK.

Sherra memegang keningnya yang terhantuk pintu. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal kemudian menghentak hentakkan kakinya.

Nalurinya selalu menginginkan Sherra untuk tidur karena bosan. Gadis itu tak pernah fokus belajar karena pikirannya selalu melayang pada novel yag belum selesai ia baca dirumah. Atau paling tidak pada Jeff yang entah sedang apa sekarang.

Sherra memang bukanlah gadis rajin nan pintar yang selalu rangking satu di setiap kenaikan kelas. Bukan jiga anak pintar yang jadi kebanggaan guru.

Sherra itu hanya gadis cantik dengan otak kosong yang bisa merengek pada sang mama.

Nilai pelajarannya juga jauh dari sempurna. Bahkan jika dapat nilai 70 itu artinya Sherra sedang mendapat jackpot dari tuhan. Karena sebelumnya untuk mendapat 50 pun sulitnya bukan main.

"Napa lo?"

"Mona~gue diusir sama Bu Dini" rengek gadis itu pada Mona yang sedang asyik merokok di markas Pasbara. Gadis itu memang salah satu anggota dari mereka sekaligus salah satu sahabat Sherra.

"Sekarang kenapa lagi?" Sherra mengerucutkan bibirnya.

"Masa gue tidur doang diomelin"Adu Sherra mendudukkan dirinya disamping Mona. Beruntung markas sedang sepi pagi ini karena anggota lain masuk kelas.

"Ya lo salah bego!"

"Ya tapi kan gue ngantuk! Mata gue gak bisa kebuka" Ujar Sherra membuka kelopak matanya besar besar walau pada akhirnya turun juga. Mona tertawa kecil menepuk nepuk rokoknya pada asbak.

"Kata gue juga apa, mending bolos aja. Kaya gue" Sherra yang memag dasarnya sudah polos menganggukkan kepalanya.

"Iya, bener kata Lo" gadis itu melipat kedua tangannya diatas dada.

"Mulai besok kalo ada pelajaran bu Dini lagi gue bakal bolos. Jadi, jangan lupa ajakin gue ya Na"Pinta gadis itu membuat Mona terkekeh. Sherra memang anak yang mudah terbawa arus pergaulan. Apalagi saat masuk Geng Mona dan Zara. Dimana keduanya adalah bagian dari Pasbara yang terkenal liar dan tanpa aturan.

...______...

"Calon suami!!"

Pekik gadis itu menghalau Jeff dan teman temannya yang hendak pulang. Mona dari belakang tubuh gadis itu berusaha menahannya namun tau sendiri, walau terlihat lemah lembut Sherra sebenarnya adalah singa yang menyamar jadi manusia.

"Tungguin elah! Cepet banget heran!" Gerutu Mona. Zara dengan jaket varsity birunya juga ikut menyusul mereka.

"Jeffranz mau pulang ya? Nebeng dong!" Jeff memutar bola matanya malas sedang Jojo langsung melangkah maju. Mendekati Sherra.

"Hallo manis. Mau pulang? Mending sama kak Jojo aja. Mau gak?" tawar Jojo. Sherra tersenyum kearah lelaki itu.

"Gamau. Motor lo tinggi gue susah duduknya" anggota yang lain langsung tertawa. Sedangkan Jojo mengerucutkan bibirnya seraya melempap lirikan seram pada Sherra.

"Itu namanya motor ninja. Emang begitu modelnya"

"Iya Jelek. Enakan motor Jeff!"Ejek Sherra memeletkan lidahnya.

Memang Jojo utu motornya ninja yang modelnya agak nonggeng sedangkan Jeff itu KLX. Dari segi namanya saja sudah beda apalagi modelnya.

Beberapa waktu lalu Sherra pernah dibonceng pulang oleh Jeff dan Sherra akui ia sangatlah nyaman duduk di jok motor lelaki itu. Berbeda dengan motor Jojo yang joknya licin dan Sherra sulit untuk menjaga jarak.

"Jeff ayook aku mau pulang sama kamu!!"

"Gak!" Tolak Jeff mentah mentah seraya berjalan duluan menuju parkiran. Melihat hal itu Sherra langsung menyusul langkah lelaki dengan surai coklat terang tersebut.

"Jeff ayolah aku gak punya ongkos. Uangnya udah aku beliin buku paket tadi" tutur Sherra menuruni undakan menuju parkiran.

"Bodo amat"

"Jeff pleasee... Rumah kita kan searah" Paksa gadis itu berusaha menyentuh tangan Jeff namun belum juga tersetuh Jeff sudah menepisnya kasar.

"Heh Miskin!Lo pikir gue supir pribadi lo?" Sherra tetperanjat saat Jeff membentaknya keras.

"Gak punya ongkos ya tinggal jalan gausah maksa! Ribet lo jadi cewe!" Sherra yang merasakan dadanya ikut sakit mendengar bentakan Jeff hanya mampu terdiam kaku. Membiarkan lelaki itu pergi kemudian meninggalkan Sherra yang berdiri. Sendiri.

"Sher... " Mona menepuk pundak sahabatnya.

"Udah, lo balik sama kita aja" Ujarnya. Sherra menoleh kearah dua temannya sambil menatapnya bergantian.

"Gapapa?"

"Yaelah kaya sama siapa aja!" Mona merangkul bahu Sherra begitupun Zara yang mengikuti mereka. Kemudian ketuganya langsung memasuki mobil milik Zara.

Diantara mereka. Memang hanya Zara yang memiliki segalanya.

_______

Tok

Tok

Tok

Cklek.

"Loh Kai? Mau nyari Sherra ya?"

Helmi Kairav atau biasa dipanggil Kai. Adalah sahabat masa kecil Sherra. Satu satunya anak yang dulu menemani Sherra kala gadis itu diejek karena tak memiliki ayah

Satu satunya lelaki yang tak menganggap Sherra murahan karena sang ibu yang dianggap perusak rumah tangga.

Satu satunya yang menemani Sherra dalam sulit kehidupannya sekaligus menjadi satu satunya lelaki yang mencintai gadis itu.

"Iya Tan. Sherranya belum pulang?"

Bersamaan dengan itu suara klakson mobil terdengar dan nampaklah Sherra keluar dari pintu mobil kemudian melambaikan tangannya pada sahabatnya yang hendak pergi. Sebelum membalikkan badannya dan langsung berhadapan dengan Kai.

"Itu Sherra" Sherra menatap sosok di depannya dengan binar sebelum berlari menghambur kepelukan lelaki itu.

"Kai!" pekik gadis itu langsung memeluk Kai erat.

"Astaga! Akhirnya kamu pulang. Aku kangen tau"Kai terkekeh mendengar ungkapan rindu gadis di depannya.

Memang, sudah satu 2 tahun lamanya semenjak Kai pergi ke luar negri entah untuk apa. Lelaki itu kembali dengan wajah yang sama dan netra sehangat dulu. Tak pernah pudar ataupun berubah.

Tetap Kai yang Sherra kenal.

"Kalo gitu ayok kita masuk! Kamu masih ada hutang cerita sama aku!" Ujarnya lucu. Kai terkekeh gemas kemudian mengacak acak surai coklat itu sebelum akhirnya mengikuti Sherra untuk masuk kedalam rumah minimalis dengan banyaknya bunga bunga cantik.

_____

"Mulai hari ini Kai akan tinggal bersama kita"

Wanita berumur 40 tahun itu seketika terbelalak. Urat urat nadinya menegang bersama rahangnya yang mengeras kala mendengar penuturan suaminya yang baru saja pulang dari kantor.

"Kamu gila? Aku gak sudi ya nampung anak pelakor itu!"

BRAK.

Jerome Altair. Seorang CEO dari Ruang BK menggebrak meja dengan kasar namun Jena. Istrinya sama sekali tak bereaksi takut. Wanita itu malah semakin menatap suaminya nyalang.

"Gimana pun juga dia anak aku Jena! Dan kamu harus terima itu!" Bentak Jerome. Jena ikut bangkit dari duduknya.

"Gak! Sampai mati pun aku gak terima dia dikeluarga kita! Kalau kamu bawa dia kesini itu artinya kamu siap liat aku pergi!" Tukasnya pergi menjauhi ruang tamu lalu menutup pintu kamarnya kasar. Jerome mengusap wajahnya pasrah melihat tingkah istrinya yang sama sekali belum bisa menerima kenyataan.

Jika memang dari awal Jerome sudah menempuh jalan yang salah. Dan anak anak mereka korbannya.

Jeff dari balik lantai dua menoleh kearah sang ayah yang terlihat gelisah di bawah sana. Lelaki itu tertawa kecil.

"Jadi.... Dia udah berani mengusik?"

5 tahun lalu. Jeff pikir setelah ayahnya memutuskan membawa hama itu menjauh. Mereka akan pergi atau mati.

Rupanya dia kembali. Dan ingin merebut tempat yang telah lama Jeff tempati.

______

"Jadi, kamu dipaksa untuk pindah??" Kai mengangguk. Sherra menumpu wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu memandang sahabatnya sendu.

Hidup Kai itu sama perihnya. Lelaki itu kehilangan ibunya di tahun ke 15 usianya saat itu. Ibunya meninggal dengan tragis sampai membuat Kai trauma dan dibawa oleh ayahnya.

Dulu mereka bertetangga. Rumah Kai tepat di samping rumahnya yang kini sudah terisi orang lain dan dua tahun lalu Kai tiba tiba pergi tanpa pamit meninggalkan Sherra sendiri.

Sampai beberapa bulan setelahnya lelaki itu mengabarkan jika dia tengah berada di australia dan sekolah disana sementara.kai juga berjanji akan pulang segera.

Dan hari ini dia menepati janjinya. Untuk kembali pulang pada Sherra yang merupakan rumah sebenarnya.

"Diminum Nak" Mama Dinda menyodorkan segelas es teh pada Kai dan susu coklat hangat kesukaan putrinya.

"Gausah repot repot tante"

"Gapapa. Tante kebelakang dulu ya" Kai tersenyum. Mama Dinda sudah seperti ibu kedua untuknya. Selain dulu Mama Dinda bersahabat dengan almarhum ibunya. Mama Dinda juga merupakan orang yang hangat.

Sama seperti Sherra. Yang menerima Kai dengan lapang tanpa pertimbangan.

"Sekarang kamu tinggal dimana?" Tanya Sherra setelah menyeruput susunya.

"Dirumah papi" Sherra terdiam. Masih dengan gelas yang menempel di mulutnya.

"Papi? Jauh gak??" Kai menggeleng. Menikmati es teh buatan Mama Dinda yang rasanya sama sekali tak berubah.

"Enggak. Masih sekitaran sini, ya gimana ya sekolahku juga pindah kesini"

"Seriusan??? Kamu bakal menetap disini lagi??" Tanya Sherra antusias. Kai mengangguk.

"Iya, aku bakal tinggal disini lagi"Sherra tersenyum.

"Terus terus. Kamu sekolah dimana? Pleasee masuk Smabara dong" Kai terkekeh gemas melihat Sherra yang selalu berbicara dengan wajah Ekspresifnya.

"Maaf ya... Kayaknya gabisa"

"Kenapa?"

"Papi udah masukin aku ke SMANJAYA. Ya, karena cuman sekolah itu yang mau nerima anak kelas dua belas tanpa ngulang kelas"

"Yah :( " Suara Sherra terdengar kecewa.

"Tapi kita masih bisa sering ketemu kan?" Tanyanya kembali. Kai menatap gadis itu. Menenangkan.

"Pasti, aku bakal anter jemput kamu"

"Seriusan???"

"Iya, lagian sekolah kita searah kan? Jadi mulai besok kamu gausah Nunggu bus lagi"

"Kok kamu tau sih aku masih suka naik bus?" Kai tertawa kecil.

"Ada deh" Sherra menatap penuh selidik.

"Kamu mata matain aku ya?"

"Pede banget. Aku cuman nebak tadi"

"Bohong! Pasti kamu nyuruh temen temen kamu buat mata matain aku! Jujur gak?" Sherra mencubit tangan Kai yang membuat lelaki itu tergelak bukannya meringis kesakitan.

Kai memandang gadis itu lembut. Bahkan disaat Sherra mengomel dengan cerewet pun Kai selalu menyukainya.

2 tahun rasanya berat saat Sherra tak ada di sampingnya.

_____

3. Bunga Matahari

..."Jadilah seperti bunga matahari. Setia walau terabaikan" ...

______

Sudah satu minggu semenjak Kai kembali. Lelaki itu sama sekali tak pernah mengingkari janjinya untuk menjemput Sherra. Kecuali sore ini, sudah hampir 15 menit Sherra menunggu namun sahabatnya itu tak kunjung datang. Alhasil Sherra harus menelponnya.

"Hallo Kai? Udah dimana? Aku udah pulang"

"....."

"Ouh gaakan jemput ya? "

"..."

"Basket? Wah Semangat ya!"

"..."

"Gapapa kok aku bisa pulang sendiri. Maaf ya ngerepotin"

"...."

"Iya Gapapa aku ngerti kok. Bye have nice day"

Klik

Sambungan terputus. Sherra pun menatap langit. Rintik hujan mulai membasahi tanah sedangkan Sherra masih setia berdiri di koridor sambil sesekali mengucek matanya yang mulai terasa buram

Sepertinya minus mata Sherra bertambah.

Gadis itu menghela nafasnya pelan sambil memikirkan bagaimana caranya untuk pulang.

Biasanya ia akan pulang bersama Kai, sahabatnya yang berada di sekolah berbeda. Atau tidak memaksa diantar pulang oleh Jeff, itupun takkan pernah sampai rumah. Paling sampai halteu dekat rumahnya saja.

Tapi lumayanlah. Daripada ia harus diam di sekolah seperti ini sambil menunggu hujan reda atau paling tidak jalan sedikit sampai halteu untuk memberhentikan taksi.

Sebenarnya bisa saja ia menelpon ojek langganannya sayangnya ponselnya kehabisan daya membuatnya harus pasrah menunggu hujan reda.

Tap

Tap

Tap

Indra pendengarannya menangkap langkah kaki yang berhenti tepat di sampingnya membuat netra coklatnya bergulir menatap sosok di sampingnya dari ujung kakinya ke atas.

"Jeff.... "

Netranya melebar bersama senyumannya yang mengembang.

"Loh Jeff kok bisa ada di sini? Bukannya kata Jojo kamu udah pulang kerumah ya?!"

Jeff hanya menatap Sherra datar. Sial beribu Sial! Niatnya pulang telat adalah agar ia tak bertemu dengan si pengganggu ini. Namun ternyata sama saja bahkan lebih parah.

Karena ternyata gadis itu belum pulang dan kini berada di hadapannya.

"Hm"Jawabnya asal. Sherra mengernyit.

"Hm itu apa? Maksud aku Iya atau enggak? Kamu Beneran pulang? "Jeff menoleh kearah Sherra yang tengah menatapnya dengan tatapan polosnya.

"Gue gak pulang"

"Terus kata Jo-"Netra gadis itu membulat saat menyadari sesuatu "Jadi kamu bohongin aku!"

Ia juga melirik kearah motor Jeff yang masih terparkir, bahkan tempatnya sama sekali tak berubah. Dan kalo dipikir pikir jika Jeff pulang kenapa lelaki itu harus kembali kesini? Bajunya juga tak berubah.

Huh menyebalkan!

"Bukan gue"

"Iya tau Jojo yang bohongin aku. Tapi Jojo kan temen kamu!"Katanya kesal. Jeff mendelik.

"Pokoknya aku gaterima ya di bohongin kaya gini! Sebagai permintaan maaf, kamu harus anter aku pulang! "Jeff mengernyit.

"Kenapa harus gue?!"

"Ya karena kamu udah jahat sama aku! Pokoknya gamau tau kamu harus anter aku pulang!"Jeff mengendikkan bahunya tak terima sedangkan Sherra malah semakin memeluk lengan lelaki itu erat.

"Gue gamau!"ucapnya sambil menghentakkan tangan Sherra.

"Ayolah Jeff Sekali ini aja. Pleasee aku gaada yang jemput. Batre hape aku juga abis" katanya cemberut.

"Ya itu derita lo! "

"Pleasee Jeff. Kamu kan cowo baik pasti gaakan ngebiarin cewe nunggu jemputan sendirian kan?" Jeff terdiam. Otaknya berpikir keras.

Sebenarnya Jeff bukanlah lelaki kasar. Apalagi yang kasar pada perempuan. Bahkan selama Sherra mengejarnya, sekalipun Jeff tak pernah main tangan. Selain menolak gadis itu dengan kata kata pedas saja.

Ia juga bukan lelaki pengecut yang meninggalkan seorang gadis hanya karena rasa egois. Apalagi saat melihat wajah pucat dan bibir kering gadis itu, pasti sedang tak sehat. Maka dengan berat hati Jeff langsung menarik tangan Sherra agar mengekorinya ke parkiran.

"Eh eh kamu bener anter aku pulang?"

Jeff tak menjawab, hingga keduanya sampai di parkiran. Gerimis mulai mereda, kini tergantikan dengan sinar Senja. Seperti dugaannya hujannya takkan lama.

"Pake!"Titahnya menyerahkan helm cadangan itu pada Sherra. Gadis itu masih setia tersenyum.

"Makasi! Kamu baik banget deh"Jeff menatap Sherra aneh. Kenapa gadis itu selalu bereaksi berlebihan?

"Gue anter lo sampe halteu"

"Halteu mana? Kenapa gak sampai rumah aja? Lagian rumah aku dari Halteu Mawar gak jauh kok" Katanya berusaha membujuk. Jeff tak menanggapi dan langsung menaiki motornya.

"Gue buru buru" Sherra yang baru saja menaiki motor Jeff langsung tersenyum tipis.

Selalu saja. Setiap Sherra diantar pulang lelaki itu akan selalu mengantarnya sampai Halteu karena suatu kepentingan. Yang entah apa.

Padahal Sherra sudah tau Jeff hanya tak ingin terlalu dekat dengannya.

"Kalo kamu buru buru, kenapa mau anter aku pulang?"tanya Sherra saat kotor Jeff mulai melaju membelah jalanan kota kembang.

"Kasian"

"Hah? "

"Gue kasian sama lo!"

Sherra terdiam. Diam diam wajahnya melukiskan senyuman tipis.

"Kalo kasian, kenapa kamu gak kasian sama aku yang selalu ngejar kamu? Kenapa kita gak pacaran aja? Kan katanya kamu kasian sama aku"

Jeff berdecak. Sherra benar benar manusia tak tau diri!

"Ngelunjak Lo ya! "

Sherra tertawa keras. Menatap sinar jingga dimana matahari siap tenggelam. Perlahan jemarinya memeluk punggung Jeff lembut.

"Jeff"

"Hm"

"Kamu mau tau bunga favorit aku gak? " Terdengar dengusan dari sana.

"Gak"

"Ihh jawab mau gitu sekali biar aku seneng" lelaki itu hanya bisa menggeram kesal namun setelahnya bersuara lemah.

"Serah lo"

"Oke aku jawab ya" Gadis itu menoleh kearah toko bunga cantik dengan banyaknya bunga anggrek, mawar, melati hingga bunga Matahari yang terus mengikuti cahaya matahari.

Sambil tersenyum ia menjawab.

"Bunga Matahari" Jeff menatap wajah cantik Sherra dari spion dengan alis yang terangkat.

"Kenapa?" Sherra ikut menoleh pada Spion yang sama membuat tatapan mereka bertemu.

"Maksudnya? "

"Kenapa suka bunga matahari" Sherra terkekeh. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan.

"Karena bunga matahari itu setia" Jeff tertawa kecil. Membelokkan arah motornya.

"Simpelnya Bunga matahari selalu mengikuti kemana cahaya matahari pergi dan gak pernah berpaling ke cahaya yang lebih terang sekalipun" Jeff terdiam. Sherra semakin melebarkan senyumnya.

"Sekalipun sinar jingga senja menyapa. Bunga matahari akan tetap menatapnya. Walaupun cahayanya tak seindah bulan terang di langit malam"

Sherra sangat menyukai bunga matahari. Bunga matahari adalah dirinya. Dan Jeff adalah matahari untuknya.

Ia akan terus menatap kemana pun Jeff pergi, mengejarnya kemana pun Jeff ingin tinggal.

Karena Jeff adalah alasannya untuk bertahan.

"Tapi alasan bunga matahari selalu mengikuti matahari bukan karena setia" Elak Jeff.

"Tapi karena bunga matahari menyimpan Auxin. Hormon auxin merupakan suatu hormon tanaman yang mengendalikan pertumbuhan. Biasanya jumlah auxin lebih banyak di sisi yang jauh dari sinar matahari. hal itulah yang menyebabkan batang bunga matahari selalu tumbuh ke arah sinar matahari" Jelasnya mematahkan Steatment Sherra.

"Jadi simpen teori lo itu di pikiran lo sendiri"

Gadis itu terkekeh. Jeff selalu diluar dugaannya. Tak salah ia melabuhkan hatinya pada lelaki pintar ini.

"Tapi tetep aja kan. Intinya Bunga matahari itu setia. Kayak aku ke kamu" Jeff nendesah pasrah.

"Terserah lo"

"Kalo kamu? Apa kesukaan kamu?"Jeff berpikir sebentar. Tapi Sherra sudah menyela.

"Pasti aku kan? "

"Ngimpi Lo!" Sherra terkekeh. "Terus apa? "

"Gue gasuka bunga, tapi gue suka matahari"

"Apa alesannya?"

"Karena dia hangat"

"Itu aja?" Jeff menghela nafasnya pelan saat keduanya berhenti di lampu merah.

"Kalo cuman itu. Aku juga bisa jadi matahari buat kamu"Kata Sherra. Jeff melirik lewat spion.

"Tapi matahari gak pernah mengejar Sher" Sherra terdiam.

"Matahari gak pernah mengejar, menatap atau bahkan mengharapkan bulan, bintang dan benda langit lain. Matahari hanya sendiri dengan langit yang selalu menetap"

"Terus apa aku bisa jadi langit untuk matahari itu? "Jeff terkekeh.

"Lo gaakan pernah bisa jadi langit untuk matahari. Tapi lo bisa jadi bunga matahari. Yang selalu mengejar kemana pun cahaya matahari tanpa berada di sisinya"

Gadis itu tak bersuara. Ia mengerti maksud perumpamaan ini. Dan Ya, Sherra akan selalu menjadi bunga Matahari. Dengan jeff sebagai matahari yang selalu membuatnya terkagum. Dan langit yang entah untuk siapa.

Karena sejatinya. Matahari hanya merindukan langit. Dan bunga matahari hanyalah pelengkap dari setiap filosofi.

Hanya kini Jeff mungkin belum menemukan langitnya.

______

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!