*****
Pagi itu, Ariana tergesa-gesa menyisir rambutnya yang masih lembab ke belakang, memastikan seragam kerjanya yang bergaris bersih dan rapi.
Ibu nya, Melia yang cemas melihat waktu semakin mendesak, segera membawa piring berisi nasi goreng ke kamar Ariana.
" Ari, sarapan dulu, Nak." Pekik sang mama dari dapur.
" Nggak sempat, Buk. Entar kalau sarapan, malah jadi telat." Sahut Ariana keluar dari kamar nya.
" Memang bisa kamu kerja tanpa sarapan? Apa ada tenaga nya?"
" Nanti Ari akan sarapan di cafe saja, Buk. Atau beli roti nanti di jalan."
Melia menggeleng pelan. Ini adalah drama yang setiap hari terjadi di rumah nya. Setiap malam Ariana akan tidur hingga larut malam karena marathon menonton drakor.
"Yuk, Nak, makan dulu. Kamu butuh energi," Ucap ibunya sambil menyuapi Ariana yang sibuk memasukkan berkas-berkas penting ke dalam tasnya.
" Buk..." Ucap Ariana saat mulut nya terpaksa penuh karena suapan sang ibu.
" Cepat kunyah dan habiskan. Jangan sampai ibuk ikut kamu ke cafe buat nyuapin kamu ya." Ancam Melia.
" Buka mulut nya cepat." Kata Melia kembali menyodorkan suapan ke mulut Ariana hingga penuh.
" Udah, Buk."
" Cepat, jangan sampai kamu berangkat kerja sebelum kamu sarapan." Ancam Melia lagi.
Ariana hanya mengangguk, menelan cepat bocoran nasi yang diberikan ibunya.
Waktu yang terus berjalan membuatnya semakin gelisah. Dia memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul setengah tujuh. Hanya tiga puluh menit lagi sebelum jam kerja dimulai.
" Ari sudah kenyang, Buk. Kalau gitu Ari berangkat dulu ya, Buk. Doa kan pekerjaan Aria hari ini lancar." Pinta Ariana.
" Aamiin.. ibuk pasti selalu mendoakan kamu, Nak." Jawab Melia.
" Assalamualaikum..." Pamit Ariana.
" Waalaikumsalam..." Sahut Melia.
*
*
*
Langkahnya yang terburu-buru mengantarnya ke ujung jalan, di mana angkot yang biasa ia tumpangi sudah menunggu.
Dengan nafas yang memburu, Ariana melompat ke dalam angkot, menyapa sopirnya dengan singkat, dan angkot pun langsung melaju menuju kafe tempat dia bekerja. Di dalam angkot, Ariana mencoba menenangkan diri, mengatur napas yang masih tersengal, dan mempersiapkan diri untuk hari yang akan dihadapi.
" Hai, Ari." Sapa Raya yang kerja di sebuah perusahaan sebagai office girl di depan cafe Ariana.
Ariana menoleh dan memandang Raya.
" Iyan, Loe baru berangkat? Kesiangan juga?" Tanya Ariana kaget.
" Yah gimana nggak telat. Semalaman gue nonton drakor yang Loe bilang semalam. Itu juga gue belum selesai baca nya malah ketiduran. Kalau gue sampai telat, Loe harus tanggung jawab ya." Cerocos Raya kesal.
" Kok jadi gue yang tanggung jawab sih? Salah salah Loe juga." Elak Ariana.
" Kan Loe yang ngasi tau gue kalau ada drakor baru."
" Tapi gue nggak nyuruh Loe nonton di malam kerja. Jadi siapa suruh Loe nonton nya marathon sampai pagi.
?"
" Habis gue penasaran, Ri. Gue awal nya cuma mau nonton episode satu doang. Tapi malah keterusan. Mana di episode satu aja cowok nya dan dingin gitu sama sekretaris nya. Gimana gue nggak makin penasaran coba?"
" Jadi Loe udah nonton sampai episode berapa?" Tanya Ariana penasaran.
" Sampai episode 7. Gue langsung ketiduran sumpah." Jawab Raya.
" Drakor terus yang di bahas. Emang cerita yang kalian jalani sekarang seperti cerita di drama kore yang kalian tonton itu apa?" Ledek supir angkot.
Supir angkot ini memang selalu menjadi langganan Ariana kalau mau ke cafe. Jika Ariana belum muncul di deoan gang rumah nya, biasa nya bang Iyan akan menunggu sebentar sampai Ariana muncul.
" Ya nggak lah bang. Tapi berharap aja bang. Kali aja ada pengeran tampan yang kaya yang jatuh cinta sama office girl seperti saya ini bang. Atau CEO dingin yang tiba - tiba mengajak Ariana nikah." Jawab Raya terkekeh menatap Ariana yang ikut tersenyum.
" Mimpi Loe..." Ledek Ariana memukul paha Raya.
" Raya, Raya... baru juga bangun. Tapi kamu sudah mimpi saja." Kata bang Iyan menggoda Raya.
" Yah.. bang Iyan. Nama nya juga berharap. Kali aja bisa beneran terkabul bang. Kita kan juga cantik bang kayak artis korea. Cuma kurang modal aja bang buat dandan dan beli gaun mahal." Kata Raya cemberut.
" Ya sudah... bang Iyan jawab aamiin saja deh." Sahut Bang Iyan.
" Gitu dong bang. Di aminin. Kali aja doa abang di ijabah sama Allah."
" Aamiin.. aamiin Raya."
Ariana hanya tertawa geli melihat kelakuan kocak Raya dengan supir angkot langganan mereka.
Tak berapa lama sebuah mobil lamborghini aventador putih berhenti di sebelah angkot yang di tumpangi Ariana ketika angkot itu berhenti di lampu merah.
Ariana menoleh dan memperhatikan mobil itu dengan rasa kagum. Berharap bisa berada di dalam nya. Pasti sangat dingin dan nyaman, bathin Ariana tersenyum.
Kaca nya yang hitam membuat Ariana tidak bisa melihat siapa orang berada di belakang kemudi mobil mewah itu.
Tapi Ariana tahu kalau orang di dalam nya itu berjenis laki - laki ketika Ariana melihat pria itu membuka sesikit kaca mobil nya mengeluarkan uang 50 ribu untuk pengamen kecil yang sempat bernyanyi di samping mobil nya.
*
*
*
Ariana masuk ke dalam cafe. Beruntung bang Iyan bisa ngebut tadi saat mengendarai angkot nya. Kalau telat sedikit saja, Ariana pasti sudah terlambat sekarang.
" Kebiasaan ya, ye udah mau masuk jam nya baru datang. Kayak yang punya cafe aj deh ya. Babu juga tapi gaya nya selangit." Sindir Haikal yang biasa di panggil haters karena kejulidan nya sama semua karyawan cafe.
Dan juga gaya nya yang begitu lemah gemulai membuat dia selalu di ganggui oleh karyawan lain nya.
" Maaf ya, Mbak Haikal. Besok saya nggak akan telat lagi kok. Jadi jangan marah lagi ya." Bujuk Ariana tersenyum.
" Yey itu ya. Janji janji terus. Eke aja udah sampai bosen dengar janji yey. Jambu."
" Apa an jambu?"
" Janji busuk"
" Terserah. Mau janji busuk mau janji kematengan juga nggak masalah. Gue mau siap - siap dulu. Bye haters." Ariana melambaikan tangan nya dan meninggalkan Haikal yang masih kesal si buat nya.
" Kenapa, Ri? Senyum - senyum sendiri." Tanya Cindy saat Ariana tersenyum masuk ke dapur.
" Biasa lah, Mbak. Siapa lagi yang buat hiburan pagi - pagi." Jawab Ariana mengambil alih kain lap dan mulai membersihkan piring.
" Si Haters?" Tebak Cindy.
" Ya iya lah, Mbak. Siapa lagi yang serasa bos tapi jadi karyawan di cafe ini?" Jawab Ariana membenarkan ucapan Cindy.
" Dasar ya si Haters. Nggak salah kita kasi nama dia Haters. Suka banget julid sama orang lain."
" Nama nya juga haters, Mbak. Kalau nggak komen ya nggak viral lah." Ledek Ariana tertawa.
Bersambung
baru bab Awal nih... Gimana menurut kalian pembukaan dari aku???? Komentar yang rame yaaaaa.... Terima kasih...
*****
Ariana adalah seorang gadis yang tangguh dan berdedikasi, berusia 23 tahun yang berjuang keras untuk membiayai kebutuhan hidupnya bersama ibunya.
Setiap hari, dia bekerja di sebuah cafe, namun penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kecantikan dan keramahan Ariana seringkali menarik perhatian banyak pria di cafe tempat ia bekerja.
" Kentang goreng dan ayam crispy nya, Mas." Ucap Ariana meletakkan pesanan dua pria yang duduk di meja.
" Terima kasih , Ari."
" Ariana makin cantik aja. Sudah makan? Atau mau sekalian makan dengan kita di sini?"
" Iya, Ari. Sekali - sekali temani kita makan di sini lah. Kita kan sudah langganan di sini."
" Maaf ya, Mas. Tapi kan saya lagi kerja di sini. Kalau ikut makan dengan Mas - mas ini, yang ada saya bakal di pecat." Tolak Ariana berbisik pada mereka.
" Lau kapan dong kita bisa makan sama?"
" Nanti ya kalau saya libur." Ucap Ariana tersenyum.
" Oke. Janji ya."
" Sudah ya. Saya mau antar mau pesanan yang lain lagi. Kalau masih mau tambah, panggil saya ya." Kata Ariana meninggalkan meja mereka.
Mereka sering mencoba menggoda atau menunjukkan ketertarikan padanya. Namun, Ariana hanya menanggapi semua itu dengan senyuman hangatnya. Baginya, prioritas utama adalah kesejahteraan ibunya, dan dia belum memikirkan soal menjalin hubungan dengan siapapun sampai ibunya merasa benar-benar bahagia dan bisa hidup mapan.
Tekad dan semangat Ariana dalam menghadapi kesulitan hidup membuatnya menjadi sosok yang dihormati dan dikagumi, bukan hanya karena kecantikan luarnya, tapi juga kekuatan dan ketegaran hatinya.
" Ari, Ari. Di godain tuh sama pelanggan, malah cuek aja. Kasihan loh di anggurin. Kan ganteng tuh kayak oppa - oppa korea." Ledek Cindy menerima kertas pesanan dari Ariana.
Cindy adalah kepala masak di cafe itu. Semua pesanan yang datang akan di terima oleh Cindy. Dan keahlian tangan nya yang luar biasa hingga menciptakan makanan lezat dengan cita rasa yang luar biasa.
" Mas - mas nya genit Mbak. Ari nggak suka."
" Memang mau cari yang gimana sih?" Tanya Cindy.
" Yang gimana ya Mbak? Ya nggak gimana - gimana sih. Cukup kaya saja. Aku udah capek Mbak kerja terus. Pengen tiduran di rumah terus tapi banyak uang." Jawab Ariana mencoba menambah lelucon di antara mereka.
" Husss.... perempuan ghibah ya kalian ini. Lagian yey ya, jangan ketinggian ngayal nya. Entar jatuh sakit loh. Cowok kaya mana yang mau sama pekerja cafe tukang ngayal tinggi berharap pria tampak kayak artis korea suka sama Loe." Ejek Haikal menyahuti obrolan mereka.
" Ya elah, Mbak. Ngayal dikit nggak papa lah. Nggak bayar juga kan? Kali aja bisa jadi kenyataan. Ya nggak mbak Cin?" Jawab Ariana.
" Sudah sudah kerja sana. Ada pelanggan yang datang lagi tuh, Ari. Kamu juga Mas Haikal. Sana kerja. Julid aja sama orang aja. Mau nama nya aku ganti jadi julidin atau julidah?"
" Heh... mas mas mas... panggil eke mbak. Paham sampai sini ya." Jawab Haikal menunjuk Cindy dengan wajah cemberut nya.
*
*
*
" Gimana kerja nya, Nak. Baik - baik aja kan di cafe?" Tanya Melia saat putri nya masuk ke dalam rumah dan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sudah usang itu.
" Alhamdulillah baik, Buk." Jawab Ariana singkat.
" Kalau gitu langsung mandi sana. Sebentar lagi maghrib. Nanti setelah shalat, kita makan. Ibu masak pergedel sama kari ayam kesukaan kamu."
" Asyikkk. Tapi kok tumben ibuk masak ayam? Ari kan belum gajian. Emang nya uang nya masih cukup?"
" Tadi ibuk di kirimin uang buat ongkos sama bude kamu yang di Jogja. Lusa dia nyuruh ibuk kesana buat bantu - bantu buat acara nikahan anak nya si Melly itu. Kan sudah di lamar, jadi tinggal acara pernikahan nya saja."
" Jadi ibuk mau berangkat ke Jogja nih?" Tanya Ariana.
" Iya. Kamu nggak papa kan ibuk tinggal sendiri" jawab Melia.
" Berapa lama?" Tanya Ariana lagi.
" Paling juga dua minggu gitu. Nggak papa ya, Nak. Kasihan bude kamu sendirian di sana. Nggak ada yang bantuin buat persiapan nya. Kamu kan tahu cuma ibuk saudara bude kamu satu - satu nya." Jawab Melia menjelaskan pada Ariana.
" Iya buk iya. Ya udah kalau memang ibuk mau pergi. Pas banget tuh besok kan Ariana gajian. Jadi Ari bisa nambahin buat pegangan ibuk di sana."
" Tapi ibuk nggak mau. Uang yang di kirim bude mu juga lebih dari cukup. Bahkan bisa ibuk belanja kan nanti sedikit untuk keperluan kamu selama ibuk pergi. Di sana ibuk nggak perlu uang pegangan. Kan sudah ada bude kamu, Nak."
" Terserah ibuk aja deh. Ari mandi dulu ya buk. Nanti keburu adzan lagi." Ucap Ariana yang langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar nya.
" Jangan lama - lama mandi nya, nanti masuk angin." Teriak Melia.
" Iya, Buk." Sahut Amelia.
*
*
*
Malam itu Ariana sengaja menghubungi Raya untuk menemani nya ke ujung jalan untuk membeli burger. Nggak tahu kenapa tiba - tiba saja Ariana kepingin makan burger. Padahal dia dan Melia baru saja makan malam.
Dengan mengendarai sepeda motor matic. Ariana duduk duduk di belakang boncengan Raya.
" Harus malam ini juga gitu pengen nya? Nggak bisa besok aja pas pulang kerja?" Dumel Raya.
" Nggak bisa Ray, pengen nya itu sekarang." Jawab Ariana tanpa dosa.
Creeeeeeet
Byurrrrrrr
" Aaakkkkk" Teriak dua cewek yang pakaian nya sudah basah.
Saking buru - buru nya sebuah mobil melintas tanpa melihat ada lubang yang berisi air kotor. Dan saat kendaraan itu melaju dengan cepat, mobil itu tidak sengaja melewati air yang tergenang dan mengenai dua gadis yang berada di atas motor matic nya di pinggir jalan.
" Mobil sialan." Umpat Ariana geram.
Dengan cepat Ariana melelas sendal nya dan melempar ke arah mobil yang memang belum terlalu. Padahal mobil itu memang akan berhenti.
Pengendara mobil pun keluar dari mobil dan menghampiri Ariana dan Raya.
" Punya mata nggak sih pak? Lihat nih saya sama teman saya jadi basah gini. Mana ini udah malam lagi."
" Maaf nona, bapak nggak sengaja. Saya sedang buru - buru sampai tidak lihat ada lubang." Jawab pria paruh baya itu.
" Udah lah, Ri. Nggak papa kok. Lagian tuh bapak udah minta maaf kan." Cegah Raya memegang lengan Ariana.
" Ya sudah pak. Tapi lain kali hati - hati ya. Meski pun buru - buru bapak juga harus hati - hati." Ucap Ariana.
" Iya, neng. Terima kasih sudah mau memaafkan bapak. Kamu memang orang yang baik. Kalau begitu bapak permisi dulu ya. Bos bapak harus segera sampai ke Bandara. Permisi."
Paruh baya itu pun langsung beranjak dari hadapan Ariana. Sedangkan Ariana mendekati belakang mobil dan mengambil sendal yang dia lemparkan tadi.
Ariana berjongkok dan memakai sendal nya. Dan saat Ariana bangkit, seorang pria yang duduk di bangku penumpang bisa melihat wajah Ariana yang masih tampak kesal dengan kerucut di bibir nya.
Bersambung
Siapa tuh???... Siapa ya kira2 di dalam mobil yang sedang memperhatikan Ariana???
*****
Satu Hari Sebelum Kecelakaan Melia
Pagi ini Ariana lebih diri lebih awal menunggu bang Iyan. Karena semalam dia kena tegur bos nya di cafe karena selalu terlambat datang akibat aduan dari Haikal si baby haters.
Sudah ada beberapa angkot yang dia lewatkan. Namun dia tetap menunggu angkot bang Iyan yang sudah menjadi langganan untuk membawa nya ke cafe.
" Ari..."
Terdengar teriakan seseorang, jelas nya seorang perempuan lah ya. Berteriak memanggil nama Ariana. Ariana menoleh dan celingak celinguk mencari arah suara yang memanggil nya.
" Ariana..." Teriak nya lagi.
Ariana pun mendengar suara itu semakin jelas dan menoleh ke arah kiri. Dia melihat seorang gadis dengan kaos ketat dan celana jeans panjang yang sedang berdiri tak jauh dari nya.
" Hai..." Gadis itu melambai pada Ariana lalu berlari mendekati nya.
" Lily...?" Ucap Ariana tak percaya melihat penampilan sahabat nya itu yang kini sudah jauh lebih bagus.
" Sombong banget loe ya. Gue udah teriak - teriak malah lihat nya kemana - mana. Suara gue sampai habis nih." Ujar Lily yang kini sudah berada di hadapan Ariana dengan nafas tersengal - sengal.
" Siapa yang sombong sih? Loe cantik banget sekarang, gimana gue bisa ngenalin loe tau nggak. Gilak Loe, Ly. Manglingin tau nggak? Udah cantik, kulit nya bersih, pakaian Loe bagus lagi." Puji Ariana memperhatikan sahabat nya itu dari rambut nya yang berwarna abu hingga sepatu heels yang dia pakai.
" Ya iya lah. Lily gitu loh."
" Memang nya Loe kerja dimana sekarang? Pasti gaji Loe gede ya bisa buat Loe berubah gini." Tanya Ariana.
" Gue kerja di hotel. Yah cuma pegawai biasa kok, nungguin tamu yang datang buat check in." Jawab Lily.
" Pasti gaji nya besar kan? Mau dong gue di ajak. Biar gue bisa ikutan keren kayak Loe gini."
Ariana benar - benar kagum melihat penampilan Lily sekarang. Sudah bisa di tebak jika baju dan celana yang di pakai Lily bisa membayar gaji nya satu bulan. Terlihat dari merk kaos yang tertera di bawah baju.
" Emang Loe kerja dimana?" Tanya Lily heran.
" Gue kerja waiters di cafe. Tapi ya gitu, gaji nya kecil cukuo buat makan gue dan ibuk aja. Gue shopping aja nggak cukup." Jawab Ariana mengeluh.
" Ya sama lah. Gaji gue di hotel juga kecil, cukup - cukup buat makan juga. Tapi kerja sampingan Gue yang gaji nya besar cuy." Ucap Lily dengan antusias.
" Kerja sampingan Loe? Ada? Kerja apa?" Tanya Ariana penasaran.
Belum sempat Lily memberi tahu pekerjaan sampingan nya, angkot bang Iyan ke buru datang menuju ujung jalan.
Tin Tin
" Bang Iyan tuh udah datang. Masih langganan aja Loe sama dia?" Kata Lily saat angkot bang Iyan mulai mendekat.
" Iya. Bang Iyan baik gitu. Kalau gue telah malah di tungguin. Gue harus berangkat sekarang nih. Loe mau kerja juga kan? Barengan aja."
" Loe duluan aja. Gue naik taksi online aja nanti." Tolak Lily dengan lembut.
Sejak mendapatkan kerja sampingan yang bagus, Lily sudah tidak pernah lagi naik angkot. Dia akan naik taksi online atau di jemput sama teman atau langganan nya.
*
*
*
Angkot yang di tumpangi Ariana berhenti tepat di lampu merah. Dan terlihat ada kemacetan panjang di jalan itu.
" Kayak nya ada kecelakaan deh, bang. Macet nya panjang gini." Kata Ariana yang memperhatikan jalanan di depan.
" Pak ada kecelakaan ya?" Tanya bang Iyan pada seorang yang berjalan dari sebelah angkot nya.
" Iya, pak. Kecelakaan beruntun. Seperti akan lama soal nya polisi belum datang." Kata bapak itu menjelaskan pada bang Iyan.
" Kayak nya bakal lama, Ri. Ada kecelakaan. Kamu jalan ke depan aja, Ri. Naik angkot yang di depan jalan. Kalau kamu ikutan nunggu bakal telat nanti kamu ke cafe nya." Usul bang Iyan.
" Nggak papa bang, Ari turun di sini."
" Nggak papa, Ari. Mau kamu terlambat kerja?"
" Nggak lah, bang. Ya udah bang, Ari duluan ya bang."
Ariana pun turun dari angkot dan berjalan ke depan untuk mencari angkot yang menuju ke cafe. Namun belum sampai di ke depan jalan. Seorang anak kecil menghampiri nya.
Seperti nya anak itu korban kecelakaan yang terjadi di depan jalan. Terlihat dari luka goresan di kening dan tangan nya. Juga kaki nya yang pincang saat berjalan.
" Kak tolong kak. Tolong bawa mama saya ke rumah sakit. Kalau tidak segera di bawa, mama saya akan meninggal kak. Kak tolong kak. Mama saya sudah mengeluarkan banyak darah." Pinta anak kecil yang berusia sekitar 8 tahun itu menarik - narik tangan Ariana.
"Iya iya. Kakak akan bantu iya."
" Cepat kak. Ayo kak. Ikut sama saya. Tolong mama saya kak." Ajak anak kecil itu lagi menarik tangan Ariana.
Ariana pun akhir nya mengikuti anak kecil itu menuju lokasi kecelakaan. Dan saat melihat kondisi mama anak kecil tadi juga kondisi pengendara lain nya memang sangat memprihatinkan.
Bahkan polisi dan ambulance juga belum terlihat datang untuk mengaman kan dan membantu korban kecelakaan itu.
" Tunggu di sini ya dek." Kata Ariana berjongkok pada anak kecil itu.
Ariana pun berlari mengetuk setiap pintu mobil yang berhenti di depan kecelakaan itu untuk meminta bantuan membawa mama anak kecil tadi ke rumah sakit.
Tok
Tok
Tok
" Mas, Mbak... tolong bantu saya membawa korban kecelakaan ke rumah sakit." Ucap Ariana mengetuk setiap pintu mobil yang enggan terbuka.
" Pak, buk. Tolong saya. Tolong bantu saya." Pinta Ariana dengan lirih saat kembali mengetuk pintu mobil.
" Tuan, dia seperti nya gadis itu sedang meminta bantuan." Kata supir melirik majikan nya dari kaca spion depan.
" Jangan di buka. Dia pikir mobil saya ini ambulance. Biar kan saja." Kata pria yang duduk di belakang dengan dingin nya.
Terlihat supir itu memperhatikan Ariana yang terus berkeliling mengetuk pintu mobil yang bersedia membantu nya.
" Saya seperti pernah melihat gadis itu. Tapi dimana ya?" Gumam supir mencoba mengingat - ingat.
" Kenapa?"
" Tidak, tuan. Saya hanya merasa seperti pernah melihat gadis itu. Tapi saya lupa dimana." Jawab supir.
Pria dingin itu pun kemudian melihat keluar jendela. Menjauh kan pandangan nya dari ponsel yang sejak tadi dia lihat.
Dia melihat Ariana yang masih berlari - lari kecil di ikuti oleh anak kecil korban kecelakaan. Mencoba peruntungan nya. Mungkin masih bisa menemukan orang yang baik yang akan membantu nya.
Lamat - lamat pria dingin itu memperhatikan Ariana. Bahkan kini dia sudah membuka kaca mata hitam nya. Menatap Ariana langsung dari lapisan kaca jendela mobil.
Dan dia ingat. Ariana, gadis yang dia lihat saat Ariana bangkit dari jongkok nya saat mengambil sebelah sendal nya yang dia lempar.
Duh... Ketemu lagi nggak tuhhhh... Siapa sih bos itu??? Jadi penasaran deh... Kamu ikutan penasaran nggak sih?????
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!