Arc 1: Bayi dalam Badai
Langit malam itu tampak murka. Awan hitam bergulung-gulung, saling bertumpuk hingga menutup bulan dan bintang. Badai menderu seperti naga kelaparan, menghajar hutan lebat di kaki Pegunungan Qingyun dengan angin yang menusuk kulit dan hujan yang turun tanpa henti.
Petir menyambar berkali-kali, kilatnya membelah langit bagai pedang perak. Setiap kali cahaya itu muncul, hutan yang gelap gulita mendadak tersibak, memperlihatkan pepohonan raksasa yang bergoyang keras, seolah hendak tumbang. Gemuruh petir mengguncang dada, membuat siapa pun yang mendengar merasa kecil di hadapan kekuatan alam.
Di tengah keganasan itu, seekor burung hantu beterbangan panik, kelelawar berhamburan keluar dari sarangnya, dan serigala-serigala hutan melolong panjang. Mereka semua seolah tahu: malam ini bukan malam biasa. Malam ini, langit dan bumi seakan menyaksikan lahirnya sesuatu yang tak boleh diremehkan.
Tak jauh dari kaki tebing, tampak sebuah gua kecil tersembunyi. Dari luar, gua itu hanyalah celah gelap yang nyaris tak terlihat tertutup semak basah. Namun bagi seorang wanita muda yang terluka parah, gua itu adalah satu-satunya tempat berlindung dari hujan dan tajamnya pedang para pengejar.
Di dalam gua, suasana dingin menusuk. Air hujan menetes dari celah batu, membasahi lantai yang keras. Aroma tanah basah bercampur bau anyir darah memenuhi udara, menusuk hidung dan membuat napas terasa berat.
Seorang wanita berusia dua puluhan tahun terbaring lemah di lantai batu yang dingin. Rambut hitam panjangnya menempel di wajah karena keringat dan air hujan. Bajunya robek, penuh noda merah darah yang terus merembes dari bahu dan punggungnya. Luka sayatan dalam membuat napasnya terputus-putus, setiap tarikan dada terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Namun di balik rasa sakit itu, matanya masih berkilat. Mata yang menyimpan tekad, sekalipun tubuhnya hampir runtuh. Di sampingnya tergeletak sebilah pedang kuno—Pedang Naga Langit. Gagang pedang itu diukir seekor naga melingkar, sisiknya detail, matanya tajam. Meski pedang itu tampak tua, auranya berat dan suci, seolah mampu menundukkan langit.
Wanita itu mengelus perutnya yang besar dengan tangan bergetar. “Tidak, aku tidak boleh mati, bukan sekarang, setidaknya aku harus melahirkanmu terlebih dahulu.”
Jeritan kesakitan keluar dari bibirnya. Tubuhnya menggeliat, kakinya kaku karena kontraksi. Darah mengalir deras dari luka sekaligus proses persalinan yang begitu brutal tanpa bantuan siapa pun.
Petir menyambar di luar, membuat dinding gua bergetar. Jeritannya bersaing dengan suara badai, namun ia terus bertahan. Berkali-kali ia hampir pingsan, tapi tekadnya lebih keras dari rasa sakit yang sedang dirasakannya.
Beberapa menit terasa seperti beberapa jam. Lantai batu dipenuhi bercak darah yang terus bertambah. Nafasnya semakin pendek, wajahnya pucat pasi. Namun di tengah penderitaan itu, suara kecil akhirnya lahir.
Tangisan bayi.
Tangisan nyaring itu bergema di gua, terdengar murni dan penuh kehidupan. Suara itu menusuk kegelapan, seakan menerangi malam yang pekat.
Air mata wanita itu jatuh deras. Senyumnya muncul di wajah yang dipenuhi rasa sakit. Ia mengangkat bayi mungil itu dengan tangan bergetar. Tubuhnya kecil, kulitnya merah, tapi tangisannya begitu kuat, seolah menolak dunia yang penuh kekejaman.
“Putraku, kau akhirnya lahir.” ucapnya parau, bibirnya bergetar. “Kau, Lin Feng. Nama itu akan menjadi cahaya dalam kegelapan.”
Namun senyum itu segera pudar, berganti ketakutan. Tangisan bayi memang tanda kehidupan, tapi juga panggilan maut. Para pengejarnya pasti mendengar bila suara itu keluar dari dalam gua.
Dengan sisa tenaga, wanita itu meraih kantong kecil dari jubahnya. Tangannya gemetar hebat saat mengeluarkan beberapa batu giok kecil yang terukir simbol kuno. Batu-batu itu bersinar samar, seolah merespons sentuhan darah di jari-jarinya.
Ia menata batu giok itu mengelilingi keranjang bambu tua yang ia temukan di pojok gua. Meski hampir kehilangan kesadaran, tangannya tetap bergerak, menggambar garis formasi di lantai dengan darahnya sendiri. Setiap goresan simbol kuno terasa berat, namun ia paksakan.
Begitu lingkaran sempurna terbentuk, batu giok memancarkan cahaya redup. Lingkaran cahaya itu berdenyut pelan, lalu menyelimuti bayi kecil yang masih menangis keras. Ajaibnya, suara tangisan itu langsung teredam. Bayi itu tetap berteriak sekuat tenaga, namun dunia di luar lingkaran tak mendengar apa pun.
Itu adalah Formasi Isolasi Suara—seni kuno yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli pedang dengan kendali energi murni. Wanita itu telah mengorbankan sisa kekuatan spiritualnya untuk membuatnya.
Ia menatap bayinya dengan senyum getir, air mata terus mengalir. “Kau aman sekarang, meski hanya sebentar, ibu sudah melakukan bagiannya.”
Tangannya yang berlumuran darah mengusap lembut wajah kecil itu. Bayi itu menendang-nendang kakinya, matanya tertutup rapat, menangis tanpa tahu apa yang menantinya di dunia luar.
Wanita itu terisak. “Lin Feng, meski ibu tak bisa menemanimu lama, ketahuilah, kau dilahirkan bukan untuk tenggelam dalam kegelapan. Kau akan tumbuh, dan suatu hari nanti kau akan mengangkat pedang itu.”
Ia menoleh pada Pedang Naga Langit yang bersandar di dinding. Pedang itu berkilau redup di bawah cahaya petir. Aura pedang itu seakan beresonansi dengan bayi, membuat udara di gua bergetar.
Wanita itu tersenyum getir. “Pedang itu, adalah pedang pusaka. Pedang yang diperebutkan banyak sekte, pedang yang membuat keluargamu hancur. Tapi suatu hari, kau akan pantas menggunakannya, Lin Feng.”
Tubuhnya semakin lemah. Darah terus merembes, membasahi lantai hingga mengalir ke luar gua bercampur air hujan. Aroma anyir semakin kuat, menusuk hidung.
Ia memaksakan diri bangkit sedikit, lalu memeluk bayi itu erat sekali. “Ingatlah, ibu mungkin hilang, tapi kasih sayang ini akan selalu ada di dalam darahmu.”
Tangannya bergetar, ia lalu meletakkan bayi itu ke dalam keranjang bambu, menutupinya dengan kain tipis. Lingkaran formasi masih menyala samar, menjaga suara tangisan tetap tersembunyi.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Derap sepatu membelah hujan, berat dan tergesa.
“Cepat! Jangan biarkan wanita itu kabur! Pedang Naga Langit harus kita dapatkan malam ini!” teriak seseorang dari luar gua.
Wanita itu menegang. Jantungnya berdegup kencang, meski tubuhnya hampir mati. Matanya menatap tajam ke pintu gua.
Air mata terakhir jatuh dari pipinya. Ia menoleh pada bayinya sekali lagi. “Lin Feng, bertahanlah, bahkan jika ibu harus mati, kau harus hidup.”
Petir kembali menyambar, menerangi gua sekejap. Bayi itu masih menangis tanpa henti, namun suaranya tetap terkurung dalam formasi isolasi. Dunia luar tak mendengar apa pun.
Malam itu, di tengah badai dan darah, seorang bayi lahir ke dunia. Bayi yang tak tahu bahwa hidupnya akan menjadi perjalanan panjang melawan langit, bumi, dan takdir itu sendiri.
Suara langkah-langkah kasar mendekat, semakin jelas di antara raungan badai. Tanah becek di mulut gua terinjak keras, menimbulkan cipratan lumpur yang bercampur dengan darah yang merembes keluar. Suara itu berhenti tepat di depan gua.
“Dia ada di sini,” suara berat penuh kepastian terdengar.
Cahaya obor menembus masuk, bergoyang-goyang ditiup angin. Dari balik siluet cahaya, tiga pria berjubah hitam muncul. Wajah mereka dingin tanpa belas kasihan, mata menyala penuh kebencian. Di dada jubah masing-masing, lambang tengkorak hitam terukir jelas.
Wanita yang terbaring di dalam gua terpaksa menegakkan tubuhnya dengan sisa tenaga. Tangannya gemetar, tapi matanya masih menyalakan api perlawanan. Tubuhnya berlumuran darah, napasnya tersengal, namun ia tetap menegakkan diri di hadapan para pengejarnya.
Salah seorang pria melangkah maju, bibirnya melengkung membentuk senyum dingin. “Heh, lihatlah, sekuntum bunga yang sudah hampir layu, masih mencoba melindungi duri kecilnya.”
Tatapan wanita itu menajam, meski tubuhnya sudah hampir tak sanggup berdiri. “Selama aku masih bernapas, kalian tidak akan menyentuhnya.” Suaranya parau, namun setiap kata membawa tekad baja.
“Lancang!” pria lain melangkah maju, menghunus pedang tipis yang berkilau gelap. “Kau sudah sekarat, tapi masih berani menantang Sekte Darah Hitam?”
Pedang itu terangkat, siap menebas. Namun sebelum kilatan maut itu jatuh, wanita itu meraih Pedang Naga Langit yang bersandar di dinding. Tangannya bergetar hebat, hampir tak mampu mengangkatnya, tetapi begitu jari-jarinya menggenggam gagang pedang, udara gua seketika berubah.
Aura kuno dari pedang itu menyembur keluar, menekan seluruh ruang dengan berat bagaikan langit runtuh. Tiga pria berjubah hitam terperanjat. Salah satunya bahkan mundur setapak, wajahnya menegang.
“Pedang itu…!” gumam mereka hampir serentak.
Wanita itu mengangkat pedang dengan kedua tangan. Darah menetes dari pergelangan, menodai ukiran naga di gagang pedang. Suara napasnya putus-putus, namun sorot matanya tajam seperti bilah pedang yang siap menebas langit.
Suara petir menyambar di luar dengan sangat keras, cahayanya masuk ke gua dan memantul di permukaan bilah pedang. Dalam sekejap, Pedang Naga Langit tampak hidup, naga pada ukirannya seolah bergerak, matanya bersinar.
“Selama pedang ini masih di tanganku, kalian tidak akan pernah bisa menyentuh Lin Feng,” ucapnya dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.
Pertarungan pun pecah.
Pria berjubah hitam pertama menerjang dengan pedang hitamnya, tebasan pedang meluncur cepat. Wanita itu menangkis dengan Pedang Naga Langit. Dentuman keras memenuhi gua, percikan api beterbangan, membuat dinding batu bergetar.
Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam batu, darah segar menyembur dari mulutnya. Namun sebelum jatuh sepenuhnya, ia kembali berdiri dengan goyah, pedang masih erat di genggamannya.
Pria kedua maju, melepaskan tebasan melingkar yang menghantam dinding gua. Batu terbelah, serpihan batu beterbangan, beberapa bahkan hampir mengenai keranjang bambu tempat bayi berada. Untungnya, formasi isolasi suara yang juga berfungsi sebagai lapisan pelindung, menahan serpihan itu agar tak melukai bayi.
Wanita itu melihat ke arah bayinya sekejap. Tatapannya melembut, namun seketika kembali keras saat ia menoleh pada musuh. “Kalian tidak akan lolos hidup-hidup.”
Dengan pekikan penuh tenaga terakhir, ia mengangkat pedang. Cahaya kilat luar menyatu dengan aura Pedang Naga Langit. Tebasan horizontal meluncur deras, membelah udara gua menjadi dua.
Dua pria berjubah hitam terhuyung mundur, pedang mereka hampir terlepas dari genggaman. Tubuh mereka tergores luka panjang, darah segar memancar, tercampur dengan hujan yang mulai merembes masuk.
Namun tenaga wanita itu segera habis. Tubuhnya goyah, lututnya jatuh menghantam batu. Pedang Naga Langit masih ia genggam, tapi tangannya gemetar hebat.
Pria ketiga, yang sejak tadi hanya mengamati dalam diam, akhirnya melangkah maju. Sorot matanya penuh dingin, bibirnya melengkung sinis. “Kau pikir dengan tubuh yang hampir mati, kau bisa menghentikan kami? Kau hanya memperlambat takdirmu sendiri.”
Ia mengangkat telapak tangannya, energi hitam pekat berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berputar cepat. Dari pusaran itu, aura haus darah menyeruak, membuat udara di gua semakin berat.
Wanita itu merasakan hawa kematian mendekat, namun matanya tetap menatap tajam. “Kalau pun aku mati, darahku malam ini akan menjadi tembok yang tak bisa kalian lewati.”
Pusaran energi hitam itu dilepaskan. Suara menggelegar memenuhi gua, tanah berguncang, dinding retak. Tubuh wanita itu terseret, darah kembali menyembur dari mulutnya.
Namun di detik itu, ia mengangkat Pedang Naga Langit tinggi-tinggi, menancapkannya ke tanah di depan keranjang bambu. Cahaya pedang langsung menyembur keluar, membentuk penghalang bercahaya keperakan yang melingkupi bayi.
Ledakan energi hitam menghantam penghalang itu, membuat seluruh gua berguncang. Batu-batu runtuh dari atap, hujan lumpur bercampur darah semakin deras.
Wanita itu jatuh tersungkur, tubuhnya sudah tak mampu lagi berdiri. Namun ia tersenyum tipis, darah mengalir di sudut bibir. Matanya menatap bayi kecil itu, yang masih menangis dalam diam, terlindung cahaya.
“Lin Feng, kau harus hidup.” bisiknya lirih.
Pria berjubah hitam ketiga mendengus, melangkah mendekat. “Menjengkelkan. Wanita rendahan, kau bahkan di ambang mati, masih berani melawan. Tapi tenanglah, setelah kau mati, bayi itu akan segera menyusul.”
Ia mengangkat pedangnya tinggi, siap menebas.
Namun tiba-tiba, dari luar gua, suara berat bergema. “Beraninya kalian mengotori tanah ini dengan darah!”
Kilatan cahaya biru melesat masuk, menghantam pria berjubah hitam itu hingga tubuhnya terlempar ke dinding. Darah muncrat dari mulutnya, teriakan tertahan keluar sebelum ia jatuh menghantam batu dengan keras.
Dua pria lainnya terbelalak. Mereka menoleh ke arah pintu gua, hanya untuk melihat seorang pria paruh baya dengan jubah biru berdiri tegak di sana. Rambutnya panjang, sebagian beruban, namun sorot matanya tajam bagaikan elang. Di punggungnya, tergantung sebuah pedang panjang yang bersinar samar.
“Qingyun…!” salah seorang pria berjubah hitam berseru kaget.
Mereka paham benar siapa sebenarnya sosok yang sekarang berada di hadapan mereka. Sosok yang tidak bisa diremehkan sekalipun mereka ingin.
Pria berjubah biru itu menatap dingin. “Kalian sudah melampaui batas. Sekte Darah Hitam, sudah terlalu lama menabur dosa.”
"sudah saatnya menghapuskan nama sekte kalian dari dunia persilatan".
Wanita di lantai membuka matanya dengan susah payah, melihat sosok itu. Air mata mengalir dari sudut matanya, campuran lega dan sedih. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tanpa suara. “Guru…”
Matanya lalu melirik bayi kecilnya sekali lagi. Nafasnya semakin pelan, tubuhnya mulai kaku. Senyuman tipis masih menghiasi wajahnya.
Hujan masih mengguyur deras di luar, petir masih menyambar, dan darah terus membasahi lantai gua. Malam itu, bumi benar-benar dilumuri darah, menjadi saksi pengorbanan seorang ibu demi anaknya.
Dan di balik semua itu, takdir baru mulai berputar—takdir seorang bayi bernama Lin Feng.
Hujan tak kunjung reda malam itu. Setiap tetesnya jatuh seolah meratapi tanah yang sudah basah oleh darah. Suara gemuruh petir masih berulang, menerangi hutan sekejap demi sekejap, menyingkap bayangan-bayangan yang terus bersembunyi di antara pepohonan.
Di dalam gua kecil itu, bau anyir semakin pekat. Darah wanita muda yang baru saja melahirkan telah bercampur dengan lumpur dan air hujan, membentuk genangan merah yang perlahan merembes keluar.
Wanita muda itu masih terbaring, tubuhnya hampir kaku. Tangannya berlumuran darah, namun jemarinya masih berusaha meraih keranjang bambu yang berada di sampingnya. Bayi mungil itu masih menangis tanpa suara, terlindung oleh formasi isolasi yang ia buat dengan darah dan sisa kekuatannya.
“Lin Feng…” bisiknya parau, hampir tak terdengar. Napasnya berat, setiap tarikan dada seolah merobek paru-parunya. “Maafkan ibu nak, hanya ini yang bisa ibu lakukan untukmu.”
Matanya mulai buram, pandangan berkunang. Tapi saat ia menoleh ke arah pintu gua, sosok pria berjubah biru masih berdiri tegak di sana. Aura tenangnya bagaikan pilar di tengah badai.
“Guru…” bisiknya lirih, senyum samar muncul di wajah pucatnya, terpancar sebuah harapan dari raut wajahnya.
Pria berjubah biru itu, Tetua Qingyun, melangkah masuk. Setiap langkahnya mantap, tanah yang ia pijak seolah bergetar tipis oleh aura yang ia pancarkan. Sorot matanya menatap tajam ke arah tiga pria berjubah hitam yang kini terhuyung setelah terkena serangannya.
Salah satu pria berjubah hitam menggeram, darah menetes dari sudut bibirnya. “Tetua Qingyun, jangan campuri urusan ini! Pedang itu adalah milik sekte kami sejak lama! Kau tak berhak ikut—”
“Diam!” suara Tetua Qingyun bergemuruh seperti petir. Tatapannya menusuk, bagaikan mata naga yang marah. “Pedang itu bukan milik siapa pun selain pewarisnya yang sah. Kalian… Kalian hanya pencuri yang merusak keseimbangan dunia ini.”
Tangannya bergerak. Dengan cepat, ia menarik pedang panjang di punggungnya. Begitu bilah pedang itu keluar, udara di dalam gua berubah menjadi dingin, penuh tekanan. Cahaya kebiruan mengalir di sepanjang pedang, membuat tiga pria berjubah hitam itu tanpa sadar mundur beberapa langkah ke belakang.
Tetua Qingyun tidak memberi mereka jeda waktu untuk berfikir. Dalam sekejap, tubuhnya melesat bagaikan kilat. Pedangnya berayun, meninggalkan jejak cahaya biru yang melintang di udara.
Satu serangan.
Darah memercik ke sekitar.
Salah satu pria berjubah hitam terjatuh ke tanah, tubuhnya terbelah dari bahu ke pinggang. Jeritannya hanya bertahan sesaat sebelum lenyap ditelan suara badai.
Dua lainnya terkejut, wajah mereka pucat pasi. “Monster tua ini… kekuatannya masih sekuat itu!”
Namun Tetua Qingyun tidak berhenti. Dengan gerakan yang ringan, ia kembali menyerang. Tebasan berikutnya membuat udara bergema, seperti suara naga meraung. Pria kedua mencoba menangkis serangan dengan pedang hitamnya, tapi benturan keras itu membuat bilah pedangnya patah seketika, tubuhnya terpental menghantam dinding batu. Darah muncrat dari mulutnya, napasnya terputus di tempat.
Dan pria terakhir, yang tadi mengeluarkan pusaran energi hitam, mundur dengan panik. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar. “Tidak… aku tidak bisa mati di sini…”
Ia berusaha melarikan diri, melompat menjauh ke luar gua. Tapi Tetua Qingyun hanya mengangkat dua jarinya, mengarahkan pedangnya dari kejauhan. Cahaya biru melesat bagai kilat, menembus tubuh pria itu dari belakang.
Jeritan pilu terdengar singkat. Tubuhnya jatuh ke tanah, berlumuran darah, sebelum akhirnya tak bergerak lagi.
Sunyi.
Yang tersisa hanyalah suara hujan deras dan napas berat Tetua Qingyun.
Ia menghunus kembali pedangnya, lalu menoleh. Pandangannya jatuh pada wanita muda yang terbaring sekarat di lantai gua.
Ia segera bergegas menghampiri, berlutut di sampingnya. “Muridku…” suaranya berat, bercampur duka. “Kau… telah berjuang terlalu keras.”
Wanita itu tersenyum samar. Tangannya yang penuh darah berusaha terulur, menyentuh jubah gurunya. “Guru… maaf… aku tak bisa menjaga pedang itu… aku tak bisa melindungi… suamiku…”
Air hujan menetes dari rambut Tetua Qingyun yang basah, jatuh ke wajah wanita itu. Ia menggeleng pelan. “Jangan bicara lagi. Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Kau telah melindungi bayi ini dengan seluruh hidupmu. Itu… jauh lebih berharga dari apa pun.”
Wanita itu menoleh pelan ke arah keranjang bambu. Matanya melembut, air mata kembali mengalir. “Lin Feng… dia… satu-satunya yang tersisa…”
Tangannya gemetar, berusaha meraih keranjang, tapi tak mampu. Tetua Qingyun dengan cepat membantu, mengangkat bayi mungil itu dari dalam formasi. Cahaya biru dari jimat pelindung masih menyelimuti tubuh kecil itu. Begitu ia disentuh, bayi itu menangis lebih keras, meski dunia luar baru mendengar suaranya kembali.
Wanita itu tersenyum, wajahnya penuh kebahagiaan meski tubuhnya remuk. “Lihatlah… betapa kuat tangisnya… dia… akan hidup… Guru… tolong… tolong lindungi dia…”
Suara itu semakin lirih, nyaris tak terdengar. Nafasnya terputus-putus, tubuhnya kejang sebentar lalu melemah.
“Jangan menyerah! Kau masih bisa bertahan!” Tetua Qingyun berusaha menyalurkan energi ke tubuhnya, telapak tangannya menempel di punggung wanita itu, mencoba menahan aliran darah yang terus keluar.
Namun wanita itu hanya menggeleng lemah. “Tidak… tubuhku… sudah hancur… tak ada yang bisa menahannya…”
Ia menatap bayi itu sekali lagi. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir di pipinya. “Lin Feng… anakku… maafkan ibu… karena tak bisa menemanimu… tumbuh besar…”
Tangannya terulur, menyentuh wajah mungil bayi itu. Sentuhan terakhir itu penuh kelembutan, penuh kasih, meski dingin kematian sudah merayapi kulitnya.
“Bahkan… meski ibu tak ada lagi… darah ibu akan selalu mengalir di tubuhmu… pedang itu… akan menjadi milikmu… suatu hari nanti…”
Suara terakhirnya pecah, berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan doa terakhir untuk anaknya.
Kemudian, tubuhnya benar-benar lemas. Matanya perlahan menutup, senyum tipis masih tertinggal di wajahnya.
Sunyi.
Hanya suara bayi yang menangis keras di pelukan Tetua Qingyun, suaranya menusuk hati, seakan tahu bahwa pelukan hangat seorang ibu telah hilang untuk selamanya.
Tetua Qingyun menunduk dalam-dalam, hatinya perih. Ia menatap muridnya yang telah pergi, darahnya membasahi lantai batu, bercampur dengan hujan.
“Ratapanmu… malam ini… akan kuingat selamanya.” suaranya bergetar.
Ia lalu mengangkat Pedang Naga Langit dari tanah, menatap bilahnya yang berkilau pucat di bawah cahaya petir. Pedang itu bergetar samar, seolah merespons kematian pemilik terakhirnya.
“Aku bersumpah… Lin Feng akan ku jaga. Dengan pedang ini, aku akan pastikan darahmu tidak akan tumpah sia-sia.”
Di luar gua, badai masih menderu. Namun di dalam gua, malam itu menjadi saksi ratapan terakhir seorang ibu—ratapan yang menggema di hati anaknya, meski ia belum mampu mengerti.
Dan dari tangisan bayi itu, sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!