“Nyonya Raelynn, bisakah anda tetap sadar selama operasi ini berlangsung. Kami akan segera mengeluarkan bayi anda.”
Ucapan Dokter terdengar seperti angin lalu saja di telinganya. Namun, mendengar tentang bayinya, Raelynn berusaha semaksimal mungkin untuk tetap terjaga dari rasa kantuk yang semakin mendera matanya. Dengan lemah, Raelynn menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan atas ucapan sang dokter. Setidaknya dia akan bertahan sampai mendengar suara pertama dari tangis bayinya.
“Bagus, Nyonya! Tolong pertahankan seperti itu, kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anda dan bayinya.” Sang Dokter kembali berkata seakan sedang memberinya semangat dan motivasi untuk tetap bertahan.
“Dimana suaminya? Atau setidaknya keluarga yang menjadi walinya?”
Dokter satunya bertanya, karena biasanya operasi Caesar seperti ini aka nada salah satu keluarga yang menemani. Sebelum dia melanjutkan pada operasi utama yaitu pengangkatan penyakit kankernya, setelah mereka berhasil mengeluarkan bayinya.
Dokter lain menggelengkan kepala sebelum berkata, “Tidak ada, Dokter! Dia datang sendirian dan menandatangani surat persetujuan proses operasi ini sendiri. Dan bahkan dia sudah menandatangi proses pemakaman sekaligus, jika dalam operasi ini dia tidak bisa diselamatkan.”
Raelynn samar-samar mendengarkan pembicaraan itu. Dan dapat dia rasakan tatapan kasihan yang para dokter berikan padanya. Namun, tatapan itu hanya seperkian detik, sebelum mereka kembali fokus pada operasi yang tengah berlangsung. Hingga tanpa Raelynn sadari setetes air matanya jatuh begitu saja.
“Nyonya, jangan khawatir! Kami akan berjuang menyelamatkan anda dan bayinya. Apapun yang terjadi kami akan sekuat tenaga melawan malaikat maut agar anda bisa merawat bayi anda ini,” ujar sang dokter yang menyadari lelehan air mata itu.
“Terima kasih!” Raelynn hanya bisa mengucapkan itu dalam hatinya.
Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Tangan kurus yang gemetar itu perlahan mulai menorehkan tinta, menuliskan namanya sendiri demi menyelamatkan bayi di dalam perutnya. Walaupun dia tahu bahwa nyawanya mungkin tidak bisa dipertahankan, setidaknya dia tahu bahwa ayah dari bayinya kini bersedia menerima kehadirannya.
Dibawah terangnya lampu operasi, ditengah ketegangan para dokter yang bertarung dengan malaikat maut atas nyawanya dan juga bayinya. Terlintas dibenaknya tentang berbagai pertanyaan, sebenarnya darimana semua kemalangan yang dia alami ini bermula.
Raelyn pernah menjadi putri kebanggaan keluarga, menjadi Kakak terbaik yang dijadikan panutan oleh adiknya, menjadi wanita karir yang mandiri dan penuh prestasi dan bahkan menjadi wanita idaman para pria yang mengenalnya.
Namun, tanpa sadar telah banyak yang berubah. Begitu banyak hal yang dia lalui selama ini. Tapi, kenapa baru sekarang pertanyaan seperti itu muncul dibenaknya? Disaat dirinya dihadapkan antara hidup dan mati?
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan?
Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya?
Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Ya, semua berawal pada hari itu … hari dimana Mama Clara datang menemuinya!
Bersambung ….
“Maaf, Tante pasti sudah menunggu lama,” ucap Raelynn, begitu tiba di sebuah restaurant tempat dia berjanji untuk menemui seseorang.
Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu hanya tersenyum tipis ketika mendengar panggilan yang Raelynn gunakan untuknya. Antara tersenyum maklum dan tersirat kesedihan yang tak mungkin dia ungkapkan secara langsung. Clara Grayson—ibu dari Javier Grayson, teman semasa kecil sekaligus pria yang menjadi cinta pertama Raelynn hingga detik ini.
Meski hubungan keduanya sekarang memburuk, karena Javier yang hanya menganggap Raelynn saudara saja. Puncaknya, Javier dan Raelynn pernah bertengkar hebat karena kedekatan mereka yang membuat kekasih Javier akhirnya meminta putus.
Itu ‘lah alasan kini keduanya tidak dekat seperti sebelumnya, lebih tepatnya Javier yang selalu menjaga jarak dengannya. Hingga akhirnya Raelynn memilih mundur sebagai wakil Ceo dari perusahaan yang Javier bangun dari nol bersamanya.
Mama Clara lantas hanya bisa menjawab dengan lembut, “Rasa asing sekarang kau memanggilku seperti itu, Rael! Mungkin karena sudah terbiasa mendengar mu memanggilku Mama.”
Raelynn hanya bisa tersenyum canggung dan berkata, “Hubungan Rael dan Javier sudah tidak seperti dulu lagi. Jadi, tidak sopan jika Rael menggunakan panggilan itu.”
“Karena alasan itu ‘lah aku datang jauh-jauh menemuimu, Rael! Bisakah kau bersama dengan Javier lagi?” ujar Mama Clara, “Mama sudah membicarakan dengan Javier untuk menjodohkan dia denganmu dan dia kali ini menyetujuinya.” Sambungnya.
“Apa Mama yakin?” Tanpa sadar Raelynn kembali memanggilnya dengan sebutan Mama.
“Hmm, Mama sangat yakin! Maka dari itu, datang ‘lah ke rumah dan pastikan sendiri apa yang Mama katakan padamu hari ini. Setelah dari sini, Mama akan kembali dan menunggumu di rumah,” ujar Mama Clara begitu menyakinkan.
“Kau masih mencintai Javier, bukan?” Mama Clara memastikan.
“Aku selalu mencintainya, Ma! Tapi Javier—”
“Setelah kau datang, dia pasti akan belajar untuk mencintaimu. Percaya sama Mama,” bujuk Mama Clara.
“Rael akan memikirkannya dulu, Ma!”
Ya, Raelynn bimbang dengan keputusan yang harus diambil kali ini. Di satu sisi, dia masih sangat mencintai Javier tapi di sisi lain dia berharap bahwa apa yang Mama Clara katakan barusan memang benar adanya. Dia ingin mengambil kesempatan itu, tapi hatinya merasa ragu karena suatu alasan yang dia sendiri tidak tahu apa itu.
“Ya, sudah! Apapun keputusanmu, Mama akan selalu mendukungmu,” ucap Mama Clara yang tidak ingin memaksa, meski pun dia sangat berharap bahwa suatu hari nanti Raelynn akan benar-benar menjadi menantunya.
...****************...
Setelah menemui Mama Clara, Raelynn pun memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaan dan memilih untuk langsung pulang ke rumahnya dengan pikiran yang sangat kacau. Niatnya Raelynn ingin langsung menuju ke kamarnya, menenangkan diri dan pikiran. Namun, semua itu tidak mungkin ketika pandangan matanya tertuju pada ruang tamu.
“Ada apa ini?”
Dalam hati Raelynn penuh tanya, sebab dia sedikit merasa terkejut ketika mulai memasuki ruang tamu. Bagaimana Raellyn tidak terkejut? Dia yang baru saja kembali dari menemui Mama Clara, Ibu dari pria yang dia cintainya kini dihadapkan begitu banyak orang di rumahnya.
“Raelynn! Kau sudah pulang, Sayang? Duduklah disini!”
Menyadari kepulangan putri yang ditunggunya sejak tadi. Edwin Cameron, ayah kandung Raelynn yang kemudian menyuruhnya duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelahnya. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Raelynn sang ayah kembali mengatur sebuah pernikahan bisnis untuk Raelynn dengan anak rekan kerjanya. Dan dengan perasaan ragu Raelynn pun menuruti sang ayah dengan duduk di sampingnya.
Dan Raelynn Humaira, seorang wanita berparas cantik, bertutur kata lembut pintar dan sangat mandiri merupakan putri sulung dari keluarga Cameron pemilik perusahaan CM Group salah satu perusahan terbaik di Kota H. Dia selalu dianggap putri yang sangat pintar dan dibanggakan oleh keluarga Cameron.
“Papah, ada apa ini? Kenapa semua orang berada disini?” tanya Raelynn seraya menatap menatap kearah ayah dan ibunya untuk meminta penjelasan.
“Dan siapa mereka?” lanjutnya.
“Ouh, perkenalkan ini Frans Antonio. Anak dari rekan bisnis ayah yang akan di jodohkan denganmu!”
Penjelasan dari Sang ayah sontak saja membuat Raelynn langsung membulatkan kedua bola matanya karena saking terkejutnya. Pasalnya tidak ada satu orang pun yang membicarakan tentang perjodohan ini dengannya. Padahal saat perjodohan dengan seseorang akan dilangsungkan, kedua orang tuanya akan memberitahukan kepadanya lebih dulu dan meminta pendapatnya.
Lalu kenapa sekarang tidak seperti itu? Tidak, sebenarnya sejak kapan kedua orang tuanya mulai berubah? Hingga Raelynn menyadari bahwa kedua orang tuanya mulai berubah setelah dia bersikeras mempertahankan perasaannya dengan Javier, Ceo JV Group. Raelynn bahkan selalu menolak setiap kali orang tuanya ingin menjodohkannya dengan orang lain, karena harapannya pada Javier.
“APA!? Apakah Rael sedang salah dengar, Pah?”
Raelynn mencoba kembali memastikan pendengarannya, apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak. Sebab ini pertama kalinya, kedua orang tuanya menjodohkan dirinya tanpa memberitahukan ataupun menanyakan pendapatnya lebih dulu.
“Tidak! Kau tidak salah dengar, Rael! Ayo, cepat kalian berdua berkenalan dulu biar semakin akrab!” ujar Edwin yang lebih terdengar seperti sedang memberikan sebuah perintah pada Rael.
“Hai, perkenalkan namaku Frans Antonio. Kau bisa memanggilku Frans saja!”
Pria bernama Frans itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu seraya mengulurkan tangannya pada Raelynn yang masih mencerna situasinya saat ini. Wajah pria itu memang lumayan tampan dan merupakan seorang Ceo muda dari perusahaan HD Group, tapi entah mengapa Raelynn merasa tidak nyaman dengan tatapan yang pria itu tunjukan padanya.
“Raelynn Cameron!” Raelynn memperkenalkan dirinya secara singkat sembari menerima ularan tangan pria itu dengan ragu, karena itulah dia segera menarik tangannya kembali.
“Ternyata anda terlihat lebih cantik aslinya dari pada yang ada di foto, ‘yah?” Pujian yang berasal dari Frans semakin membuat Rael merasa tidak nyaman dengan keberadaannya.
“Terima kasih atas pujiannya, tapi saya minta maaf karena saya tidak bisa menerima perjodohan ini!”
Perkataan Raelynn lantas berhasil membuat semua orang sangat terkejut begitu mendengarnya, terutama ayah dan ibunya. Tentu saja mereka terkejut, karena Raelynn langsung menolak perjodohan tersebut tanpa memberi kesempatan keduanya untuk saling mendekatkan diri terlebih dahulu.
“RAELYNN! Ada apa dengan perkataanmu itu!” seru Sang ayah dengan nada bicaranya yang seketika meninggi.
“Papah, maafkan Rael! Tapi Rael sungguh tidak bisa menerima perjodohan ini!” Nada bicara Raelynn dibuat sedikit merendah agar emosi ayahnya tidak semakin tersulut.
“RAELYNN!”
Namun, bukannya mereda, emosi Sang ayah malah semakin tersulut. Hingga kini membentak Rael dihadapan semua orang yang berada disana. Emma Claudia, sang ibu pun berusaha menenangkan suaminya sekaligus menyuruh Raelynn untuk tetap diam agar kemarahan ayahnya tidak semakin meluap.
Bersambung ….
Akan tetapi, Raelynn tidak bisa diam saja dengan keputusan ayahnya yang diam-diam menjodohkan dirinya bahkan tanpa meminta pendapatnya sama sekali. dengan berderai air mata, Raelynn pun mengutarakan isi hatinya, “Ayah, Rael mohon! Hargai juga keputusan Rael disini, karena bukankah perjodohan ini Rael yang akan menjalaninya?”
Apa yang Rael katakan memang tidak salah sama sekali. Akan tetapi, Sang ayah terlihat tidak peduli dengan keputusan anak sulungnya itu. Di mata Edwin, Raelynn telah mencoreng harga dirinya dan mempermalukannya di depan rekan bisnisnya dengan menolak perjodohan tersebut.
“Apa alasan Nona menolak perjodohan ini? Atau lebih tepatnya menolak ku?”
Kini Frans pun mulai membuka suaranya agar masalah ini cepat selesai, sebab dia juga tidak ingin nama baik keluarganya dipermalukan karena sikap diamnya terhadap penolakan Raelynn.
Sebenarnya Frans juga tengah menahan amarahnya, karena untuk pertama kalinya dia mendapat penolakan yang sangat memalukan seperti ini. Padahal di luar sana masih banyak wanita yang menginginkan dirinya, bahkan tanpa imbalan sekalipun.
“Karena aku masih sangat mencintai pria lain, Tuan! Dan aku tidak ingin menikah tanpa adanya cinta di antara kita!”
Raelynn langsung menjawabnya tanpa adanya keraguan sedikitpun, dia bahkan akhirnya mendapat jawaban atas keraguan atas permintaan Mama Clara yang ingin menjadikan dirinya sebagai menantunya. Ya, kini Raelynn sangat yakin untuk meraih harapannya kembali.
Dia akan berjuang untuk meraih cinta Javier, pria yang selama ini menjadi sahabatnya sekaligus pria yang sangat dicintainya. Raelynn akan selalu memegang teguh prinsipnya, bahwa dia hanya akan menikah dengan pria yang dia cintai.
“Baiklah, kalau ini sudah menjadi keputusan dari Nona Raelynn! Saya akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Kalau begitu, lebih baik kami pamit undur diri sekarang karena sepertinya banyak yang harus kalian bicarakan satu sama lain!”
Frans pun memilih pamit sembari menahan kemarahannya karena sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, kecuali harus menerima keputusan Raelynn yang menolak lamarannya mentah-mentah. Bahkan Frans dan keluarganya langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan secara baik-baik kepada Edwin dan istrinya.
Sementara Edwin sendiri sudah tidak memiliki muka lagi untuk mengantar kepergian keluarga itu, apalagi untuk memberikan permintaan maafnya.
Frans pun langsung pamit meninggalkan kediaman keluarga Cameron bersama dengan keluarganya.
Keluarga Antonio memang merasa sangat terhina dengan penolakan yang Rael lakukan, apalagi dia dengan lantang mengatakan bahwa dia mencintai pria lain. Meskipun begitu Frans langsung menghentikan niat ayahnya yang ingin memaki keluarga Cameron, sebab dia mempunyai ide yang lebih bagus untuk membalas penghinaan itu daripada harus marah-marah tidak jelas seperti orang gila.
“Raelynn, aku akan mengingat hari ini! Hari dimana kau menghinaku dan keluargaku. Akan kupastikan kau tidak bisa menikmati kemewahan ini lagi selama sisa hidupmu! Tunggu saja pembalasan dariku nanti.” batin Frans sembari menatap rumah keluarga Cameron dengan penuh kebencian.
Selepas kepergian Frans dan keluarganya, adu argument antara Raelynn dan Sang Ayah pun kembali berlanjut. Disini Raelynn tetap teguh dengan keputusannya kembali mengejar Javier, begitu juga dengan ayah dan ibunya yang bersikeras menjodohkan Raelynn dengan Frans. Edwin dan Emma pun langsung mengetahui bahwa pria yang dimaksud Raelynn itu adalah Javier.
“Rael, apakah pria yang kau cintai itu adalah Javier?” tanya Sang Ayah dengan nada bicaranya yang dipenuhi amarah yang sudah memuncak, dia menanyakan hal itu hanya untuk memastikan bahwa dugaannya benar atau tidak.
“I-iyaa, Pah!”
Rael menjawabnya dengan lirih, membenarkan perkataan Sang Ayah. Dia hanya ingin jujur dengan perasaannya dan ingin mencoba untuk mendapatkan cintanya kembali. Raelynn hanya ingin berjuang sekali lagi, karena menikah dan hidup bersama dengan Javier adalah salah satu mimpi terbesarnya.
“Rael, apa kau sadar dengan keputusanmu ini. Dia bukanlah Javier yang dulu lagi, dia sudah sangat berubah! Kau jelas tahu sendiri bahwa dia tidak pernah mencintaimu, kau sama sekali tidak pernah ada di dalam hatinya. Apa kau tidak sadar? Kalau dihatinya tidak pernah ada tempat untukmu!”
Sang Ibu mulai ikut bicara agar putrinya bisa sadar dan merubah keputusannya, mencoba menyadarkan Raelynn dengan kata-kata menyakitkan.
“Rael sangat tahu tentang itu, Mah! Tapi Rael masih tetap ingin berusaha untuk bersamanya kembali seperti dulu! Lagi pula Mamah Clara berniat menjodohkan aku dengannya lagi, Mah! Rael sangat yakin bahwa Javier pasti akan bersedia menerima Rael,” ujar Raelynn yang tetap bersikeras dengan pilihannya.
“Rael! Mamah mohon sadarlah. Javier yang sekarang bahkan selalu mengabaikanmu, dia tidak pernah menaruh perasaan lebih kepadamu, selain sebatas saudara! Apalagi yang kau harapkan darinya?” Sang Ibu terus saja menyakinkan Raelynn bahwa usahanya kembali pada Javier hanya akan berakhir sia-sia.
“Rael tetap ingin mengharapkan cinta Javier lagi, Mah! Dan Rael yakin bisa mendapatkannya kali ini.”
Namun, Raelynn tidak peduli lagi dengan hal lainnya yang dia pedulikan sekarang adalah adanya sebuah kesempatan untuk dirinya bisa bersatu lagi dengan pria yang amat sangat di cintainya itu. Dengan usaha dan keyakinannya, Raelynn sangat percaya diri bisa mendapatkan hati Javier kembali dan mereka akan hidup bahagia.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu! Kau boleh pergi sekarang juga untuk mengejar cinta butamu itu!” ujar Sang Ayah tanpa memandang sedikitpun pada Raelynn.
Mendengar keputusan Raelynn yang sangat keras kepala membuat Sang Ayah sangat murka dan benci padanya. Ditambah dia baru saja mempermalukan keluarga mereka dihadapan Keluarga Antonio.
Baginya, Raelynn bukanlah satu-satunya dia tidak peduli dengan anak yang suka membuat masalah seperti Raelynn. Dia sudah membujuknya secara baik-baik untuk memulai hubungan baru dengan pria lain, tapi Raelynn sendiri menolaknya dengan harapan cintanya kepada Javier. Maka tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan keputusan putrinya yang sangat keras kepala itu.
“Suamiku!”
Sang Ibu tentu sangat terkejut dengan perkataan suaminya, dimana dia ternyata mengijinkan Raelynn pergi untuk mengejar Javier kembali.
“Terima kasih, Pah! Rael janji—”
“Tapi ingatlah! Begitu kau melangkah keluar dari rumah ini, disaat itu juga hubungan orang tua dan anak diantara kita akan terputus untuk selamanya. Jadi, jangan pernah berharap kau bisa menginjakkan kakimu lagi di rumahku ini, begitu kau memutuskan untuk pergi mengejarnya! Itulah keputusan akhir dariku!”
Sang Ayah tentu memiliki keputusannya sendiri dan dia menyampaikan hal itu dengan tegas berharap bisa meluluhkan sikap keras kepala putrinya. Setelah mengutarakan ancamannya, Edwin pun pergi begitu saja meninggalkan Raelynn yang kini diam mematung di tempatnya setelah mendengar perkataan sang ayah.
“Suamiku!”
Sang Ibu pun langsung mengikuti suaminya masuk kedalam kamar berusaha untuk mencoba membujuknya agar menarik setiap kata yang telah dia ucapkan kepada Raelynn tadi. Karena bagaimana pun Raelynn juga putri kandungnya, dia merasa yakin bahwa Raelynn tidak akan pergi meninggalkan mereka hanya demi cinta seorang Javier.
Bersambung ….
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!