NovelToon NovelToon

Vengeance Of A Killer.

Akademi Bayangan Utara

Di jantung ibukota kerajaan yang megah dan kuno, tersembunyi sebuah akademi rahasia bernama Bayangan Utara.

Tempat berkumpulnya para ahli pedang dan petarung terhebat yang mengabdi kepada kerajaan.

Setiap harinya mereka ditempa dengan latihan keras. Ini menguji batas kemampuan.

Sebab hanya yang terkuat dan paling berdedikasi yang mampu bertahan dalam lingkungan penuh tekanan itu.

Seperti pemuda bernama Lucas. Ia memiliki rambut hitam belah dua tengah dan sepasang mata tajam.

Dia selalu terlihat sibuk mengasah bilah pisau di tangannya.

Lucas berkata lirih kepada rekannya di sampingnya, "Pisau ini adalah napas keduaku, tanpanya, aku bukanlah siapa-siapa dalam setiap bayangan."

Sebuah ungkapan yang memang benar adanya.

Karena dirinya selalu mengandalkan kecepatan dan ketepatan. Bergerak tak terlihat dari satu bayangan ke bayangan lain layaknya angin saat beraksi.

Menjadikan Lucas sebagai satu-satunya pembunuh bayaran paling mematikan yang pernah dihasilkan akademi itu.

Suara gesekan bilah pisau di udara menjadi melodi biasa. Di lapangan latihan rahasia yang tersembunyi di kedalaman istana.

Lucas tampak sedang mencoba gerakan baru. Gerakan yang dia pelajari semalam.

Dia meliuk-liuk di antara maneken kayu. Dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat.

Lalu seorang instruktur berjanggut lebat, Master Loe, menghampirinya.

Master Loe mengangguk perlahan dan berkata, "Bagus Lucas, gerakanmu semakin mulus tetapi perhatikan posisi pergelangan tanganmu."

"Sedikit saja meleset bisa fatal saat di lapangan nanti," tambahnya.

Lucas membalasnya dengan napas terengah-engah, "Aku akan terus berlatih, Master."

"Aku ingin menguasai teknik ini sampai sempurna," lanjutnya. "Sehingga setiap serangan aku tidak pernah meleset."

Ini menunjukkan tekadnya yang membara untuk menjadi yang terbaik.

Kemudian Master Loe melempar sebuah pisau latih ke arahnya.

Master Loe berkata, "Mari kita lihat seberapa cepat refleksmu sekarang."

"Anggap itu rintangan tak terduga yang datang dari arah tidak terduga."

Lucas segera menangkap pisau itu dengan tangan kosong. Gerakannya sangat cepat bagai kilat.

Lalu dengan spontan ia melancarkan serangkaian tebasan cepat ke maneken di depannya.

Ini menciptakan ilusi bayangan ganda dari bilah pisaunya.

Kemudian Master Loe mengulas senyum tipis.

"Kau memang tidak pernah mengecewakan, Lucas," kata Master Loe.

"Kecepatanmu adalah aset terbesar tetapi ingat, kecepatan tanpa kecerdikan hanyalah kesia-siaan."

Setelah latihan berakhir, Lucas terlihat kelelahan. Namun wajahnya masih memancarkan semangat yang tidak padam.

Ia duduk bersandar di salah satu pilar batu berukir kuno. Di pelataran latihan itu.

Lucas menyeka keringat di dahinya. Lalu rekannya sesama assassin bernama Niama menghampirinya.

Niama bertanya, "Kau tidak pernah menyerah, ya? Padahal latihan hari ini lebih berat dari biasanya."

Lucas hanya terkekeh pelan dan menjawab, "Menyerah bukan pilihan, Niama."

"Akademi ini mengajarkanku bahwa setiap tetesan keringat adalah investasi untuk masa depan."

"Dan setiap luka adalah pelajaran berharga yang tidak bisa ditukar dengan apapun."

Niama kemudian duduk di sampingnya. Dia menatap Lucas dengan sorot mata lembut dan penuh kekaguman.

Lalu berkata pelan, "Aku selalu kagum melihat caramu berlatih."

"Kamu seperti tidak pernah kehabisan energi dan fokusmu itu selalu luar biasa."

Lucas hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi berarti. Matanya tetap tertuju pada bilah pisau di tangannya yang sudah kembali diasah.

Dia menjawab datar, "Itu hanya bagian dari rutinitas saja."

"Lagipula setiap detail kecil itu penting jika kamu ingin bertahan di sini."

Seolah perkataan Niama tidak terlalu menarik perhatiannya.

Karena memang seluruh pikirannya saat itu hanya terpaku pada bagaimana caranya menyempurnakan setiap goresan di bilah pisaunya.

Ketika Master Loe memperlihatkan gulungan perkamen kuno. Isinya sketsa teknik baru yang rumit dari seorang master legendaris.

Itu terjadi di balai pertemuan istana yang sunyi.

Niama terlihat kebingungan dan berbisik kepada Lucas, "Gerakan itu cepat sekali, aku bahkan tidak bisa melihat celahnya."

Tetapi Lucas justru memutar ulang bagian-bagian tertentu dari sketsa itu dengan sangat teliti.

Sambil mengamati setiap detail pergerakan kaki dan tangan master itu.

Lalu dia tiba-tiba berucap, "Ada jeda sepersekian detik di sini, tepat sebelum ayunan terakhirnya, itu bisa dimanfaatkan."

Sebuah analisis yang sangat akurat padahal baru pertama kali melihatnya.

Kemudian Lucas berdiri. Mengambil pisau latihnya.

Dalam beberapa detik saja dia sudah mampu meniru gerakan master legendaris itu. Dengan presisi yang mengejutkan di tengah aula latihan.

Bahkan dia menambahkan sedikit variasi. Ini untuk menutup celah yang baru saja ditemukannya.

Membuat Master Loe yang sedang memperhatikan dari jauh tersenyum puas.

Lalu Niama menatapnya dengan kekaguman yang semakin jelas di matanya.

Dia berkata lirih, "Kau memang luar biasa, Lucas, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa melakukannya secepat itu."

Tetapi Lucas hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.

Kemudian dia kembali sibuk mengamati gulungan perkamen itu. Seolah semua pujian itu tidak lebih penting daripada analisisnya terhadap sketsa tersebut.

Pagi berikutnya, sesi latihan terasa berbeda.

Karena Master Loe memulai pelajaran baru tentang pengendalian elemen.

Dia menjelaskan bahwa setiap orang di dunia ini dilahirkan dengan ikatan elemen unik.

Elemen itu harus dikuasai untuk mencapai potensi tertinggi.

Master Loe berkata, "Ingat, elemen bukan hanya kekuatan, tetapi juga cerminan jiwamu."

"Niama, kau memiliki elemen api yang membara."

"Sementara Lucas, elemenmu adalah air yang mengalir tenang."

Lucas dan Niama saling pandang. Mereka mencoba memahami kedalaman makna di balik kata-kata sang Master.

Lucas kemudian memejamkan mata. Memfokuskan pikirannya.

Dalam sekejap butiran-butiran air di bejana perunggu di depannya mulai bergerak pelan.

Membentuk gumpalan kecil yang melayang di udara. Ini mengikuti setiap gerakan tangannya.

Lalu Master Loe mengangguk melihat kontrol Lucas yang luar biasa.

Master Loe berkata, "Bagus sekali Lucas, kelenturan air itu sempurna untuk kecepatan dan adaptasi."

"Yang selalu kau gunakan dalam setiap gerakanmu," tambahnya.

Niama yang melihatnya langsung mendesah kagum.

"Kontrol airmu sangat akurat," kata Niama.

"Aku bahkan tidak bisa membuat percikan api tetap stabil seperti itu," menunjukkan kekaguman yang mendalam terhadap bakat alami Lucas.

Master Loe lalu berdiri di tengah lapangan. Atmosfer sekitarnya tiba-tiba menjadi dingin dan gelap.

Dari telapak tangannya muncul gumpalan kabut hitam pekat. Kabut itu mulai menyebar perlahan.

Memenuhi seisi ruangan.

Niama refleks berbisik kepada Lucas dengan sedikit gentar, "Kekuatan Master Loe memang selalu membuatku merinding."

Tetapi Lucas justru menatap tajam ke arah kabut itu. Matanya mencari setiap celah atau pergerakan aneh di dalamnya.

Karena instingnya berkata ada sesuatu yang lebih dari sekadar pengendalian elemen biasa.

Seolah Master Loe memperlihatkan lebih dari sekadar kegelapan, melainkan intisari dari sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Di sisi lain lapangan, terlihat seorang senior perempuan bernama Diana.

Dia adalah sosok yang selalu dingin dan tenang.

Diana sedang berlatih dengan dua bilah pedang di tangannya. Gerakannya tajam dan mematikan.

Diiringi desiran es yang muncul setiap kali pedangnya mengayun.

Lalu Niama mendekati Lucas dan berbisik, "Kau masih saja mengawasinya."

"Padahal kamu tahu sulit sekali menandingi Diana dengan elemen es dan kecepatan pedang gandanya yang luar biasa itu."

Lucas hanya mengernyitkan dahi. Matanya tidak lepas dari setiap gerakan Diana.

Kemudian dia berkata pelan, "Setiap gerakan itu menyimpan celah, dan aku pasti akan menemukannya."

Lucas kemudian menghabiskan sisa waktu latihannya. Dengan mengamati Diana dari kejauhan.

Ia melihat bagaimana Diana mengombinasikan elemen esnya dengan serangan pedang ganda yang tak terduga.

Lalu ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Aku harus bisa mengalahkan Diana."

"Dia adalah tantangan terbesar di akademi ini." Sebuah tekad yang tak pernah goyah.

Karena dirinya tahu bahwa mengalahkan Diana adalah langkah selanjutnya.

Ini untuk menguasai setiap aspek dari kelas assassin dan elemen airnya yang fleksibel.

Kehangatan Dari Seorang Rival

Lucas yang sejak tadi terfokus pada Diana, tiba-tiba melihat sesuatu yang ganjil. Ada jeda sangat kecil di antara ayunan pedang pertama dan kedua gadis itu. Sebuah celah yang hanya bisa ditangkap oleh mata seorang pembunuh bayaran seperti dirinya.

Kemudian Lucas menyadari bahwa Diana, meskipun terlihat sempurna, ternyata memiliki pola serangan yang berulang. Ini adalah kunci untuk mengalahkannya di masa mendatang.

Setelah menemukan celah itu, Lucas merasa semangatnya kembali membara. Ia mulai mempraktikkan gerakan serupa, berusaha menemukan cara terbaik untuk mengeksploitasi celah tersebut. Sesekali ia menggerakkan tangannya di udara, seolah sedang memegang pisau. Lalu membayangkan dirinya menghadapi Diana, mencoba beragam skenario untuk bisa melewati pertahanannya yang kokoh.

Niama yang melihat Lucas begitu serius, hanya bisa menggelengkan kepala. Karena Lucas memang selalu terobsesi pada setiap detail, terutama dalam hal pertarungan.

Meskipun latihan telah usai, Lucas masih tetap di lapangan. Ia terus menganalisis dan berlatih dalam pikirannya. Setiap gerakan Diana seolah terekam jelas dalam benaknya. Ia pun sudah memiliki rencana untuk menguji teorinya tentang celah Diana.

Ia tahu bahwa mengalahkan Diana bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang kecerdasan dan kemampuan untuk membaca lawan. Lucas merasa yakin bisa menemukan titik lemah Diana dengan elemen airnya yang fleksibel.

Seiring berjalannya waktu, tekad Lucas untuk menantang Diana tidak pernah surut. Ia selalu mencari setiap kesempatan untuk mengukur kemampuannya melawan gadis itu. Pertandingan demi pertandingan terus terjadi di antara mereka.

Lucas selalu mengerahkan seluruh kemampuannya. Sementara Diana dengan elemen esnya yang menakutkan selalu berhasil mematahkan setiap serangan Lucas. Namun, setiap kekalahan justru semakin memicu semangat Lucas untuk terus belajar dan tumbuh. Mereka berdua pun akhirnya tumbuh dewasa menjadi petarung terkemuka di akademi tersebut.

Kini, setelah bertahun-tahun berlatih dan bertarung, Lucas kembali berdiri di hadapan Diana di arena latihan utama. Kali ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan sebuah pertandingan terakhir yang akan menentukan siapa di antara mereka yang benar-benar menjadi yang terbaik. Ini adalah kesempatan terakhir Lucas untuk membuktikan dirinya. Karena ia selalu kalah dalam setiap pertarungan melawan Diana, sehingga ia merasa harus memenangkan pertarungan ini.

Atmosfer tegang menyelimuti seluruh arena.

Diana berdiri dengan anggun di seberang Lucas. Rambut peraknya terurai indah melewati bahunya, menonjolkan kecantikan alami yang memesona. Kulitnya yang bersih dan halus memantulkan cahaya dari lentera di sekitarnya. Siluet tubuhnya yang ramping dan proporsional tampak sangat ideal di balik seragam latihan. Ia terlihat tenang dan percaya diri. Sebuah pemandangan yang selalu membuat Lucas merasa tertantang dan pada saat yang sama mengakui keindahan lawannya.

Peluit berbunyi nyaring, mengawali duel epik itu. Diana segera melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Kedua pedang esnya mengayun dalam busur mematikan, berusaha menekan Lucas dengan rentetan serangan tanpa henti.

Namun, Lucas yang sudah mempelajari setiap gerakannya, bereaksi dengan kelincahan yang mengejutkan. Setiap serangannya begitu cepat dan kuat, menciptakan bayangan ganda yang membingungkan. Seolah dia berada di banyak tempat sekaligus, menyulitkan Diana untuk melacak keberadaannya.

Pertarungan mencapai puncaknya ketika Lucas berhasil menemukan celah yang selama ini ia incar. Saat Diana melancarkan kombinasi pedang gandanya, Lucas dengan sigap memanfaatkan jeda sepersekian detik itu untuk melancarkan serangan balasan yang mematikan.

Ia melesat dengan kecepatan air yang mengalir, menghindari ujung pedang es Diana. Lalu mengunci salah satu pergelangan tangan Diana dengan gerakan memutar yang kuat. Ini membuat pedang di tangan Diana terlepas dan melayang di udara.

Diana terkejut dengan kecepatan dan kekuatan Lucas yang jauh melebihi dugaannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Lucas akan menjadi sekuat dan secepat ini. Sementara itu, Lucas dengan gerakan cepatnya mengakhiri pertarungan dengan menempelkan bilah pisaunya di leher Diana.

Sebuah gerakan final yang membuktikan dominasinya. Ini memaksa Diana untuk mengakui kekalahannya dengan napas terengah-engah dan sorot mata kagum yang terpancar jelas di wajahnya.

Setelah Lucas mendeklarasikan kemenangannya, Diana tersenyum tipis. Sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat di wajahnya yang biasanya dingin. Lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Lucas sebagai tanda persahabatan dan rasa hormat yang mendalam. Karena selama ini hanya Lucas yang mampu mendorongnya melewati batas kemampuannya.

Lucas menyambut uluran tangan itu dan sambil membantu Diana berdiri, ia menatap mata Diana dengan sorot lembut. Kemudian berbisik pelan.

"Diana," Lucas memulai dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya. "Besok adalah kelulusanmu, mungkin aku akan merindukanmu."

Diana yang mendengarnya, merasa pipinya menghangat dan rona merah samar muncul di sana. Sebuah reaksi yang sangat jarang ia alami.

Tetapi ia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan cepat. Ia tetap mempertahankan ekspresi tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa. Karena diam-diam ia menyimpan perasaan khusus untuk Lucas yang selama ini selalu menjadi rivalnya.

Diana menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai perasaannya yang bergejolak. Lalu ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Lucas dengan suara datar.

"Apa kau akan mengikutiku ke Sekte Pedang Berbunga?" Sebuah pertanyaan yang tersirat harapan besar di baliknya.

Ia berharap Lucas akan ikut bersamanya, melanjutkan petualangan mereka di luar akademi. Lucas hanya terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang tepat. Ia tahu bahwa pilihan ini akan mengubah segalanya bagi masa depan mereka.

Setelah berpikir sejenak, Lucas tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya yang serius. Lalu ia menjawab dengan keyakinan penuh.

"Aku berjanji aku akan menyusulmu ke sana, Diana." Kata-katanya mengalir dengan mantap, menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan mereka berpisah terlalu lama. Karena ia tahu bahwa petualangannya di luar akademi tidak akan lengkap tanpa kehadiran Diana di sisinya, baik sebagai rival maupun sebagai teman dekat.

Janji yang baru saja diucapkan Lucas itu sontak membuat Diana reflek tersenyum lebar. Senyum yang begitu tulus dan murni hingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang meluap.

Lalu ia pun membalas dengan suara bersemangat.

"Aku menantikannya." Ini menunjukkan bahwa ia sangat menghargai janji Lucas, dan berharap bisa segera bertemu kembali dengannya di Sekte Pedang Berbunga.

Melihat ekspresi Diana yang begitu cerah, Lucas merasa ada kehangatan yang menjalar di dadanya. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang lebih santai dan akrab.

"Malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ajaknya. Karena ia tahu bahwa ini mungkin akan menjadi malam terakhir mereka berdua sebelum Diana meninggalkan akademi. Lucas ingin membuat setiap momen berharga bersama Diana tidak terlupakan.

Malam itu, mereka berdua menghabiskan waktu di taman akademi yang sunyi, di bawah sinar rembulan yang temaram, berbagi cerita dan kenangan pahit manis selama mereka berlatih bersama, sebuah momen langka di mana dinding formalitas di antara mereka runtuh, digantikan oleh kehangatan dan rasa nyaman yang mendalam, karena malam itu bukan hanya perpisahan, melainkan juga awal dari janji yang terukir di hati mereka.

Penyerangan Dimalam Hari

Pagi berikutnya, Lucas terbangun dengan perasaan aneh di dadanya. Ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, sesuatu yang belum pernah ia alami. Biasanya ia hanya fokus pada latihan atau misi yang dingin dan terencana.

Ia mengamati pantulan wajahnya di cermin. Tanpa sadar, sebuah guratan senyum tipis terukir. Ia teringat manisnya raut wajah Diana semalam yang begitu tulus. Lucas sedikit terkejut melihat ekspresi yang tidak biasa itu di wajahnya sendiri. Kemudian, ia menyentuh pipinya, bertanya-tanya mengapa rasanya begitu hangat. Seolah sisa kehangatan dari kebersamaannya dengan Diana masih menempel di sana. Pengalaman baru ini membuatnya merasa sedikit canggung namun juga penasaran.

Saat sarapan, Lucas duduk sendirian di meja. Biasanya, ia akan langsung menuju lapangan latihan. Namun, pagi ini pikirannya melayang-layang ke arah Sekte Pedang Berbunga. Ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera menyusul Diana ke sana.

Ia tiba-tiba tersadar saat Master Loe menepuk bahunya. "Tumben sekali kau melamun, Lucas? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya sambil terkekeh melihat muridnya yang biasanya fokus kini terlihat linglung. Lucas hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Ia mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. "Bukan apa-apa, Master, hanya memikirkan teknik baru saja," jawabnya. Dalam hati ia tahu itu adalah bohong besar. Yang ia pikirkan hanyalah Diana.

Lucas yang biasanya kaku dan tanpa emosi, kini sering kali terlihat tersenyum sendiri atau melamun saat latihan. Ini membuat Niama kebingungan dan sesekali menggodanya. "Sepertinya ada yang salah dengan Lucas kita ini, apakah dia terkena demam cinta?" Niama berseru sambil tertawa geli, melihat perubahan aneh pada temannya. Lucas hanya menggerutu pelan, pura-pura tidak mendengar ejekan Niama. Tetapi dalam hatinya ia merasa sedikit kesal karena rahasia perasaannya mulai terbaca. Di sisi lain, ia juga merasakan kehangatan yang menyenangkan setiap kali memikirkan Diana. Seolah kehadiran gadis itu telah membuka dimensi emosi baru dalam dirinya.

Siang harinya, seluruh akademi berkumpul di aula utama yang megah. Aula itu dihiasi bendera-bendera kerajaan dan spanduk-spanduk penyemangat. Mereka menyaksikan upacara kelulusan angkatan terbaru, sebuah momen penting yang selalu dinanti-nantikan oleh para siswa.

Lucas mencari-cari sosok Diana di antara kerumunan. Matanya menelusuri setiap wajah hingga akhirnya menemukan Diana. Gadis itu berdiri anggun di barisan depan, mengenakan jubah kelulusan berwarna biru tua yang menonjolkan kecantikannya. Ini membuat jantung Lucas berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia pun tak kuasa menahan senyum mengembang. Merasa bangga melihat gadis yang telah mengubah kehidupannya itu kini mencapai salah satu puncak penting dalam perjalanan hidupnya. Bahkan Niama yang berdiri di sebelahnya menyenggol lengannya, berbisik, "Sudah sejauh itu ya senyumnya?"

Ketika nama Diana dipanggil, ia melangkah maju dengan percaya diri. Ia menerima gulungan ijazah dari tangan Panglima Tertinggi akademi. Sorak-sorai serta tepuk tangan membahana memenuhi aula, merayakan keberhasilan salah satu murid terbaik mereka.

Diana sempat melirik ke arah Lucas. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat pandangan mereka bertemu. Sebuah senyuman yang penuh arti dan hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Seolah mengukuhkan janji yang telah mereka buat semalam di taman. Lucas merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dalam dirinya. Perasaan yang jauh lebih kuat dari euforia saat memenangkan pertarungan terberat sekalipun. Karena menyaksikan kebahagiaan Diana ternyata jauh lebih membahagiakan baginya.

Setelah upacara selesai, Diana berjalan menghampiri Lucas yang sudah menunggunya di dekat pintu aula. Tanpa ragu, ia langsung memeluk Lucas erat. Sebuah tindakan spontan yang mengejutkan Lucas namun juga membuatnya merasa sangat nyaman.

"Aku berhasil," bisik Diana dengan suara bergetar. Ia penuh rasa haru dan bangga, menenggelamkan wajahnya di bahu Lucas. Lucas pun membalas pelukannya, mengusap lembut punggung Diana. Ia berbisik balik, "Aku tahu kamu bisa," ucapnya dengan nada yang lembut dan tulus. Sebuah kalimat sederhana namun mengandung seluruh dukungan dan kebanggaannya terhadap gadis itu. Ini sekaligus mengakhiri babak penting dalam kehidupan mereka di akademi.

Sore harinya, gerbang utama akademi yang kokoh terbuka lebar. Sebuah kereta kuda mewah berhias ukiran naga perak telah menanti di sana. Kereta itu siap membawa Diana menuju Sekte Pedang Berbunga, tempat petualangan barunya akan dimulai.

Lucas berdiri di antara para pengajar dan beberapa teman yang lain. Matanya tidak lepas dari Diana yang melangkah masuk ke dalam kereta. Ia merasakan sedikit sesak di dadanya. Sebuah perasaan aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya setiap kali berpisah dengan seseorang. Ia mengangkat tangannya untuk melambaikan perpisahan. Diana membalas lambaiannya dari dalam kereta, guratan senyumnya seolah mengucapkan janji bahwa mereka pasti akan segera bertemu kembali.

Kereta kuda itu perlahan bergerak, menjauh dari gerbang akademi. Ia membawa pergi Diana bersama segala kenangan dan janji yang telah terukir di hati Lucas. Lucas masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap ke arah jalan setapak yang kini kosong. Seolah berharap Diana akan kembali muncul entah dari mana. Ada kekosongan yang terasa di hatinya. Seperti sebuah bagian penting dari dirinya telah ikut pergi bersama gadis itu. Ia menyadari betapa besar pengaruh Diana dalam hidupnya, melebihi sekadar rival latihan.

Niama menghampiri Lucas, menepuk pundaknya pelan. "Dia akan baik-baik saja, Lucas, lagipula kau kan sudah berjanji akan menyusulnya," ujarnya dengan nada menghibur. Ia mencoba membangkitkan semangat Lucas yang terlihat sendu. Lucas menoleh, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Tentu saja," jawabnya dengan keyakinan yang terpancar di matanya. Karena ia tahu bahwa kepergian Diana bukanlah akhir. Melainkan awal dari petualangan baru yang akan ia tempuh demi memenuhi janjinya.

Malam harinya, ketika Lucas sedang terlelap dalam tidurnya yang pulas, tiba-tiba ia terbangun. Jeritan pilu memekakkan telinga terdengar dari kejauhan. Kobaran api memantul di jendela kamarnya. Ia segera bangkit dengan perasaan tidak tenang. Karena jelas sekali itu bukan suara latihan biasa melainkan tanda bahaya yang mengerikan.

Jantungnya berdebar kencang saat ia melangkah keluar kamar. Pemandangan di koridor membuatnya terkesiap. Beberapa rekannya terkapar di lantai dengan luka mengerikan. Api melahap bagian-bagian akademi, menciptakan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia segera menyambar pisaunya yang selalu ia simpan di dekat bantal. Naluri pembunuh bayarannya langsung mengambil alih. Membuatnya siap menghadapi ancaman apa pun yang datang.

Lucas melesat cepat menuju aula utama. Di sana suara keributan terdengar paling jelas. Ia melihat Master Loe dan Niama berjuang mati-matian. Mereka melawan sekelompok penyerang bertopeng yang bergerak lincah dan tanpa ampun. Penyerang itu melebihi kekuatan yang pernah mereka hadapi.

Master Loe, dengan jenggotnya yang berantakan dan napas terengah-engah, masih mencoba melindungi para junior yang tersisa. Niama, yang biasanya ceria, kini terlihat pucat dan kewalahan. Ia menghadapi rentetan serangan api gelap dari salah satu musuh yang tangguh. Ini memperlihatkan betapa berbahayanya situasi saat itu. Lucas merasakan kemarahan yang membuncah di dadanya melihat rekan-rekannya terdesak. Sebuah emosi yang jarang ia rasakan. Ia tahu ia harus segera bertindak untuk membantu mereka.

Dengan kecepatan yang tak terlihat, Lucas bergerak menembus barisan musuh. Ia menyerang dari bayangan dengan presisi mematikan. Ia menjatuhkan beberapa penyerang sebelum mereka menyadari kehadirannya. Lucas mendengar teriakan terkejut dari musuh-musuh itu saat pisau Lucas mengenai target mereka. Ia melesat ke sisi Niama, menangkis serangan api yang datang. Ia berbisik cepat, "Mundur Niama, lindungi yang lain," perintahnya dengan nada serius yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Niama menatap Lucas dengan sorot mata lega dan mengangguk patuh. Ia merasa sedikit lega karena bantuan telah datang. Lucas kini berdiri di garis depan, siap menghadapi sisa penyerang dengan seluruh kekuatannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!