Langit sore itu tampak mendung, seolah ikut mencerminkan suasana hati Alya. Gadis berusia 23 tahun itu duduk di salah satu bangku taman kampus, dengan laptop menyala di depannya dan wajah yang terlihat lelah. Sudah berbulan-bulan ia berkutat dengan skripsi, dan tetap saja, dosen pembimbingnya tak kunjung memberi tanda selesai.
"Revisi lagi?" tanya Nia, sahabatnya, yang duduk di samping sambil menyeruput kopi.
Alya mengangguk lesu. “Iya. Katanya, ‘kalimat ini terlalu lemah. Argumenmu harus lebih tajam.’ Aku bahkan nggak ngerti lagi apa yang harus diubah.”
“Pak Reihan memang perfeksionis sih,” ujar Nia, menghela napas. “Tapi dia ganteng, jadi masih bisa dimaafkan.”
Alya menoleh dan menatap Nia tajam. “Dia memang ganteng. Tapi menyebalkan juga. Mana sikapnya dingin kayak kulkas dua pintu amit-amit lah.”
Nia tertawa, tapi Alya hanya menghela napas. Ia tahu Pak Reihan bukan tipe dosen yang bisa diajak kompromi. Usianya baru 32 tahun, tapi sudah menyandang gelar doktor dan menjadi dosen favorit—bukan hanya karena wajahnya, tapi juga karena kecerdasannya yang luar biasa. Sayangnya, sikapnya yang kaku membuat banyak mahasiswa ketar-ketir.
“Btw, udah ada kabar dari Mama kamu?” tanya Nia, mengubah topik.
Alya mengangguk pelan. “Mereka masih terus maksa aku buat nikah. Katanya ada calon yang cocok, anak teman ayahku. Aku bahkan belum pernah ketemu orangnya.”
“Astaga. Zaman sekarang masih dijodohin?” Nia menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya, keluargaku nggak terlalu modern. Katanya, perempuan kalau kelamaan sekolah malah nggak laku.” Alya menatap langit mendung yang mulai menggelap.
“Aku capek, Nia. Kalau bisa, aku pengen kabur aja.”
Tak lama kemudian, ponsel Alya bergetar. Sebuah pesan masuk dari dosen pembimbingnya.
Ting.. satu buah pesan masuk dari hp nya Alya
Pak reihan
> Datang ke ruanganku sekarang. Kita perlu bicara.
Alya meneguk ludah. “Kayaknya dosen pembimbingku pengen marah lagi deh.”
“Semangat, ya,” ujar Nia, memeluknya sebentar.
“Semoga bukan revisi yang ke-38.”
---
Gedung F, lantai tiga. Ruangan Reihan Alfarezi. Alya berdiri di depan pintu dengan jantung berdegup kencang. Ia mengetuk pelan.
“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam.
Alya mendorong pintu dan melangkah masuk. Reihan duduk di balik meja kayu besar, mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu. Wajahnya seperti biasa, datar dan tenang.
"Kamu mau berdiri disana"
“Duduk.”
Alya menurut, duduk dengan gugup. “Maaf, Pak. Kalau ada bagian revisi yang salah—”
Reihan mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
“Ini bukan soal skripsi.”
Alya terdiam, bingung.
"Terus apa pak"?
"Saya punya tawaran buat kamu"
"Tawaran apa pak" Tumben sekali dosen ini menawarkan sesuatu untuknya.
Reihan menatapnya tajam. “Saya tahu kamu sedang tertekan karena keluargamh memaksamu menikah.”
Jawabannya dengan santai.
Alya tercengang.
“Bapak tahu dari mana?”
“Saya punya mata dan telinga di kampus ini, dan kamu bukan tipe mahasiswa yang bisa menyembunyikan stres dengan baik,” jawab Reihan santai. “Lagi pula, Nia bicara terlalu keras di taman tadi.”
Alya memerah, malu. “Maaf, Pak.”
Reihan menghela napas, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Ia menatap ke luar sebentar sebelum akhirnya berkata,
“Kebetulan, saya juga dalam tekanan.”
Alya menatapnya, bingung. “Tekanan?”
“Keluarga saya ingin saya menikah. Dalam waktu dekat. Mereka mengancam akan menjodohkan saya dengan anak partner bisnis Ayah saya jika saya belum punya calon dalam sebulan.”
Alya menahan napas. Ini seperti cerita sinetron.
“Lalu... hubungannya dengan saya?” tanyanya pelan.
Reihan menoleh, menatapnya tajam. “Saya butuh istri. Kamu butuh waktu agar tidak terus didesak menikah. Kita bisa saling bantu.”
Alya membelalak. “Maksud Bapak... menikah?”
“Secara hukum, ya. Tapi ini hanya pernikahan kontrak. Enam bulan. Setelah itu kita cerai. Tidak ada ikatan emosional. Tidak ada kewajiban sebagai suami istri. Semua bersifat administratif.”
Alya tidak bisa berkata-kata. Oksigen seperti mendadak menghilang dari ruangan itu.
“Kenapa saya?” akhirnya ia bertanya.
“Karena kamu cukup cerdas untuk menjaga rahasia. Kamu punya alasan kuat untuk menikah, dan kamu tidak mungkin jatuh cinta pada saya.”
Alya ingin tertawa. Ia ingin mengatakan bahwa lelaki mana pun bisa membuat wanita jatuh cinta. Tapi ia terlalu syok untuk bereaksi lebih jauh.
Reihan melangkah kembali ke meja, mengambil sebuah map dan menyerahkannya.
“Ini draf perjanjian kontrak. Kamu boleh baca dulu, bawa pulang dan pikirkan. Aku butuh jawaban sebelum akhir minggu.”
Alya menatap map itu, lalu mengangguk perlahan.
“Satu hal lagi,” ujar Reihan sebelum ia pergi. “Jika kamu setuju, kita akan menikah secara hukum, bukan sekadar akting. Tapi pernikahan ini akan tetap rahasia dari semua orang, kecuali keluarga inti. Di kampus, hubungan kita tetap dosen dan mahasiswa.”
Alya berdiri dan membungkuk sedikit. “Saya... akan memikirkannya, Pak.”
"Permisi"
---
Malam itu, Alya tak bisa tidur. Ia membaca berulang kali isi kontrak yang diberikan Reihan. Isinya sangat rinci. Larangan jatuh cinta. Tidak ada kontak fisik kecuali diperlukan untuk kepura-puraan di hadapan keluarga. Biaya hidup akan ditanggung Reihan. Setelah enam bulan, mereka akan mengajukan cerai secara damai.
Di sisi lain, ia membayangkan wajah ayahnya yang mulai murung karena belum bisa menikahkan putri satu-satunya. Ibunya yang terus menelepon menanyakan pilihan jodoh. Dan tekanan batin yang semakin menyiksa tiap harinya.
Pernikahan kontrak memang gila. Tapi... apakah lebih gila daripada menikah dengan orang asing pilihan keluarga?
"Ahh....pusing gue lama-lama kyak gini"
Ting..
Nia
Gimana tadi yang diruangannya pak reihan, Lo ngga revisi lagi kan?
Aman gua ngga di suruh revisi kok
Trus ngapain tadi di panggil pak reihan
Aduhh jawab apa yaa... Masa gua bilang pak reihan ngajak nikah.
Ituu tadi pak reihan nanyain soal skripsiku
Ohhh kirainn revisi lagi, btw gimana soal perjodohan Lo Tante masih ngebet mau jodohin Lo?
Gua pusing mikirin itu besok aja di kampus gw ceritain
Okee gua tunggu yaa good night Alya cayangg
Aku menutup benda pipih itu meletakkannya di atas nakas samping tempat tidurku.Aku menatap ke arah langit-langit kamarku
"apa gua terima aja yaa tawarannya pak reihan, tapi masa gua harus nikah sama dosen gua sihh mana mukanya kyak es batu lagi ngga pernah senyum"
"Tapi kalo gua nikah sama pilihannya mama kan ngga lucu, gua belum mau nikahh"
"Gua terima aja kali yaa pak reihan nanti kalo udah enam bulan kami bisa ceria dan gua bisa nikmatin hidup gua lagi"
Alya membuka tas kuliahnya tadi, mengambil surat perjanjian itu sangat membacanya secara seksama. Dalam surat itu tertulis bahwa pihak Alya tidak akan dirugikan dan tidak ada kontak fisik di antara mereka nanti, tidak boleh ikut campur urusan masing-masing dan setelah enam bulan pernikahan mereka bisa berpisah.
Tanpa pikir panjang Alya langsung menandatangani surat itu.
"Ngga ada pilihan lagi"
Pagi itu Alya bangun sedikit siang karena dia akan ke kampus jam sembilan nanti.Dia hanya tinggal sendiri dikosannya memilih untuk tinggal sendiri katanya biar lebih dekat ke kampus dan lebih mandiri padahal rumah orang tuanya juga tidak terlalu jauh dari kampusnya.
Alya segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, mengoleskan sedikit bedak dan lipstik agar tidak kelihatan terlalu pucat. Pagi ini dia tidak sarapan karena dia telah mempunyai janji dengan Nia untuk bertemu dengannya di cafe seberang kampus.
Dia menatap map yang ada di atas nakas itu sejanak dia berpikir lagi "apa gua ngga salah Nerima ini" Alya memasukkan map itu kedalam tasnya nanti sebelum pulang dia akan menemui Reihan.
Drrrttt.....
Mama❤️
"Halo ada apa ma" sapanya dengan lesu setelah akhirnya menjawab telepon itu.
"Nanti malam kamu kosongkan waktumu yaa, calon kamu mau mama kenalin langsung, namanya Dika anak teman bisnis papamu. Dia baru datang dari Australia"
Alya mengatupkan rahangnya " Ma Alya belum mau menikah. Alya masih mau fokus sama skripsi-"
" Sudah cukup Itu Alya kamu sudah 23 tahun. Lulus juga belum, kerja juga belum. Mama cuma khawatir kamu terlalu fokus belajar sampai lupa sama masa depan kamu"
Alya trdiam. Ia tahu ibunya tidak jahat. Hanya saja generasi mereka tidak bisa melihat bahwa masa depan perempuan tidak selalu tentang pernikahan yang cepat.
"Ma.......aku sudah ada seseorang"
Hening sejenak di seberang sana.
"Apa" suara ibunya meninggi.
"Alya sudah dekat dengan seseorang. Kami sudah membicarakan soal.......... pernikahan"
"Apa? Siapa? Kok mama ngga tau. Kenapa kamu ngga pernah cerita dari dulu kan mama ngga perlu repor Carikan kamu jodoh"
Alya menatap map itu " nanti malam aku bawa dia kerumah "
Setelah telpon di tutup, tangannya gemetar. Ia baru saja membuat keputusan yang akan merubah hidupnya. Ia tahu ia tak bisa mundur. Hanya ada satu jalan menyetujui tawaran Dr. Reihan
\=\=\=\=
Di kampus Alya langsung mendatangi Nia yang sudah ada di cafe seberang kampus. Alya dan Nia sudah bersahabat sudah lama mulai mereka masih bersekolah di sekolah menengah pertama.
"Udah lama" tanya ku setelah duduk didepannya
" Ngga kok baru lagi"
"Kamu udah pesan makanan, aku belum sarapan, laper banget"
"Lu mau apa biar gw pesenin"
"Spaghetti aja deh sama minumnya lemon tea "
"Oke bentar yaa"
Tak berapa lama pesanan mereka sudah datang, Alya langsung memakannya karena dia memang sudah sangat lapar.
" Jadi gimana yang gw tanya tadi malam" tanya Nia. Dia masih penasaran tentang perjodohan yang dilakukan orang tuanya Alya.
" Bentar gw abisin dulu ini"
Setelah menghabiskan makannya dia langsung menatap ke arah Nia. Apa dia katakannya saja pada Nia tentang tawarannya pak reihan.
" Tadi pagi mama nelpon"
"Trus Tante putri bilang apa sama Lo"
"Mama bilang nanti malam, mama mau ngenalin cowok itu sama gua"
" Terus Lo mau"
"Yaa ngga lah, gua ngga mau sama tuh cowok kenal juga nggak"
" Kan kenalan dulu Alya, tapi ngga mungkin kan Tante putri menyetujui keputusan Lo"
" Yaa memang, tapi gua kan ngga mau nikah muda gua juga punya cita-cita "
"Nia Lo sahabat gua kan,"
"Lo kenapa sih kesambet Lo pagi pagi"
"Ada yang mau gua ceritain ke Lo " Alya menatap ke arah Nia dia ingin menceritakan tentang tawaran itu bagaimanapun dia butuh teman cerita.
"Tapi Lo jangan terkejut yaa.."
"Iya"
"Emm itu soal yang semalam gua yang dipanggil ke ruangannya Pak Reihan, sebenarnya pak Reihan ngga nanyain soal skripsi gua tapi....." Alya menggantungkan ucapnnya
" Tapi apa, cepetan gua penasaran"
"Pak Reihan ngajak gua nikah"
"APA......demi apa coba" Nia refleksi berteriak saking terkejutnya.
"Shuttt.... Kan gua udah bilang jangan teriak"
"Sorry sorry gua terkejut, tapi demi apa coba pak Reihan ngajak Lo nikah"
"Jadi gini ceritanya semalam waktu kita diyaman pak Reihan ngga sengaja dengar..........." Alya menceritakan kejadian semalam bagaiman Reihan tau jika dia tidak mau dijodohkan sampai Reihan yang tertekan karena desakan orang tuanya yang ingin dia cepat menikah dan soal Kontrak itu juga
"Jadi Lo terima" tanya Nia
"Yaaa mau gimana lagi, gua ngga mau nikah muda sama tuh cowok pilihan mama"
"Tapi gua dukung Lo"
\=\=\=\=\=
Alya berdiri ragu di depan ruang dosen.
Dengan tangan yang sedikit gemetar Ia mengetuk pintu ruangan itu.
"Permisi Pak"
“Masuk.”
Reihan berdiri, mengenakan batik biru gelap, rambutnya tertata rapi. Ia menatap Alya singkat,
"Ada apa"
"Emm..soal tawaran yang bapak tawarkan kemarin, apakah masih berlaku Pak"?
Reihan menatapnya sebentar sebelum kembali ke berkas yang ada diatas mejanya. Tapi sorot matanya sedikit melunak.
"Masih"
"Bagaimana, sudah kamu putuskan" lanjutnya
"Sudah pak"
"Lalu"
"Saya menerima tawaran bapak"
Sejenak Reihan menghentikan aktivitasnya kembali menatap ke arahnya.
"Kamu serius"
"Saya serius pak, tapi kita menikah nanti sesuai dengan perjanjian kontrak yang bapak kasih ke saya kemarin"
"Tenang saja setelah satu tahun kita menikah aku akan menceraikan mu dan kamu bisa kembali ke kehidupan mu lagi"
"Tapi saya mau pernikahan kita nanti dirahasiakan, saya tidak mau orang-orang mengetahuinya apalagi anak kampus pak"
"Tenang saja saya juga tidak mau orang-orang mengetahui pernikahan kita"
"Jadi apakah kamu sudah menandatangani kontraknya" tanya Reihan.
"Sudah pak" Alya mengeluarkan map yang berisi surat perjanjian itu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Reihan.
Reihan menerima map itu dan menyimpannya kedalam laci mejanya.
"Setelah menikah nanti saya akan kasih salinan surat ini"
"Jika tidak ada keperluan lagi kamu boleh pergi"
Alya masih duduk disana menggenggam tangannya yang sudah keringat dingin itu.
"Anu pak ada yang sesuatu yang ingin saya katakan"
Reihan mengangkat sebelah alisnya "Apa"
"Nanti malam apakah bapak punya waktu, mama saya ingin mengundang bapak untuk makan malam dirumah saya"
"Nanti saya usahakan, kamu kirim saja alamat rumahmu"
"Baik Pak, kalo begitu saya permisi"
Alya segera keluar dari ruangan itu, atmosfer didalamnya sangat berbeda padahal dia sudah biasa bimbingan dengan Reihan tapi kali ini sangat berbeda.
Alya langsung ke tempat parkiran mengambil motornya, malam ini dia akan pulang ke rumah orang tuanya, sesuai dengan janjinya dengan mama nya tadi pagi.
Sesampainya disana dia membuka pagar
Memasukkan motornya kedalam bagasi.
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam tumben lo pulang ke rumah" jawab Devan yang masih fokus pada gamenya, dia Devano putra Pratama adik nya Alya, mereka hanya beda tiga tahun dan sekarang Devan sedang kuliah juga semester tiga tapi dikampus yang berbeda dengan Alya
Setelah sedikit obrolan dengan adiknya Devan, Alya bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Perlahan dia membuka kamarnya, suasananya masih sama dan bersih. Alya segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah itu mengambil baju santai lalu turun kebawah.
" Mama darimana" tanyaku ketika melihat mama yang sudah berkutak di dapur.
" Mama tadi ke supermarket bentar, beli bahan makanan buat nanti malam" jelas sang mama.
"Emangnya nanti malam mau ada acara apa ma"
" Kan nanti malam calon suami Lo bakal datang" bukan mama yang menjawab tapi Devan yang kebetulan ke dapur untuk minum.
"Calon Suami"
" Jadikan calon mu itu datang malam ini, atau belum kamu kabari" tanya mama
Ya ampun aku hampir lupa soal itu. Kan tujuanku pulang tadi buat makan malam.
" Ohhh... Jadi dong ma"
" Papa kapan pulang ma"
" Paling bentar lagi pulang"
"Tuh mobilnya udah nyampe"
Aku segera ke ruang tamu disana ada Devan yang masih main game daritadi apa dia tidak capek main game terus.
"Papa" sambutku langsung mencium punggung tangannya
" Tumben pa, cepat pulang"
" Tadi pagi mama kamu suruh papa cepat pulang katanya calon menantu papa mau datang"
Aku hanya tersenyum mendengarnya, melihat mama dan papa yang begitu bersemangat membuatku jadi semakin sedih. Bagaimana jika nanti semuanya terungkap?
\=\=\=\=
Malam harinya,Suasana rumah Alya sore itu berbeda dari biasanya. Dinding ruang makan yang sederhana tampak lebih bersih, taplak meja diganti, dan ibu Alya sibuk di dapur menyiapkan ayam bakar madu kesukaan ayahnya. Hari itu adalah malam pertama Reihan akan makan malam bersama keluarga Alya sebagai menantu resmi.
Alya berdiri di depan cermin kamar, mengenakan blouse putih dan celana panjang warna krem, wajahnya sedikit gelisah.
“Kamu yakin dia bisa menyesuaikan diri?” tanya Nia lewat telepon.
“Nggak yakin sih, tapi dia janji datang tepat waktu. Dan... kamu tahu sendiri, Pak Reihan itu nggak pernah telat,” jawab Alya sambil menatap bayangannya sendiri.
“Dia udah tahu aturan rumah kamu kan? Nggak boleh banyak diem, harus ikut ngobrol.”
Alya menahan tawa. “Dia itu lambangnya keheningan, Nia. Kalau bisa ngobrol lebih dari lima kalimat, aku bakalan anggap itu keajaiban"
" Udah dulu yaa gua rasa dia udah datang"
Setelah menutup teleponnya,Alya segera berlari ke depan. Reihan berdiri di luar pagar, tampak sopan dan rapi dalam kemeja navy dan celana abu-abu. Tangannya membawa dua kotak kecil—oleh-oleh.
“Ini untuk ayah sama ibu kamu,” katanya singkat saat Alya membukakan pintu.
“Terima kasih. Tapi jangan terlalu formal, mereka bukan orang yang suka basa-basi.”
“Noted.”
Di dalam rumah, ayah Alya, Pratama, sudah duduk di sofa ruang tamu dengan koran di pangkuan, sementara ibu Alya putri saraswati masih sibuk di dapur. Saat Reihan masuk, ayah Alya menoleh singkat.
"Pah, ini Mas Reihan, mas Reihan ini papa aku" ucapku memperkenalkannya pada papa aku merasa sedikit geli saat memanggilnya dengan sebutan mas tapi tidak mungkin juga aku memanggilnya dengan bapak.
" Halo om " sapa Reihan sambil menjabat tangan calon mertuanya itu
" Ya ampun menantu mama udah datang, kita makan dulu yuk mama udah masakin masakan yang spesial untuk calon menantu mama."
" Ayok pah, Alya panggilin Devan juga ya dikamarnya"
"Iya ma"
Setelah memanggil Devan Alya langsung pergi kemeja makan di ikuti dengan Devan
" Jadi kamu seorang Dosen" tanya Pratama
" Iya om saya Dosen di kampusnya Alya sekaligus Dosen pembimbingnya." Jelas Reihan
" Tinggal dimana, gajinya berapa, umur berapa, dekat sama kak Alya dari kapan" kali ini Devan yang ngomong sementara Alya dan ibunya menata makan.
Reihan menatap ke arah Devan sambil tersenyum singkat.
" Saat ini saya tinggal sendiri di apartemen dekat kampus saya mengajar, untuk gajinya mungkin tak seberapa tapi saya juga saat ini sedang memimpin perusahaan papa saya."
"Untuk umur, saya masih 32 tahun" Reihan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan terakhirnya
" Jadi kamu juga seorang CEO ya nak Reihan" tanya mama putri
" Bisa dibilang begitu Tante"
"Alya ambilin nasi buat calon suami kamu"
"Ih mama kan mas Reihan bisa sendiri"
"Saya bisa sendiri kok Tante"
Alya langsung mengambil piringnya Reihan, dan mengambilkan nasi untuknya
"Segini cukup mas"
"Cukup"
" Lauknya mau di ambilin yang mana mas"
" Trserah kamu saja"
"Ngga alergi seafood kan mas"
"Tidak"
Setelah makan malam yang singkat kini mereka semua ada di ruang keluarga termasuk Devan.
" Jadi kapan rencana kalian akan menikah?"
Tanya Pratama
"Rencananya satu Minggu lagi om"
Uhuk....
Alya hampir kesedak air liurnya sendiri. Dia menatap ke arah Reihan begitu juga sebaliknya.
"Kamu kenapa Alya kaget" tanya putri
"Ohh ngga kok ma kita udah bicarakan ini sebelumnya. Iya kan mas"
"Iya Tante "
Tapi nyatanya tidak Alya saja heran mengapa dosennya ini tidak memberitahunya apa apa.
Malam semakin larut. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Reihan izin pamit pulang.
"Alya antarkan nak Reihan kedepan,"
"Iya pah"
"Ayo mas"
Setelah pamit pulang, Reihan beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan Alya dibelakangnya.
"Bapak kok ngga ngomonh apa sama saya"
Reihan menghentikan langkahnya sejenak menatap ke arah Alya yang menatapnya dengan muka cemberut.
"Bukannya lebih cepat lebih baik"
" Orang tua saya juga ingin pernikahan ini segera diadakan"
" Yaa tapi kan bapak ngga bisa ngambil keputusan sepihak begitu aja"
" Besok kita bicarakan lagi, say tunggu kamu diruangan saya"
Alya hanyaa malemutar mata malas, belum apa-apa Dosennya ini sudah sangat menjengkelkan
"Kalo begitu saya pulang dulu" pamit Reihan
" Ohh iya pak. Hati-hati dijalan"
" Hm"
Reihan menatap Alya satu detik lebih lama sebelum berbalik ke mobil.
Setelah mobil Reihan menghilang di ujung jalan, Alya masih berdiri diam di depan pagar rumah.
“Masuk, Alya,” panggil ibunya dari dalam rumah.
Dengan langkah pelan, Alya kembali ke dalam. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahan di balik senyuman singkat pada ibu dan ayahnya yang masih membereskan gelas dan piring di meja makan.
“Mama suka anak itu,” kata ibunya tiba-tiba.
Alya mengerutkan dahi. “Siapa?”
“Nak Reihan. Dosenmu itu. Kalem, pintar, sopan, dan jelas punya masa depan.”
Alya tersenyum paksa. “Mama, bisa aja.”
Alya segera naik keatas ke kamarnya
Begitu pintu kamar tertutup, senyum palsunya lenyap. menatap langit-langit dengan dada sesak.
Menikah kontrak...
Kata-kata itu terus berputar dalam kepalanya. Ia tidak bodoh.
Bagaimana jika perasaan ikut terlibat? Bagaimana jika semuanya berubah? Bagaimana jika kebohongan itu menjadi bumerang?
Alya mendesah keras dan melempar tubuhnya ke kasur.
Ahhh bodo amat yang penting dia bisa terhindar dari perjodohan konyol yang mamanya buat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!