Malam itu terasa sangat gelap dan sangat dingin dimana pada malam itu juga aku terpaksa keluar dari rumah.
Tujuanku keluar cuma satu yaitu cari sesuatu yang bisa aku makan di minimarket yang mungkin saja masih buka.
Namun ketika aku melewati jalan yang sepi dan gelap aku mendengar sesuatu yang mencurigakan yaitu suara seseorang yang terengah-engah.
Aku curiga ada yang sedang berbuat hal-hal yang tidak senonoh di tempatku berada saat itu.
Tanpa pikir panjang aku langsung melihat secara untuk memastikan apa yang sebenarnya aku dengar.
Di celah sempit antara dua gedung aku melihat ada seorang perempuan sedang duduk dan menunduk di sana dan dia juga adalah sumber suara yang aku dengar.
"Kamu tidak apa-apa?..." Aku bertanya sambil masuk untuk memeriksa orang yang aku lihat.
Ketika aku sudah semakin dekat tiba-tiba saja orang itu bangun dan melompat ke arahku hingga aku yang terkejut langsung tersungkur.
Aku terkejut dan panik tapi sebelum aku bisa melakukan apa-apa tiba-tiba saja orang itu menundukkan kepalanya kemudian menggigit leherku.
"Ahhh!!" Aku berteriak karena leherku di gigit dan berusaha mendorong orang yang menindihku itu.
Akhirnya aku bisa melepaskan diri darinya dan segera menyentuh leherku yang sudah berdarah.
"... Kamu ini apa-apaan mengigit leher orang, kamu vampir ya!?..." Ketika itu aku terkejut lagi dan terdiam ketika melihat siapa yang barusan menggigitku.
Ia adalah seorang gadis yang sangat cantik dengan bibir yang meneteskan darah yang mana darah itu tentu saja adalah milikku.
Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah orang ini tampaknya aku kenal...
Setelah di ingat-ingat akhirnya aku ingat dia siapa. "Kamu... Ketua Kelas?!" Ya, orang ini tidak lain dan tidak bukan adalah Ketua Kelas di sekolahku.
Aku semakin bingung dengan apa yang sebenarnya di sini, tapi sebelum itu kita akan kembali ke beberapa hari yang lalu ketika aku baru masuk SMA.
Hari itu adalah hari yang cerah dan damai dimana tidak ada satupun yang menggangguku.
Tempat dudukku adalah di pojok paling belakang dekat dengan jendela.
Kenapa aku memilih duduk di sana?...
Tidak, bukan karena aku ini wibu atau orang yang sok misterius, aku hanya tidak terlalu suka jadi pusat perhatian saja.
Aku lebih suka sendiri seperti itu dan tidak ada yang memerhatikanku.
Ngomong-ngomong kelas yang aku masuki ini adalah kelas dari anak-anak orang kaya dan pejabat, sedangkan aku hanya orang biasa dari keluarga biasa.
Meksipun begitu kelas ini cukup normal menurutku.
"Nama kamu siapa!?" Tiba-tiba datang seorang cewek yang sangat cantik jelita dan di anggap yang tercantik di sekolah ini.
Ia juga adalah ketua kelasku saat ini.
"Dimas!" Aku menjawab singkat tanpa memberitahu keseluruhan namaku karena aku pikir itu tidak begitu penting juga.
"Dimas ya... Ngomong-ngomong aku mencalonkan diri jadi ketua kelas dan semua orang sudah setuju jadi kalau kamu setuju juga aku akan jadi ketua kelas!".
"Jadi apa kamu setuju!?" Alis mataku terangkat sebelah.
Dalam hati aku bergumam 'Apa penting ya aku di tanyai seperti itu?...'
"Yah, aku tidak keberatan!" Aku menjawab dengan nada datar dan acuh.
Bukannya aku sombong atau bagiamana karena bersikap seperti itu, hanya saja tidak mau mencari perkara saja.
Orang secantik ini kalau aku ajak bicara kedepannya pasti akan membawa masalah seperti orang yang cemburu padahal dia ngirim surat saja tidak di tanggapi.
".... Kamu terlihat tidak suka aku. Apa aku pernah buat salah sebelumnya?!" Ketika dia bertanya satu kelas langsung memperhatikan aku.
Aku panik dan menjawab dengan hati-hati. "Tidak, aku memang seperti ini sejak dulu. Aku jarang tersenyum meskipun untuk basa-basi!".
Ia mengangguk kemudian pergi dari hadapanku.
'Haahhh... Semoga saja ini tidak jadi masalah kedepannya, aku tidak mau dapat masalah selama sekolah.'
Ngomong-ngomong... Aku jarang tersenyum itu bukan kebohongan yang aku ucapkan ketika aku panik tapi itu adalah kebenaran.
Alasannya ada pada orang tuaku.
Sejak kecil ibuku kabur dengan pria lain karena setahuku dia itu suka menjual diri demi uang yang tidak seberapa.
Dan bapakku juga sangat tidak beres, dia adalah penjudi dan pemabuk yang hidupnya sekarang tidak aku ketahui lagi.
Dan aku sendiri sekarang ini tinggal dengan nenekku beberapa bulan yang lalu tapi ia sekarang sudah meninggal.
Sekarang aku hidup seorang diri.
Siang hari kemudian aku pulang dari sekolah itu kemudian pergi ke tempat dimana aku bekerja yaitu aku menjadi tukang bersih-bersih di sebuah kantor.
Kantor ini sangat besar yang mana kantor sebesar ini hanya satu dari sekian banyaknya kantor yang di miliki bos kami.
Entah berapa kaya dia aku tidak tahu.
Setibanya di sana aku langsung absen dan langsung bekerja sebagaimana mestinya.
Pekerjaan ini cukup menguntungkan karena gajinya besar, tapi yah kadang-kadang ada saja orang rese yang dengan sengaja ngotorin tempat hingga aku harus membersihkannya.
Atau ada karyawan rese yang biasa mengolok-olok kami para tukang bersih-bersih seakan mereka punya jabatan tinggi saja.
Siang pun berganti sore dan sore berganti malam.
Setelah sholat isya aku lanjut bekerja ketika semua orang sudah mulai pada pulang.
Banyak sekali yang aku harus bereskan seperti kertas-kertas yang berserakan.
Setelah itu aku membuang semua sampah yang ada di kantor ini yang mana ketika aku kembali lagi ke dalam untuk mengambil sampah lain aku melihat si Ketua Kelas berjalan bersama dengan seseorang di sampingnya.
Orang itu tidak lain adalah bos kami yaitu CEO perusahan.
Aku diam di pinggir menunggunya lewat tanpa mengatakan apa-apa.
Mereka pun lewat begitu saja dan tampaknya si Ketua Kelas juga sudah tidak ingat padaku lagi hingga melirik pun tidak.
Lanjut aku bekerja tapi ketika aku pergi ternyata si Ketua Kelas melirikku diam-diam tanpa aku sadari sama sekali.
Jam 10 malam aku baru pulang setelah pekerjaan di kantor itu selesai.
Rumahku cukup jauh dari tempatku bekerja dan butuh waktu sekitar 15 menitan untuk sampai di sana.
Sebenernya aku bisa saja naik ojek tapi aku lebih suka jalan sendiri karena lebih hemat.
Singkat cerita aku tiba di rumah yang mana di kondisi rumah sangat gelap... Ya jelas lah gelap, karena aku kan tinggal sendiri.
Setelah tiba aku langsung mandi kemudian tidur hingga esok paginya aku terbangun ketika adzan sudah berkumandang.
"Alhamdulillah, aku masih bisa bangun pagi ini. Terima kasih ya Allah!" Setelah itu aku mengambil air wudhu dan pergi ke masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari rumahku.
Beres sholat berjamaah di masjid aku pulang dan bersiap-siap pergi ke sekolah dan hari-hari seperti itu berlangsung sama.
Hingga beberapa hari kemudian aku lupa membeli stok makanan.
Alhasil tidak ada apa-apa yang bisa aku makan di rumah. "Hadeh. Bisa-bisanya aku lupa beli makanan!".
Waktu itu hampir tengah malam jadi aku ragu ada yang buka di jam segini tapi karena aku batuh makan aku pun terpaksa keluar untuk mencari makan.
Namun ketika aku melewati jalan yang sepi dan gelap aku malah bertemu dengan si Ketua Kelas yang sekonyong-konyong mengigit leher ku.
Itu sakit sekali sumpah!.
"Apa-apa ini? Kamu menggigit leherku? Kamu ini vampir atau apa!?" Aku berkata sambil mengusap-usap leherku yang dia gigit.
"Ugh. Mana darahnya banyak sekali yang keluar, kamu mau membuat aku mati kehabisan darah ya!?".
Di sisi lain aku melihat si Ketua Kelas panik dan berkata. "Ma... Maaf, aku gak sengaja gigit kamu tadi!".
Aku tak habis pikir dan itu terpancar jelas dari wajahku.
"Kalau tidak sengaja menabrak orang ya oke lah aku percaya. Tapi bagiamana bisa tidak sengaja mengigit orang?!".
Si Ketua Kelas terlihat kebingungan. "Itu... Aku, aku, aku... Aku benar-benar tidak sengaja tadi karena aku terpaksa, aku tidak tahan lagi!".
Aku makin bingung dengan apa yang di katakan cewek satu ini.
"Bisa tidak jelaskan yang benar, aku bingung ini!".
Kemudian ia berkata dan sepertinya ia jujur... Tapi kejujurannya itu sangat tidak bisa aku percaya. "Sebenarnya aku ini vampir jadi aku perlu minum darah!".
Aku memasang wajah yang heran dan kehabisan kata-kata yang bisa aku ucapkan hingga aku hanya bisa bergumam dalam hati. 'Sakit jiwa ini anak.'
Setelah itu ia menjelaskan hal-hal yang lebih tidak masuk akal seperti dia yang sangat kehausan dan merasa sangat sesak.
Itu jelas tidak bisa aku percaya.
Beberapa saat kemudian aku ada di puskesmas untuk mengobati bekas gigitan di leherku ini yang mana itu membuat perawat yang ada di sana geleng-geleng kepala kenapa ada bekas gigitan di leherku.
Mana di sana ada si ketua kelas lagi, jadi si perawat ini menyangka kalau kami telah berbuat yang tidak-tidak.
Padahal aku ini sangat menjauhi hal-hal semacam itu sampai menolak untuk pacaran agar aku tidak terjerumus pada perzinahan.
"Sudah selesai. Tapi setelah beberapa waktu kamu harus mengganti perban ini ya!" Ia memberikan perban lain dan juga obat-obatan padaku.
Tentu saja yang bayar semua itu adalah si Ketua Kelas sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas apa yang telah ia perbuat padaku.
"Haahh... Rusak sudah reputasiku, perawat itu pasti memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kita!" Si Ketua Kelas tampak heran.
"Lah? Harusnya kan aku yang bilang begitu, kan aku yang perempuan di sini!" Aku seketika geram tapi tidak punya cukup mood untuk membalas.
Apalagi aku juga tidak punya cukup tenaga karena lupa makan.
"Terserah kamu saja lah!" Langkahku aku percepat karena takut sudah tidak ada lagi warung atau toko yang buka.
Yang membuatku heran adalah si Ketua Kelas masih mengikutiku dari belakang seperti orang kurang kerjaan saja.
Aku tak mau tanya di sini, aku hanya berjalan tanpa memperdulikan dia.
Anggap saja dia itu bayangan atau apapun yang tidak pernah aku perdulikan atau perhatikan.
Akhirnya setelah berjalan cukup lama aku menemukan sebuah toko yang masih buka tapi hampir saja tutup.
Aku membeli beberapa mie instan, beras dan beberapa hal lainnya yang ada di sana.
Singkat cerita setelah belanja aku pun pulang dan... Si Ketua Kelas masih saja mengikutiku bahkan hingga sampai ke rumah.
Karena ini sudah keterlaluan aku pun bicara. "Nona, apa yang anda mau sebenarnya hingga mengikutiku ke rumah seperti ini?!".
Dengan penuh kelembutan aku bertanya meksipun di dalam hati aku sangat kesal dan jengkel karena di ikuti sedari tadi.
"Itu... Aku cuma mau bilang...!" Ia terlihat malu dan ragu-ragu mengatakannya.
"Biasanya aku selalu minum darah dalam kemasan jadi tidak ada yang tahu kalau aku vampir kecuali orang tuaku!" Aku makin bingung di sini.
"Darah dalam kemasan?... Seumur-umur aku hidup belum pernah denger ada darah dalam kemasan, itu terdengar seperti kamu minum minuman dalam kemasan saja!".
"Ya, mana aku tahu. Semua itu selalu di siapkan oleh orangtuaku selama ini jadi bahkan rasanya darah segar aku tidak pernah tahu!".
Aku pun bertanya. "Lalu darah dalam kemasan yang kamu sebutkan itu bagaimana rasanya!?".
"Itu... Sepertinya agak asam seperti strawberry!" Yah, fiks ini orang sakit jiwa.
'So soan jadi vampir padahal rasa darah saja tidak tahu... Bahkan aku ragu cewek ini pernah lihat darah.'
'Mungkin di matanya selama bentuknya cair dan merah maka itu darah.'
"Haahh... Jadi apa yang ingin kamu katakan dengan mengatakan semua ini?".
Ia pun menjawab dengan jawaban yang tidak pernah aku sangka-sangka.
"Sebenarnya aku tadi merasa kalau darah kamu tidak enak jadi... Jadi aku menduga kalau kamu punya penyakit yang membuat darah kamu tidak enak, rasanya amis dan berbau seperti besi!" Aku makin tak habis pikir dengan orang ini.
Dan itu semua terlihat jelas di wajahku.
Aku ingin mengumpat tapi aku tidak bisa berkata-kata pada saat ini.
"Tapi meksipun tidak enak tapi kamu tadi telah menolong aku, jadi aku akan membantu kamu sebagai balas budi dariku!" Lagi dan lagi aku di buat terdiam olehnya.
"Jadi ayo kita pergi ke dokter dan lakukan tes kesehatan darah dan kalau ada masalah biar aku yang akan tanggung biayanya...!" Muak dengan omong kosong yang tidak masuk akal ini aku langsung baik badan dan masuk.
Pintu aku tutup rapat-rapat dengan si Ketua Kelas yang masih diam di sana.
"Eh!?..." Ia tampak terkejut karena aku abaikan tadi.
Entah apa yang dia lakukan setelah itu tapi aku langsung pergi memasak untuk mengisi kembali tenaga.
Tapi kemudian tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat derasnya.
"... Apa si Ketua Kelas sudah pulang ya?..." Sebenarnya aku tidak mau peduli tapi kalau di pikir-pikir kasihan juga kalau dia pulang hujan-hujanan.
Aku pun melihat keluar mana tahu dia masih di sana... "Dia beneran masih diam di sana dong!" Si Ketua Kelas benar-benar tak bergerak dari tempatnya berdiri.
Aku langsung keluar dan menariknya masuk ke dalam rumah kemudian berkata. 'Kamu ini adalah masalah apa sebenarnya? Kenapa malah berdiri diam di sana dan tidak pulang?!".
"Yah... Sebenarnya aku agak lupa jalan pulang karena baru kali ini aku blusukan ke tempat-tempat seperti ini!" Ia bicara sambil tertawa kering.
Haahh... Sudah terbiasa sekali aku kehabisan kata-kata untuk orang sakit jiwa ini.
Pada akhirnya aku terpaksa menggeledah lemari nenekku untuk mencari apa ada baju yang bisa dia pakai untuk malam ini.
Untungnya aku menemukan satu set pakaian yang terbilang sangat cocok untuk anak muda meksipun sudah agak tua.
Segera aku memberikannya pada si Ketua Kelas. "Ambil baju ini dan pergi mandi... !" Namun ia hanya diam di tempat.
Ketika itu aku berpikir... 'Jangan bilang anak orang kaya ini gak pernah mandi sendiri jadi gak bisa mandi.'
"Um... Makasih, aku akan membalas budi ini berkali-kali lipat nanti!" Setelah itu dia pun pergi untuk mandi.
Aku sendiri langsung pergi ke dapur untuk lanjut masak dan kali ini porsi makannya tentu saja bertambah untuk satu orang.
Waktu itu aku sempat berpikir. "Eh... Apa anak orang kaya ini terbiasa makan mie instan enggak ya?...".
Tak mau banyak mikir aku masak saja dua-duanya dan masa bodo dia mau makan atau tidak.
Beberapa saat kemudian kami pun makan di meja yang mana seperti yang aku pikirkan tentang si Ketua Kelas yang tidak terbiasa dengan mie instan.
Ia terlihat kebingungan pada saat ini.
"... Ini apa? Kok mirip spaghetti tapi kayak beda sekali!" Dia malah mengangkat mie itu untuk di amati dan bukanya di makan.
"Itu namanya Mie instan dan itu adalah makanan murahan jadi jangan samakan dengan spaghetti atau apalah yang sering kamu makan itu!" Aku pun makan duluan.
Si Ketua Kelas terlihat memperhatikan aku makan baru kemudian ia mengikuti aku makan.
Singkat cerita setelah makan aku membereskan lagi kamar nenekku untuk di tempati si Ketua Kelas malam ini.
Untungnya ia tidak protes tentang kamarnya yang sederhana jadi itu sangat membantu.
Kami pun tidur dan karena semalam aku tidur terlalu larut dan kecapean menghadapi omong kosong gak masuk akal si Ketua Kelas aku hampir saja kesiangan.
"Hah!? Aku kesiangan!" Buru-buru aku mengambil wudhu mumpung masih ada cukup waktu bagiku menunaikan shalat subuh.
Beberapa menit kemudian matahari terbit yang mana pada waktu itu aku sempat berolahraga pagi karena ini hari Minggu juga jadi tidak perlu ke sekolah.
Jam tujuh pagi aku selesai dan balik lagi ke rumah yang mana ketika itu aku melihat si Ketua Kelas sedang berdiri di depan pintu menungguku.
"Kamu sudah pulang!" Ia berbicara padaku sambil tersenyum...
Jujur senyumannya itu memang sangat manis hingga bisa membuat banyak laki-laki terpana olehnya.
"Ayo segera siap-siap, aku akan mengantarkan kamu untuk pulang!" Aku mendekat padanya dan kemudian masuk ke dalam.
Si Ketua Kelas pun bertanya padaku. "Apa kamu tahu dimana rumahku?" Aku menjawab sambil menoleh.
"Tidak. Tapi aku tahu dimana tempat usaha orang tua kamu jadi aku akan bawa kamu ke sana agar orang-orang di sana yang mengantar kamu!" Lanjut aku masuk ke dalam untuk ganti baju.
Beberapa saat kemudian aku dan si Ketua Kelas jalan berdua menuju kantor tempat aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih.
'Kemarin aku lihat dia ada di kantor itu dengan si pak bos jadi aku rasa dia ada hubungannya dengan si pak bos.'
Itulah yang aku pikirkan pada saat itu.
Namun tiba-tiba suara langkah kaki yang ada di sampingku hilang dan itu langsung membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke samping. "Hm?...".
Orang yang jalan di sampingku tidak ada dan ketika aku menoleh ke belakang si Ketua Kelas malah berdiri diam di bawah bayang-bayang sebuah gedung dengan wajah yang takut.
"Kamu kenapa lagi?" Sambil menghela nafas aku bertanya kemudian melangkah mendekatinya.
"Aku... Aku takut sinar matahari, kalau aku terkena sinar matahari dalam waktu lama aku bisa celaka!" Wajahnya pucat seakan dia benar-benar takut.
Sungguh aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi menghadapi kelakuan tidak masuk akal orang ini.
"Dengar. Kamu itu manusia jadi jangan katakan kamu akan celaka kalau terkena sinar matahari!" Aku hanya bisa mengelus-elus keningku di sini dengan wajah masam.
"Aku tidak bohong, aku hampir saja celaka dulu ketika terlalu lama ada di bawah sinar matahari!" Sepertinya ia jujur tapi aku tetap tidak percaya.
"Oh ya? Coba ceritakan!".
"Dulu ketika aku masih SD aku ikut upacara dan berdiri di tempat yang tersorot matahari. Beberapa saat kemudian aku tiba-tiba pusing dan mual hingga kakiku tidak bisa lagi berdiri!".
"Aku pingsan pada saat itu tapi untungnya aku di tolong oleh seseorang jadi aku selamat!" Kala itu aku menatapnya dengan tatapan heran.
Apa yang aku pikirkan pada saat itu langsung aku katakan. "Dengar... Kalau begitu ceritanya ada dua kemungkinan. Pertama kamu masuk angin dan yang kedua kamu dehidrasi!".
"Dan dia hal ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan yang namanya vampir jadi berhentilah mengatakan hal-hal tidak masuk akal!" Ketika itu si Ketua Kelas cemberut dengan pipi yang menggembung.
"Kenapa sih kamu gak percaya ketika aku bilang kalau aku ini adalah vampir!?" Suaranya terdengar begitu kesal.
Meskipun marah tapi sejujurnya si Ketua Kelas ini sangat lucu.
"Ya gimana mau percaya kalau semua yang kamu katakan saja tidak masuk di akal?!".
"Sudahlah, ikut jalan di bawah sinar matahari. Sekali-kali kamu harus terkena sinar matahari karena itu baik untuk tubuh kamu apalagi ini masih pagi!" Aku meraih tangannya kemudian menarik ke tempat yang tersorot sinar matahari.
"Tidak!!" Ia memberontak dan panik ketika aku menariknya ke bawah sinar matahari.
Tapi kemudian ia tiba-tiba saja jadi tenang setelah tidak merasakan apa-apa. "Eh?... Aku tidak terbakar!?..."
"Ya jelas tidak lah. Malahan sinar matahari pagi itu bagus untuk tubuh!".
"Sekarang berhenti mengatakan hal-hal tidak masuk akal dan kita akan pergi ke tujuan agar kamu bisa pulang!" Lanjut aku membawanya jalan yang ramai.
Untungnya kali ini si Ketua Kelas tidak bertingkah lagi dan terus mengikuti aku dari belakang.
Hingga ketika pertengahan jalan kemudian si Ketua Kelas kambuh lagi.
"Tolong... Sepertinya hanya sampai di sini saja, aku sudah mulai merasa panas seakan terbakar sinar matahari dan tenagaku juga melemah!" Ia terlihat pucat penuh keringat.
Aku yang melihat itu pun berkata. "Kamu ini benar-benar tidak pernah terkena sinar matahari ataupun berolahraga ya?!".
"Itu hal yang normal kalau merasa penas ketika beraktivitas di bawah sinar matahari... Apalagi mungkin kamu ini punya stamina yang sangat lemah hingga jalan beberapa meter saja langsung kecapean!..."
Ketika itu aku melihatnya begitu sengsara dan terengah-engah.
Ketika itu aku melihatnya begitu sengsara dan terengah-engah.
"Haahhh... Yasudah, aku akan belikan kamu air jadi tunggu di tempat yang teduh itu!" Ia mengangguk kemudian berjalan dengan langkah yang tidak seimbang.
Ia sempoyongan hingga hampir saja jatuh tapi untungnya dia tidak jatuh.
Untung di dekat sana ada warung kecil yang menyediakan air jadi aku langsung membeli dua botol untuk di minum.
"Ambil ini!" Aku memberikan satu botol pada si Ketua Kelas dan ia pun menatapku dengan tatapan heran.
"Apa maksud tatapan itu?!" Aku tanya dengan wajah tak puas karena pikirku anak orang kaya ini mungkin tidak akan suka dengan air murahan.
"Ti... Tidak ada, aku hanya merasa kamu terlalu baik padaku meksipun aku vampir!" Ia kemudian tersenyum padaku dan mengambil airnya.
Serius deh...
Pikirannya yang mengira kalau dia ini adalah vampir tampaknya sudah terlalu mengakar di otaknya.
Setelah istirahat beberapa saat kami pun mulai melanjutkan perjalanan hingga sampai di kantor tempatku bekerja.
"Akhirnya... Sampai juga!" Ia berkata dengan terengah-engah dan terlihat seperti sangat menderita padahal cuma kecapean saja.
Tak lama kemudian datang seseorang yang tidak lain adalah sekertaris dari pemilik perusahaan ini yang langsung menanyai si Ketua Kelas.
Kala itu ia panik melihat wajah si Ketua Kelas menjadi pucat serta terengah-engah.
Kemudian datang lebih banyak orang dengan ekspresi khawatir berkumpul di sekitar si Ketua Kelas untuk caper.
Mereka tidak melakukan apa-apa selain berkata-kata seolah mereka peduli dan khawatir.
Tentu saja pada saat itu aku langsung di abaikan.
'Yah. Memang seperti inilah yang aku inginkan, tidak terlalu di perhatikan jadi masalah yang tidak perlu tidak akan datang.'
Berhubung aku tidak kerja pada hari ini aku langsung balik badan untuk pergi dari sini.
Selang beberapa saat kemudian si Ketua Kelas baru sadar kalau aku hilang hingga ia bertanya-tanya pada semua orang.
Tapi mana mungkin ada yang sadar dengan keberadaanku ini.
Mereka semua berkata kalau mereka tidak lihat siapa-siapa yang datang bersama si Ketua Kelas hingga muncullah kesalahan berpikir di otak si Ketua Kelas.
'Dimas ini... Apa mungkin ia bukan orang biasa? Apa ia sebenarnya adalah orang hebat yang punya kekuatan super hingga ia tidak takut padaku yang seorang vampir?'
'Ya, pasti itu. Kalau tidak bagian bisa ia bisa tidak terlihat oleh orang sebanyak ini kemudian hilang tanpa ada yang sadar?'
Semetara itu aku yang sedang liburan cuma jalan-jalan cari makan kemudian pulang untuk belajar.
Pada keesokan harinya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.
Namun ketika sampai di depan gerbang aku melihat ada orang misterius... Gak, sih itu lebih seperti orang aneh yang mengenakan jubah panjang.
Ia tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki dan dia berdiri tepat di gerbang seakan menunggu seseorang.
"Kenapa akhir-akhir ini makin banyak orang aneh yang muncul di sekitarku?..." Tak mau ambil pusing atupun memperhatikan orang itu. Aku langsung saja masuk.
Tapi ketika aku melewatinya orang itu malah memegang tanganku. "Tunggu!" Ternyata orang aneh itu tidak lain dan tidak bukan adalah si Ketua Kelas.
Ia kemudian membuka tudung yang menutupi kepalanya sambil tersenyum. "Dimas! Apa kamu pendekar sakit!?".
"Ha!?..." Pertanyaan itu langsung membuat otakku berhenti berpikir untuk sejenak.
Untuk beberapa saat aku stuck di tempat karenanya.
"... Kamu ini ngomong apa coba? Aku gak ngerti!" Dengan nada suara yang sudah capek aku berkata.
Tapi si Ketua Kelas yang suka berkhayal ini malah berkata. "Jangan bohong. Aku tahu kamu adalah orang hebat yang punya ilmu tinggi".
"Buktinya kemarin saja tidak ada yang melihat kamu ketika mengantarkan aku ke kantor Papaku kemudian ketika kami hilang tidak ada yang sadar juga!".
"Dengan semua bukti itu mana mungkin aku percaya kalau kamu ini bukan orang hebat dan sakti. Aku yakin kamu sangat hebat bukan? Ayo, jujur saja sama aku!" Ia tersenyum menjengkelkan seakan dia benar-benar telah mengungkapkan identitasku.
Belum apa-apa tapi aku sudah capek sekali pagi ini.
Aku sampai langsung jalan pergi dan tidak mau menggubris perkataan orang ini lebih lanjut.
"Hey, tunggu!" Ia langsung menyusul dan jalan di sampingku.
"Ayolah, jangan acuh begitu. Aku janji kalau aku tidak akan membocorkan rahasia kamu karena kamu orang baik!".
"Lagipula kamu juga telah memegang rahasia aku yang seorang vampir ini. Jadi apa tidak bisa kita saling percaya saja!?" Gak denger dan gak peduli.
Itulah apa yang aku lakukan dimana aku tetap jalan dengan tatapan lurus namun datar.
Dan sepanjang perjalanan itu si Ketua Kelas ini tidak mau diam.
Ia terus menerus nyerocos tanpa henti.
Bahkan ketika di lorong ia terus bicara seakan ia sangat dengan dengan dan itu... Membuat orang-orang yang jalan di lorong salah paham tentang kami.
"Apa mereka saling kenal? Mereka terlihat sangat akrab menurutku!?" Bisik seorang siswi pada temannya.
"Iya. Aku jarang loh lihat ketua kita bicara pada orang lain seperti itu!" Tempat temannya.
"Setahuku Ketua Kelas kita ini sangat dingin dan jarang bersosialisasi dengan orang lain bahkan dengan cocok terganteng sekalipun!" Timpal siswi yang lain.
"Mungkinkah mereka ini sahabat atau malah pacar?!" Dari sini gosip gak jelas pun muncul dimana yang menyebarkannya tentu saja adalah orang-orang yang ada di lorong sekolah waktu itu.
Siang hari kemudian ketika jam istirahat tiba.
Tentu saja pada waktu itu para siswa-siswi yang ada di kelas langsung berhamburan keluar untuk cari makan dan bermain.
Sedangkan aku hanya diam di kelas.
Selain daripada aku yang penyendiri aku juga selalu membawa makanan sendiri karena makanan di sini mahal-mahal.
Tadinya aku berpikir kalau aku benar-benar sendiri di kelas ini sampai pada akhirnya si Ketua Kelas yang suka ngehalu ini pun datang.
"Kok kamu bawa makan sendiri?!" Ia bertanya dengan tatapan heran padaku yang membawa makan sendiri.
Aku langsung menjawab sambil membuka kotak makanan. "Ya karena aku orang biasa jadi aku harus bawa bekal untuk menghemat biaya pengeluaran!".
"Oh...!" Kemudian ia pergi tanpa mengatakan apa-apa yang mana aku pikir dia mau makan di kantin.
Ternyata apa yang aku pikirkan pada saat itu adalah sebuah kesalahan karena setelah si Ketua Kelas pergi dia malah balik lagi bawa makanan yang sangat banyak.
Tentu saja dia itu di bawakan oleh anak buahnya karena anak orang kaya sekolah pun tetap di kasih pelayan untuk membantunya.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama!" Semua makanan itu malah di letakan di atas mejaku dan si Ketua Kelas juga mengambil kursi dari bangku sebelah agar bisa duduk bersamaku.
Setelah semuanya di hidangkan para pelayan si Ketua Kelas pun pergi dari sini meninggal kami hanya berdua saja.
"Ayo buka mulutnya!" Si Ketua Kelas mengangkat sendoknya untuk menyuapiku yang mana aku langsung menolak.
"Gak. Makan saja sendiri karena aku punya makanan juga di sini!" Ketika aku mau makan aku melihat si Ketua Kelas tampak sangat kesal hingga pipinya menggembung.
"Kamu ini kenapa sih selalu saja menolak aku!?" Langsung aku jawab.
"Ya karena aku gak butuh!" Ia kemudian semakin marah dan kesal.
Tapi aku abaikan hingga ia pun akhirnya menyerah dan makan apa yang dia punya tapi tidak banyak.
Entah karena nafsu makannya memang kecil atau karena kesal jadi tidak mood untuk makan.
Dan tanpa aku sadari ternyata ada seseorang yang sedang mengintip kami kemudian memfoto yang mana momen ketika kami di foto itu tepat sekali ketika si Ketua Kelas hendak menyuapiku.
"Hehehe. Ini akan jadi gosip yang bagus sekali!" Ia pun pergi dan kemudian menyebarkan gosip tentang kami.
Dan itu tersebar cepat sekali.
Sepanjang waktu istirahat berita tersebut tersebar ke seluruh penjuru sekolah seakan tidak ada yang tidak tahu.
Pantas saja ketika jam pelajaran selanjutnya di mulai tatapan satu kelas tertuju padaku dengan cara mereka menatap yang sangat aneh.
'Feelingku gak bagus nih...'
Sepulang sekolah aku lagi-lagi melihat ada orang-orang yang memperhatikanku kemudian berbisik-bisik dengan sangat pelan.
Ada beberapa dari mereka yang terlihat marah namun ada juga yang malah menyeringai misterius.
Bulu kudukku seketika merinding karena tatapan satu kelas pada waktu itu.
Dan aku semakin di buat merinding ketika si Ketua Kelas menyusul dengan mengenakan jubah panjangnya itu.
"Dimas tunggu aku!" Jantungku seakan berhenti berdetak untuk sejenak karena aku tahu ini akan jadi masalah yang semakin besar.
"Kamu mau pulang ya!?" Aku menjawab dengan ketus sambil lanjut jalan. "Enggak. Mau terbang!".
"Kamu bisa terbang? Itu hebat banget!" Ia malah semakin antusias bicara padaku.
'Tolonglah. Ada banyak orang di sini kalau kamu sedekat ini denganku aku bisa kena masalah ke depan.
Apalagi secara tidak sengaja aku samar-samar mendengar ada yang bilang kalau kami mungkin pacaran.
"Eh. Menurut kalian mereka ini pacaran atau enggak sih?!" Temannya kemudian menjawab. "Itu pasti. Lihat saja Ketua Kelas kita yang jadi lebih banyak tersenyum itu, dia tidak pernah terlihat seperti itu selama ini bukan?!".
"Iya, dia biasanya selalu memasang wajah datar dan paling-paling cuma tersenyum ramah dan itu di lakukan sama rata untuk semua orang!".
"Ia bisa seperti itu menandakan kalau laki-laki itu sepesial baginya jadi kemungkinan mereka pacaran itu seratus persen!" Semua orang mengangguk pada saat itu.
Tatapan mereka semakin terlihat penasaran saja ketika menatapku.
Dan dari sekian banyak tatapan penasaran ada satu tatapan tidak senang dan marah di antaranya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!