NovelToon NovelToon

DIHIANATI CALON SUAMI, DAPAT PRESDIR

bab 1 : Memergoki

BRAK!

Dua sejoli yang sedang memadu kasih di atas tempat tidur langsung terlonjak. Tubuh si pria terbalut selimut seadanya. Si wanita menjerit, buru-buru menarik bantal untuk menutupi dadanya.

"Lia?!"

Seorang wanita cantik berambut panjang menyisir ruangan dengan pandangan mata yang tajam. Rahangnya mengeras, bibirnya mengatup menahan amarah.

"Lia... Ini.. Ini... bukan seperti yang kamu pikir!"

Si pria mendekat sambil menutupi pinggang ke bawah dengan selimut.

“TIDAK SEPERTI YANG AKU PIKIR KAU BILANG?!” Mata Lia membelalak, napasnya memburu. Ia berdiri di ambang pintu seperti badai yang hendak menghancurkan segalanya.

“Lia, kau muncul juga..." batin Silvi tersenyum. Dia adalah sahabat Lia, dan dia telah mengkhianati. Dengan tak tau malu, dia mencoba membujuk dan menjadi wanita yang terlihat baik,  "Lia... aku bisa jelaskan..."

Lia tersenyum sinis,"APA YANG MAU KAU JELASKAN? DI ATAS RANJANG, DI HOTEL MEWAH, BERSAMA CALON SUAMIKU!?"

Mata Lia mendelik, "Apa yang mau kau jelaskan? APA!? Huuumm?!"

Jono melangkah pelan, "Sayang, tolong, tenanglah."

Lia menyambar vas bunga di meja kecil dan melemparkannya ke dinding. Jono membeku, vas itu pecah, hanya beberapa inci dari kepalanya.

"JANGAN PANGGIL AKU SAYANG!"

"Aaaarrrhhh!!" Jono memekik. "Aku ... aku khilaf, maafkan aku, Lia..."

Silvi berdiri, masih membungkus tubuhnya. Tapi alih-alih merasa bersalah, ia menatap Lia dengan wajah yang... merasa menang...

"Sudah lama aku menyukainya, Lia. Dan kamu selalu pamer tentang hubungan kalian. Tapi kamu nggak pernah benar-benar tahu dia. Dia butuh dimengerti..."

"APA?!" Lia menghampiri Silvi dengan langkah besar dan....

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Silvi.

"KAU PENGKHIANAT!"

Silvi menatap Lia, pipinya memerah. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dia membutuhkan cinta."

"Hahaha, cinta? Maksudmu ... Tubuhmu?"

Tangan Silvi mengepal di sisi tubuhnya. "Jono mencintai ku!" katanya keras. "Dan aku hanya mengambil apa yang seharusnya jadi milikku."

Plak!

"Tepat menjelang di hari bahagiaku!? Bagus! Kau dapat! Ambillah bekasku!"

Silvi melirik sambil memegangi pipinya yang terasa panas. "Jangan berlagak kau yang paling menderita, Lia!" Silvi berujar tanpa rasa bersalah.

"Jadi menurutmu aku harus bagaimana, huumm? Menerima begitu saat calon suamiku tidur dengan sahabatku sendiri?!"

Lia tertawa...

"Aku menyesal pernah menyebutmu sahabat," ucap Lia tajam. Ia terlalu marah, pada sahabatnya yang kini bahkan tak merasa bersalah sedikitpun. Ia Jambak rambut Silvi.

"Aahhh! Lia! Sakit!"

"Dasar wanita murahan!"

"Lia! Hentikan!" Jono mendekat hendak melerai.

Lia menatap sengit, mendorong tubuh Silvi yang terbungkuk karena ia menjambak rambutnya, hingga tubuhnya terhempas ke ranjang.

"Aakkkhhh!"

"Dasar bajingan!" Kali ini, Lia memukul Jono, semua jadi sasaran amukannya. Lia terlalu sakit hati dan marah.

"Penghianat! Sampah! Bisa-bisanya kau, kau lakukan ini menjelang pernikahan kita, Jon!" umpatnya sambil memukuli.

"Aduh, Lia! Berhenti, sakit!" Jono menangkis, tapi Lia tak berhenti. Panik, ia menyambar celananya dan berlari keluar kamar. Ia tau, jika sudah kalap, Lia memang tak terkendali.

"JONOOO!" Lia menjerit dan mengejarnya. "JANGAN KABUR KAU, BRENGSEK!"

Di lorong, seorang petugas kebersihan sedang mengepel lantai. Dengan gerakan spontan, Lia menyambar alat pel dari tangan petugas itu. Sementara Jono berlari sambil memakai celana. Terlihat kesusahan sekali.

"NONA! PEL SAYA....!"

Dengan amarah membara, Lia berlari ke arah Jono yang kini sudah mencapai lobi hotel. Tanpa pikir panjang, Lia memukuli punggung dan kepala Jono dengan alat pel itu.

"PENGKHIANAT! LELAKI BRENGSEK! KAU MATI SAJA!"

Para tamu menoleh, pegawai hotel membeku. Seorang anak kecil menangis, sementara dua resepsionis berusaha menenangkan keadaan.

"Lia, tolong! Malu ini, banyak orang!" teriak Jono sambil menunduk, mencoba melindungi diri. "Aduh, aduh."

"SAKIT, HAHH? RASAKAN, JONO! BISA-BISANYA KAMU NGAMAR SAMA TEMANKU SENDIRI!"

Security datang, dua orang pria berseragam hitam. "Ibu, Bapak, mohon ikut kami. Tolong jangan buat keributan di sini."

"JANGAN HALANGI AKU, PAK! AKU HARUS MENGHAJARNYA!" teriak Lia histeris.

Tepat saat itu, Silvi muncul sudah dengan pakaian lengkap.

"KAU JUGA! DASAR PEREMPUAN GATAL!" hardik Lia hampir memukul Silvi, jika para petugas keamanan tidak sigap menahan Lia.

"Kami punya ruangan untuk menyelesaikan ini dengan tenang. Ikutlah dengan kami!”

Lia melempar alat pel ke lantai, gemetar, air mata mulai mengalir meski wajahnya masih murka.

"Baik! Akan aku selesaikan mereka di sana!"

bab 2

"Kenapa, Jono?" tanya Lia lirih. "Kenapa kau lakukan ini... Disaat pernikahan kita hanya tinggal satu minggu?"

Jono menunduk, sesungguhnya dia juga merasa bersalah. Dia masih cinta. Tapi, dia terlalu tergoda jika disodori sesuatu yang menggoda hasratnya.

BRAK!

Lia menggebrak meja. "Aku tanya kenapa kau lakukan ini padaku!? Kau hanya tinggal bilang aku mau Silvi! Tidak perlu menikah! Selesai! Tapi kenapa kau malah diam-diam ngewe sama dia!?"

Jono mengacak rambutnya. Merasa frustasi.

"Aku... Maafkan aku, Lia... Aku mohon... Aku benar-benar khilaf... Maafkan aku.."

"Khilaf?!" Lia tertawa getir. "Kau menikmatinya dan kau sebut KHILAF?!"

"Lia..." Jono berusaha menarik Lia ke pelukannya. Tapi, Lia langsung menepis.

"Jangan kau sentuh aku dengan tangan kotor sehabis berkeringat dengan temanku sendiri." Lia tertawa getir, "Hahahah... Teman..."

"Lia, aku mencintaimu.."

"Omong kosong dengan bualan cintamu, Jono! Kau tidak akan menyakiti ku seperti ini jika memang cinta! Dasar BAJINGAN."

Pihak manajemen hotel berdiri di tengah ruangan, mencoba menetralisir keadaan.

"Mohon tenang, Bu. Tolong jangan gunakan emosi."

Lia menatapnya tajam. "Hahaha, jangan gunakan emosi? Apa jika kau jadi aku, kau tak akan emosi, huumm?"

Pihak hotel diam.

Lia tersenyum tipis, "Sekarang kau bungkam!" sindirnya sinis.

"Lia!" Silvi ikut angkat bicara. "Sudah cukup kau memaki, Lia! Ini sudah melewati batas... Kau tak hanya menyakiti fisik kami…"

"Hahahaha! Melewati batas? Bagaimana denganmu, penghianat!?" ucap Lia tajam."Kau bahkan bercinta dengan calon suami sahabatmu sendiri! Aku mempercayaimu Sil! Tapi kau malah menusukku sangat dalam!"

Silvi menggeleng, "Kenapa kau tidak berkaca kenapa Jono bisa datang padaku!?"

"Karena kau penggoda, JALANG!" sarkas Lia yang penuh emosi.

Wajah Silvi merah padam, menahan luapan emosinya. Tangannya mengepal kuat di atas lututnya.

Lia menatapnya tajam. "Sepertinya, kau sangat bangga membuka kakimu untuk tunanganku, ya?"

"Jaga ucapanmu, Lia!" Silvi berdiri tak terima.

"Kau yang harus jaga sikap, Sil!" sentak Lia ikut berdiri. "Kau memang pantas disebut pelacur, huuhh! Tidak hanya pelacur! Kau penghianat!"

Suasana hening. Tapi, jelas sangat panas di sana. Mata Silvi tajam, begitupun dengan mata Lia.

"Lia... Tolong tenanglah." Jono mencoba menengahi. "Aku tau... Ini salahku..."

Lia menoleh pada Jono, dan langsung menamparnya.

PLAK!

"Hei! Hati-hati dengan tanganmu!" sentak Silvi yang tak terima jono dipukul.

"Kenapa? Kau mau juga?" tantang Lia yang langsung memukul Silvi.

PLAK!

"Aaahhh," Silvi mengaduh. Tubuhnya limbung ke arah Jono yang langsung menangkapnya.

"Lia! Kalau memang mau memukul, pukul saja aku. Jangan kasar begini!" protes Jono.

Plak!

Lia menampar lagi. "Aku memang sudah memukulmu dari tadi. Kalian berdua sama! Menjijikkan!"

Lia menarik napas dalam. Dia menyisir rambutnya dengan jari ke belakang. jelas dia tau, semua inj sama sekali tidak berguna. Dia hanya akan menanggung sakit lebih dalam.

"Kalian pantas untuk satu sama lain. Sama-sama menusuk dari belakang. Sama-sama penghianat, sama-sama sampah!"

Ia berjalan menuju pintu keluar.

****

Di sebuah negara yang asing, koper Lia tergelincir di lantai marmer hotel bintang lima. Ia menyerahkan paspor dan kartu kredit tanpa banyak bicara. Matanya sembab, rambutnya diikat asal. Dia memang memutuskan untuk healing di luar negri daripada stres.

"Welcome, Miss Amalia Larasati. Your suite is on the 19th floor."

Kamar hotelnya sangat mewah, ia bahkan tak percaya bisa mendapatkan kamar semewah itu. Pemandangan salju menutupi kota asing itu. Tapi dingin di luar tak seberapa dibanding beku di dalam dadanya.

"Kenapa hidup harus sekejam ini?"

Dia menjatuhkan tubuh ke kasur, memejamkan mata. "Haaahh, tapi hebat juga. Aku bisa menikmati kamar sebagus ini. Mereka tidak mungkin salah kasih kamar, kan?"

Lia terkekeh kecil. "Ah, enggak mungkin. Gimana pun ini hotel besar. Mereka tak akan bisa salah kasih kamar."

Lia menyeret langkah ke kamar mandi,"Ah, lebih baik, aku mandi. Tubuhku rasanya lengket.." Ia melepas pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub yang penuh air hangat dan busa. Matanya terpejam. Untuk sejenak, dia ingin lupa.

"Lupakan semuanya, Lia. Nikmati harimu di sini. Kamu pantas bahagia. Lupakan...."

Lama Lia hanya memejam dan berendam, tiba-tiba saja ia merasakan hawa kehadiran seseorang di kamar mandi.

"Kenapa rasanya seperti ada yang menatapku tajam?" batinnya,"Tidak! Aku hanya sendiri di sini. Tidak mungkin ada orang lain di sini. Ini hanya perasaan saja."

Lia terus mencoba berpikir positif, tapi, lama-lama ia merasakan kehadiran itu semakin kuat. Ia membuka matanya, dan seketika terlonjak.

Di depan sana, memang ada seorang pria asing yang sedang menatapnya dengan segelas Vodka di tangan.

"Si-siapa? Kenapa kau masuk ke kamarku dan menyerang privasiku!?"

bab 3 : Pria asing

"Siapa kau!?"

teriak Lia dengan suara bergetar. Ia memilih bertahan di dalam bak mandi karena ia sedang tak memakai sehelai benangpun. Dan air bisa sedikit menyamarkan tub uhnya.

Pria asing itu masih terlihat santai meneguk minumannya.

"Kamarku? Apa kau tak melihat saat masuk kemari, Nona?"

"Ini jelas kamarku. Kau mabuk!" ujar Lia tajam. "Keluarlah sebelum aku berteriak dan memanggil security."

Pria asing itu malah tertawa, "Berteriaklah... Hanya aku yang akan dengar!" tantangnya. "Kau mau keluar dari sana sendiri, atau aku seret, Nona?"

Lia menahan gelombang amarahnya, ia tak mungkin keluar dari bak mandi dengan tanpa apapun sementara ada lelaki di sana. Tapi, membiarkan lelaki asing itu menyeretnya, sungguh gila.

"Keluarlah..." katanya akhirnya.

"Ini kamar mandi ku. Aku mau menggunakannya."

"Keluarlah agar aku bisa keluar dari sini..." ujar Lia menatap tajam. "Atau kamu memang mengharap sebuah pertunjukkan."

"Aku... Tidak tertarik dengan tubuhmu. Keluar!"

"Aku tidak memakai apapun." wajah Lia memerah karena malu. Sekalipun, dia tak pernah menunjukkan tubuhnya di depan pria.

Tapi, pria itu seperti menantang, dia meletakkan gelasnya dan melepas kemeja yang melekat di tubuhnya.

"Sungguh tak tau malu, dia mele pas ba ju di hada pan seorang wanita?" batin Lia saat itu.

Namun, mata Lia terbelalak, tubuh pria itu berotot dan terdapat beberapa tato di dada, pinggang, dan perutnya.

Lia meneguk ludahnya, "Tub uhnya sempurna." Tentu saja, ini hanya dalam pikiran Lia. Tapi sesaat kemudian dia meruntuk karna sempat memuji.

Kemeja tertanggal dan teronggok begitu saja di lantai kamar mandi. Lalu pria itu mulai mele pas cela nanya. Lia refleks menutup matanya.

"Dia gila! Dia benar-benar melepas di depan mataku," batin Lia. Namun, ia jadi menyadari sesuatu. "Tidak! Ini artinya, kami sama-sama polos. Apa yang akan terjadi selanjutnya?"

Segala pikiran negatif berkelebat dalam otaknya. "Tidak! Aku harus pergi dari sini! Pria ini jelas bukan orang biasa! Dia gila! Aku salah berurusan dengannya."

"Baiklah, aku menyerah! Aku keluar!" teriak Lia sambil membuka mata. Akan dia tekan kuat rasa malunya keluar dari bak mandi tanpa sehe lai be nangpun.

"Terlambat!"

Mata Lia terbelalak lebar, pria itu sudah masuk dalam bak mandinya. Lia berteriak, namun, itu sia-sia. Pria itu sudah menci umnya dengan sangat rakus dan menin dih tu buhnya. Di bawah tu buh kekar pria itu, Lia sangat mungil.

"Tidak! Kega disanku yang ku jaga selama ini, apakah akan terenggut sekarang?"

Lia mencoba melepaskan diri, tapi, hanya membuat air memercik keluar dari dalam bak mandi. Pria itu menghujam tub uhnya dengan sangat keras, dalam, sampai ke ujung.

"Aakkkkhhh!"

"Setelah masuk ke kamarku tanpa permisi, kau tidak bisa keluar begitu saja, Nona."

Air mata Lia mengalir, mulutnya terbuka lebar, dan lo bang pera wannya terasa sangat sakit. Sebuah benda besar masuk ke sana tanpa peringatan.

"Ini tidak adil... Kenapa semua harus direngut paksa dariku?"

"Kenapa sempit sekali? Kau... Masih pera wan?"

"Lepaskan aku, brengsek! Ini pele cehan! Ini pemer kosa an!"

Tubuh Lia lemas tak berdaya. Jika dia bisa memukul Jono tanpa ampun, tapi, di bawah tubuh pria ini, Lia kehilangan tenaganya.

"Aahh.... Sakit!" teriaknya saat merasakan lagi benda keras menghu jam lob angnya.

Air mata Lia mengalir deras, ia meratapi hidupnya yang sangat sial dan merana. Belum habis rasa sedihnya dihianati calon suami dan sahabatnya sendiri, ia harus merelakan kepera wanannya diambil oleh orang asing di negara yang asing pula.

"Sesakit ini... Tapi... Kenapa orang-orang menyebutnya nikmat?"  batin Lia.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!