Di pagi hari ini terlihat Arjuna yang sedang membersihkan barang-barang antik yang ada di dalam tokonya yang sepi ini.
Sudah sangat lama sekali Arjuna tidak membersihkan barang dagangannya ini, "sial! Debunya banyak sekali!" Ucap Arjuna yang langsung menyeka satu-persatu barang antik di tokonya.
"Namun aku sama sekali tidak menyangka meskipun benda-benda ini akh geletakan dan tidak pernah aku rawat, namun pedang ini tidak berkarat, aneh.." ucap Arjuna sambil mengambil pedang dengan bilah yang terlihat cukup indah, "apa ya nama pedangnya? Ah bodo amat.." ucap Arjuna yang kembali meletakan pedang itu.
Sementara itu saat ini dua kuli sedang berada di pasar, mereka berdua mendapatkan tugas dari Arjuna untuk membeli daging, sosis, bakso. Sebagai perayaan Arjuna membeli mobil baru. Arjuna ingin mengadakan bakar-bakaran dan nyate kecil-kecilan.
Tentu saja pesertanya dia dan duo kuli saja.
Oleh karena itu Arjuna menyuruh duo kuli untuk pergi ke pasar dan berbelanja. Pasar yang di tuju oleh duo kuli adalah pasar dinoyo.
Singkat cerita mereka telah tiba, mereka bertiga segera menuju ke taman belakang dan memasak makanan.
Duo kuli secara antusias mendengar cerita Arjuna di pantai licin lebakharjo.
"Kalian harus tahu kemarin aku dan bambang bertemu banyak sekali orang stres di sana! Selain bertemu banyak orang stres aku juga bertemu dengan Arya dan Erlina kakak beradik, Erlina adalah adik Arya. Erlina tunarungu dan tunawicara dia sangat menyukai kumbang dan secara tidak sengaja aku menemukan kumbang emas dan aku berikan kepada Erlina dia sangat senang mendapatkan kumbang emas itu dan ajaibnya keesokan harinya Erlina menjadi manusia normal lagi! Selain bertemu dengan Arya dan Erlina aku juga mendapatkan teman baru yaitu pak wongso damar lintang, dan 2 anaknya Pradipta dan Ajeng."
Suwarno dan Momon menyimak dengan ekspresi serius cerita dari Arjuna.
Ya kumbang emas yang di temukan Arjuna merupakan pulung kencono yang di rebutkan oleh keluarga damar lintang dan semua orang penting, pulung kencono merupakan sebuah anugrah pulung kencono berpaling dan menolak ajeng karena kehadiran Arjuna di pantai lebakharjo.
Arjuna yang tidak tahu apa-apa menangkap kumbang emas yang ternyata pulung kencono dan memberikannya kepada Erlina yang notabennya suka dengan kumbang.
Semua orang tidak terima namun semuanya mendadak bisu ketika Arjuna berkata 'diam' termasuk keluarga damar lintang.
Namun bisu yang di alami keluarga damar lintang tidak berlangsung lama karena mereka segera meminta maaf kepada Arjuna. Arjuna yang mendapati wajah sedih dari Ajeng dan Pradipta memberikan liontin batu kali dan miniatur pedang kepada Ajeng dan Pradipta. Mereka berdua sangat senang dengan pemberian Arjuna karena 2 pusaka yang di berikan Arjuna merupakan pusaka yang tidak kalah dari pulung kencono. Mereka tidak tahu saja Arjuna memiliki setoples liontin batu kali dan sekardus miniatur pedang.
Itulah singkat cerita segmen Arjuna di pantai lebakharjo. Singkatnya Arjuna saat ini sudah berteman dengan keluarga damar lintang termasuk patriark wongso, jika ada yang ingin di tanyakan tentang segmen ini tanyakan di komentar saya akan menjawabnya. Dan secara resmi kita memasuki segmen terbaru selamat membaca dan semoga terhibur.
***
Tidak ada yang istimewa pada acara bakar-bakaran di malam hari itu.
Beberapa hari terlewati, di pagi hari ini terlihat Arjuna, Suwarno, dan Momon berada di dalam hutan dekat toko barang antiknya.
Pedang dengan bilah yang cukup indah terlihat di gantung di atas pohon.
Sementara Arjuna berada di depan sebuah kanvas, di tangan Arjuna sendiri terlihat ada palet dan kuas.
Ya, Arjuna ingin menggambar pedang itu. Arjuna ingin belajar menggambar, karena Arjuna sedang belajar sehingga dia menggunakan media yang gampang saja yaitu pedang Tajimalela ini.
"Pak Arjuna, pedang ini sangat cantik dan luar biasa. Seharusnya pedang ini tidak usah di jual dan di simpan sebagai koleksi saja.." ucap Suwarno.
Arjuna menggelengkan kepalanya, "pedang seperti ini tidak bisa membuat perut kenyang, walaupun pedang ini peninggalan kakekku namun kalau seumpama ada orang yang menawar dengan harga tiga ratus ribu akan aku lepas pedang ini." Ucap Arjuna.
Mendengar ucapan entng dari Arjuna seketika itu juga Suwarno dan Momon memegangi dada mereka berdua dengan ekspresi pahit, pahit sekali...
Mereka berdua yakin pedang ini bukanlah pedang biasa, melainkan pedang mistis yang hanya bisa di gunakan oleh orang yang lahir di bulan dan tanggal tertentu.
Namun bagi Tuan Arjuna pedang ini sama sekali tidak berharga dan malah ingin di jual seharga tiga ratus ribu rupiah.
Sekali lagi Suwarno dan Momon merasakan kesenjangan yang tinggi sekali.
"Sebentar, aku akan menggambar terlebih dahulu." Ucap Arjuna yang mencelupkan kuasnya ke dalam palet berisi cat hitam yang dia bawa.
Ketika Tuan Arjuna berkonsentrasi seperti ini baik Suwarno dan Momon merasakan badan mereka merinding, seolah ada hawa dingin yang muncul ketika Tuan Arjuna berkonsentrasi.
Semakin lama Tuan Arjuna berkonsentrasi perasaan dingin yang di alami Suwarno dan Momon semakin terasa.
Arjuna membuat goresan demi goresan dengan cat berwarna hitam, goresan ini membentuk sketsa unik yang berbentuk pedang Tajimalela.
Apa yang tidak di ketahui oleh Arjuna Suwarno dan Momon saling berpelukan ketika merasakan aura ganas dari setiap goresan yang di lakukan Arjuna, aura yang keluar dari goresan itu benar-benar mirip dengan pedang Tajimalela yang asli.
Seolah pada saat ini Tuan Arjuna sedang menduplikasikan pedang mengerikan itu ke dalam sebuah lukisan.
Benar-benar kemampuan yang di luar logika manusia. Namun siapa sangka ketika Arjuna hendak mengganti kuasnya dengan kuas warna, tiba-tiba Arjuna berhenti dan memandangi pedang Tajimalela yang asli dengan tatapan dalam.
"Sialan! Aku tidak bisa melanjutkannya!" Buru-buru Arjuna meletakan kuas dan palet cat itu.
Melihat hal ini jelas Suwarno dan Momong bingung, mengapa Tuan Arjuna menghentikan kegiatannya?
"Mengapa pak?" Tanya Momon dengan penasaran.
"Lihatlah goresan sketsa sampah ini? Aku tidak begitu berbakat dalam menggambar. Sebaiknya aku harus belahar menggambar melalui media yang lebih sederhana dulu." Ucap Arjuna yang tampak sangat kecewa dengan gambar sketsanya.
Suwarno dan Momon menjatuhkan rahangnya ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Tuan Arjuna. Gambar mistis yang memiliki aura ganas dan sama persis dengan pedang Tajimalela yang asli masih tergolomg aampab bagi Tuan Arjuna?
"His! Buang saja!" Ucap Arjuna yang langsung memberesi kuas dan paletnya. Namun masih membiarkan canvas itu tetap terbuka, bertujuan untuk menunggu kering.
"Kalian berdua segera masak! Untuk makan kita di dalam hutan!" Ucap Arjuna kepada Suwarno dan Momon.
Akhirnya Arjuna dan duo kuli memilih untuk bersantai dan makan di dalam hutan ini.
Memang kalau Arjuna merasa bosan dan gabut dia sering menuju ke dalam hutan ini. Sama seperti awal-awal cerita.
Arjuna menatap langit siapa sangka di siang haru langit sudah mendung. Arjuna menghela nafas panjang, "sepertinya sebentar lagi hujan." Batinnya.
Arjuna kemudian menyuruh duo kuli untuk berkemas dan pulang karema sebentar lagi akan hujan, tidak lupa pula Arjuna menggulung kanvas miliknya yang berisi gambar gagalnya.
Mereka menuruni gunung putri tidur dan menuju ke jalan locari lagi.
Ketika Arjuna sudah tiba di jalan locari arjuna membuang begitu saja lukisan gagalnya ke dalam tong sampah, dan langsung memasuki tokonya kembali.
Tidak terjadi apapun pada saat ini.
Siapa sangka ketika waktu menunjukan pukul 2 siang hari, terlihat truk sampah yang datang untuk mengambil sampah di sekitaran jalan locari. Tanpa basa basi truk sampah itu langsung mengangkut semua sampah yang berads di jalan locari. Kemudian truk itu melaju terus di kota malang untuk mengangkut sampah yang ada.
Siapa sangka ketika truk itu berada di jalan M.T HARYONO semilir angin berhembus kencang, hingga membuat lukisan gagal dari Arjuna terbang dan terjatuh di pinggiran jalan.
Seorang mahasiswi salah satu kampus dekat jalan M.T HARYONO itu secara tidak sengaja melihat kanvas yang terjatuh dari truk sampah dan tergeletak begitu saja di atas trotoar.
Mahasiswi itu mengambil kanvas itu dengan ekspresi penasaran. Ketika dia mengambil gulungan kanvas itu dia merasakan ada hal aneh di dalam kanvas itu. Pasalnya meskipun gulungan kanvas itu terjatuh dari truk sampah dan sudah pasti bercampur dengan sampah lainnya namun gulungan kanvas ini masih sangat bersih bahkan tidak ada debu sedikit pun yang menempel di situ.
Mahasiswi itu kemudian membuka gulungan kanvas itu. Seketika itu juga dia melihat goresan cat berwarna hitam yang membentuk sebuah sketsa pedang, wanita itu melamun seolah dia terseret ke sebuah tempat dan melihat pedang Tajimalela secara nyata.
Namun hal itu berlangsung beberapa detik saja, kemudian wanita itu langsung tersadar, "astaga! Lukisan yang sangat bagus!" Batinnya.
Meskipun dia hanyalah seorang wanita biasa, namun karena dia merasakan perasaan kagum ketika membuka gulungan kanvas itu, dia menjadi sangat yakin sekali yang menggambar sketsa pedang ini merupakan seorang seniman.
Dengan cepat wanita itu menggulung lukisan itu dan memasukannya ke dalam tasnya. Setelah itu dia secara terburu buru memasuki kampusnya sebab sebentar lagi jam pelajaran tiba.
Wanita itu bernama Widya mahasiswi teknik perikanan yang berkuliah di salah satu Universitas di malang.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, siapa sangka pada saat ini menunjukan pukul 11 malam. Terlihat Widya yang baru saja keluar dari gerbang kampusnya.
Mahasiswi pulang larut malam adalah hal yang umum di malang. Vidya terlihat sangat lelah sekali, bahkan dari cara jalannya saja membungkuk karena saking lelahnya.
Tidak lama kemudian Vidya langsung berdiri mematung dan memasang ekspresi panik ketika dia berada di gang sepi, dan melohat dua orang pemabuk yang sedang memandanginya dengan mata merah.
"Hehe, ada cewek itu john! Pasti ada uangnya ayo kita rampas!"
"Sebentar bor, kita cicipi dulu, dia lumayan cantik!"
Kedua pemabuk itu sepertinya tidak terlalu mabuk, karena masih bisa berdiri walaupun sempoyongan.
Jelas pada saat ini Vidya ketakutan ketika dia hendak di lecehkan oleh kedua pemabuk itu. Vidya hendak membalikan badannya namun naas dia malah tersandung dan terjatuh.
Membuat kedua pemauk itu menyeringai dengan seringai buas mereka.
"Ti... tidak! Menjauh dariku! Jangan dekatiku!" Teriak Vidya sambil mencob untuk berdiri namun sayang sekali, dia begitu takut hingga membuat kakinya bergetar dan kesulitan untuk berdiri.
Namun semua orang yang ada di sini tidak mengira, tiba-tiba resleting tas Vidya terbuka dan sebuah gulungan kanvas terjatuh dengan sendirinya.
Baik Vidya dan dua pemabuk itu tidak memperdulikan gulungan kanvas itu.
Namun tiba-tiba....
Wus...
Gulungan kanvas itu terbuka dengan sendirinya membawa angin-angin yang terasa seperti tebasan-tebasan pedang.
Seketika itu juga tubuh 2 pemabuk itu terpotong-potong menjadi potongan kecil-kecil.
Namun uniknya angin yang di bawa oleh lukisan itu tidak menyakiti Vidya. Vidya hanya merasakan hembusan angin biasa.
Nampak baju Vidya bersimbah darah dari dua pemabuk itu, bukan cuma baju Vidya yang bersimbah darah Namun tembok dan tanah di gang itu juga tercecer darah 2 pemabuk itu.
Vidya menatap lukisan itu dengan ekspresi horor, "akkkhhhh!!!" Vidya berteriak panik dan dia langsung bangkit dan berlari begitu saja.
Sampah ciptaan Arjuna telah menyelamatkan kehormatan wanita dan menghapus dua sampah masyarakat.
***
Waktu berjalan dengan cepat, di pagi hari ini terlihat Arjuna yang duduk di konternya sambil membaca novel berjudul, 'bukan penjual boneka biasa'
"Permisi!" Siapa sangka seorang pria paruh baya memasuki toko.
Arjuna langsung memasang ekspresi antusias, "hah?! Pelanggan?" Arjuna tidak menyangka setelah sekian purnama akhirnya ada pelanggan yang mengunjungi tokonya.
"Silahkan masuk pak..." ucap Arjuna.
Pria itu tolah-toleh sambil melongo mengamati barang-barang koleksi Arjuna, "permisi mas, apakah sampean jual dupa?"
"Dupa?" Arjuna benar-benar kaget dengan pertanyaan dari calon pembelinya ini.
"Waduh, saya tidak jual dupa pak, saya hanya jual barang-bar--" sebelum Arjuna selesai menyelesaikan kalimatnya pembeli itu melenggang pergi begitu saja.
"Ya sudah, aku pergi kalau begitu." Ucap Pelanggang itu dan langsung menyelinap pergi.
"Eh tunggu dulu pak! Aku bonusi pedang antik!"
"Sialan!" Ucap Arjuna yang frustasi melihat calon pembelinya pergi begitu saja.
Akhirnya Arjuna duduk di kursinya dengan sangat bosan.
Selang satu jam berlalu akhirnya pintu kembali terbuka, "halo, apakah di sini jual kembang setaman dan kemenyan?"
Arjuna langsung memasang wajah aneh, "tidak jual pak."
Calon pembeli itu langsung mengomel, "sialan! Toko macam apa ini! Lebih baik tutup saja!" Umpatnya sambil keluar.
Mata Arjuna langsung berkedut ketika mendengar omelan pelanggan itu, bahkan di saat sudah keluar pelanggan itu masih mengomel, "toko macam apa ini, kelihatannya saja antik, namun tidak jual peralatan ritual dan sejenisnya!" Omelnya.
Arjuna duduk sambil memasang ekspresi jengkel, "apakah mereka buta? Jelas-jelas plangnya bertuliskan toko barang antik! Mengapa mereka mencari peralatan pesugihan di sini!" Tanya Arjuna dengan ekspresi kesal.
"Tunggu! Mungkin sebentar lagi akan ada orang yang datang dan bertanya hal yang sama!" Batin Arjuna.
Kemudian Arjuna mencari barang yang sekiranya bagus, "ah itu!" Arjuna kemudian mengambil topeng putih dengan ornamen warna emas. Kemudian Arjuna duduk di samping pintu masuk.
Siapa sangka tebakan Arjuna benar, selang beberapa menit seseorang memasuki toko ini sambil clingak-clinguk memandangi barang antik di sekelilingnya.
"Hmm, apakah di sini juak kendi, dup--"
"Pak, apakah anda sedang mencari dupa, bunga setaman dan sejenisnya?"
"Jualalala!!" Pelanggan itu tergagap sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Setelah tergagap pengunjung itu langsung memandangi Arjuna dengan marah, "sialan! Mengagetkan saja." Ucapnya kesal.
Arjuna hanya menggaruk kepapanya dengan ekspresi sungkan, Arjuna kembali bertanya, "pak, apakah anda mencari bunga, dupa, dan sejenisnya?"
"Ah ya! Aku sedang mencari itu! Mengapa kamu bisa tahu? Kamu pasti memilikinya, berikan kepadaku!"
"Tidak pak, saya tidak memilikinya. Namun saya akan memberikan topeng ini gratis kepada anda, apabila anda membe--"
"Hah? Tidak ada ya? Sia-sia saja aku masuk ke sini!" Ucapnya yang langsung pergi dari tempat ini begitu saja.
Arjuna yang mendapati penolakan untuk kesekian kalinya langsung melemparkan topeng itu begitu saja, "sialan, padahal aku sudah menawarkan topeng antik secara gratis, dan mereka masih menolaknya!"
"Suwarno Momon!" Panggil Arjuna, dengan cepat Suwarno dan Momon datang dan langsung berbaris rapih di depan Arjuna bagaikan anak pramuka.
"Mon, pasang plang tidak menjual peralatan pesugihan di depan! Sementara kamu suwarno, segera cari tanu mengapa ada banyak sekali orang yang mencari peralatan pesugihan di sekitar sini!"
Mendengar perintah langsung dari Tuan Arjuna. Momon dan Suwarno langsung berteriak, "siap pak!" Teriaknya secara serentak.
***
Sesuai perintah dari Tuan Arjuna pada saat ini Suwarno membaur bersama masyarakat untuk mencari tahu mengapa orang-orang mencari peralatan pesugihan seperti dupa, kemenyan, kendi, dan bunga setaman.
Tentu saja dengan kemampuan Suwarno yang notabennya pelayan Arjuna tidak sulit baginya untuk mencari berita yang ada di sekitar jalan locari hingga semanding ini.
Ketika sore telah tiba Suwarno kembali ke toko barang antik Arjuna.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.
Suwarno kemudian menceritakan alasan orang-orang mencari peralatan untuk sajen dukun karena munculnya rumor tentang ritual penggandaan uang di gunung panderman.
"Sialan! Aku sama sekali tidak menyangka, akan ada ritual penggandaan uang di gunung panderman!" Ucap Arjuna yang heran.
"Aku akui, di sekitar panderman dan buthak ada berbagai macam tempat untuk melakukan ritual mistis, namun aku sama sekali tidak menyangka akan ada ritual penggandaan uang!"
"Dasar bodoh! Apakah mereka kira uang bisa di gandakan! Pasti ini adalah sindikat penipuan!"
Suwarno dan Momon terlihat menganggukan kepalanya.
"Ya sudah, lupakan tentang rumor itu, segera masak untuk kita makan malam!" Ucap Arjuna yang memilih melupakan rumor itu.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat, siapa sangka esok hari telah tiba. Arjuna menatap langit pagi yang mendung, entah mengapa melihat langit pagi yang mendung membuat suasan hati Arjuna menjadi bahagia.
Arjuna dengan santai berjalan di pagi hari untuk menuju ke pasar semanding yang berada tidak jauh dari jalan locari. Arjuna berjalan kaki sekalian untuk olahraga.
Hingga akhirnya Arjuna tiba di pasar semanding untuk berbelanja sayur dan buah-buahan.
Siapa sangka ketika Arjuna tiba di pasar semanding terlihat sekelompok orang berkumpul di depan sebuah toko.
"Ada apa?" Batin Arjuna. Demi mengobati rasa penasarannya Arjuna berjalan menuju kerumunan itu.
"Haha! Gacor sekali! Semalam aku berhasil mendapatkan uang lima ratus ribu hanya bermodal yang lima ribu saja!" Teriak pria yang berada di pusat kerumunan itu.
"Eh serius kamu berhasil!"
"Apa iya di zaman sekarang masih bisa menggandakan uang?"
Semua orang yang ada di sini bertanya dengan hal yang sama. Arjuna mencoba berjinjit untuk mengintip siapa yang berada di pusat kerumunan itu.
Sebagai seseorang yang sering ke pasar semanding Arjuna jelas mengenal siapa orang itu.
"Lah, bukannya itu pak Tobi?" Batin Arjuna dengan heran.
Arjuna jelas tahu Pak Tobi karena dia adalah penjual buah yang sering Arjuna kunjungi. Seorang penjual buah yang selalu berwajah muram. Dia sering kali curhat kepada pembeli tentang keuangannya yang seret.
Namun mengapa hari ini Pak Tobi sangat bahagia?
"Seharusnya pak Tobi memasang wajah galaunya, mengapa sekarang sangat bahagia?" Arjuna mencoba untuk menerobos kerumunan yang mengerumuni pak tobi layaknya seorang artis.
"Haha! Aku beritahu kepada kalian! Ritual penggandaan uang itu nyata! Lihat aku berhasil menggandakan uang menjadi lima ratus ribu hanya bermodal lima ribu saja!" Ucap Pak Tobi sambil mengipas-ngipaskan lima lembar uang berwarna merah muda ke wajahnya di depan semua orang.
"Hah?!" Jelas Arjuna tercengang dengan apa yang dia lihat, "ritual penggandaan uang di Gunung Panderman itu nyata!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!