NovelToon NovelToon

Istri Kedua Suamiku

Perselingkuhan suamiku

Hari ini, Zahra berniat akan belanja keperluan sang buah hati, karena usia kehamilannya sudah masuk delapan bulan, agar ketika nanti mendekati persalinannya, semuanya sudah tersedia tanpa kekurangan apapun untuk sang anak pertamanya.

Zahra berkeliling di pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta, sembari mengelus perut buncitnya sesekali.

"Sebentar lagi kita akan bertemu nak, bunda ngak sabar bertemu denganmu," ucap Zahra, membawa bicara bayi di dalam perutnya.

"Kamu sudah aktif nendang-nendang, bunda senang sekali."

Zahra merasa dirinya sudah lapar, dia memutuskan untuk ke restoran ditempat yang sama.

Namun, saat Zahra sampai direstoran, matanya tertuju kepada dua insan yang sedang bermesraan ditempat ramai itu.

"Mas Roki," gumam Zahra,

"Ah tidak mungkin, mungkin aku salah lihat saja," lanjut Zahra lagi.

Tapi semakin Zahra lihat, dia benar-benar suaminya, sedang bersama perempuan lain.

Dengan langkah pelan, karena dia sudah tidak bisa berjalan cepat karena sedang hamil, Zahra ingin mendekati kearah laki-laki yang dia duga sang suaminya, namun niatnya urung, dia bersembunyi.

Tubuhnya bergetar saat dia mengetahui kebenaran tentang suaminya, dia tidak bisa mengatakan apapun, selain syok dengan pemandangan yang dia lihat.

"Tega kamu mas, ternyata selama ini kamu menduakan aku!"

Hatinya remuk tak berdaya, melihat sang suami yang sangat dia cintai, tega menduakan dirinya.

Pandangannya pilu, seketika rasa cintanya berubah dengan rasa sakit yang teramat dalam.

Zahra membuka tas, lalu mengambil ponselnya untuk memotret kebersamaannya dengan wanita lain.

"Aku tidak akan melabrakmu sekarang, tapi tunggu pembalasanku nanti, kamu tidak akan bisa mengelak apapun," batin Zahra, dia menyusut air matanya lalu meninggalkan tempat itu.

Zahra buru-buru meninggalkan pusat perbelanjaan itu, dia tidak mau kalo suaminya melihat keberadaan dirinya.

Zahra langsung masuk kedalam mobil, lalu meninggalkan tempat itu.

"Zahra, kamu kuat, kamu wanita kuat," batin Zahra.

Pandangannya kosong, lalu bibirnya tersenyum, tapi ada perih yang dia sembunyikan dibalik senyuman itu.

"Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku, mas! Apa yang harus aku katakan dengan kedua orangtuaku, sedangkan mereka sangat membenci dirimu, dan tidak memberikan restu kepada kita."

Zahra merasa selama ini sudah di bodohi oleh suaminya, dengan sikap palsu Roki.

 "Bisa-bisanya aku dibodohi selama ini," batin Zahra.

Zahra menancap gas, dengan kecepatan tinggi, emosinya sudah tidak bisa dia tahan lagi, kala mengingat sang suami yang sudah berkhianat.

Brak!

Mobilnya hampir menabrak mobil milik orang lain.

"Sial." Batin Zahra. Dia langsung keluar dari mobilnya.

"Maaf mas, saya tidak sengaja," ucap Zahra meminta maaf.

 Seorang pria tampan keluar dari mobil mewahnya, yang hampir Zahra tabrak.

"Lain kali kalo bawa mobil hati-hati," ketusnya.

"Iya mas, saya yang salah, karena pikirkan saya sedang kacau, jadi saya tidak berhati-hati membawa mobil," ucap Zahra.

Pria itu membuka kaca mata hitam yang melekat diwajah tampannya, lalu mendekati Zahra perlahan-lahan.

"Saya tidak peduli dengan pikiranmu itu," ucapnya ketus.

"M-maaf.." Ucap Zahra terbata-bata. Dia gugup menutupi rasa paniknya.

"Kalo tadi mobilmu menabrak mobil mewah saya, kamu tidak akan bisa ganti rugi," ucapnya sombong.

"Hei! Yang punya mobil seperti ini bukan hanya anda, kenapa anda sombong sekali," kesal Zahra,

"Saya bisa mengganti rugi, kalo memang saya merusak mobil mewah anda itu," lanjut Zahra, dia sangat kesal.

"Ck, dasar ibu-ibu bar-bar, lagi hamil juga marah-marah," ujarnya kesal.

"Mobil mewahmu tidak lecet kan, jadi saya akan pergi," kata Zahra, lalu dia meninggalkan pria itu.

Saat Zahra akan masuk kedalam mobil, niatnya urung, lalu dia membalikan badannya dan berjalan kearah pria itu.

"Sekali lagi saya minta maaf, karena saya membawa mobil tidak hati-hati," ucap Zahra dengan nada lembut,

"Saya selalu diajarkan meminta maaf, dan berterima kasih oleh kedua orangtua saya, kalo memang benar saya salah," lanjut Zahra.

Setelah mengatakan itu, Zahra langsung meninggalkan pria itu, lalu masuk kedalam mobilnya.

"Benar-benar perempuan aneh, tadi marah-marah, lalu minta maaf," batinya aneh, melihat sikap Zahra,

"Tapi saya kagum dengan kepribadiannya, karena dia mengaku salah, biasanya wanita akan selalu menganggap dirinya selalu benar."

***

Setelah mengalami cek cok dengan pria asing, Zahra langsung ke rumahnya, karena Zahra merasa capek.

Zahra membaringkan tubuhnya diatas sofa, mengelus perutnya yang sudah besar.

"Maaf nak, kalo kamu besar tanpa sosok seorang ayah, bunda benar-benar tidak bisa bersama ayahmu, setelah buda tahu kalo ayahmu selingkuh," ucap Zahra, membawa bicara bayi di dalam perutnya.

Saat mengatakan itu, tak terasa air mata Zahra mengalir begitu saja, rasanya sesak kala mengingat kejadian tadi, saat melihat suaminya berselingkuh dengan perempuan lain.

"Apa salahku mas, semuanya aku usahakan demi kamu," batin Zahra,

Zahra menatap sebuah foto pernikahan dirinya dengan suaminya, enam tahun yang lalu.

"Aku tidak menyangka, kalo kamu akan melakukan hal menjijikan ini mas."

"Dari awalnya orangtuaku tidak merestui kita, sekarang memberikan restu karena usaha aku meyakinkan mereka, tetapi sekarang kepercayaan itu sudah sirna."

 "Semua surat-surat penting, harus aku amankan dulu, agar mas Roki tidak mengetahuinya," batin Zahra.

Zahra masuk kedalam kamarnya, lalu dia mencari sertifikat rumah serta surat-surat penting lainnya.

"Untung saja semuanya atas nama aku, jadi akan mudah kalo aku jual," batin Zahra,

 Rumah yang dia tempati itu pemberian kedua orangtuanya, karena Roki berasal dari keluarga kurang mampu, jadi kedua orangtua Zahra tidak tega kalo anak perempuan satu-satunya harus hidup susah.

"Sudah aku angkat derajatmu jadi laki-laki terhormat, kamu malah menjatuhkan harga dirimu sendiri mas!"

"Aku memang sangat mencintaimu, mas! Tapi harga diriku diatas cinta. Aku tidak mau bertahan seperti orang bodoh di matamu!"

"Ternyata waktu enam tahun, tidak cukup membuat aku tahu bagaimana sifatmu, aku sudah terbuai dengan ucapan manis yang keluar dari bibirmu.."

Kali ini Zahra akan memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya, agar Roki tahu kalo Zahra tidak selemah yang Roki anggap.

"Aku selalu mengalah selama ini karena aku sangat mencintai kamu, bahkan aku tidak menuntut nafkah darimu, karena aku tahu kalo kamu tulang punggung keluargamu, tapi kenapa balasanmu seperti ini, mas. Aku benar-benar tidak menyangka," gumam Zahra pelan, menahan rasa emosinya.

Tapi nahasnya, Zahra tidak bisa menahan air matanya, sekuat apapun Zahra, dia tetap seorang wanita yang dikhianati suami yang sangat dia cinta.

  "Akan aku buat kalian lebih menderita dari pada aku, aku tidak akan memaafkan kalian. Karena kalian menyakiti aku, saat aku sedang hamil."

"Bajingan..Tunggu pembalasanku nanti," teriak Zahra, mengeluarkan semua rasa emosinya.

***

Membawa babu

"Seharusnya mas Roki sudah pulang sejak kemarin, tapi sampai hari ini dia belum pulang juga."

Zahra bukan khawatir dengan suaminya, tapi dia sudah tidak sabar ingin menemukan bukti lain tentang perselingkuhan suaminya.

Tok..

Lamunan Zahra buyai, kala mendengar suara pintu di ketuk.

Lalu Zahra melangkah dengan pelan kearah suara ketukan pintu itu.

"Mas Roki," ucap Zahra, menatap sang suami dengan tatapan penuh pertanyaan.

"Wanita ini kan selingkuhan mas Roki, kenapa dia membawa wanita ini ke rumahku," batin Zahra.

 "Siapa wanita yang kamu bawa itu, mas?" tanya Zahra.

"Nanti akan aku jelaskan, sekarang kita masuk dulu," kata Roki.

Roki membawa wanita itu masuk kedalam rumahnya, terlihat senyum menyeringai dari bibir wanita itu.

"Ayo duduk dulu sayang," ucap Roki tersenyum.

Zahra duduk disebelah suaminya, menatap lekat kearah seorang wanita yang sedang melihat-lihat seisi rumah dengan tatapan kagum.

"Kenalkan dia Ningsih," ucap Roki,

Roki menatap kearah Ningsih, seolah memberikan kode agar mengenalkan dirinya.

"Saya Ningsih mbak, kebetulan saya masih saudara dari ibunya mas Roki," kata Ningsih tersenyum.

"Lalu, apa keperluanmu kesini?" tanya Zahra dengan raut wajah ketus.

"Ningsih akan menjadi asisten rumahtangga disini," ujar Roki.

"Kan sudah ada asisten rumahtangga disini mas, dan juga asisten rumahtangga yang lama juga masih sehat, bisa mengerjakan seisi rumah disini," kata Zahra.

"Mas tahu sayang, tapi sebentar lagi kamu akan melahirkan, dan kamu akan sangat kerepotan dengan bayi kita," ucap Roki.

"Jadi maksud kamu, dia akan mengurus kamu mas?" ujar Zahra.

"Bukan sayang, tapi Ningsih akan membantu pekerjaan bi Inah," jawab Roki terdengar gugup,

"Permainan seperti apa yang kamu mainkan, mas. Tapi, yasudah aku ikutin permainanmu," batin Zahra.

"Kenapa tidak memberitahu aku dulu kalo kamu akan menambah babu disini mas," ucap Zahra.

Mendengar kata 'babu' Ningsih menatap tajam kearah Roki, seolah-olah dia ingin menjadi nyonya dirumah tersebut.

 "Karena mas pikir, kamu akan segera melahirkan, dan kebetulan Ningsih sedang membutuhkan pekerjaan," ucap Roki.

Zahra menghela napas, bukan saatnya dia marah-marah atau mencecar Roki dengan banyak pertanyaan.

"Yasudah, dia bisa kerja disini," ucap Zahra.

"Terima kasih sudah mengizinkan Ningsih bekerja disini sayang," kata Roki, wajahnya sumringah.

"Kita kan sudah di wajibkan membantu orang-orang miskin mas, jadi kenapa tidak," jawab Zahra.

Lagi-lagi jawaban Zahra membuat Ningsih kesal, ingin rasanya memaki Zahra, tapi dia tahan karena rencananya belum berjalan.

"Awas aja kamu mbak, kalo sudah aku dapatkan semua harta kekayaan mas Roki, aku akan mengusir kamu," batin Ningsih kesal.

 "Dan satu hal yang harus kamu tahu, panggil saya nyonya, dan panggil suamiku tuan, bukan mas!" tegas Zahra,

"Kamu mengerti, Ningsih!"

"Baik nyonya," jawab Ningsih gugup.

 "Sayang, anu.. Ada yang mau aku katakan lagi," ucap Roki dengan nada bicara gugup.

"Ada apa lagi, mas?" tanya Zahra.

"Ningsih biar tidur di kamar tamu saja ya, jangan dikamar belakang," pinta Roki.

"Jangan ngaco kamu mas, Ningsih disini cuman babu, kenapa harus tidur di kamar tamu," ujar Zahra kesal.

"Mas tahu, tapi Ningsih masih saudara aku, itu berarti saudara kamu juga, masa kamu tega," ujar Roki lagi.

"Saudaramu, bukan saudara aku, mas! Ingat itu. Dan Ningsih disini bekerja, bukan tamu," tegas Zahra lagi,

"Disini aku nyonya rumah, jadi aku yang berhak memutuskan sesuatu!"

Roki tercengang mendengar jawaban Zahra, selama ini Roki mengenal Zahra sebagai perempuan yang lemah lembut.

"Aku juga berhak atas keputusan dirumah ini, aku suami kamu, seharusnya seorang istri nurut dengan suaminya," geram Roki, nada suaranya sudah naik.

"Ya, seorang istri memang diwajibkan ta'at dengan suaminya, aku tahu, aku tidak bodoh. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, kalo rumah ini atas nama aku, pemberian orangtuaku, jadi kamu tidak berhak atas rumah ini," tegas Zahra,

"Jangan lupakan, siapa dirimu, dan berasal dari mana kamu, ingat, aku dan keluargaku yang mengangkat derajat kamu."

  "Zahra!" bentak Roki.

"Kalo kamu tidak setuju dengan keputusanku, silahkan bawa babu ini kembali ke kampungnya," ujar Zahra.

"Sudah nyonya, tuan jangan bertengkar. Nyonya benar tuan, saya disini sebagai pembantu bukan tamu, jadi ngak apa-apa kalo saya di kamar belakang," sahut Ningsih.

"Ya, sudah seharusnya kamu sadar diri," kata Zahra kesal,

"Bi.. Bi Inah," panggil Zahra.

"Iya non ada apa?" tanya bi Inah, yang langsung menghampiri majikannya.

"Antarkan Ningsih ke kamarnya bi, dia akan membantu bibi melakukan pekerjaan rumah," ucap Zahra.

"Baik non," jawab bi Inah.

Ningsih langsung dibawa oleh bi Inah..

Setelah mengatakan itu, Zahra meninggalkan suaminya, dengan langkah pelan, dia masuk kamar.

Lalu, Zahra duduk diatas kasur empuknya, dan dia mengambil ponsel diatas meja, Zahra menelpon seseorang.

 [Besok jam 11 siang, datang kerumahku, pasang CCTV disetiap sudut rumahku]

[Baik, saya akan kesana besok]

Setelah mengatakan itu, Zahra langsung menutup telponnya.

"Kita lihat, siapa yang akan menang dalam permainan ini mas," batin Zahra.

Ceklek..

Pintu kamar terbuka, terlihat Roki masuk dan mendekati Zahra.

"Maafkan aku sayang, tadi aku sudah kelewat batas," ucap Roki.

 Tidak ada jawaban dari Zahra, dia langsung bangkit dari duduknya, lalu mengambil handuk, guna akan mandi.

"Tidak biasanya dia marah seperti ini, biasanya dia selalu meminta maaf duluan," batin Roki aneh.

Roki tidak terlalu mengambil pusing dengan sikap Zahra, karena Roki tahu kalo Zahra sangat mencintai dirinya..

Sedangkan Zahra, dia masuk kedalam toilet, bukan untuk mandi, tapi hanya ingin menenangkan pikirannya.

"Mas Roki sudah terang-terangan membawa selingkuhannya kedalam rumah ini, kemungkinan suatu saat nanti, dia akan mengatakan semuanya," batin Zahra,

 "Selingkuhanmu dibawah diriku mas, dia hanya bermodal gatal saja denganmu, apa salahku sehingga kamu tega menduakan aku saat aku sedang hamil anak kita."

Zahra masih bertanya-tanya dimana letak kesalahannya, sehingga suaminya tega menduakan dirinya.

"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat demi diriku dan juga anak di dalam kandungan aku," ucap Zahra.

Zahra menyusut air matanya, lalu dia mencuci mukanya agar tidak kelihatan nangis.

Lalu Zahra keluar dari toilet.

"Kemana dia, apa dia menemui selingkuhannya," batin Zahra.

Zahra tidak mau ambil pusing, dia merebahkan tubuhnya, meskipun dia tidak kemana-mana tapi rasanya lelah.

"Semoga kelak, kamu tidak akan seperti ayah kamu ya nak." Zahra mengelus perutnya yang sudah besar.

"Bunda tahu kamu akan hidup tanpa sosok ayah, tapi bunda akan berusaha menjadi sosok ayah kamu."

Zahra sudah memutuskan akan berpisah dari suaminya, kalo semua bukti sudah ditangannya, sekarang dia akan mengumpulkan kebusukan suaminya.

"Tunggu pembalasanku!"

***

Babu tidak tahu diri

"Kenapa matamu sembab?" tanya Rika.

Rika sahabat Zahra, sekaligus pengacara hebat yang selalu menang saat di persidangan.

Rika terlihat sangat khawatir dengan Zahra.

"Lo kenapa, cerita sama gua," kata Rika, menatap Zahra.

"Bantu gua, supaya bisa cerai secepatnya dengan mas Roki," ujar Zahra, dengan tatapan kosongnya.

"Apa!"

"Lo bicara apa?" Rika kaget mendengar ucapan sahabatnya, karena dia tidak pernah mendengar gosip apapun tentang rumah tangga sahabatnya.

"Suami gua selingkuh," kata Zahra.

"Apa!" teriak Rika kaget, dia benar-benar syok mendengar ucapan sahabatnya.

"Jangan teriak-teriak, orang lain melihat kearah kita, Rika."

"Atur napasmu dulu," kata Zahra.

Rika mengatur napasnya.

"Oke, gua udah lumayan tenang, sekarang Lo cerita bagaimana kejadiannya," ujar Rika, dia memegang tangan Zahra seolah memberikan kekuatan kepada sang sahabat.

Zahra menarik napasnya, matanya menatap lekat kearah Rika.

"Gua juga belum tahu banyak, beberapa hari yang lalu, gua melihat suami gua bermesraan dengan wanita itu," kata Zahra.

Lalu Zahra memberikan sebuah rekaman di ponselnya kepada Rika.

"Wah gila, suami Lo brengsek, Lo lagi hami, dia malah asik dengan wanita lain," geram Rika.

"Tapi, satu hal yang akan membuat Lo syok, Rik," ujar Zahra.

Mata Rika menatap lekat kearah Zahra, seolah tatapan itu, tatapan penuh pertanyaan.

"Apa?" tanya Rika.

"Wanita itu ada di rumah gua," ucap Zahra.

"Apa!"

Lagi-lagi Rika syok mendengar ucapan sahabatnya.

"Dia namanya Ningsih, mas Roki membawanya ke rumah sebagai pembantu," ujar Zahra.

"Memang gila suami Lo, kita harus memberikan pelajaran," geram Rika.

"Gua pasti akan membalaskan perbuatan mereka, tapi ngak sekarang," kata Zahra.

"Maksud Lo, apa?" tanya Rika menatap aneh.

"Gua mau memberikan kesenangan buat mereka, setelah itu, gua akan menghancurkan mereka," jawab Zahra.

"Gua ngak ngerti, apa maksud Lo Zahra," kata Rika.

Kemudian, Zahra memberitahukan rencananya kepada Rika.

"Lo serius, itu akan membuang-buang waktu, dan Lo bakal lama melihat mereka berada di rumah," ucap Rika.

"Ngak masalah, gua aman," jawab zahra tersenyum manis.

Rika menatap sahabatnya, dia merasa kasihan dengan nasib tragis Zahra.

"Gua ngak tahu harus berkata apa. Tapi, gua akan membantu Lo, kapan pun Lo butuh," ucap Rika.

"Terima kasih Rik, untuk saat ini memang buat butuh suport dari orang tedekat gua," kata Zahra,

"Gua ngak tahu salah gua dimana, sampai suami gua tega selingkuh," lanjut Zahra.

Rasanya masih terasa sakit, saat mengingat pengkhianatan suaminya.

"Kenapa dia ngak melakukannya sedari dulu, kenapa harus sekarang, saat gua sedang hamil anak dia,"

 Rika hanya bisa memeluk Zahra, dia memberikan kekuatan kepada sahabatnya.

"Benar kata orangtua gua, kalo mas Roki memang bukan laki-laki baik," ucap Zahra.

Zahra langsung mengingat beberapa tahun kebelakang saat keluarganya menentang hubungan mereka, tapi Zahra meyakinkan keluarganya kalo Roki laki-laki baik yang akan menjaga dirinya.

"Gua salah, gua ngak mendengarkan omongan keluarga gua Rik," ucap Zahra, dengan suara tangis sesegukan.

"Lo ngak salah, Zahra. Yang salah itu laki-laki bajingan itu yang ngak bersyukur dapat istri seperti Lo," kata Rika mengelus punggung Zahra.

Zahra menangis di dalam pelukan Rika, menumpahkan rasa sakit yang tidak bisa dia bicarakan selain menangis.

"Gua akan selalu ada buat Lo," ucap Rika.

 Zahra menyusut air matanya, lalu melepaskan tubuhnya dari dekapan Rika.

"Maaf, gua nangis," ucap Zahra.

Rika menggelengkan kepala, "Ngak apa-apa."

 "Gua harus pulang Rik, sudah sore," kata Zahra.

"Gua antar, kebetulan arah kita sama, gua ada klien di daerah sana," ujar Rika.

 "Yasudah kalo tidak merepotkan," ucap Zahra.

"Tidak sama sekali," jawab Rika.

Lalu keduanya meninggalkan caffe, dan bergegas masuk kedalam mobil.

"Gua ngak tahu bagaimana reaksi keluarga gua, kalo tahu mas Roki selingkuh," ujar Zahra.

"Gua yakin, mereka akan lebih syok dari gua," kata Rika.

"Apa gua ngak usah cerita ya?" sahut Zahra.

"Bagaimana pun keadaan Lo, Lo harus cerita sama mereka, karena Lo akan pulang ke keluarga Lo, kalo ada apa-apa," ujar Rika.

Zahra menghela napas, rasanya masih berat untuk cerita kepada keluarganya, tentang masalah rumahtangganya.

"Tapi kan Rik, ini masalah rumahtangga gua," ucap Zahra.

"Gua tahu, tapi ini bukan masalah sepele Zah, kecuali Lo mau maafin suami Lo, dan lupain kalo suami Lo pernah menduakan Lo," ujar Rika,

"Selingkuh itu penyakit ngak ada obatnya, kecuali mati," lanjut Rika.

 "Lo benar, seharunya gua ngak ada pikiran kesana," kata Zahra.

"Lo tahu kan, siapa gua," ucap Rika,

"Seorang pengacara hebat, yang selalu menang saat persidangan," lanjur Rika.

"Iya deh," jawab Zahra tertawa.

Rika senang, akhirnya Zahra bisa tersenyum lagi, setidaknya dia melupakan rasa sedihnya, walapun cuman sebentar.

 Zahra turun dari mobil Rika, karena dia sudah sampai di depan rumahnya.

"Mobil mas Roki, tumben dia pulang masih sore, biasanya suka pulang malam," batin Zahra penuh penasaran.

Zahra masuk kedalam rumahnya.

"Sepi, bi Inah kemana?" batin Zahra,

"Bi, bi Inah.." Panggil Zahra.

Namun, bi Inah tidak menyahut panggilan dirinya.

"Ngak biasanya bi Inah keluar rumah, kalo bukan aku yang menyuruh," batin Zahra.

Zahra masuk kedalam kamarnya yang sepi tidak ada suaminya.

"Kemana mas Roki, dia tidak ada di dalam kamar," gumam Zahra.

Zahra langsung melangkah kearah belakang, dimana tempat khusus kamar pembantu.

"Mas Roki, kamu habis ngapain dari belakang?" tanya Zahra, saat dia melihat suaminya dari arah kamar Ningsih.

"Em a-anu sayang.." ujar Roki gugup.

"Anu apa mas, kenapa nada bicaramu seperti sedang ketakutan?" tanya Zahra.

"Tadi tuan membantu saya, karena di kamar saya ada kecoa nyonya," sahut Ningsih, yang keluar dari kamarnya.

"Kecoa? Rumah ini bersih dari berbagai hewan, bahkan semut pun tidak berani masuk," ujar Zahra.

"Saya serius nyonya, tadi ada kecoa di kamar saya," sahut Ningsih lagi, dia seolah membela dirinya agar tidak di curigai.

"Ningsih benar, tadi aku membantunya," kata Roki,

"Kamu jangan mikir aneh-aneh, Ningsih ini saudara aku," lanjut Roki membela dirinya.

"Memangnya kamu tahu apa dengan pikiran aku mas?" tanya Zahra, menatap tajam kearah suaminya.

Roki tidak menjawab, dia hanya melirik kearah Ningsih.

"Ah yasudahlah lupakan itu," kata Zahra,

"Kemana bi Inah, tidak biasanya beliau keluar tanpa sepengetahuan saya?" tanya Zahra lagi.

"Tadi bi Inah pamit keluar, katanya ada barang yang mau dibeli," sahut Ningsih.

Setelah mendengar jawaban Ningsih, Zahra langsung meninggalkan mereka.

"Kalian pikir aku bodoh, kalian pasti melakukan hal menjijikan saat aku tidak ada dirumah," batin Zahra,

"Untung di dalam kamar dia sudah dipasang CCTV, jadi aku akan melihatnya sekarang."

***

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!