"Senang bertemu denganmu di bumi yang begitu luas."
Itulah yang dia ucapkan di pertemuan kami yang pertama. Saat itu aku baru berumur 14 tahun. Aku melihatnya sebagai pemuda yang gagah rupawan dengan bola mata khas sejernih lautan.
Bumi yang katanya begitu luas, ternyata sangat sempit. Sebab, kami kembali dipertemukan ketika usiaku menginjak dua puluh tahun dalam sebuah momen pencarian calon pendamping pangeran. Tak kusangka, pria yang mencuri perhatianku waktu itu ternyata seorang pangeran dari kerajaan Veridia.
Julian kingsley. Orang-orang memanggilnya pangeran Julian. Dia adalah putra mahkota di negeri ini, calon pewaris takhta. Sepertinya takdir berpihak padaku tatkala ibu suri menjatuhkan pilihannya padaku sebagai calon pendamping pria itu.
"Nona Alone ..."
Seseorang terdengar memanggilku. Ya, namaku Alone Claney. Alone yang artinya sendiri. Entah apa yang dipikirkan mendiang ibuku saat memberi nama itu. Mungkin dia berharap aku akan menjadi pribadi mandiri yang tak bergantung pada orang lain. Kenyataannya, hidupku sesuai dengan namaku. Sendirian dan hanya berteman sepi. Namun, aku tidak ingin nama itu mengutukku seumur hidup. Untuk itu, aku pun menerima permintaan ibu suri yang menjadikanku sebagai calon pendamping pangeran.
Bukankah dinikahi oleh pria yang menjadi cinta pertama kita merupakan hal yang indah? Dengan menjadi calon istri putra mahkota, kuharap hidupku akan memiliki akhir indah seperti negeri dongeng. Akan kubuktikan nama yang sering disebut-sebut orang sebagai sebuah kutukan ini, hanyalah mitos belaka.
"Nona Alone ...." Seseorang kembali memanggil. Dia adalah Aster—pelayan pribadiku yang disediakan pihak istana untuk berada di sisiku. Meski kebersamaan kami baru setahun—seiring aku masuk ke istana—tapi kami sudah sangat lekat layaknya ibu dan anak.
"Nona, kenapa Anda masih berada di sini? Salju mungkin akan turun, Anda akan kedinginan."
Aku masih berdiri di bawah pohon, mengamati rerumputan yang terpangkas rapi.
"Sebentar lagi musim dingin akan usai dan berganti ke musim semi. Tepat saat bunga-bunga bermekaran, pernikahanku dengan pangeran akan dilaksanakan," ucapku sambil memandang bayang wajahku di kolam ikan yang keruh.
Aster lantas mendekat, berdiri tepat di belakang pundakku. "Apa Nona akan benar-benar menikah dengan pangeran Julian?" tanyanya dengan cemas.
"Tentu, upacara pernikahan tinggal sebulan."
"Maafkan atas kelancangan saya, tapi saya sering mendengar rumor dari para pelayan istana yang mengatakan pangeran diam-diam menjalin hubungan asmara dengan kepala pelayan di paviliunnya."
Ucapan Aster membuat seringai kecil tercetak di bibirku yang sedari tadi terkuncup rapat.
"Lantas kenapa?"
Mata Aster terbelalak mendengar respon santai dariku. "Bagaimana mungkin Anda bisa menerima penghinaan ini? Anda adalah keturunan bangsawan yang telah ditunjuk sebagai calon istri pangeran. Kecerdasan Anda dikagumi ibu suri, sedang kecantikan Anda memikat hati pangeran Flynn. Keanggunan Anda pun membuat iri wanita-wanita bangsawan lainnya. Tapi pangeran malah memilih berselingkuh dengan kepala pelayan yang usianya bahkan lebih tua darinya."
"Kudengar kepala pelayan di paviliunnya terkenal memiliki kecantikan yang luar biasa. Kurasa aku perlu mempelajari cara dia bersolek dan memperlakukan pangeran dengan baik," balasku dengan berusaha menunjukkan wajah tenang.
Mustahil untuk menepis rumor yang telah menjadi rahasia umum di kalangan pelayan istana. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah berpura-pura tak mempermasalahkan apa pun. Terdengar miris, kan?
"Nona, Anda terlalu naif. Saya mengerti pangeran adalah cinta pertama Nona, tapi ... tolong pikirkan lagi pernikahan ini! Di kalangan rakyat, pangeran dikenal sebagai pemimpin bengis yang selalu menyelesaikan masalah dengan pertumpahan darah. Apakah Nona ingin hidup bersama dengan orang yang tidak mengenal belas kasih?"
Pandanganku lantas mengembara pada hamparan langit malam yang kelam. "Tenanglah, Aster! Dengan menikahinya ... aku akan menjadi calon ratu. Di negara ini, keputusan ratu bisa memengaruhi keputusan raja. Ini akan mencegahnya berbuat semena-mena jika nanti ia menjadi raja. Lagi pula, berada di istana membuatku bisa lebih dekat dengan ayahku. Jika aku tidak menjadi calon istri pangeran, mana mungkin juga aku bisa bertemu denganmu."
Ya, ayah adalah alasan utama aku menyambut perjodohan ini, sebelum mengetahui pria yang akan menikah denganku adalah sosok yang menjadi cinta pertamaku. Sebagai kepala dokter kerajaan, dia telah mengabdikan seluruh waktunya untuk istana hingga tak punya waktu pulang ke rumah sekadar menemuiku. Itulah mengapa aku selalu merasa kesepian hingga di umurku yang sekarang.
Pembicaraan kami terhenti saat aku mendengar suara langkah-langkah kaki yang gesit. Ternyata itu adalah kelompok pelayan dari kediaman ibu suri, ibunda ratu Anne. Mereka menghampiriku dengan kepala yang tertunduk penuh hormat. Salah satu di antara mereka kemudian menyerahkan sebuah kotak kayu dengan ukiran rumit yang khas.
"Nona Alone, Anda diminta ibu suri Anne untuk memberikan ini pada putra mahkota sebagai bekal selama putra mahkota bertugas di kota Amberstone."
Aku hampir lupa kalau besok pangeran Julian akan berangkat ke Amberstone. Ini akan menjadi tugas yang harus ia jalankan sebelum pernikahan kami akan dilangsungkan. Aku pun segera mengambil kotak tersebut.
"Baik, saya akan segera ke kediaman pangeran Julian untuk memberikan ini padanya."
Malam itu, aku memutuskan pergi sendirian ke kediaman pangeran tanpa didampingi pelayan maupun pengawal seperti biasanya. Gaun yang berwarna kuning keemasan berayun mengikuti langkahku ketika memasuki taman luas yang gelap. Ada delapan prajurit berseragam serupa yang bersiaga di sana. Mereka langsung membungkuk hormat serta mendorong gerbang sebagai jalan masuk ke kediaman pangeran Julian.
Begitu gerbang dibuka, aku langsung dihadapkan dengan tiang-tiang besar yang menjulang megah di depan sana. Letak paviliun pangeran berada paling ujung istana. Tak sembarangan orang yang bisa masuk apalagi berlalu lalang di sekitarnya. Aku bisa melenggang masuk dengan bebas karena seluruh istana telah mengetahui statusku sebagai calon istrinya.
Kakiku bergerak tanpa suara kala mendengar sekelompok pelayan yang tengah bergosip sambil menoleh ke arah pintu kamar pangeran yang tertutup rapat.
"Ini gila, padahal besok pangeran akan bertugas di luar kota selama sebulan penuh, tapi pangeran lebih memilih menghabiskan waktu dengan kepala pelayan dibanding bertemu nona Alone."
"Ah, nona Alone yang malang. Kudengar sedari kecil hidupnya terasing dan tak terurus karena ayahnya lebih memedulikan keluarga kerajaan. Mungkin saat menjadi istri pangeran nanti, dia juga akan sering dicampakkan pangeran yang lebih tergila-gila pada kepala pelayan kita."
"Aku khawatir dia akan bernasib sama seperti ratu terdahulu."
Mendengar para pelayan dari paviliun kediaman raja, rasanya aku sedikit memaklumi kegusaran yang diutarakan pelayan pribadiku tadi.
Para pelayan itu tampak panik saat melihat kehadiranku yang berjalan ke arah mereka. Mereka buru-buru membungkuk hormat padaku. Aku lantas berhenti tepat di pintu ruang pribadi pangeran.
"Tolong kabarkan kehadiranku pada Pangeran, ucapku pada tiga pengawal pribadinya yang berdiri di sisi pintu kamar.
Ketiga pengawal dan para pelayan tampak gugup dan hanya saling berpandangan. Bertepatan dengan itu, samar-samar terdengar suara cekikikan pria dan wanita dari balik ruangan tersebut. Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat sambil menatap pintu baja di hadapanku yang tertutup rapat.
"Kalian semua keluar dari sini!" titahku pada prajurit dan pelayan yang bertugas.
Tak perlu memerintah kedua kali, mereka bergegas pergi meninggalkan aku yang sudah tak bisa menahan geram. Tepat saat aku membuka pintu kamar tersebut, sepasang netraku menangkap sang pangeran tengah bercumbu dengan kepala pelayan pribadinya.
Alone Claney
.
.
.
Hi saya Aotian Yu, ini nomor kesepuluh saya di aplikasi ini dan menjadi novel dengan genre historical romance pertama yang aku tulis.
Disclaimer dulu ya, novel ini bertema kerajaan fantasi, artinya semua tokoh dan juga setting tempat seperti kerajaan, negara dan kota fiktif belaka, tidak ada di dunia nyata. Novel ini akan memakai dua sudut pandang yaitu sudut pandang orang pertama (princess alone) dan sudut pandang orang ketiga (author).
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca. Tekan love agar ada notifikasi jika novel ini update. Jangan lupa berikan jejak jempol dan komentar sebagai bentuk dukungan ya!
Melihat kehadiranku, pelayan yang bernama Barbara itu lantas terkesiap sambil menaikkan kembali busananya yang sempat melorot. Ia bergegas pamit pada pangeran dan berjalan melewatiku sambil menunduk hormat. Berhadapan dengannya untuk pertama kali serasa membuatku kalah telak.
Ya, memang kuakui, kecantikannya sangat mencolok, bahkan memancar kuat. Rambut cokelat yang dibiarkan terurai, sepasang mata jernih yang indah, serta bibir yang seolah selalu tersenyum menjadi alasan mengapa seorang pangeran bisa jatuh hati padanya. Tak akan ada yang menyangka usianya mendekati empat puluh tahun, lebih tua dari pangeran Julian yang masih berusia dua puluh delapan tahun.
Selama ini aku berusaha menutup kuping dan memaksa tersenyum ketika mendengar gosip tentang mereka. Namun, melihat keintiman yang baru saja terjalin di depan mata kepala sendiri, tentu aku tak bisa bersikap baik-baik saja.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suaraku bergelombang berusaha menahan amarah.
"Itu seharusnya yang menjadi pertanyaanku! Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang menyuruhmu ke sini tanpa izin dariku?" Dingin dia berkata sambil merapikan kembali jubahnya. Bau alkohol menguar kuat dari mulutnya.
"Jawab dulu pertanyaanku! Kenapa pangeran yang begitu begitu terhormat, melakukan hal yang tidak terpuji bersama pelayan istana di saat pernikahan kita hanya tinggal sebulan! Aku benar-benar tak menyangka kau melakukan ini secara terang-terangan di dalam istana, bahkan di kediamanmu sendiri!"
"Memangnya kenapa?" Pria itu membentakku hingga garis rahangnya yang tegas terlihat begitu mengeras. "Ah, biar kuberi tahu, setelah kita resmi menikah nanti, kau tidak bisa melarang maupun mengusikku berhubungan dengan siapa pun! Kedudukanmu hanya sebatas pengisi kursi calon ratu, bukan untuk benar-benar jadi pasanganku."
Dengan miris aku menjawab, "Lalu kenapa pangeran tetap ingin menikah denganku? Apa karena mereka mengisyaratkan gelar duke¹ diberikan padamu hanya jika kau menikahiku?"
Pangeran Julian tersenyum ringkih sembari meneguk anggur. "Aku tidak peduli dengan gelar ataupun jabatan. Kenyataannya, aku tetap akan menjadi penerus takhta. Sayangnya, aku tidak bisa sembarangan menunjuk wanita yang kucintai untuk dijadikan ratu. Untungnya, pernikahan kita justru bisa menempatkan Barbara di sisiku. Sehari setelah pernikahan kita nanti, aku akan mengangkat Barbara sebagai selirku."
Seketika, kurasakan kakiku melemas hingga aku mundur selangkah. "Jadi kau memanfaatkan pernikahan ini agar bisa mengangkat Nona Barbara sebagai selirmu?" tanyaku pelan dan hampir tak terdengar.
Desas-desus hubungan terlarang antara pangeran Julian dengan pelayan memang sudah terembus sejak aku memasuki istana. Namun, saat itu aku terlalu percaya diri menganggap bisa mengambil hati pangeran. Ternyata, pangeran telah sepenuhnya menyerahkan hatinya pada Barbara, si pelayan yang memiliki senyum memikat.
"Ya, jika tidak, mana mungkin aku akan menikahi anak dari bangsawan tingkat rendah yang hanya bisa mengabdi di keluarga kerajaan selama bertahun-tahun." Suara hinaannya menggema di langit-langit ruangan.
"Pangeran menghina ayahku yang sudah merawat dan mendampingi Anda sejak kecil, sementara Anda sendiri memiliki hubungan terlarang dengan wanita berstatus pelayan." Aku melempar balasan yang tak kalah sengit.
Tawa pria itu menyeruak dari kerongkongan. Ia mengambil botol anggur lalu menenggak cairan merah tersebut hingga habis tak tersisa. Setelah itu, dia menoleh ke arahku sambil berjalan mendekat dengan gerakan yang sempoyongan.
"Kau ... sungguh wanita yang punya nyali!" ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Selama bertahun-tahun, aku sudah muak dengan ayahmu yang terus menempel di sisiku. Kenapa sekarang aku harus terikat pernikahan dengan anaknya?"
"Kalau begitu memohonlah pada Ibu suri Anne untuk membatalkan pernikahan kita!"
Dia kini menatapku dengan tajam seolah hendak menelanku hidup-hidup. "Kau lupa yang kukatakan barusan? Aku tetap membutuhkan pernikahan ini agar posisi calon ratu terisi. Tapi, aku penasaran, hal apa yang ada padamu hingga nenek sangat ingin kau menjadi pendampingku. Bagaimana kalau kau menunjukkan kelebihanmu malam ini padaku," ucapnya dengan intonasi lambat-lambat.
Dadaku mulai meletup-letup saat langkah kakinya beringsut ke arahku. Kelopak mataku bergetar dengan napas yang menderu. Tatapan mata legamnya yang begitu dominan seakan meringkusku, hingga membuatku tak sadar berderap ke pojok ruangan.
"Apa yang hendak pangeran lakukan?" tanyaku pelan.
"Datang semalam ini, bukankah kau memang berniat menggodaku? Lebihnya lagi, kau sudah mengganggu hal yang belum kutuntaskan dengan Barbara."
"Pangeran kau terlalu mabuk!" ucapku sambil bergerak ke samping untuk menghindarinya. Namun, detik berikutnya kurasakan tubuhku terangkat ringan. Dia meletakkan tubuhku di bahu kirinya dan membawaku ke ranjangnya. Kakiku lantas berayun-ayun berusaha berontak.
Aku dilempar bak karung beras di atas ranjangnya. Napasku memburu, gigiku bergemeletuk seiring ia mencengkram kedua tanganku untuk memblokir pergerakanku. Ini pertama kalinya kami bersirobok dalam jarak yang begitu dekat sekaligus berkontak fisik.
"Ternyata kau cantik juga. Baguslah, dengan begitu aku tak keberatan jika kau nanti kau benar-benar menunaikan tugasmu sebagai seorang istri," ucapnya sambil mengusap wajahku dengan gerakan intim. Wajahnya begitu menantikan kesenangan, menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang dalam pengaruh alkohol.
Aku mencoba melepaskan diri dari rengkuhannya yang menggila. "Pangeran, sadarlah kita tidak boleh melakukan ini! Aku calon istrimu, kau seharusnya tahu kan aturan turun-temurun yang berlaku di kerajaan untuk calon ratu?!"
Ya ada aturan pengantin kerajaan di negeri ini. Calon ratu diwajibkan masih suci dan tak tersentuh oleh lelaki mana pun. Bahkan, di malam pertama ada sebuah ritual turun temurun yang mengharuskan istri putra mahkota menunjukkan darah keperawanannya. Hal ini dikarenakan perempuan yang akan dinikahi putra mahkota akan menjadi ratu di masa depan. Oleh karena itu, mereka menuntut rekam jejak seorang ratu harus bersih.
"Ingat, jika kita gagal menikah, kau juga gagal menjadikan nona Barbara sebagai selir!" Bahkan dalam keadaan genting pun, aku berusaha bernegosiasi dengannya. Terkesan seolah aku siap menerima kehadiran selir di pernikahan kami nanti. Miris, bukan?
Seolah tak peduli dengan ucapanku, pria itu mulai menenggelamkan wajahnya ke leher jenjangku. Aku memberontak dari cekalan tangannya sekuat yang kubisa. Namun, ini jelas seperti tengah menghadapi benteng yang kokoh.
Tidak, dia memang calon suamiku dan pria yang menjadi cinta pertamaku, tapi aku tak ingin kesucianku direnggut dengan cara seperti ini. Selain itu, jika aku gagal menjadi calon ratu masa depan, sudah pasti istana akan membuangku dan aku tak bisa lagi berada di sisi ayahku. Sedangkan dia masih bisa mencari pengganti calon ratu untuk melenggangkan keinginannya menjadikan Barbara sebagai selir.
Satu tangannya mulai terlepas dari pergelanganku ketika ia berusaha menyingkap bawah gaunku. Kalut dengan situasi ini, aku meraih vas bunga yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Dengan refleks, kuayunkan vas bunga itu ke arah kepalanya hingga terdengar suara raungannya.
Dia tergopoh sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri ke lantai dengan kepala yang bersimbah darah. Melihat itu, aku lantas membekap mulutku sendiri. Seketika tanganku bergetar hebat. Jantungku terpompa begitu cepat. Tidak, aku tak bermaksud melakukan itu pada calon pewaris takhta negeri ini. Sungguh!
Suara ketukan pintu di luar sana terdengar, seiring kepanikan tengah menguasaiku. Bagaimana ini?
Pintu kamar mendadak terdobrak. Ternyata yang datang adalah ayahku dan ketiga pengawal setia pangeran Julian. Mata mereka kompak membola melihat pangeran Julian tergolek tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Dengan cepat, ia melarikan pandangannya ke arahku yang masih membeku di atas ranjang dengan penampilan yang cukup menjelaskan situasi yang baru saja terjadi.
"Ayah ... aku ... aku ... tidak bermaksud ...." Suaraku gemetar bercampur tangisan.
Pangeran Julian.
Barbara
.
.
.
Jejak kaki
Duke (Adipati): salah satu gelar kebangsawanan eropa yang kedudukannya di bawah Raja.
Ayah langsung memeriksa nadi pangeran. Tampaknya ia masih hidup walau tak baik-baik saja.
"Segera tutup pintu dan jangan biarkan satu orang pun masuk ke kediaman pangeran!" perintah ayahku pada ketiga pengawal pribadi pangeran Julian.
"Baik!"
Setelah melakukan instruksi ayahku, ketiga pengawal itu lalu membawa pangeran ke sebuah ruangan tersembunyi yang ada di kamar ini. Ayah pun pun bergegas mempersiapkan peralatan medisnya.
"Ayah," panggilku lirih dengan ketakutan pekat yang masih menyelimutiku.
Ayah menoleh pelan ke arahku. "Kembali ke kediamanmu dan jangan ceritakan masalah ini pada siapapun!" tegasnya.
Seperti yang dikatakan pangeran Julian tadi, ayahku—Barry Claney—memang seorang bangsawan tingkat rendah. Namun, karena keberhasilannya dalam penemuan peralatan medis modern abad ini, ia berhasil masuk ke istana dan mengabdi sebagai dokter kerajaan.
Ayah pernah bercerita, saat kecil, pangeran Julian sakit-sakitan hingga lebih banyak dirawat olehnya. Sampai sekarang pun, daya tahan tubuh pangeran Julian tidak kuat. Itulah mengapa ayahku selalu ditugaskan berada di sisinya untuk menjaganya.
Malam itu, aku tak bisa tenang dan terus memikirkan keadaan pangeran. Tubuhku menggigil seolah diselimuti balok es. Aku terus menangkup kedua tanganku, merapalkan permohonan pada Tuhan agar nyawa pangeran Julian terselamatkan. Tak masalah jika dia membatalkan pernikahannya denganku atau dia tetap ingin mengangkat nona Barbara sebagai selirnya. Sungguh, apa pun itu, aku hanya ingin nyawanya selamat.
Malam-malam berikutnya pun masih sama. Aku belum mendapat kabar apa pun dari ayah. Di dalam istana, raja, ratu, serta ibu suri hanya tahu pangeran Julian telah pergi ke Amberstone untuk menjalani tugasnya selama sebulan penuh. Karena pangeran Julian sering bersikap seenaknya, tak ada yang curiga dengan kepergiannya yang tanpa dilepas resmi oleh pihak istana.
Di hari ke lima, masih tak ada kabar apa pun dari ayah. Kuputuskan untuk menyelusup masuk ke kediaman pangeran Julian. Saat tiba di sana, ayah menggiringku ke sebuah ruangan yang tak pernah aku ketahui, di mana itu adalah ruang bawah tanah yang terletak tepat di bawah paviliun kediaman pangeran.
Aku terkesiap melihat pangeran Julian yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Wajah angkuh itu sungguh tak berdaya dengan peralatan medis yang membelenggunya.
"Kenapa pangeran belum juga sadar?" tanyaku cemas.
Wajah ayah tampak lelah dan suram. "Dia mengalami kerusakan otak parah yang membuatnya koma," jawabnya, "dengan keadaannya yang seperti ini, ayah khawatir, ini akan memakan waktu yang cukup lama. Bahkan melebihi waktu yang ditetapkan untuk tanggal pernikahan kalian," lanjutnya kembali.
Aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku. Sungguh aku tak menyangka gerakan refleks tanganku saat itu bisa mengakibatkan hal sefatal ini.
"Ini semua salahku! Ayah, biarkan aku bertanggung jawab untuk menjelaskan pada raja, ratu dan juga ibu suri tentang kronologi yang terjadi pada pangeran Julian!"
Saat Aku berbalik untuk bersiap menghadap raja, ayah langsung meraih tanganku seakan hendak mencegah yang hendak kulakukan. "Ini bukan sepenuhnya salahmu! Apa kau ingin memberi tahu kepada mereka bahwa pangeran berusaha memperk0samu? Jika iya, apa pun pembelaanmu, justru akan dituduh mencoreng nama baik keluarga istana. Sebab, itu akan menjadi aib besar pihak istana jika terdengar sampai di luar kerajaan. Lagi pula, luka itu bukanlah penyebab utama dia terbaring koma di sini."
Kalimat terakhir ayahku membuat dahiku membentuk lipatan. Sementara ayah kembali menolehku sambil berkata, "Pangeran mengalami overdosis opium¹ dan juga alkohol. Akhir-akhir ini, gelagatnya memang cukup aneh, seperti orang yang sedang kecanduan. Saat mengambil sampel darahnya, terdapat kandungan alkohol dan opium yang tinggi. Itulah yang menyebabkan ia mengalami kerusakan otak parah."
Aku menggeleng. "Tetap saja akulah yang harus bertanggung jawab. Aku bersedia dihukum karena telah mencelakakan putra mahkota," ucapku pasrah sambil tertunduk dalam.
"Apa kau ingin ayahmu dan ketiga pengawal setia pangeran ikut menerima hukuman karena dianggap tak becus menjaganya?" Ayah mendadak meninggikan nada suaranya.
Aku langsung menoleh ke arah ketiga pengawal yang berdiri di belakangku. Ekspresi mereka seakan menunjukkan pendapat yang sama dengan ayah.
"Bahkan meski kami telah mengorbankan waktu untuk di sisi pangeran, kami tak bisa mencegah pangeran berbuat hal-hal yang ditentang istana." lanjut ayah dengan penuh penyesalan.
"Lalu apakah kita harus terus merahasiakan keadaan pangeran? Bagaimana jika hingga menjelang pernikahan nanti pangeran tak kunjung siuman?"
Pertanyaanku membuat wajah ayah menggelap. Ia membelakangiku seraya memandang pangeran Julian yang terbaring koma di atas ranjang.
"Ayah sudah memikirkannya," ucap ayah tiba-tiba. "Hanya ada satu cara menyelamatkan situasi ini selagi pangeran belum siuman."
"Apa itu?" tanyaku cepat.
"Pergilah ke desa Albagard malam ini juga bersama Theo, Ciro, dan Sam," pinta ayah sambil menoleh ke arah tiga pengawal yang baru ia sebutkan namanya.
"Desa Albagard? Bukankah itu adalah daerah perkumpulan kelompok kiri¹ yang anti dengan kerajaan?" tanyaku mengingat-ingat beberapa kasus di wilayah itu yang sempat menggemparkan istana."
"Desa itu terlalu berbahaya untuk nona Alone, mohon serahkan tugas itu pada kami saja, Tuan!" pinta Theo dengan raut penuh kekhawatiran.
"Para pemberontak di desa itu sering menjarah barang-barang berharga milik bangsawan kerajaan yang datang ke sana. Itulah mengapa tak satu pun pejabat mau ditugaskan ke desa itu," imbuh Ciro.
"Ya, benar. Itu adalah desa yang paling ingin pangeran Julian musnahkan begitu ia dilantik sebagai Duke nanti." Kini giliran Sam menimpali.
"Tidak. Ini harus dilakukan olehnya. Kalian cukup mengawalnya ke desa itu," ucap ayah pada tiga pengawal tersebut.
"Tapi kenapa ayah memintaku ke sana malam ini juga? Apakah di sana ada obat mujarab untuk pangeran?" Alih-alih mendengar penuturan menakutkan tentang desa tersebut, aku malah penasaran mengapa ayah menyuruhku pergi ke sana.
Masih dengan menatap pangeran Julian, ayah berkata, "Carilah pria yang bernama Bright! Bagaimana pun caranya, kau harus bisa membujuknya ikut bersamamu dan membawa dia masuk ke istana menggantikan posisi pangeran Julian untuk sementara waktu. Ini satu-satunya cara untuk tetap mengamankan posisi putra mahkota sekaligus membuat pernikahan tetap berlangsung."
Ucapan ayah membuatku bingung sekaligus penasaran. "Bright? Siapa dia? Bagaimana mungkin ayah menyuruh aku membawa masuk orang asing ke istana. Apalagi harus menggantikan pangeran Julian," protesku tak habis pikir.
"Dia ... saudara kembar pangeran Julian."
Mataku melebar sempurna dalam sekejap diikuti suara terkejut ketiga pengawal. Kompak kami berkata, "Pa–pangeran Julian memiliki saudara kembar?"
Inilah babak baru dari kehidupanku. Mencari sosok pangeran yang terbuang dan membujuknya masuk ke istana untuk berperan sebagai pangeran Julian, saudara kembarnya.
Barry Claney (ayah Alone)
Theo (pengawal pangeran Julian)
Ciro (pengawal pangeran Julian)
Sam (pengawal pangeran Julian)
.
.
Jejak kaki
Opium : salah satu zat narkotika tertua yang dikenal manusia. Berasal dari getah tanaman Poppy.
Kelompok kiri : merujuk pada kelompok yang memiliki pandangan politik sayap kiri yang memiliki ideologi menekankan kesejahteraan sosial, keadilan dan sering kali menentang hirarki. Kalo di Indonesia tokoh sayap kiri yang terkenal ada Tan Malaka, sutan Sjahrir, Soekarno, termasuk juga Kartini.
3 episode awal nih guys, gimana pendapat kalian? kalian suka gak nih. Kalo rame langsung gua lanjut di sini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!