Jam berdering menandakan pukul 07.00 pagi. Suara ayam pun membantu membangunkan gadis itu. Suara Ibunya masih tidak mempan, hingga pada akhirnya ponselnya berdering. Jia terperanjat dari tempat tidurnya dan langsung mengangkat ponsel.
“Halo? Iya, iya, aku bentar lagi berangkat kok. Tungguin ya!!” Jia langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Namanya Syajia Nakira, biasa di panggil Jia. Ia tinggal di kota Bandung. Jia seorang gadis berusia 21 tahun, terlahir sebagai anak pertama dan mempunyai 2 orang adik laki-laki yang kembar berusia 14 tahun, mereka bernama Yoga dan Yogi. Jia terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Yanto yang bekerja sebagai seorang guru di sekolah swasta, dan Ibunya bernama Tiara sebagai ibu rumah tangga. Kesederhanaanya mampu membuat kehidupan Jia lebih berwarna. Ia lebih banyak belajar dari kehidupannya.
Setelah lulus SMA, Jia memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu dibanding langsung melanjutkan pendidikannya. Karena ia ingin memasuki perkuliahan dengan uangnya sendiri dan tidak mau membebani kedua orang tuanya. Dan juga, ia harus belajar menghidupi kedua adik kembarnya. Sudah cukup ia membebani kedua orang tuanya dan rasanya ia harus berusaha untuk tidak membebani mereka lagi.
Jia orang yang baik, sopan, ramah, dan sangat cantik, wajahnya yang putih dan bersih membuat semua orang terpukau saat melihatnya. Pakaian simpel tapi modern yang selalu ia pakai, rambutnya yang panjang dan hitam selalu ia ikat. Jia pun sangat sopan dan ramah, sehingga saat bertemu dengannya sangat mudah sekali akrab. Senyumannya yang memikat membuat semua laki-laki terpesona.
Dan hari ini adalah hari hari ia masuk kuliah, setelah satu minggu mereka di ospek. Dan setelah satu tahun bekerja dan mengumpulkan biaya sendiri untuk kuliah, akhirnya ia bisa mewujudkannya untuk melanjutkan perkuliahannya di bidang yang sangat ia inginkan, yaitu program studi ekonomi. Dan ia berharap, dengan segala perjuangannya ia bisa membanggakan keluarganya terutama kedua orang tuanya.
***
“Jiaa.. kamu kemana aja sih? Kebiasaan deh,” ucap Reina.
“Iyaa.. sorry banget, kita langsung masuk aja yuk! Nanti telat loh,” sahut Jia yang mengabaikan pertanyaan sahabatnya.
Reina adalah sahabat kecilnya, Jia biasa memanggilnya Nana. Dia orang yang sangat baik, ramah, dan cantik walaupun pecicilan, tapi Nana selalu ada menemani Jia dalam keadaan apapun. Mereka pun sudah lama bersama dari tk sampai sekarang. Dan Jia sudah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri. Hingga sekarang mereka masih berjuang bersama, bekerja dan masuk perkuliahan pun berbarengan.
Untung saja dosen di jam pertama belum datang, mereka pun menghela napas panjang dan lagi-lagi mereka selamat. Ya, ini sering kali terjadi karena Jia selalu bangun terlambat. Dan alasannya karena kebiasaan saat bekerja.
“Jia.. aku capek tahu setiap hari di kejar-kejar waktu mulu.”
“Sorry na.. aku janji deh besok-besok aku akan giat bangun pagi.”
“Aku pegang loh ya janji kamu.”
“Iya Reina..”
Setelah satu tahun lamanya, akhirnya Jia kembali lagi mengasah dirinya meskipun sedikit kesulitan untuk memulai lagi dengan kegiatan belajar. Karena setelah lulus dari sekolah Jia benar-benar langsung fokus ke dunia kerja dan tidak sempat meluangkan waktunya untuk belajar. Sehingga Jia dan Nana membutuhkan waktu belajar lebih ekstra dari biasanya.
“Na, gimana kalau kita luangin waktu buat belajar?”
“Ide bagus tuh Ji, gimana kalau setiap pulang kampus kita lanjut belajar di rumah kamu?”
“Boleh juga Na..”
“Oke kalau gitu kita mulai besok aja ya Ji, sekarang aku ada urusan.”
“Oke Na.. btw Na, teman kuliahan beda banget ya sama teman waktu sekolah.”
“Iya ya .. teman kuliahan pada cuek, kebanyakan mentingin diri sendiri.”
“Mungkin belum terlalu kenal jadi belum akrab.”
“Iya sih, tapi aku gak perduli kan masih ada kamu Jia sayang ..” sembari memeluk Jia.
“Ih apaan sih Na geli tahu!”
“Gapapa kali Ji, kan kamu sahabat aku ..”
“Ya tapi jangan sambil meluk-meluk dong!”
“Yaudah kali, gitu aja ngambek.”
Mereka bagaikan kakak beradik yang selalu bertengkar, namun kebertengkaran mereka adalah sebuah bumbu dalam persahabatannya yang membuat mereka bisa belajar mengerti satu sama lain. Mungkin persahabatan dari 2 orang terlihat tidak banyak menimbulkan masalah. Tapi, saat sekalinya mendapatkan masalah mereka akan menyalahkan satu sama lain dan kemungkinan besar akan membuat persahabatan mereka hancur bahkan akan saling membenci.
Selama ini, mereka tak pernah menimbulkan masalah yang membuat mereka jauh. Dan semoga tidak akan pernah terjadi masalah yang besar. Tapi, jika itu terjadi seharusnya mereka bisa menyelesaikannya karena sekarang mereka bukan anak kecil lagi sehingga bisa menyelesaikan masalah dengan pemikiran yang dewasa.
“Na, jam ketiga kan ada kuis. Ada waktu nih buat belajar dulu.”
“Yaudah kita belajar di perpustakaan aja yuk!”
Jia hanya mengangguk. Mereka pun bergegas pergi ke perpustakaan. Tak biasanya perpustakaan ramai, sehingga mereka tak menemukan tempat duduk. Hingga dari kejauhan terdengar orang yang memanggil nama mereka.
“Syajia, Reina,” ucap seorang lelaki sembari melambaikan tangannya kearah Jia dan Nana.
Mereka pun menghampiri Bima--orang yang baru saja memanggil mereka. Bima adalah teman satu kelas Jia dan Nana. Awalnya mereka tidak dekat, namun akhir-akhir ini Bima selalu ingin bergabung dengan Jia dan Nina.
“Kalian duduk disini aja.”
“Ya ampun kamu tahu aja sih Bim kita lagi cari tempat duduk,” sahut Nana dan langsung menyerobot ke tempat duduk.
“Makasih ya Bim..” ucap Jia.
Bima hanya mengangguk dan pandangannya berfokus pada buku yang sedang di pegangnya. Bima orang yang baik, cool, ganteng, sedikit humoris namun banyak cueknya, tapi di balik kecuekkannya dia sangat perhatian dalam hal sekecil pun.
Bima orang yang sangat pintar dikelas di tambah dengan parasnya yang mampu mengalihkan pandangan para wanita, badan yang tinggi kulit seputih susu, pahatan hidung yang sempurna, serta mata yang sipit dan semakin sipit jika dia tertawa. Sangat beruntung sekali orang yang bisa mendapatkanya. Bima selalu saja mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Jam pun sudah menunjukan untuk masuk kelas. setelah selesai kuis, Jia dan Nana bergegas pulang.
“Bim tunggu!” ucap Jia menghentikan langkah Bima.
“Hmm.. aku sama Nana mau belajar bareng, barangkali kamu mau ikut?” sambung Jia.
“Iya Bim, mau kan?” ajak Nana.
“Dimana?” jawab Bima.
“Di taman dekat kampus,” jawab Nana.
“Oh boleh,” sahut Bima.
Setelah sampai di taman.
“Oh iya Bim, boleh minta tolong? kamu kan pinter, boleh dong ajarin kita. Soalnya kita suka bingung sendiri sama materinya.” ucap Nana.
“kalau kamu berkenan Bim, kalau engga juga gapapa kok,” sambung Jia.
“Boleh aja sih. Tapi, kalian harus teraktir aku selama satu tahun,” ucap Bima.
“Yah.. kok gitu sih Bim, kita kan gak punya uang,” keluh Nana.
Bima terkikik geli. Jia pun ikut tertawa karena ia sudah mengerti apa yang sedang Bima lakukan.
“Loh kalian kenapa ketawa?” Nana mulai kesal.
Jia hanya tertawa.
“Aku cuma bercanda kok,” sahut Bima.
“Iih .. nyebelin banget sih,” Nana mulai memajukan mulutnya.
“Sorry Na, lagian mikirnya kemana-mana. Aku gak setega itu,” jawab Bima.
“Kalau gitu hari ini aku traktir deh Bim,” ucap Jia.
“Gak usah Ji!" sergah Bima.
“ Gapapa kok, anggap aja ini tanda terimakasih buat kamu.”
“Makasih ya Ji.”
Jia hanya tersenyum dengan tulus dan mengangguk.
Mulai hari itu pun Bima sering sekali meluangkan waktunya dengan Jia dan Nina, entah itu untuk belajar ataupun bermain. Sering kali Bima membantu Jia dan Nana dalam segala hal. Seakan dirinya ingin sekali membuat mereka bahagia. Jia dan Nana mungkin akan menganggapnya sebagai sahabat, namun entah yang dirasakan Bima. Bisa jadi Bima mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar teman.
***
Siang yang cerah dan tak terlalu panas. Tapi, tak biasanya Jia dehidrasi seperti ini, ia pun mampir ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin sebelum memasuki kelas.
“Na, kamu duluan aja ya, aku mau beli minum dulu.”
“Oke ...”
Setelah membeli minuman, Jia tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang sedang terburu-buru sehingga minuman yang dibawanya bertumpahan.
“Aduh ...” teriak Jia.
“Heh gimana sih? Kalau jalan tuh lihat-lihat!” ucap laki-laki itu geram.
“Sorry-sorry, aku gak sengaja.”
“Lihat nih! baju gue jadi basah,” ucap kembali laki-laki itu sembari mengusap-ngusap bajunya yang basah.
“Iya maaf, bajuku juga basah.”
“Makanya kalau jalan tuh yang bener!” bentak laki-laki itu membuat Jia tersontak.
“Loh kok jadi marah sih, aku kan udah minta maaf.”
“Ah sudahlah, gue lagi buru-buru,” ucapnya sambil berlalu meningalkan Jia.
Jia sangat kesal, rasanya ingin sekali ia memukul kepala laki-laki itu yang amat keras. “Ih ... siapa sih tuh orang, nyebelin banget deh!” gerutu Jia lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk mmbersihkan bajunya.
Saat dikelas.
“Jia, baju kamu kenapa basah?” tanya Nana.
“Barusan di kantin aku di tabrak orang sampe minumanku tumpah,” jawab Jia yang masih sangat kesal.
“Sama siapa Ji?”
“Aku juga gak tahu Na.”
Beberapa menit kemudian dosen mereka datang dan di ikuti oleh seorang laki-laki, dia memakai baju kaos dan kemeja terbuka, menggunakan celana yang sedikit robek dan penampilannya sedikit berantakan, akan tetapi parasnya mampu mengalihkan penampilannya.
Kulit sawo matang dengan rahang dan pahatan hidung yang sempurna, rambutnya yang hitam berkilau dan semakin manis dengan sedikit poni. Membuat semua perempuan terkagum dengan parasnya.
“Selamat siang, mohon perhatiannya teman-teman. Kelas ini ada kedatangan mahasiswa baru, silahkan untuk perkenalkan diri!” ucap dosen menyambut kehadiran laki-laki itu.
“Halo, nama saya Alvino, panggil aja Al,” ucap laki-laki itu dengan singkat.
Jia sangat terperanjat dengan kedatangan Alvino. Begitu pun dengan Bima, dia terkejut saat melihat Alvino namun dia berusaha menutupi rasa itu. Jia pun sangat tak percaya bahwa laki-laki berkepala keras itu akan satu kelas dengannya.
“Loh kok dia ada disini sih?” gumam Jia.
“Kenapa Ji?”
“Itu Na, itu orang yang udah nambrak aku tadi.”
“Dia yang udah nambrak kamu Ji? beruntung banget sih, ganteng banget tahu! aku juga mau dong di tabrak sama dia,” respon Nana yang sudah terpesona melihat Alvino.
“Iih Na ganteng dari mana sih? yang ada dia tuh nyebelin tahu!” ketus Jia dengan wajah kesalnya. Jia terus menatap Alvino dengan tajam, sedangkan Alvino menatap tajam kearah Bima dan Bima hanya memasang wajah coolnya.
“Hai Al, salam kenal ya ...” ucap salah satu wanita di sebrang Jia.
Dia adalah Cantika. Biasa di panggil Caca, orang yang selalu merasa dirinya yang paling keren dan paling cantik. Dia mempunyai dua orang teman yang selalu mengikutinya, yaitu Syeli dan Viola yang senantiasa mendukung dan selalu membelanya. Jika ada yang mengusik kehidupannya, pasti dia akan membuat rencan agar dirinya bisa menang.
“Mulai caper dia,” ucap Nana kesal.
“Sutt Na, nanti kedengeran loh,” sahut Jia.
Nana pun semakin kesal. Bagaimana mungkin gak berurusan dengan Cantika, kalau Cantika sendiri-lah yang selalu berbuat ulah sehingga banyak orang yang selalu membicarakannya meskipun dari belakang. Karena ya, mereka tidak mau berurusan dengan perempuan seperti itu.
Begitupun dengan Jia yang tak mau sahabatnya memancing urusan denagn Cantika. Nana yang mempunyai emosional yang tinggi tidak bisa menahan kejengkelan Cantika. Kelas pun berlangsung sampai sore.
Hari ini Jia, Nana, dan Bima meliburkan jadwal belajar tambahan mereka karena jadwal kelas hari ini sangat padat hingga sore. Saat berjalan menuju parkiran, Jia bertemu lagi dengan orang yang menambraknya tadi siang di kantin. Namun kali ini Jia di serempet oleh motor yang di tumpangi Alvino.
“Aww ...” jerit Jia yang kaget.
“Kamu!? Sengaja ya mau nyelakain aku? Kalau aku jatuh gimana?”
“Gak jatuh kan?” jawab Alvino dengan santainya. Membuat Jia semakin kesal.
“Ya, iya. Tapi aku kaget,” sahut Jia berusaha membela diri.
“Ya salah sendiri, karena lo jalannya ditengah.”
Belum sempat Jia membalas ucapannya, Al langsung menancapkan gas motornya dan langsung pergi jauh meninggalkan Jia. Jia pun semakin geram dengan kelakuan Al yang selalu membuat dirinya kesal.
Jia benar-benar tak mengerti, baru saja bertemu sudah membuat emosinya naik, apalagi bertemu setiap hari. Dan sialnya Jia harus bertemu kembali dengan Al di ruangan kelas yang sama.
Sesampainya di rumah, Jia langsung menceritakan apa yang terjadi padanya tadi sore pada Nana lewat telepon.
“Seriusan Ji?” respon Nana terkejut.
“Ya seriuslah Na, untung aja aku gak kenapa-kenapa. Dan yang paling nyebelinnya tuh dia malah pergi gitu aja Na tanpa bilang maaf,” jelas Jia.
“Ya ampun, syukur deh kalau gak kenapa-kenapa. Udahlah Ji, mungkin dia lagi buru-buru.” Nana beruhasa menenagkan sagabatnya itu.
“Ya gatau juga sih, tapi kan setidaknya bilang maaf gitu.”
“Iya Ji aku ngerti, sabar aja dulu mungkin dia belum sempat minta maaf.”
“Iya deh. Udah dulu ya Na, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Keesokan harinya.
Jia pergi ke kantin sendiri karena Nana sedang pergi ke toilet terlebih dahulu. Saat sedang menunggu makanan, tiba-tiba Al duduk di depan Jia dan mengambil minuman milik Jia lalu spontan meminumnya. Jia langsung memandang Al dengan wajah kerungnya. Kelakuan Al yang seperti itu mampu membuat Jia terusik dan geram.
“Kamu lagi? Ngapain sih ganggu aku terus?” Jia berusaha menahan emosinya.
Al yang masih meminum air Jia dan langsung menghabiskannya sampai tak menjawab pertanyaan dari Jia. Jia pun semakin kesal dengan sikap Al yang menurutnya tak sopan. Dan baru kali ini Jia bertemu dengan orang yang seperti itu.
“Sorry,” singkat Al dengan memasang wajah datarnya tanpa dosa.
“Sorry? Hah, kamu tuh gak tahu sopan santun ya?”
“Thank juga minumannya,”
Lagi-lagi Al tak menjawab pertanyaan Jia.
Dia malah mengabaikannya dan membahas hal yang membuat Jia semakin kesal dan marah.
“Mending kamu pergi deh, dan jangan ganggu aku lagi!” usir Jia.
“Loh kenapa?”
“Pergi sekarang, atau aku yang pergi?” ancam Jia.
“Oke-oke gue pergi, tapi lo jangan marah ya!” sahut Al yang merayu Jia dengan wajah usilnya lalu berlalu meninggalkan Jia.
Jia hanya terdiam, berusaha untuk mengontrol emosinya dan menguatkan kesabaranya. Karena kalau tidak, dia akan terus berurusan dengan Al dan Jia berharap tak akan pernah lagi bertemu dengan orang seperti Al.
Dari kejauhan Nana melihat Jia sedang menggerutu. kerutan kening dan wajah merah pun masih terlihat jelas di wajah Jia. Sepertinya tidak semudah itu meredakan emosi yang ditimbulkan oleh lelaki itu. Nana pun langsung menghampiri Jia dengan rasa penasaran.
“Ji, kamu kenapa?”
“Aku kesal banget Na sama kelakuan Al.”
“Al? dia kesini? Terus sekarang dimana?”
“Aku usir.”
“Loh kok diusir? Aku kan mau ketemu juga.”
Jia hanya membisu melihat respon sahabatnya. Bukannya menenangkannya, Nana malah menanyakan Al yang selalu membuat ulah. Pandangannya dengan Nana sangat berbeda haluan. Jia tak mengerti apa yang dilihat sahabatnya dari laki-laki itu, sampai-sampai tak memperdulikan sahabatnya sendiri.
“Iih Nana ... aku lagi marah tahu, kok kamu nanyain orang itu mulu sih?” kesal Jia.
“Eh iya sorry Ji, tapi kamu gak kenapa-kenapa kan?”
“Engga sih.”
“Yaudahlah dia kan gak ngapa-ngapain kamu, mungkin yang ada dia caper kali sama kamu ...” goda Nana.
“Ih sembarangan, gak mungkinlah!”
“Kalau iya, gimana?” Nana masih berusaha menggoda Jia.
“Udahlah jangan bahas itu! Mending kita makan aja.”
“Iya deh iya, awas loh ya kalau baper.”
“Gak akan mungkinlah Na.”
Jia sangat berharap Al tidak akan pernah mengganggunya lagi. Tapi sayang sekali harapannya pun tak terkabulkan. Rasanya ia selalu saja melihat Al dimana-mana. Dan saat berada di perpustakaan pun Jia bertemu dengan Al, lagi.
“Kamu ngapain disini? Mau cari gara-gara lagi?” ketus Jia dengan volume suara yang sedikit rendah.
“Ya terserah gue dong, emang perpustakaan ini punya lo?” jawab Al dengan volume suara yang sama.
Jia hanya terdiam dan melanjutkan kembali aktivitasnya yang sedang mencari-cari buku dan mengabaikan perkataan laki-laki itu. Al yang masih berdiri di dekat Jia berusaha untuk memulai percakapannya.
“Btw, kita belum kenalan. Nama gue Alvino,” sambung Al.
“Udah tahu,” jawab Jia singkat dan masih tetap sibuk mencari-cari buku.
“Nama lo?”
“Namaku Syajia, panggil aja Jia,” Jia pun menghentikan aktivitasnya dan mulai berbicara serius.
“Udah kan tanya-tanya-nya? Kalau udah, plis jangan ganggu aku!” Jia menatap mata Al dengan tajam.
“Tapi Ji, gue mau ...” belum selesai bicara, Al spontan menghentikan ucapannya saat Jia mengangkat tangan.
“Yaudah, kalau gitu aku yang akan pergi.”
Jia pun langsung meninggalkan Al yang masih tetap berdiri membeku. Al tak habis pikir bisa bertemu dengan perempuan seperti Jia. Yang selama ini menganggap semua perempuan selalu bisa di taklukinnya, tapi berbeda dengan Jia. Dia tak seperti perempuan yang lain, yang selalu terpesona ketika bertemu dengan Al.
Tak bosan-bosannya Al selalu saja menganggu Jia. Jia pun tak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa untuk terus bertemu dengan Al dan dengan waktu yang lama. Tak apa, ini akan membuat dirinya berlatih bersabar dalam situasi apapun. Meskipun kepalanya akan sedikit terasa sakit.
“Hai Ji..” Al menghentikan langkah Jia yang sedang menuju ke kelas.
“Kamu?” kesal Jia yang sedikit kaget.
“Iya gue,” jawab Al cengengesan.
“Gue benar-benar mau minta maaf, kalau selama ini gue selalu bikin lo kesal,” sambung Al.
Wajah Al pun seketika berubah saat mengatakan maaf pada Jia. Wajah yang semula menyebalkan seperti anak kecil nakal yang di jalanan, seketika berubah menjadi wajah yang lugu dan sopan. Jia pun merasa tak tega melihatnya, ia merasa bahwa Al benar-benar tulus meminta maaf. Hal seperti ini nih yang mampu membuat hati Jia luluh.
Jia benar-benar tak bisa menolak atas permintaan maaf Al. Dan pikirnya kita sebagai manusia haruslah saling memaafkan.
Jia menghela nafasnya. “Oke, aku maafin kamu.”
“Makasih banyak ya Jia,” ucap Al gembira. Mereka pun saling melempar senyuman satu sama lain.
“Ternyata Jia cantik juga ya kalau senyum,” bisik Al pada dirinya sendiri.
“Kenapa Al?” Jia pun tak mendengarnya.
“Eh enggak, gue cuma mau bilang. Gue bolehkan jadi teman lo?”
“Oh.. iya boleh.”
Mereka pun memasuki kelas bersamaan. Tak ada yang memperhatikannya kecuali Nana dan Bima. Bahkan Bima melihat Al dengan tatapan yang tajam dan terus menerus menatapnya sampai Al menduduki kursinya.
“Kamu habis dari mana Ji? Kok bisa barengan gitu sama Al?” tanya Nana penasaran.
“Aku habis dari toilet, kebetulan di depan aku ketemu Al.”
“Bener ni cuma kebetulan?” goda Nana.
“Jangan mulai deh, lagian dia cuma mau minta maaf.”
“Oh, terus kamu maafin?”
“Hmm, awalnya sih ragu, tapi aku maafin kok.”
“Nah gitu dong, bagus deh..”
***
Perkuliahan pun telah selesai. Hari ini Jia, Nana dan Bima akan melanjutkan kegiatannya untuk belajar tambahan. Kali ini mereka akan belajar di rumah Jia. Tetapi saat mereka akan berangkat, tiba-tiba Al menghampiri Jia dengan motor klasiknya.
“Al, kamu belum pulang?” tanya Jia.
“Hai Al,” Nana pun menyambar. Dan Bima terlihat sangat kesal melihat kedatangan Al.
“Hai, gue sengaja belum pulang karena gue mau ngajak lo pulang bareng. Lo mau kan?”
Jia terperanjat. “Pulang bareng? Tapi ...” belum sempat melanjutkan ucapannya, Nana memotong ucapan Jia.
“Ya mau dong Al, Jia pasti mau pulang bareng kamu, iya kan Ji?” Nana menarik tangan Jia memaksa untuk menjawab iya.
“Tapi Na,” lagi-lagi ucapan Jia dipotong.
“Gapapa kok Ji, aku juga mau langsung pulang. Jadi kamu bisa pulang bareng sama Al,” sambar Nana mendorong Jia untuk naik motor Al dan memastikan Jia untuk pulang dengan Al. Jia langsung menaiki motor Al walaupun terpaksa, ia hanya terdiam dan kebingungan.
“Yaudah, kita duluan ya,” pamit Al.
“Iya Al hati-hati di jalan!” ucap Nana yang sumringah karena sahabatnya bisa dekat dengan Al.
Berbeda dengan Bima. Dia malah semakin panas saat melihat Jia pergi bersama Al. dia terlihat begitu kesal dan marah, dadanya memanas dan bergetar, matannya pun memerah seperti banteng yang akan mengamuk. Tak sedikit pun Bima mengeluarkan suaranya sampai dia pun pergi meninggalkan Nana sendiri.
“Eh Bim mau kemana?” Nana kebingungan dengan kepergian Bima begitu saja. “Aneh banget. tapi gapapa, yang penting Jia bisa jalan sama Al,” Nana mengenyahkan kepergian Bima. “Selamat bersenang-senang Jia,” teriaknya sumringah.
***
Saat beberapa menit di perjalanan, Al membelokkan motornya ke sebuah kafe bernama singgah yang tak jauh dari rumah Jia.
“Loh kok berhenti disini?”
“Kita mampir dulu ya, gapapa kan?”
Jia hanya mengangguk, mereka pun masuk ke kafe tersebut. Saat di ambang pintu, Jia tertabrak oleh salah satu pegawai kafe yang terpeleset sampai lengan Jia terkena tumpahan kopi.
“aww …” jerit Jia.
“Ya ampun maaf Mba saya gak sengaja,” pinta pegawai itu.
Al yang melihat kejadian itu langsung mengamankan Jia dan menyambar memarahi pegawai tersebut.
“Kalau jalan lihat-hat dong, jadi kotor kan?” kesal Al.
“Maaf banget Mas saya gak sengaja.” Pegawai itu merasa sangat tidak enak.
“Udah Al aku gapapa kok, ini cuma kotor sedikit aja.”
“Tapi Ji …”
“Gapapa Al. Mba lain kali hati-hati ya!” ucap Jia dengan lembut.
“Iya Mba terimakasih, sekali lagi saya mohon maaf,” ucap pegawai itu menyesal sembari membungkukkan tubuhnya.
Mereka pun duduk di tempat biasa Jia dan Nana duduk. Lalu Al memanggil pegawai untuk memesan minuman.
“Eh Mba Jia, gak sama Mba Nana?” tanya pegawai yang biasa melayani Jia dan Nana.
“Engga Mba, tadi Nana udah pulang duluan,” jawab Jia yang terlihat akrab dengan pegawai itu.
“Mba Jia pesan yang biasa kan ya, matcha latte?”
“Yap betul.”
“Kalau Masnya mau pesan apa?”
“Saya pesan expresso.”
“Baik, ditunggu ya Mas, Mba.”
Mereka pun hanya tersenyum, otak Al mulai bertanya-tanya. Bagaimana tak penasaran, pegawai itu seperti sudah lama kenal dengan Jia. Raut wajah Al sangatlah ketara sehingga Jia pun sudah mengerti dengan raut wajah Al.
“Yap, aku udah sering banget kesini. Dari dulu, dari pertama kali kafe ini buka. Dan bisa dibilang rumah keduaku. Aku juga sering kesini bareng Nana.”
“Oh gitu ya. Gue mau tanya deh. Lo, kenapa sih gampang banget maafin orang?”
Jia tersenyum, “Hmm, lebih tepatnya sih aku mencintai kedamaian. Awalnya juga gak gampang,” Jia menghela nafas sekejap. “Tapi, aku belajar dari ayahku. Beliau bilang, kita sebagai manusia harus saling memaafkan karena dengan begitu kita akan mendapatkan balasan yang sangat indah,” jelas Jia.
“Tadinya aku juga belum mampu melakukannya, tapi dengan kebiasaan membuatku gampang untuk memaafkan,” Jia tersenyum manis di akhir ucapannya.
Al hanya mengangguk dan menyimak cerita Jia dengan perasaan yang kagum. Memandang wajah Jia yang mampu menimbulkan rasa nyaman di hati Al. Sampai pesanan mereka pun menghentikan pandangan Al pada Jia.
“Ini pesanannya, silahkan menikmati. Mas ini pacarnya Mba Jia ya?” tanya pegawai itu.
Jia dan Al terkejut dan saling menatap satu sama lain. Pantas saja pegawai itu mengira mereka adalah sepasang kekasih, karena mereka sangatlah serasi. Sampai-sampai pegawai itupun mengatakan mereka mirip. Apakah mereka berjodoh?
“Enggak kok Mba, dia teman baru saya,” ucap Jia bergegas.
“Oh gitu ya Mba, kalau gitu saya permisi.”
Al terus menatap wajah Jia. Ucapan pegawai itu membuatnya semakin menyukai Jia. Dan Jia memalingkan pandangannya sembari meminum minuman favoritnya karena merasa malu dengan ucapan pegawai itu.
Sesampainya di rumah Jia.
“Makasih ya, udah anterin aku pulang,”
“Dengan senang hati. Nganter setiap hari pun, gue ga masalah,” ucap Al tersenyum.
“Maksudnya?” Jia tak mengerti perkataan Al. Namun Ia pun melanjutkan perkataannya dan tak memberi Al peluang untuk menjelaskan maksudnya. “Lupain ajalah, yaudah aku masuk duluan ya. sekali lagi makasih.”
Jia langsung meninggalkan Al yang masih di depan pagar rumahnya. Al terus menatapnya masuk ke dalam rumah sembari menggurutu.
“Tu cewek gak peka apa gimana sih? Tapi, gue salut sih sama dia.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!