"Na na na~" kaki milik gadis kecil itu melangkah agak cepat diselingi lompatan kecil, mulut mungilnya bersenandung ria dengan tangan yang menenteng kantong plastik berisi beberapa buah ice cream.
'Gukkk! Gukkk!' suara anjing terdengar tidak jauh darinya, gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati seekor anjang dengan tali terlepas sedang menggonggong dan menatap ke arahnya.
Sontak ia terkejut dan spontan berlari kecil.
"Tolong!" teriaknya, sialnya para tetangga sepertinya sibuk semua.
"Huwaaaaa dasar anjing nakal!!!"
Matanya membulat saat kakinya tersandung, tidak sempat mengimbangi tubuhnya, ia pun jatuh tersungkur ke aspal, ia memejamkan mata, terpikir olehnya mungkin anjing dibelakangnya akan menggigitnya sekarang juga.
Gadis kecil ini bernama Ziya Ameera, imut, lucu, menggemaskan dan periang, tidak jauh berbeda dengan Alena, sebagai anaknya tentu ia mewarisi keras kepala dari Ibunya itu.
"Mama, tolong aku!" pintanya dalam hati. Ziya mengerjap beberapa kali saat mendengar suara anjing itu mulai menjauh.
"Kamu tidak apa-apa?" terdengar suara berat milik seorang laki-laki berusia 40 tahunan. Ziya dibantu berdiri.
"Makasih ya om. Ziya nggak apa-apa." kata Zia sembari menjawab pertanyaan dari pria yang membantunya.
"Hmm, lututmu lecet, Om bantu obati ya?" bujuknya.
Ziya diam sejenak, teringat pesan Ibunya agar tidak akrab dengan orang asing, Ziya pun memilih menolak bantuan pria itu.
"Makasih Om, Ziya nggak apa-apa kok, ini lukanya nggak sakit." tolaknya.
"Nanti iritasi, kamu jangan takut ya."
"Om nggak akan culik aku kan? Kata Mama kalau sama orang asing nggak boleh deket-deket, nanti diculik."
Pria yang menolongnya tidak lain adalah Pak Alex, ia terkekeh pelan. Sorot matanya tidak dapat disembunyikan, tersirat sesuatu saat melihat wajah imut Ziya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, tunggu sebentar ya, Om ambil Hansaplast untukmu."
Tidak berselang lama Pak Alex memberikan beberapa lembar Hansaplast pada Ziya.
"Ini aku bayar berapa Om? Kata Mama, Ziya nggak boleh minta-minta."
Ziya merogoh saku celananya.
"Ini, Ziya ada uang," kata Ziya sembari menyodorkan selembar uang dengan nominal Lima puluh ribu.
Pak Alex terkekeh, ia hendak memegang pundak Ziya, namun Ziya langsung sedikit menghindar.
"Om mau culik Ziya, ya?" tanyanya dengan raut wajah yang mulai menegang.
"Bukan, Om bukan orang jahat. Ini tidak usah dibayar."
"Sungguh?" tanya Ziya yang mulai tenang kembali.
"Iya. Mau Om antar pulang?"
Ziya menggeleng karena masih ingat pesan Ibunya.
"Rumah aku udah deket, Om. Makasih lagi ya."
Pak Alex tersenyum.
"Wajah kamu cantik sekali, membuat Om ingat pada seseorang, wajahmu tidak asing di mata Om."
"Makasih, Om. Aku memang cantik, hehe."
"Mama kamu pasti juga sangat cantik."
Ziya menghela napas, seolah ingin menyangkal tebakan Pak Alex.
"Papa, kenapa lama sekali?" seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Ziya tiba-tiba muncul sambil menekuk wajahnya.
Pak Alex menoleh.
"Iya, sebentar."
"Ini siapa?" tanya anak itu sambil menatap Ziya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kenapa liat aku kayak gitu?" tanya Ziya yang merasa diejek.
"Kenapa memangnya? Aku kan punya mata."
Ziya mendengus sebal.
Pak Alex menengahi kedua bocah yang sepertinya akan segera berkelahi, Ziya pun memilih pergi sembari menjulurkan lidah pada bocah laki-laki tersebut.
"Papa, lihat itu! Dia mengejekku." rengeknya.
Pak Alex hanya tertawa kecil, tawanya memudar saat menatap Ziya yang berlari.
"Anak itu kini benar-benar mirip Alena." gumam Pak Alex.
"Papa, ayo ke toko buku sekarang!"
"Iya,"
Pak Alex menggandeng anak itu, mereka segera masuk ke mobil dan pergi ke lokasi yang dituju.
○
○
○
Sesampainya di rumah, terlihat Alena sudah berdiri di teras rumah menanti kedatangan Ziya, melihat batang hidung puterinya yang sudah nampak, ia langsung berkacak pinggang.
"Hehe, Mama."
"Bagus ya, Mama tinggal olahraga kamu malah keluar nggak izin sama Mama."
"Maaf, Ma."
Alena melirik ke arah kantong plastik di tangan Ziya.
"Es krim lagi??"
Ziya hanya tersenyum.
"Terakhir ya, Ziya udah habis lima es krim siang ini, kalau nanti di ulangi, Ziya Mama hukum." ancam Alena.
"Iya, Ma. Janji."
"Bagus. Mana es krimnya."
Dengan berat hati Ziya menyerahkan kantong plastiknya pada Alena.
"Beli lima biji? Ziyaaaa, astaga."
Alena mengeluarkan satu Es krim dan langsung membuka bungkusnya.
"Wah Mama bukain Es krim buat aku," batin Ziya.
Senyum Zia pudar saat melihat Ibunya melahap Es krim miliknya di depan matanya langsung.
"Mama ihhhh!"
Alena terkekeh, ia langsung berlari, tentu Ziya mengejarnya.
"Mama, itu Es krim aku!"
...----------------...
Lelah berlarian, Alena dan Ziya duduk di meja makan sambil menikmati dingin dan segarnya Es krim yang Ziya beli tadi.
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
Alena terdiam sejenak.
"Gimana penampilan om itu?" tanya Alena.
"Emmmm, tinggi dan tampan, emmm wangi juga. Tapi anaknya jelek dan nyebelin."
Alena tertawa kecil.
"Siapa yang ngajarin kamu bilang orang lain jelek, hah?" tanya Alena.
"Dia kayaknya jahat. Kan kata Mama kalau orang jahat itu jelek." jawab Ziya dengan santai, jawaban anaknya langsung membuat Alena menepuk jidat.
"Oh iya, besok Ziya jadi sekolah kan, Ma?" tanya Ziya dengan begitu semangatnya.
"Jadi dong, malam ini nggak boleh tidur malem."
Ziya mengangguk pelan.
"Mama nggak bolehin Ziya tidur malem biar nggak liat Mama nangis ya?" tanya Ziya.
Pertanyaan Ziya membuat Alena merasa sedih.
"Anak Mama yang cantik, kamu nggak boleh tidur malem itu supaya nggak kesiangan, emang Ziya mau terlambat sekolah?"
Ziya spontan menggeleng.
"Besok Ziya udah kelas satu SD, nanti punya teman-teman baru, ingat pesan Mama, Ziya nggak boleh nakal, nggak boleh ganggu teman, dan apa?"
"Nggak boleh main keluyuran." sambung Ziya.
"Pinter..."
"Oh iya, kapan kita ke Papa?" tanya Ziya, Alena menghela napas.
"Ziya kangen lagi ya?"
Ziya mengangguk cepat, es krim ditangannya pun sudah lenyap, hanya tersisa cup dan sendoknya saja.
"Emmm nanti sore deh kita kesana."
Ziya kembali mengangguk tanda setuju.
"Sekarang Ziya mandi, habis itu tidur siang."
"Iya. Tapi nanti agak lama ya di Papa, Ma."
Alena mengangguk, dielusnya kepala Ziya dengan lembut, Alena menatap Ziya dengan tatapan sendu. Takdir seolah memintanya untuk selalu merasakan pahitnya hidup, tanpa bisa ia menolak, ia hanya bisa menerima dengan lapang dada.
Di toko peralatan sekolah...
Pak Alex dan anaknya tengah melihat-lihat barang yang terpajang rapi.
"Pa, anak perempuan tadi siapa? Papa kenal?" tanyanya.
"Xan, kenapa kamu penasaran?" Pak Alex bertanya balik.
Axan, putra Pak Alex, ia memiliki wajah rupawan dengan kulit persis pak Alex, cerah dan bersih.
"Soalnya baru ini aku lihat Papa dekat dengan anak kecil selain Xan, Pa." jawabnya.
Pak Alex tersenyum tipis.
"Suatu saat Papa akan cerita padamu, Xan."
Xan hanya menghela napas, Ayahnya ini sungguh sering pelit informasi padanya.
"Ayo pilih bukunya, Xan. Kita belum beli peralatan yang lain." titah Pak Alex.
"Iya, Pa."
Mereka berdua berdiri di tumpukan buku tulis, banyak motif yang menarik untuk anak kecil, Pak Alex tertarik pada buku dengan cover yang khas dengan anak perempuan, ia menyentuh buku itu dan teringat pada Ziya.
"Papa, Xan kan laki-laki, jangan disuruh pakai buku jelek itu." kata Xan yang salah paham.
Pak Alex menatap Xan.
"Papa tidak pernah mengajarimu seperti itu,"
Xan tertunduk.
"Maaf, Pa."
"Tidak ada karya manusia yang jelek, terkadang hanya tidak sesuai selera kita. Jangan pernah ulangi kesalahan seperti tadi,"
Axan mengangguk patuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai berbelanja perlengkapan sekolah, Axan dan Pak Alex segera menuju mobil. Tepat di lampu merah Pak Alex menghentikan mobilnya saat rambu lalu lintas menunjukkan warna merah, ia menoleh ke kanan tanpa maksud apa-apa, tidak disangka ia akan mendapat kejutan.
Mata Pak Alex membulat sempurna, jantungnya berdegup dengan cepat saat melihat mobil disamping, kaca mobil itu terbuka setengah sehingga terlihat dengan jelas siapa pengemudinya.
"Alena," ucapnya lirih.
Axan yang asik memainkan ponselnya tiba-tiba menyadari Ayahnya menyebut nama seseorang, ia langsung mengangkat kepalanya dan mendapati Ayahnya tengah menatap mobil lain, ia melihat pengemudi mobil itu seorang perempuan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Papa," panggil Axan, Pak Alex buru-buru mengalihkan pandangan.
"Siapa Alena?" tanya Axan.
"Papa belum bisa menjelaskannya sekarang padamu." jawab Pak Alex, sungguh jawaban yang tidak memuaskan bagi Axan.
"Hmmmm."
"Oh iya, Papa ikut hadir kan besok ke sekolah?" tanya Axan, Pak Alex mengangguk.
"Sepertinya nanti akan Papanya teman-teman akan banyak yang datang, Papa harus tampil keren ya."
Pak Alex menoel pipi Axan.
"Memangnya Papa jelek?"
Axan hanya tertawa kecil.
Lampu merah berganti warna hijau, mobil Alena melaju lebih dulu, Pak Alex sebenarnya penasaran ingin mengikutinya, namun ia malas berurusan dengan Axan.
"Papa," panggil Axan.
"Kenapa?"
"Ini kan bukan jalan pulang, Papa mau kemana?"
Pak Alex mengerjap, ia melihat sekelilingnya dan benar saja ini bukan jalan pulang ke rumahnya, ia melihat ke depan ternyata tanpa sadar ia mengikuti mobil Alena.
Pak Alex menepuk pelan jidatnya, ia segera mengambil arah lain.
"Papa kenapa?" tanya Axan yang khawatir pada Ayahnya.
"Papa mengikuti mobil perempuan tadi itu ya?" tanyanya lagi.
"Memangnya dia siapa? Apa dia yang Papa sebut Alena tadi?"
"Xan, mulutmu sejak kapan suka banyak bertanya?"
Axan mengerucutkan bibirnya, niatnya hanya ingin memberi perhatian pada Ayahnya, namun bagi Pak Alex lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alena tiba di rumah mertuanya, ia mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya muncullah seorang perempuan yang seumuran dengan dirinya datang membukakan pintu.
"Eh, Kak Alena. Kenapa tidak kasih kabar dulu mau kesini?" sambutnya dengan senyum ramah.
"Iya, Mira. Aku lupa tadi hehe. Papa ada nggak?"
"Ada, Kak. Ayo masuk." ajak Mira.
Saat masuk ke dalam rumah, terpampang sebuah foto pernikahan Ali dan Mira. Akhirnya Ali berhenti mengejar Alena setelah terus mendapat penolakan, ia dan Mira menikah 6 tahun lalu, namun hingga kini mereka belum dikaruniai momongan.
"Papa ada di kamar, Kak Alena mau langsung kesana?"
"Iya,"
"Ziya ikut, Ma." kata Ziya yang enggan melepas tangan Alena.
Alena menggandeng Ziya menuju kamar mertuanya.
"Kakek tumben di kamar, Ma." celetuk Ziya.
Mereka tiba di kamar Ayah Ahen, diketuknya pintu kamar karena tidak ingin langsung menerobos masuk.
'Tok tok tok'
"Pa, ini Alena."
"Masuk, Nak." sahut dari dalam, Alena pun membuka pintu, mereka masuk ke dalam kamar dan melihat mertuanya terbaring di tempat tidur.
"Papa kenapa?" tanya Alena yang khawatir, ia langsung menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangannya.
"Uhuk, biasa. Penyakit orang tua." jawab mertuanya dengan tenang.
"Kakek." Ziya ikut mencium punggung tangan kakeknya, kecupan hangat langsung mendarat di kening Ziya.
"Cucu Kakek ini sudah tidak sayang Kakek ya? Lama sekali tidak kesini."
"Mana ada, kemarin lusa kan aku seharian main sama Kakek. Masa udah pikun sih."
Alena ternganga mendengar cara bicara Ziya terlebih dengan gamblangnya ia mengatai kakeknya pikun, sontak Alena menoel lengan Ziya.
"Nggak sopan, Ziya."
"Eh, maaf Kakek." kata Ziya sembari merayu kakeknya dengan pelukan erat.
Ayah Ahen memeluk erat Ziya, cucu satu-satunya.
"Kakek, tadi aku diomelin Mama tau." Ziya mulai mengadu.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Ayah Ahen.
"Gara-gara aku beli Es krim nggak izin dulu, hehe."
Ayah Ahen mencubit pelan pipi Ziya.
"Jangan di ulangi ya, Mama kamu itu khawatir sama kamu. Jangan buat Mama kamu marah-marah ya, kasihan Mama kamu."
Ziya menunduk dengan raut wajah sedih.
"Iya, Kakek. Ziya salah."
Ziya langsung memeluk kakeknya lagi dengan manja.
"Kakek, besok Ziya mau sekolah loh, kelas satu SD. Ziya udah mau besar!" ucap Ziya dengan gembira.
"Nanti Ziya punya temen-temen baru," imbuhnya.
"Cucu Kakek sudah besar," Ayah Ahen menitikkan air mata, melihat bentuk mata dan bentuk mulut Ziya yang benar-benar seperti duplikat Ahen.
"Iya dong! Nanti bilangin sama Mama, tambahin uang jajan Ziya, gitu ya."
Alena menggaruk alisnya, mau heran atas sifat Ziya yang suka uang, tapi dirinya juga sama saja dengan Ziya.
"Papa, aku udah berusaha didik Ziya biar jadi orang sederhana, tapi ya masih begini aja nih anak." ucap Alena yang sungkan pada mertuanya, Ayah Ahen hanya tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Nak. Nanti Papa akan tambah uang sakunya."
Mata Ziya berbinar, sedangkan Alena menepuk jidatnya pelan.
"Yang penting uangnya tidak digunakan untuk hal yang tidak baik, kalau sampai Kakek tahu, nanti Kakek yang akan menghukum Ziya."
Ziya berdiri dan langsung memberi hormat layaknya melaksanakan upacara.
"Siap Kakek! Ziya akan mengatur uang yang benar dan tidak akan buang-buang Kakek." ucap Ziya dengan penuh semangat.
"Pintarnya cucu Kakek."
"Iya dong, aku juga baik kayak Kakek."
Alena menggaruk tengkuknya.
"Kakek! Tadi aku ketemu om ganteng loh, dia baik juga."
"Oh ya? Coba cerita."
Dengan penuh semangat Ziya langsung bercerita.
Puas bercerita, Mira membawa Ziya bermain, sedangkan Alena masih bersama mertuanya.
"Nak, kamu benar tidak ada kesulitan?" tanya Ayah Ahen, Alena mengangguk.
"Alena baik-baik aja, Pa."
"Maafkan Ahen ya, Nak. Papa minta maaf juga sudah ikut menyembunyikan semuanya dari kamu."
Alena tersenyum.
"Aku ngerti kok, Pa. Papa cuma mau liat kami bahagia. Aku nggak pernah nyalahin Papa." kata Alena sembari menggenggam tangaan mertuanya.
"Papa sakitnya kambuh lagi?"
Ayah Ahen mengangguk.
"Papa jangan terlalu banyak pikiran biar tensinya nggak naik,"
Ayah Ahen tersenyum mengingat Ziya, kehadirannya benar-benar membuat suasana hatinya berbunga-bunga, terlebih Ziya merupakan cucu tunggal di keluarganya sebab Ali dan Mira belum diberi momongan.
"Kamu hari ini mau ke makam Ahen?" tanya mertuanya yang disahuti anggukan oleh Alena.
"Mau gimanapun, Ahen tetap Ayah kandungnya Ziya. Dia berhak dapat kiriman doa dari puterinya."
Ayah Ahen menghela napas, ditatapnya Alena dengan seksama.
"Maafkan dia ya, Nak."
Alena mengangguk pelan.
"Petik bunga dan pandan di halaman belakang, minta bantuan Mira untuk mengiris pandannya."
"Nggak usah, Pa. Aku udah beli di jalan."
"Baiklah, Papa ikut ya."
Alena menggeleng.
"Papa istirahat aja ya, biar aku sama Ziya ke makam."
Ayah Ahen mengangguk patuh.
"Nanti mampir lah lagi kesini, Papa masih mau lihat Ziya."
Alena mengangguk, setelah itu ia pamit untuk pergi ke makam Ahen.
"Loh, Kakek nggak jadi ikut ya, Ma?" tanya Ziya, terlihat Ziya dan Mira sedang berjalan menghampiri Alena.
"Nggak, Kakek kan lagi sakit." jawab Alena seraya merangkul Ziya.
"Ohhh, kapan kita ke Papa, Ma?"
"Sekarang. Pamit dulu sama Tante."
"Tante, Ziya jalan dulu ya." pamit Ziya.
"Iya sayang, hati-hati ya." Mira mengelus pipi Ziya.
"Mira, kami berangkat dulu. Nanti kami kesini lagi." pamit Alena.
"Iya, Kak. Hati-hati."
Ziya melambaikan tangan saat melewati pintu rumah, Mira menatap sendu ke arah Alena dan Ziya yang berlalu, ia meraba perutnya sendiri yang masih rata.
"6 tahun..." ucapnya lirih.
"Beruntung sekali Kak Alena, punya Ziya yang pintar dan menggemaskan, selain itu dia juga menantu kesayangan Papa." imbuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di makam...
Hari sudah sore, Alena dan Ziya menaburkan bunga ke atas gundukan tanah yang merupakan makam Ahen.
"Papa, Ziya udah mau SD loh. Papa bisa liat Ziya nggak dari sana?" Ziya berbicara sembari memegangi batu nisan Ahen.
Alena menatap sendu ke arah Ziya.
"Mama kenapa?" tanya Ziya.
Tanpa menjawab pertanyaan Ziya, Alena langsung memeluk Ziya dengan erat.
"Maaf ya Nak, kamu harus jadi anaknya Mama."
Ziya menyeka air mata Alena.
"Aku seneng jadi anaknya Mama. Temen-temenku juga pasti banyak yang iri liat aku punya Mama yang cantik, kaya dan baik kayak Mama." ucap Ziya dengan senyum imutnya.
Alena menangis sesenggukan, ia merasa sangat sedih melihat Ziya yang saat ini tanpa ada sosok Ayah disampingnya. Beberapa ingatan masa lalu mulai menari di kepalanya, teringat saat kelulusan TK dulu Ziya hanya hadir didampingi dirinya, saat lomba mewarnai juga hanya didampingi olehnya, saat teman sebayanya digendong Ayahnya, Ziya hanya terus digendong olehnya.
"Kata Kakek, Ziya nggak boleh bikin Mama marah. Ziya minta maaf, Ziya udah sering bikin Mama marah-marah."
Ibu mana yang tidak terharu mendengar puteri kecilnya berkata demikian.
"Ziya nggak apa-apa kan kalau cuma hidup sama Mama?"
Ziya mengangguk.
"Nanti kalau Ziya udah besar terus nikah, Ziya nggak bakal kesepian lagi sayang." ucap Alena sembari membetulkan poni Ziya.
"Ada Mama aja Ziya udah seneng kok, Ma."
Alena menatap makam Ahen.
"Andai hari itu aku mau bertahan sama kamu demi Ziya, mungkin Ziya masih punya Ayah." batin Alena.
"Mama, udah mendung. Ayok pulang." ajak Ziya sambil menunjuk langit yang mulai menghitam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Belum sempat mereka keluar dari area pemakaman, butiran bening air hujan tiba-tiba turun dengan deras.
"Alamakkk!! Ayo Ziya!" Alena mengulurkan tangan untuk menggendong Ziya.
"Ziya lari aja,"
Ziya menggandeng tangan Alena dan mereka mulai berlari, Alena hanya bisa berlari kecil untuk mengimbangi langkah Ziya.
Pada akhirnya mereka tetap basah kuyup, setibanya di pintu pemakaman, langkah Alena terhenti saat melihat sosok laki-laki yang tidak lain adalah Pak Alex.
"Mama, kenapa berhenti?" tanya Ziya.
Ziya mengikuti arah mata Alena, ternyata didepan sana ada orang yang pernah Ziya temui.
"Mama, itu Om ganteng yang aku bilang."
Mendengar perkataan Ziya, mata Alena langsung membulat sempurna.
Pak Alex yang mengenakan payung segera berjalan menghampiri Alena dan Ziya, di tangan kanannya juga terdapat sebuah payung yang belum dibuka.
"Mama," Ziya kembali memanggil Alena yang tidak menggubris perkataannya.
"Itu yang kamu temui tadi?" tanya Alena kembali memastikan, khawatir ia hanya salah dengar.
"Iya, Ma. Itu Om yang tadi pagi." jawab Alena.
Pak Alex berhenti di depan Ziya dan Alena, tanpa berbicara sepatah kata ia langsung membuka payung di tangan kanannya dan memayungkannya diatas kepala Alena.
Alena mengambil alih payung tersebut dari tangan Pak Alex. Tatapannya masih menampakkan rasa terkejut, Pak Alex menatap Ziya lalu ia tersenyum.
"Kita bertemu lagi, Ziya." ucap Pak Alex, mendengar Pak Alex menyebut nama anaknya, Alena kembali dibuat terkejut. Darimana pak Alex tau nama Ziya? Bukankah selama 8 tahun mereka sama sekali tidak bertemu dan tidak tahu kabar? Itu yang ada dalam pikiran Alena.
"Lama tidak bertemu, Alena." sapa Pak Alex, tutur kata dan sorot mata yang tidak pernah berubah sedari dulu.
"Kak," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Alena.
"Kalian sudah hampir basah kuyup, segeralah pulang." kata Pak Alex.
"Makasih payungnya, Om!" ucap Ziya.
"Sama-sama." balas Pak Alex, mata Ziya membulat saat tangan hangat Pak Alex tiba-tiba mendarat di kepalanya.
"Pulanglah, nanti kalian masuk angin." ucap Pak Alex lagi.
Ziya mengangguk patuh, ia langsung menarik tangan Alena untuk pergi dari tempat pemakaman.
"Ayo, Ma!" ajak Ziya.
"Makasih, Kak." ucap Alena, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Pak Alex yang masih diam memperhatikan Alena dan Ziya yang kian menjauh.
Di dalam mobil, tiba-tiba tangis Ziya pecah.
"Nak, kenapa?" tanya Alena yang bingung sekaligus panik.
Ziya tidak menjawab, ia hanya menyentuh kepalanya.
"Sakit kepala?" tanya Alena, Ziya menggeleng.
"Tadi Om pegang kepala Ziya. Hangat, Ma."
Alena menggenggam tangan Ziya dengan erat.
"Nanti Mama bakalan elus kepala Ziya lebih sering ya." Alena mencoba menghibur Ziya, Ziya hanya mengangguk patuh.
Setelah Ziya mulai tenang, Alena pun melajukan mobilnya.
"Mama kenal sama Om tadi?" tanya Ziya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!