"𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺, 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 ... 𝘮𝘢𝘢𝘧. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶!" 𝘎𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢.
Sepucuk surat yang Gentala tinggalkan sebelum kabur tepat di hari pernikahannya, berhasil membuat kepala Elang dan Harleya berdenyut. Putranya tiba-tiba pergi tepat menjelang akad pernikahannya.
"Mas, gimana ini?" Harleya menatap suaminya cemas. Rasa takut dan khawatir menyelimuti perasaannya saat ini.
Sementara itu Elang tidak menanggapi pertanyaan istrinya, ia hanya memijat pelipisnya yang terasa semakin berdenyut.
Kenapa putranya kabur?
Bukankah selama ini Gentala sangat mencintai Sabrina?
Lalu, kenapa ia harus kabur di hari pernikahannya?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Harleya dan juga Elang. Namun keduanya tetap tidak menemukan jawabannya.
Gentala dan Sabrina berpacaran selama setahun belakangan ini. Kedua keluarga sepakat menjodohkan anak-anak mereka karena kebetulan orang tua mereka bersahabat. Tidak ada paksaan ataupun tekanan dari orang tua masing-masing, perjodohan itu murni atas persetujuan Sabrina dan Gentala.
Namun di detik-detik hari bahagianya, Gentala justru meninggalkan Sabrina tanpa alasan, hanya meninggalkan sepucuk surat yang itu pun ditujukan untuk kedua orang tuanya, Harleya dan Elang.
Di tengah-tengah kegelisahan kedua orang tua Gentala itu, tiba-tiba terdengar ketukan riuh dari luar. Belum sempat Elang mempersilahkan masuk, seseorang lebih dulu masuk ke dalam kamar yang di tempati Gentala itu.
"Mom, Dad, di luar ada keluarga Sabrina," ucap Nadeo, putra sulung Elang.
Tidak lama kemudian keluarga Sabrina masuk dan mempertanyakan kapan acara dimulai.
"Elang, kapan acaranya dimulai? Penghulu sudah menunggu sejak tadi," ucap Rako, Daddy Sabrina.
"Begini, mmm ... sebenarnya ... Gentala kabur," lirih Elang dengan nada tidak enak.
"Kabur? Kamu jangan main-main, Lang!" Suasana di ruangan itu berubah tegang seiring dengan suara Rako yang naik beberapa oktaf.
Elang menyerahkan secarik kertas yang berisi tulisan Gentala pada Rako . Pria paruh baya itu mengeraskan rahangnya setelah membaca isi surat itu. "𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢𝘳! 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪."
Rako meremas kertas itu dengan penuh amarah. Bagaimana tidak, dengan kaburnya Gentala akan menimbulkan spekulasi liar di kalangan para kolega bisnisnya. Bukan hanya itu saja, keluarga besarnya akan dipermalukan atas gagalnya pernikahan ini.
"Maafkan aku, Rako. Sungguh, ini di luar kendali ku. Aku tidak pernah berpikir Gentala akan melakukan hal ini," Elang sedikit menundukkan kepalanya. Ia juga merasa malu dan marah dengan tindakan putranya kali ini.
"Aku tidak mau tahu, kalian pikirkan sendiri bagaimana caranya membereskan kekacauan ini," ucap Rako dengan penuh penekanan. "Atau ... semua orang akan mempermalukan keluarga kita," ucapnya lagi.
Elang semakin frustasi di satu sisi ia memikirkan ke mana putranya pergi, dan di sisi lainnya Elang dituntut pertanggung jawaban dari pihak Sabrina atas semua kekacauan yang disebabkan oleh putranya.
...----------------...
Sementara itu, di ruangan lainnya, Sabrina tidak kuasa menahan air matanya saat mengetahui jika kekasihnya pergi meninggalkannya tepat di hari pernikahannya. Matanya memerah menyiratkan luka yang menggores sebilah hatinya, seiring air mata yang tak kunjung reda mengalir di pipinya.
"Kenapa Gentala ninggalin aku, Zel. Kenapa?" Wanita itu meraung di pelukan sahabatnya yang tak lain adalah sepupu Gentala, Arzela.
Arzela hanya diam, ia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan sahabatnya itu. Arzela tidak bisa membayangkan jika ia ada di posisi Sabrina saat ini. Dalam hatinya, gadis cantik itu mengutuk sepupunya yang tega menyakiti hati sahabatnya.
"𝘎𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢𝘳! 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘮𝘶!"
Arzela tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Gentala. Arzela sangat ingat sepupunya itu sangat menantikan hari ini, tapi kenapa justru ia sendiri yang kabur di hari bahagianya, benak Arzela penuh tanya.
...----------------...
Di sudut lainnya, para orang tua belum juga menemukan jalan keluar dari kekacauan yang disebabkan oleh Gentala. Kedua keluarga semakin panik, ditambah lagi bisik-bisik tamu undangan yang hadir semakin santer terdengar menggunjingkan kedua keluarga itu.
"𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘩 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢?" 𝘉𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘶.
"𝘈𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩?" 𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘱𝘢𝘭𝘪.
Masih banyak lagi bisik-bisik lainnya yang membuat telinga panas.
"Bagaimana ini, Lang? Sebentar lagi kita akan dipermalukan." Rako mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat jelas Daddy Sabrina itu kian tertekan.
"Aku punya solusi," ucap Harleya. Wanita yang masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu menatap Nadeo, putra sulungnya. "Bagaimana kalau Nadeo gantikan Gentala untuk sementara, sebelum Gentala ditemukan?"
Deg
Nadeo merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena jatuh cinta tapi karena mendengar ucapan mommy nya yang terlalu mengejutkan.
"Aku tidak setuju!" Elang dengan lantang langsung menolak ide gila dari istrinya itu.
Sementara itu, orang tua Sabrina masih terlihat menimbang solusi yang ditawarkan oleh Harleya. Mereka tidak ingin salah mengambil keputusan, mengingat Nadeo bukanlah anak kandung Elang dan Harleya. Rako maupun istrinya tidak ingin pilihannya itu tidak menguntungkan untuk mereka kedepannya.
"Kenapa Kamu tidak setuju, Mas?" Harleya menatap suaminya penuh selidik. "Ini demi nama baik keluarga kita. Memangnya Mas mau kita dipermalukan?"
"Aku lebih baik dipermalukan daripada harus mengorbankan perasaan putraku," ucap Elang dengan tegas.
Sedikit banyak Elang tahu putra sulungnya itu memiliki hubungan dengan Arzela di belakangnya. Elang juga tahu putranya itu akan melamar Arzela tepat di hari ulang tahun gadis cantik itu beberapa hari lagi.
"Perasaan apa yang Nadeo korbankan? Maksudmu perasaannya pada Arzela? Mereka sepupu, Mas. Tidak mungkin mereka bersama."
Harleya tetap bersikukuh, tidak ada pilihan lain selain Nadeo yang menggantikan Gentala.
Elang menggelengkan kepalanya tetap tidak setuju. "Mereka bisa bersama, Leya. Kamu tahu sendiri Nadeo tidak memiliki ikatan da---"
"Maksudmu Nadeo tidak memiliki ikatan darah dengan kita? Justru karena itu dia harus berkorban. Setidaknya, dia membalas budi pada kita yang selama ini sudah merawat dan membesarkannya."
Deg
Deg
Ucapan Harleya begitu menyayat hati Nadeo. Tangannya mengepal menahan rasa sesak yang mulai menjalar memenuhi ruang hatinya. Lagi-lagi mommy nya itu mengingatkan siapa dirinya, statusnya yang bukan siapa-siapa.
Semenjak Gentala lahir, Harleya memang terlihat membeda-bedakan antara Nadeo dan Gentala. Gentala selalu menjadi prioritas sedangkan Nadeo tidak pernah lagi diperdulikan.
Tapi Nadeo tidak pernah mempermasalahkan itu, ia sepenuhnya sadar statusnya hanyalah anak angkat di keluarga itu. Namun, Nadeo tidak menyangka jika perasaannya pun akan dikecualikan karena statusnya itu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ia di tuntut untuk balas budi.
Jika Nadeo tahu pada akhirnya akan seperti ini, mungkin lebih baik dari awal ia terima saja saat mommy kandungnya berniat membuangnya ke panti asuhan.
"HARLEYA KAMU---"
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan Mommy."
Bentakan Elang pada Harleya begitu menggema di dalam ruangan itu. Namun ucapannya itu menggantung begitu saja saat Nadeo memotong ucapannya dengan cepat.
"Deo, jangan dengarkan Mommy Kamu. Daddy tidak akan pernah membiarkan Kamu berkorban sebesar ini."
Elang memeluk putra yang sangat ia sayangi itu. Walaupun Nadeo bukanlah darah dagingnya, tapi tangannya lah yang membesarkan nya sejak putranya itu bayi.
"Dad, aku tidak apa-apa." Nadeo memaksakan senyumnya pada Elang, supaya Daddynya itu tidak khawatir. "Tapi, aku punya syarat."
"Katakan apa syaratnya? Mommy janji akan memenuhi apa pun permintaanmu, asal Kamu mau menggantikan Gentala."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
"Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Eleazar Hartono binti Rako Hartono dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!"
Sah
Sah
Sah
Nadeo tak kuasa menahan lelehan air matanya saat kata 'sah' menggema di ruangan itu. Bukan air mata bahagia layaknya pengantin pada umumnya yang akan menangis haru setelah kata akad. Namun, tangisan perih karena keterpaksaan. Tangisan yang memaksanya harus berpisah dengan kekasih yang selama ini menjadi pemilik hatinya.
Begitu juga Sabrina, wanita yang kini sah menjadi istri Nadeo itu meneteskan air matanya. Rasa bersalah dan kecewanya bercampur menjadi satu. Di satu sisi Sabrina sangat kecewa dengan Gentala yang menjadi penyebab kekacauan ini. Di sisi lainnya, ia merasa bersalah karena harus menikah dengan kekasih sahabatnya sendiri.
"𝘔𝘢𝘢𝘧!"
Satu kata yang terucap tanpa suara, saat tatapan Nadeo bertemu dengan mata coklat gadis pemilik hatinya.
Mata coklat itu tak lagi berbinar, tatapan itu penuh luka. Luka tak kasat mata yang menghancurkan hatinya berkeping-keping.
"Sekarang, pasangkan cincin ini di jari istrimu!"
Nadeo menoleh pada Harleya yang memberikannya sepasang cincin, dan memintanya untuk memasangkan cincin itu di jari manis wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.
Nadeo mengambil cincin itu, lalu memasangkannya di jari manis Sabrina. Namun tatapannya tidak lepas dari gadis pemilik mata coklat yang kini menundukkan wajahnya.
Nadeo mengepalkan erat tangannya saat melihat mata itu meneteskan air mata. Bahkan bahunya sedikit terguncang karena menahan isak tangis.
"Deo, ayo pasangkan!"
Suara Harleya kembali mengintruksi membuat Nadeo dengan cepat memasangkan cincin itu. Nadeo kembali mengalihkan tatapannya, namun gadisnya sudah tidak lagi di tempatnya.
"𝘒𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢?"
Arzela diam-diam keluar dari ruangan itu, ruangan yang begitu menyesakkan hatinya. Gadis cantik itu tidak tahan melihat orang yang sangat dia cintai bersanding dengan wanita lain. Walaupun keduanya sama-sama terpaksa, namun tetap saja hatinya terasa sesak, hatinya hancur.
"Hiks ... hiks ... kenapa rasanya sesakit ini?" Arzela memukul dadanya berulang-ulang berharap rasa sesaknya itu akan hilang. "Aku harus apa sekarang, apa aku sanggup tanpa Kak Deo?"
Terbiasa bersama Nadeo membuat Arzela kehilangan separuh jiwanya, separuh dunianya. Arzela mungkin masih bisa berpijak, namun ia kehilangan pegangannya.
Masih jelas dalam ingatannya, sebelum akad nikah itu terjadi, Nadeo datang menemuinya. Pria itu meraung, memeluknya erat.
𝘍𝘭𝘢𝘴𝘩𝘣𝘢𝘤𝘬
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘤𝘢𝘱, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪."
𝘋𝘦𝘨
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘮𝘶𝘬 𝘳𝘦𝘥𝘢𝘮. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘢 𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.
𝘕𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰, 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘯𝘺𝘢.
"𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢, 𝘕𝘢𝘬?"
𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯.
"𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪."
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘌𝘳𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢.
𝘋𝘦𝘨
"𝘋𝘦𝘰 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺---"
"𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘢𝘴 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪."
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘰𝘱𝘢𝘯, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘪𝘥𝘰𝘳 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘴𝘵𝘶𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢. 𝘕𝘢𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭, 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳. 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢. "𝘡𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬. 𝘋𝘦𝘮𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 ... 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶."
𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢.
"𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯𝘱𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱."
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘳𝘶𝘱 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘨𝘶𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢."
𝘋𝘦𝘨
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬! 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪." 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘱 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘵𝘪𝘳 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯.
𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.
"𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘒𝘢𝘬," 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳, 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴, 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘶𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 ... 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢.
𝘍𝘭𝘢𝘴𝘩𝘣𝘢𝘤𝘬 𝘰𝘧𝘧
Di taman tidak jauh dari hotel tempat akad nikah Nadeo dan Sabrina, Arzela meraung meluapkan rasa sesak yang bersarang di hatinya. Tidak mudah mengikhlaskan orang yang selama ini selalu berada di sampingnya menikah dengan wanita lain.
Tangisan Arzela perlahan berhenti saat merasakan usapan halus di surainya.
"Om ..." Elang berdiri tepat di belakang Arzela. Pria paruh baya itu tersenyum getir menatapnya.
"Maafkan Om, Zela. Ini semua salah Om."
Elang melihat Arzela saat keluar dari hotel, pria paruh baya itu diam-diam mengikutinya, karena tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada keponakannya itu.
Dan benar saja, Elang melihat Arzela menangis. Keponakannya yang selalu ceria itu, meneteskan air matanya.
Elang benar-benar merasa bersalah, ia juga malu pada dirinya sendiri. Hanya demi menjaga nama baik keluarga, ia harus mengorbankan cinta Nadeo dan Arzela.
...----------------...
"Mulai sekarang, aku bukan lagi bagian dari keluarga ini."
Nadeo meletakkan id card dokter-nya di atas meja, yang artinya Nadeo juga melepaskan pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit milik Elang. Ia benar-benar ingin terbebas dari keluarga Erlangga, dari hal sekecil apa pun.
"Nadeo, tunggu! Kamu tidak harus melakukan hal ini. Kamu tetap direktur di Erlangga Hospital."
Ucapan Elang berhasil menghentikan langkah Nadeo yang hendak keluar dari rumah keluarga Erlangga.
Nadeo menggelengkan kepalanya, bukan ia tidak menghargai orang yang selama ini merawatnya, hanya saja Nadeo benar-benar ingin terlepas dari keluarga itu.
"Maaf Dad, aku tidak bisa menerimanya. Aku takut tidak bisa membalas budi pada kalian."
Deg
"Selamat Harleya. Kamu berhasil menghancurkan hati banyak orang," gumam Elang sambil menatap nanar punggung putranya yang semakin menghilang.
"Mas, aku---"
"Sebegitu penting kah nama baik untukmu? Sampai-sampai Kamu harus mengorbankan hati yang tak bersalah."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
"Dad, kasihan Adek. Dia tidak punya siapa-siapa di sana."
Hazelle terus menangis sejak Elang memberinya kabar jika Nadeo menikah dengan Sabrina pagi tadi. Elang juga menjelaskan alasan Nadeo menggantikan Gentala. Karena Elang tidak mau Kaivan menganggap Nadeo mengkhianati Arzela.
Tidak hanya Elang, Nadeo pun lebih dulu mengabari Kaivan. Nadeo meminta maaf pada Kaivan, karena tidak bisa menepati janjinya.
Kaivan ingin marah, tapi ia juga tahu bukan Nadeo yang bersalah. Nadeo juga korban dari keegoisan seseorang yang lebih mementingkan harga diri dan nama baik keluarga.
Nadeo bukan tidak bisa memperjuangkan cintanya pada Arzela, namun ia terjebak lingkaran balas budi yang membelenggu nya.
Hazelle sangat shock, pasalnya ibu satu anak itu diam-diam mengetahui hubungan antara putra angkat Elang itu dengan putri bungsunya, Arzela.
Hazelle membayangkan pasti putrinya patah hati karena pria yang dia cintai menikahi wanita lain. Ditambah lagi Arzela tidak memiliki siapa pun di sana, selain Nadeo.
Hati ibu mana yang tidak sedih membayangkan putrinya menangis sendirian, sementara dirinya tidak berada di sampingnya.
Kaivan tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluk dan menenangkan istrinya. Kaivan sama hancurnya dengan Hazelle, ia marah, kecewa, ia ingin meraung. Namun Kaivan hanya bisa menahannya karena tidak ingin membuat kesehatan Hazelle semakin memburuk.
Kaivan takut jika ia ikut emosi akan membuat Hazelle semakin histeris.
Beberapa hari ini kesehatan Hazelle menurun, ia dirawat di rumah sakit sudah hampir sepekan. Karena itu Hazelle dan Kaivan tidak bisa pulang ke Indonesia untuk menyaksikan acara pernikahan Gentala dan Sabrina.
Hazelle dan Kaivan menetap di London, begitu juga Arzelo. Hanya Arzela yang tinggal di Indonesia sejak sekolah menengah pertama. Arzela memaksa untuk tinggal di Indonesia dengan alasan ingin menemani kakek dan neneknya. Padahal yang sebenarnya gadis cantik itu ingin selalu dekat dengan Nadeo, sepupu angkatnya.
Bahkan setelah kepergian kakek dan neneknya tiga tahun silam, Arzela tidak ingin kembali ke London. Ia tetap tinggal bersama keluarga Elang. Dan lagi-lagi itu karena Arzela tidak ingin jauh dari Nadeo.
Hazelle dan Elang tahu putrinya itu menyukai Nadeo, dan begitu pun sebaliknya. Bahkan tanpa sepengetahuan Arzela, Nadeo sudah mengatakan pada Kaivan jika dia mencintai Arzela dan ingin meminang Arzela suatu hari nanti, karena waktu itu usia Arzela masih 17 tahun, masih terlalu muda untuk berumah tangga.
Nadeo pun ingin memantaskan dirinya terlebih dahulu untuk layak bersanding dengan kekasih hatinya. Nadeo mengikuti jejak Elang, menjadi seorang dokter ahli bedah saraf. Bahkan sejak beberapa bulan yang lalu, Nadeo sudah menduduki posisi direktur utama di Erlangga Hospital.
Bukan karena Nadeo putra Elang, tapi karena Nadeo memang pantas menduduki posisi itu. Walaupun tanpa persetujuan Harleya, karena istri Elang itu ingin putranya, Gentala yang menduduki posisi itu.
Dan sekarang, di saat Nadeo sudah cukup pantas untuk Arzela, dan Arzela pun sudah cukup dewasa untuk menikah, namun semesta tidak berpihak pada keduanya. Takdir merenggut kebahagiaan mereka.
"Biar Abang saja yang ke sana, Dad, Mom."
Suara si tampan Arzelo berhasil mengalihkan perhatian kedua orang tuanya yang tengah saling memeluk. Dengan langkah tegapnya putra sulung Hazelle dan Kaivan itu berjalan menghampiri Mommynya yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien.
Kaivan sedikit memberi jarak, ia membiarkan putranya untuk menenangkan Mommy nya.
Arzelo memeluk tubuh ringkih Hazelle, ia berbisik lirih di telinga wanita hebatnya. "Abang akan bawa Ade pulang. Tapi Mommy harus janji, Mommy harus sehat."
Hazelle mengangguk cepat, "Mommy janji."
Mata teduh putranya itu selalu berhasil membuat Hazelle luluh. Kadang itu juga yang membuat Kaivan merasa cemburu pada putranya. Hazelle lebih menurut pada putranya dibanding dirinya.
Namun Kaivan tidak memungkiri, putra sulungnya itu memiliki daya pikat yang kuat. Siapa pun yang berhadapan dengan Arzelo selalu dibuat bungkam oleh pesona pria gagah itu.
Setelah melepaskan pelukannya dari Hazelle, Arzelo pamit. Seperti janjinya, putra sulung Kaivan itu akan pergi menjemput adik kesayangannya.
...----------------...
Di kamar hotel yang elegan dan romantis, lampu-lampu yang lembut dan hangat memancarkan cahaya yang menenangkan. Sementara serpihan kelopak mawar merah yang membentuk love menghiasi ranjang pengantin menambahkan sentuhan romantis.
Namun sepasang pengantin yang baru saja sah menjadi suami istri itu, duduk canggung dan berjarak. Suasana romantis tak membuat Nadeo dan Sabrina larut di dalamnya. Keduanya bungkam, sama-sama bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Kak---"
"Rin---"
"Kakak duluan saja," lirih Sabrina. Wanita itu kembali menundukkan kepalanya.
Nadeo menghembuskan napasnya berat, entah pernikahan apa yang akan ia jalani kedepannya. Namun untuk saat ini Nadeo tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia butuh waktu untuk menerima keadaan yang terlalu mengejutkan ini.
"Maaf, Kamu harus terjebak pernikahan dengan ku. Tapi aku janji sama Kamu, aku tidak akan pernah menyentuhmu."
Deg
Entah kenapa ada rasa sesak saat Nadeo mengucapkan kalimatnya itu.
"Kenapa?" Tanya Sabrina.
Pertanyaan yang membuat Nadeo mengernyitkan keningnya. Kenapa Sabrina harus bertanya kenapa, pikir Nadeo.
"Maksudmu?"
Sabrina terlihat gelagapan saat Nadeo membalikkan pertanyaannya.
"I--itu ... maksudku, Kak Deo kan suamiku sekarang. Kenapa tidak mau menyentuhku?"
Pertanyaan Sabrina membuat Nadeo semakin bertambah bingung. Nadeo jadi berpikir apa Sabrina benar-benar mencintai Gentala?
"Apa Kamu mengijinkanku menyentuhmu? Semudah itu?"
"Maksud Kakak?"
Sabrina benar-benar tidak paham maksud pertanyaan Nadeo.
"Bukankah Kamu mencintai Gentala? Tapi, kenapa semudah itu Kamu mengijinkanku menyentuhmu?"
Sekarang Sabrina paham maksud perkataan Nadeo, Sabrina pun menjawab dengan gaya khasnya, tenang dan lembut.
"Kak Deo adalah suamiku saat ini, jadi aku sepenuhnya milik Kak Deo. Terlepas dari siapa pria yang aku cintai," Sabrina tersenyum tipis di akhir ucapannya.
Nadeo sedikit tertegun dengan perkataan Sabrina. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Sabrina terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran seorang yang baru saja dipaksa menikah.
"Tapi maaf, Sabrina. Aku tidak akan pernah menyentuh wanita yang tidak aku cintai. Dan Kamu sendiri tahu siapa orang yang aku cintai." Nadeo terdiam sejenak untuk melihat reaksi Sabrina.
Wanita yang berstatus sebagai istrinya itu terlihat mengepalkan tangannya. Membuat Nadeo semakin kuat dengan dugaannya.
"Kamu tidak mungkin marah dengan ucapanku kan, Rin?"
"Hah? Ti--tidak Kak, tentu saja tidak. Untuk apa aku marah?"
Sabrina terlihat terkejut mendengar pertanyaan random Nadeo. Ketara sekali ekspresi gugupnya membuat wajah Sabrina semakin pucat. Namun istri Nadeo itu berusaha tetap memaksakan tersenyum.
"Baguslah, aku hanya takut Kamu tersinggung dengan ucapanku barusan." Nadeo terlihat menghembuskan napasnya lega. "Kamu tenang saja, kita hanya pura-pura menikah sampai bocah tengil itu ditemukan."
"Pura-pura? Jadi, Kak Deo pikir ini pernikahan pura-pura?" Sabrina tiba-tiba meninggikan nada bicaranya, membuat Nadeo terkejut dan menaikan sebelah alisnya.
"Tentu saja, bukankah Kamu juga tahu ini hanya pernikahan sementara? Jadi, sama aja kan, pura-pura?"
Sabrina tidak menanggapi lagi ucapan Nadeo. Memang benar, pernikahannya dengan Nadeo hanya sementara, sampai Gentala ditemukan dan menjelaskan alasan kenapa dia kabur. Tapi, entah kenapa hatinya tidak terima saat Nadeo mengatakan jika pernikahannya hanya pura-pura.
Setelah cukup lama bergelut dengan pemikirannya, Nadeo membaringkan tubuhnya di sofa. Ia lebih memilih tidur di sofa daripada tidur dia atas ranjang bersama Sabrina.
Nadeo ingin menjaga kesetiaannya pada Arzela. Walaupun hubungannya dengan Arzela sudah berakhir tepat saat Nadeo memutuskan untuk menikahi Sabrina, namun sampai kapanpun hati Nadeo hanyalah milik Arzela.
"𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶?" 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶.
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!