Wanita 37 tahun itu menangis sesak sembari memandang ke tiga buah hati nya yang Sedang tertidur lelap. Sesekali di cium nya pipi gembul si kecil Aidar yang masih berusia 6 bulan.
Kenapa dunia masih tidak baik-baik saja?. Pernikahan ke dua kali nya nyata nya tak memberi kebahagiaan untuk Ana.
Seorang wanita paruh baya yang masih saja harus berjuang mencari nafkah untuk dirinya dan ke tiga buah hati nya, bahkan untuk suami nya.
Roy laki-laki yang menikahinya setahun lalu tak lebih hanya sebuah beban
Baru untuk Ana.
Bayangkan saja dalam keadaan hamil besar, ah sedari Ana hamil muda Roy sudah terang-terangan meminta Ana untuk turut membantu nya mencari nafkah.
Atau malah lebih tepat nya jika Ana sendiri yang berjuang, karena jika di lihat suami nya itu tak lebih hanya makan tidur kerjaan nya.
Ana sudah tidak beruntung di pernikahan pertama nya. Mantan suami nya terdahulu kasar, Main tangan, dan berakhir selingkuh. Lama Ana menjanda, sempat terpikir pula untuk tidak menikah lagi. Sampai Ia bertemu dengan Roy laki-laki yang lebih muda 5 tahun dari nya.
Roy mampu meluluhkan hati Ana dan anak-anak nya. Namun nyatanya semua itu hanya sesaat. Baru beberapa bulan menikah mental Ana sudah di hajar habis-habisan. Roy sudah menunjukan sifat asli nya. Kasar, egois, suka mabuk, dan cenderung tidak peduli dengan Ana dan anak-anak nya. Sangat berbanding terbalik dengan saat Dia ingin mendapatkan Ana.
Ana menyesal...?" jelas Iya, tapi apa daya Dia terlanjur hamil, sudah pasti Dia harus bertahan Demi anak yang di kandung nya. Meski harus banting tulang sendiri .
Dalam keadaan hamil besar, Ana harus berjuang mencari uang. Bangun pagi-pagi buta menyiapkan dagangan, untuk kemudian Ia jajakan ke rumah-rumah warga. Belum lagi urusan rumah dengan segala tetek bengek nya. Dan suami sialannya itu, tidak berguna. Lebih seperti mayat hidup yang kerja nya hanya makan dan tidur.
Ana hanya menghela nafas panjang tiap kali pulang berdagang, Ia lelah namun tak berdaya.
"Masak apa sayang pagi ini?" tanya Roy dengan wajah khas bangun tidur.
"Masih ada nasi uduk sisa pagi tadi mas,'' jawab Ana sedikit malas.
Roy yang masih dengan muka bantal nya, mendekap Ana yang sedang berganti pakaian.
"Jatah sayang,'' bisik Roy genit.
Ana hanya menghela nafas panjang, bayangkan dalam keadaan hamil besar, pulang berdagang masih harus melayani suami sialannya itu .
"Tidak mau?" "Capek?". Ucap Roy sembari menciumi tengkuk Ana. "Sebentar saja An," ini kewajiban mu loo jangan lupa!, Tambah nya.
Ana hanya tersenyum, menatap sayu sang suami tanda menyetujui permintaan laki-laki itu.
Begitu hari-hari berat yg harus di lalui Ana. Dengan dalih kewajiban tapi Dia sebagai laki-laki lupa dengan kewajiban nya mencari nafkah. Itu hanya sebagian kecil, masih banyak lagi kelakuan Roy yang menguras kesabaran Ana.
Roy memang bekerja sebagai juru parkir di sebuah pasar tradisional di daerah mereka,
Tapi dengan dalih parkiran sepi Roy nyaris tidak pernah membawa uang saat pulang.
bagaimana mau dapat uang jika dia saja bangun sudah jam 10 pagi, baru bersiap pergi parkir, sedang parkiran di pasar tradisional hanya ramai saat pagi saja.
Ana hanya bisa tersenyum getir tiap kali suami nya justru meminta uang kepada nya.
Dia sendiri mati-matian berjuang dalam keadaan hamil besar, bangun tengah malam
Untuk menyiapkan dagangan.
Nasi uduk dan beberapa gorengan serta jajanan pasar adalah dagangan Ana, setiap hari Ana menyiapkan semua dagangan nya di bantu anak sulung nya Danu yang berusia 15 tahun.
Sedang suami nya, sibuk dengan hobi-hobi nya tanpa pernah memikirkan Ana dan
anak-anak nya.
Tangis getir kembali mendominasi saat Ana mengingat-ingat semua kepedihan itu, terlebih ketika ia melihat ke tiga buah hati nya, '' bagaimana masa depan mereka nanti nya jika keadaan nya masih begini-begini saja.''
Ana kembali mengingat obrolan nya dengan sang suami sore tadi, niat nya hanya mengobrol agar sang suami peka dan berfikir untuk mencari kerja tapai justru jawaban penuh ambisi yang Ana dapat.
*
*
Sore tadi .
''Mas,'' panggil Ana pada sang suami yang sedang sibuk dengan Handphone nya, '' bagaiamana kalau aku kerja keluar negri?, ucap Ana ragu.
''Ya bagus kalo kamu ada niat kaya gitu, aku malah memang mau kasih saran kamu.'' ucap nya masih dengan menatap handphone nya.
''Nanti biar anak-anak sama aku di rumah, kan yang penting kamu tiap bulan kirim buat kebutuhan aku sama anak-anak, sisa nya kita tabung buat bikin rumah.'' lanjut Roy
''Iya seh, tapi aku kasian sama Aidar,'' ucap Ana sembari menatap bocah gembul yang tertidur di pangkuan nya.'' kamu apa nggak ada info kerjaan apa gitu mas, maksut ku merantau kemana gitu?'' tanya Ana ragu.
Roy menatap Ana sesaat, '' kamu pikir selama ini aku nggak usaha.'' jawab nya ketus.
Ana terdiam, suami nya itu memang mudah sekali tersinggung tiap kali di ajak berbicara urusan yang menyangkut rumah tangga.
'' Kalo kamu sekiranya keberatan ya nggak usah pergi, urus anak-anak aja di rumah, hidup seadanya,'' lanjut Roy.
Ana membatin sesaat, '' yang jadi permasalahan yang buat hidup seadanya itu yang tidak ada, bahkan untuk sekedar membelikan jajan Danu dan Raka anak ke dua Ana saja tidak ada.
Ana terkadang merasa bersalah dengan ke dua anak nya dari pernikahan terdahulu.
Danu dan Raka, dulu sebelum menikah lagi Ana mampu mencukupi kebutuhan mereka berdua,Bahkan tidak pernah kekurangan, tapi sekarang jangan kan untuk makan enak untuk jajan saja mereka kesusahan.
Ana menghela nafas berat, '' Aku sudah cari info mas, ada temen yang bisa bantu proses,''ucap nya kemudian.
Roy meletakkan hanphone nya dengan kasar saat melihat bagaimana Ana menghela nafas seolah tau rutukan keluh kesah nya, '' Kamu kalo seolah berat ya nggak usah di lakuin, An. "Kok narik nafas gitu seolah-olah kamu yang paling capek aja.'' sungut Roy.
Ana tersentak, '' Lho kok jadi salah faham seh mas,'' bingung Ana.
''Ya kamu hela nafas begitu, kalo sekira nya berat ya nggak usah,''
tandas Roy sembari meninggal kan Ana sendiri.
*
*
Selalu seperti itu setiap kali Ana membuka obrolan tentang kebutuhan, berakhir salah paham. Beruntung Roy hanya pergi, terkadang jika benar-benar sudah emosi laki-laki itu akan mengamuk dengan menghancurkan berbagai barang, dan itu sudah umpama makanan sehari-hari untuk Ana.
Tapi kali ini tekad Ana bulat, ia tetap ingin pergi ke luar negeri entah apa yang akan Terjadi Di kemudian hari, inti nya Ana hanya ingin memperjuangkan masa depan Anak-anak nya.
_______Bersambung.
Buku ke dua yessssssss
semoga banyak yang suka ....
bantu suport nya yaa kawan ....
Salam cinta
ibu❤️
Ana masih memandang lekat anak-anak nya, sesekali diusap nya satu persatu kening sang putra. Rasa bersalah bercampur sakit menyeruak di hati nya. ''Tuhan tidak akan menguji hamba nya di atas batas kemampuan hamba nya, tapi sampai mana batas ini ,'' batin Ana Kembali sesak bersamaan dengan tangis yang kembali mendominasi.
Isak Ana mengusik putra sulung nya, Danu, hingga sang putra terbangun,
"Ibu nangis ya?" Ucap Danu Sembari mengucek matanya.
Ana yang tertangkap basah Danu sedikit kikuk dengan cepat ia mengusap sisa air mata di pipi nya , "Ndak. Ibu ndak nangis kok," jawab Ana.
"Nggak nangis apa nya, lihat nih pipi Danu sama adek-adek basah semua." Sungut Danu seraya mengelap pipi nya yang lembab karena air mata .
"Itu iler mas.'' Kilah Ana sembari mengusap pipi sang anak.
"Ibu kenapa?" Tanya Danu kembali dengan suara sendu, Ibu berantem sama ayah?" Lanjutnya.
Seketika Ana tak kuat menahan sesak yang kembali menyeruak , di peluk nya anak sulungnya itu . Danu memang masih terbilang remaja usianya baru 15 tahun namun dia sangat dewasa. Dia lah tempat Ana menumpahkan air mata tiap kali penat melanda. Sedikit ragu Ana mulai berbicara.
" Mas ibu kerja jauh ya?" ucap Ana. masih dengan sisa isak tangis nya.
Danu yang turut meneteskan air mata pun bertanya dengan suara yang sedikit tersedat " Kerja kemana Bu?". 'Luar negri?' tanya nya seolah mengerti maksut Ana,
Ana tak mampu menjawab hanya anggukan kecil dengan air mata yang kembali tumpah,
sekuat tenaga Ana mengatur emosi nya untuk memberi penjelasan pada Danu, dan Raka yang tiba-tiba juga terbangun dari tidur nya.
"Mas tau kan keadaan kita disini, kalo Ibu gak nekat, hidup kita nggak berubah mas," buat sekolah kalian juga."Jelas Ana menahan tangis.
"Tapi Aidar gimana Bu?", "Aidar masih kecil, Aidar masih butuh ibu!", garis kecewa dan sedih tergambar jelas di wajah polos Danu.
"Ibu percaya mas Danu bisa jaga adik-adik," jawab Ana mencoba meyakin kan si sulung.
''Apa tidak ada jalan lain bu, maksut nya kenapa ibu yang pergi bukan Ayah,'' sahut Raka. ''Kan mencari nafkah itu tanggung jawab seorang ayah.'' imbuh nya.
Ana memeluk anak ke dua nya itu, Raka memang selalu ceplas ceplos kalau berbicara, meski terkadang apa yang di katakan benar ada nya,
''Ngomong nya jangan kaya gitu nak, nanti kalo ayah denger jadi salah paham,'' lirih Ana.
Raka nampak tidak setuju dengan yang barusan Ana ucap kan, dengan sedikit sinis dia
kembali menjawab,'' ya bener kan!.
Ana tersenyum masam, '' iya benar, tapi terkadang kita juga harus hati-hati dalam mengungkapkan, jangan sampai yang harus nya bener jadi nggak bener karna salah paham.''
''Terserah ibu lah.'' jawab Raka yang kemudian kembali berbaring membelakangi Ana dan Danu.
Danu yang tau bagaimana sifat keras adik nya itu hanya menghela nafas,
'' Ka, kamu jangan kaya gitu, ibu juga ngelakuin ini dengan terpaksa,'' ucap Danu pada sang adik.
Raka membalikkan badan nya,'' Ya terus harus gimana mas?'' tanya nya sinis.
''Ya kamu denger penjelasan ibu dulu, jangan langsung kaya gitu.'' jawab Danu pelan.
''Udah jelas kok. '' ibu mau pergi kan, ninggalin kita ninggalin adek,'' ucap Raka sesaat kemudian
Badan nya turut bergetar pertanda bagaimana sesak nya dia menahan kecewa.
Danu dan Ana kembali luruh dalam tangis, berpelukan seraya saling menguatkan, bersama dengan air mata yang semakian deras.
'''Maaf kan ibu nak, ibu tidak ada pilihan lain,'' lirih Ana. '' Ini semua demi masa depan kalian nak,''imbuh Ana.
Tangis kembali mendominasi, menjadikan malam itu malam terperih untuk Ana.
Danu dan Raka memang terbilang dewasa untuk ukuran anak seusia mereka , terlebih Danu terkadang ia jauh lebih peka dengan sekitar di banding Ana sendiri, mungkin karena sedari kecil Danu selalu merasakan semua penderitaan Ana.
Dari mulai KDRT dan segala kemalangan yang terjadi di hidup Ana, Danu lah saksi nya, mungkin itu yang menjadikan nya begitu dewasa.
Raka pun sama, namun beda nya anak kedua nya itu lebih berani dalam mengungkapkan isi hati nya, tanpa peduli bagaimana orang-orang menanggapi kalau menurut nya salah ya dia akan berkata salah pun sebalik nya. atau bisa di katakan Raka lebih jujur hati nya.
Namun di balik semua itu mereka berdua sangat menyayangi Ana . wajar jika mereka kecewa
Dengan keputusan Ana karena untuk pertama kali nya mereka akan jauh dan berpisah lama dengan nya.
Dulu saat awal perceraian dengan ayah mereka, mereka juga di pisah kan dari Ana. Tapi hanya 6 bulan, selanjut nya mereka memilih kembali ke pelukan Ana.
Sedari kecil Ana memang mengajari anak-anak nya untuk berani berpendapat, atau sederhana nya mereka harus bisa mempertahan kan apa yang seharus nya menjadi hak mereka.
Namun sayang nya praktek yang terjadi di lapangan tidak selalu sama, terbukti dari mereka yang tidak mendapatkan hak mereka sebagai anak dari ayah kandung mereka, dan sekarang
Kenyataan pahit lain nya muncul, dimana mereka harus belajar berjauhan dengan sang ibu.
Dengan dalih kebutuhan.
Danu kembali membuka obrolan saat tangis mereka mulai mereda,'' terus bu, ayah gimana?'' ''Apa ayah udah setuju?'' tanya Danu.
''Orang itu apa mungkin nggak setuju seh mas kalau untuk urusan duit,'' sahut Raka frontal.
Ana kembali tersenyum masam, sembari membelai rambut ikal Raka'' Ayah sudah setuju, ibu udah bicarakan kok,'' jawab Ana.
''Pokok nya terserah ibu, tapi adek jangan di bawa kemana-mana, biar di rumah aja Sama aku sama mas.'' ucap Raka kembali sembari memeluk sang adik Aidar yang tidur pulas.
''Adek nanti biar di rumah bude nak, kasian kalo dirumah sini.'' ujar Ana. '' Danu sama Raka denger ibu, nanti kalo ibu sudah jadi berangkat, kalian berdua dengerin omongan ibu yaa, nurut sama bude, pokok nya apapun yang terjadi nurut sama bude, oke,'' imbuh Ana .
''Kenapa memang nya bu?'' Tanya Danu pelan.
''Ibu pasti udah punya rencana ini mas,'' sahut Raka
''Udah pokok nya nurut aja,'' pungkas Ana. '' udah bubuk lagi gih, ayah udah pulang tu,
besok kita obrolin lagi.'' lanjut nya saat di dengar nya motor Roy tiba.
Hampir setiap hari Roy pulang lewat tengah malam atau kadang hampir pagi, nongkrong dengan teman-teman nya tak jarang pula pulang dalam keadaan mabuk, seperti malam ini.
Kalo sudah begini Ana hanya bisa menghela nafas lelah, namun tak berdaya.
Mau marah pun percuma yang ada hanya menambah masalah dan pikiran saja, jadi diam dan pasrah menerima adalah pilihan terbaik nya.
____Bersambung.
Semoga anak-anak ku tumbuh se Green flag Danu ya allah .......
Salam cinta
Ibu❤️
Proses panjang pun di mulai, setelah menjalani medical pra atau medical sebelum pendaftaraan dan di nyatakan lolos, kemudian di lanjut pembuatan paspor.
Perjalanan pun di mulai, lusa Ana adi jadual kan akan berangkat ke kantor pusat yang ada di Bekasi untuk belajar behasa dan menjalani proses lain nya.
Dan di antara semua proses itu, proses berpamitanlah yang paling berat.
Malam ini Ana dan Roy mengunjungi beberapa rumah sanak keluarga untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu untuk kelancaran prosesnya.
Semua orang bersedih tak terkecuali bulek Ratih, bulek dari Roy. wanita itu
Sampai menangis sesegukan saat Ana mengutarakan niat nya. Kesedihan mereka sebenarnya terletak pada Aidar yang masih bergantung pada Asi tetapi secara tiba-tiba harus disapih.
Aidar sendiri saat ini sudah di bawa Mbak Asih kakak perempuan Ana. Bulek Ratih pun sebenarnya bersedia merawat Aidar namun Ana lebih mantap hatinya jika Aidar bersama saudara perempuannya.
Sempat terjadi pertentangan tentang siapa yang merawat Aidar, Roy sendiri awal nya ingin merawat Aidar sediri, tapi begitu melihat Aidar yang rewel saat hari pertama disapih laki-laki itu mengurungkan niatnya. memilih beralasan ia tidak bisa bekerja jika Aidar bersama nya. Meski alasan sebenar nya bukan itu, tapi ya sudah lah.
Ana menghela nafas berat saat motor yang mereka kendarai masuk ke pelataran rumah orang tua Ana. Inilah moment terberat nya berpamitan dengan orang tua nya yang sudah renta.
''Apa ndak ada pilihan lain nduk selain pergi jauh?'' tanya bapak Ana lembut, saat Ana sudah mengutarakan niat nya.
''Ana sama mas Roy sudah berusaha pontang panting tapi hasil nya masih minim pak, kasian anak-anak kalo keadaan nya begini terus.'' jawab Ana.
''Ya sudah kalo memang itu sudah keputusan kalian berdua, bapak sama mamak cuma bisa mendoakan yang terbaik, kamu sehat sukses apa yang kamu cita-cita kan bisa kinabulan( terkabul).'' ucap Bapak.
''Amin, terimakasih pak''
Bapak Ana kemudian membelai tangan Ana, menatap sang putri kecil nya. Ya, setua apapaun kita akan kembali seperti putri kecil kan kalo sudah berhadapan dengan bapak. Dengan senyum khas dan penuh wibawa beliau kembali berpesan
''Nduk awak mu oleh lungo, naning awak mu ojo getun naliko balek bapak wes ndak ono, ojo getun, ojo nangis, ikhlas iki kabeh wes garis ee gusti allah"*
Ana terperanjak dengan pesan sang bapak, "pak jangn bilang begitu,bapak harus sehat sampai Ana pulang.'' ucap Ana bergetar.
Tangis sudah tidak dapat Ia tahan lagi manakala mendengar pesan sang bapak yang terdengar halus namun menusuk tajam ke jantungnya.
''Kita itu tidak pernah tau ajal nduk,'' ujar bapak lagi. ''sudah pokoknya kamu kalo memang sudah Niat nya mau kerja buat anak-anak, kamu niat kan yang bener, fokus jangan neko-neko, yang di rumah juga sama harus saling mendukung dan kerja sama.'' lanjut bapak. sedikit berpesan pada sang menantu Roy. Belaian lembut berganti genggaman tangan hangat namun perih di hati Ana.
Ana kemudian berpindah berpamitan pada sang mamak yang juga sudah terisak di samping nya. kembali Ana tak kuasa saat melihat wanita renta itu menghapus air mata.
''Bocah-bocah biar di sini aja sama mamak nduk,' lirih nya.
Ana tak sanggup menjawab, hanya tangis sesak yang keluar dari bibir nya. Wanita hebat nya itu, sudah begitu renta tapi masih kerepotan mengurus rumah dan juga bapak yang sakit stroke, di tambah meminta anak-anak Ana untuk tinggal bersama.
Sebenar nya Ana juga menginginkan hal sama, agak tidak percaya jika meninggalkan
Danu dan Raka tinggal bersama di kontrakan mereka, karena ya..... tau sendiri bagaimana sifat laki-laki .
''Anak-anak sama saya di rumah mak!'' Nanti kalo saya nggak ikut ngurus di sangka saya mau enak nya aja.'' sahut Roy ketus .
Roy memang seperti itu kalo berbicara, kasar dan ketus. Apa lagi kalo sudah menyangkut hal-hal sensitif harus ekstra hati-hati saat berbicara.
Ana sendiri memilih mengontrak setelah menikah, padahal seharus nya dia tinggal bersama orang tuanya yang sudah renta dan juga sakit-sakitan . Tapi demi menjaga kesehatan mental orang tua nya dia memilih mengontrak meski tak jauh dari rumah orang tuanya.
Sedang mertua nya tinggal di luar kota, Ana memilih berpamitan lewat telephon karena
menghemat ongkos, pun dia sendiri tak begitu dekat dengan mertua nya itu .
*
*
Hari ini Ana memilih menghabiskan waktu dengan anak-anak nya di rumah kontrakan mereka, sembari menyusun beberapa pakaian ganti untuk ia bawa pergi esok hari.
''Adek lagi apa ya bu?'' tanya Danu yang sedang sibuk memasangkan tali sepatu yang baru saja di cuci.
Raka yang ada di samping nya nampak memukul kecil paha sang kakak, '' jangan ngomongin adek lo mas,'' protesnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ana tersenyum melihat anak nomor 2 nya itu, di balik sikap Raka yang kadang ceplas- ceplos kalau bicara, Raka memiliki hati yang lembut, apa lagi kalau sudah menyangkut sang adik Aidar. Mungkin karena sedari bayi dia lah yang bertugas menjaga Aidar saat Danu dan Ana sedang sibuk menyiapkan dagangan nya. Jangan ada yang tanya perihal Roy kemana !.
Laki-laki itu sebenar nya ya tidak seburuk itu, ada moment dimana dia juga membantu
Pekerjaan Ana, ya... meski intensitas nya lebih banyak membuat emosi ketimbang menenangkan hati.
Tapi yaa mau bagaimana, itu semua sudah pilihan Ana, jadi harus mau menerima.
''Adek lagi seneng-seneng main air, sama bude di beliin kolam renang yang kaya ember gede itu, sama pelampung buat di leher,'' jawab Ana menenangkan.
''wihh, seru itu pesti, adek kaki nya tuill tuill lucu.'' celetuk Raka, mata nya yang tadi sempat berselimut kabut berubah menjadi binar kebahagiaan, hanya karena mendengar adik nya senang di tempat nya.
''Mas sama kakak kan besok bisa kesana kalo ibu udah berangkat,'' ucap Ana .
'' Naik apa?, motor nya loo selalu di bawa ayah,'' sahut Danu. jarang sekali Danu mengeluh seperti itu, biasa nya si sulung itu selalu menjawab ''iya."
Ana tersenyum masam mencoba memahami bagaimana perasaan sang putra, '' sabar,
Sementara pakai sepeda dulu, atau tempat mbah kung pinjem motor mbah.'' ucap Ana
''Anak-anak malam ini pengen makan apa?'' tanya Ana mengalihkan pembicaraan, karena dia sendiri pun tidak tahan jika harus membicarakan perihal Aidar.
2 anak remaja itu saling berpandangan sesaat sebelum si sulung Danu menyampaikan keinginan nya, ''Ehmm.. boleh nggak bu kita makan mie ayam?" Tanya Danu.
''Tapi jangan di bawa pulang bu, kita makan nya di tempatnya kaya dulu ibu sering ajak aku sama Mas Danu,'' timpal Raka.
Ana kembali tersenyum masam, sudah lama sekali memang sejak terakhir ia mengajak 2 anak nya ini makan di luar, terakhir kali hampir 2 tahun lalu sebelum Ana menikah dengan Roy. Mereka sesekali juga masih jajan, tapi lebih sering di bungkus dan makan di rumah, sama saja sebenar nya tapi nama nya anak-anak .....'
Ana langsung meng'iya kan keinginan sederhana anak-anak nya, ''oke nanti malam kita makan mie ayam yang d depan gang itu.'' sahut Ana yang di susul sorak gembira,
Danu dan Raka____.
______Bersambung.
*Nduk awak mu oleh lungo, naning awak mu ojo getun naliko balek bapak wes ndak ono, ojo getun, ojo nangis, ikhlas iki kabeh wes garis ee gusti allah"*
(Nak kamu boleh pergi, tapi kamu jangan menyesal kalau pulang nanti bapak sudah tidak ada [meninggal], jangan menyesal, jangan menangis, ikhlas ini semua sudah takdir dari gusti allah)
---Ini adalah pesan terakhir dari alm. Bapak di tahun 2017 saat aku pertama kali berangkat ke negara Taiwan. Btw bapak ku meninggal tahun 2020, 1 minggu sebelum kepulanganku ke tanah air. Al - Fatikhah buat bapak ❤️
Akhir nya selesai juga BAB yang menguras air mata ini.
Semoga banyak yang suka, please suport nya .......
Salam cinta
Ibu
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!