"Bu, di luar ada nona Sahara,"ujar Bi Minah kepada majikannya yang sedang bersantai di taman belakang sambil menikmati secangkir teh dan mengscroll sosial media. Melihat update dari teman-teman sosialitanya.
"Mau apa dia datang lagi kesini? Apa peringatanku selama ini tak membuat dia sadar? Dia selalu menantang seorang Wanda, nyonya dari seorang Sandy Sbastian,"kesal Wanda dan bangkit dari duduknya.
"Mau apa lagi kamu datang kemari Sahara? Bukannya suamiku sudah mengatakan untuk tidak datang kemari lagi? Apalagi sekarang alasanmu datang kemari? Biaya rumah sakit ibumu? Biaya sekolahmu? Atau untuk makan kalian? Apa kalian tidak bisa bekerja dan mencari uang sendiri untuk hidup? Dasar para benalu!"tanya Wanda dengan nada sinis, dia adalah ibu tiri Sahara.
Bahkan Wanda berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu rumah. Setelah Sahara dan ibunya terusir dari istana yang dia bangun bersama dengan suaminya itu, mereka tidak di perbolehkan untuk masuk kedalam rumah. Dia hanya boleh menginjak teras rumah saja.
Rumah yang dahulunya dia tempati bersama dengan Papa dan Mamanya. Rumah ternyaman dan rumah penuh kebahagiaan pada awalnya. Sebelum Papanya membawa wanita itu.
Awalnya dia membawa temannya itu untuk membantu dia bekerja di kantor, tapi lama-kelamaan wanita itu malah berubah fikiran dan mencoba untuk merebut Sandy dari istrinya. Apalagi setelah melihat Sandy begitu meratukan Rianty. Semakin membuat dirinya iri. Sehingga pada akhirnya dia melakukan segala cara untuk bisa merebut Sandy.
Kedua tangan Sahara terkepal mendengar ucapan dari Wanda. Di saat dia datang akan selalu melarangnya bertemu dengan Papanya. Jika bukan karena keinginan mamanya yang meminta dia datang menemui Sandy. Sahara tak akan pernah mau menginjakkan lagi kakinya di rumah yang meninggalkan banyak kenangan manis maupun menyakitkan untuk dirinya dan ibunya.
Entah apa yang di inginkan ibunya, hanya saja dia meminta bertemu dengan mantan suaminya itu. Bahkan saat ini dia kembali sakit. Wanita paling kuat dan tegar yang menjadi panutan bagi Sahara. Dan alasan dia tetap bertahan menjadi anak yang baik dan wanita yang lebih kuat dan tangguh. Walau dia harus mengalami luka fisik dan batin dari cinta pertamanya.
"Dengar ini! Aku dan ibuku tak pernah butuh uang kalian... Aku hanya ingin bertemu dengan Papa... Mama ingin bertemu dengan Papa. Dimana Papa berada sekarang?"jawab Sahara menekan emosinya.
Dia kembali teringat akan wajah ibunya yang begitu berharap besar bisa bertemu dengan mantan suaminya. Walau Rianty sudah ikhlas dengan nasib pernikahannya. Tapi dia perlu meluruskan satu hal kepada Sandy. Agar pria itu tak menyesal suatu saat nanti. Apalagi melihat perlakuan dia kepada anak kandungnya. Bahkan anak perempuannya sendiri.
"Aku tak akan pernah mengizinkan suamiku bertemu dengan wanita seperti ibumu untuk bertemu dengannya. Karena wanita itu nantinya akan menjadi pembawa sial dalam kehidupan kami. Pergilah dan katakan pada ibumu, jangan menganggu kami yang sudah bahagia. pergilah dengan pria pilihan ibumu itu! Para manusia tak tau diri! Wanita pendosa dan pen-zina! Pergi kau. Jangan sampai rumahku menjadi ko-tor karena adanya kamu. Keturunan wanita pen-zina,"jawab Wanda terkesan merendahkan dan mencibir dirinya dan ibunya.
Tangan Sahara terkepal dengan kuat mendengarnya. Rasanya dia ingin sekali menam-par mulut wanita itu sampai han-cur. Karena mulutnya itu pintar sekali mengeluarkan fit-na-han dan ujaran kebencian untuk dirinya dan ibunya.
"Jangan pernah mengatakan ibuku sebagai pen-zina. Karena yang pen-zina itu adalah anda. Wanda! Anda yang sudah dengan sengaja menginginkan da meng-goda Papa saya, yang jelas-jelas sudah hidup bahagia. Jangan pernah sekali lagi anda memfitnah Mama saya. Sebelum kesabaranku habis!" jawab Sahara dengan mata yang sudah di penuhi dengan kilatan amarah kepada Wanda.
Wanda hanya tersenyum remeh ke arah Sahara. Seolah melihat kemarahan Sahara adalah kesenangan untuknya. Melihat kemarahan Sahara seolah adalah hiburan untuknya di kala suntuk berada di rumah seharian. Wanda mendekat ke arah Sahara yang menatap tajam ke arahnya.
"Ibumu memang seorang penzi-na. Dan kau juga sama. Wanita yang hidup di jalanan dengan para preman sudah pasti menjadi piala bergi-lir bagi mereka. Betul kan apa yang aku katakan? Kau jal*ng kecil mu-rah*n yang men-ju-al diri kepada para preman jalanan." Bisik Wanda.
Sahara mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya. Wanda dengan cepat menarik tangan Sahara dan memukulkan tangan Sahara padanya. kemudian wanita itu tiba-tiba jatuh dan menangis histeris kesakitan.
Apa yang dilakukan oleh Wanda itu membuat Sahara kebingungan. Wanita itu sedang berakting. Wanda sengaja melakukan itu karena melihat kedatangan suaminya yang berdiri dari kejauhan di ambang gerbang rumah. Dia turun disana saat melihat apa yang tadi mereka berdua.
"Saharaaa... Apa yang sudah kau lakukan pada ibumu?" Triak Sandy sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
Sedangkan Wanda masih berakting menangis kesakitan di depan Sahara. Bi Minah sebenarnya ingin mengatakan apa yang terjadi kepada Sandy. Tapi dia juga ketakutan, karena mengetahui jika Wanda bukanlah wanita yang lemah lembut seperti yang Sandy tau. Bahkan Wanda berani bermain tangan dan ancaman kepadanya dan pekerja lainnya.
Sahara berbalik dan tersenyum sinis mendengar teriakan dari Ayahnya. Teriakan yang sudah mulai terbiasa dia dengar dari pria yang dahulu sangat lembut saat memanggil dirinya. Tapi sekarang tak pernah ada lagi panggilan manis itu.
Apa yang ada dalam fikiran Sahara ternyata benar. Wanita itu sedang berakting dan dengan sengaja menyakiti dirinya sendiri. Seolah dialah yang sudah melakukan hal itu kepada Wanda.
Sandy berjalan dengan tergesa lalu mendekat kearah Wanda yang masih menangis dan memegang pipinya. Pintar sekali memang wanita itu berakting. Dan betapa bodohnya Papanya itu karena percaya kepada wanita siluman seperti dia. Wanita yang sudah membuat papanya gelap mata dan tidak bisa membedakan mana permata dan mana sampah.
Wanda malah semakin kencang menangis saat Sandy mendekat. Seolah apa yang sudah terjadi kepadanya adalah sebuah kejadian yang bisa membuat nya-wanya melayang saat itu. Memang definisi wanita iblis ular codot.
"Mas, kaki dan pipiku sakit,"adu Wanda kepada Sandy saat suaminya mencoba membantu Wanda bangun.
"Maafkan aku Mas, aku benar-benar tidak bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Sahara. Karena Sahara sepertinya memang tak pernah suka padaku, apa yang aku lakukan selalu salah di mata dia. Aku hanya meminta dia untuk masuk dan berbicara di dalam rumah dan jangan berbicara sambil berteriak di luar. Malu di dengar tetangga,"bohong Wanda sambil menangis sesenggukan.
Mendengar aduan bohong dari Wanda membuat Sahara tertawa hambar. Sedangkan Sandy menatap tajam ke arah anak perempuannya yang bertingkah seperti itu. Membuat Sandy tersulit emosinya.
Sahara Putri Sbastian, gadis berusia 21tahun putri dari pasangan Sandy Sbastian dan Rianty Dirgantara. Mereka bercerai tujuh tahun lalu, saat usia Sahara 14 tahun. Dan membuat Sahara juga ibunya harus terusir dan pergi dari rumah mewah yang di bangun bersama. Setelahnya Sandy menikahi wanita yang tak lain adalah Wanda. Benalu dalam rumah tangga mereka.
Sahara tersenyum sinis mendengar teriakan dari Sandy. Pantas saja wanita itu tak melawan saat dia menamparnya, ternyata ada ayahnya di belakang sana. Memperhatikan apa yang mereka lakukan. Namun sayangnya tidak semuanya dia lihat. Hanya bagian saat wanita itu berakting saja yang di lihat ayahnya Sahara. Dia sudah tau akhinya akan seperti apa. Menyaksikan drama dari drama queen di hadapannya.
Sandy menatap ke arah Sahara setelah membantu dan mendengar istrinya yang merengek kesakitan. Sahara hanya tertawa hambar. Dan hal itu sangat membuat Sandy marah kepada anak kandungnya itu.
"Apa yang sudah kau lakukan pada ibumu Sahara? Papa tak pernah mengajarkan kamu berbuat kasar kepada orang lain apalagi menyakiti orang tua... Apa ini hasil didikan dari Wulandari setelah kalian keluar dari rumah ini? Kau manjadi preman dan sok jagoan?" kesal Sandy setengah berteriak kepada Sahara.
Teriakan, bentakan, makian, hinaan ayahnya sekarang sudah mulai terbiasa di telinga Sahara. Bukan dia tak sakit hati, sebenarnya dia sudah malas datang bertemu dengan ayahnya. Tapi demi ibunya dia mengesampingkan semuanya.
"Ibuku bukan wanita hina yang Papa jadikan istri baru. Ibuku hanya Mama Rasti. Apa mata dan hati Papa belum terbuka siapa sebenarnya wanita ular itu? Dan Papa bilang apa tadi?" Jawab Sahara tersenyum tipis dan berbicara dengan penuh penekanan. Setelahnya dia tertawa kecil seolah mengejek mereka berdua.
"Papa bilang tak pernah mengajarkan aku menyakiti orang. Lalu apa yang Papa lakukan kepadaku dan juga ibuku? Apa itu bukan menyakiti? Papa sudah buta... Dibutakan wanita yang pintar berakting di depan Papa. Harusnya Papa sholat taubat biar terbuka semuanya. Siapa wanita yang bersikap manis di depan Papa itu. Karena sampai sekarang Papa tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."kembali Sahara berbicara dengan tatapan tajam dan nyalang ke arah Sandy.
"Mas..."panggil Wanda sambil menangis pilu.
Seolah dia merasa sangat tersakiti dengan ucapan Sahara. Mendengar istrinya menangis seperti itu membuat emosi Sandy tersulut. Dan bahkan menurut dia, ucapan Sahara sangat keterlaluan untuk dirinya. Bahkan dia mengajarinya untuk sholat taubat! Anak ingusan yang mengajari orang tuanya adalah tidak pantas. Menurut Sandy.
"Berani kau mengguruiku... Aku menyekolahkanmu dan membiayai hidupmu bukan untuk menjadi anak pembangkang seperti ini. Apa itu didikan yang di berikan Rianty padamu selama ini hah?"emosi Sandy.
"PLAAAKKK"
"PLAAAKKK"
Sandy tak bisa lagi menahan emosinya kepada Sahara. sehingga dua tamparan keras mendarat di kedua pipi Sahara. Mendapatkan tamparan dari ayahnya, Sahara malah semakin menantang dan menarik tangan ayahnya. pu-ku-lan, tam-paran sik-saan lain selalu dia dapatkan akhir-akhir ini.
"Pukul aku lebih keras Pa... Sampai Papa pu-as seperti biasanya. Cepat buka i-kat ping-gang Papa. Dan pu-kuli aku seperti yang Papa sering lakukan padaku. Tapi setelah itu tolong temui ibuku. Dia ingin bertemu dengan pria brengs*k yang masih di cintai oleh seorang Rianty sampai saat ini. Mama terlalu naif mencintai pria brengs*k seperti Papa..."jawab Sahara dengan mata berembun tapi enggan dia keluarkan air matanya itu.
Tak sudi rasanya dia menangis di depan pria tak memiliki hati seperti ayahnya yang sudah banyak berubah. Semakin kesini, dia semakin tak mengenal lagi. Kemana Sandy yang dulu. ayah yang akan selalu mencintai dia dan menyayangi diam bahkan memperlakukan Sahara dengan sangat lembut.
Selian itu, jika dia menangis maka akan semakin membuat wanita ular di sebelah Papanya merasa semakin senang dan menang. Sandy hanya diam mematung melihat sorot mata kemarahan dan luka mendalam dari mata anak perempuannya. Tatapan kemarahan yang lebih besar dan dalam yang dia lihat disana. Bahkan dia menarik tangan dari Sahara yang sedari tadi dia coba pu-ku-lkan kembali kepada dirinya.
"Pergi dari sini sebelum aku hilang kendali..."ucap Sandy setengah berteriak.
Dia membalikkan badannya, memunggungi anak perempuannya. Dia tak ingin terlihat lemah di depan Sahara. Apalagi dia tak bisa lebih lama melihat tatapan mata Sahara yang berubah untuknya. Kemarin dan sebelumnya tidak seperti ini. Masih bisa dia melihat tatapan cinta dari mata anak perempuannya. Bahkan saat dirinya menyakiti fisik dan hatinya.
Sehingga membuat dia semakin hari semakin berani. Apalagi selalu mendapatkan hasutan dari Wanda yang selalu menjelekkan anak dan mantan istrinya. Melihat apa yang di lakukan oleh Sandy membuat Wanda kesal. Karena yang dia ingin lihat adalah Sandy terus memberikan pelajaran fisik kepada Sahara. Barulah dia merasa sangat bahagia.
"Baiklah. Aku tak akan menganggu dengan datang kesini lagi. Tapi aku minta temui Mama sekali saja. Walau hanya satu menit asalkan Mama bisa melihat Papa. Entah untuk apa, aku tidak tau. Walau aku sudah mengatakan jika jangan lagi mengharapkan pria seperti anda. Tapi ternyata Mamaku masih tetap dengan keteguhan hatinya yang berharap pria itu berubah dan sadar!"ucap Sahara kepada Papanya. Dia sedikit menekan nadanya.
"Tidak! Aku tidak akan pernah menemui wanita pen-zi-na dan pengkhianat seperti dia! Wanita yang sudah meno-dai sucinya ikatan pernikahan!" jawab Sandy membuat Sahara tertawa mendengarnya.
Dia merasa sangat lucu dengan ucapan Ayahnya sendiri. Sampai saat ini memang benar, ayahnya belum sadar dan bertaubat dengan apa yang dia lakukan. Jika saja membalas pukulan orang tua tidak berdosa. Maka dia sudah pasti akan me-mu-kuli ayahnya itu.
Bukan dia tidak mampu melakukan hal itu. Hanya saja dia menjaga batasan dan masih menghormati ayah kandungnya. Tapi entah nanti, apa dia masih menaruh rasa hormat itu ataukah tidak. Bi Minah yang masih berada disana juga hanya bisa menangis melihat perdebatan anak dan ayah yang tak pernah bisa menemui titik terang.
"Apa anda sedang membicarakan diri anda sendiri dengan pasangan zi-na anda Tuan? Jangan lupa jika andalah yang sebenarnya Penz*na bersama dengan dia! wanita yang selalu menjual kesedihan dan kesengsaraan. Hingga anda melupakan keberadaan istri yang selalu setia menemani anda dari bukan siapa-siapa menjadi seperti ini. Jangan pernah membalikkan ucapan. Akuilah jika anda juga salah. Tanya pada hati kecil anda Tuan. Karena hati kecil tak pernah berbohong,""jawab Sahara penuh penekanan dan bahkan tatapannya begitu tajam sampai terasa menusuk tepat di jantung hati Sandy. Apa lagi panggilan tuan padanya membuat hati Sandy rasanya tercabik.
PLAAAKK
PLAAAKKK
Sandy kembali memberikan dua tam-paran untuk anak perempuannya. Baginya kali ini ucapan Sahara sudah sangat keterlaluan dan tak bisa di tolelir lagi. Sahara sudah berani berbicara seolah menggurui dirinya. Walau dalam hati dia mengakui apa yang di katakan oleh Sahara, tapi dia tak bisa mengatakannya langsung. Karena itu menjadi urusannya. Toh yang di lakukan Rianty bahkan jauh lebih buruk darinya. Itu yang ada dalam fikiran Sandy.
"Ucapanmu semakin keterlaluan Sahara! Aku tak pernah mendidikmu berbicara sekasar itu! Dan aku membiayai hidup kamu dan sekolahmu setiap bulan, bahkan sampai kau bisa kuliah di perguruan tinggi sebagus itu. Bukan untuk berbicara seperti itu.bukan untuk menjadikanmu anak tak tau sopan santun dan batasan, Sahara! Uang yang aku keluarkan untukmu itu tidaklah sedikit! Kamu benar-benar membuatku kecewa! Bahkan kamu malah bergaul dengan para preman jalanan seperti itu! Rianty benar-benar tak bisa mendidik kamu dengan baik seperti Wanda,"emosi Sandy panjang lebar.
Bahkan secara terang-terangan dia membandingkan ibunya dengan pela-kor yang ada di depannya. Wanda tersenyum lebar sedangkan Sahara tertawa hambar bahkan terkesan mengejek dengan ucapan Ayahnya itu.
"Sudah ku katakan padamu Tuan, jangan samakan Ibuku dengan wanita ib-lis di sampingmu, karena jelas akan sangat berbeda. Kelas mereka berbeda. Manusia Asli tidak bisa di sandingkan dengan Manusia bertopeng yang tetap terlihat buruknya!"Jawab Sahara dingin.
"Dan untuk masalah uang bulanan dan sekolahku, jika memang anda tak bodoh Tuan. Maka anda akan tau kemana perginya selama ini. Karena kami tak pernah menerima uang itu sepeserpun. Bahkan aku sekolah di tempat yang berbeda dengan yang wanita itu katakan padamu Tuan. Dan aku sekolah disana karena mendapatkan beasiswa, bukan uang anda. Aku sekolah dan bisa tetap hidup karena kerja keras Mama dan aku sendiri! Jadi jangan pernah merasa sombong dan mengira hidup anda berjasa untuk kami, dengan uang yang tak pernah ada itu!"kembali Sahara berbicara panjang lebar.
Tatapan yang di berikan oleh Sahara semakin berbeda Sandy rasakan. Bahkan panggilan Tuan untuknya itu, rasanya sangat menusuk di jantung Sandy. Panggilan dari anak perempuannya, Sandy juga tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Sahara.
"Apa maksudmu? Bukannya selama ini selama kalian keluar dari rumah ini aku masih memberikan kewajibanku untuk biaya hidup kamu dan sekolahmu? Jangan berbohong kami Sahara!" tanya Sandy seolah tak percaya dengan penjelasan anaknya.
"Sudah aku katakan, jika anda pintar silahkan cek sendiri. Kemana perginya uang dari anda selama bertahun-tahun ini. Karena saya tak pernah mendapatkan uang anda sepeserpun setelah keluar dari istana milik kami ini. Kami menghidupi diri kami sendiri tanpa uang ha-ram Anda. Aku kuliah juga hasil keringatku sendiri. Tanyakan kepada wanita ular Anda. Kemana uang itu pergi..."jawab Sahara membuat Sandy melihat ke arah Wanda seolah meminta penjelasan kepada wanita yang menjadi istrinya saat ini.
"Apa maksud kamu Sahara? Aku selalu memberikannya kepada kalian... Kamu jangan fitnah... Aku tak sejahat itu. Walau kamu selalu tak pernah menyukai aku, tapi aku selalu memberikan hak kalian. Jangan memberikan aku fit-nah kejam seperti ini,"ujar Wanda sambil menangis tersedu.
Merasa menjadi orang yang paling tersakiti. Melihat akting dari wanita itu membuat Sahara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudahlah... Sudah bosan aku dengan sandirwaramu Wanda. Sekarang terserah Tuan saja mau percaya atau tidak. karena percuma kalau aku bicara jujur juga di mata kalian akan selalu salah. Yang jelas aku sudah datang kesini sebagai baktiku kepada Mama. Jangan pernah mencari kami saat kamu sadar akan semua kesalahanmu. Karena saat itu kami sudah tak akan pernah memaafkan kamu. Dan mungkin saja hatiku sudah membeku untuk pria yang menjadi cinta pertamaku sekaligus yang membuat luka yang sangat dalam untukku."ujar Sahara dengan suara bergetar.
Dalam dadanya terasa sekali sakit teriris dan sesak. Dia sudah menyerah untuk kembali menyadarkan ayahnya dengan apa yang sudah dia lakukan. Yang penting selama bertahun ini dia sudah melakukan semua cara. Sahara menarik nafas dalam-dalam mencoba meraup oksigen. Sedangkan Sandy masih diam menatap anak perempuannya dengan mata yang sudah mengembun mendengar ucapan dari Sahara.
"Terimakasih kenang-kenangan yang Tuan berikan selama ini, di sekujur tubuhku. Akan aku kenang sebagai pengingat betapa cintanya seorang Sandy kepada anak perempuannyanya. Lu-ka yang tak akan pernah selama hidupku. Assalamualaikum ..."ucap Sahara dengan suara yang semakin bergetar.
Sahara kemudian dia mencium punggung tangan ayahnya. Sehingga membuat air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh juga. Begitupun dengan Sandy yang juga tak terasa sudah meneteskan air matanya. Ada rasa sakit di dalam hatinya mendengar perkataan anaknya itu.
Setelahnya Sahara pergi dari sana membawa luka yang sangat besar lagi dan lagi. Membawa kekecewaan yang tak akan pernah bisa dia lupakan selama hidupnya.
Perlakuan ka-sar dari ayah yang dia cintai sudah terbiasa dia terima setelah ayahnya menikah lagi. Apalagi kalau bukan karena hasutan dan fit-nah dari wanita ular yang sudah membuat mereka terusir dari sana secara hi-na.Pulang dalam keadaan penuh luka di seluruh tu-buhnya.
Sedangkan untuk Sandy, saat Sahara mencium punggung tangannya. Ada perasaan bersalah yang mendalam pada diri Sandy kepada Sahara. Apalagi sampai anak perempuannya meneteskan air mata. Selama ini apapun yang dia lakukan kepada anaknya itu, Sahara tak pernah melawan dan hanya diam menerima setiap hukuman darinya. Bahkan tak pernah meneteskan air matanya sedikitpun, bagaimanapun parahnya lu-ka yang dia berikan. Tapi kali ini membuat hati Sahara berdenyut nyeri.
Sebenarnya, setiap kali setelah dia memberikan hukuman kepada Sahara. Sandy akan mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Dia mencoba menenangkan dirinya. Selalu ada rasa bersalah setelahnya, tapi kemudian dia membenarkan kembali apa yang dia lakukan.
Hal itu sebagai bentuk cara mendidik Sahara yang dia fikir sudah mulai menjadi anak na-kal. Dan mantan istrinya tak mampu mendidik Sahara dengan baik. Sahara menurutnya menjadi anak yang pembangkang dan pembohong. Itu semua dia yakini karena mendapat laporan dari Wanda dan juga anak tirinya.
Sandy menatap punggung Sahara yang semakin menjauh dari rumahnya. Rumah yang dia bangun dan desain sendiri bersama dengan Rianty. Rumah impian mereka sejak dulu. Rumah yang menjadi simbol kerja keras mereka berdua.
Sahara keluar dari dalam rumah besar bak istana yang dulu menjadi tempat bermainnya saat kecil. Sambil mengusap air matanya kasar, Sahara berlari kencang dari sana.
"Tiiiiiiinnnnnn"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!