Aisha Belva seorang yatim piatu karena orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat usianya baru 15 tahun, sehingga ia di adopsi dan dirawat oleh sahabat orang tuanya.
Refan Arsenio seoarang CEO tampan putra dari Lena Arsenio dan Toni Arsenio, karena kesalah pahamannya ia sangat membenci Aisha dari sejak pertama kali Aisha dibawa pulang ke rumahnya.
Lena dan Toni Arsenio orang tua Refan demi untuk mewujudkan janji mereka dengan mendiang orang tua Aisha mereka memutuskan untuk menjemput dan merawat Aisha sejak orang tuanya meninggal dan menikahkan Aisha dengan purtanya Refan.
Messa Arsenio adik kandung Refan teman baik Aisha dan yang selalu ada untuk mendukung Aisha disaat kakaknya menyakitinya.
\(Tak terasa sudah 5 tahun aku tinggal disini dan hari ini adalah hari pernikahanku dengan kak Refan\) batin Aisha memandangi dirinya dari pantulan cermin di depannya.
\(aku tau kak Refan sangat membenciku tapi aku yakin dia pasti akan berubah seiring berjalannya waktu nanti, aku akan meyakinkan dia kalau aku sangat mencintainya\) lanjut batin Aisha tersenyum tapi menitihkan airmata.
“Wah Aisha kamu cantik sekali memakai gaun pengantin” ucap Mesa menghampiri Aisha.
“Aisha kamu nangis?” Ucap Lisa sahabatnya.
“Aisha jangan nangis nanti make up nya luntur kakak ga jadi cantik kamu loh” ucap Mesa membuat Aisha tersenyum.
“Nggak kok aku cuma bahagia saja akhirnya aku akan menikah dengan kak Refan” ucap Aisha tersenyum.
“Nahh gitu dong, mulai sekarang aku ga boleh panggil kamu nama lagi aku harus panggil kamu kakak ipar” ucap Mesa.
“Kamu tenang saja Aisha ada kami disini buat kamu” ucap Lisa memeluk Aisha.
“Terimakasih kalian selalu ada buat aku” ucap Aisha memeluk kedua sahabatnya yang sebentar lagi salahsatu dari mereka akan menjadi adik iparnya.
\(Entah keputusan pernikahanku ini benar atau salah, tapi aku akan lewati semuanya\) batin Aisha.
‘Tok..tok..tok’
Suara ketukan pintu membuyarkan pelukan mereka bertiga.
“Maaf nona acara akan segera dimulai, jadi pengantin wanita di persilahkan untuk segera ke tempat acara” ucap pelayan memberitahukan.
“Ya udah yuk kakak ipar kami dampingi kakak menuju altar pernikahan” ucap Mesa, menggandeng tangan kiri Aisha dan Lisa menggandeng tangan kanannya.
Saat tiba di depan pintu Aisha berdiri sejenak untuk mempersiapkan dirinya.
\(Aisha apapun konsekuensinya kamu harus melangkah ke depan, kak Refan menyetujui pernikahan ini artinya dia memberimu kesempatan\) batin Aisha, sebelum akhirnya melangkah memasuki aula pernikahan.
Pintu aula terbuka Aisha berjalan menuju altar pernikahan dengan di dampingi kedua sahabatnya disana sudah ada orang tua angkatnya Lina dan Toni yang tersenyum manis padanya. Dan pria yang di dampingi oleh mereka seperti biasa dengan tatapan dinginnya dan acuh tak acuh seolah tidak ada yang special di hari pernikahan ini.
Namun berbeda dengan Aisha dia merasa sangat bahagia dia berjalan menuju altar pernikahan dengan senyuman manisnya, bahkan para tamu undangan sangat memujinya sangat cantik dan bersinar di hari pernikahannya.
\(Aisha kamu harus bahagia bukankah memang ini yang kamu mau, mewujutkan keinginan kedua orang tuamu dan menikahi lelaki yang kamu cintai\) batin Aisha menyemangati diri sendiri, meskipun hatinya sangat sedih karena tidak sedikitpun melihat senyum dan kebahagiaan di wajah pria yang sebentar lagi sah menjadi suaminya ini.
“Kamu sangat cantik hari ini sayang” ucap Lena Arsenio memegang kedua tangan Aisha.
“Kamu benar menantu kita sangat cantik keluarga Arsenio sangat beruntung memiliki menantu seperti dia” ucap Toni Arsenio setuju dengan ucapan istrinya.
Setelah serangkaian acara telah di lakukan tiba saat acara bertukar cincin.
“Tiba di acara yang kita tunggu kedua mempelai dipersilahkan untuk bertukar cincin” ucap pembawa acara.
Sean dengan wajah dinginnya memakaikan cincin pada Aisha begitupun Aisha dengan tersenyum bahagia menerimanya dan memasangkan cincin pada Refan.
“Sekarang pengantin pria mencium pengantin wanita” ucap pembawa acara.
Meski dengan terpaksa Refan tetap mencium Aisha meski sekilas, tapi cukup membuat Aisha bahagia karena itu adalah pertama kalinya Refan menciumnya juga itu adalah ciuman pertama Aisha.
“Aku masih ada urusan aku akan kembali ke perusahaan dulu” ucap Refan meninggalkan aula pernikahan di ikuti asistennya.
“Tapi acara belum selesai Refan” ucap Lena Arsenio hendak menghalangi namun tidak di dengar Refan tetap berlalu.
“Anak itu benar\-benar” ucap Toni Arsenio memegang dadanya.
Kepergian Refan seketika membuat Aisha sangat sedih bahkan wajah yang tadi terlihat beraeri bahagia kini nampak murung dan kecewa.
“Aisha sayang kamu tidak papa kan?” Tanya Lina Arsenio.
“Anak itu semakin kurang ajar, papa akan menghukumnya setelah kembali nanti” ucap Toni Arsenio.
“Aisha tidak papa Pa, Ma, ya sudah kita lanjutkan acaranya saja mungkin kak Refan memang lagi sibuk” ucap Aisha mencoba tersenyum didepan kedua orang tuanya.
\(Harusnya kamu tau dan jangan berharap lebih, kak Refan mau menikahimu itu sudah bagus, meski hanya untuk menepati janji kedua orang tua, meskipun dulu dia sendiri yang menyetujui pernikahan ini tapi hati manusia tidak ada yang tau, jadi aku yakin suatu saat dia pasti akan berubah\) batin Aisha.
Kini Aisha sedang duduk di balkon kamarnya sembari menatap cincin di jarinya mengingat kejadian 7 tahun lalu, saat itu dia baru berusia 10 tahun dan Refan berusia 15 tahun.
FLASHBACK ON,
“Lina coba lihat mereka sangat manis ya” ucap mama Aisha pada sahabatnya melihat Refan menemani Aisha bermain, terlihat Refan sangat hati-hati dan menjaga Aisha.
“Iya, alangkah bagusnya kalau kita akan jadi keluarga seterusnya” ucap Lina.
“Maksud kamu Lin?” Tanya mama Aisha tidak mengerti.
“Kita jodohkan saja mereka, dengan begitu keluarga kita akan selalu bersama terus” ucap Lina.
“Tapi itu masa depan anak\-anak, apa mereka akan setuju”ucap mama Aisha ragu.
“Anak\-anak sini” panggil Lina.
“Kenapa ma?” Tanya Refan dan Aisha menghampiri.
“Kalian mau ga kalau kami jodohkan kalian” ucap Lena.
“Di jodohkan?” Ucap Aisha tak mengerti.
“Iya nanti saat kalian sudah cukup umur kamu menikah dengan Aisha” ucap Lena.
“Emang boleh ma?” Tanya Refan antusias
“Tentu saja boleh meskipun kalian sudah seperti adik kakak tapi kalian tidak sedarah tentu saja boleh” ucap mama Aisha.
“Baiklah kalau begitu aku janji sama mama sama tante kalau nanti saat dewasa aku akan menikah dengan Aisha” ucap Refan.
“Aisha juga janji nanti saat dewasa hanya akan menikah dengan kak Refan” ucap Aisha.
“Anak yang baik” ucap Lina dan mama Aisha.
Aisha dan Refan kembali bermain ayunan dengan Aisha duduk di ayunan dan Refan mendorongnya dari belakang.
“Kak Refan apa benar nanti saat dewasa kita akan menikah?” Tanya Aisha.
“Tentu saja aku sudah berjanji akan menikahimu, tapi apa kamu mau tetap menikah denganku nanti karena aku lebih tua darimu” ucap Refan.
“Bagaimanapun kakak aku akan tetap menikah dengan kakak kita sudah berjanji”ucap Aisha tersenyum melihat kearah Refan dan di balas senyuman juga.
FLASHBACK OFF.
“Nona makan malam sudah siap tuan, nyonya dan nona Mesa sudah menunggu di bawah” ucap Wang Ma kepala pelayan menghampirinya membuyarkan lamunannya.
“Apa kak Refan sudah pulang?” Tanya Aisha.
“Sepertinya tuan muda tidak pulang nona” ucapnya undur diri.
Aisha turun kebawah untuk makan malam bersama keluarganya.
NEXT>>
Tak terasa sudah 2 tahun mereka menikah namun sikap Refan terhadap Aisha tetap sama, bahkan setelah memutuskan untuk pisah rumah dengan orangtuanya Refan semakin tidak memperdulikan Aisha dan semakin mengabaikan Aisha membuatnya sangat kesepian.
Meskipun kesepian Aisha tidak berniat pergi kemanapun karena mengingat kejadian sebulan lalu saat ia merasa bosan dan ia menyetujui ajakan Mesa dan Lisa untuk cari hiburan mereka mengajaknya ke bar dan tanpa sengaja bertemu dengan Refan sehingga Refan menyakitinya dan menyiksanya malam itu.
Aisha mengingat kejadian sebulan lalu dengan menitihkan airmatanya.
FLASHBACK ON,
“Kakak ipar sudah ga usah dipikirkan kakakku yang bodoh itu, lebih baik kita have fun malam ini” ucap Mesa.
“Benar kata Mesa, tenang saja kamu ga sendiri selalu ada kami bersamamu” ucap Lisa.
“Nona ini para pria terbaik di bar kami” ucap bos pemilik bar memperkenalkan beberapa pria pada Aisha, Mesa, dan Lisa.
“Semua ganteng dan tinggi, biarkan mereka semua disini. Biar mereka membuat kakak iparku bahagia malam ini” ucap Mesa sedikit mabok.
Meskipun Aisha menolak tapi kedua sahabatnya selalu memaksanya sehingga dia menurut saja dan mulai mengikuti suasana, mereka bersenang\-senang minum\-minum bernyanyi dan menari.
Tanpa mereka sadari asisten Refan melihatnya dan melaporkannya pada Refan yang berada di ruangan sebelah, merasa geram Refan pun beranjak dan menyeret Aisha pulang.
“Sudah puas bersenang\-senangnya?” Ucap dingin Refan.
“Ehh kamu kenapa mirip sama kakak bodohku itu” ucap Mesa mabuk.
“Leo urus mereka” ucap Refan pada asistennya dan menarik Aisha pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sesampainya dirumah Refan melemparkannya Aisha ke atas kasur.
“Apa kamu begitu tidak tahan ingin disentuh laki\-laki sampai kamu mencari banyak pria untuk melayanimu” marah Refan.
“Kamu dalah paham mereka yang membawaku karena mereka pikir aku bosan dirumah” jawab Aisha memalingkan wajahnya.
“Kamu bisa menolak kan, ingat posisimu kamu sudah menikah dan kamu nyonya Arsenio jaga sikap” emosi Refan.
“Aku sudah menolaknya tapi…” ucap Aisha terhenti.
“Tapi apa haa? Kalau kamu memang sudah tidak tahan di sentuh pria aku bisa mengabulkannya untukmu” bentak Refan.
“Tidak Refan kamu salah paham” ucap Aisha sedikit keras.
“Oh berani melawan sekarang ya, akan ku puaskan kamu malam ini ” ucap Refan mendekati Aisha.
“Kamu mau apa?” Tanya Aisha sedikit mundur.
“Aku hanya ingin mengabulkan keinginanmu” ucap Refan tanpa aba\-aba mencium dan melimat bibir Aisha dengan kasar.
Meskipun mencoba berontak namun tenaga Aisha kalah dengan Refan sehingga Aisha memilih pasrah dengan perlakuan Refan.
Malam itu menjadi malam pertama mereka melakukan hubungan suami istri dan malam penyebab perubahan sikap Aisha.
Pagi harinya Aisha terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ia benar\-benar tidak menyangka Refan menyiksanya semalaman bahkan saat dia sudah mengatakan lelah dan tak sanggup Refan tidak menghentikannya sedikitpun.
Dengan tubuh yang terasa remuk Aisha merjalan menuju kamar mandi dan merendam dirinya di air dingin dengan menangis lirih.
Refan yang melihat noda darah diatas seprai membuatnya merasa bersalah.
\(Ini pertama kalinya dia melakukan hubungan, apa aku terlalu menyakitinya\) batin Refan beranjak dari ranjangnya.
“Wang Ma ganti seprai kamar, bawakan sarapan ke kamar dan buatkan sup pereda nyeri” ucap Refan sebelum pergi ke Perusahaan.
\(Tuan ini meskipun terlihat dingin dan kasar tapi masih ada sedikit rasa peduli pada nyonya\) batin Wang ma.
“Nyonya sudah selesai mandi?” Ucap Wangma melihat Aisha keluar dari kamar mandi.
“Hmmm” dehem Aisha melihat kasur yang sudah rapi bahkan seprainya sudah di ganti.
“Oh ya nyonya, ini sarapan anda dan sup pereda nyeri untuk anda” ucap Wang ma menunjuk meja kecil.
“Terima kasih” ucap Aisha.
“Ya sudah kalau begitu saya undur diri dulu , jika perlu apa\-apa lagi panggil saya saja nyonya” ucap wang ma.
“Baik” ucap Aisha.
\(Kenapa dalam semalam sikap nyonya berubah seperti ini, apa yang terjadi\) batin wang ma menggeleng dan meninggalkan kamar.
FLASHBACK OFF.
“Nyonya, apa nyonya sedang bosan? Apa ingin saya temani berjalan\-jalan sekitar kompleks” ucap Wang Ma melihat Aisha meletakkan buku di tangannya.
“Tidak perlu, bawakan aku cemilan saja ke kamarku” ucap Aisha beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.
“Nyonya sungguh kasihan dulu dia adalah seorang gadis yang ceria dan selalu tersenyum tapi kini dia berubah menjadi kaku, dingin dan tidak pernah tersenyum lagi” lirih Wang Ma menatap punggung Aisha menaiki tangga.
“Nyonya ingin makan malam apa?” Tanya wang ma setelah meletakkan cemilan di depan Aisha.
“Apa tuan akan pulang malam ini?” Bukan menjawab tapi balik bertanya.
“Sepertinya tidak pulang nyonya” jawab wang ma.
“Benar juga setelah kejadian itu dia tidak pulang” lirih Aisha yang memang sejak kejadian sebulan lalu Refan tidak pernah pulang.
“Jika begitu tidak perlu membuat makan malam, aku tidak ingin makan” lanjut Aisha.
“Tapi nyonya kalau anda tidak makan nanti akan sakit” ucap wang ma.
“Tidak akan, lakukan pekerjaanmu saja” ucap Aisha.
Wang ma pun pergi meninggalkan Aisha sendiri, setelah kepergian wang ma Aisha membuka laptopnya dan sejenak sibuk mengetik dan memandangi layar laptopnya.
Setelah menutup dan meletakkan laptopnya Aisha menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya dan bersiap tidur.
Ke esokan harinya karena merasa bosan Aisha memutuskan untuk pergi ke cafe bersama kedua sahabatnya.
“Nyonya anda akan kemana?” Tanya wang ma melihat Aisha.
“Jika tuan bertanya jawab saja aku ke cafe bersama mesa dan Lisa” jawab Aisha berlalu, ia tau Refan tidak pernah pulang tapi Refan selalu menanyakannya pada wang ma.
Setelah sampai di cafe dan memesan menunya Aisha menghubungi kedua sahabatnya di grup percakapan mereka.
‘Kalian dimana’ pesan Aisha.
‘Kami baru selesai kelas, akan segera kesana’ balas Lisa.
‘Sabar ya tunggu kami’ balas Mesa.
‘Baiklah aku sudah di cafe’ balas Aisha.
Ya Mesa dan Lisa masih kuliah sedangkan Aisha berhenti kuliah sejak menikah karena ingin fokus dengan pernikahannya.
\(Semua sudah terjadi tidak mungkin bisa di ulang kembali\) batin Aisha tersenyum meletakkan ponselnya di meja dan meraih gelas minumannya.
\(Aku pikir setelah menikah dan hidup bersama dia akan berubah dan bisa mencintaiku dan memperlakukanku dengan baik seperti saat kita masih kecil, tapi ternyata dia memang benar\-benar berubah dan tidak mungkin kembali\) batin Aisha menyedot minumannya sambil melamun.
“Jangan melamun nanti tersedak kamu” ucap Lisa dan Mesa yang baru datang.
“Kalian sudah datang” ucap Aisha.
Mereka pun mengobrol dan sesekali bercanda, melihat Aisha tersenyum dan tertawa bersama mereka itu membuat mereka sangat bahagia hingga tiba\-tiba.
‘Huekk..huekkk’
Aisha merasa mual tiba\-tiba saat mencium bai yang menurutnya sangat sensitif.
“Kamu kenapa?” Tanya Lisa.
“Kakak ipar sakit?” Tanya Mesa.
“Aku tidak papa, memang akhir\-akhir ini sedikit tidak enak badan saja” jawab Aisha.
“Kita kerumah sakit periksa ya” ucap Mesa.
“Tidak perlu” tolak Aisha.
“Kamu harus tetap periksa, kami antar” ucap Lisa.
“Iya iya nanti aku periksa, kalian juga masih ada kelas kalian harus kembali” ucap Aisha.
“Tapi..” ucap Mesa.
“Tidak ada tapi\-tapi , aku janji setelah ini aku ke rumah sakit periksa” ucap Aisha.
NEXT>>
Setelah di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan membuat Aisha terkejut.
“Sebenarnya saya kenapa dok? Kenapa akhir\-akhir ini saya sensitif sekali mencium bau\-bau menyengat langsung mual” tanya Aisha.
“Itu sangat wajar bagi ibu hamil” jawab dokter.
“Apa? Ibu hamil?” Ucap Aisha terkejut.
“Iya nyonya Aisha saat ini sedang hamil sudah satu bulan, dan itu masih rentan jadi tolong jaga fikiran dan pola makan anda agar janin tetap sehat” jelas dokter.
Setelah mengobrol dan mendengar penjelasan dokter Aisha berjalan melamun menyusuri koridor rumah sakit.
\(Apa setelah Refan tau aku hamil dia akan baik padaku?\) batin Aisha dan saat ini fikirannya banyak di penuhi kemungkinan\- kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Hingga tiba\-tiba terdengar suara yang sangat familiar baginya.
“Dokter dokter cepat” teriak Refan panik memanggil dokter.
“Refan, Sifa tidak akan kenapa\-kenapa kan?” Tanya Maya, melihat putrinya yang sedang di tangani dokter.
“Dia pasti tidak papa” ucap Refan menenangkan Maya dan memeluknya.
“Ini salahku, aku baru saja membawa Sifa kembali karena dia ingin bertemu kamu ayahnya tapi malah aku ceroboh sehingga dia terluka” ucap Maya menangis.
“Bukan salahmu, aku juga salah membiarkanmu sendirian di luar sana membesarkan Sifa 3 tahun ini” ucap Refan.
Sedangkan di balik tembok Aisha menangis mendengar percakapan mereka.
\(Jadi gadis itu adalah Maya mantan pacar Refan saat kuliah dulu bahkan mereka punya anak yang sudah berusia 3 tahun?\) batin Aisha menangis bertanya\-tanya.
\(Lalu aku ini hanyalah orang yang memisahkan mereka? Harusnya aku tidak percaya janji\-janji yang di ucapkan Refan kecil dulu, hahaha Aisha kamu terlalu naif, kamu tau Refan sudah membencimu tapi kamu memaksakannya\) batin Aisha.
Aisha berjalan linglung kembali ke rumah.
“Nyonya anda sudah pulang?” Ucap wang ma melihat Aisha memasuki rumah namun tidak menjawab wang ma Aisha hanya berjalan lemas dengan muka murung.
“Nyonya tuan sudah pulang, belia menunggu anda di kamar” lanjut ucap wangma, tetap tidak mencawab Aisha berjalan menuju kamar.
Baru saja memasuki kamar tiba\-tiba Refan menarik Aisha dan melemparkannya ke kasur, menindihnya dan menciumi tubuhnya, Aisha hanya diam tanpa berontak sedikitpun.
\(Dia terkena obat bius\) batin Aisha memejamkan matanya membiarkan Refan melakukan apa saja, meski sedikit merasa nyeri karena saat ini dia tengah hamil dan Refan melakukannya dengan kasar.
Aisha hanya diam memejamkan mata dan tanpa sadar air mata mengalir di sudut matanya.
\(Apa kamu mengira aku maya kekasihmu itu\) batin Aisha.
Setelah puas melakukan keinginannya Refan bersandar di ranjang dan meraih ponselnya. sedangkan Aisha bangkit dari tidurnya melihat bercak darah di seprainya ia mengambil obat dari tasnya dan meminumnya tanpa sepengetahuan Refan yang sibuk dengan ponselnya lalu menuju kamar mandi untuk berendam.
“Eghhh” lengkuh Aisha membuka matanya.
“Aisha sayang kamu tidak papa?” Tanya Lena Arsenio.
“Mama? Kok aku dikamar ? Bukannya aku lagi berendam?” Tanya Aisha.
“Iya tadi mama niatnya mau mampir lihat kamu ehh saat mama nyari kamu Refan malah nemuin kamu pingsan di kamar mandi, lagian kamu malam\-malam ngapain berendam kamu bisa sakit” ucap Lena Arsenio.
“Dokter Rian sudah datang biarkan dia periksa Aisha dulu” ucap Refan baru datang bersama fokter pribadi keluarga.
Dokter Rian memeriksa Aisha, dan terkejut.
“Nona anda” ucap dokter Rian dihentikan Aisha yang menggeleng.
“Tolong jangan beritahukan mereka tentang kehamilanku dulu” ucap Aisha.
“Tapi kenapa?” Tanya Dokter.
“Saya hanya ingin memberi kejutan pada mereka nanti” ucap Aisha.
“Baiklah, tapi lain kali hati\-hati minta Refan melakukannya perlahan kandungan kamu masih lemah, jika ini terus terjadi kamu bisa kehilangan janin” ucap Dokter.
“Aku mengerti dok” ucap Aisha.
Dokter pun keluar ruangan.
“Dia kenapa?” Tanya Refan dingin.
“Nyonya muda hanya kelelahan, lain kali tuan lebih lembutlah sedikit jangan terlalu kasar” ucap Dokter Rian, membuat mereka yang mendengarnya terkejut.
“Baiklah terimakasih, Leoantar dokter Rian pulang”ucap Refan.
“Wang ma buatkan sup untuk Aisha” ucap Refan lagi.
Wang ma dan Leo patuh mendengarkan perintah tuannya.
\(Apakah tuan dan nyonya sudah baikan? Itu sangat bagus, daripada tuan bersama Maya si licik itu\) batin Leo yang memang tau tentang mereka bahkan tidak menyukai Maya karena licik namun Refan selalu membela Maya karena kekasih pertamanya sejak di universitas dulu.
“Mama masih disini?” Ucap Aisha melihat kedua orang tuanya.
“Iya sayang kami akan menginap disini malam ini, papamu ada urusan yang perlu di bicarakan dengan Refan” ucap mama Lena.
Aisha memang tidak melihat suaminya dan papa mertuanya mungkin mereka sedang berada di ruang kerja.
“Aisha mama lihat kok kamu semakin kurus? Apa kamu tidak makan dengan baik?” Ucap mama.
“Nafsu makanku sedang tidak baik ma, jadi jarang makan” jawab Aisha.
“Iya nyonya, nyonya muda sekarang susah sekali untuk makan terakhir kali makan malah muntah” sahut wang ma yang baru datang membawa semangkuk sup.
“Kamu muntah saat makan? Apa kamu hamil?” Tanya mama.
“Hamil? Siapa yang hamil?” Tanya Refan yang baru datang membuat Aisha terkejut.
\(Sebaiknya aku rahasiakan kehamilaku pada mereka dulu\) batin Aisha.
“Tidak ada, ma aku hanya ada masalah lambung karena akhir\-akhir ini tidak makan dengan baik tapi kedepannya aku akan jaga pola makanku agar tidak terjadi lagi” ucap Aisha.
\(Apa ada yang dia tutupi dari kami\) batin Refan yang menyadari Aisha terlihat gugup.
“Oh ya ma, aku kangen masakan mama boleh ga mama masakin buat aku?” Ucap Aisha bersandar di bahu mama mertuanya.
“Baik baik mama akan memasakan sarapan untuk kalian besok pagi” ucap mama.
“Asik, makasih mama” ucap Aisha senang, karena entah kenapa dia sangat ingin memakan masakan mama mertuanya itu.
“Ya sudah , ini sudah malam kalian istirahatlah dulu” ucap Mama.
“Baik ma, mama dan papa juga istirahatlah” ucap Aisha.
Mama dan papa pergi meninggalkan kamar mereka dan menuju kekamarnya.
“Apa kamu masih merasa tidak nyaman?” Tanya Refan perhatian.
“Aku sudah baik\-baik saja, tidak perlu khawatir, aku tidur duluan” jawab Aisha acuh.
\(Kenapa sikapnya tidak seperti biasanya? Kenapa sekarang acuh? Padahal biasanya dia paling senang saat ku perhatikan begini\) batin Refan merasa kecewa mendengar jawaban Aisha.
Pagi harinya saat bangun tidur Aisha berlaribke kamar mandi karena merasa mual dan ingin muntah tapi tidak mengeluarkan apapun, Refan yang mendengarnya pun menyusulnya ke kamar mandi.
“Apa kamu baik\-baik saja?” Tanya Refan.
“Aku baik\-baik saja, mungkin adam lambungku naik lagi” jawab Aisha alasan.
“Jika sakit pergilah lakukan pemeriksaan menyeluruh jangan sampai terlambat penanganan” ucap Refan.
“Aku mengerti, oh ya aku ke bawah dulu mau bantu mama masak” ucap Aisha berlalu meninggalkan Refan sendirian.
\(Bukankah aku harusnya senang dia seperti ini, daripada berisik seperti sebelumnya mencari perhatian, tapi kenapa aku kecewa dengan sikap dia sekarang\) batin Refan memandangi punggung Aisha yang menghilang di balik pintu.
NEXT>>
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!