"Namaku Ivan Alfarizi. Umurku sekarang 16 tahun. Aku tinggal di kota surabaya, tapi di daerah pedesaan yang agak jauh dari pusat kota" gumamku.
"Ivan! Cepat ke sini, makan!" panggil ibu dari dapur.
"Iya!" sahutku dari dalam kamar.
"Dia ibuku. Walaupun agak galak tapi aku tetap menyayanginya" batinku sambil berjalan ke dapur.
Sesampainya di dapur, aku duduk di kursi lalu membuka tudung saji. Makanannya sederhana tempe dan telur. Tapi aku sudah terbiasa dengan itu.
"Maaf ya, Ivan. Kalau ibu besok punya uang, pasti ibu belikan ayam atau ikan. Nggak apa-apa kan, untuk hari ini makan tempe dan telur dulu?" tanya ibu Ivan sambil meletakkan piring.
"Nggak papa kok bu, bisa makan aja Ivan sudah bersyukur!" jawabku sambil mengambil nasi.
"Yaudah, Ivan. Setelah makan kamu bantu ibu bersih-bersih rumah, karena kamu lagi libur ya!" ujar ibu.
"Tapi Bu, rencananya hari ini aku mau latihan bola sama temen-temen" jawabku sambil mengunyah makanan.
"Kamu ini, mikirnya cuman bola terus. Lihat anak Pak Samat, dia mau bantuin ayahnya di sawah. Sedangkan kamu!!" ucap Ibu Ivan yang sedikit emosi.
"Iya ibu" jawabku pelan.
"Yaudah, cepet habisin makannya" ujar ibu sebelum pergi ke luar.
Ibu lalu pergi keluar untuk bekerja di rumah tetangga, ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Setelah makan aku lalu membantu ibu membersihkan rumah.
"Ah... Bersih-bersih rumah" ucapku pelan.
Aku lalu menyapu rumah.
"Ivan!" panggil teman-temanku dari luar.
"Iya sebentar!" sahutku dari dalam, aku lalu berjalan keluar untuk menghampiri teman-temanku.
"Ada apa?!" tanyaku.
"Katanya mau latihan bola, tapi kok kita tungguin dari pagi kamu nggak datang-datang?!" tanya Andika.
"Hmm.... Bukannya nggak mau nih, tapi aku disuruh bersih-bersih rumah" jawabku sambil masih memegang sapu.
"Yaudah, kalau udah selesai langsung aja kelapangan. Disana temen-temen yang lain udah nungguin!" ujar Azzam.
"Iya, nanti aku kesana" jawabku.
Setelah itu teman-temanku lalu pergi, sementara aku masih harus melanjutkan membersihkan rumah.
Saat sudah selesai bersih-bersih aku lalu melihat jam sebelum pergi keluar.
"Ah... Selesai juga, sekarang jam berapa? Hah! Udah jam 11?! Aku harus buru-buru kelapangan!" ujarku sebelum pergi.
Aku lalu pergi kelapangan, sesampainya dilapangan aku kaget karena sudah tidak ada orang selain Azzam disana.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki Ivan.
"Ah... Ah... Ah..." aku yang terengah-engah.
"Dimana yang lain?!" tanyaku ke Azzam yang masih disana.
"Yang lain sudah pulang. Soalnya kamu kelamaan bersih-bersih rumahnya!" jawab Azzam sambil meminum air ditangannya.
"Yah" batinku.
"Jadi, masih mau main, Zam?!" tanyaku ke Azzam.
"Besok aja, sekarang udah siang" jawab Azzam sebelum pergi dari lapangan.
Azzam lalu pergi meninggalkan ku sendirian dilapangan, aku lalu duduk dan bersandar di tiang gawang untuk menikmati angin yang berhembus pelan.
"Hah...." aku menghela napas.
Angin berhembus melewati tubuh Ivan secara perlahan. Daun-daun terbang tertiup angin, serta rerumputan seperti menari-nari karena hembusan angin.
"Besok...? Apa aku besok dibolehin main bola sama ibu?!" batinku pelan.
"Seandainya ayah nggak pergi keluar kota untuk kerja, pasti aku bisa diajarin main bola ayah!" batinku yang mengenang ayah.
"Kenapa ayah pergi saat aku masih kecil?" batinku.
Tanpa sadar air mataku menetes perlahan, sedikit demi sedikit.
Waktu cepat berlalu saat aku mengenang ayah, aku lalu berdiri dan berjalan pulang ke rumah.
"Saatnya pulang" batinku.
Aku lalu pulang ke rumahku, walaupun rumahku sederhana tapi itu sudah cukup untuk menjadi tempat berlindung.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki Ivan.
"Hmm... Kapan ya desa ngadain lomba sepak bola, atau minimal tarkam?!" batinku sambil terus berjalan.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamarku. Kamarku sederhana tapi di tembok terpajang beberapa poster pemain bola, seperti Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi, dan kelihatannya ibu belum pulang kerumah.
"Tidur dulu ah" ujarku.
Aku lalu berbaring dan tidur sejenak untuk mengistirahatkan tubuhku yang agak lelah.
"Meong" suara kucing dari luar rumahku.
Ivan tertidur pulas di kamarnya yang agak berantakan, sementara itu ibu Ivan yang sedang bekerja sebagai ibu rumah tangga di rumah tetangga.
"Udah jam segini, Ivan sudah selesai bersih-bersih rumah belum ya?!" batin ibu Ivan.
"Bu, Lastri. Saya sudah selesai bersih-bersih, jadi saya mau pulang" ujar ibu Ivan sebelum pulang.
"Oh, Iya" sahut bu Lastri.
Ibunya Ivan lalu pulang ke rumah.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki ibu Ivan.
Sesampainya di rumah, ibu Ivan langsung mencoba masuk tapi tidak bisa karena pintunya dikunci dari dalam.
"Terkunci?!" batin ibu Ivan.
"Tok... Tok... Tok..." Ibu Ivan mengetuk pintu.
"Ivan... Ivan... Ivan..." panggil ibu Ivan dari luar.
"Kayaknya Ivan lagi tidur" batin ibu Ivan.
Ivan yang masih tertidur jadi terbangun karena suara ketukan pintu.
"Siapa sih?!" batinku sambil mengusap mata.
"Ivan!!" suara ibu.
"Astaga, ibu!" ujarku panik.
Aku lalu berjalan cepat ke depan pintu.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku
"Krek" suaraku membuka pintu.
"Kamu tidur?!" tanya ibu sebelum masuk kerumah.
"Iya, soalnya ngantuk. Hehehe" jawabku sambil tertawa pelan.
"Yaudah" ujar ibu.
Ibu lalu masuk ke dalam rumah, dan aku masuk ke kamarku.
"Krek" suara pintu kamarku.
Aku masuk dan mencari bola yang diberikan ayahku sewaktu kecil, aku terus mencari sampai akhirnya aku menemukan bola itu.
"Aku coba cari bola pemberian ayah. Dimana ya?!" gumamku sambil terus mencari.
Aku terus mencari dan tanpa ku sadari hari sudah sore, tapi beruntung aku berhasil menemukan bola itu.
"Aha... Ini bolanya!" batinku sambil mengambil bola.
"Bola adalah teman!!" ujarku yang membaca tulisan di bolanya.
"Bola adalah teman? Apa maksudnya?! gumamku pelan sambil terus memandangi bola itu.
" Ivan!! Kesini makan, udah sore!!" panggil ibu dari dalam dapur.
"Iya!!" sahutku dari dalam kamar.
Aku lalu menyimpan bolaku, dan langsung ke dapur untuk makan.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Sesampainya di dapur, aku lalu duduk dan membuka tudung saji.
"Sayur kangkung? Dapat dari mana bu?!" tanyaku sebelum makan.
"Tadi diberi bu Lastri" jawab ibu.
Aku lalu makan, dan setelah makan aku disuruh ibu untuk mandi.
"Ivan, setelah makan langsung mandi ya" ujar ibuku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku secara perlahan.
Dan setelah selesai makan, aku segera mandi agar tidak dimarahi ibu.
"Mandi, habis itu belajar" batinku sambil terus berjalan ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, aku lalu mandi sebelum pergi belajar di kamar. Aku hanya menggunakan gayung untuk mengambil air, tapi itu sudah cukup untuk ku dan ibuku.
Setelah selesai mandi, aku lalu bergegas ke kamar untuk belajar.
"Belajar lagi" batinku.
Dari sore ke malam hari, aku hanya berada di kamar untuk belajar. Setelah selesai belajar aku lalu tidur.
"Huah!!" aku mengantuk.
"Tidur dulu" ujarku.
Aku lalu tidur untuk melewati malam.
Ivan pun menutup matanya, berharap esok pagi akan membawa sedikit cahaya dan mungkin, sedikit izin untuk bermain bola.
Bersambung...
Pagi sudah tiba, cahaya matahari mulai masuk ke kamar Ivan. Dari luar kamar, terdengar suara ibu Ivan memanggilnya.
"Ivan... Bangun!!" teriak ibu dari dalam dapur.
Ivan lalu bangun secara perlahan. Dari wajahnya, sudah terlihat jelas jika dia masih mengantuk.
"Huahh" suaraku sambil mengusap mata yang masih terasa berat.
"Ivan!!" panggil ibu.
"Iya!!" sahutku dari dalam kamarku.
Aku lalu berdiri dan bergegas menghampiri ibu di dapur, aku berjalan pelan karena masih mengantuk.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Setibanya di dapur, aku lalu duduk.
"Ada apa, bu?!" tanyaku yang masih agak mengantuk.
"Makan, terus mandi" ujar ibuku sembari mengambil piring dan nasi.
"Iya," jawabku.
Aku lalu membuka tudung saji. Makanannya seperti kemarin, hanya tempe dan telur.
"Ayam atau ikannya mana, Bu?!" tanyaku ke ibu.
"Maaf ya, Ivan. Ibu belum dapat uang, soalnya belum seminggu kerja di tempat Bu Lastri" jawab ibuku.
"Iya" jawabku pelan sembari mengambil lauk.
Aku lalu makan.
Setelah makan, aku bergegas mandi. Sehabis mandi aku lalu membereskan kamarku yang berantakan.
"Udah makan, tinggal mandi!" batinku.
Setelah itu aku lalu berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Usai mandi aku bergegas merapikan tempat tidurku agar tidak dimarahi ibuku.
"Byur!!" suara air.
Setelah mandi, aku lalu ke kamarku untuk merapikan tempat tidur.
"Bersih-bersih kamar," gumamku sambil membersihkan kamar.
Setelah selesai membersihkan kamar, aku disuruh ibuku untuk membersihkan rumah.
"Ivan, nanti bersih-bersih rumah ya!!" ujar ibu sebelum pergi bekerja.
"Iya, Bu!!" sahutku dari dalam kamar.
Setelah itu, ibu lalu pergi bekerja sementara aku melanjutkan bersih-bersih.
"Sapu dulu aja," gumamku pelan sembari mengambil penyapu.
Aku lalu menyapu rumah, setelah selesai menyapu aku langsung mencuci piring.
"Ah... Akhirnya selesai, sekarang tinggal cuci piring," ucapku pelan sambil meletakkan sapu.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku berjalan ke dapur untuk mencuci piring.
Hampir satu jam bersih-bersih akhirnya aku selesai juga, aku bergegas ke kamar untuk mengambil bola.
"Selesai juga, karena nggak ada ibu aku bisa main bola dulu," batinku sambil mengambil bola dikamar.
Setelah mengambil bola, aku bergegas pergi kelapangan.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Ivan terus berjalan, melewati pagi yang masih berkabut. Sesampainya di sana dia langsung bermain sendirian di bawah mentari pagi.
"Masih agak dingin disini," ujarku.
Aku lalu meletakkan bola, dan berlarian di sana sambil menggiring bola.
"Ah..." suaraku.
Aku menggiring bola dibawah rumput yang masih tertutup embun pagi...
"Dan... Shot!!" suaraku sambil menendang bola.
"Masih melenceng dari sasaran," ujarku.
Aku terus berlari menggiring bola, tembakan demi tembakan terus diluncurkan.
"Ting" suara bola membentur tiang gawang.
"Ah... Ah... Ah..." napasku yang terengah-engah.
Keringat mulai membasahi bajuku. Setelah hampir satu jam, tiba-tiba teman-temanku datang untuk ikut bermain.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah teman-temanku.
"Ivan!" panggil Azzam.
"Ivan... Kenapa nggak ngajak kita main bola?!" tanya Andika.
"Aku kira kalian masih tidur?!" ujarku sembari menggaruk kepalaku.
"Yaudah, mau main?!" tanyaku ke teman-teman.
"Mau dong" jawab mereka.
Mereka langsung berlari ke arahku dengan cepat, Azzam mengambil bolaku lalu menendangnya ke arahku.
"Nih, Ivan!!" teriak Azzam.
"Oke!!" ujarku.
Aku menerima umpan dari Azzam. Lalu berlari ke arah gawang yang dijaga Andika.
"Andika, tangkap!!" teriakku.
Aku lalu menendang bola. Bola melesat dengan cepat ke arah kiri bawah gawang Andika, namun dengan refleks yang hebat Andika langsung menjatuhkan dirinya ke arah bola.
"Cuman segini?!" ejek Andika, sambil menepuk-nepuk tangannya sendiri.
"Masih pemanasan, Dik!!" teriakku.
Andika lalu melemparkan bolanya, Azzam yang mendapatkan bola. Dia berlari sekuat tenaga ke arah gawang, sementara aku mengikuti Azzam dari belakang.
"Zam, umpan!!" teriakku.
"Oke!!" sahut Azzam.
Bola dengan cepat berbelok ke arahku, saat bola datang langsung kutendang ke arah gawang dengan sekuat tenaga.
"Dan... Shoot!!" teriakku sebelum menembak bola.
Bola melesat langsung ke gawang, bola yang awalnya lurus tiba-tiba berbelok ke arah kanan gawang.
"Hah? Kok bisa?!" batin Andika.
Andika hanya mampu melihat bola, tapi tidak bisa menangkapnya.
"Yes... Gol!!" ujarku.
Waktu terus berlalu saat aku bermain bola, matahari sudah mulai naik ke atas. Dan saat aku sedang seru bermain tiba-tiba ibu datang.
"Ah... Ah... Ah.... Zam, tembak!!" teriak Andika.
"Ivan... Pulang!!" teriak ibu dari jalan.
Aku menoleh ke sumber suara.
"Huh, Ibu?!" batinku.
"Cepet pulang!!" teriak ibu.
"Iya, Bu!!" sahutku.
"Yaudah, Van. Udah dulu mainnya," ujar Azzam sebelum pergi.
"Iya, Van. Kita pergi dulu," ujar Andika.
"Ivan... Cepet!!" teriak ibu.
Aku lalu bergegas mengambil bolaku, lalu berjalan ke ibu.
"Kenapa, Bu?!" tanyaku pelan.
"Udah dibilang, Ibu. Masih aja ngeyel main bola," ujar ibu yang marah.
Aku hanya mendengarkan omelan ibu tanpa berani menjawab, maupun menyela. Aku dan Ibu terus berjalan pulang sambil aku terus dimarahi ibu karena bermain bola.
"Gak usah main bola, Ivan!!" ujar ibu.
Aku hanya diam saat ibu memarahiku.
"Tap... Tap... Tap..." langkah kakiku dan ibu.
Setelah lama berjalan akhirnya aku dan ibu sampai di rumah. Sesampainya di rumah aku langsung disuruh ibu untuk makan siang.
"Sana makan dulu," ucap ibu.
Aku lalu menyimpan bolaku dan pergi makan siang.
Sesampainya di dapur, aku lalu duduk dan makan lauk yang sudah tersedia. Ada sayur bayam dan tempe.
"Wah, enak nih!" batinku sambil mengambil nasi.
"Ivan, setelah makan kamu pergi ke rumah ibunya Nadia ya!!" ujar ibu.
"Buat apa, Bu?!" tanyaku.
"Nanti kamu kasih uang ini ke ibunya Nadia, ini uang untuk bayar hutang ibu kemarin!" ujar ibu sambil meletakkan uang di atas meja.
"Iya," jawabku.
Aku bergegas menghabiskan makananku, setelah selesai makan aku lalu pergi ke rumah ibunya Nadia.
"Aku berangkat, Bu!!" ujarku sebelum berangkat.
"Iya," sahut ibu.
"Hmm... Cepet banget siangnya," batinku sambil terus berjalan.
"Eh, Van. Mau kemana?!" tanya Rafael yang berpapasan denganku di jalan.
"Mau ke rumahnya Nadia," jawabku.
"Yaudah," sahut Rafael.
Aku lalu lanjut berjalan ke rumah Nadia, sesampainya di sana aku langsung melihat Nadia yang sedang menyirami bunga di depan rumah.
"Nah, itu Nadia!!" ujarku.
"Nadia!!" sapaku.
"Eh, Ivan. Tumben kesini, ada apa nih?!" tanya Nadia.
Aku berjalan mendekat ke Nadia.
"Gini, Nad. Aku disuruh ibu buat bayar hutang ke ibu kamu," ujarku.
"Em... Kalau boleh tahu, hutang apa ya?!" tanya Nadia yang agak malu-malu.
"Boleh, tapi aku nggak tahu," ucapku.
"Oh, yaudah!!" ujar Nadia.
"Tunggu ya, aku panggil ibu dulu" ujar Nadia.
"Eh, nggak usah!!" ucapku ke Nadia.
"Kenapa?!" tanya Nadia.
"Kamu kan anaknya jadi aku kasih ke kamu aja, terus kamu kasih ke ibu kamu!!" ujarku sambil mengambil uang.
"Oh iya, Hehehehehehe" Nadia tertawa.
Aku lalu memberikan uangnya ke Nadia, dan langsung pulang.
"Eh... Kok langsung pulang?!" tanya Nadia.
"Udah sore, Nad!!" jawabku ke Nadia.
"Yaudah!!" ujar Nadia dengan nada kecewa.
"Dia marah nih," batinku sambil terus berjalan.
Dan singkatnya, sesampainya dirumah aku langsung mandi.
"Ibu, udah aku bayar hutangnya," ujarku.
"Iya, yaudah sana mandi!!" ujar ibu.
Aku lalu mandi, setelah mandi aku bergegas belajar di kamar.
"Udah sore aja," batinku sebelum mandi.
Seusai mandi aku lalu belajar.
Aku belajar dari sore sampai malam hari. Setelah selesai belajar aku lalu tidur.
"Huah..." Aku yang menguap.
"Tidur dulu," gumamku.
Aku lalu berbaring di kasur untuk tidur.
"Semoga aku bisa menjadi pemain sepak bola profesional!!" batinku sebelum tertidur.
Ivan lalu tertidur pulas, Ivan tidur untuk melewati malam. Ivan besok akan pergi sekolah karena besok sudah hari senin, jadi bagaimana Ivan di sekolahnya?!
Bersambung...
Mentari belum masuk ke kamar Ivan, tapi Ivan sudah bangun karena hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di kelas 11 ini.
"Kukuruyuk!!" suara ayam berkokok.
"Huah," aku menguap.
"Ivan, cepet sarapan lalu mandi!!" teriak ibu dari dapur.
"Iya!!" sahutku dari dalam kamar.
Aku beranjak dari kasurku dan berjalan ke dapur, sesampainya di dapur aku lalu makan. Lauknya sederhana, hanya tempe dan tahu.
"Ivan, setelah makan langsung mandi ya," ujar ibu sambil meletakkan piring.
"Iya," jawabku pelan.
Aku lalu makan, setelah makan aku bergegas ke kamar mandi.
"Kenyang," batinku.
"Sekarang, tinggal mandi!!" ujarku.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku yang berjalan ke kamar mandi.
"Hari pertama jadi anak kelas 11, semoga nggak ada drama baru!!" batinku sambil mandi.
Seusai mandi aku lalu bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
"Ibu, aku berangkat!!" ujarku sebelum berangkat.
"Iya," jawab Ibu.
Aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki, jarak sekolahku dan rumah cukup dekat. Tapi ada aja sesuatu yang terjadi saat berangkat sekolah.
"Hmm... Masih pagi banget," gumamku sambil terus berjalan.
Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Azzam tanpa sengaja.
"Eh... Itu Azzam. Zam!!" panggilku.
Azzam berhenti lalu menoleh ke arahku.
"Van. Mau berangkat bareng?!" tanya Azzam.
"Boleh," jawabku ke Azzam.
Aku lalu berangkat ke sekolah bersama Azzam, di tengah perjalanan terciptalah obrolan-obrolan yang random.
"Zam, kamu kelas 11 IPA atau IPS. Atau malah tata boga?!" tanyaku.
Azzam sedikit tersenyum lalu tertawa pelan.
"IPS, Van. Kalau kamu?!" tanya Azzam balik.
"Hehe... Sudah jelas dong, IPA!!" jawabku.
"Widih, anak IPA nih!!" ejek Azzam.
"Ah, kamu Zam. Kita jalan aja," ujarku.
"Wah, ada yang marah nih!!" sahut Azzam.
Aku hanya diam dan tetap berjalan. Sesampainya di sekolah aku langsung meletakkan tas di kelasku, lalu aku berjalan ke lapangan untuk melakukan upacara bendera.
"Oke, aku ke kelas dulu, Zam!!" ujarku sebelum pergi ke kelas.
"Iya," jawab singkat Azzam.
"Huh... SMA Medika Jaya, sekolah menengah atas yang sebenarnya bagus, tapi guru matematikanya killer banget!!" gumamku sambil terus berjalan ke kelas.
Setibanya di kelas, aku lalu meletakkan tasku.
"Tunggu, ini bukannya tasnya Nadia ya?!" batinku saat melihat tas merah muda dengan gantungan kunci berbentuk beruang cokelat yang imut di resleting tasnya.
"Pagi, Ivan!!" ujar Nadia yang menyapa.
"Nad, kamu duduk di sini?!" tanyaku.
"Iya, nggak papa kan?!" tanya Nadia.
"Nggak papa sih," jawabku sambil menggaruk kepala.
"Untuk semua murid, bisa segera berkumpul di lapangan depan. Karena akan segera diadakan upacara bendera," suara speaker sekolah.
"Eh... Ayo kita ke lapangan," ajak Nadia.
"Iya," jawabku pelan.
Aku dan Nadia lalu berjalan bersama ke lapangan upacara.
Sesampainya di sana, kami langsung diarahkan OSiS untuk berbaris rapi sesuai kelas.
"Van, kapan kamu jadi pengurus
OSIS?!" tanya Michel, teman OSISku.
"Yaelah, masih pagi udah ditanyain pengurus OSIS," jawabku ke Michel.
"Heheheh... Maaf deh, nanti setelah upacara kita ngobrol lagi," ujar Michel sebelum pergi.
Upacara bendera lalu dimulai, aku berbaris rapi sampai upacara selesai. Tapi di tengah upacara tiba-tiba pembina mengumumkan sesuatu ke semua murid.
"Anak-anak, sekolah akan mengadakan seleksi tim sepak bola untuk bertanding di kecamatan. Bagi yang berminat bisa daftar di pengurus OSIS ya!!" ujar Pak Nur, selaku kepala sekolah.
"Wah... Kesempatan bagus nih, tapi apa ibu setuju?!" batinku yang agak bimbang.
"Van, ayo kita tunjukkan siapa kita disini!!" ujar Andika yang berada di belakangku.
"Iya, sama nanti kita ajak Azzam," ujarku pelan.
Singkat cerita. Setelah selesai upacara, aku lalu menemui Azzam dan Andika.
"Azzam sama Andika, di mana sih?!" gumamku sambil berjalan mencari mereka.
Aku terus berjalan mencari mereka. Akhirnya aku menemukan mereka sedang makan di kantin sekolah.
"Nah, itu mereka," batinku.
Aku lalu menghampiri mereka di tengah keramaian kantin.
"Zam, Dik!!" sapaku.
"Oy, Van. Sini makan!!" ujar Azzam.
"Kalian makan aja, aku mau bahas soal seleksi tadi," ujarku.
"Oke," sahut Andika.
Aku lalu duduk bersebelahan dengan Azzam dan Andika. Aku mulai membahas tentang seleksi tadi.
"Oke, kita buat tim untuk seleksi gimana?!" tanyaku yang memulai obrolan.
"Oke, tapi kita hanya 3 orang sedangkan 1 tim sepak bola perlu 11 orang. Kita cari 8 orang lainnya di mana?!" tanya Andika.
"Kipernya kamu, beknya Azzam. Kalau aku striker," ujarku.
"Jadi?!" tanya Andika yang tidak paham.
"Jadi... Kita harus cari 8 orang lainnya!!" sahut Azzam.
"Oke," jawab singkat Andika.
"Atau gini aja, kita gabung ke tim orang lain yang kekurangan anggota?!" usul Azzam.
"Boleh juga," sahutku.
"Oke... Kalau gitu, kita bakal cari tim yang kekurangan anggotanya," ujar Andika.
"Kepada semua murid-murid, waktu istirahat setelah upacara selesai. Silakan kembali ke kelas masing-masing!!" suara dari speaker sekolah.
"Yaudah, nanti kita ngobrol lagi," ujarku sebelum pergi ke kelas.
"Oke," jawab Andika dan Azzam secara bersama-sama.
Sesampainya di kelas, aku lalu duduk dan mengambil buku pelajaran hari ini.
"Ivan... Kamu bawa buku pelajaran kan?!" tanya Nadia ke arahku sambil memberikan ekspresi yang lucu.
"Bawa kok, Nad. Omong-omong pelajaran pertama apa?!" tanyaku.
"Matematika," jawab Nadia pelan.
"Glup..." aku menelan ludah.
"Matematika?!" seruku pelan sambil melihat pintu, untuk memastikan guru matematika belum datang.
"Iya, memang kenapa?!" tanya Nadia.
"N-nggak papa kok Nad," jawabku yang agak gugup.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara langkah kaki yang tidak asing, suaranya keras dan mengerikan.
"Itu pasti, Bu Tia. Guru matematika yang menakutkan," batinku yang sedikit panik.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki seseorang dari luar kelas.
"Dug... Dug... Dug..." suara jantungku yang berdebar hebat.
Dan seseorang masuk, dia ternyata Pak Nur.
"Huh.... Kukira, Bu Tia!!" batinku yang lega.
"Pagi, Anak-anak!!" ujar Pak Nur di depan kelas.
"Pagi Pak!!" jawab serentak murid-murid di dalam kelas.
"Ada informasi soal seleksi, karena ada perubahan jadi tidak ada seleksi. Tapi sebagai gantinya, para pemain akan dipilih oleh saya," ujar Pak Nur sambil membaca sebuah surat.
"Aduh... Kalau aku nggak dipilih, aku nggak bakal bisa nunjukin skill-ku. Tapi kalau dipilih aku harus minta izin ibu!!" batinku sambil menggaruk kepala.
"Jadi, jika nama kalian disebut silakan ke kantor. 11 pemain pertama adalah, Azzam, Andika, Michel, Teo, Ardi, Egy, Yahya, Alfian, Reno, Tama, dan.... Ivan. Silakan ke kantor!!" ujar Pak Nur sembari membaca surat.
"Apa?! Namaku ada disana?! Yes!!!" batinku yang senang.
"Karena di kelas ini yang dipanggil hanya ada Ivan dan Andika, jadi kalian bisa ke sana dulu!!" suruh Pak Nur.
"Baik, Pak!!" ujarku dan Andika.
Aku dan Andika lalu berjalan ke kantor. Kami berbincang sambil berjalan karena senang bisa masuk daftar untuk bertanding di tingkat kecamatan mewakili sekolah.
Ivan sangat antusias untuk mengikuti pertandingan itu, tapi apakah Ivan diberikan izin oleh ibunya untuk bermain bola?!
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!