Plak.......
Kali ini suara tamparan itu terdengar lagi di telinga kedua anak Dewi, ini sudah keberapa kalinya mereka mendengar suara tamparan dan mereka tau kalau ayah mereka yang menampar ibu mereka.
Mereka hanya bisa diam, bukannya tidak ingin dan tidak bisa membela ibu mereka, Dewi selalu mengatakan bahwa, pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar.
Salah paham antar suami dan istri memang ada. Jadi dia tidak mau anak anaknya ikut merasakan apa yang Dewi rasa. Dengan melarang mereka ikut campur.
"Kak..ibu pasti kesakitan " Suara bisikan dari anak kedua Dewi. Arumi sering melihat bagaimana ayahnya memukuli ibunya. Seperti saat ini, mereka baru saja pulang sekolah. Mereka terpaku di depan pintu masuk karena mendengar suara tamparan itu.
Sedangkan Yan hanya diam mengepalkan tangan.Yan bukan tidak pernah berontak, dia bahkan pernah hampir memukul ayah tirinya karena Yan melihat bagaimana ayah tirinya ingin menyiramkan air panas ke tubuh ibunya.
"Semua kemauan ibu, kakak nggak bisa melakukan apa apa dek ? Kamu tau sendiri, kalau kakak membelanya. Ibu akan marah " Yan mengajak adik duduk di bangku panjang yang berada di sebelah tembok rumah mereka.
Arumi menangis diam diam..
"Sampai kapanpun itu nggak akan terjadi, ceraikan saya saja kak" Suara lantang Dewi semakin membuat Randi marah.
Pernikahan Dewi dan Randi sudah hampir 4 tahun. Dewi belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Bahkan Dewi menjadi buah bibir di lingkungan sekitarnya.
Dan kalau ada acara kumpul-kumpul bersama keluarga lain, mereka hanya akan membicarakan Dewi. Seakan akan hanya Dewi yang tidak memiliki kesempurnaan itu.
Suara dentuman pintu di banting menandakan kalau suami Dewi sudah pergi
Setelah Randi pergi Arumi masuk ke dalam menuju kamar ibunya. Arumi membuka pintu tanpa ada suara sama sekali.
"Bu..."
Arumi gadis berusia 12 tahun itu hanya bisa melihat tubuh ibunya terbaring di atas ranjang.. Arumi segera memeluk ibunya.
"Bu.. Arumi pulang"
Bahu Dewi terguncang karena menahan tangisannya. Dewi tak berbalik melihat anaknya sama sekali. Dia tidak ingin kedua anaknya melihat dia menangis. Tapi sudah beberapa kali kedua anaknya melihat dia di pukul oleh suaminya
Dewi bukanlah wanita yang tak berani melawan, tapi sejak dia menikah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, pada ayah dan keluarganya kalau dia akan berubah menjadi istri yang baik dan penurut.
Selain itu Dewi tidak ingin kedua anaknya melihat pertengkaran mereka. Dewi tidak mau anak anak melihat dia menderita dengan pernikahan ini.
"Bu, Ayo bangun bu... Arumi mau peluk ibu" Semakin bergetar tubuh Dewi. Ya Arumi adalah anak yang sangat manja. Dia selalu bermanja-manja pada ibu dan kakaknya. Yan sudah kelas 12. Dia tipe anak yang sangat keras. Dewi tau kalau Yan sangat tidak suka pada ayah tirinya.
Dari awal menikah Yan tidak pernah dekat dengan Randi. Dewi selalu mencoba mendekatkan mereka namun Yan lebih banyak menghindar dan berdiam diri dalam kamar.
"Ibu..."
"Dek.. Ibu pasti tidur, biarkan ibu istirahat, kamu makan duluan aja kakak keluar sebentar ya"
"Baik kak.. Bu, Arumi makan dulu ya. ibu cepet bangun. Arumi mau peluk ibu" Suara Arumi bergetar.
Dewi tetap diam dan menutup mata berpura-pura tidur. Sampai kedua anaknya keluar dan menutup pintu kamar. Dulu ia berpikir menjalani kehidupan pernikahan itu pasti sangat menyenangkan, Dewi sering melihat bagaimana teman temannya bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka.
Empat tahun pernikahan yang di jalani Dewi hanya di tahun tahun pertama dia merasa rumah tangganya baik baik saja, perlakuan suaminya juga baik. Keluarga suaminya pun seperti itu. Semua baik baik saja walaupun dia tetap jadi omongan keluarga suami di belakangnya . Memasuki tahun ketiga ibu mertuanya mulai bertanya kenapa belum hamil atau sengaja menyindir Dewi.
Randi memiliki 2 saudara perempuan dan dia anak kedua, dia adalah anak laki laki satu satunya di keluarga tantenya adik dari ayah Dewi.
Hal yang wajar kalau ibu mertuanya sangat menginginkan cucu kandung dari Randi. Namun Dewi bisa apa, segala cara sudah Dewi coba. Menggunakan obat tradisional. Berobat ke dokter terbaik. Bahkan mereka pernah konsultasi dan memeriksa kondisi rahim Dewi ke Bali, semua hasil pemeriksaan mengatakan rahim Dewi baik baik saja tapi hasilnya belum ada sampai saat ini.
Randi juga memeriksa kesehatannya, sampai saat ini semua baik baik saja
Orang tua Dewi dan Randi tinggal di kampung tapi beda desa. Mereka tinggal berjauhan. Dewi serta kedua anaknya dan suami mereka tinggal di kota. Karena Dewi juga bekerja di kota. Randi belum memiliki pekerjaan tetap. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jika bosan di rumah dia akan ke rumah kakaknya yang tinggal di kota yang sama dengannya.
Sudah hampir beberapa bulan Randi selalu berlaku kasar pada Dewi. Dulu Randi sering membela Dewi. Hingga permintaan Randi yang ingin menikah lagi membuat Dewi beberapa kali menerima tamparan jika ia menolak keinginan Randi. Dewi lebih baik di ceraikan dari pada harus di madu.
Namun Randi juga tidak ingin menceraikan Dewi.
Hari ini Randi datang dan mengatakan lagi akan melamar wanita yang ingin dinikahinya. Namun Dewi menolak.
Pukul 7 malam Dewi bangun, rupanya dia sampai tertidur. Ketika bangun dia melihat di meja makan sudah tertata makanan. Dewi tau ini pasti pekerjaan kedua anaknya.
Setelah selesai mandi, Dewi mencari kedua anaknya. Melihat mereka sedang duduk sambil menonton televisi. Dewi juga ikut bergabung, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Kakak yang masak ya?" Tanya Dewi, Yan menatap ibunya lama. Kemudian dia mengangguk.
"Arumi juga bantu kakak masak Bu "
"Oh ya, wah.. Anak ibu sudah besar" Sahut Dewi
"Kan udah kelas 7 bu. Arumi udah pasti bisa masak dong " Jawab Arumi.
"Iya sayang, anak anak ibu emang paling pintar dan rajin "
Arumi tertawa mendengar pujian ibunya, Yan hanya diam tak ada respon apapun. Pandangannya tertuju ke layar televisi.
"Bu.. hari Jumat Arumi ada rapat orang tua, ibu datang ya "
"Jam berapa sayang?"
"Jam 10 bu"
" Nanti ibu ke sana sayang"
"Iya.. Arumi tunggu ya Bu"
Dewi tersenyum dan mengangguk..
Setelah mereka selesai makan malam, Dewi merapikan piring yang sudah di cuci di bantu oleh Yan dan Arumi.
Arumi menyapu rumah, hal yang biasa mereka lakukan. Karena besok pagi-pagi mereka hanya siap ke sekolah.
Bunyi bel motor di depan rumah,. Dewi melihat jam sudah menunjukkan pukul 23:25 malam. Dewi tau itu suami nya yang pulang. Sudah jadi kebiasaan juga.
Menarik nafas dalam-dalam, Dewi membuka pintu. Tercium aroma minuman keras dari mulut Randi.
Dewi tidak bertanya, setelah itu Dewi segera ke kamar. Dewi juga tidak menyiapkan makanan karena Randi jarang makan malam di rumah.
Dewi merasakan gerakan di ranjang, tak lama kemudian Dewi juga merasakan pelukan di pinggangnya. Dewi tidak menepis tangan itu.
"Maaf sayang, maafkan saya" Bisik Randi di telinga Dewi.
Randi terus mendekatkan tubuhnya, Dewi bisa merasakan hembusan nafas Randi di tengkuknya.
Dewi tau, suaminya menginginkannya. Itu juga sudah jadi kebiasaan mereka. Selesai bertengkar mereka akan berbaikan lagi di ranjang. Hubungan suami istrilah yang menghilangkan marah dan rasa kesal.
Mungkin orang akan mengatakan bahwa Dewi wanita bodoh yang mau mempertahankan laki-laki pengangguran seperti Randi.
Dewi tidak bodoh, tak ada yang tau alasan Dewi terus bertahan dalam rumah tangganya. Walaupun Dewi harus menjadi sasaran empuk kedua tangan suaminya.
Dewi melayani suaminya dalam diam, dia tidak menolak ketika Randi meminta haknya sebagai suami. Pelayanan Dewi juga tidak menunjukkan kalau dia tidak ikhlas. Setelah semuanya selesai, Dewi keluar mengambil air untuk Randi.
Setelah membersihkan diri, Dewi kembali tidur membelakangi suaminya, sementara Randi juga telah membersihkan diri. Dia tidur memeluk Dewi dari belakang.
Randi mengecup kepala Dewi, sekali lagi dia membisikkan kata-kata permintaan maaf.
Ya.. Randi selalu menyesal setelah memukul istrinya.
"Maafkan saya sayang" bisik Randi lagi
Dewi mengangguk " Tidurlah "
Semua kembali seperti biasa hingga keesokan paginya, Dewi dan kedua anaknya sudah bersiap-siap ke kantor dan ke sekolah. Setelah selesai menyiapkan makanan untuk Randi, Dewi segera ke kantor.
"Makanan sudah saya siapkan, kalau kamu bangun lambat nanti panaskan lagi ya. Saya kerja dulu "
Terkirim
Dewi mengirimkan pesan pada Randi setelah tiba di kantor
Setibanya di tempat kerja Dewi duduk di meja kerjanya. Bekerja seperti biasa, sebuah tepukan di bahu Dewi mengalihkan perhatian Dewi.
"Pipi mu kenapa?"
Kening Dewi berkerut...
"Di labrak lagi sama suami kamu ?"
"Masa kelihatan? Padahal cuma sekali di tampar saja " Sahut Dewi tertawa kecil.
Deni menatap Dewi, mereka adalah teman kerja. Deni seorang duda yang tinggal pergi oleh istri karena istrinya berselingkuh dan memilih pria selingkuhannya.
Deni sudah lama menyukai Dewi, namun tidak ada yang tau karena Deni selalu menunjukkan rasa pedulinya sebagai sahabat dan teman kerja Dewi.
"Padahal dulunya jago cari masalah, kok bisa diam di gampar sama suami kamu gitu sih Wi ?"
"Huff... Anggaplah saya lagi berbakti sama suami, menjadi istri yang baik"
"Ya.. Ya.. Kamu memang istri idaman "
"Makanya, carilah istri yang seperti diriku ini"
"Nggak, Semua perempuan tu nggak beres"
"Kecuali saya ya "
Dewi bangun berdiri menghindari Deni...
Seperti itulah Dewi, di depan orang orang Dewi menganggap hal biasa ketika dia di perlukan seperti itu oleh suaminya.
*
*
*
Bersambung.....
Hai readers kesayangan ku.... sudah Up lagi ya " Aku bukan wanita mandul " semoga suka ceritanya ☺️ ☺️ 🙏🙏
Empat tahun pernikahan, Dewi bahkan sudah tidak mengingat tanggal pernikahannya. Hal yang akan selalu di ingat oleh semua orang. Tapi tidak dengan Dewi.
Empat tahun Dewi berusaha mejadi istri yang baik, mengurus semuanya. Namun semua sia sia. Kenyamanan yang di berikan Randi hanya di awal pernikahan mereka.
Karena kesalahan masa remaja Dewi di anggap sebagai wanita yang tidak baik dan penilaian orang lain Dewi seperti perempuan nakal dalam arti punya pacar banyak, apalagi Dewi memiliki 2 orang anak tanpa ikatan pernikahan.
Ketika ada kesepakatan antara keluarga untuk menikahkan Randi dan Dewi. Tak ada penolakan sama sekali dari Dewi.
Ingin menebus kesalahan pada kedua orangtuanya, itulah alasannya Dewi sebenarnya.
Dewi mungkin tipe wanita yang cepat luluh, cepat merasa kasihan dan memaafkan orang. Ia mudah jatuh cinta jika sudah merasa nyaman pada seseorang. Mungkin itu yang membuat Dewi menerima pernikahannya dulu karena Dewi juga mengenal Randi dan tau seperti apa Randi.
*
Hari ini Dewi bersama ibu ibu di kompleks perumahan mereka sedang membantu tetangga sebelah yang akan mengadakan syukuran, di sela sela canda tawa para ibu ibu yang bekerja tiba-tiba saja ada seorang ibu bertanya kepada Dewi tentang kedua anaknya.
"Ibu Randi....Yan sama Arumi itu satu bapak ya?"
Dewi diam terpaku tidak menjawab sama sekali. Semua terkejut dengan pertanyaan ibu itu yang sangat berlebihan menurut mereka.
"Hus.. Ngapain tanya seperti itu sama ibunya Yan ? Kamu ini nggak bisa menjaga perasaan orang lain " Tegur ibu yang lain pada teman mereka yang bertanya.
"Orang saya cuma tanya"
"Kamu tu aneh, Itu bukan urusan kamu. Bu Randi nggak usah ditanggapi ya " ujar seorang ibu dan Dewi membalas dengan mengangguk.
Mereka semua diam, Mereka merasa temannya ini sangat berlebihan. Tak ada yang tau bagaimana kisah masalalu Dewi, ia tak pernah menceritakan tentang masalalu nya kecuali kepada ayahnya saja.
"Saya nggak akan bertanggung jawab, sebaiknya gugurkan aja kandungan kamu itu "
"Tapi kak.... Ini udah bernyawa "
"Saya nggak peduli, saya nggak mau bertanggungjawab sama bayi kamu "
"Kalau kakak nggak mau bertanggungjawab nggak apa-apa "
"Kamu gugurkan saja "
"Nggak kak, saya akan merawatnya" Jawab Dewi menunduk
"Terserah, saya nggak akan bertanggung jawab sama kandungan kamu. Saya belum siap dan saya nggak mau sampai orang tua saya tau "
Dewi menarik nafas panjang mengingat kembali bagaimana dulu dia lebih mempertahankan kehamilannya, Menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Melahirkan hanya di temani sahabatnya.
"Kak Dewi, jangan di tanggapi omongan tante saya ya "
"Nggak apa-apa " Jawab Dewi tersenyum.
Pukul 7 malam Dewi kembali ke rumah, rumah yang selalu terlihat sepi walaupun di dalam sana ada 4 orang.
Dewi menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan lahan. Dewi tidak tau apa yang akan terjadi ketika pintu ini terbuka.
"Kamu di sana bantuin orang kerja atau ketemu pria lain, ibu ibu yang lain sudah pulang kenapa kamu terlambat?"
Dewi di sambut dengan suara keras dari suaminya.
"Masih ada beberapa ibu ibu yang kerja kak, malah yang saya cepet pulang"
Dewi berlalu masuk ke dalam kamar di ikuti suaminya. Pintu di tutup, Randi tiba tiba menarik rambut Dewi. Dewi meringis.
"Jawab jujur, kamu hilang kemana tadi?"
"Dia tau dari siapa kalau saya keluar?" Dewi membatin
"Saya ke pasar belanja beberapa bahan sama ibu Ross, setelah itu saya kembali ke rumah duluan. " Dewi tidak berkata kasar atau berteriak ketika Randi menarik rambutnya.
"Awas saja kalau kamu membohongi saya, saya injak kamu "
Setelah rambut nya di lepas Dewi keluar untuk menyiapkan makanan. Sekali lagi Dewi terpaku karena semua sudah tertata rapi di atas meja makan.
Ingin sekali Dewi menangis memeluk kedua anaknya, Dewi tau kedua anaknya tau tentang kehidupannya. Mereka tahu bahwa ibu mereka tidak bahagia. Namun mereka berpura pura tidak tau apapun.
"Sayang makasih ya udah bantu ibu menyiapkan makan malam. Ini siapa yang masak?"
"Tante Mariam Bu "
Mendengar nama adik tirinya di sebut Dewi terdiam.
"Oh ibu kirain kakak sama adek yang masak. Hum.. tadi tante ke sini, tante lama nggak.?"
"Lama sekali, tante juga melipat semua baju baju ayah di kamar " Jawaban polos dari Arumi membuat jantung Dewi berdetak kencang.
Dewi tau sedang ditatap anak sulungnya namun Dewi berpura pura tidak melihat .Dewi berdiri hendak memanggil suaminya makan.
"Kalian makan saja, saya mau keluar sebentar" Dewi hanya melihat ketika suami keluar dari rumah.
Dua tahun ini Dewi tak ingin tahu lagi kemana suami nya pergi, karena percuma saja dia bertanya kalau ujung ujungnya dia di anggap terlalu sibuk dengan urusan suami.
Dewi tau pernikahan ini adalah kesepakatan antara kedua orangtua mereka. Walaupun di mata orang orang Dewi sudah menikah dan bahagia. Pandangan buruk mereka pada Dewi tidak seperti dulu sebelum menikah. Mungkin itu nilai positif dari sebuah pernikahan ini.
Suara motor yang menjauh menandakan Randi sudah pergi.
"Ayo sayang kita makan, Ayah masih kenyang kayaknya. Wah ayam crispy. Hum.. Enak. Kakak cobain "
Yan mengambil makanan, mereka makan dalam diam. Hanya suara piring dan sendok yang bersahutan.
Keesokan harinya Dewi yang sedang mencuci baju dia mendengar suara ramai di depan rumah. Dewi segera menuju ke depan.
Kakak iparnya dan ada adiknya Mariam, Dewi tidak tau apakah kakak iparnya juga sudah tau tentang rencana Randi yang ingin menikah lagi. Anggap saja dia juga tidak tau apapun.
"Loh kak.. Kenapa nggak telpon kalau mau kesini"
"Kakak cuman antar Mariam "
Dewi berbalik menatap adiknya " Kamu mau kemana dek ?"
"Saya mau minta tolong sama kak Randi sama sama saya ke dinas kependudukan kak "
"Ngapain ke sana?"
"Oh ini KTP saya tanggal lahir nya beda yang ada dalam Kartu keluarga "
"Oh ya udah, ntar saya panggilkan Randi"
Belum juga Dewi berbalik, Dewi sudah melihat Randi bersiap siap untuk pergi.
"Ayo dek "
"Sayang, saya antar adik kamu dulu ya."
"Iya hati hati di jalan Kak"
Randi mengelus kepala Dewi setelah itu mereka pergi. Dewi terus menatap kedua orang itu dengan pandangan yang berbeda.
Setelah itu tinggallah Dewi dan kakak iparnya, "Kakak mau ngomong sesuatu sama saya ?"
Dewi tau kalau kakak iparnya itu ingin bicara dengannya. Karena kakak iparnya terus menatap Dewi.
"Kamu beneran nggak kasih ijin kalau Randi menikah lagi?"
"Kak Rani tau dari mana?"
"Randi yang cerita semalam"
"Iya saya nggak kasih ijin kak "
"Kenapa ?"
"Kak....kakak rela nggak suami kakak menikah lagi ?"
"Nggak dan suami saya nggak akan menikah. Karena saya bisa memberikan dia keturunan"
Dewi terdiam mendengar kata kata kakak iparnya. Dewi menarik nafas panjang.
"Saya belum siap kak, saya udah ngomong sama Randi kok kak."
Dewi hanya memberikan jawaban itu, Dewi ingin sekali mengatakan alasan sebenarnya namun entah kenapa Dewi berat mengatakan itu pada Randi dan sekarang pada kakak iparnya. Hingga saat ini, Dewi memilih diam saja itu juga salah satu alasannya kenapa Randi selalu mudah naik tangan pada Dewi
"Ya udah sekarang kakak pulang "
Dewi mengangguk, Rani kakak sulung Randi adalah orang yang suka sekali ikut campur dalam urusan rumah tangga Dewi.
Mungkin dia merasa karena dia adalah kakak sulung , jadi semua hal bisa dia campuri.
Kembali melanjutkan mencuci baju hingga selesai, kemudian Dewi membuka salah satu sosial medianya
"Tak ingin hari ini berakhir"
Satu unggahan video jalan dengan caption seperti itu dari Mariam adiknya,
Dewi hanya memberikan like tanpa komentar, Dewi juga melihat postingan kakak iparnya
"Semoga berjodoh"
Dewi membalas komentar " Amin "
"Amin, semoga ya kak...udah nggak sabar menunggu"
Satu komentar dari adik perempuan Randi, dia adalah Reni.
Dewi mengabaikan tidak ingin ikut bertanya, Dewi hanya melihat lihat postingan teman teman media sosialnya.
Satu notifikasi masuk di postingan kakak iparnya tadi.
Komentar dari akun MariamRd itu adalah akun baru adiknya Mariam.
"Makasih kak ya support nya "
Kening Dewi berkerut menatap komentar Mariam.
Mariam adik tirinya, mereka satu ayah beda ibu, Ayah Dewi memiliki 3 istri. Dewi sebenarnya memiliki keluarga besar. Dari semua saudara nya hanya Dewi yang memiliki nasip yang tidak baik dalam hubungan asmaranya.
Dewi adalah anak dari istri pertama dan dia lahir tunggal, ibu Dewi sudah meninggal saat usia Dewi 8 tahun. Sementara kedua ibu tirinya memiliki anak 7 untuk istri kedua ayahnya dan 6 untuk istri ketiga. Di kampung halaman Dewi dulu itu adalah hal yang biasa jika memiliki istri lebih dari 2.
"Sama sama dek, semoga cepat di iyakan ya "
Dewi sedikit penasaran sama percakapan mereka di komentar. Apa yang dia tidak tahu ?
Memilih mengabaikan semua itu, Dewi mencari Arumi. Seperti nya dia tidak melihat Arumi keluar dari kamarnya hari ini.
Tok.. tok.. tok
Dewi mengetuk pintu kamar anaknya tak lama kemudian Dewi melihat Arumi membuka pintu kamar.
"Sayang, kamu kok diam aja dalam kamar. Ada apa, Adek sakit ya ?"
Arumi menggeleng sambil menunduk..
"Nggak apa-apa Bu, saya cuman pengen dalam kamar aja. mumpung liburan Bu"
"Sayang, kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari ibu kan ?"
Tiba-tiba Arumi memeluk Dewi sambil terisak-isak.
"Bu... Apa bener Arumi bukan anak ayah ?"
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai readers kesayangan ku.... sudah Up lagi ya " Aku bukan wanita mandul " semoga suka ceritanya ☺️ ☺️ 🙏🙏
Dewi terkejut, apa yang Arumi katakan?
Ingin sekali Dewi menjawab ya dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi Dewi merasa kasihan pada Arumi. Arumi memang tidak pernah tau tentang dia dan Yan. Arumi hanya tau Randi adalah ayah kandung mereka karena tidak ada yang pernah mengatakan itu.
"Bu..bener ya Arumi bukan anak ayah?"
"Arumi itu anak ayah, kalau bukan anak ayah anak siapa dong ? Sayang... jangan di pikirkan lagi ya. ibu menyayangi Arumi dan kakak, senyum dong "
Arumi tersenyum manis mendengar kata ibunya.
Dewi memeluk Arumi erat " ayo ajak kakak makan siang ya sayang, ibu siapkan makanan di meja"
Entah kenapa Arumi tiba tiba saja bertanya seperti itu. Ada apa ?
Dewi menemani kedua anaknya makan, dia menatap kedua anaknya.
"Ibu.. Coba lihat kakak, dari tadi kakak gangguin saya terus"
"Yan.. biarkan adik kamu makan dulu "
"Ihh siapa yang gangguin bayi besar ini Bu "
"Bayi besar?"
"Iya, adek itu bayi besar. Sukanya mengadu sama ibu "
"Biarin, dari pada kakak, nggak satu cewek pun yang berani deketin kakak karena wajah kakak itu kayak es. Kakak Vio aja mana berani ngomong sama kakak "
"Hahaha.. Emang Kaka Vio pernah ngomong begitu sayang ?" Tanya Dewi
"Iya Bu, kata kak Vio muka kak Yan itu serem. Kak Vio nggak berani deketin kakak "
Suara tawa Dewi terdengar sampai di luar, Randi masuk dengan wajah dingin. Kening Dewi berkerut. Cepat sekali mereka pulang.
"Kak.. Udah beres ya ?"
"Ya udah" Jawab Randi.
"Ayah ayo makan " Kata Arumi
"Iya sayang, Ayah udah lapar sekali" Sahut Randi kembali dengan wajah cerianya, Randi mengambil tempat di tengah antara Dewi dan Arumi.
Arumi bercerita sambil makan pada Randi.memang Randi tidak pernah mengatakan kalau kedua anak Dewi bukan anak kandungnya. Dia selalu mengatakan kalau dia Ayahnya Yan dan Arumi. Dan jika ditanya sudah memiliki berapa orang anak. Randi akan menjawab 2 orang anak.
Di awal pernikahan mereka, Randi dan Yan memiliki hubungan yang baik. Yan sangat menghargai Randi. Kadang jika mereka sedang mengerjakan sesuatu di rumah. mereka akan lakukan bersama sama.
Kalau Randi memiliki sedikit rejeki dia akan memberikan uang jajan kepada Yan dan Arumi. Randi tidak pelit dengan anak anaknya.
Namun semenjak Yan melihat Randi hampir menyiram air panas ke tubuh Dewi, Yan hampir saja memukul ayah tirinya. Sejak saat itu Yan menghindari Randi. Kalau Randi di rumah, Yan Lebih banyak diam dalam kamar atau duduk bersama anak anak seusianya di lopo tempat mereka berkumpul.
Kadang beberapa hal baik yang Randi lakukan membuat Dewi melupakan perlakukan kasar Randi pada nya dan hal seperti itu yang membuat Dewi menyayangi Randi. walaupun akhir akhirnya Randi sering menggunakan kekerasan pada Dewi.
Setelah makan, sebelum diam dalam kamar lagi Yan membantu Dewi membereskan rumah. Arumi ikut membantu.
Pukul 2 Dewi masuk kamar ingin beristirahat setelah itu di susul Randi juga.
Dewi melihat Randi berganti pakaian, Dewi bangun mengambil baju untuk Randi dan memberikan baju ganti pada Randi, Dewi naik ke ranjangnya kembali.
"Kak.. Hari sabtu sama minggu. Bisa tolong antar barang pesanan orang nggak?"
"Besok saya nggak bisa, nggak ada waktu. Saya ada keperluan ke rumah kak Rani"
"Sabtu-Minggu, biasanya kak Rani kerumah orang tua kak Johan "
Randi menatap Dewi, dia tidak suka jika Dewi memaksa dan menjawab jika dia sudah mengatakan alasannya.
"Kamu itu kenapa sih Dewi, suka sekali memaksa atau menjawab saya ngomong? kalau saya sudah katakan nggak bisa ya berarti nggak bisa. kamu ngerti nggak ?"
"Lagian besok kak Rani dan kak Johan di rumah aja nggak kemana mana, ngeyel banget kamu kalau di bilangin " Sambung Randi menggerus
"Saya nggak memaksa kak, biasanya kan memang seperti itu. Kakak selalu mau bantu mengantarkan barang pesanan orang dan setahu saya kalau hari Sabtu-Minggu Kak Johan dan kak Rani wajib ke orang tua kak Johan "
"Kamu pemaksa tau nggak, kamu itu beda sekali sama Mariam. Dia kayaknya lebih penurut dan lebih bersikap dewasa dari pada kamu "
Kening Dewi berkerut " Mariam penurut dan bersikap dewasa?"
"Ya, nggak kayak kamu, ngeyel kalau di bilang"
Dewi memilih diam karena tidak ingin memperpanjang keributan ini. Dewi menghela nafas panjang.
"Baiklah kak, nanti saya antar sendiri aja "
"Harus begitu, belajar mandiri, jangan apa apa suami yang kerjain, kamu padahal bisa sendri."
Dewi tidak menjawab lagi, dia menutup mata tapi dia tidak bisa tidur, dia berpura pura tidur untuk menghindari perdebatan dengan Randi. Dewi merasa tidak nyaman dengan kata-kata Randi. Perasaan Dewi tidak tenang, entah apa.
Seperti itulah bentuk rumah tangga Dewi, lebih banyak keributan dari pada berdamai. Dewi selalu berusaha menahan perasaan emosinya jika Randi memarahi nya. Dewi malu jika orang orang mendengar pertengkaran mereka. Apalagi kedua anaknya, Dewi tidak ingin mereka tau.
Setelah selesai makan malam, Dewi duduk di ruang tamu. Dewi sedang mengetik pesan dari pelanggannya di laptop. Dewi menjalankan bisnis online, ini adalah kerja sampingannya. Bisnis online sudah lama Dewi kerjakan. Sebelum menikah dengan Randi. Pelanggannya sangat banyak. Bahkan ada sampai ke luar kota.
Hari Sabtu dan minggu biasanya Dewi akan mengantar barang barang pesanan, kadang Randi yang membantunya mengantar kan barang barang itu.
Randi duduk di ruang tengah, Dewi bisa melihat dari depan. Randi sibuk dengan ponselnya. Kadang Randi tersenyum. Entah apa yang di lihatnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Randi.
"Ya hallo kak"
"Oh baiklah saya ke sana sekarang.."
Panggilan di matikan Randi berlalu pergi masuk dalam kamar. Beberapa menit kemudian Randi keluar dengan tampilan yang sangat rapi, kening Dewi berkerut. Dewi merasa Randi tidak seperti biasanya kalau ke rumah kakaknya.
Biasanya Randi hanya mengambil dompet, ponsel, jaket dan helem. Di rumah Randi selalu menjaga kebersihan jadi kalau hanya sekedar pergi saja kerumah kakaknya dia akan pergi tanpa tampilan seperti ini.
Beberapa hari ini Dewi melihat perubahan pada Randi, jika ke rumah kakaknya dia akan selalu tampil rapi dan wangi.
"Saya ke rumah kak Rani "
"Ya kak"
"Pintunya di kunci aja, saya lama di sana. mau keluar sama Kak Johan" Kata Randi dan berlalu pergi, tak ada pelukan dan belaian di kepala Dewi seperti biasanya.
Dewi hanya mengangguk dan menatap Randi sampai suara motor Randi menghilang.
Kembali Dewi melanjutkan mencacat barang barang pesanan orang sampai pukul 02.31 pagi.
"Apa kak Randi nginap di rumah kak Rani? Kok tumben"
Dewi mengambil ponselnya
Kak.. Kakak nginap di rumah kak Rani?".
Terkirim
Dewi melihat pesannya sudah di baca dan sedang mengetik artinya Randi juga belum tidur. Ini sudah mau jam 3 pagi.
"Ya saya nginap, kak Rani dan kak Johan nggak di rumah , lagi ke rumah orang tua kak Johan"
Kening Dewi berkerut" Bukannya tadi kakak bilang mereka nggak ke sana hari ini ?"
Dewi menunggu balasan namun sampai matahari pagi sudah terbit juga Randi tidak membalas pesan dari Dewi.
Dewi mengecek ponselnya, melihat siapa tau ada balasan pesan dari Randi namun tidak ada sama sekali. Dewi memilih menyimpan ponselnya tanpa penasaran lagi.
Dia menyiapkan sarapan pagi untuk kedua anaknya, Mereka belum bangun. Hari Sabtu Arumi ke sekolah jam 9 hanya latihan drumband. Arumi mengikuti kegiatan grup drumband.
Setelah selesai Dewi membangun kan kedua anaknya. Mereka sarapan bersama. Kemudian Arumi ke sekolah di antar oleh Yan..Yan akan menunggu Arumi latihan sampai jam 11.
Selama kedua anaknya tidak di rumah dan memberi pekerjaan rumah. Dewi mengisi waktu dengan menulis novel. Ini juga salah satu hobby Dewi. Selain itu Dewi bekerja di homestay bersama Deni teman seangkatannya waktu SMA dan beberapa karyawan lainnya.
Dewi memiliki jabatan sebagai sales dan marketing di tempatnya bekerja. Kelebihannya dalam bekerja online membuat Dewi kadang harus membuat konten, video dalam mempromosikan hotel tempatnya bekerja.
pemilik hotel itu adalah teman Deni dan mereka melakukan kerja sama, jadi kalau seandainya Dewi membuat konten di rumah mereka tidak memaksa Dewi harus masuk kerja. Dewi akan ke tempat kerjanya kalau dia betul-betul di haruskan masuk.
Dewi mendengar suara motor Randi, Dewi menghentikan kegiatan menulis novel.
Dewi membukakan pintu untuk Randi. Randi tiba-tiba memeluk Dewi.
"Kak....kakak ganti parfum ya?"
" Nggak sayang, Kenapa?"
"Aroma parfum kakak, baunya wangi. Aroma bunga "
Randi tiba-tiba diam, Dewi menatap Randi..
"Oh.. Ini tadi pas mau pulang ke sini saya pakai parfum kak Rani, di suruh coba karena kak Rani beli parfum baru"
"Loh kak Rani di rumah? Bukannya semalam kakak bilang mereka di rumah orang tua kak Johan?"
terlihat Randi terkejut namun dengan sangat cepat Randi kembali bersikap biasa lagi.
"Iya, mereka udah pulang karena kakak mau pulang juga "
"Oh ya udah kakak ganti baju dulu "
Randi segera berlalu masuk ke dalam kamar, di susul kemudian dengan suara motor Yan yang memasuki halaman rumah Dewi.
"Selamat siang Bu " Suara teriakan Arumi.
"Selamat siang sayang, adek lansung ganti baju ya "
Arumi mengangguk di ikut Yan yang langsung masuk kamar.
Satu jam kemudian Arumi yang sedang menonton televisi bersama Dewi dan Yan melihat ayahnya yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah mengantuk.
"Ayah.. Tadi ayah nggak melihat Arumi lagi latihan ya?"
"Ayah nggak lihat sayang, Adek latihannya di mana ? "
"Depan sekolah kakak, ayah sama tante Mariam "
Dewi terkejut mendengar nama adiknya di sebut. Randi lebih terkejut lagi mendengar Arumi menyebut nama adik iparnya itu.
"Jadi dia belum kampung? Kok ke rumah ini cuman sekali aja " Batin Dewi
Yan melihat kedua orang tuanya bergantian, tatapan tajam Yan pada ayah tirinya tidak di sadari oleh Dewi. Yan segera pergi dan tak lama kemudian terdengar suara motor Yan menghilang.
"Iya sayang, tadi ayah anterin Tante Mariam beli ponselnya baru "
"Loh emangnya Mariam belum pulang ya kak?"
.
.
.
.
Bersambung
Terimakasih ya yang udah setia membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers 😘 😘
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!