OverWorld merupakan dunia yang menganut sistem rimba, yang terkuat dialah yang bertahan dan yang lemah akan tersingkir. Seiring waktu setelah terbentuk nya sistem rimba. Langit menciptakan sebuah dzat mikroba bernama kehidupan sebagai awal dari dunia.
Tahun berganti, kehidupan mulai berkembang biak dengan pesat menutupi OverWorld dengan lautan tanpa ujung. Seiring perjalanan kembang biak kehidupan, dzat mikroba tersebut mulai berevolusi menjadi sebuah humanoid.
Tumbuhan, tanah, hewan, dan udara. Semakin lama waktu berganti, OverWorld menjadi sebuah peradaban kehidupan yang ditinggali berbagai macam kehidupan. Lautan luas dan daratan membentuk sebuah benua yang saling terpisah dan akan menyatu kembali.
Awal kehidupan mahkluk hidup menjadi sebuah zaman yang akan terus dikenang sampai kapanpun, dengan nama zaman pembaharuan. Namun, semakin lama kehidupan berkembang biak dan berevolusi mulai menciptakan ketidakseimbangan. Jika terus dibiarkan, kehidupan mulai berevolusi menjadi mahluk baru dengan tubuh proporsional serta memiliki rangkaian yang sempurna bernama manusia.
Terciptanya mahluk bernama manusia membuat dunia yang tenang menjadi tidak seimbang, merekalah yang menjadi puncak rantai makanan. Seiring waktu, kehidupan pun mulai berevolusi kembali menjadi manusia. manusia yang meninggali dunia luas ini saling bertemu, tahun Silih berganti setelah manusia tercipta muncul lah sebuah peradaban manusia yang menguasai dunia luas ini.
Jutaan tahun berlalu, manusia menunjukkan peningkatan yang pesat. Mereka tidak hanya menguasai daratan dan lautan, bahkan mereka sanggup menggapai langit. Dari situlah sebuah ras penopang hukum langit tercipta, yaitu dewa.
Semakin lama dewa menjaga hukum langit, membuat mereka terhubung pada ilahi. Mereka mengemban tugas mulia dengan menjaga keseimbangan hukum rimba. Namun, ego dan kesombongan mulai menguasai dewa seiring waktu. Merekalah yang menjadi mahluk sempurna namun kenapa manusia yang bisa hidup tenang tanpa tugas apapun?.
Dengan hasrat itu, kini. Pada seratus lima puluh juta tahun sebelum Masehi, mereka menentang hukum langit membuat sistem rimba mulai goyah. Keadilan tidak lagi berlaku, kesombongan menciptakan kehancuran.
OverWorld berubah menjadi neraka bagi mereka yang lemah, seharusnya sistem rimba yang dijalankan tetap memberikan keadilan bagi mereka yang lemah. Namun dengan kekuasaan dewa, sistem langit kini berjalan dibawah keinginan mereka sendiri.
Sampai satu masa langit menciptakan sebuah hukum baru yang berpusat pada keseimbangan, namun dengan kekuasaan dewa yang luar biasa membuat langit memiliki kendala saat menciptakan hukum itu. Walaupun begitu, dengan kuasa ilahi yang langit miliki. Ia berhasil menciptakan sebuah cahaya yang hidup bernama malaikat.
Jelldaaarrrr!
Petir menggelegar menusuk jantung dunia, mengguncang tanah serta menciptakan ombak pasang yang sangat tinggi. Dunia membeku, dewa menjadi buta akan kehadiran cahaya ilahi dari serpihan kesadaran langit.
Hutan rimba yang begitu lebat tersapu angin serta memunculkan cahaya yang luar biasa terang menusuk awan. Ditengah keributan yang diciptakan langit, serta Sambaran petir ilahi kini menciptakan seorang malaikat keseimbangan yang berdiri tepat dibawah cahaya yang menusuk langit.
Rambut hitam tergerai tertiup angin, tanpa senyuman dan mata yang tajam menatap langit. Perlahan cahaya menghilang, angin mereda menyisakan lahan kosong ditengah hutan dengan seorang malaikat berwujud manusia mengenakan jubah putih serta hiasan permata disekitar kerah dan juga warna emas menciptakan corak pinggiran disetiap ujung jubah.
Wuuusshhh!
Ditengah kebingungan yang mendalam, langit kembali bercahaya namun kini hanya cahaya yang tidak bisa dilihat siapapun. Langit kemudian terbelah dan berkedip seperti mata, serta bersuara dengan agung.
"Kau terlahir dari cahaya dan kegelapan, keseimbangan dari dunia. Namamu, adalah Zabarin... Hukum yang goyah menciptakan dunia seperti neraka. Aku memberikan misi mulia untukmu, hancurkan lah para dewa dan ciptakan sistem keseimbangan untuk semua mahluk hidup!"ucap suara agung yang berasal dari ujung langit tertinggi.
Malaikat yang terdiam itu mulai bergerak, dengan kehendak langit ia memiliki nyawanya sendiri. Ingatan dan kenangan mulai masuk kedalam memori malaikat yang bernama Zabarin, secara tidak sadar ia membungkuk"Saya terima misi itu!"ucapnya datar. Setelah itu langit kembali berubah menjadi biru dengan awan putih yang melayang tinggi diudara.
Zabarin, yang mendapatkan misi mulia dan kepercayaan dari langit kini mendapatkan semua yang ia butuhkan. Ingatan, kecerdasan, kekuatan tubuh, kenangan, emosi, dan juga kewarasan serta rasa sosial sebagai bukti. Seorang malaikat yang mendapat misi dari langit kini telah menjadi seorang manusia baru ditengah rimbunan hutan belantara.
Kini ia sendiri, ditengah bayangan pohon yang rimbun. Ia masih linglung dan belum begitu paham apa yang terjadi, sampai sesuatu mulai memasuki pikiran nya.
"Aarghh!"teriak zabarin ditengah hutan membuat suaranya menggema dengan sangat jauh, rasa sakit luar biasa memasuki kepala nya. Diikuti dengan gelembung yang memancarkan sebuah gambar seiring pecah saat kesadaran nya pulih.
Seperti tragedi berantai, semua gambar gelembung yang ada mulai menyatu sama lain menciptakan sebuah kenangan yang tidak akan tergantikan.
Kwoaak!
Wuushh!
Suara burung dan kepakan sayap terdengar ditelinga nya,"hah! A-apa yang sebenarnya terjadi?! Di-dimana aku?"tanya zabarin kebingungan, malaikat yang seperti boneka kini tersadar dengan ingatan penuh kabut.
Terduduk ditengah hutan sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, zabarin mengedarkan pandangan ke sekelilingnya"Ba-bagaimana mungkin aku hidup kembali?!"batin zabarin sambil menyentuh tanah dibawah kakinya.
Terasa kasar dan sedikit lembab,"ini benar! Aku hidup kembali!"batin nya lagi, ia mencoba mengingat... Kenangan yang mungkin ia lupakan, namun sekeras apapun ia mencoba. Yang muncul didalam kepala nya hanyalah pria yang tergeletak tidak berdaya tanpa tau dia siapa, dan juga suara tanpa wujud yang ia dengar tadi.
Taph! Zabarin bangkit dari duduknya, mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk memastikan. Juga bertanya untuk apa ia berada ditempat ini"Apa maksud dari ini semua?, Aku tidak bisa mengingat apapun!" Tanya zabarin walaupun tidak ada yang akan menjawab.
Roaaarrr!!
Ditengah kebingungan dan kebuntuan arah tujuannya, suara mengerikan menggema terdengar diseluruh hutan"hah! Suara apa itu?"tanya nya ketakutan, keringat dingin mengucur dari dahi nya. Menetes jatuh ketanah.
Brak! Brak! Brak!
Raungan mengerikan, yang disusul gebrakan kuat beruntun, seperti suara dari mahluk besar yang sedang berlari dengan cepat, menciptakan guncangan hebat, dan juga ketegangan yang intens dirasakan zabarin.
"Sebaiknya aku pergi dari tempat ini!"batin zabarin, karena instingnya mengatakan akan ada bahaya yang datang, detak jantung seirama dengan gebrakan kaki itu membuat zabarin merasakan ketegangan yang intens serta rasa takut pada pusat suara itu.
"Hos, hos, hos!"berlari dengan tergesa membuatnya ngos-ngosan, melompat kesana kemari. suara kaki itu yang sepertinya terus mengejarnya semakin dekat, membuat ia harus berpikir lebih keras. Panik dirasakan namun zabarin tetap berpikir jernih, menghindar semak yang tebal dan masuk ke sela jalan sempit sebelum akhirnya berlindung dibalik pohon besar dengan akar seperti dinding setinggi Setengah meter disampingnya.
"Huh, hah!"tarikan nafas memburu serta suara kaki yang perlahan-lahan mendekat membuat zabarin menutup mulut nya untuk menghindari suara sekecil apapun. Detak jantung bertalu memukul-mukul dan guncangan tanah semakin menambah ketegangan yang ia rasakan.
Braakk!
Gebrakan yang sangat keras terdengar dari sampingnya, sudut matanya melihat sesosok mahluk aneh dengan gigi yang sangat runcing dan kulit terasa sangat keras. Mata tajam seperti pemburu mengedar kesekitar membawa hawa kematian yang pekat.
Roaaarrr!
Mahluk itu sekali lagi meraung keras saat sadar mangsanya telah hilang, perlahan mahluk dengan mulut panjang itu berputar arah. Tidak menyadari kehadiran nya yang sangat dekat disamping mahkluk aneh itu.
"Huh! Hah!"zabarin menarik dan menghela nafas panjang, begitu bersyukur bisa lepas dari mahluk mengerikan itu. Ia mengingat kembali rupa dari mahluk itu, memiliki kepala yang besar dan mulut lonjong sedikit panjang serta berdiri dengan dua kaki dan memiliki tangan kecil yang berada dibagian leher bawah dekat dengan dada. Membuatnya sedikit merinding jika terus di ingat.
"Syukurlah aku bisa bebas darinya!" Gumam zabarin pelan sambil menyenderkan kepala nya dibatang pohon tempat ia duduk.
"Grrr!!" Namun, baru saja manarik nafas lega. Teror baru muncul saat ia sedang lengah, wajah mahluk aneh itu kini berada disamping kanan tempat nya duduk. Mata tajam dan air liur menetes dari gigi-gigi nya membuat zabarin menelan ludahnya.
Teror kematian Masuk kedalam matanya, kakinya lemas tak berdaya dan suaranya pun tidak dapat keluar dari tenggorokan nya walaupun satu kata saja. Ketakutan benar-benar menguasai dirinya yang hanya bisa pasrah melihat mulut mahluk itu terbuka, bersiap untuk melahapnya utuh!.
Braaakkk!
Namun, disaat terakhir. Tubuhnya secara spontan bergerak sendiri dan menghindari terkaman itu. Zabarin terkejut karena tubuhnya bisa bergerak tanpa kendali. Namun tidak ada yang harus ia pikirkan selain melarikan diri, sepersekian detik sebelum mahluk itu kembali bangun dari tanah. Ia melompat ke semak lebat dibelakangnya yang sebelumnya sangat ia hindari.
Degh! Namun, saat berhasil melompat kebalik semak ia membeku seperti patung. Dibawah kakinya bukan lah pijakan melainkan jurang yang sangat dalam!.
"Arghhh!"zabarin berteriak sekuat tenaga saat ia merasakan tubuh nya terjatuh dari udara, menusuk langsung kedasar jurang. Angin kencang memukul tubuhnya membuat ia sulit untuk bernafas, wajah nya membiru dan beberapa saat kemudian berputar menghadap atas.
Terlihat dari ujung jurang, mahluk yang mengejar nya memantau tempat ia jatuh dan kemudian kembali berbalik dan pergi. Waktu terasa lambat ia rasakan, keberuntungan bisa bebas dari mahluk mengerikan itu adalah awal dari sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
Melirik dari sudut matanya, ia sudah pasrah kalaupun harus mati dan tidak bisa menyelesaikan misi yang diberikan dihari pertamanya mendapatkan titah itu.
Hembusan angin menjadi teman terakhirnya ditempat ini sebelum tubuhnya jatuh dengan sangat keras kedasar jurang!.
Byuuurrrr!
Air dingin menusuk kulit, rasa perih dan sakit dirasakan disekujur tubuh. Pandangannya mulai kabur, sekaligus tubuhnya yang tenggelam lebih dalam kedasar danau. Tidak ada tenaga untuk berusaha, walau sekedar berontak. Putus asa menghantui pikiran nya.
"Untuk apa aku dihidupkan lagi? Apa cuma untuk merasakan kematian lagi?"tanya zabarin dalam batin nya, matanya mulai tertutup oleh keputusasaan. Kenapa langit begitu kejam kepada nya? Apa dia cuma alat yang dihidupkan dan di matikan sesuka hati?!.
Ia tidak tau siapa dirinya, terbangun ditengah hutan dengan ingatan yang tak jelas. Sekilas ingatan tentang kematian melintas dalam benak nya, ia pikir. Ia cuma kelinci percobaan yang terkurung dalam sangkar.
Swuushhh!
Namun, saat putus asa itu merenggut kesadarannya. Ia teringat ucapan entitas yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ia adalah kunci keseimbangan, entitas itu mempercayakan tugas berat ini untuknya. Apa tujuan dari kepercayaan itu?.
Masih terus bertanya walau sudah diujung maut, zabarin kini membuka matanya lagi. Ucapan dan kepercayaan, serta tanggung jawab itu, entah mengapa ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk tetap bertahan hidup. Sesuatu yang ia sendiri tidak tau berasal dari apa. Namun itu sebuah dorongan kuat, yang seakan tidak ada kesempatan baginya untuk menolak.
Dengan tekad itu, zabarin berusaha meraih bebatuan didasar danau ini, menjadikan nya penopang untuk kepermukaan air. Batu yang begitu licin membuat nya terpeleset beberapa kali, namun tidak menggoyahkan tekad nya.
Ia menghiraukan rasa sakit dan perih di sekujur tubuh nya, Yang terpenting ia harus hidup dan keluar dari dasar danau. Ada sesuatu yang ingin ia ketahui, sesuatu yang sangat erat. Namun ia sendiri tidak tau kenapa itu bisa ada didalam dirinya.
Byuuurrrr!
"Hah! Hah! Hah!"beberapa menit mencoba berenang kepermukaan danau, akhirnya ia berhasil meraih pinggiran danau. Nafas yang terengah-engah dan sedikit berat, membuat nya sekali lagi ingin pingsan. Tapi, itu tidak menghentikan nya.
Meraih bebatuan lain, ia mencoba keluar dari air. Tenaga yang sisa sedikit membuatnya sulit untuk berpegangan erat, sampai perjuangan itu membuahkan hasil, ia tergeletak diatas batu besar dipinggir danau. Jubah putih agung yang ia kenakan, kini basah, dan sedikit robek dibeberapa sisi.
"Hah!... Tekad ini, bagaimana bisa ada didalam hatiku!, Aku ingin menyerah... Tapi, rasanya itu tidak mungkin!" Gumam Zabarin sambil mengangkat tangan nya keatas, menutupi sinar matahari dari mata nya. Dan mencoba mencari jawaban dari luas nya langit, dan terang nya cahaya kehidupan.
Pertanyaan-pertanyaan yang tentu tidak ada jawaban nya, terus memenuhi kepalanya. Sampai ia berpikir,"aku hidup untuk tugas mulia. Menyerah tidak akan mungkin, mundur juga tidak bisa... Apakah aku hanya bisa menjalankan hidup ini untuk terus maju kedepan?" Ucap nya, ia kini paham situasi yang terjadi. Ia juga tidak bisa menentang. Yang terbaik, adalah terus maju demi tugas yang diberikan.
Beberapa saat terdiam diatas batu, mengistirahatkan tubuh yang lelah. Zabarin menetapkan tekad nya untuk terus maju, sesulit apapun jalan nya. Ia kini berada dititik terendah, namun Kilauan cahaya dari titik tertinggi membangun kan nya. Ia tidak bisa terus diam dan menunggu kematian lagi, ia harus melawan untuk tetap hidup. Demi mendapatkan jawaban dari kehidupan yang ia jalani ini.
Setelah menetapkan tekad hatinya, ia kemudian bangkit dengan sedikit susah untuk berdiri. Rasa sakit masih terasa dimana-mana, namun kali ini, ia melawan rasa sakit itu dengan tekad nya.
Bruk!
Ia melompat kebawah batu, tepat ditumpukkan daun kering membuat nya mendarat dengan aman. Berjalan dengan rasa sakit, ia melihat sebuah jalan yang ditumbuhi pohon kelapa. Tidak tau tujuan nya kemana, terus berjalan tanpa tau arah. Berharap sesuatu ia temui untuk memulai kehidupan baru, serta menjalankan misi mulia yang diberikan langit.
Pepohonan ini menjaga nya dari sinar matahari, sepanjang jalan ia diselimuti oleh bayangan yang menemaninya. Sampai dari ujung jalan ini, ia melihat pintu keluar yang memancarkan cahaya terang. Masuk kedalam rimbunan pohon.
Harapan dan tekad nya untuk hidup semakin besar, pintu keluar ini adalah awal dari semua nya. Perjalanan panjang yang akan ia lalui, sudah ada didepan mata. Mendekat lebih dekat sampai rasa hangat menyentuh kakinya, terus melangkah dengan debaran jantung yang seirama tarikan nafas nya.
"Hah!"zabarin menarik nafas panjang, sebelumnya akhirnya keluar dari hutan gelap ini. Menuju sebuah tempat selayaknya surga.
"Ghooaahh"
"Brak! Brak! Brak!"
Suara besar terdengar dari segala penjuru, gebrakan tanah kecil menyertainya. Membuka mulut dengan lebar dan mata yang terpesona, akan keindahan alam yang luar biasa.
Tanah lapang hijau terbentang luas dengan banyak gundukan seperti bukti kecil, serta banyak sekali mahkluk berbadan besar dalam berbagai rupa. Saling bermain, bersantai dan berlari-larian. Sebuah fatamorgana yang nyata ia lihat.
"Te-tempat apa ini?"tanya zabarin masih begitu takjub, dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang seperti negri dongeng, namun ada didunia nyata. Berjalan perlahan mendekat tanpa rasa takut, ia membaur didalam kelompok mahkluk besar yang disebut dinosaurus.
Tubuh kecil nya tidak sebanding dengan mereka, membuat ia tidak menjadi ancaman. Namun malah menganggap nya layaknya teman. Berjalan disampingnya, diikuti barisan panjang mahkluk itu, zabarin takjub dengan pemandangan ini, Beluk pernah ia melihat sesuatu seperti ini. Seperti ada sebuah ikatan yang membuat mereka seolah melindungi nya.
Para dinosaurus yang berjalan dikedua sisinya, menuntun ia kesebuah tempat yang indah. Dengan gunung yang tidak terlalu tinggi, serta memiliki sebatang pohon besar dikaki gunung ini. Ditempat lain, tepat didepan kaki gunung terdapat aliran sungai yang begitu jernih.
"Untuk apa kalian menuntun ku ke tempat ini?"tanya zabarin kepada salah satu dari dinosaurus yang memiliki kaki empat, Seakan tau apa yang dibicarakan. Dinosaurus itu berjalan kearah pohon besar dengan nuansa agung didepan nya.
Ia patuh mengikuti, setelah dinosaurus itu berhenti. Barulah ia melihat sebuah goa mungil dibalik pohon besar ini. Ia memandang kembali kearah dinosaurus itu sambil mengucapkan terimakasih"terimakasih! Aku tidak tau bagaimana kau mengerti bahasa ku, dan memberikan ku tempat perlindungan ini!"ucap zabarin gembira sambil memeluk dinosaurus itu yang hanya diam.
Seperti nya harapan yang sempat terbersit didalam kepalanya, kini menjadi kenyataan. Dan itu datang secara tidak terduga dari mahkluk aneh, yang sebelumnya ia kira jahat. Mendapatkan goa adalah keberuntungan besar untuk nya, ia bisa tinggal ditempat yang strategis ini.
Berjalan masuk kedalam, ia merasakan hawa lembab dan dingin dari dinding batu."Ini adalah keberuntungan pertama ku! Dengan awal ini, aku jadi semakin semangat untuk terus maju!"ucap zabarin penuh tekad.
Mengedarkan pandangannya, ia menilai ruangan ini tidak terlalu besar. Namun cukup untuknya, setelah itu ia keluar lagi dan mengambil beberapa lembar daun yang gugur. Dari pohon besar didepan goa yang saat ini menjadi milik nya.
Daun yang besar bisa ia jadikan untuk membersihkan debu yang ada, sebelum ia tinggali. Ia harus memastikan goa ini nyaman dan layak untuk nya, dengan membersihkan serta mengumpulkan banyak bahan dari hutan dikaki gunung yang lebih rendah dari tempat nya saat ini.
\*\*\*\*\*\*
Angin sore mengibaskan jubah putih zabarin, mentari mulai tenggelam diujung barat. Memandang dengan terpesona sekaligus bersyukur. Hari pertama yang ia lalui berjalan lancar, walaupun ada beberapa kejadian yang hampir merenggut nyawanya.
Berdiri didepan pohon besar dikaki gunung, ia mulai mempertanyakan lagi. Untuk apa ia diberikan tugas itu, dari apa yang ia lihat. Semuanya damai, keindahan yang luar biasa. Kenyamanan yang membuat betah, semua ketenangan itu bisa ia rasakan. Namun kenapa sosok bercahaya itu mengatakan, bahwa dunia telah menjadi neraka?.
"Huh! Untuk sekarang aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku! Seperti nya aku harus bersabar menjalani ini semua. Mungkin satu saat nanti, semua pertanyaan ku mendapatkan jawaban nya sendiri! Hanya waktu yang menentukan, kapan jawaban itu seharusnya kuketahui!"ucap zabarin sambil menghembuskan nafas dan terduduk serta bersender dipohon besar dibelakangnya.
Menatap kearah langit dengan tajam, tanpa senyuman sama sekali. Rambut hitam nya tergerai angin sore, dengusan angin terdengar ditelinga nya. Membuat ia rileks dipenuhi ketenangan, sampai melupakan rasa lelah dan sakit yang ia derita sebelumnya.
"Sampai kapan aku menjalani kehidupan ini?"tanya zabarin secara tidak sadar, saat terus menatap langit. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum lalu berkata"cih, aku bertanya sendiri lagi!"ucapnya sambil tersenyum konyol, bertanya tanpa ada jawaban. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan nya walau hanya sehari.
Sreeek!
Setelah langit mulai gelap, ia bangkit dari duduk nyaman nya. Mengibaskan bokong dari tanah dan kemudian berjalan perlahan, masuk kedalam goa"yah!, tidak ada gunanya juga bertanya pada sepi... Sedangkan jawaban nya ada didepan sana, kehidupan ini mengatakan aku harus terus maju, untuk mendapatkan semua jawaban nya!"ucap zabarin sambil tertawa, menghibur diri sendiri dengan ucapan penuh semangat dan keras.
Kesepian mulai menghantui nya, dengan berteriak penuh semangat ia bisa menghalau rasa sepi itu. Ia hidup sendiri ditempat ini, tanpa seorangpun yang bersamanya selain kesepian. Namun, kali ini ia memiliki pengelihatan yang lebih terbuka dari sebelumnya, maksud dari kehidupan dan bagaimana ia harus terus maju tanpa kata mundur. Ia juga sadar petualangan ini bukan lah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang besar. Karena tenggelam nya matahari bukan lah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan tempat singgah untuk menyambut perjalanan baru yang lebih jauh.
Groooaarr!!
Raungan keras memecah keheningan, membawa semangat baru yang akan kembali berkobar seperti api. Mentari pagi muncul dari ufuk timur dengan kehangatan, yang menyelimuti tubuh dari dingin nya udara pagi.
Tes... Tes... Tes...
Bulir-bulir embun menetes dari daun, menyatu ke bulir lain. Sebelum akhirnya jatuh ketanah. Hembusan angin dingin, dan kehangatan mentari. Membawa sesuatu yang telah padam didalam jiwa yang tertidur.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki penuh semangat terdengar dari balik pintu goa, menggema menjadi gelombang suara. Sepasang kaki keluar dari pintu mungil, sebelum akhirnya mata yang terpejam lama kini melihat. Dunia baru, yang lebih luas. Penuh kehidupan dan semangat, yang berbeda dari dalam sini.
"Huh... Hah!"Menarik nafas panjang, membiarkan udara segar masuk melalui hidung. Dan menyebar ke paru-paru, membawa perasaan lega dan ketenangan.
Mata penuh semangat itu, memandang langit biru diatas nya. Dengan ekspresi yang benar-benar berbeda , senyuman tipis terukir diwajah nya yang tampan. Mata penuh tekad yang bersinar seolah sedang melihat, sesuatu yang akan ia lalui didepan sana. Sesuatu yang tidak ia ketahui mungkin sedang menunggunya.
"Aku tidak tau akan memulainya dari mana! Yang jelas, aku akan mencari tujuan ku sendiri!"ucap zabarin penuh semangat, tekad membara yang menyala didada nya kini semakin besar. Membawa langkah nya menuju tempat-tempat baru.
Menoleh sedikit ke belakang, melihat kembali goa mungil yang menjadi tempat pertama, sekaligus rumah pertama untuknya. Kedepannya, mungkin ia tidak akan kembali lagi ketempat ini. Ia tidak bisa berdiam disatu tempat, dunia ini begitu luas. Dan tujuan nya juga seluas dunia ini.
Dengan berjalan mengelilingi setiap tempat yang akan ia kunjungi, membuat dunia menjadi rumah nya. gunung, hutan, laut. Akan menjadi teman nya, dimanapun ia berada. Ia tidak sendiri didunia ini, mereka juga mahluk hidup dengan evolusi yang berbeda.
Ia dan dunia ini adalah satu kesatuan, yang diciptakan langit untuk menemui jalan nya sendiri. Angin akan menuntun nya, cahaya akan menerangi jalan nya. Kegelapan akan terus disampingnya.
Membulatkan tekad serta menerima takdir hidup nya, ia berjalan pelan menuju sungai. Meninggalkan rumah pertama nya, yang suatu saat akan menjadi kenangan terindah yang pernah ia dapatkan.
"Sesulit apapun rintangan nya, sekeras apapun cobaan nya, Se berbahaya apapun jalan nya. Aku yakin, alam akan terus bersama ku!. Aku tidak akan pernah menyerah. cukup hari itu saja aku menyerah, dan tidak akan pernah lagi!" Gumam zabarin membatin, tekad yang ia bentuk kini benar-benar kokoh. Seperti sebuah benteng yang tidak bisa ditembus oleh apapun.
Perlahan menuruni tanjakan kecil, sembari menikmati suasana menyenangkan disekitarnya. Para dinosaurus yang berkeliaran di sekeliling tempat nya, dan burung-burung berkicau saling menyahut. Deru angin tipis menerpa daun, dan menggugurkan nya dari pohon.
Byur! Suara aliran air semakin terdengar jelas ditelinga nya, ikan-ikan berenang menimbulkan riak kecil dipermukaan air. "Hah! Mungkin sudah dua kali aku ingin bertanya. Kenapa dunia ini disebut menjadi neraka!" Ucap zabarin menggelap nafas.
Semua yang ia lihat adalah surga, bagaimana mungkin keindahan seperti ini dikatakan seperti neraka?."Ah... Sudahlah, perjalanan ku baru sampai sini. Masih banyak yang belum ku ketahui tentang dunia ini!" Gumam nya dan kemudian melompat ke sebrang sungai.
Hupp! Sungai yang tidak terlalu besar itu bisa ia lewati dengan sangat mudah, didepan nya kini terpampang hutan. Namun tidak seperti sebelumnya, hutan ini seolah dirawat. Tidak bertumbuh liar menjadi belantara.
Sreeek! Menyibak dedaunan yang menjuntai didepan nya, dan segera masuk kedalam hutan itu. Suasana teduh ia rasakan, namun ia terus maju, dan tidak membiarkan kenyamanan itu menghambat jalan nya.
Pandangan zabarin berkeliaran, mencari sesuatu atau lebih tepatnya jalan, yang akan ia tuju selanjutnya. Sampai pandangan matanya melihat sebatang pohon rindang, dengan area luas dan genangan air disekitarnya.
Kruukk! Perut nya mengeluarkan suara aneh saat melihat pohon itu, yang diatas nya terdapat buah berwarna merah yang sangat menggoda."Hah... Aku baru teringat, sejak kemarin aku sama sekali tidak mengisi perut ku!"ucap zabarin tertawa konyol, sembari menahan sakit diperut nya.
Saat sadar ia bertahan dengan perut kosong seharian, tubuh nya langsung lemas seketika."Karena kejadian itu, aku tidak teringat sama sekali dengan makan!"ucap zabarin pelan, dan berjalan sambil tertatih kearah pohon apel didepan sana.
Berjalan seperti mayat hidup yang mencari daging, zabarin benar-benar berusaha untuk bertahan agar tidak pingsan, sebelum ia mencapai pohon itu. Tenaga nya benar-benar habis, akibat tidak adanya nutrisi yang masuk ketubuh selama seharian.
Brukk! Akhirnya ia tiba dipohon itu, terduduk dengan lemas dibatang pohon. Ia menatap keatas, sekarang ia kembali bingung. Buah-buahan yang tumbuh dipohon ini berada tinggi diatas dahan. Bagaimana caranya ia bisa mengambil buah itu, sedangkan tenaga nya sudah habis.
"Kesialan hari ini datang lebih cepat dari dugaan ku!"ucap zabarin sedikit tertawa walaupun sedang dalam keadaan sulit, ia kemudian menjatuhkan kepala nya ke senderan batang pohon. Melihat sekali lagi keatas, dengan harapan ada salah satu buah yang jatuh.
Namun, setelah menunggu beberapa menit sambil menahan lapar. Tidak ada satupun buah yang jatuh"Yah, berharap pada yang tidak pasti hanya membuang-buang waktu!"ucap zabarin menertawakan kebodohannya.
Daripada menunggu entah sampai kapan, ia menguatkan dirinya untuk bangkit. Pohon ini tidak mungkin ia panjat, itu terlalu tinggi. Menggunakan kayu pun tidak akan sampai, karena tidak ada kayu yang bisa meraih buah yang ada diatas pohon.
Berjalan lagi, berkeliling hutan untuk mencari pohon buah. Yang sekiranya bisa ia gapai, semakin lama tenaga nya semakin habis. Matanya berkunang-kunang, kepala nya mulai berdenyut.
Plak! Plak! Namun, saat ilusi menguasai pikiran nya. Ia menampar pipinya sendiri demi bisa terjaga"hah... Hah... Ti-tidak mungkin, A-aku bisa bertahan lebih lama!"ucap nya terbata, nafasnya mulai berat. Kakinya gemetar menahan berat tubuhnya.
Kondisi nya benar-benar buruk, namun. Ia bingung, hanya sehari ia tidak makan dan minum. Kenapa dampak nya sampai seperti ini?. Apakah tubuhnya benar-benar lemah? Atau apa?.
Kesadarannya mulai menipis, namun ia tetap bertahan untuk terus berjalan maju. Tekad yang ia bentuk menjadi alasan ia terus bertahan. Tetapi, dengan tekad saja tidak cukup untuk mengatasi ini.
Degh! "Aarghh!" Zabarin berteriak saat jantung nya berdenyut, rasa sakit ini. Seolah jantung nya sedang di kompres oleh sesuatu yang besar. Memeras inti sari cairan dari jantung nya.
Setelah rasa sakit yang begitu luar biasa, muncul lagi masalah baru. Seluruh syaraf disetiap tubuhnya seolah melilit. Aliran darah nya tidak seimbang, membuat wajah nya membiru. Suplai oksigen dari paru-paru nya mulai berhenti, membuat nya kehilangan nafas.
Brukk! Ini bukan lah kelaparan, melainkan sesuatu sedang terjadi dalam tubuhnya! Ia tidak tau apa itu. Namun terasa sangat menyakitkan, dan seakan itu sedang menyatu dalam darah nya.
Tubuhnya yang terjatuh ditanah mencoba bangkit, sekuat tenaga nya ia mencoba. Namun selalu gagal, tapi ia tidak menyerah. Jika melawan rasa sakit seperti ini ia tidak mampu, ia tidak akan mungkin bisa menanggung rasa sakit yang lebih besar kedepannya.
Ditengah hutan gelap itu, tubuhnya menggelinjang tak karuan. Nafas yang berhenti seolah akan membunuhnya. Ditengah kesadaran terakhir nya, ia melihat sesuatu datang mendekat kearahnya.
Pandangan mulai buram, melihat sesosok bayangan seseorang datang dari balik semak. Harapan baru mulai muncul, dibalik kesialan ini. Keberuntungan mempertemukan nya dengan seseorang. Semakin lama semakin mendekat, bayangan itu kini terlihat seperti seorang pria.
Beberapa saat setelah itu, semuanya menjadi gelap. Tidak dapat melihat apapun, tidak pula mendengar apapun. Hanya kehampaan kosong membawa jiwa nya kembali tertidur.
\*\*\*\*\*\*
Waktu terus berjalan, tidak dirasakan oleh zabarin. Tekad yang ia bentuk sebelumnya, dalam waktu beberapa jam saja. Ia sudah Idak berdaya, apa memang ia selemah itu? Untuk bertahan hidup saja tidak mampu, apalagi menjalankan tanggung jawab besar itu!.
"Hah!" Menghembuskan nafas berat, membuka mata secara spontan seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Langit-langit kayu yang diterangi lampu obor kemerlap.
Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ia berada di sebuah kamar sederhana, dengan dinding kayu yang tampak reot namun masih terasa kokoh. Bangkit dari tidur nya, ia kemudian duduk diatas dipan bambu sambil memegangi kepalanya yang masih terasa denyut.
"Dimana aku?" Tanya nya, dan mencoba mengingat saat-saat terakhir sebelum ia pingsan. Seseorang mendatangi nya, mungkin orang itulah yang telah menolongnya. Dan saat ini ia berada dikediaman orang itu.
Ciitt! Saat berbagai macam pertanyaan muncul di benak nya, seseorang masuk kekamar ini, dari pintu kayu yang berdecit karena bergesekan dengan lantai. Masuk lah seorang pria yang tampak seumuran dengan nya. Berambut pirang serta memiliki tanda seperti tapak kaki kucing di dahinya yang terlihat samar. Dan Mengenakan baju seperti seorang prajurit pemburu.
"Oh, kau sudah sadar rupanya!" Ucap pria itu ramah, sambil tersenyum hangat kearah nya. Tampak sangat baik hati, dan begitu ramah untuk siapa saja. Bahkan pada orang yang belum ia kenal.
"Aku menyelamatkan mu saat dihutan, untunglah aku berada disana saat kau butuh pertolongan! Dan soal gejala yang terjadi di tubuh mu, ada sesuatu yang membuatku ingin bertanya langsung!"ucap pria itu, kesan pertama yang ia tunjukkan. Ia adalah orang yang banyak bicara, ramah, dan baik hati.
"Gejala aneh?"tanya zabarin bingung, memang ia merasakan gejala aneh yang tidak bisa ia ketahui penyebab nya. Mungkin dengan memberikan sedikit informasi yang ia tahu, pria ini bisa membantu nya menyembuhkan penyakit ini dari dalam tubuhnya.
Pria itu mengangguk,"Ya, itu soal garis darah keturunan mu!"ucap pria itu serius, Zabarin membelalakkan mata karena terkejut.
"Garis darah keturunan?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!