DELUNA
1. DEAN & SERA
Dean berjalan keluar dari rumah. Dilihatnya seorang gadis cantik sedang menunggunya dengan senyuman manis, Sera.
Dean Lawrence
Aku sudah bilang, tunggu saja di rumah, biar aku yang menjemputmu
Sera Olivia
Tak apa, aku suka menjemputmu.
Jawab gadis itu masih dengan senyum manisnya
Dean menggenggam tangan Sera lalu berjalan menyusuri jalanan sore itu
Dean Lawrence
Bagaimana kuliahmu?
Sera Olivia
ya, aku mulai sibuk akhir-akhir ini karena ujian
Dean Lawrence
lalu mengapa memilih jalan-jalan dan bukannya belajar?
Sera Olivia
Aku butuh penyemangat
Dean menatap gadis itu lama
Dean hanya tersenyum singkat melihat kekasihnya yang cukup menggemaskan.
Sera Olivia
Kita mau kemana?
Dean Lawrence
Ada tempat yang kamu ingin kunjungi?
Sera Olivia
Ada beberapa makanan manis yang ingin aku makan di kafe XXX
Dean Lawrence
Baiklah, mari kita ke sana.
Beberapa gadis yang melewati mereka, menatap Dean dan Sera secara bergantian. Dua orang dengan wajah tampan dan cantik memang cocok untuk bersama.
Sera Olivia
Orang-orang melihat pacarku.
Sera Olivia
Aku tidak suka.
Dean melepaskan genggaman mereka dan mengangkat tangannya untuk mengacak rambut Sera.
Dean Lawrence
Mereka memperhatikanmu. Bukan Aku.
Sera Olivia
Mengapa malah aku? Jelas-jelas merek-
Dean Lawrence
Itu karena kau cantik.
Pipi Sera memerah. Ia masih tersipu saat dipuji Dean, padahal Dean melakukan itu hampir setiap hari selama lima tahun ini.
Sera Olivia
Kau tahu cara menyenangkan perempuan, ya!
Sera Olivia
Dasar pembohong.
Sera dan Dean tertawa, dan membicarakan banyak hal. Hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.
Dean membukakan pintu untuk Sera.
Sera Olivia
Terima kasih, sayang.
Mereka berjalan menuju meja di ujung ruangan yang mengarah langsung ke jendela agar dapat menikmati pemandangan jalan.
Waiters
Mau pesan apa, kak?
Tanya waiters itu sembari memberikan menu
Sera melihat-lihat isi menu tersebut.
Beberapa saat ia terlihat berpikir.
Sera Olivia
Mango bingsu 1
Sera Olivia
Crepe roll cokelat 1
Sera Olivia
Kamu mau apa, sayang?
Dean Lawrence
Es americano
Sera Olivia
Es americano 1, dan air mineral 1
Waiters
Baik, mohon ditunggu, kak.
Waiters tersebut melenggang pergi.
Sera kembali menatap Dean yang menatap keluar jendela.
Sera Olivia
Bagaimana pekerjaanmu di kantor?
Dean Lawrence
Cukup rumit, tapi aku bisa menyesuaikan.
Dean kembali menatap Sera setelah menjawab.
Sera Olivia
Hal apa yang membuatnya rumit?
Dean Lawrence
Beberapa teman kantorku menyusahkan.
Dean Lawrence
Misalnya, mereka mengajakku karaoke-an setelah pulang kerja, atau mengajakku makan malam yang tidak bisa ku ladeni terus menerus.
Sera Olivia
Pasti para wanita.
Dean Lawrence
Tapi beberapa diantaranya juga laki-laki.
Dean mengabaikan Sera. Ia kembali menatap ke luar jendela.
Sera cukup sedih. Kadang-kadang Dean bisa bersikap hangat dan dingin di waktu yang bersamaan.
Terkadang ia juga merasa, bahwa Dean tidak benar-benar menyukainya.
Namun Sera menyanggah hal tersebut karena mereka sudah berpacaran begitu lama, dan Dean tak pernah sekalipun meminta untuk berpisah.
Sera menatap Dean yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Dean menjauh dari Sera, dan Sera menatap ponselnya.
Setelah beberapa saat, Dean kembali duduk di tempatnya.
Sera Olivia
Ada apa? Apa ada masalah?
Dean Lawrence
Jane, dia memintaku untuk makan malam bersamanya.
Sera Olivia
Kumohon, jangan terlalu dekat dengan Jane meskipun kalian adalah keluarga. Kau tahu kan, kemana pun Jane pergi, sahabatnya selalu mengekor. Sahabat Jane dari fakultas musik itu, aku tidak terlalu suka pada padanya.
Sera Olivia
Seluruh kampus tahu, bahwa dia menyukaimu, Dean.
Dean Lawrence
Aku tidak berpikir seperti itu.
Sera Olivia
Semua orang tahu kecuali kau.
Sera Olivia
Entah kau menolak menerima kenyataan ini, atau kau memang benar-benar tidak tahu.
Sera Olivia
Tapi aku senang kau tidak mempedulikannya.
Sera Olivia
Dean yang sekarang ini hanyalah milikku!
Sore itu dihabiskan dengan Dean yang mendengarkan cerita Sera, sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
2. ALLUNA & ORANG YANG DISUKAINYA
Jam menunjukkan pukul 15.55 Alluna melihat ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang yang ditunggunya sedari tadi.
Siapa lagi jika bukan Dean, senior kampusnya yang disukainya sejak beberapa tahun belakangan ini.
Alluna Allison
Mungkin senior Dean tidak masuk hari ini.
Alluna menggerutu sendiri. Ia menyesal tidak memperhatikan Dean hari ini, karena sibuk mempersiapkan ujiannya.
Alluna Allison
Apa mungkin Senior sedang berada di kantornya?
Alluna berasumsi sendiri, mengingat Dean sekarang sedang mengikuti magang di sebuah perusahaan baru-baru ini.
Karena terlalu suka kepada Dean, Alluna menjadi gadis yang selalu ingin tahu apa yang dilakukan pria itu.
Apalagi, cintanya sudah bertepuk sebelah tangan, selama 7 tahun
Jane Adeline
Lagi-lagi menunggu Dean?
Alluna melirik seseorang yang muncul dari arah belakangnya.
Melihat orang itu adalah sahabatnya, Alluna malah cemberut
Alluna Allison
Kau tahu kan..
Jane menghela napas panjang melihat tingkah konyol sahabatnya.
Jane Adeline
Oke, aku akan menanyakan keberadaanya
Jane mengambil ponsel dari tasnya. Ia lalu menghubungi seseorang dengan nama "Sepupu Dean" yang tertera di layar benda pipih itu.
Jane adalah sepupu jauh Dean. Namun, mereka cukup akrab untuk seseorang dengan status sepupu jauh.
Terdengar suara dari seberang telepon. Dean mengangkatnya.
Mendengar itu senyum Alluna segera merekah.
Dean Lawrence
Kenapa, Jane?
Jane Adeline
Aku hanya ingin tahu, kau berada di mana sekarang?
Dean Lawrence
Aku bersama Sera di Kafe XXX. Ada apa?
Mendengar itu, senyuman Alluna menghilang dari wajahnya.
Hatinya sedikit sedih mengingat Dean sedang bersama kekasihnya.
Jane Adeline
Aku mengajakmu makan malam di rumahku.
Jane Adeline
Ya, kau tahu, sebelum ujian aku ingin menghilangkan stres. Tak ada yang bisa ku ajak kecuali kau. Kau kan satu-satunya keluargaku di sini.
Tak terdengar suara Dean di seberang sana.
Mungkin Dean sedang berpikir keras.
Alluna yang menunggu jawaban Dean malah gelisah. Sehingga ia menggigiti kuku jarinya.
Jane Adeline
Berhenti menggigiti kuku jarimu!
Jane memarahi Alluna, karena kebiasaan buruknya itu.
Dean bertanya karena ia tak merasa sedang menggigit kuku jarinya.
Jane Adeline
Bukan kau, itu.. Sahabatku.
Dean Lawrence
Aku akan kerumah mu pukul setengah 8 malam.
Jane Adeline
Ah, iya, kutunggu ya.
Dean lalu mematikan telepon mereka.
Alluna yang kegirangan, segera merangkul lengan Jane.
Alluna Allison
Kau memang yang terbaik. Jane!
Jane mengangguk bangga mendengar pujian itu.
Jane Adeline
Ayo kita ke rumahku untuk memasak!
Alluna semakin mengeratkan rangkulannya, dan mulai berjalan mengikuti langkah Jane.
Alluna membersihkan peralatan setelah selesai memasak. Sedangkan Jane menata hidangan itu di atas meja.
Jane menghirup aroma masakan Alluna, yang menurutnya selalu saja enak.
Jane Adeline
Seharusnya kau ikut kelas memasak saja, daripada ikut kelas musik.
Tanpa melirik Jane, Alluna menjawab.
Alluna Allison
Kau tahu kan, aku begitu cinta dengan musik.
Jane Adeline
Hm, jadi musik adalah cinta mu setelah Dean.
Alluna Allison
Ya, Dean tetap yang pertama.
Jane Adeline
Apa bagusnya sih, si Dean itu.
Alluna Allison
Dia bagus dalam semua hal.
Jane merasa mual mendengar penuturan gadis itu.
Jane Adeline
Aku beritahu, ya.
Jane Adeline
Dean itu menakutkan.
Masih sambil membersihkan peralatan dapur, Alluna menjawab Jane.
Alluna Allison
Sama menakutkannya denganmu.
Jane Adeline
Apa maksudmu?
Alluna Allison
Kau disukai oleh saudara kembarku, apakah itu bukan hal yang menakutkan?
Jane Adeline
Saudara kembarmu itu gila.
Jane Adeline
Kau, Dean dan saudara kembarmu.
Jane Adeline
Kalian semua menakutkan.
Jane Adeline
Suka sama seseorang sampai menjadi stalker.
Alluna Allison
Apa maksudmu Dean sama menakutkannya?
Terdengar suara bel berbunyi dari arah pintu.
Alluna segera mengeringkan tangannya, kemudian memperbaiki rambut dan pakaiannya.
Jane Adeline
Itu pasti Dean.
Jane Adeline
Aku akan membukakannya pintu.
Alluna menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya.
Dilihatnya seorang pria tinggi dengan kemeja hitamnya masuk di ikuti oleh Jane.
Pria itu menatap Alluna sesaat.
Dean Lawrence
Kukira kita hanya berdua.
Ucap Dean dingin, kemudian duduk di atas sofa.
Jane Adeline
Aku cukup buruk dalam hal memasak.
Jane Adeline
Jadi, aku memanggilnya.
Mendengar itu, Alluna merasa canggung.
Alluna Allison
Kalau begitu aku pulang dulu, urusanku di sini sudah selesai.
Jane Adeline
Di sini saja, ayo makan bersama. Kau juga belum makan, kan. Sekalian saja.
Alluna menunduk, merasa tak enak hati. Ia takut keberadaannya akan mengganggu Dean.
Dean Lawrence
Ya, ayo makan dulu sebelum pulang.
Dean Lawrence
Kau sudah susah payah memasaknya.
Alluna mengangkat kepalanya.
Dalam hati ia merasa sangat senang.
Namun wajahnya hanya memasang raut datar.
3. PUTUS
Suasana malam itu terasa panas. Dean menyalakan Air conditioner di rumahnya dan melepaskan kancing atas kemejanya.
Pria itu mengusap wajahnya yang memerah. Ia menghela napas panjang.
Tak lama, ponselnya menampilkan notifikasi pesan masuk.
Sera Olivia
[Dean, kamu sudah pulang?]
Ternyata itu adalah pesan dari kekasihnya.
Dean tak berniat membalas. Ia merasa wajahnya sangat panas sehingga ia tak bisa memikirkan apapun.
Namun sebuah pesan masuk lagi.
Sera Olivia
[Kau hanya membaca pesanku? Mengapa tak membalas?]
Lagi-lagi Dean hanya menatap pesan itu.
Dean menon-aktifkan ponselnya, lalu melemparnya ke sembarang arah.
Pria bertubuh tinggi itu lalu beranjak dari tempatnya dan menatap dirinya pada cermin besar di hadapannya.
Senyumnya nyaris menyeramkan.
Pria yang bisa saja bersikap hangat dan dingin di waktu yang bersamaan itu, kini terlihat menyeramkan dengan senyumannya.
Dean mengusap rambutnya sembari tertawa.
Dean Lawrence
Rasanya, aku adalah orang paling bahagia di dunia ini.
Entah apa yang membuat Dean merasa sebahagia itu.
Pria itu lantas mengambil sebuah ponsel yang berada di laci meja cermin itu.
Ia menyalakan ponsel tersebut, dan setelah menyala, tampak foto seorang gadis cantik yang menjadi wallpapernya.
Dean lagi-lagi tersenyum.
Dean Lawrence
Gadisku yang cantik.
Langkah kakinya kemudian menuju ke arah kamar.
Dean berbaring di atas ranjangnya yang besar.
Pria itu menatap ke arah langit-langit.
Lagi-lagi ia tersenyum senang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sebahagia ini.
Ia pun tertidur dalam keadaan sangat bahagia.
Seseorang membunyikan bel rumahnya, Dean yang sudah tertidur beberapa saat beranjak membuka pintu, dan dilihatnya seorang gadis mungil dan cantik dengan raut marah sedang menatapnya.
Dean cukup terkejut. Bagaimana bisa gadis ini tau rumahnya, padahal ia tak pernah memberitahu siapapun tentang rumah ini.
Sera Olivia
Bisa kah kau menjelaskan ini?
Dean cukup yakin, bahwa rumah Dean yang selalu Sera kunjungi adalah apartemen XXX
Dan Dean tidak pernah memberitahu siapapun bahwa Dean punya rumah lain.
Dean Lawrence
Kenapa kau di sini?
Sera berdecak sebal melihat Dean mengabaikan pertanyaannya.
Sera Olivia
Bisakah kah jelaskan padaku lebih dulu?
Dean Lawrence
Kurasa kau tidak perlu tau.
Mendengar itu, Sera menjadi tambah kesal.
Sera Olivia
Apa maksudmu aku tidak perlu tahu?
Sera mendorong bahu Dean dengan keras.
Pria itu hanya menerima perlakuan yang pantas untuknya.
Sera Olivia
Rumah siapa ini?
Dean Lawrence
Ini rumahku.
Sera Olivia
Lalu? Di apartemen XXX itu punya siapa?
Dean Lawrence
Punyaku juga.
Sera Olivia
Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau memiliki dua tempat tinggal?
Dean Lawrence
Aku jarang di sini.
Sera Olivia
Apakah itu adalah sebuah alasan untuk tidak memberitahuku?
Dean menghela napas berat.
Dean Lawrence
Aku tidak ingin siapapun tahu tentang rumah ini.
Sera Olivia
Apa maksudmu? apakah aku orang asing bagimu?
Sera benar-benar tidak mengerti, apa maksud dari pria ini.
Dean Lawrence
Tidak semua hal harus kau tahu, Sera.
Nada bicara Dean terkesan pelan, namun entah mengapa itu membuat Sera tambah murka.
Sera Olivia
Setelah kupikir, selama ini kau tidak pernah memanggilku dengan panggilan sayang.
Sera Olivia
Apa kau benar mencintaiku?!
Dean mengusap wajahnya pelan.
Sera Olivia
Apakah selama ini, aku orang asing bagimu?
Melihat Dean yang sama sekali tak mau menjawab, Sera melangkah masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah.
Dean yang mendapati itu, segera menahan tangan Sera.
Dean Lawrence
Jangan bertindak lebih jauh.
Sera menggigit tangan Dean yang menggenggamnya.
Setelah Dean melepaskan genggaman tangan itu, Sera berjalan menyusuri setiap sudut rumah dengan perasaan penuh amarah.
Langkah Sera terhenti pada sebuah ruangan yang di cat hitam.
Sera masuk ke dalam kamar tersebut, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat isinya.
Ia melihat Dean dengan tatapan jijik.
Sera Olivia
Jangan mendekat!
Mata Sera mengeluarkan air. Ia tak sanggup melihat semua ini.
Sera Olivia
Kau menjijikkan!
Dean menghela napas berat.
Dean Lawrence
Mari kita bahas ini.
Ucap Dean sembari mengulurkan tangannya.
Sera Olivia
Jangan menyentuhku!
Sera Olivia
Aku tidak ingin lagi melihatmu!
Sera Olivia
Aku mau kita mengakhiri hubungan ini!
Sera Olivia
Jangan harap aku akan menghubungimu!
Sera melangkah menjauh dan keluar dari rumah itu.
Ia merasa sakit hati dan jijik pada kekasihnya sendiri.
Dean yang melihat itu hanya menghela nafasnya berat.
Mungkin sudah saatnya untuk mengakhiri drama pura-pura menjadi baik ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!