Kisah berawal dari seorang wanita yang bernama Anjelica, dia kehilangan kedua orang tuanya sejak masih Kecil dan di besarkan disebuah panti asuhan.
Setelah dewasa dia bekerja disebuah restoran ternama di kota itu, Rastoran itu bernama Restoran Monalisa.
*****
Hari itu adalah hari yang bisa di bilang mampu mengubah takdir Anjelica atau yang biasa di panggil Lica, karna hari itu adalah pertemuannya dengan seorang pria kaya yang muda dan tampan, dengan posisi tertinggi di sebuah restoran terkenal milik keluarga Romanov, pria itu bernama Erlin Romanov.
Hari itu.
Erlin sedang terburu-buru karna dia sudah terlambat untuk menghadiri rapat, sehingga Erlin tidak memperhatikan pada saat Itu di perempatan, lampu merah sudah menyala dan Lica pun menyebrang dengan tenang.
Dalam sekejap Lica tertabr4k mobil Erlin dan ketika Lica melihat mobil mewah yang menabraknya dia pun berpura-pura sangat kesakitan.
"Aduuuh....! sakit!" ucap Lica sambil memegang tangan dan kakinya yang sedikit lecet.
Pria pemilik mobil itu pun segera turun dari mobilnya untuk melihat keadaan Lica.
"Ayo, aku antar kerumah sakit," pinta Erlin, karna dia memang pria yang baik dan bertanggung jawab.
"Antarkan aku kerumah kontrakanku saja," sahut Lica.
Erlin membantu Lica berdiri dan masuk kedalam mobilnya, setelah itu Erlin menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Lica menuju ke rumahnya dan di perjalanan, Erlin mampir di apotik untuk membeli kotak p3k karna dia ingin bertanggung jawab mengurus luka lecet di tangan dan kakinya Lica.
Setibanya dirumah kontrakan Lica, mereka berdua duduk didepan teras dan Erlin mulai membersihkan luka di tangan dan dikaki Lica, dia juga memasang perban ditangan dan kakinya Lica, Lica pun berpura-pura merintih karna caper dan Erlin yang jomlo pun sangat cepat baper, dia juga dengan cepat tertarik kepada Lica karna Lica merupakan wanita yang sesuai dengan typenya.
Setelah selesai memasang perban, Erlin pun duduk dibangku dan dia kembali bertanya.
"Serius, tidak ingin diantar kerumah sakit?"
"Tidak perlu, saya harus segera kembali bekerja, karna saya tidak ingin dipecat." Ucap Lica.
"Kamu bekerja dimana?" tanya Erlin.
"Direstoran Monalisa."
"Saya mengenal seseorang yang juga bekerja disana, nanti saya akan meminta dia untuk memberikan izin kepadamu, kamu tidak bisa masuk untuk bekerja karna sakit."
"Memangnya kamu bisa?"
"Jangan khawatir, kamu pasti tidak akan dipecat."
"Aku akan mengingat nomor mobil mu, jika aku sampai dipecat maka aku pasti bisa menemukanmu dengan mudah." ancam Lica.
"Jangan khawatir." Jawab Erlin sambil tersenyum lebar.
"Aku percaya." Ujar Lica.
"Apakah kamu butuh sesuatu? Aku sedikit Sibuk dan nanti aku akan meminta anak buahku untuk membantumu."
"Tidak, dan terima kasih karna sudah mengantarkan ku pulang."
"Aku permisi." Ucap Erlin berpamitan.
Lica mengangguk dan Erlin pun pergi.
Selama beberapa hari Lica tidak masuk untuk bekerja, dan anak buahnya Erlin juga datang setiap hari untuk mengantarkan sarapan dan setiap pukul 12 siang anak buahnya Erlin juga menjemput Lica untuk mengajak Lica makan siang bersama Erlin di restoran kebanggaan Erlin yang bernama restoran Diva Romanov.
Suatu hari, setelah 2 bulan saling mengenal, hari itu Erlin sedang makan siang bersama Lica disebuah restoran dan Erlin pun memulai pertanyaan.
"Lica, apakah kamu memiliki keluarga?" tanya Erlin.
"Tidak ada! aku yatim piatu yang di besarkan di sebuah panti asuhan," jawab Lica jujur.
"Jadi di mana ayah dan ibumu?"
"Mereka berdua sudah meninggal dunia sejak aku masih kecil, itu yang pernah dikatakan oleh ibu panti." sahut Lica sambil terus makan.
Karna merasa terharu dengan jawaban Lica, maka Erlin pun berhenti bertanya, mereka sama-sama diam sampai mereka selesai makan dan berpisah.
Keberadaan Erlin di manfaatnya oleh Lica, karna Lica tahu Erlin sangat mencintainya dan saat itu Lica belum mencintai Erlin, sehingga Lica pun bersikap matre kepada Erlin.
Hari itu, Lica memberikan banyak uang kepada ibu panti yang bernama Ibu Diah, uang itu dia berikan untuk keperluan adik-adiknya.
"Lica, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?" tanya Bu Diah karna uang itu berjumlah 50 juta-an lebih.
"Dari kekasih ku Bu' namanya Erlin." sahut Lica.
"Apakah ibu bisa melihat fotonya?"
"Sekarang belum ada Bu' nanti aku bawakan Fotonya untuk di tunjukan kepada Ibu." sahut Lica.
Setelah puas bermain dengan adik-adiknya Lica pun pamit pulang.
*****
Hari itu Lica bersama Erlin berada di restoran untuk makan siang.
"Erlin, ayo kita foto bersama, selama ini kita tidak pernah memiliki foto bersama," pinta Lica.
"Aku tidak mau!" jawab Erlin dengan tegas.
"Kenapa?"
"Karna seumur hidupku, aku tidak pernah sekali pun di foto, orang bilang berfoto bisa memperpendek usia dan aku tidak mau usiaku pendek karna hal yang tidak berguna seperti itu!" sahut Erlin cuek sambil meneruskan makannya dan Lica pun diam-diam mengambil foto Erlin, dia mengambil foto wajah Erlin seperti dia sendiri yang sedang melakukan Selvi kepada wajahnya sendiri, Lica mengambil foto wajah Erlin berulang kali untuk dia tunjukan kepada ibu Diah nanti.
"Erlin! tadi aku dari mall dan aku melihat tas yang sangat bagus, tapi harganya mahal hampir 100 juta, apakah kamu mau membelikannya untukku?" tanya Lica dengan manja kepada Erlin.
"Nanti aku belikan," sahut Erlin, sambil berdiri karna jam makan siangnya juga sudah berakhir dan sudah waktunya dia pergi untuk bekerja lagi.
Setibanya di kantor, Erlin yang sedang kasmaran pun mengabulkan permintaan Lica, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan uang itu kepada Lica.
Tapi yang Erlin tidak pernah tahu adalah, uang yang selalu di berikan Erlin kepada Lica bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk adik-adiknya di panti asuhan.
*****
Suatu hari Lica meminta uang 700 juta kepada Erlin dan kali ini Lica beralasan ingin membeli rumah, tanpa banyak bertanya Erlin langsung memberikan uang 700 juta itu kepada Lica, dan kembali, semua uang itu diberikan Lica kepada ibu Diah.
Setelah 6 bulan saling mengenal, hari itu di depan rumah kontrakannya Lica, Erlin sedang berada didalam mobilnya karna dia melihat pintu rumah Lica terkunci dari luar dan dia pun memutuskan untuk menunggu Lica didalam mobilnya, setelah 3 jam menunggu Erlin melihat Lica keluar dari sebuah mobil mewah berwarna hitam, dan dia datang dengan seorang pria yang kira-kira berusia 50 tahunan, Erlin yang salah faham pu langsung emosi dan tanpa meminta penjelasan apapun dia langsung berkata kepada Lica.
"Dasar wanita murahan! apakah seperti ini pekerjaan mu, yaitu menjadi simpanan Om, Om!!!" Pekiknya, Lica yang tersinggung dengan ucapan Erlin pun langsung menampar pipi kiri Erlin.
"Kita putus!" Ucapnya setelah berkata begitu, Lica masuk lagi ke dalam mobil dan pria pemilik mobil pun menjalankan mobilnya tanpa di perintah.
Lica kemudian pergi ke panti asuhan dan langsung menangis dalam pelukan ibu Diah, Lica sedih karna kepergian Erlin, karna sebelumnya dia tidak menyadari bahwa dia sudah mencintai Erlin dan sekarang dia merasa sangat kehilangan Erlin, ibu Diah memeluk Lica, beliau berusaha menenangkannya sampai akhirnya Lica pun tertidur di pangkuan ibu Diah.
*****
Setelah 2 bulan berpisah dengan Erlin, Lica pun menjomblo dan malas berpacaran karna dia merasa kecewa dengan cinta dan Lica menganggap mencintai itu hanya sia-sia saja dan hanya membuang waktu.
Sampai suatu hari takdir dan hati berkata berbeda, yaitu ketika Lica bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Rafael.
Hari itu.
Seperti biasa, Lica bekerja di restoran dan restoran hari itu sangat ramai, tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang bernama Rafael.
Rafael datang untuk makan siang bersama dengan 2 temannya yang bernama Rama dan Rizky, tetapi Rafael dan teman-temannya berpakaian biasa saja, hanya menggunakan baju kaos dan jaket saja, jadi mereka pun tidak langsung di layani.
Ketika Lica selesai melayani 1 meja, dia lalu mendekati meja tempat Rafael dan teman- temannya berada, tetapi pak manajernya yang bernama Agung berkata.
"Lica! Sebaiknya layani dulu para pelanggan VIV kita dan tinggalkan mereka, kamu bisa melayani mereka setelah pelanggan VIV kita beres." ucap Pak Agung.
Lica yang tidak setuju dengan pendapat atasannya pun langsung membantah dengan berkata.
"Maaf Pak Agung! Semua tamu di restoran ini harus kita perlakukan dengan adil, mereka datang lebih dulu dan mereka juga yang harus di dahulukan, karna tidak parduli itu pelanggan VIV atau bukan, siapa pun mereka, setelah mereka selesai makan mereka juga harus membayar." sahut Lica.
Atasannya pun sangat marah kepada Lica karna Lica membantah perintahnya, atasannya lalu mendorong Lica dan tidak sengaja Lica terjatuh di pangkuan Rafael, pak manajer Yang bernama Agung pun berkata dengan marah.
"Apa yang kamu tau tentang trik penjualan atau pun tentang cara yang bagus dalam melayani pelanggan! kamu juga tidak memiliki pendidikan setinggi aku, karna kamu hanyalah seorang pelayan rendahan, jadi ikuti aturanku dan jangan lagi banyak bicara!!!" umpatnya.
Dengan marah pak Farhat saat berkata begitu, tapi bukan nya takut Lica justru menjawab.
"Apa guna nya pendidikan tinggi, ketika pendidikan tinggi anda membuat anda kehilangan rasa hormat dan merendah kan orang lain dan harus anda ingat! pendidikan tidak menjamin kebaikan sifat, karna jika aku memiliki pendidikan tinggi seperti anda dan bersikap seperti anda, maka aku lebih bangga dengan pendidikan ku yang rendah ini." Manajer Farhat sangat tersinggung dengan ucapan Lica kemudian dia berkata.
"Keluar dari restoran ini secepat nya!!!" teriak nya dengan nada lantang kepada Lica dan Setelah mendengar pak Farhat berkata begitu, Lica melepas kan celemek nya sambil berkata.
"Surat pengunduran diri saya akan ada di meja anda besok!"
Lica menolak minta maaf karna menurut nya dia tidak salah, dia pun langsung pergi dan Rafael memandangi kepergian nya dengan kagum, kemudian Rafael menelpon kakak nya.
"Kaka' apakah Kaka kenal dengan manajer yang bernama Farhat yang bekerja di restoran Monalisa?" tanya Rafael kepada kakak nya, kemudian Erlin menjawab.
"Apakah ada masalah?" Rafael pun mengadu.
"Pria yang bernama Farhat tidak mau melayani ku karna aku bukan tamu VIV! dan dia menghina ku, tapi aku belum bilang kepada Farhat bahwa aku adalah Rafael Romanov." ucap Rafael sambil melihat ke wajah Farhat.
Farhat mencibir Rafael karna berpikir Rafael sedang berbohong yang berpura-pura menjadi adik CEO kemudian Farhat berkata dengan lantang.
"Hey anak muda, kalau kamu adik nya Erlin Romanov, maka aku adalah ayah nya!!" ucap Farhat dengan marah sambil tangan nya menunjuk ke arah Rafael dan di sertai suara tawa yang keras dengan nada mengejek.
Kemudian Erlin menutup panggilan dan menelpon bawahan nya yang posisi nya sebagai derektur utama di perusahaan nya, yang bernama Neyreen Bulidah, kemudian Neyreen melakukan panggilan vidio call kepada Farhat dan bertanya.
"Di mana tuan muda Rafeal?" mendengar itu Farhat seketika terkejut dan dengan wajah pucat melihat ke arah Rafael.
Rafael bersikap seperti murid SD yang sedang di absen guru nya, Rafael pun mengangkat tangan nya sambil berkata.
"Hadir...!" sambil Rafael tersenyum kepada Farhat.
"Apakah benar kamu adalah ayah dari keluarga Romanov?" tanya Rafael setengah mengejek.
"Tuan muda maaf kan saya, saya tidak tahu tentang anda," ucap Farhat sambil cengegesan dengan bibir yang nyaris membentuk bulan sabit terbalik, karna dia mulai takut pada posisi orang yang ada di depan nya itu.
"Berikan ponsel mu kepada tuan muda!" Perintah Neyreen kepada Farhat dan dengan tangan gemetar Farhat menyerah kan ponsel nya kepada Rafael.
"Maaf kan kelakuan anak buah saya, saya akan memecat nya!" ucap Neyreen di Vidio call, Rafael menggelengkan kepala nya kemudian berkata.
"Tidak! jangan memecat nya karna aku ada rencana lain." ucap Rafael sambil tersenyum kepada Neyreen, lalu Rafael memutus kan panggilan vidio call dan mengembali kan ponsel kepada Farhat sambil berkata
"Kamu urus wanita yang tadi dan jangan biar kan dia berhenti bekerja, jika dia berhenti maka orang yang akan di pecat ada nama kamu di urutan ke dua dan rahasia kan tentang aku adalah pria yang berasal dari keluarga Romanov." ucap Rafael, dengan senang Farhat mencium tangan Rafael berulang kali sambil mengucap kan.
"Terima kasih tuan muda, terima kasih." tidak lama kemudian datang lah seorang wanita yang berpakaian seperti chef dan berdiri di depan Rafael.
"Tuan muda, perkenal kan nama saya adalah Anggel Bulidah dan saya adalah istri dari Neyreen Bulidah, maksut kedatangan saya kesini karna perintah suami saya untuk bertanya langsung kepada tuan muda, makanan apa yang ingin tuan muda makan dan saya akan langsung memasak nya khusus untuk tuan muda." dengan sopan Anggel menyapa Rafael.
"Apapun terserah kamu, karna apapun yang akan kamu berikan akan aku makan." sahut Rafael sambil tersenyum manis.
"Baik, tuan muda! saya permisi dan akan membuat hidangan istimewa khusus untuk tuan muda." Setelah berkata begitu Anggel pergi tapi Farhat tidak berani bergerak atau pun berbicara kemudian Rafael berkata.
"Pergilah!!" mendengar perintah itu kemudian Farhat bergegas pergi.
Kepada semua orang yang bekerja di restoran itu Farhat bertanya tentang keberadaan Lica tapi tidak ada yang tahu di mana Lica, setelah keliling restoran akhir nya Farhat menemukan Lica di taman di dekat restoran juga, Farhat mendekati Lica kemudian Farhat berkata.
"Lica, aku mencari mu kemana-mana dan beruntung aku bisa menemukan mu disini." sambil ngos-ngosan Farhat berbicara.
"Jangan khawatir aku akan segera pergi," sahut Lica dengan ketus kepada Farhat kemudian Farhat berkata lagi.
"Tidak! bukan itu masalah nya tapi yang salah adalah aku, karna kamu benar siapa pun yang makan di restoran kita, mereka juga membayar dengan harga yang sama,"
Kata -kata Farhat membuat Lica kebingungan saking bingung nya Lica sampai ternganga,karna Lica sudah mengenal Farhat selama 2 tahun dan sangat aneh jika Farhat tiba-tiba berubah jika dalam keadaan normal dan dalam hati nya berkata.
"Ini orang kesambet atau bagaimana?" kemudian Lica mencubit pipi nya sendiri dan dia berteriak.
"Aaaww...,sakit tau!" ucap nya, kemudian dia melihat lagi ke arah Farhat yang masih berdiri di depan nya sambil senyum-senyum sendirian dan memohon kepada Lica.
"Ya, Lica ya...jangan berhenti bekerja di restoran ini, karna kamu pegawai senior jadi kamu banyak berpengalaman dan kalau aku memecat mu, kemudian mempekerjakan orang baru, arti nya kami akan kesulitan nanti untuk membimbing mereka, jadi restoran ini memerlukan kan orang seperti kamu yang sudah berpengalaman." bujuk Farhat dengan penuh bumbu kebohongan dan memelas,kenyataan nya dia melakukan hal itu untuk diri nya sendiri saja agar dia tidak di pecat oleh Rafael dan bukan untuk Lica, tapi karna Lica terkenal menjadi matre dia pun menyetujui dengan satu syarat.
"Ok aku batal kan pengunduran diri ku besok tapi aku mau gajih ku naik," sahut Lica yang berbicara dengan nada mengejek kepada Farhat, tanpa berdaya untuk menolak Farhat berkata sambil cengar-cengir.
"Ok 20%." sahut Farhat dengan ekspresi wajah yang hancur saking kesal nya dia, karna sedang berusaha keras menjadi orang lain karna pribadi Farhat selama ini adalah sangat pemarah dan angkuh.
Lica pun menggeleng kan kepala.
"Aku tidak mau, kalau gajih ku di naikan 50% maka aku akan bekerja lagi!" sahut nya sambil mengejek Farhat.
Saking kesal nya Farhat menendang-nendang tong sampah sebagai lampiasan kekesalan nya, kemudian dia berlari keliling taman dan mencabut beberapa rumput, lalu menaiki pohon mangga, tapi Lica hanya melihat dengan bingung tanpa berkata apapun, kemudian Farhat bergantung di pohon mangga.
"Akan aku ajukan surat kenaikan gajih mu kepada bos, berdoa lah juga semoga bos setuju!" ucap Farhat sambil menuruni pohon mangga itu, lalu pergi meninggal kan tempat itu dengan langkah panjang dan cepat.
Karna merasa sendirian Lica bertepuk tangan sambil bernyanyi.
"Naik gajih...naik gajih...naik gajih...horeeee...! berhasil berhasil hore!" kata Lica dalam lagu yang dia cipta kan sendiri, tapi dia tidak melihat kalau sejak tadi Rafael berada di belakang pohon bonsai yang melihat kelakuan nya dan juga kelakuan Farhat, Rafael tersenyum sendirian melihat hal itu, setelah selesai menari Lica pun kemudian pergi berjalan menuju restoran dan masuk ke dapur.
"Antar ke meja nomor berapa Chef...??" tanya Lica kepada Chef nya.
Di dapur juga sudah ada Farhat yang datang terlebih dulu dari Lica, dia pun langsung bilang kepada Lica.
"Lica bagaimana kalau kamu hari ini pergi jalan-jalan ke mall atau ke mana pun anggap saja hari ini adalah hari cuti mu" ucap Farhat dengan senyum lebar sambil memamerkan kan gigi nya yang tidak tersusun rapi itu.
Lica semakin kebingungan dan semua orang juga semakin bingung karna Farhat terkenal sebagai pria yang sangat pemarah maka tidak ada yang berani bertanya meski pun merasa sangat penasaran.
Kemudian dengan sejuta pertanyaan Lica pergi meninggal kan restoran lalu mengunjungi panti asuhan tempat adik-adik nya di rawat, saat Lica datang mereka semua sedang menanam bunga di belakang panti asuhan dan Lica pun ikut membantu juga, sore pun tiba kemudian Lica pulang ke kost nya.
Ke esokan hari nya tepat jam 11:30 wita siang,Lica melihat Rafael yang sedang berdiri di luar dan kali ini penampilan Rafael lebih miskin karna hanya memakai celana pendek yang kira-kira harga nya hanya 30 ribu saja dengan baju kaos warna putih yang juga bolong-bolong, bahkan Lica berpikir Rafael datang untuk mengemis, kemudian Lica mendekati Rafael kemudian menegur nya.
"Hy...,jangan mengemis di sini,nanti kamu bisa dapat masalah jika atasan ku melihat mu!" ucap Lica dengan sopan kepada Rafael sebalik nya Rafael menyapa nya.
"Hallo,apa kabar? nama ku Rafael!" sapa Rafael kepada Lica,tapi Lica tidak langsung menjawab dia melirik ke kiri dan ke kanan karna takut kena omel dari Pak Farhat jika melihat nya berbicara dengan pengemis, Rafael pun tersenyum manis.
"Aku lapar!" ucap Rafael sambil menepuk perut nya kemudian Lica berkata.
"Kamu tunggu di parkiran, aku akan beri kamu makan saat jam makan siang ku tiba nanti" Rafael mengangguk kemudian Rafael pergi ke parkiran lalu duduk di bangku di bawah pohon Ketapang, jam istirahat pun tiba kemudian Lica membeli di restoran itu satu porsi untuk Rafael dan satu porsi jatah makan siang nya.
"Yang satu porsi ini aku bayar, nanti masukan dalam kasbon gajih ku dan potong dari gajih ku saja" ucap Lica kepada kasir yang bernama Iwan.
"Ok,tapi untuk siapa kamu membeli?apakah untuk kamu sendiri atau untuk orang lain?"
tanya iwan yang juga adalah teman baik Lica dan lica pun menjawab sambil tersenyum.
"Untuk pengemis yang menunggu di parkiran sana, kasihan dia, kata nya dia sedang lapar" kemudian Lica menunjuk ke arah pohon ketapang lalu Iwan tersenyum sambil mengangguk.
Setelah Lica pergi datang lah Farhat yang melihat Iwan sedang menulis bon dengan nama Lica kemudian Farhat bertanya.
"Apakah itu bon nya Lica?" mendengar pertanyaan itu Iwan kaget karna tiba-tiba ada Farhat di belakang nya lalu menjawab dengan gugup.
Itu...! Lica memberi makan pengemis" sahut Iwan, mendengar itu Farhat dengan wajah emosi dia berjalan keluar dan di ikuti Iwan dari belakang sambil Iwan berkata.
"Bos maaf kan Lica bos karna Lica hanya iba kepada pengemis itu jadi jangan marah kepada Lica"
Farhat membalikan tubuh nya ke arah Iwan sambil berkata dengan lantang.
"Yang nama nya pengemis jangan di kasih hati nanti kebiasaan" ucap Farhat sambil marah di sertai air liur yang muncrat kemana mana sambil Farhat menunjuk ke wajah Iwan kemudian salah satu pegawai bernama Aisyah juga berkata.
"Bos nanti biar saya saja yang menegur Lica tapi beri kan Lica kesempatan kali ini saja" mendengar itu membuat Farhat semakin kesal lalu berkata.
"Kalian ketularan Lica sok dermawan dan sok setia kawan siapa pun yang membela Lica akan aku pecat" ucap Farhat dengan sangat marah lalu dia berjalan menuju pintu ke luar, di ikuti oleh anak buah yang lain karna khawatir Farhat akan mengamuk tapi setidak nya mereka bisa melerai.
Seketika Farhat menjadi beku di tempat saat melihat ke bawah pohon ketapang dan wajah nya mendadak menjadi pucat, hanya Farhat yang tahu rasa nya, maju takut mundur malu, setelah itu dia pura-pura mengambil ponsel dari dalam saku celana nya lalu berpura pura menerima panggilan.
"Ooohh hello tuan takur, iya nanti kita akan pergi bersama-sama ke kafe biasa dan aku yang traktir,ha ha ha ha ha" ucap Farhat sambil tertawa dan ketika Farhat berkata begitu sambil berbalik arah menuju ke dalam restoran lagi, dia pura-pura belum melihat Lica dan Rafael di bawah pohon, Farhat berjalan ke dalam lewat di depan Chef Anggel dan Anggel hanya tersenyum melihat kelakuan Farhat karna bukan tuan takur tapi arti nya adalah tuan takut.
"Cerdas" Chef Anggel bergumam.
Saat itu Anggel juga kebetulan sedang makan siang di salah satu sudut ruangan di restoran dan karna restoran itu terbuat dari kaca jadi terlihat jelas dari dalam keluar, Anggel juga memperhati kan ke dekatan Rafael dan Lica kemudian Anggel tersenyum sambil melanjut kan makan siang nya.
Jam makan siang berakhir kemudian Lica masuk ke dalam restoran dan beberapa teman teman nya mendekati nya, salah satu teman bernama Risna berbicara pelan setengah berbisik sambil melihat ke sekitar takut ada Farhat yang tiba tiba datang.
"Lica kamu beruntung tadi pak farhat belum melihat kamu dan pengemis itu"
Kemudian teman nya yang lain yaitu Anita juga berkata.
"Iya untung ada yang menelfon pak Farhat sehingga dia batal nyamperin kamu, sumpah tadi kami sangat khawatir" Kata kata itu membuat Lica jadi tegang dan wajah nya pucat kemudian lewat chef Anggel yang menyelesai kan makan nya yang berkata.
"Di larang menggosip" ucap nya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ya cheeeef" sahut mereka serentak lalu Anggel langsung pergi, tapi walau pun sedikit bicara cukup membuat semua orang kehilangan nyali nya karna Anggel adalah wanita yang sangat dingin dan juga cuek, jarang bicara dan senyuman nya juga langka.
Mereka pun mengubah topik pembicaraan.
"Teman teman! hari ini gajihan kan?" tanya Iwan kepada semua orang.
"Iya...." jawab yang lain serentak kegirangan.
Sore itu sebelum pulang Iwan dan Lica yang terakhir masuk ke ruangan Farhat untuk mengambil gajih.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!