Kringg...
Suara alarm berbunyi nyaring, memenuhi kamar minimalis bercat putih yang dipenuhi puluhan buku tertata rapi di rak besi samping ranjang. Seorang gadis masih nyaman dalam tidurnya. Ia tidak menghiraukan alarm yang terus berbunyi memecah pagi.
Brak! Seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan tergesa lalu berjalan mendekati ranjang.
“Vanka, bangun! Kamu nggak pergi ke sekolah?” serunya. Hening. Tak ada jawaban dari balik selimut tebal. Vanka sama sekali tak terganggu dengan panggilan ibunya.
“Vanka!” panggil sang bunda lagi. Kesal diabaikan, ia pun mengambil segelas air yang ada diatas meja, lalu memercikkan sedikit demi sedikit ke wajah anak gadisnya. “Bangun!” perintahnya dengan wajah khas seorang ibu yang sedang jengkel.
“Hoam...” Vanka mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan tenaga. Ia menguap beberapa kali sambil merenggangkan tubuhnya yang masih kaku.
“Sekarang jam berapa, Bunda?” tanyanya seraya mengusap wajah basahnya.
“Sudah jam enam lewat sepuluh!”
Mata Vanka langsung melebar. Ya ampun, aku terlambat!
Ia segera beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk putih yang tergantung di samping pintu kamar mandi, lalu bergegas masuk.
“Dasar kebiasaan, selalu telat!” keluh Dina, ibunya, sambil menggelengkan kepala sebelum membuka gorden kamar.
“Cepat turun ya, Van!”
“Okeeeh!” sahut Vanka dari dalam kamar mandi. Dina pun beranjak ke dapur, menyiapkan sarapan sambil menunggu anak gadisnya bersiap.
Sepuluh menit kemudian, Vanka meraih seragam sekolahnya dan memakainya dengan tergesa. Rambutnya yang mengembang ia sisir, lalu mengoleskan pelembap dan lip balm tipis.
“Sempurna!” gumamnya puas. Ia segera mengambil ransel dan berlari menuruni tangga.
“Pagi semua!” sapanya kepada ayah, ibu, dan kakaknya di ruang makan.
“Pagi,” jawab mereka hampir bersamaan.
Vanka langsung duduk di kursi kosong di samping Satya, kakaknya. Ia meraih dua lembar roti, mengoleskan selai cokelat, lalu melahapnya dalam sekali gigit.
“Dek, pelan-pelan kalau makan. Nanti tersedak,” tegur Satya.
“Aku udah telat nih, Bang!” jawab Vanka sambil menuang air putih ke gelas.
“Itu salahmu sendiri, bangun kesiangan!” cibir Satya sambil tersenyum tipis.
Vanka mendengus, lalu menghabiskan air putihnya. “Cerewet banget sih,” gumamnya kesal.
“Ayah, Bunda, Vanka berangkat dulu ya!” pamitnya sambil mencium tangan orang tuanya.
“Iya, hati-hati ya Van,” jawab sang bunda.
Vanka segera mengeluarkan motor matic dari garasi, menyalakan mesin, dan memakai sepatu.
“Assalamu’alaikum!” serunya sebelum melaju ke sekolah.
Biasanya, perjalanan ke sekolah memakan waktu sekitar 30 menit. Tapi karena terburu-buru, hanya 20 menit kemudian ia sudah sampai di parkiran.
“Untung aja nggak telat!” ucapnya lega. Sudah tujuh kali bulan ini ia terlambat, sampai-sampai guru BK pernah memanggil orang tuanya. Sejak itu, sang bunda punya cara ‘khusus’ membangunkannya setiap pagi. Tapi tetap saja, Vanka belum berubah jadi gadis yang rajin.
Setelah memarkir motor, Vanka berlari menuju kelas. Namun tiba-tiba seseorang menabraknya hingga ia jatuh tersungkur di lantai koridor.
“Hei! Kalau jalan pakai mata, jangan asal nabrak dong!” kesalnya sambil membersihkan debu di pakaiannya.
Hening. Vanka mendongak, mendapati seorang pemuda tampan berdiri dengan gaya dingin. Tanpa meminta maaf, ia justru beranjak pergi.
“Eh, kamu kan yang nabrak! Kok diam aja sih!” protes Vanka.
“Lalu?” jawab singkatnya.
“Ya minimal minta maaf dong!”
Tapi pemuda itu tetap melengos meninggalkannya.
“Bikin kesel aja! Baru pagi udah bikin mood jelek,” gerutu Vanka sambil berdiri dan kembali berlari ke kelas.
“Pagi, bestie!” teriaknya begitu masuk kelas. Namun teman-temannya hanya melirik malas.
“Nggak usah teriak-teriak, Van,” tegur seorang siswi dengan dandanan mencolok, Sherly.
“Biar rame, Sher!” jawab Vanka sambil mengangkat dua jari.
“bercanda mu nggak lucu, Van. Malah bikin bising,” sahut Hana, siswi kalem di sampingnya.
Ya, mereka berdua adalah sahabat karib Vanka sejak SMP: Sherly Amilia dan Hana Nur Aini.
“Ya maaf, ya!” ujar Vanka sambil nyengir. Bel istirahat berbunyi. Vanka bersama Sherly dan Hana menuju kantin. Mereka duduk di pojok, tempat strategis untuk melihat suasana kantin.
“Gue pesenin, kalian mau apa?” tanya Sherly.
“Aku bakso sama es teh manis!” jawab Vanka
“Samain aja, Sher,” timpal Hana.
Sepuluh menit kemudian, Sherly kembali membawa pesanan.
“Eh, tumben banget lo kesiangan, Van,” kata Sherly membuka obrolan.
“Biasa, semalam marathon drama Korea sepuluh episode!” jawab Vanka santai.
“Ya ampun, nggak sayang sama mata?!” celetuk Hana.
“Gimana mau sayang, aktornya ganteng banget. Cuci mata, dong!” balas Vanka, membuat Sherly dan Hana hanya geleng kepala. Mereka sedang asyik makan, sampai tiba-tiba kantin heboh. Semua siswi menjerit menyambut kedatangan Varo, Kevin, dan Andrean—anggota tim basket sekolah.
“Rasanya kayak artis diteriakin gini,” celetuk Andrean.
“Mereka manggil Varo, bukan kamu!” sahut Kevin.
Andrean mengedipkan mata ke arah siswi-siswi yang histeris, membuat mereka semakin berteriak. Kevin hanya mencibir, sementara Varo tetap diam, sesekali melirik ke arah Vanka—gadis yang tadi pagi ia tabrak.
“Apa-apaan sih, lebay banget,” komentar Vanka sinis.
“Bener, kayak nggak pernah lihat cowok aja,” timpal Sherly.
Andrean yang melihat Varo menatap Vanka menggoda, “Var, jangan bilang lo naksir tuh cewek?”
Varo hanya melirik tajam, tidak menjawab.
Pandangan mereka akhirnya bertemu.
“Apa sih liat-liat terus?!” ketus Vanka, merasa risih.
Sherly dan Hana menoleh bingung.
“Lo ngomong sama siapa, Van?” tanya Sherly.
“Itu, sama cowok dingin itu!” tunjuk Vanka ke arah Varo.
Sherly dan Hana tertawa ketika Vanka menceritakan kejadian pagi tadi.
“Intinya aku sebel banget sama dia!” keluh Vanka.
“Katanya benci sama cinta itu beda tipis. Hati-hati nanti jatuh cinta, loh,” goda Sherly.
“Jangan sampai deh, amit-amit!” jawab Vanka cepat, membuat sahabat-sahabatnya tertawa terbahak.
Terima kasih yang udah mau mampir 🙏
jangan lupa like, komen dan vote ya☺️
Setelah sembilan jam penuh Vanka dan murid-murid lainnya mengikuti berbagai pelajaran, akhirnya bel sekolah berbunyi. Waktu pulang pun tiba. Dengan semangat, Vanka segera mengambil sepeda motornya dan meninggalkan sekolah. Hatinya senang karena ia bisa segera beristirahat di rumah setelah seharian penuh beraktivitas.
“Sher, Han, aku duluan ya!” seru Vanka sambil melambaikan tangan pada kedua sahabatnya yang masih menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Mereka hanya tersenyum dan menyuruh Vanka hati-hati di jalan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Vanka tiba di rumah. Ia memarkirkan motor di halaman depan, lalu masuk dengan langkah santai.
“Assalamu’alaikum, Vanka pulang!” serunya begitu membuka pintu.
Satya, kakaknya, yang sedang tiduran di sofa ruang tamu langsung terkejut mendengar suara keras itu.
“Tidak usah teriak-teriak, Jamal. Rumah ini bukan hutan,” celetuk Satya ketus.
“Mulut-mulut aku sendiri, kenapa sih kakak yang ribut?” balas Vanka dengan nada tak kalah ketus.
Dina, ibu mereka, yang mendengar pertengkaran kecil itu segera datang.
“Sudah, sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja, ribut terus,” tegurnya dengan tangan bertolak pinggang. Satya dan Vanka hanya tersenyum malu-malu.
“Vanka, mandi dulu ya, habis itu bantu bunda menyiapkan makan malam,” perintah Dina.
“Oke, Bun!” jawab Vanka singkat.
Vanka pun bergegas naik ke kamar, membersihkan diri, lalu mengganti pakaian dengan yang lebih santai. Setelah itu ia turun kembali untuk membantu ibunya di dapur.
---
Di sisi lain, seorang pemuda tengah tertidur pulas karena lelah sepulang sekolah. Dia adalah Alvaro Ravindra Abraham, pemuda yang sempat menabrak Vanka di pagi hari.
“Varo, bangun, ayo makan dulu!” ucap Anggi—ibunya, sambil mengguncang tubuh Varo pelan.
Dengan malas, Varo membuka mata dan menyuruh ibunya menunggu di ruang makan. Setelah merasa lebih segar usai mencuci muka, Varo turun dan duduk di hadapan ibunya.
“Varo, setelah makan malam, temui Papa di ruang keluarga. Ada hal penting yang ingin dibicarakan,” kata Johan, ayah Varo.
Varo mengernyit. “Kenapa tidak dibicarakan di sini saja, Pa?” tanyanya malas.
Belum sempat Johan menjawab, Anggi memotong, “Sekarang fokus makan dulu, nanti saja bicaranya.” Ia berkata sambil menyuapi Avian, adik Varo yang masih berusia dua tahun.
Suasana pun kembali hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu.
---
Dua puluh menit kemudian, makan malam selesai. Mereka bertiga kini duduk di ruang keluarga.
“Papa mau bicara apa sebenarnya?” tanya Varo datar.
Johan menatap istrinya sejenak, lalu mulai menceritakan perjanjian lamanya dengan sahabat masa kecilnya. Hingga akhirnya ia sampai pada inti pembicaraan.
“Papa dan Mama ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat Papa,” ucapnya tegas.
Varo sempat terkejut, tapi cepat-cepat menyembunyikan ekspresinya.
“Papa, Varo masih sekolah. Masa harus menikah sekarang?” protesnya pelan.
“Ini demi kebaikanmu, Nak. Mama tidak ingin kamu salah langkah dalam pergaulan,” jelas Anggi lembut.
Varo terdiam lama. Ia tidak tega menolak melihat wajah ibunya yang penuh harap. Akhirnya ia menghela napas panjang.
“Baiklah, terserah Mama dan Papa. Varo ikut saja,” jawabnya datar.
Anggi langsung bersorak senang, sementara Varo memilih meninggalkan ruangan tanpa berpamitan.
“Anak itu dingin sekali. Bikin kesal saja,” keluh Johan.
“Ya, mirip kamu lah.” jawab Anggi sambil beranjak pergi menenangkan Avian yang menangis.
---
Sementara itu, di rumah Vanka. Setelah makan malam, ia menemani ibunya di dapur. Namun, bukannya membantu mencuci piring, ia hanya duduk di samping sambil ngemil, karena ibunya tidak mengizinkan ia mengambil alih.
“Kak, besok malam ikut bunda sama ayah ya,” kata Dina sambil membilas piring.
“Kemana, Bun?” tanya Vanka penasaran.
“Makan malam dengan sahabat bunda,” jawabnya.
Vanka langsung curiga. “Kenapa harus ajak Vanka juga?”
“Sudah ikut saja, jangan banyak tanya. Kayak Dora saja deh, tanya terus,” celetuk Dina sedikit kesal.
Vanka hanya mendengus dan pergi ke kamarnya. Ia lalu berbaring di kasur, memainkan ponsel sebentar, hingga akhirnya tertidur karena lelah.
---
Di kamarnya, Varo juga tiduran sambil menatap langit-langit. Hatinya gelisah.
“Apa aku bisa jadi suami yang baik nanti?” gumamnya, frustrasi.
Ia mengacak rambutnya, lalu membuka ponsel. Grup WhatsApp teman-temannya sudah ramai. Teman-temannya menyuruhnya datang disebut cafe yang tengah viral baru-baru ini. Setelah membalas pesan, Varo mengenakan jaket kulit dan berangkat.
---
Sepuluh menit kemudian, ia sampai di café. Andrean dan Kevin sudah menunggu.
“Akhirnya datang juga!” seru Andrean begitu Varo duduk.
Varo tidak merespons, membuat Andrean mendengus kesal.
“Oh iya Var, dua minggu lagi kita ada tanding basket sama sekolah sebelah. Gimana kalau besok kita mulai latihan?” usul Kevin.
“Ya, sampaikan saja ke anak-anak,” jawab Varo singkat.
Kevin mengangguk semangat. Tapi Andrean memperhatikan wajah sahabatnya itu.
“Kenapa sih lo, dari tadi bengong?” tanyanya.
“Aku dijodohkan,” jawab Varo lugas.
Kevin dan Andrean terdiam, lalu tertawa keras, mengira itu lelucon.
“Ah, jangan bercanda, Var,” kata Andrean.
“Aku serius,” jawab Varo dingin.
Mereka pun terdiam. Setelah itu, Varo menceritakan semuanya: mulai dari perjanjian orang tuanya hingga alasannya tidak bisa menolak.
“Ya, sebentar lagi aku akan menikah,” pungkasnya.
terima kasih yang udah mau mampir 🙏
jangan lupa like, komen dan vote ya☺️
Kevin mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang bingung. Setelah berpikir cukup lama, ia pun akhirnya berpendapat dengan nada lembut.
“Menurutku, coba jalani dulu, Var. Siapa tahu hubungan ini membawa kebahagiaan untukmu. Mungkin juga bisa bertahan lama sampai kalian menua bersama.”
Mendengar saran itu, Varo hanya terdiam, seolah merenungkan kemungkinan yang sebelumnya tak terpikir olehnya.
Andrean yang sejak tadi ikut mendengarkan, menimpali dengan candaan. “Iya, bener tuh kata Kevin. Jalanin aja dulu. Siapa tahu calonmu benar-benar cantik. Lumayan kan, bisa bikin hati adem setiap hari.”
Kevin langsung menoleh sambil menggeleng, pura-pura kesal. Meski sempat berdebat ringan, suasana itu justru membuat Varo merasa sedikit lebih tenang. Ada senyum tipis yang terukir di wajahnya. Ia bersyukur masih memiliki dua sahabat yang peduli dengannya.
Obrolan mereka berlanjut, hingga tak terasa waktu bergulir cepat. Kopi di gelas telah habis, dan malam semakin larut. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
---
Keesokan paginya, suasana di meja makan keluarga Varo begitu hening. Semua sedang sibuk menyantap sarapan masing-masing. Hingga akhirnya ibunya, Anggi, membuka suara.
“Varo, nanti pulang agak cepat ya. Kita akan makan malam bersama sahabat bunda, sekaligus kamu akan bertemu dengan calon yang sudah dipilih.”
Varo mengangguk singkat, meski hatinya sedikit gelisah. Setelah berpamitan, ia segera berangkat ke sekolah dengan motornya. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Setibanya di sana, ia memarkir kendaraan lalu menaiki tangga menuju kelas di lantai dua.
Di tengah perjalanan, Varo berpapasan dengan Vanka. Gadis itu segera membuang muka, seolah enggan bertemu dengannya. Dalam hati, Vanka mendengus kesal. Kenapa harus bertemu dia lagi? batinnya, sambil mempercepat langkah meninggalkan tempat itu.
---
Waktu istirahat tiba. Seperti biasa, Vanka bersama Hana dan Sherly menuju kantin sekolah. Suasana ramai, para siswa berbondong-bondong mencari tempat duduk.
“Aku yang pesenin makanan ya?” tawar Vanka tiba-tiba.
Hana dan Sherly spontan saling pandang dengan ekspresi terkejut. “Tumben banget kamu mau mesenin. Biasanya malas ngantri,” komentar Hana dengan nada heran.
Sherly ikut mengangguk setuju. Vanka hanya mendengus kecil lalu berkata, “Kalau nggak mau, ya sudah. Aku duduk lagi.” Ia bahkan sudah menarik kursinya hendak duduk kembali.
“Eh, jangan! Aku nasi goreng sama es jeruk!” sahut Sherly cepat, takut Vanka berubah pikiran.
Orang-orang di kantin sempat menoleh karena suara Sherly yang terlalu keras. Wajah Vanka sedikit memerah, tapi ia menahan diri. “Lain kali jangan teriak-teriak begitu, bikin malu,” ujarnya singkat.
Sherly hanya nyengir sambil mengangkat dua jarinya, “Hehe, refleks.”
Setelah mengangguk pada Hana yang memilih menu sederhana, Vanka pun pergi memesan. Sambil berlalu, ia bercanda, “Tenang aja, Vanka yang cantik dan baik hati ini siap ngantri!”
Sherly sampai meringis geli mendengarnya. Hana hanya tersenyum tipis, tetap fokus pada novel yang ia baca.
Di tengah obrolan santai mereka, Sherly tiba-tiba mengusulkan, “Eh, gimana kalau sore ini kita ke mall? Sudah lama banget kita nggak jalan bareng.”
Vanka menimbang sebentar sebelum menjawab, “Boleh aja, tapi jangan terlalu lama ya. Malam nanti aku ada acara.”
Hana pun akhirnya ikut menyetujui. Ia tak tega mengecewakan sahabat-sahabatnya.
---
Sepulang sekolah, mereka bertiga benar-benar pergi ke mall. Dengan penuh semangat, mereka mendorong troli dan mengambil berbagai barang, terutama yang sedang diskon. Waktu berjalan cepat, hingga troli mereka penuh dalam dua jam.
Setelah membayar, Vanka menelpon kakaknya, Satya, untuk menjemput. Hari ini ia memang tidak membawa motor karena sedang diservis di bengkel.
Sherly sempat khawatir, “Kamu nggak apa-apa kalau kita pulang duluan?”
Vanka tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa kok. Lagian abang sudah di jalan.”
Sherly akhirnya menurut, meski sempat ingin mengantarkan Vanka. Karena jarak rumah mereka jauh, Vanka menolak dengan tegas.
Tak lama kemudian, Satya datang. Begitu masuk ke mobil, Vanka langsung mengeluh manja karena merasa lama menunggu. Satya hanya tertawa, sambil beralasan bahwa jalanan macet.
Perjalanan mereka dipenuhi tawa dan candaan. Kedekatan keduanya memang erat, mengingat hanya mereka berdua yang menjadi anak di keluarga itu.
Sesampainya di rumah, Vanka segera merapikan barang belanjaannya. Saat itulah, Dina—ibunya—masuk ke kamar sambil membawa sebuah dress.
“Ini dipakai ya untuk acara nanti malam.”
Vanka mengernyit heran. “Kenapa harus pakai dress, Bun?”
“Supaya kamu terlihat lebih cantik, sayang,” jawab Dina tegas.
Vanka sempat bercanda bahwa ia tetap cantik meski memakai baju biasa. Dina hanya terkekeh lalu menegaskan bahwa anaknya harus memakai dress tersebut. Dengan sedikit helaan napas, Vanka akhirnya menuruti permintaan ibunya.
---
Malam harinya, Vanka tampil anggun dengan dress selutut berwarna lembut, dipadukan flat shoes senada. Riasan tipis membuat wajahnya kian manis. Dina langsung tersenyum puas melihat putrinya begitu menawan.
Mereka lalu berangkat bersama ayahnya, Danu, menuju restoran yang sudah dipesan. Vanka lebih banyak diam sepanjang perjalanan, hanya sesekali memainkan ponselnya.
Setibanya di sana, mereka masuk ke ruang privat. Vanka sempat menanyakan keberadaan kakaknya, tapi ibunya menjelaskan bahwa Satya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Tak lama, pasangan sahabat lama orang tuanya datang. Mereka membawa seorang anak kecil yang lucu, membuat suasana menjadi lebih hangat. Vanka pun menyapa dengan sopan dan mencium tangan mereka.
Namun, dari semua yang hadir, masih ada satu sosok yang belum terlihat. Hingga tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
“Maaf, saya terlambat.”
Semua menoleh ke arah sumber suara. Vanka sendiri tidak mengangkat pandangannya karena terlalu sibuk dengan ponselnya.
Usai menikmati hidangan, akhirnya Danu membuka pembicaraan serius. Ia menatap Vanka dengan penuh pertimbangan.
“Sayang, ada hal penting yang harus Ayah sampaikan. Kami ingin menjodohkan kamu dengan anak temen ayah.”Danu memberi isyarat dengan matanya, menunjuk ke arah Varo.
Vanka sontak terperanjat. “Apa? Perjodohan?” serunya tak percaya.
makasih udah mau mampir kesini 🙏☺️
jangan lupa like,coment dan vote ya☺️
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!