NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Konfrontasi Berujung Intim

Atmosfer di dalam ruang kerja pribadi itu mendadak terasa begitu pekat dan mencekam. Udara seolah berhenti bersirkulasi, menyisakan deru napas Rani yang memburu di ambang pintu. Sepasang mata indahnya menatap nanar pada map cokelat lusuh yang masih berada di cengkeraman tangan Riko. Ada kilat amarah, harga diri yang terluka, dan rasa panik yang bercampur menjadi satu di wajah cantiknya.

"Letakkan berkas itu, Riko!" suara Rani bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan badai emosi yang siap meledak. "Siapa yang memberi izin padamu untuk masuk ke ruangan ini dan menyentuh barang-barangku?! Keluar!"

Riko tidak langsung bergerak. Dia perlahan bangkit dari posisinya yang berlutut, dengan map cokelat yang masih tergenggam erat di tangannya. Sorot mata Riko tidak lagi memancarkan ketegasan sinis seperti biasanya. Kini, matanya meredup, digantikan oleh gumpalan rasa bersalah yang teramat pekat dan menyakitkan.

"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku, Rani?" suara Riko terdengar serak, nyaris berbisik namun terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi itu. "Tiga tahun... selama tiga tahun ini aku mengutukmu sebagai pengkhianat. Aku mendirikan perusahaan saingan hanya untuk menjatuhkanmu karena aku mengira kamu menjual cetak biru kita pada Pak Gunawan. Tapi kenapa... kenapa isi surat ini justru berbanding terbalik?"

Rani berjalan mendekat dengan langkah cepat, sepatu hak tingginya mengetuk lantai kayu dengan nyaring. Dia mengulurkan tangannya dengan kasar, mencoba merebut map cokelat itu dari tangan Riko. "Itu bukan urusanmu! Itu masa lalu yang sudah mati! Kembalikan berkas itu padaku!"

Namun, Riko dengan cepat menjauhkan map tersebut dari jangkauan Rani, menggunakan tinggi badannya untuk menghalangi wanita itu. "Jawab aku, Rani! Kenapa kamu diam saja saat aku mencacimu dulu? Kenapa kamu membiarkanku pergi dengan kesalahpahaman sialan ini?!"

Rani menghentikan usahanya untuk merebut berkas. Dia mundur satu langkah, menatap Riko dengan tawa getir yang terdengar sangat menyedihkan. Setitik air mata yang sejak tadi dia tahan perlahan lolos, bergulir melewati pipinya yang merona merah karena amarah.

"Untuk apa aku menjelaskannya padamu, Riko?!" teriak Rani, meluapkan seluruh rasa sakit hati yang selama tiga tahun ini dia kubur rapat-rapat di balik dinding esnya. "Waktu itu, aku mendatangi tokomu dengan membawa seluruh bukti ini. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu bahkan tidak sudi membukakan pintu untukku! Kamu berteriak di depan wajahku, menyebutku wanita ular yang tidak tahu malu, dan mengusirku seolah aku adalah sampah!"

Kata-kata Rani menghantam dada Riko seperti palu gada yang tak kasat mata. Kenangan malam kelam tiga tahun lalu terulang kembali di pelupuk matanya. Saat itu, dia memang telanjur buta oleh kemarahan dan ego mudanya yang tinggi.

"Saat pria yang paling kupercaya di dunia ini bahkan tidak mau mendengarkan satu patah kata pun penjelasanku, dan langsung mencapku sebagai pengkhianat... untuk apa lagi aku mengemis kepercayaan darimu, Riko?!" dada Rani naik turun seiring dengan tangisnya yang mulai pecah. "Hargai diriku terlalu tinggi untuk itu. Jadi, aku memilih diam. Aku membiarkanmu membenciku, karena dengan begitu, aku punya alasan untuk membencimu balik dan membangun Rani Group sendirian!"

Monolog batin Riko dipenuhi oleh rasa sesal yang teramat dalam hingga membuatnya sulit untuk bernapas. Dia menatap wanita di hadapannya yang kini tampak begitu rapuh, sangat jauh dari citra Alpha Woman yang biasanya dia tampilkan di ruang rapat bisnis. Segala keangkuhan Rani ternyata hanyalah topeng untuk melindungi luka menganga yang justru disebabkan oleh kebodohan Riko sendiri.

"Rani... aku... maafkan aku..." Riko melangkah maju, tangannya terulur secara impulsif, ingin menghapus air mata di pipi istrinya.

"Jangan sentuh aku!" bentak Rani, menepis tangan Riko dengan kasar. Dia kembali merangsek maju, berniat merampas map cokelat itu dari tangan Riko untuk mengakhiri konfrontasi yang menyiksa batinnya ini. "Kembalikan berkas itu! Jangan mencampuri urusanku lagi!"

Rani menarik ujung map tersebut dengan sekuat tenaga. Riko yang tidak ingin berkas itu robek mencoba menahannya sembari memundurkan langkahnya menuju arah sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Terjadilah aksi saling tarik-menarik yang emosional di antara dua orang yang sama-sama terluka oleh masa lalu itu.

Namun sial, hak sepatu Rani mendadak tersangkut di ujung karpet bulu yang tebal. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan.

"Ah!" Rani menjerit kecil saat tubuhnya limbung ke depan.

Melihat Rani yang akan terjatuh, insting pelindung Riko langsung bekerja. Dia melepaskan map cokelat itu begitu saja, mengulurkan kedua tangan kekarnya untuk menangkap pinggang Rani. Namun, karena momentum dorongan tubuh Rani yang cukup kuat, Riko ikut kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terhempas ke belakang, jatuh telentang di atas sofa kulit yang empuk.

Bruk!

Detik berikutnya, keheningan total kembali merayapi ruangan.

Rani jatuh tepat di atas tubuh Riko, dengan kedua telapak tangannya bertumpu di dada bidang pria itu. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat—hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter saja hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Riko bisa merasakan dengan sangat jelas embusan napas Rani yang hangat dan tidak beraturan menerpa permukaan kulit wajahnya.

Aroma parfum cendana bercampur wangi feminin yang manis dari tubuh Rani seketika menyerbu dan mengunci seluruh indra penciuman Riko. Sepasang mata mereka beradu; mata elang Riko yang sarat akan penyesalan menatap lekat ke dalam sepasang mata indah Rani yang masih basah oleh sisa air mata.

Jantung Riko mendadak berdegup dengan intensitas yang sangat gila, berdentum keras di balik dadanya hingga dia khawatir Rani bisa mendengarnya. Posisi ini teramat sangat intim, melebihi batasan ketat yang tertulis di dalam lembaran kontrak pernikahan mereka.

Rani pun terpaku. Sentuhan tangan Riko yang masih melingkar protektif di pinggang rampingnya terasa begitu hangat, kokoh, dan mendadak mengirimkan sengatan listrik yang aneh ke sekujur tubuhnya. Amarah yang tadi membakar di dadanya entah mengapa mendadak padam, berganti menjadi ketegangan jenis lain yang membuat tenggorokannya terasa kering.

Untuk beberapa belas detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak atau mengalihkan pandangan. Di atas sofa itu, di antara deru napas yang saling berkejaran, dinding pembatas ego yang selama tiga tahun ini mereka bangun dengan kokoh perlahan-lahan mulai retak, menyisakan ketegangan baru yang siap mengubah haluan hubungan kontrak mereka ke arah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!