NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat

"Seru ya tadi ngobrol sama teman teman aku?" tanya Kevin sambil menyetir.

"Iya lagi. Mereka tu seru banget. Aku gak nyangka bisa nyambung sama jokes mereka. Mereka asyik loh ternyata."

"Kalau aku gimana?"

Jeni terdiam sebentar sambil menatap wajah kekasihnya yang sedang fokus menatap jalanan. Cubitan lembut mendarat di pipi Kevin yang membuatnya kaget. "Sayang!"

"Kamu yang paling menggemaskan, paling ganteng, paling semuanya deh dan yang terpenting yang paling aku sayang sedunia..." puji Jeni.

"Tapi tadi kamu keasyikan ngobrol sama mereka. Sampai sampai aku di cuekin!"

Jeni tersenyum gemas. "Cemburu ya!"

"Iya lah cemburu. Aku takut kamu malah kepincut salah satu dari mereka."

"Gak akan! Lagian kamu tu crush aku dari aku masih bocil. Aku udah berusaha buat lupain kamu dengan berbagai cara, tapi tetap balik ke kamu juga kan. Gak akan semudah itu mengganti kamu di hati aku." ucap Jeni sambil merebahkan kembali kepalanya di bahu Kevin.

"Aku juga, gak akan semudah itu melepaskan kamu, sayang. Tapi jangan terlalu ramah sama cowok lain!"

"Iya. Aku cuma ramah sama teman-teman kamu kok."

"Aku serius loh sayang. Jangan sampai punya niat mau suka sama salah satu dari mereka. Apa lagi Sean sama Rio. Mereka itu pemain." lanjut Kevin berceloteh yang membuat Jeni sedikit kaget dengan volume suara yang meninggi.

"Serius?!"

"Hmm, sejauh ini sejak aku kenal mereka. Aku belum pernah melihat mereka serius sama cewek manapun."

"Yah... gagal deh misi aku." mengerucutkan bibirnya.

"Misi apa yang gagal?!"

"Gak, tadinya mau ngenalin mereka sama Sabahat-sahabat aku."

"Gak usah sayang. Jangan kenalin mereka sama teman-teman kamu, bahaya. Apa lagi Rio, dia pemain handal, bukan red flag lagi tadi blak flag."

"Kelihatan sih dari cara dia godain aku tadi."

"Nah itu dia, makanya jangan dekat dekat sama dia!." ucap Kevin tegas.

"Iya, iya. Lagian tadi kan kamu juga tau kalau Rio cuma bercandaan aja."

"Aku tau tadi Rio cuma bercanda, tapi jangan keseringan."

"Gak akan, sayang."

"Janji?" Kevin mengulurkan jari kelingkingnya yang tanpa ragu langsung di sambut oleh Jeni.

"Janji."

"I love you, sayang."

"Love you more, sayang."

Jeni merebahkan kepalanya di pundak Kevin dengan nyaman. "Terus, kak Sean?! Pasti gak gitu kan. Soalnya dia terlihat tenang dan seperti cowok yang anti cewek gitu."

Kevin menggeleng kuat. "Sean sama aja sama Rio. Bedanya, tipe cewek yang Sean suka tu yang fashionable, pintar dan spek model internasional."

"Hah! Serius!"

"Serius, sayang."

"Apa mereka gak pernah benar benar jatuh cinta gitu?" Kevin langsung menggeleng cepat.

"Bagi Rio cinta itu hanya bikin hidup jadi ribet."

"Kalau kak Sean?"

"Sean... gak tau juga sih. Mungkin belum nemu yang pas aja."

"Padahal kak Sean tu terlihat karismatik, seperti pria matang yang setia." gumam Jeni yang membuat Kevin menginjak rem mendadak.

"Aduh!" tubuh Jeni tersungkur ke depan cukup kuat, andai Kevin tidak menahan kening Jeni dengan telapak tangannya, kening itu sudah di pastikan terbentur bagian depan mobil.

"Kenapa sih sayang, kok ngerem mendadak?!" celoteh Jeni kesal.

Kevin tidak menjawab, ia hanya kembali melanjutkan perjalanan.

"Lain kali jangan muji pria lain di depan aku. Aku cemburu."

Jeni tersenyum simpul, salah tingkah mendengar pengakuan Kevin barusan. "Maaf sayang. Aku cuma asal bicara kok, beneran!" bujuk Jeni menatap Kevin dengan ekspresi imutnya.

"Ya udah, aku juga minta maaf. Tapi kamu gak apa-apa kan?" memeriksa wajah dan kening Jeni.

"Aku gak apa-apa kok, sayang."

Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.

"Sebenarnya Sean sama Bastian seumuran, mereka kakak tingkat aku sama Rio waktu kuliah dulu. Jadi ya wajar aja Sean terlihat lebih matang dan berkarisma seperti yang kamu bilang."

Jeni menganggukkan kepala pelan. "Oh gitu."

"Hmm, seperti itu. Kalau sayang mau kenalin salah satu teman sayang, saran aku sih kenalin sama Bastian aja."

"Kenapa kak Bastian?" Jeni penasaran.

Kevin melirik Jeni sebelum meraih tangan kekasihnya itu untuk kemudian ia genggam.

"Karena Bastian yang paling good boy. Dia belum pernah pacaran sama sekali."

"Demi apa?! serius!"

"Iya."

"Kok bisa? Good looking gitu loh kak Bastian, dokter pula."

"Ya gitu deh. Katanya dulu Bastian gak good looking seperti sekarang. Dulu katanya dia cupu dan kutu buku gitu."

Jeni mengangguk paham. "Boleh juga lah aku kenalin sama siapa ya...." mencoba memikirkan siapakah yang cocok untuk dia kenalkan pada Bastian.

"Sekarang kamu dong, gantian ceritain tentang besti-besti kamu itu." ucap Kevin membuyarkan lamunan Jeni.

"Hmm.... Giliran aku ya?"

"Hmm."

"Persahabatan kita sih biasa aja. Kalau di pikir-pikir, sepertinya semua berawal dari Nadia."

"Nadia yang teman satu jurusan kamu itu ya?"

"Iya. Yang kerja di kafe waktu itu."

Kevin mengangguk setelah mengingat lagi wajah Nadia yang dimaksud pacarnya.

"Nadia ketemu aku di hari pertama kuliah. Aku langsung merasa dia itu orangnya tulus, makanya aku ajak aja dia jadi temen aku. Terus Nadia ngenalin aku ke teman satu rumahnya, Laura. Terus Laura juga ngenalin kita ke teman satu jurusannya, Yuri. Udah gitu aja."

Jeni bercerita dengan pelan, tidak menggebu seperti saat mendengar cerita tentang teman pacarnya. Kevin mengangguk-angguk saja mendengar cerita kekasihnya.

"Eh tapi, Nadia itu pendiam, tertutup banget gitu orangnya." Lanjut Jeni yang masih ingin menceritakan tentang Nadia.

"Tertutup gimana tu?"

"Em... gini, kalau aku, Yuri sama Laura kan saling curhat gitu. Misalnya tentang gebetan, mantan atau tentang gimana kita dengan keluarga kita. Intinya gak ada rahasia lah. Tapi, Nadia itu beda. Kita gak tau apa-apa tentang dia. Kayaknya Nadia tu mendem banyak hal gitu."

"Kalian pernah nanya sama dia? Siapa tau dia tipe yang gak akan cerita kalau gak ditanya."

"Iya juga sih, kita gak pernah nanya. Lebih tepatnya gak enak mau nanya. Nadia kan agak baper, jadi kita takut salah tanya dan malah memperkeruh keadaan."

"Kalian pernah merasa risih atau sebel gak dengan Nadia yang seperti itu, yang mudah baper dan gak banyak cerita?"

"Dulu awal-awal sempat risih dan sebel juga sih, kalau sekarang udah gak. Tapi, sebenarnya Kita sudah sepakat untuk nunggu Nadia siap cerita dan kita tu pelan-pelan mencoba membuat Nadia percaya sama kita. Gitu aja sih saat ini."

"Bagus loh itu. Persahabatan kalian luar biasa loh, sayang. Kalian bisa memahami satu sama lain, itu hebat. Jadi gak sabar mau kenal sama teman teman kamu."

"Ya, ya, senang banget kayaknya mau dikenalin sama cewek cewek." sindir Jeni pura pura cemburu.

"Bukan gitu sayang. Aku cuma ingin kenal aja sama teman teman kamu."

"Iya tau kok. Aku cuma bercanda...."

"Ih, kamu ya..." Kevin mencubit lembut puncak hidung Jeni.

"Sakit tau. Ih sebel!" rengeknya pura-pura kesal yang membuat Kevin makin gemas dengan mencubit lagi hidung dan pipi kekasihnya berkali kali.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!