Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas yang Terbakar
Dinding beton bunker di pinggiran distrik Rust terasa memancarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Bau tajam dari cairan kimia pembersih sirkuit menyatu dengan aroma apak dari pipa air yang bocor di sudut ruangan. Asha Valeska duduk membeku di atas kursi logam, menatap lurus ke arah deretan layar monitor yang memancarkan cahaya biru pucat ke wajahnya yang kuyu. Di hadapannya, seorang pria kurus dengan jari-jari penuh noda oli sedang menggerakkan kursor dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Hanya sekali tekan, dan tidak akan ada lagi jejak wanita bernama Asha Valeska di server pusat Neovault," gumam pria itu dengan nada suara yang rendah.
Asha menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya yang masih dibalut perban. "Itu tujuanku datang ke sini. Hancurkan semuanya tanpa sisa."
"Kau sadar konsekuensinya? Kau tidak akan bisa mengklaim apa pun dari masa lalumu lagi," teknisi pasar gelap itu memastikan sekali lagi.
Asha menatap barisan data medisnya yang terpampang di layar. "Masa lalu itu hanya berisi sampah dan penghinaan. Aku tidak butuh itu."
Jari pria itu menghantam tombol enter dengan keras. Seketika, barisan kode hijau mulai melahap profil digital Asha. Di dalam sistem kesehatan nasional, catatan medis yang memuat riwayat pengobatan, golongan darah, hingga laporan rahimnya perlahan berkedip lalu menghilang. Folder yang dulu berisi identitas istri sang CEO kini hanya menyisakan pemberitahuan error yang dingin.
"Rekam medismu sudah bersih. Sekarang, bagian yang paling menyakitkan," teknisi itu menarik sebuah perangkat laser berukuran kecil dari laci meja.
Asha mengulurkan tangannya yang gemetar ke atas bantalan karet. "Lakukan saja secepat mungkin."
"Bolehkah saya ... bersiap sejenak?" Asha memejamkan mata rapat-rapat.
Begitu sinar laser biru itu menyentuh ujung jemarinya, rasa panas yang luar biasa menyengat seluruh saraf tangannya. Sinar itu menguapkan lapisan epidermis, mengacak pola garis sidik jari yang selama ini menjadi kunci akses biometriknya ke seluruh aset Arlan. Asha menggigit bibir bawahnya hingga rasa anyir darah memenuhi mulut, namun ia menolak untuk menjerit. Ia membiarkan rasa sakit fisik itu membakar habis sisa-sisa kelemahannya.
"Satu tangan selesai. Kau punya ketahanan yang luar biasa, Nyonya," puji teknisi itu tanpa ekspresi.
"Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya," sahut Asha dengan napas yang memburu.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, ujung jemari Asha kini tampak melepuh tipis dan kehilangan pola aslinya. Ia kini benar-benar menjadi anomali dalam sistem keamanan mana pun. Tidak ada satu pun sensor di Menara Neovault yang akan mengenalinya sebagai istri sang pemilik perusahaan. Identitas biometriknya telah musnah, menyisakan manusia tanpa tanda pengenal yang siap bergerak di bawah radar.
"Sidik jari sudah tidak terbaca. Sekarang, akses kepolisian," pria itu kembali sibuk dengan papan tiknya.
Asha mengawasi monitor yang kini menampilkan basis data sipil. "Apa yang kau ubah di sana?"
"Statusmu. Aku memasukkan laporan bahwa tubuhmu telah hancur oleh turbin pembuangan di dasar sungai. Kasus ditutup dengan pernyataan meninggal dunia secara hukum," teknisi itu menjelaskan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit.
Asha menatap kata meninggal dunia yang tertera di samping namanya di layar monitor. Sebuah senyum pahit tersungging di sudut bibirnya yang pecah. Ia membayangkan Arlan sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menerima notifikasi resmi bahwa istrinya telah dinyatakan tiada. Pria itu pasti merasa sangat lega karena duri di dalam dagingnya telah menghilang selamanya.
"Arlan akan merasa menang hari ini. Biarkan dia merayakannya dengan wanita itu," ujar Asha dingin.
"Sekarang kau tidak punya nama, tidak punya masa lalu. Kau bebas, atau kau terkutuk. Tergantung bagaimana kau melihatnya," teknisi itu mematikan monitor utama.
Asha berdiri, merasakan tubuhnya masih sedikit oleng namun jiwanya terasa jauh lebih ringan. "Aku melihatnya sebagai awal dari sebuah kehancuran. Kehancuran bagi siapa pun yang sudah menginjakku."
Pria itu menyerahkan sebuah keping memori kecil berwarna hitam ke tangan Asha. "Identitas barumu ada di sana. Aku sudah menyiapkan dokumen kewarganegaraan luar kota dan paspor palsu yang terenkripsi dengan sangat rapi. Tidak akan ada yang curiga."
Asha menerima keping itu dan memasukkannya ke dalam saku mantel kumalnya. "Terima kasih. Pastikan semua log di server ini dihapus setelah aku pergi."
"Jangan ajari aku melakukan pekerjaanku, Nyonya. Pergilah sebelum fajar menyingsing," sahut pria itu sambil mulai membereskan peralatannya.
Asha melangkah keluar dari bunker, menyusuri lorong beton yang lembap dan berbau lumut. Di ujung lorong, ia menaiki tangga besi yang berkarat menuju permukaan. Begitu pintu terbuka, udara dingin distrik Rust langsung menyergap kulitnya. Hujan gerimis yang bercampur jelaga pabrik turun membasahi bumi, menyamarkan keberadaan sosok wanita yang baru saja menghapus eksistensinya dari peradaban.
Ia berjalan menuju dermaga tua yang sudah tidak terpakai lagi. Di sana, aliran sungai The Rust mengalir deras, membawa sampah-sampah industri menuju laut. Asha berdiri di tepian dermaga, menatap air hitam yang dulu hampir merenggut nyawanya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kalung emas kecil, pemberian Arlan di awal pernikahan mereka.
"Aku sudah menyerah ...." Asha melemparkan benda berkilau itu ke tengah sungai.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia membiarkan logam berharga itu tenggelam tanpa suara, tertelan oleh arus yang ganas. Dengan itu, ikatan terakhirnya dengan Arlan Valeska telah resmi terputus. Asha Valeska telah benar-benar mati di dasar sungai The Rust malam itu, meninggalkan raga yang kini hanya digerakkan oleh satu tujuan tunggal.
Asha berbalik dan berjalan menjauhi sungai, menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di balik tumpukan kontainer tua. Sopir yang dikirim oleh musuh bisnis Arlan sudah menunggunya dengan setia.
"Semua sudah beres, Nyonya?" tanya sopir itu sambil membukakan pintu.
Asha masuk ke dalam mobil, merasakan kenyamanan kulit jok yang kontras dengan kekasaran bangku di bunker tadi. "Semuanya sudah terbakar. Tidak ada lagi jalan kembali."
Mobil itu meluncur membelah kegelapan distrik Rust, membawa Asha menuju tempat persembunyian rahasia di pinggiran kota. Di dalam kabin yang sunyi, Asha menatap jemarinya yang masih berdenyut perih. Ia tahu bahwa proses penghapusan identitas ini hanyalah permulaan. Ia harus membangun sosok baru, seorang predator yang akan merayap masuk ke dalam hidup Arlan dan menghancurkannya dari dalam.
"Arlan pasti sedang bermimpi indah di atas tempat tidur mewahnya," batin Asha dengan geram.
Ia menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang basah oleh air hujan. Bayangan wajah Arlan yang sedang memeluk Elena melintas di benaknya, namun kali ini tidak ada lagi rasa sakit hati yang ia rasakan. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin tentang bagaimana cara membuat pria itu berlutut di tanah yang sama kotornya dengan distrik ini. Ia akan membalas setiap tetes darah yang tumpah di tangga marmer itu dengan kehancuran total.
"Nikmati kemenanganmu selagi bisa, Arlan. Karena hantu yang kau ciptakan ini akan segera datang untuk menagih hutang," ucap Asha lirih.
Ia mengambil tablet digital yang disediakan di kursi belakang mobil. Ia mulai mencari berita terbaru tentang pergerakan saham Neovault. Arlan Valeska baru saja mengumumkan ekspansi baru, yang berarti pria itu sedang dalam posisi yang sangat percaya diri. Semakin tinggi Arlan mendaki, semakin keras ia akan jatuh nantinya. Asha akan memastikan bahwa jatuhnya Arlan tidak akan menyisakan satu tulang pun yang utuh.
"Kau pikir kau bisa menguburku hidup-hidup? Kau hanya menanam sebuah benih yang akan tumbuh menjadi tanaman berduri untukmu sendiri," pikirnya sambil mematikan layar tablet.
Mobil terus melaju, meninggalkan kawasan industri yang kumuh menuju sebuah gedung apartemen tua yang tidak mencolok di pinggiran kota. Di sanalah Asha akan menghabiskan waktu beberapa minggu ke depan untuk bertransformasi. Tidak akan ada lagi Asha yang lemah, yang hanya bisa menangis saat suaminya berselingkuh. Identitas yang terbakar di bunker tadi telah melahirkan sosok yang jauh lebih berbahaya.
Tatapannya menajam. "Dia itu, cantik ...." Asha menyentuh pantulan wajah Elena di layar tablet dengan jemari yang terbalut perban.
Ia menyentuh bekas luka bakar di bahunya yang tersembunyi di balik mantel. Luka itu masih terasa perih, namun rasa perih itu justru menjadi bahan bakar yang menjaga api dendam di hatinya tetap menyala. Di bawah guyuran hujan Neovault yang tidak pernah berhenti, sang predator mulai mengasah taringnya. Asha Valeska sudah tiada, dan dunia harus bersiap menyambut kelahiran sosok yang hanya dikenal sebagai V.
Malam itu, di sebuah kamar apartemen yang dingin, V duduk di depan meja kerja yang dipenuhi dokumen. Ia mulai menuliskan nama-nama rekan bisnis Arlan yang paling berpotensi untuk dikhianati. Ia tidak akan menyerang secara fisik dengan belati, melainkan dengan angka-angka di layar bursa yang akan mencekik leher Arlan hingga pria itu kehabisan napas. Keadilan akan segera ditegakkan, dan ia tidak akan berhenti sampai Arlan merasakan dinginnya dasar sungai The Rust secara nyata.