Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Sore itu… terasa lebih sunyi dari biasanya.
Angin berhenti.
Daun-daun tidak bergerak.
Seolah dunia menunggu izin untuk mendengar.
“Namamu… Grachius.”
Purus memulai.
“Namun itu bukan seluruh dirimu.”
Grachius tidak bergerak.
Tidak menyela.
“Kau bukan manusia biasa.”
“…aku tahu itu.”
“Namun kau juga bukan sepenuhnya dewa.”
Sunyi.
Grachius menelan pelan.
“Ayahmu…”
Purus berhenti sejenak.
“…adalah Dewa Matahari.”
Detik itu terasa panjang.
Lebih panjang dari seharusnya.
“…siapa?”
“Sonne.”
Nama itu jatuh… seperti sesuatu yang berat.
Grachius tidak bereaksi.
Belum.
“Ibumu,” lanjut Purus, “adalah manusia.”
“…namanya?”
“Rosalia.”
Sunyi.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Grachius menunduk.
Rambutnya menutupi wajahnya.
Tidak ada yang bisa melihat ekspresinya.
Purus melanjutkan.
“Lima belas tahun lalu…”
“Vita datang padaku.”
Ia tidak menjelaskan detailnya.
Tidak semuanya.
Tidak sekarang.
“Dia membawamu.”
“Dan memintaku untuk melindungimu.”
Grachius tetap diam.
Tidak bergerak.
Namun…
udara mulai berubah.
“…kenapa?”
Suaranya pelan.
Namun bukan lemah.
Purus menatapnya.
Beberapa detik.
“…karena ayahmu dijatuhkan.”
“…dibunuh.”
Detik itu—
sesuatu retak.
Grachius tidak mengangkat kepalanya.
Namun jari-jarinya mengepal.
Pelan.
Lalu semakin kuat.
“…dan ibuku?”
Sunyi.
Purus tidak menjawab langsung.
Namun…
itu sudah cukup.
“……”
Tidak ada suara.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Namun—
tanah di bawah kaki Grachius… bergetar.
BOOM.
Ledakan energi tiba-tiba meledak dari tubuhnya.
Angin menyapu segala arah.
Debu terangkat.
Daun-daun beterbangan liar.
Purus langsung menguatkan pijakannya.
Matanya menyipit.
“Grachius—”
Namun—
tidak ada jawaban.
Energi itu terus meningkat.
Tidak stabil.
Tidak terkendali.
Grachius masih menunduk.
Namun tubuhnya bergetar.
Bukan karena lemah.
Tapi karena sesuatu yang terlalu besar… mencoba keluar.
“Tenangkan dirimu.”
Suara Purus tegas.
“Fokus pada napas. Kendalikan energi dalam—”
Tidak mempan.
Tekanan meningkat.
Udara menjadi berat.
Sulit untuk bernapas.
Dan kemudian—
FWOOSH.
Api merah muncul.
Membakar udara di sekitar Grachius.
Bukan api biasa.
Api itu hidup.
Bergolak.
Dipenuhi emosi.
Purus mencoba melangkah maju—
namun berhenti.
Panasnya… tidak normal.
“Grachius!”
Tidak ada jawaban.
Api itu semakin membesar.
Semakin liar.
Semakin dalam.
Dan kemudian—
warna itu berubah.
Merah…
menjadi gelap.
Hitam.
Api hitam menyelimuti tubuh Grachius.
Seperti bayangan yang terbakar.
Seperti cahaya yang mati.
Udara bergetar hebat.
Tanah retak lebih dalam.
Pohon-pohon di sekitar mulai hangus di ujungnya.
Purus menyipitkan mata.
Ini bukan sekadar kehilangan kendali.
Ini…
sesuatu yang lain.
“……”
Grachius perlahan mengangkat kepalanya.
Namun—
matanya tidak seperti sebelumnya.
Tidak ada ketenangan.
Tidak ada kejernihan.
Hanya… kegelapan.
Napasnya berat.
Tidak teratur.
Tubuhnya dipenuhi aura yang asing.
Bukan dewa.
Bukan manusia.
Sesuatu di antaranya…
dan sesuatu yang lebih buruk.
“Grachius.”
Purus memanggilnya lagi.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
Tidak ada respon.
Api hitam itu semakin membesar.
Tekanannya semakin tinggi.
Purus mencoba melangkah lagi—
dan kali ini—
ia berhenti lebih cepat.
Kulitnya terasa terbakar hanya karena mendekat.
“…terlalu panas.”
Untuk pertama kalinya—
ia tidak bisa mendekat.
Beberapa detik berlalu.
Namun terasa seperti lama.
Lalu—
tanpa peringatan—
api itu bergetar hebat.
CRACK.
Seperti sesuatu yang patah.
Energi yang liar itu… runtuh.
Api hitam menghilang seketika.
Tekanan lenyap.
Udara kembali normal.
Dan di tengah semua itu—
Grachius berdiri diam.
Beberapa detik.
Lalu—
tubuhnya goyah.
Dan jatuh.
Purus langsung bergerak.
Kali ini… tidak ada yang menghalangi.
Ia menangkap tubuh Grachius sebelum menyentuh tanah.
Sunyi.
Napas Grachius lemah.
Namun masih ada.
Purus menatapnya.
Dalam.
Tanpa ekspresi.
Namun matanya…
sedikit berubah.
“…jadi itu.”
Gumaman pelan.
Angin kembali berhembus.
Namun tidak membawa ketenangan.
Karena sesuatu telah terbangun.
Sesuatu yang tidak diajarkan.
Tidak dilatih.
Tidak seharusnya muncul.
Dan untuk pertama kalinya—
bahkan Purus…
mulai menyadari—
bahwa jalan Grachius…
mungkin tidak bisa lagi dikendalikan.