Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
007~ Pergi ke Klub Malam
Usai berbelanja, mereka berhenti di food court, Wei Zhu Chen memesan es kopi sedangkan Lin Xia Mei memesan es teh lemon.
"Lumayan, aku berkeringat." ujar Lin Xia Mei sambil meneguk minumannya.
"Apakah kau suka?"
Lin Xia Mei menyunggingkan bibir namun dengan segera ia mengurungkannya, hampir saja ia kelepasan. Lin Xia Mei menatap Wei Zhu Chen dengan datar.
"Tentu, aku wanita normal." jawabnya dengan santai namun tetap berwibawa.
"Kalau begitu, aku akan lebih bekerja keras. Kelak, kau bisa berbelanja minimal 100 juta yuan." kata Wei Zhu Chen dengan penuh semangat.
"Bao." panggil Lin Xia Mei dengan suara hatinya.
"Bao disini, inang."
"Apa-apaan laki-laki di depanku ini? Apakah tingkat rasa sukanya sudah menurun?"
"Gawat, inang. Bukannya menurun, angkanya terus bertambah naik."
Mata Lin Xia Mei membulat.
"Inang, caramu sepertinya salah. Mungkin ini efek terlalu lama melajang, jadi kurang memahami laki-laki."
"Bao! Bisa-bisanya kau mengejekku!"
Bao tertawa.
"Bao, sepertinya kau juga harus belajar. Lain kali harus lebih cepat tanggap. Jadi, ketika aku ada ide maka kau bisa menilai apakah itu ide yang bagus atau tidak."
Bao memicingkan mata.
"Inang, bukankah tadi pagi Bao sudah memberi tips? Idemu bisa digunakan asalkan kau menambahkan unsur yang bersifat negatif."
Lin Xia Mei mencoba mengingat kembali, benar saja tadi pagi sebelum berangkat, Bao sudah menyarankan hal ini. Namun ia lupa.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Lin Xia Mei.
"Masih ada waktu sebelum berangkat. Lakukan saja hal yang berbau negatif."
"Lin Xia Mei?"
Suara Wei Zhu Chen yang memanggilnya membuat Lin Xia Mei sedikit terkejut.
"Eh,"
"Kenapa diam saja? Dan ekspresimu sedari tadi seolah berbicara dengan orang saja."
"Bukan urusanmu." balas Lin Xia Mei ketus.
Wei Zhu Chen menghela napas pelan.
"Padahal tadi aku sudah melihat istriku hampir tersenyum." batin Wei Zhu Chen.
"Wei Zhu Chen." panggil Lin Xia Mei, Wei Zhu Chen tersenyum.
"Ya, sayangku?" sahutnya.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat. Kau hanya boleh mengantarku sampai di luar."
"Di luar sudah mulai gelap. Kau tidak lelah?"
"Kalau tidak mau, aku bisa pergi dengan grab car."
Wei Zhu Chen buru-buru memohon, ia akan menuruti kemauan istrinya kali ini.
"Kau sudah mengurung raga ini di rumah mewahmu selama bertahun-tahun. Ini adalah awal dari kebebasanku, Wei Zhu Chen." batin Lin Xia Mei.
"Bao, apakah ada semacam obat agar aku tidak mabuk?" tanya Lin Xia Mei.
"Inang, fitur toko baru terbuka setelah tingkat rasa suka tokoh utama pria mencapai angka 70%, sekarang masih tinggi, masih 96%. Bao belum bisa mengirim obat seperti itu."
Lin Xia Mei berdiri diikuti Wei Zhu Chen yang berjalan di sisinya.
"Wei Zhu Chen tidak suka wanita kasar apalagi pemabuk, muehehehe ini adalah tiket emas." batin Lin Xia Mei.
"Maaf Lin Xia Mei, aku akan sedikit merusak tubuhmu. Sekali ini saja," lanjutnya.
Di mobil, Wei Zhu Chen tersenyum senang, terlihat ia sedang berbahagia.
"Apakah kau mulai gila?" tanya Lin Xia Mei sembari memasang sabuk pengaman.
"Tidak. Aku hanya sedang bahagia. Akhir-akhir ini istriku terlihat berbeda bahkan menolak uang dariku, tapi hari ini kau mengajakku berbelanja bersama dan menggunakan uangku sepenuhnya." jawabnya dengan santai.
Lin Xia Mei menganga, namun ia tidak mau terlena.
"Cih, hari ini memanjakanku. Kalau sudah 100% kau terlewat posesif dan menghabisiku dengan tujuan aku hanya di sisimu. Siapa juga yang mau?" batin Lin Xia Mei.
"Kita kemana?" tanya Wei Zhu Chen.
"Ikuti saja arahanku setelah ini."
Sesampainya di lokasi...
Wei Zhu Chen terperangah melihat bangunan di depannya.
"Kau tunggu saja di sini, aku mau bersenang-senang dulu." kata Lin Xia Mei sambil membuka pintu mobil.
"Lin Xia Mei, jangan keterlaluan!" Wei Zhu Chen ikut keluar dari mobil.
"Untuk apa masuk ke Clubbing?" tanya Wei Zhu Chen yang mulai terpancing emosinya.
"Hei, kau mengurungku di rumah selama bertahun-tahun. Kau pikir aku tidak jenuh?! Inilah diriku yang sebenarnya."
Wei Zhu Chen mencekal pergelangan tangan Lin Xia Mei namun Lin Xia Mei langsung menepisnya dengan keras.
"Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, Wei Zhu Chen. Jangan paksa aku menjadi orang lain."
"Lin Xia Mei yang ku kenal tidak pernah melakukan hal ini. Jujurlah padaku, kau sedang merencanakan apa?!" tanya Wei Zhu Chen yang setengah melotot.
Lin Xia Mei maju selangkah, berdiri memunggungi gedung dibelakangnya.
"Aku hanya pura-pura baik saja untuk mendapatkan hatimu. Inilah aku yang sebenarnya."
Wei Zhu Chen menggeleng, ia mencoba mencegah Lin Xia Mei namun Lin Xia Mei langsung memukul Wei Zhu Chen dengan tasnya.
"Lin Xia Mei!!!"
"APAAA?!!" Lin Xia Mei membalas dengan suara yang lebih lantang.
Mereka berdua terdiam dengan sepasang mata yang beradu pandang. Bagai disambar petir di siang bolong, Wei Zhu Chen terkejut bukan main saat istrinya berani meninggikan suara kepadanya bahkan lebih tinggi dari Wei Zhu Chen sendiri.
Lin Xia Mei mengatur napas, ia berbalik kemudian melenggang ke arah pintu masuk. Lin Xia Mei tersenyum senang.
"Bao,"
Bao muncul dan duduk di bahu Lin Xia Mei.
"Bagaimana?"
"Inang, kau hebat. Tingkat rasa sukanya menurun. Sekarang sudah 85%. Tokoh utama Pria memang tidak suka wanita kasar." ujar Bao.
"Hihi, akhirnya."
"Inang, apakah kau benar-benar akan berpesta minuman keras?" tanya Bao.
"Lihat situasi nanti, Bao. Kalau Wei Zhu Chen menguntit, aku terpaksa meneguk minuman itu. Jika tidak, aku akan memesan minuman yang aman saja."
Setelah sampai di dalam ruangan, mata Lin Xia Mei membulat. Bahkan di dunia nyata pun ia tidak pernah berani menginjakkan kaki ke tempat semacam ini.
Ia melihat banyak orang yang sibuk dengan minumannya, tidak ada meja yang benar-benar kosong.
"Bao, kalau mau pesan minum bagaimana ya?"
Bao memasang ekspresi bosan.
"Bao pikir inang kesini karena sudah tahu caranya."
"Bahkan di duniaku, aku tidak tahu suasana klub malam seperti apa." ujar Lin Xia Mei.
"Aku coba langsung ke bar-nya saja."
"Inang, di ruangan ini tidak terdeteksi kemunculan tokoh utama pria, kau tidak perlu memesan minuman beralkohol."
"Bao memang baik." puji Lin Xia Mei.
Kaki Lin Xia Mei mulai bergetar, ia menyapu ruangan dengan pandangannya, suasana asing begitu terasa. Dengan langkah ragu ia berjalan ke arah Bar.
Lin Xia Mei menggigit bibirnya, ia gugup ketika berdiri di depan bartender yang sedang menyerahkan minuman pesanan.
"Silahkan duduk, Nona." ujar seorang pria yang sedang meneguk minuman di meja bar.
Sesekali Lin Xia Mei menekuk jari telunjuknya kemudian menempelkannya di hidung untuk menghalangi aroma alkohol yang sangat kuat dan tercium jelas.
Melihat Lin Xia Mei yang seperti kebingungan, pria itu menepuk kursi kosong disebelahnya.
"Sepertinya ini adalah pengalaman pertama Nona, ya?" tanya Bartender yang ikut menyadari kegugupan Lin Xia Mei.
"Iya," jawab Lin Xia Mei singkat.
"Silahkan Nona duduk di kursi itu jika ingin minum di meja sini. Jika tidak, bisa mencari meja lain dan kami akan mengantar pesanan anda."
"Inang, apakah kepalamu terasa pusing? Kau tidak terbiasa dengan aroma kuat ini. Sebaiknya jangan duduk di sini." kata Bao.
"Bao, lihatlah. Semua meja penuh orang mabuk. Kau ingin aku duduk di lantai?"
Bao tertawa pelan.
Lin Xia Mei membuang napas pelan, akhirnya ia duduk di kursi kosong tersebut. Pria di samping Lin Xia Mei tersenyum kecil, ia tidak kehilangan kesadaran sebab tidak memesan minuman beralkohol.