Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas OSPEK
Jeviza mengenakan sepatunya dengan cepat, hari ini ia terlambat karena semalaman begadang nonton drama korea terbaru.
Puspa sudah mengomel persis seperti seorang ibu-ibu komplek.
Dengan kedua tangan ditaruh di atas pinggang, Puspa mengamati Jeviza yang tampak gugup mengenakan sepatunya.
"Udah gue bilang kan Je? Tidur, langsung tidur, segala ngedrakor aja kamu, gini nih."
"Syukurin nggak sempet sarapan."
Arlo yang berdiri di sebelah istrinya memegang pundak Puspa, dengan sedikit menahan tawa.
"Udah lah sayang, kasian Jevi, mukanya udah merah gitu."
"Enggak, kebiasaan nanti kalau nggak dibilangi."
"Lo ngerti nggak Je? Kakak ngomong apa?" tekan Puspa masih menatap Jeviza bengis.
Jeviza berdiri, mendekati Puspa lalu tersenyum tipis dengan kedua tangan diadukan di depan.
"Kak, sorry banget ini, gue khilaf," ujarnya dengan puppy eyes nya.
"Ayo mas Ar, keburu terlambat," lanjutnya mulai melangkah.
"Anak itu," gumam Puspa membuat Arlo tersenyum tipis.
Lalu sebuah kecupan singkat Arlo berikan pada pipi dan terakhir bibir.
"Aku berangkat dulu, kamu jangan marah-marah terus, besok Ke udah balik lagi, biar awasi Jevi juga."
Puspa mengangguk pelan. "Hati-hati kamu ya? Ini kasih buat tuh bocah, dikira aku tega apa biarin dia dengan perut kosong."
Arlo tersenyum hangat, mencium kening istrinya sebelum benar-benar melangkah.
"Istriku memang terbaik."
Mobil Arlo pergi meninggalkan rumah sedang dengan lantai 2 itu. Arlo melirik Jevi yang sedang merapihkan tatanan rambutnya.
"Masih disuruh kepang 2 Je?" tanya Arlo diangguki Jevi.
"Iya mas, kak Puspa belum cerita ya?" tanya Jevi dengan tangan sibuk mengepang rambutnya.
"Pasti ada sesuatu yang menarik, apa memangnya?"
"Menarik apanya? perkara gue kenalan sama temen aja dapat hukuman."
Arlo terkekeh mendengar cerita singkat Jevi, tetapi langsung paham meski tidak diceritakan secara detail.
Melihat Jevi yang sudah selesai mengepang rambutnya, Arlo menyerahkan kotak bekal yang disiapkan Puspa untuk gadis itu.
"Ini, dimakan dulu."
Jevi menerimanya dengan senyum mengembang. "Kan? Kak Pus tuh galak tapi perhatian, makanya mami sama papi percaya banget gue tinggal di sini."
Arlo hanya terkekeh saja mendengar celotehan adik sepupu istrinya itu.
"Je, kamu belum ketemu sama adiknya mas?" tanya Arlo menghentikan mobilnya.
Jevi menoleh, lalu menggeleng. Tangannya sibuk merapihkan kotak bekal yang sudah kosong.
"Belum mas, nggak tahu juga yang mana, eh mas, ini kotak bekalnya gue bawa apa biar di mobil?"
"Taruh aja sini, kamu mau bawa kotak bekal yang udah kosong?"
Jeviza menggeleng diselingi senyum tipis. "Enggak sih, ribet."
Arlo tertawa mendengar jawaban Jevi yang terang-terangan.
Tidak berselang lama, muncul 3 gadis yang mendekati mobil mereka.
"Jevi, buru keluar," ujar salah satu gadis yang mendatangi mereka.
Jevi menoleh, tersenyum tipis melihat ketiga gadis yang baru dikenalnya kemarin.
"Mas, aku duluan ya? Makasih udah nganter sampai kampus, hati-hati mas Ar."
Setelahnya Jevi keluar dari mobil, melambaikan tangannya bersamaan dengan mobil Arlo yang mulai menjauh.
"Cie, siapa itu Je? Ganteng jug."
"Suami kakak sepupu Sisil," balas Jevi diangguki Sisil dengan kekehan.
"Oh, udah beristri? Kirain om single era."
"Mata lo kalau liat yang ganteng cepet banget deh Sil," ujar Naura disetujui Tevi dengan anggukan kepala.
"Tadi aja sebelum lo dateng, Sisil udah nyatet di otak kating mana aja yang masuk kategori cowok ganteng katanya."
"Yeee, normal kali ah gue, namanya cewek pengen liat yang ganteng, emang kalian mau disuguhi cowok burik?"
"Udah ah, napa jadi ke cowok mulu sih? Mending kita siapin buat hari ini, semoga aja nggak sial kaya kemarin," tangan Jevi menarik ketiga temannya untuk mengikutinya.
Semua mahasiswa baru atau maba kembali dikumpulkan seperti kemarin. Pagi ini karena mendadak gerimis kecil, jadi semua maba berkumpul di aula kampus.
Berdesakan tapi masih bisa napas, setidaknya mereka bisa berlindung dari pada harus basah-bahasan terkena gerimis yang mulai terlihat semakin jelas.
Kali ini tidak ada drama hukuman seperti kemarin, Jevi benar-benar mendengarkan dengan seksama. Ia sangat menghindari kesalahan agar tidak mendapat hukuman lagi.
"Ingat, per kelompok 4 orang, dengan kaka pembimbing 1 ya?" Gio masih bertugas seperti kemarin.
"Baik kak," jawab mereka serempak.
"Ini sih kayaknya kita emang udah sepaket," komentar Sisil diangguki ketiganya.
Diantara mereka, Tevi yang paling pendiam, tapi sangat nyambung untuk kategori pertemanan mereka.
"Suruh ngapain sih?" tanya Naura.
"Sssttt, dengerin dulu makanya."
"Udah dapet kelompoknya? Sekarang kalian minta tanda tangan minimal banget 5 pengurus OSPEK, dan tanyakan jurusan atau jabatan mereka , bisa dimulai dari saya dulu, silahkan mengantri."
Gelak tawa terdengar dari beberapa mahasiswa.
Tetapi beberapa kelompok mulai mengantri untuk meminta tanda tangan Gio dan mulai bertanya.
"Langsung panjang banget buset, cari yang lain aja yuk," ajak Sisil.
"Kemana Sil?" tanya Tevi membuat Sisil memutar bola mata.
"Kita keliling, ini tugas dan tujuan mereka, supaya kita nyari, enak kalau semua panitia kumpul di aula, yang ada kita tinggal minta tanda tangan tanpa repot-repot harus nyari."
Ketiganya setuju usulan Sisil, mulai mencari wajah-wajah panitia OSPEK kemarin untuk meminta tanda tangan dan juga sedikit wawancara.
Jevi dan ketiga temannya sudah mendapat 3 tanda tangan dan keterangan dari pengurus OSPEK yang berhasil mereka temukan.
"Kurang 2 ini, siapa lagi ya?" Naura tampak berpikir mengingat wajah-wajah panitia kemarin.
"Guys, semua kan cowo ya? Kalau kita cari yang cewek gimana? Paling nggak ada 1 cewek biar keliatan netral gitu," usul Tevi langsung disetujui oleh Jevi dan teman lainnya.
"Setuju, kita cari kak Vio aja, yang terakhir wajib kak Keandra ya? Kita berburu kak Kean setelah itu," ujar Sisil tampak menggebu.
Naura dan Tevi bersorak setuju, mereka langsung menambahkan semangat untuk menyelesaikan misi dari bagian OSPEK itu.
Tetapi tidak berlaku untuk Jeviza, sedari tadi Jevi terus berdoa agar nama yang ditakutinya tidak disebutkan oleh teman-temannya, atau paling tidak temannya lupa dengan keberadaan kakak tingkat mereka yang satu itu, tetapi rupanya doa Jevi tidak didengar. Nama keramat itu kini menjadi target akhir di kelompok mereka.
"Anjir, sinis banget muka kka Vio," gumam Sisil setelah mereka menemukan keberadaan Vio.
"Hooh, siapa yang mau maju buat perwakilan kelompok ini? Mukanya nyeremin anjir," komentar Naura.
"Gue aja kalau gitu," ujar Jevi sempat membuat ketiga temannya terkejut, sebelum akhirnya bernapas lega dan menyemangati Jeviza.
"Cocok, semangat Je," ujar Sisil berusaha menyemangati Jevi.
Jevi dan kelompoknya mulai mendekat, dimana Vio sedang berkumpul dengan telan-temannya di ruangan yang jauh dari keramaian tempat OSPEK mereka.
Ada beberapa kakak tingkat yang berada di ruangan tersebut, terlihat sedang sibuk mengerjakan yang entah Jevi dan teman-temannya tidak mengerti, tetapi ada yang sangat menarik perhatian mereka di ruangan tersebut.
"Anjir, ada kak Kean juga di sana, sekali dayung dapat pulaunya," pekik Naura kegirangan juga dengan peribahasa yang dia buat sendiri.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!