Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 - Insecurity
Seandainya saja ia bisa memilih, Gwen juga tidak ingin berakhir seperti ini—tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya pasangan, dan usia yang terus berjalan tanpa terasa.
Dulu, Gwen berpikir hidupnya akan berjalan jauh lebih rapi dari ini. Ia pernah membayangkan akan menikah di usia dua puluh lima, memiliki pekerjaan yang ia banggakan, dan kehidupan yang… setidaknya terlihat baik-baik saja dari luar.
Namun semua rencana itu perlahan runtuh, satu per satu, seperti kartu domino yang jatuh tanpa bisa dihentikan.
Hubungan yang dulu ia pikir akan berakhir di pelaminan ternyata justru berakhir dengan pengkhianatan. Pekerjaan yang sempat ia bangun juga hilang begitu saja setelah segala kekacauan itu. Dan sekarang, setiap kali pulang ke rumah keluarga besar, yang ia dengar hanya satu pertanyaan yang sama—kapan menikah.
Gwen menghela napas panjang, matanya masih menatap ke arah laut yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore.
Kadang ia bertanya-tanya, kapan hidupnya mulai melenceng dari rencana. Atau mungkin… memang sejak awal ia yang terlalu percaya bahwa hidup akan berjalan sesuai rencana.
Di sampingnya, Aga masih duduk tenang, seolah enggan mengusik pikirannya. Namun kehadiran pria itu tetap terasa—sunyi, tak banyak bicara, tapi entah bagaimana membuat Gwen tidak sepenuhnya merasa sendirian.
Gwen memejamkan mata sejenak, membiarkan angin pantai menyapu wajahnya.
“Hidup itu lucu ya,” gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Waktu kecil kita sibuk bikin rencana. Tapi pas sudah dewasa… yang terjadi malah hal-hal yang tidak pernah kita rencanakan.”
Ia membuka mata lagi dan menatap laut.
“Termasuk hari ini.”
Aga tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap lurus ke arah laut, mengikuti pergerakan ombak yang datang dan pergi tanpa henti. Beberapa peselancar masih mencoba menaklukkan gelombang terakhir sebelum matahari benar-benar turun.
Angin pantai berembus pelan, membawa aroma asin laut yang menenangkan.
“Kamu terlalu banyak mikir,”
Gwen mendengus kecil. “Terima kasih atas analisisnya.”
Aga menoleh sedikit ke arahnya. “Serius.”
Gwen memutar bola matanya, tapi tidak berkata apa-apa. Ia kembali menatap laut, memeluk kedua lengannya di depan dada seolah mencoba menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
“Kamu bukan orang gagal, Gwen.”
Kali ini Gwen menoleh cepat. Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
“Apa?”
Aga tetap terlihat santai, tapi tatapannya lurus ke depan. “Kamu dengar aku.”
Gwen tertawa kecil, tapi ada nada pahit di sana. “Semua orang di dalam tadi sepertinya punya pendapat berbeda.”
Aga menghela napas pelan. “Semua orang di dalam tadi bukan kamu.”
Gwen terdiam.
Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ia kembali menatap laut, mencoba menyembunyikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Biasanya Gwen bisa membalas apa pun dengan cepat—sindiran, komentar, bahkan ejekan. Tapi kalimat Aga barusan membuatnya kehilangan kata-kata.
“Lagipula,” lanjut Aga, masih dengan nada yang sama tenangnya, “hidup kamu belum selesai.”
Gwen menyipitkan mata. “Optimis sekali.”
Aga menoleh ke arahnya. “Realistis.”
Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini tidak setegang sebelumnya, tapi tetap ada sesuatu yang membuat udara di antara mereka terasa sedikit lebih berat.
Gwen menghela napas pelan. "Kadang aku cuma capek, Ga,” katanya akhirnya. “Capek harus kelihatan baik-baik saja.”
“Ya sudah. Jangan kelihatan baik-baik saja.”
Gwen menoleh perlahan ke arah Aga. “Enak saja ngomongnya,” gumamnya pelan. “Kalau aku benar-benar tidak baik-baik saja, orang-orang di rumah bisa panik.”
Aga mengangkat bahu ringan. “Biar saja.”
Gwen menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Bocah kayak kamu mana ngerti,” katanya. “Sebagai anak pertama aku dituntut untuk menjadi contoh yang baik untuk adikku."
“Bocah kayak aku mengerti kalau hidup tidak selamanya harus mengikuti ucapan orang,” ucap Aga sambil menatap lurus ke arah laut, suaranya tenang. “Karena kalau kamu mulai menuruti satu, akan ada seratus yang lain menyusul.” Pria itu berhenti sejenak, membiarkan suara ombak mengisi jeda di antara kata-katanya.
“Orang selalu punya standar sendiri tentang bagaimana hidup orang lain seharusnya berjalan,” lanjutnya. “Hari ini mereka bilang kamu salah karena belum menikah. Besok kalau kamu menikah, mereka bisa saja bilang kamu salah memilih pasangan. Lusa mereka mungkin mengomentari cara kamu membesarkan anak.”
Aga mengangkat bahu ringan.
“Nggak ada habisnya.”
Gwen menatapnya dari samping, alisnya sedikit berkerut.
Aga tetap menatap ke depan, ekspresinya santai, tapi kata-katanya terasa jauh lebih serius dari nada bicaranya.
“Kalau kamu mencoba menyenangkan semua orang, kamu cuma akan lelah sendiri.” Ucapnya sambil menoleh ke arah Gwen.
“Dan percayalah, mereka tetap akan menemukan sesuatu untuk dikomentari.”
Gwen menghela napas pelan. Entah sejak kapan Aga berubah seperti ini. Dulu ia selalu menganggap Aga hanya anak kecil yang suka mengganggunya. Tapi sekarang, pria itu berbicara seolah sudah memahami banyak hal tentang hidup—hal-hal yang bahkan Gwen sendiri masih berusaha mengerti.
Pandangan Gwen kembali tertuju ke laut. Ombak bergulung pelan, angin pantai meniup rambutnya lembut. Ia baru saja hendak menarik napas ketika tiba-tiba tangannya digenggam.
Gwen menoleh, jantungnya berdegup kencang saat mata mereka bertemu. Aga tidak tersenyum seperti biasanya. Ada keseriusan di sana yang asing, namun somehow... membuat Gwen ingin melarikan diri sekaligus ingin tetap berdiri di tempat.
"Satu hal lagi yang perlu kamu tahu," bisik Aga, suaranya rendah, hampir terbawa angin. Ia menggenggam tangan Gwen lebih erat, jemari mereka saling menyelip dengan cara yang terlalu intim untuk sekadar teman. "Bocah sepertiku ini sudah bisa membuat anak."
Gwen terkesiap. Pipinya memanas, bukan hanya karena sinar matahari yang mulai condong ke barat. "A-apa maksudmu?"
Aga terkekeh, tapi matanya tidak bergeming dari wajah Gwen. “Maksudku…” Ia menarik Gwen mendekat, begitu dekat sehingga Gwen bisa mencium aroma parfum dengan sentuhan kayu dan musk yang lembut di kulit pria itu. “Aku sudah dewasa, Gwen. Dan aku tahu persis apa yang aku inginkan.”
Gwen ingin menjauh. Logikanya berteriak agar ia pergi, mengingatkan bahwa pria di hadapannya ini Aga—bocah nakal yang dulu suka mencuri sapu tangan dan menyembunyikan sepatunya. Namun tubuhnya seolah enggan menurut. Ada sesuatu di mata Aga yang menahannya, membuatnya terpaku di tempat.
"Jangan main-main," ucap Gwen, suaranya lebih lemah dari yang ia inginkan.
"Siapa yang main-main?" Aga mengangkat tangan Gwen, mengecup punggungnya dengan lembut. Sentuhan bibirnya yang hangat membuat Gwen bergidik. "Aku serius. Lebih serius dari yang pernah kamu kira."
Sebelum Gwen sempat membalas, Aga sudah menariknya lebih dekat. Dengan mudah, pria itu mengangkat Gwen dan mendudukkannya di pangkuannya. Satu tangan Aga melingkari pinggang Gwen untuk menahannya, sementara tangan lainnya tetap menggenggam tangan wanita itu. Jarak mereka kini nyaris tak tersisa, napas saling bersinggungan, begitu dekat hingga bulu mata hampir bertaut. Mata Aga menatap dalam, seakan mencari izin, mencari jawaban—namun kedekatan itu sendiri sudah berbicara lebih dulu, melampaui kata-kata.
Gwen menutup matanya.
Dan Aga menciumnya.
Bukan ciuman berapi-api yang menuntut. Bukan serangan yang memaksa. Tapi ciuman manis yang lembut, penuh penantian yang akhirnya terjawab. Bibir Aga menyapa bibir Gwen dengan kesabaran yang mengejutkan, seolah dia tahu betapa rapuhnya momen ini, betapa mudahnya semuanya bisa hancur jika ia terlalu gegabah.
Gwen merasa lututnya lemas. Tangannya yang bebas meraih bahu Aga, bukan untuk mendorong, tapi untuk menahan dirinya tetap berdiri. Angin pantai masih meniup, ombak masih bergulung, tapi dunia terasa berhenti sejenak.
Ketika mereka akhirnya berpisah, dahi mereka masih bersandar satu sama lain. Aga tersenyum—senyum yang berbeda, yang tidak menyeringai nakal tapi benar-benar bahagia.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini," bisik Aga, suaranya serak. Lalu kembali mencium bibir Gwen dengan penuh gairah. Gwen membalasnya, jari-jarinya merambat ke rambut Aga, menarik pria itu lebih dekat. Ciuman itu berkembang—dari lembut menjadi lapar, dari ragu menjadi yakin. Lidah Aga menjelajahi dengan lembut, meminta akses yang Gwen berikan tanpa syarat.
Tangan Aga yang merangkul pinggang Gwen kini bergerak naik, merasai lekuk punggungnya, menekannya lebih rapat ke dadanya. Mereka berciuman dengan penuh gairah, terbuai oleh ombak dan angin pantai, hingga tiba-tiba—
"Dicariin ternyata malah asik keluar masuk," gerutu Pandji dari belakang.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍