Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34| Ketulusan Ara
Jason memberi Ara sebucket bunga lily berwarna putih. Bunga yang melambangkan kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, pengabdian juga persahabatan. Ara sangat tahu arti bunga lily putih, karena orang di masa lalunya selalu memberinya bunga tersebut dan mengatakan bahwa meraka akan menjadi sahabat yang saling kompak di masa depan. Sahabat yang selalu ada dan menjadi tempat pulang, dalam artian lily putih melambangkan kemurnian dan tulus cintanya kepada Ara.
“Kau tidak menyukai bunganya? Maaf, aku hanya terpukau dengan kecantikan bunga itu yang selalu mengingatkanku dengan wajahmu,” jujur Jason.
Lagi-lagi Ara mengingat satu kata yang terselip diingatannya. Lily putih menjadi bunga yang selalu mengingatkan sosok itu dengan Ara dan Ara masih mengingat jelas suaranya saat mengucapkan kalimat itu.
“Ara? kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Jason yang duduk di sebelah Ara.
“Ya, bunga yang kau beri ini. Dia juga sering memberiku bunga ini,” jelas Ara membuat Jason sangat terkejut.
Jason jadi menyesal telah memilih bunga tersebut dan membuat Ara kembali lagi mengingat sosok itu. Sialan, sosok itu masih saja tidak bisa menghilang dari ingatan Ara dan itu membuat Jason sangat iri kepadanya.
“Maaf sudah membuatmu kembali mengingatnya, aku berjanji tidak akan membe—”
“Tidak! Aku suka dengan bunga ini. Kau tidak perlu mengatakannya,” Ara memotong ucapan Jason dan memeluknya erat.
Jason terkejut dengan tindakan Ara yang menurutnya sangat mendadak itu. Tetapi, satu kalimat terlintas di pikiran lelaki itu.
“Apakah kau sudah memaafkanku?” tanya Jason dengan memeluk erat Ara.
“Aku ingin mengatakan sebuah kejujuran kepadamu,” Ara menguraikan pelukannya dan menatap dalam manik mata Jason.
Pandangan mereka saling terkunci satu sama lain.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri dengan selalu bersikap dingin kepadamu, aku tidak baik memerankan peran itu. Aku sangat payah dan aku akui, aku mulai senang dengan perubahan sikapmu kepadaku. Kau sangat pintar membuatku kembali jatuh ke dalam sebuah kata yang di sebut cinta,” jujur Ara.
Jason merasakan dunia begitu indah mendengar kalimat itu, tanpa sadar ia menarik Ara ke dalam pelukannya dan air mata tidak mengatakan kalau ingin keluar.
Jason sangat bahagia mendengar semua itu. Kalimat yang paling indah yang pernah ia dengar, entah mengapa ia merasa ini adalah kedua kalinya ia merasakan hal seperti ini. Yang pertama tidak diingatnya begitu jelas, hanya saja ia merasa seperti déjà vu.
“Terima kasih, Ara. Aku merasa sangat senang mendengarnya, kalimat paling indah yang pernah aku dengar. Terima kasih sudah memberiku kepercayaan dan mau kembali kepadaku,” gumam Jason dengan suara paraunya.
Ara terkejut saat tahu Jason sedang menangis. Ia mengurai pelukannya dan melihat Jason mengalihkan pandangannya. Ara menarik wajah lelaki itu untuk menghadap ke arahnya.
“Kau harus ingat ini dengan baik. Ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan kepadamu, jangan kau sia-siakan kesempatan ini. Kalau kau kembali menyia-nyiakannya dan tahu semuanya, aku yakin kau akan menyesali semua,” ujar Ara dengan menghapus sisa air mata di sudut mata Jason.
Jason tersenyum lebar dan kembali memeluknya.
“Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kau pegang kata-kataku,” balas Jason dengan menangkup wajah Ara, ia menyatukan keningnya dengan Ara.
Tatapan Ara kini tidak seperti sebelumnya, ada pancaran cerah di manik matanya yang selalu terluka itu dan Jason sangat senang melihatnya.
“Buktikan semua itu, baru aku akan mempercayaimu dengan segenap jiwaku.”
...***...
Jason menghubunginya agar Ara ke ruangan lelaki itu di waktu jam istirahat. Ara menatap pintu di hadapannya, sudah banyak sekali berbagai macam hal yang menyakitkan ia lihat di dalam ruangan Jason dan membuatnya sedikit ragu untuk masuk ke dalam.
Ia takut kembali melihat hal yang sama sekali tidak diinginkan. Ara juga melihat sekretaris Jason yang terus menatap dirinya, karena Ara tidak masuk ke dalam setelah Jason menyuruhnya untuk masuk. Dengan tangan gemetar Ara mulai membuka pintu.
“Kenapa kau lama sekali masuknya? Ada apa?” tanya Jason saat Ara sudah masuk ke dalam ruangannya.
Jason duduk di sofa dan membelakangi dirinya. Ara melangkah pelan ke arah sofa, saat ia sampai di dekat Jungkook. Segera Jason menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Sudah satu minggu lamanya sejak kejadian itu, hubungan mereka menjadi membaik dan semakin lengket.
“Aku sudah menunggumu, kenapa kau lama sekali?” tanya Jason dengan suara manjanya membuat Ara terkekeh kecil.
Ara sudah sering mendengar rengekan dari Jason saat dirinya tidak berada di samping lelaki itu, kadang Jason juga bertingkah seperti anak kecil kalau Ara tidak mencium pipinya atau memeluknya.
“Aku hanya merasa takut masuk ke dalam ruanganmu,” jujur Ara yang membuat Jason melepaskan pelukannya dan menatap Ara dengan tatapan bersalah.
“Maaf, aku sudah membuatmu terluka dan semua kejadian itu di dalam tempat ini. Apakah kau tidak nyaman berada di sini? Kalau begitu aku akan meminta agar ruanganku di pindahkan di lantai yang sama denganmu."
Ara yang mendengarnya tidak percaya.
“Kau tidak perlu melakukan hal itu, sekarang aku lebih baik saat berada di sini. Kau tidak perlu memindahkan ruanganmu!” tolak Ara yang di balas dengan senyuman di bibir Jason.
Jason beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Kemudian, ia kembali dengan membuat kotak bekal besar di tangannya.
“Apa itu?” bingung Ara. Jason membuka tutupnya dan Ara melihat ada omelet di dalamnya, itu adalah makanan kesukaannya dan Ara sangat suka melihat bentuknya yang begitu lucu dengan beberapa sosis dan sayur menghiasi omelet tersebut.
“Ini makanan kesukaanmu kan?” tanya Jason.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya balik Ara.
“Aku tanya ke sahabatmu yang cerewet itu,” jawab Jason membuat Ara tertawa kecil saat mendengar sebutan lain dari Nara.
“Ini adalah makanan kesukaanku dengan kakakku satu-satunya,” ujar Ara membuat Jason mengernyit bingung menatap Ara yang mulai melahap makan siangnya.
“Kau punya seorang kakak?” tanya Jason dengan tangan yang membersihkan bibir Ara dari nasi.
Ara tetap saja makan seperti anak kecil dan itu sangat menggemaskan di mata Jason. Wajah polos dan cantik selalu membuat Jason tidak bosan memandanginya. Ara meneguk air yang di berikan sang suami.
“Aku punya kakak laki-laki. Tetapi, dia tidak bisa datang ke pernikahan kita, karena dia sedang ada proyek besar. Bisa di bilang kakakku itu seorang musisi yang selalu menghabiskan waktunya di dalam studio miliknya, dia akan tidur, makan dan melakukan semuanya di dalam ruangannya. Kalau Ayah atau Ibu tidak memaksanya untuk keluar, dia tidak akan keluar di dalam tempatnya. Yah, kakakku cukup cuek dan dingin,” jelas Ara.
“Kau sangat jujur dan aku suka dengan sifatmu itu, sepertinya aku sudah menaruh hati kepadamu. Tetapi, aku masih belum yakin.”
Bersambung...