Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Tari membelikan makanan untuk nenek, Lila dan dirinya sendiri. Lisa sudah bangun namun kondisinya makin lemah. Tari tidak bisa membiarkan sahabatnya tinggal di tempat seperti ini.
Dia harus membawa Lisa jauh dari kota ini, jauh dari Angga dan keluarganya.Tari tidak ingin melihat Lisa di perlakukan seperti ini lagi. Lisa adalah sahabat satu perjuangannya, dia sudah lebih dari kerabat dekat, mereka selalu menghadapi susah senang bersama. Jadi Tari tidak akan membiarkan Lisa sendiri lagi.
Begitu sampai Tari membuka makanan yang dia beli. Tari membeli empat kotak nasi, ada buah potong segar dan juga air mineral.
Tari sengaja membelikan Lisa seafood kesukaannya, ada cumi hitam dan juga kerang.
Tari langsung memberikan kotak itu ke Lisa.
"wah nak Tari tak perlu repot-repot" Ujar nenek Ratmi.
"Tidak repot nek, Nenek sudah menolong sahabat terbaik Tari, ini bukanlah apa-apa. Silahkan di makan nek"
Lila langsung membuka nasi kotak itu, matanya berbinar melihat ada daging dan juga udang, lengkap dengan sambal tahu dan juga tempe, ada sayur wortel dan brokoli juga.
"Wah enak sekali kak"
Tari tersenyum dan meminta Lila segera makan.
"Ini bagian kamu Lisa, aku sengaja beli kerang sama cumi kesukaan kamu, Maaf ya, nggak ada kepitingnya. Tadinya aku mau cari kepiting buat kamu, tapi di sekitar sini tidak ada" Ucap Tari sambil membuka nasi kotak di tangannya.
"Ini sudah lebih dari cukup, aku yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkan kamu"
"jangan bilang begitu, tiap kamu bayar kontrakan kita saja, kamu selalu menolak kalau aku ngasih kamu uang patungan, Ini cuma makanan tidak merepotkan sama sekali"
Lisa tersenyum, benarkah dia sebaik itu? La sama sekali tidak mengingatnya. Lisa hanya ingat mereka berdua baru masuk kerja di sebuah mall besar sebagai Office Girl.
Lisa begitu bersemangat memakan nasi kerang itu, namun tiba-tiba perutnya mual.
Lisa buru-buru bangun dan berlari ke belakang.
Tari melongo, dia menaruh nasi itu dan segera menghampiri Lisa.
"Kamu masuk angin Lis?" Tanya Tari begitu hawatir.
Lisa menggeleng pelan, dia kembali mual hebat. Nenek Ratmi ikut ke belakang, beliau memijit tengkuk Lisa pelan.
"Kita ke rumah sakit ya Lis?"
Lisa menggeleng cepat, dia takut melihat rumah sakit. Kemarin saat dia dan Lila naik angkot ke kontrakan lama Tari. Lisa menggigil ketakutan dan tak berani menoleh saat angkot itu melewati sebuah rumah sakit.
"Tidak usah, aku tidak sakit Tari"
"Tapi Lisa, kamu perlu ke dokter"
Nenek Ratmi tersenyum sambil menggeleng pelan ke arah Tari, meminta Tari agar tidak memaksa Lisa. Takutnya Lisa kembali drop dan pingsan lagi.
Tari yang mengerti mengagguk pelan.
"Kalau ke klinik bagaimana?" Ajak Tari tak ingin menyerah begitu saja.
"Nenek sudah meminta Nak Lisa ke dokter, tapi dia tidak mau"
"Tapi dia muntah terus nek, Tari takut Lisa kenapa-napa"
"Ini wajar nak, kalau sudah lewat empat bulan juga pasti berhenti"
"Maksud nenek?"
"Nak Lisa hamil, jadi wajar kalau dua muntah seperti ini"
Tari tentu terkejut mendengar kabar itu.
"Apa! Hamil?"
****
Angga sudah bisa beraktivitas lagi, dia sudah siap dengan jas dan sepatu yang begitu rapi, dasi sudah terpasang sempurna. Namun tidak ada ekspresi sama sekali di wajah Angga. Wajahnya datar dan lempeng. Siapapun akan mengira Angga patung, dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang ada di sekitarnya.
Angga keluar dari kamarnya, dia hanya berusaha melakukan apa yang biasanya dia lakukan dengan Lisa. Berangkat pagi, kerja tanpa henti. Dulu itu dia lakukan, karena hanya saat Lisa sibuk, dia bisa sepuas hati memandang istrinya. Tapi sekarang Angga bekerja agar dia merasa Lisa ada di sampingnya.
"Kamu tidak boleh bekerja" Bu Nada menghadang Angga yang baru saja turun dari tangga.
Angga hanya menatap Ibunya datar, Angga meraih tangan ibunya, dia mencium tangan itu dan meminta ibunya segera bergeser.
Namun Bu Nada tidak mau melakukan itu, dia menepuk tangannya dua kali. seorang Art langsung datang membawa koper besar milik Angga.
"Mama sudah bilang ke papa, Papa yang akan gantikan kamu bekerja untuk beberapa bulan ini, kamu di larang masuk kantor"
Angga rasanya ingin meledak, di kantor banyak sekali memori di sana yang bisa membuat Angga tersenyum. Dia tidak mungkin tidak masuk kerja.
"Pokoknya kamu tidak boleh kerja, kamu harus refreshing, Mama sudah pesan travel, kamu akan di bawa ke kampung Opa, di sana pemandangannya sangat bagus, kamu harus istirahat, tenangkan fikiran kamu"
"Ma! Angga tidak mau pergi! Angga cuma mau ke kantor"
Bu Nada tetap kukuh melarang Angga, dia tidak bisa membiarkan Angga terus di hantu i masa lalu Lisa. Angga harus bisa bangkit, Keluarga Pratama butuh penerus. Dia tidak bisa membiarkan Angga terus meratapi Lisa.
"Kamu boleh ke kantor Ga, tapi setelah kamu kembali seperti dulu"
"Angga tidak mau pergi, Angga mau ke kantor" Tolak Angga tegas. Untuk pertama kalinya Angga mendorong tubuh mamanya agar segera menyingkir dari hadapannya. Angga mendorong ibunya dengan pelan. Tapi itu cukup membuat Bu Nada sedih.
Terpaksa Bu Nada memakai cara terakhir. Bu Nada mengeluarkan sebuah suntikan dari sakunya. Dia kembali mengejar Angga, begitu Angga berbalik, Bu Nada langsung menyuntikkan obat penenang ke lengan Angga.
"Ma!" Protes Angga, namun beberapa detik kemudian, mata Angga terasa berat, dia jatuh ke lantai begitu saja.
"Maafin mama nak, tapi ini semua demi kebaikan kamu, kamu harus membuka lembaran baru, di sana desanya begitu indah, ada pesantren juga, mama harap kamu bisa bertemu wanita baik di sana" Gumam Bu Nada.
Bu Nada langsung meminta penjaga untuk membawa Angga ke mobil yang sudah dia siapkan.Tak lupa barang-barang Angga juga, namun Bu Nada tak ingin Angga langsung kembali, jadi dia menyita semua dompet dan juga ponsel Angga. Bu Nada hanya menyisakan beberapa ratusan uang tunai di celana Angga.
"Sorry boy. Mama terpaksa lakuin ini ke kamu"
****
Tari membawa Nenek Ratmi, Lila dan Lisa ke tempat kontrakannya.
Tari sampai memesan gocar untuk membawa mereka. Tari sudah memutuskan untuk membawa mereka semua ke kampung halamannya di desa. Tari tidak mau Lisa terus di kota ini, ini akan berbahaya bagi Lisa. Tari takut orang yang ingin melihat Lisa m*ati kembali beraksi saat tahu Lisa masih hidup. Jadi Tari memutuskan resign saja, dia punya banyak tabungan, di desa dia juga punya beberapa usaha. Tari juga sudah membeli sawah dan ladang di sana. Jadi Tari akan memulai usaha di kampung saja. Dia tidak ingin Lisa dalam bahaya.
Awalnya Nenek Ratmi menolak ikut, dia tidak ingin pergi. Namun saat Tari bilang akan membawa Lisa ke kampung halamannya di Desa Carikan. Nenek langsung berubah fikiran. Nenek langsung bilang ingin ikut. Tari merasa lega karena nenek dan Lila mau ikut dengannya. Kalau tidak, dia akan merasa berhutang Budi, karena Lila dan nenek yang sudah menemukan dan merawat Lisa. Berkat mereka berdua Tari masih bisa melihat Lisa lagi.
"Nenek kenapa mau ikut? Bukannya kemarin nenek tidak mau pergi dari sini?" Tanya Lila pada neneknya saat mereka mengemas barang-barang mereka.
"Karena desa itu, desa kelahiran Nenek Lila"
Lila langsung manggut-manggut mengerti, dia juga sebenarnya ingin tahu di mana sebenarnya orang tuanya tinggal. Tapi sejak bayi dia sudah di buang. Dia bahkan tidak tahu siapa orang tuanya.
"Kenapa Lila sedih? Lila nggak mau pergi?"
Lila menggeleng cepat, dia bukannya sedih karena pindah rumah. Tapi Lila sedih karena tidak memiliki orang tua.
masih di fase sad ya men temen 🤭🙏
btw smg lisa n bik sum ga kenapa2
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏