NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Bukan Sekadar Bayangan

Suaraku menggelegar hingga membuat beberapa petugas bergegas mengamankan kondisi. Mas Afwan yang semula duduk tak jauh dari tempatku mengunjungi Ridho, kini justru menghampiriku dengan langkah tergesa.

“Sayang! Udah stop!” Mas Afwan meneriakiku dengan nada suara yang tinggi. Aku seketika menghentikan aksi memukul Ridho detik itu juga. Tak ingin berlarut dalam pertengkaran, aku memutuskan pergi dari sana. Aku pastikan aku tak akan pernah membesuknya lagi. Akan kubiarkan ia tertekan di penjara itu agar ia diadili seadil-adilnya.

Derap langkah kaki yang begitu cepat seperti tengah berlari kudengar di belakangku. Sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku erat. Kemudian membawaku masuk segera ke dalam mobil. Mas Afwan, sepertinya ia marah atas tindakanku barusan.

“Duduk di sini!” ucapnya dengan nada yang benar-benar berubah dari biasanya.

Aku duduk dengan perasaan kalut, lantas membuka cadarku saat berada di dalam mobil. Mas Afwan masuk lalu menutup pintu mobil. Sekian menit berlalu. Kami hanya berdiam diri di dalamnya. Aku menatap nanar ke depan, memerhatikan Rutan Polres itu dengan tatapan tajam.

“Ayo istigfar!” perintah Mas Afwan padaku seraya memajukan mobilnya.

Aku tertunduk lesu. Kini, pandangan mataku tertuju pada kedua tanganku yang kini meremas kuat khimarku. Sedetik kemudian, air mata menetes di pelupuk mata. Isak tangisku mulai riuh di dalam mobil. Mas Afwan lantas menepikan mobilnya. Mobil berhenti. Ia memerhatikan tangisanku yang hadir bagai tak berjeda. Tanpa banyak bertanya, ia memelukku erat.

Kulampiaskan kekesalanku lewat air mata. Aku tahu air mata bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan perkara. Namun, dengan cara ini aku merasa lega sejenak. Aku … hanya butuh waktu untuk menata ulang hatiku. Bukan ceramah dan penghakiman.

Mas Afwan membelai lembut kepalaku yang berbalut khimar. Sebuah kecupan lembut di puncak kepala hadir memberiku ketenangan. Sekarang, aku mengerti … mengapa Allah menjodohkan kami. Agar melengkapi separuh jiwaku yang kosong dan rusak.

“Kamu udah tenang?” tanya Mas Afwan setelah sekian menit kami berpelukan.

Aku menganggukkan kepala. Sebuah tangan menyeka air mata yang membasahi pipiku. Kubalas dengan senyuman getir.

“Ada apa tadi? Kamu, mau cerita?” tanya Mas Afwan kembali. Menawarkanku untuk terbuka dengannya.

Aku menggeleng dengan cepat. Malu untuk mengungkapkan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh Ridho.

“Ini masalah keluargaku. Aku nggak mau kamu tahu hal itu.”

Mas Afwan mengangguk setuju. Kemudian mengelus pipiku dengan lembut. Mobil pun, kini kembali melaju. Di sepanjang perjalanan, Mas Afwan tak sedari tadi sesekali memerhatikanku yang sejatinya masih dirundung kekalutan. Hingga sebuah kalimat muncul dari lisannya.

“Aku tahu, kamu sekarang lagi marah banget. Tapi ingat ya, Sayang. Marah bukanlah solusi atas sebuah permasalahan.”

Pandanganku kini tertuju padanya. Aku tahu, marah bukanlah solusi atas semua permasalahan yang ada. Ya, aku sudah belajar dari pengalaman tragis beberapa minggu yang lalu. Aku menarik napas perlahan, kemudian mengembuskannya. Membiarkan semua kepahitan dan rasa sesak itu melebur bersama embusan napasku.

***

Dua hari berlalu. Waktu berputar begitu cepat bagai embusan angin. Mas Afwan baru saja membelikanku sebuah mesin cuci sederhana untuk mempermudahku dalam urusan domestik. Perlahan, perkara menyesakkan dua hari yang lalu, kini mereda di kepalaku.

“Udah bisa digunakan. Coba aja!” Aku mencoba memasukkan beberapa helai pakaian kotor ke dalam mesin cuci dua tabung ini. Tak lama setelahnya, mesin pun menggilas pakaian. Aku tersenyum seraya memeluk Mas Afwan.

“Syukron, Sayang. Jazaakallahu khair,” ucapku lantas memandangnya sembari tetap memeluknya.

“Wa jazaakillahu khair,” balasnya lalu mengecup puncak kepalaku.

Malam mulai datang. Seperti biasa, Mas Afwan akan berangkat ke masjid untuk salat magrib dan mengisi kajian malam. Kali ini, aku ikut dalam sebuah kajian yang ia bawakan. Bersama dengan Hamzah yang bahkan hanya diam sembari memerhatikan Mas Afwan membawakan ceramah. Sungguh, aku takjub pada anak ini. Emosionalnya sangat terjaga di usia belianya.

Seorang wanita bercadar, yang kini sepenuhnya telah melepaskan cadarnya lantas menyalami tanganku. Lalu ia menyapa Hamzah yang kini duduk dipangkuanku.

“Anteng ya, Nak,” pujinya sambil membelai lembut kepala Hamzah.

“Alhamdulillah, Ammah. Ya, Sayang? Bilang apa sama Ammahnya?” Aku memancingnya untuk berterima kasih pada wanita bercadar di sebelahku.

“Syukron, Ammah,” ucap Hamzah kemudian menyalami tangan wanita tersebut.

“Maa syaa Allah. Nggak disuruh padahal ya, Um,” kagumnya lantas tersenyum pada Hamzah.

“Alhamdulillah bini’matihi tattimus shalihat,” jawabku kemudian lantas tersenyum padanya.

“Anti, istri ustaz Afwankah?” Ia menanyakan sebuah hal yang membuatku segan untuk menjawabnya. Namun, aku harus menjawabnya agar tidak terkesan angkuh terhadap sesama.

“Iya, Um,” jawabku beberapa detik kemudian.

“Maa syaa Allah. Baraakallahu laka wa baraka ‘alaikha wa jama’a baina khuma fii khair.”

“Jazaakillahu khair, Um atas doanya untuk ana.”

“Wa iyyaki.”

Saat kami telah benar-benar diam, tiba-tiba wanita bercadar yang kupanggil dengan sebutan Um itu lantas kembali berbicara.

“Rahimahallah istri beliau sangat baik, Um. Kalau ada kajian, beliau selalu ikut. Ramah sekali. Qaddarullah, Allah panggil cepat sekali. Umurnya padahal masih dua puluh lima tahun. Nikah muda memang, Um. Udah gitu, dia aktif di masjid. Ngajarin ngaji ummahat lainnya. Hafalannya banyak. Maa syaa Allah pokoknya.”

Deg!

Dadaku terasa seperti ditancap ribuan sembilu. Ketika mendengar pujian demi pujian ia lontarkan pada rahimahallah istri Mas Afwan. Aku terpaku bersama senyuman yang kupaksakan hadir. Kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa kini hatiku cukup teriris mendengarnya. Bukan aku iri, tapi … aku merasa, aku tak cukup layak untuknya.

“Eh, tapi afwan. Ana nggak maksud buat bikin anti sakit hati, kok. Ana cuma memuji kebaikkan beliau. Karena jasanya banyak Um. Dulu kan ustaz sempat di sini, sebelum pindah lagi ke Jakarta. Eh, alhamdulillah balik lagi ke sini. Tapi ngomong-ngomong … anti mirip rahimahallah.”

Darahku berdesir begitu cepat ketika mendengar kalimat itu. Pikiranku melayang pada ucapan Hamzah yang mengatakan bahwa aku adalah umi lamanya, bukan umi baru. Juga Mas Afwan yang terlihat begitu memaklumi setiap kesalahanku walau sefatal apa pun. Ternyata …

“Permisi, Um. Ayo, Nak. Temani Umi sebentar.”

“Kita ke mana, Umi?” tanya Hamzah heran lantas berdiri dari duduknya.

Aku menggendong Hamzah sembari meminta izin kepada wanita tersebut untuk pamit.

Di rumah, kulampiaskan semua sesak lewat tangis. Aku berjalan menuju cermin, menanggalkan cadar dan jilbabku, lantas mulai terduduk di depan cermin itu. Hamzah, tiba-tiba memelukku dari belakang. Tangisanku semakin pecah kala ia memelukku.

“Umi kenapa nangis? Hamjah nakal, ya?” tanyanya seraya meraih wajahku. Sikapnya, kelembutannya selama ini, sama persis dengan cara Mas Afwan dalam memperlakukanku.

Aku menggeleng pelan, lantas memeluknya erat.

“Nak, maafkan Umi. Maafkan Umi belum bisa jadi Umi yang baik buat Hamzah.”

“Tapi Umi salah apa? Umi kan nggak jahat.”

“Umi … Umi bukan Umimu yang lama, Sayang. Ini Umi yang berbeda. Hamjah tahu itu, kan?”

Kulihat, ia menatapku lama. Lantas, ia memelukku erat dan berkata ….

“Nggak apa-apa. Kan Umi balu baik. Hamjah sayang Umi balu dan Umi lama.”

Malam itu, menjadi malam paling mengharukan bagiku, sekaligus mematahkan hati. Aku dilema antara memilih marah, atau tetap jatuh cinta pada keluarga kecil ini. Karena kini … cinta mulai merambat masuk ke dalam hatiku.

***

“Sayang? Kenapa balik duluan? Kok nggak dengar kajian sampai habis?” tanya Mas Afwan padaku.

“Hamzah ngantuk, Mas. Itu … sudah tidur,” jawabku sambil menyembunyikan tangis itu di mataku.

“Kita tidur, yuk!” ajaknya seraya menyuguhkan senyuman hangat padaku. Tangannya kini membelai lembut rambutku.

“Mumpung anak sudah tidur, gimana kalau ….”

“Mas!”

“Iya?”

Kupandangi wajahnya yang kini ikut menatapku lama. Hingga tiba-tiba … sebuah kecupan kudaratkan di bibirnya.

“Ayo!”

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!