Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Masih Malu Mengakui
“Mas Raka … jangan-jangan juga kuliah?” tanya Ayu, antusias.
Raka menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil berkata, “Aku sudah semester 4.”
“Iya kah?”
Ayu tidak menyangka sekaligus kagum.
Melihat Ayu nampak semangat, Cintia mendekat dan berbisik, “Ayu, dia ini kakak tingkat kita. Panggil Kak jangan Mas. Sopan sedikit.”
Bisikan Cintia tidak terlalu kecil, sehingga masih bisa didengar Raka. Pria itu lantas tertawa kecil. “Enggak apa-apa santai saja.”
“Aku pikir kaka sudah kerja soalnya buka kursus belajar masak,” Ayu melanjutkan.
“Itu cuma kerja sambilan. Ya hasilnya buat biaya kuliah juga.”
“Wah! Pasti capek sekali. Kuliah sambil kerja.”
“Begitulah. Hehe.”
Obrolan Ayu dan Raka sangat cair, sampai-sampai Cintia di sebelah tak berhenti memandangi Ayu dan Raka secara bergantian.
“Oh iya. Apa jaketku baik-baik saja?” Raka menanyai jaketnya yang sempat ia pinjami ke Ayu.
“Masih baik Mas. Maaf jadi lama mengembalikannya.”
“Gak apa-apa. Ambil aja kalau mau.”
“Gak Mas. Besok saya bawa deh.”
“Oke dah. Aku lagi-lagi buru. Sudah ya.”
Raka menyudahi obrolannya dengan Ayu mengingat dia sedang buru-buru untuk masuk kelas.
Dia sempat melambaikan tangan dari kejauhan kepada Ayu.
Begitu Raka tak terlihat, Cintia menyenggol lengan Ayu dengan keras.
“Ayu kenapa kamu bisa kenal Kak Raka?”
“Aku pernah ikut kelas masak dia buat belajar masak, gara-gara kamu gak mau ngajarin aku dulu,” tutur Ayu sambil mengusap-usap lengannya yang sakit disenggol.
Cintia langsung berkacak pinggang sambil mengangguk yakin. “Benar-benar takdir. Kalian pasti jodoh.”
Ayu mengernyit, “Maksudnya?”
“Dia kakak tingkat yang aku maksud itu. Yang aku bilang paling ganteng di kampus. Banyak cewek-cewek naksir dia tapi gak ada yang diterima ama dia.”
“Jadi dia orangnya,” lirih Ayu.
Sebenarnya Ayu tidak kaget mendengarnya. Raka memang tampan. Wajah tampannya berciri khas lembut dan teduh. Bukan hal aneh jika Cintia sampai menobatkannya pria paling ganteng di kampus.
Jika dibandingkan dengan Arvin, jujur Ayu jadi bingung memutuskan mana yang paling tampan. Namun, jika ditanya siapa sosok yang dicintai, Ayu tentu tetap memilih suaminya yang dingin itu.
...***...
Jam masih menunjukkan pukul 06.00 sore. Ayu baru menginjakkan kaki di dalam rumah setelah seharian jalan-jalan bersama Cintia. Dia sempat juga mampir ke supermarket untuk mengisi kebutuhan makanan di dalam kulkas.
Ayu buru-buru meletakkan kantong belanjaan lalu memasukkan satu per satu bahan-bahan makanan yang ia beli ke dalam kulkas.
Di saat itu juga, terdengar suara berat memanggil dari belakang.
Ayu tersentak kaget. “Pak Raka sudah pulang kerja?”
“Iya. Aku pulang lebih cepat. Ayo siap-siap!”
“Siap-siap buat apa?”
“Kamu pikun. Tadi pagi saya WA kamu untuk dinner.” Arvin berkata begitu sambil berjalan menuju area ruang tengah. Dia sudah berbadan rapi. Kemeja putih dan celana abu-abu.
“oh iya.”
“Cepat! Aku tunggu!”
Selesai memasukkan semua persediaan makanan ke kulkas, Ayu setengah berlari masuk ke kamarnya.
Sesuai yang diperintah Arvin, wanita itu sebisa mungkin bersiap cepat. Selama itu juga, Ayu berfikir mencari maksud akan tujuan Arvin tiba-tiba bertingkah beda seharian ini.
Pertama, tadi pagi menawari tumpangan dengan ramah.
Lalu sekarang ngajak dinner.
Harus ada kejelasan yang logis.
Apa mungkin Arvin sudah berubah mencintai?
Ayu tidak berani menyakini sebelum menanyakan langsung.
Selesai bersiap dan berdandan, Ayu dan Arvin pun berangkat. Ayu duduk di kursi depan mobil mengenakan dress biru muda terusan yang tidak terlalu mencolok. Rambut panjang tergerai sepenuhnya.
Dari segi keseluruhan, penampilannya terkesan biasa saja.
Arvin sesekali melirik diam-diam kepada wanita di sebelahnya, menilai penampilan Ayu yang masih tergolong pantas untuk diajak masuk ke restoran bintang 5. Dia tidak protes. Hanya saja, jauh di dalam hati berharap istrinya memakai gaun merah seperti dulu lagi.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka melangkah masuk bersama. Ayu tidak bisa menyembunyikan langkah gugupnya.
Suasana restoran dialuni suara musik clasic, meja-meja mewah, dan lampu gantung kristal besar menjuntai indah di atas restoran. Ditambah, penampilan para pengunjung lain yang dari gaya berpakaiannya saja jelas dari kalangan atas semua.
Ayu pernah melihat suasana restoran seperti ini di film-film romantis, membuatnya jadi makin keras berfikir: sebenarnya apa tujuan Arvin mengajak makan malam ke tempat mewah begini?
“Kita gak salah restoran, Pak?” tanya Ayu pelan.
“Buat apa aku salah masuk.” Arvin menggeleng kecil.
Sampai di meja tujuan, Ayu hendak melangkah ke kursinya, tapi Arvin cepat menarik kursi itu untuknya.
Ayu bingung Arvin sedang melakukan apa. Apa pria itu merebut kursinya dan ingin duduk di sana?
“Masuk dan duduk!” bisik Arvin, mulai malu sendiri.
“Benar juga!” seru Ayu baru menyadari. Ternyata kursi itu ditarik untungnya.
Pernah juga Ayu melihat adegan seperti itu di film. Si pria menarik kursi untuk si wanita di restoran. Siapa sangka Arvin akan bertindak sejauh itu.
“Ya ampun! Kampungan sekali istriku,” gumam Arvin setelah sama-sama duduk di kursi masing-masing, saling berhadap-hadapan di meja.
Makan malam berlangsung. Makanan lezat kelas atas memenuhi meja.
Karena banyak yang kurang familiar, Ayu memilih menyantap steak yang dari kelihatannya mirip seperti buatannya sehari-hari untuk Arvin.
Beda dari pengunjung lain yang juga membawa pasangan, mereka menyantap sambil asik mengobrol. Sementara Ayu dan Arvin justru diam-diaman, persis seperti sehari-hari saat makan di rumah.
Arvin ingin sekali bicara santai. Apa saja boleh. Hanya saja, sehari-hari di rumah selalu main diem-dieman. Jadinya dia bingung untuk membuka percakapan seperti apa yang menarik.
Padahal dulu ketika masih bersama Aurelia bisa bebas ngobrol santai, tapi dengan wanita di depannya ini, dia dibuat bingung harus bicara apa. Ditambah lagi, Arvin masih belum mau terang-terangan mengakui kalau dirinya sudah menerima Ayu sebagai istri.
Di tengah tegangnya Arvin mencari obrolan yang cocok, Ayu tiba-tiba melontarkan pertanyaan duluan.
“Pak. Boleh nanya sesuatu?”
Arvin meluruskan wajah cepat. “Iya?”
“Saya merasa Bapak bertingkah aneh hari ini.”
“Aneh bagaimana?”
“Terlalu baik…. Saya jadi berpikir seperti dulu lagi, apa bapak sudah menerima aku jadi istri?” Ayu bertanya pelan.
Mulut Arvin sontak menutup rapat. Sorot matanya bergerak tak karuan kemana-mana.
“Saya … berubah baik begini ini hanya ingin berperilaku normal seperti suami pada umumnya.”
“Maksud Bapak?”
“Kau tahu, restoran ini milik temanku. Aku sudah janji mau makan di tempatnya. Aneh kan aku gak ngajak istri sedangkan dia tahu aku sudah punya istri,” bohong Arvin.
“Jadi begitu. Saya kira … maaf Pak Arvin, sudah berpikir seperti dulu lagi.” Ayu menurunkan pandang malu.
Benar juga. Aku hampir lupa soal itu. Lagi-lagi cuma akting. Kenapa aku malah merasa sakit lagi? batin Ayu.
Ayu dari awal memang tidak berharap banyak. Meski begitu, dikecewakan seperti ini lagi, tetap saja mirip seperti dipaksa menelan pill pahit kedua kali. Bikin mual dan muak.
Arvin dapat melihat pancaran kekecewaan di wajah Ayu. Tingkah Ayu mulai seperti orang yang tidak nafsu makan. Arvin termangu melihatnya, lalu mengabaikan dengan melanjutkan makan.
Selesai makan malam, mereka kembali beriringan keluar restoran. Mobil Arvin terparkir di tepi jalan raya.
Ayu hendak membuka pintu mobil sebelum dia mendengar suara anak kucing mengeong.
Suara mungil itu terdengar seperti minta tolong. Ayu segera mencari-cari suara itu.
“Ada apa?” tanya Arvin saat juga hendak buka pintu di sisi lain.
Ayu tidak menanggapi.
Hingga akhirnya, Ayu menangkap sumber suara itu yang ternyata dari tengah jalan raya, tepat di arah belakang Arvin.
Seekor anak kucing putih duduk kebingungan, tidak berhenti mengeong.
Ayu berlari ke kucing itu melewati depan mobil Arvin.
“Ayu mau ke mana!” Teriak Arvin.
Seolah teriakan Arvin tidak penting, Ayu terus berlari hingga sampai di tengah jalan raya, memungut anak kucing itu.
Di arah samping, datang truk melesat datang.
Titit!
“Ayu awas!