NovelToon NovelToon
Petualangan Bintang ( Han Le)

Petualangan Bintang ( Han Le)

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengobati Kepala Desa

Han Le dan Lin Xue saling pandang saat mereka dikepung oleh pengawal Ciu Kun.

"Tetua Lu, biarkan kami yang mengurus mereka," ucap Lin Xue. Ia paling tidak senang melihat pemuda bermata keranjang seperti Ciu Kun. Tangannya terasa gatal ingin menebas kepalanya. Awalnya ia disuruh menjaga Liu Man dan Liu Ruyan, tetapi kedua kakak beradik itu ingin melihat bagaimana Han Le menghajar pemuda bangor itu. Jadi Lin Xue ikut bersama Han Le, sedangkan kedua kakak beradik itu melihat dari luar kedai bersama para warga yang memang tak suka dengan keluarga Ciu yang semena-mena.

"Boleh, tapi kau harus memakai ilmu tongkat yang kau pelajari dari Tetua Han," sahut Tetua Song sambil menyerahkan tongkat bambu hijau yang dipegangnya pada Han Le.

Han Le mengangguk dan menerima tongkat bambu itu.

"Aku akan perlihatkan apa yang aku pelajari dari Kakek Han, dan juga Jurus Tongkat Lohan Kun dari Kuil Shaolin," ucap Han Le.

"Ha ha ha! Kau ingin mengalahkan kami seorang diri dengan tongkat bututmu!" Ciu Kun tertawa mengejek. Ia yang hanya berkeliaran di sekitar desa, tidak tahu akan kebesaran nama Partai Kay-pang.

"Dan kau, mending ikut bersamaku. Nanti kau akan kuberi surga dunia!" lanjut Ciu Kun sambil memandang Lin Xue dengan tatapan penuh nafsu.

"Mati saja kau!" bentak Lin Xue marah. Mukanya memerah mendengar ucapan tak sopan dari Ciu Kun.

"Kau hadapi dia, lampiaskan amarahmu. Biar aku yang menghajar anjing penjaganya," ucap Han Le melihat Lin Xue marah. Ia dengan cepat memasang kuda-kuda Jurus Tongkat Pemukul Anjing, ilmu khas dari Kay-pang yang ia pelajari dari Kakek Han.

"Seraaaang!" teriak para pengawal itu marah karena dianggap sebagai anjing oleh Han Le.

"Hiaaaat!"

"Hiaaaat!"

Gerakan Jurus Tongkat Memukul Anjing memang unik dan lucu, tetapi sangat ampuh. Gerakannya persis seperti memukul anjing yang berusaha menyerang.

Syuuut!

Wuuut!

Bugh!

Plaaaak!

Plaaaak!

"Aduuuh!"

"Aaaaaargh!"

Saat satu pedang mulai menyerang, Han Le bergerak seperti orang yang menggebuk anjing. Satu per satu para pengawal itu terkena gebukan tongkat Han Le. Mereka menjerit kesakitan, ada yang memegangi tangan, kaki, bahu, bahkan kepalanya.

Tak butuh waktu lama, kedai itu dipenuhi oleh suara rintihan. Setiap kali tongkatnya bergerak, seorang pengawal tersungkur dengan tulang kering atau pergelangan tangan yang patah. Kecepatan dan ketepatan Jurus Han Le itu benar-benar di luar nalar para pengawal tersebut.

Sementara Han Le mengurus para pengawalnya, Lin Xue bergerak dengan sangat ringan. Tubuhnya melesat dan mendarat tepat di depan meja Ciu Kun.

"Kau... kau bisa silat?!" Ciu Kun kaget melihat gerakan Lin Xue yang sangat gesit. Ia mencoba mencabut pedang pendek yang tergantung di pinggangnya.

"Trash!"

"Klontraaang!"

Lin Xue dengan cepat menebas sarung pedang yang menggantung di pinggang Ciu Kun, membuat pedang itu jatuh berkelontangan di lantai kedai makan itu.

"Tangan ini yang kau gunakan untuk menyentuh Liu Moy?" tanya Lin Xue dengan nada dingin.

"Ampun... ampun! Aku punya banyak emas! Berapa yang kau mau?!" rintih Ciu Kun dengan wajah membiru karena ketakutan takut tangannya akan ditebas oleh Lin Xue.

Han Le tersenyum pahit. "Emasmu tidak bisa membeli napas yang hampir hilang dari kedua saudara itu. Karena kau suka menggunakan kekuatan untuk menindas, sekarang rasakan bagaimana rasanya menjadi lemah," tegur Han Le. Ia mendekat ke arah Lin Xue dan memberikan satu pukulan ke arah dada Ciu Kun, tepat di titik nadi yang mengontrol aliran tenaga dalam.

"Ban-hoat-kwi-cong!"

Wuuut!

Bugh!

Aaaaargh!

Pukulan Han Le langsung menghancurkan seluruh pusat saraf bela diri Ciu Kun. Mulai saat ini, pemuda sombong itu akan menjadi orang cacat yang bahkan tidak mampu mengangkat cangkir arak, apalagi menendang orang.

Lin Xue kemudian melemparkan Ciu Kun ke lantai bawah, tepat di depan kaki Tetua Lu.

"Paman Lu, serahkan orang ini ke pejabat setempat yang jujur, atau biarkan rakyat desa yang memutuskan nasibnya," ucap Lin Xue sambil mengibaskan tangannya yang tadi memegang Ciu Kun.

"Terima kasih, Taihiap!" Para warga yang melihat itu satu per satu mengucapkan terima kasih pada Lin Xue dan Han Le. Rupanya keluarga Ciu sudah lama menyakiti warga desa, membuat warga desa itu membenci keluarga itu.

"Paman, siapa kepala desa di sini?" tanya Han Le karena ia heran melihat ada orang yang sewenang-wenang di desa tetapi malah membiarkan desa itu dikuasai oleh keluarga Ciu.

"Kepala desa sedang terbaring sakit sejak empat bulan yang lalu, ia diracuni seseorang," sahut salah satu warga dengan menunduk.

"Diracuni? Antar aku kesana," pinta Han Le.

"Baik, mari ikut kami," ucap warga desa itu sambil berjalan duluan.

Han Le dan Lin Xue mengikuti langkah mereka. Han Le dibawa ke sebuah rumah yang berada di pinggir desa, rumahnya sangat kecil. Di depan, seorang anak perempuan berusia 11 tahun sedang menyiram tanaman.

"Ling'er, paman mau menengok kakekmu," kata penunjuk jalan itu pada anak perempuan itu.

"Paman Kwee, ayo masuk. Kakek baru selesai meminum obat," sahut anak perempuan itu.

Mereka masuk ke dalam rumah. Han Le kaget melihat keadaan rumah itu, selain meja, kursi, dan dipan dari kayu, rumah itu kosong melompong.

"Paman, ini rumah kepala desa?" tanya Han Le heran.

"Duduklah dulu, nanti aku ceritakan semua," sahut Paman Kwee. Ling'er menyajikan air putih.

"Koko, Cici, Paman, sekalian silakan diminum," ucap Ling'er sopan.

"Terima kasih, Ling Mei (Adik Ling)," sahut Han Le.

Melihat Han Le dan yang lainnya sudah duduk semua, Paman Kwee baru mulai berbicara.

"Rumah Kepala Cungcu di tengah desa, tetapi semenjak Cungcu sakit, telah digadaikan pada Juragan Ciu. Karena itu, Kepala Desa Ling He sekarang tinggal di sini," tutur Paman Kwee.

"Sepertinya ada yang tak beres?" gumam Tetua Lu. Han Le mengangguk.

"Ini sepertinya berhubungan semua dengan Juragan Ciu," timpal Han Le. Ia mendekat ke arah kepala desa dan memeriksa denyut nadinya.

"Racun Serigala?" gumam Han Le saat memeriksa kondisi kepala desa itu.

"Apa?!" Tetua Lu yang mendengar gumaman Han Le kaget. Racun Serigala adalah tanaman tinggi berdaun lebat dengan bunga berwarna biru atau biru-ungu yang berbentuk tudung. Tanaman ini tumbuh di pegunungan. Efek tanaman ini mempengaruhi jantung dan menyerang syaraf bagi yang terkena racunnya; jantung akan berdetak lebih lambat dan syaraf menjadi kaku.

"Paman Kwee, apa paman tahu Juragan Ciu berasal dari mana?" tanya Han Le, karena untuk memiliki Racun Serigala biasanya orang tersebut mengenal lingkup pegunungan, karena tumbuhan itu membutuhkan udara lembab seperti lembah gunung untuk tumbuh.

"Aku pernah mendengar ia dari Gunung Hengsan," sahut Paman Kwee setelah berpikir beberapa saat.

"Aku akan menyelidiki ini. Paman, tolong carikan bunga Peony dan juga garam," pinta Han Le.

"Bunga Peony ada di halaman rumah Koko, biar aku ambilkan," kata Ling'er dan langsung keluar untuk mengambil bunga Peony, sedangkan Paman Kwee mengambil garam yang diminta Han Le.

Saat bunga Peony sudah di tangan Han Le, dengan cepat Han Le meremas bunga itu dan mencampurkannya dengan air garam.

"Paman, tolong minumkan, dan sediakan ember besar. Paman Ling nanti akan muntah mengeluarkan racun yang ada di dirinya," ucap Han Le. Ia sendiri mendudukan kepala desa dan menempelkan tangannya ke punggung Kepala Desa guna mempercepat proses pengobatan.

"Hoeeeek!"

Setelah beberapa saat minum penawar racun yang dibuat oleh Han Le dan dipercepat dengan pengerahan tenaga dalamnya, Kepala Desa itu memuntahkan cairan berbau busuk dari mulutnya.

"Sudah. Paman Kwee, beri bubur kacang hijau dulu untuk beberapa hari. Kalau ada, kasih gingseng," ucap Han Le.

"Baik, terima kasih Taihiap!" Paman Kwee berdiri dan akan membungkukkan badannya.

"Jangan, Paman. Panggil saja aku Han Le," sahut Han Le membangunkan Paman Kwee.

"Koko, terima kasih sudah mengobati Kongkong," Ling'er berkata dengan ceria melihat kakeknya sudah membuka mata.

"Anak muda, terima kasih," Kepala Desa berkata dengan lirih.

"Jangan sungkan, Paman. Kita sesama manusia harus saling membantu," sahut Han Le merendah.

Malam itu, mereka membuat api unggun di halaman depan rumah Kepala Desa. Para warga yang mengetahui bahwa Cungcu mereka diobati oleh Han Le, satu per satu berdatangan membawa makanan dan juga selimut tebal, termasuk dua kakak beradik Liu Man dan Liu Ruyan.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!