NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Seharusnya Paris cukup luas untuk menyembunyikan satu rahasia kecil, atau setidaknya cukup besar untuk memastikan dua orang yang tidak seharusnya bertemu lagi tidak akan pernah berpapasan di gang yang sama. Mahesa menatap lurus ke arah pintu kayu biru yang baru saja berhenti berayun, namun fokus matanya justru tertahan pada sosok yang kini berdiri mematung di ambang pintu. Ada desiran dingin yang mendadak merayap naik dari ujung kakinya, melewati tulang belakang, dan berakhir sebagai denyutan kencang di pangkal tenggorokannya.

Kotak kayu berisi biji kopi di tangannya mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat. Mahesa bisa merasakan urat-urat di punggung tangannya menegang, mencoba menahan beban itu agar tidak jatuh dan mempermalukannya di depan satu-satunya orang yang paling ia hindari di kota ini. Ia tidak bernapas selama beberapa detik, seolah-olah dengan menghentikan asupan oksigen, ia bisa menghentikan waktu dan membuat sosok di depannya menghilang seperti halusinasi musim gugur.

Felysha Anindhita masih di sana. Cahaya lampu gantung di atas konter menyinari bayangannya, menciptakan siluet yang tampak rapuh namun nyata. Syal wol birunya masih melilit leher dengan cara yang sama seperti malam itu, menutupi jejak luka yang Mahesa tahu persis bagaimana bentuknya di bawah plester. Mahesa menelan ludah yang terasa kering dan pahit. Ia merasa seperti seorang aktor yang naskahnya baru saja direbut paksa di tengah panggung, meninggalkannya telanjang tanpa dialog di depan penonton yang paling ia takuti.

Mahesa perlahan menurunkan kotak kayu itu ke atas permukaan konter. Bunyi duk yang dihasilkan saat kayu bertemu kayu terdengar sangat nyaring di telinganya, seolah-olah suara itu adalah palu hakim yang mengetok vonis atas semua kebohongannya. Ia segera mengalihkan pandangan, menatap tumpukan biji kopi cokelat yang aromanya mendadak terasa menyesakkan. Jemarinya bergerak secara mekanis, mulai merapikan letak botol-botol sirup di dekat mesin espresso, meski botol-botol itu sudah berdiri tegak dalam barisan yang sempurna.

"Kamu... benar-benar ada di sini," suara Felysha terdengar tipis, nyaris menyerupai bisikan yang tertiup angin sepoi-sepoi.

Mahesa tidak langsung menyahut. Ia meraih selembar kain lap bersih dari bawah konter, mulai menggosok permukaan mesin espresso yang sebenarnya sudah mengkilap tanpa noda. Ia butuh gerakan. Ia butuh tangannya melakukan sesuatu agar getaran halus di ujung jemarinya tidak terlihat. Bunyi decit kain yang beradu dengan logam kuningan menjadi satu-satunya penghalang di antara mereka.

"Dunia ini ternyata lebih kecil daripada yang aku bayangkan," jawab Mahesa akhirnya. Suaranya terdengar datar, diusahakan sedingin mungkin untuk membangun kembali tembok yang baru saja runtuh. Ia tidak menggunakan sebutan "Non" kali ini; ia mencoba menjadi barista profesional yang tidak memiliki keterikatan apa pun dengan gadis di depannya.

Felysha melangkah mendekat. Bunyi sepatunya di atas lantai kayu ek yang sudah tua itu terdengar seperti hitungan mundur yang mencekam bagi Mahesa. Gadis itu berhenti tepat di depan konter, meletakkan tas sketsanya di atas kursi rotan di sampingnya. Ia tidak langsung memesan. Ia hanya menatap Mahesa dengan sepasang mata yang tampak begitu jernih, sepasang mata yang tempo hari dipenuhi air mata keputusasaan dan kini dipenuhi oleh rasa tidak percaya.

Mahesa bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, tersembunyi di balik helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Ia membenci situasi ini. Ia membenci kenyataan bahwa Felysha menemukannya di sini, di tempat kerjanya, tempat di mana ia mencoba membangun identitas baru sebagai pria yang jujur. Bayangan Pierre yang sedang tertawa sambil menghitung uang hasil copet di apartemen Rue des Martyrs mendadak muncul di kepalanya, membuat perut Mahesa terasa melilit.

"Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi. Aku sudah keliling daerah ini berkali-kali cuma buat nyari tempat tenang," Felysha berbicara lagi, kali ini nada suaranya sedikit lebih stabil, meski ada getar kegembiraan yang sulit ia sembunyikan. "Terima kasih... buat malam itu. Aku belum sempat bilang makasih yang bener."

Mahesa menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan lap itu di atas meja, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Ia mencoba memasang ekspresi yang paling netral yang ia miliki—sebuah topeng yang sudah ia latih selama dua tahun bertahan hidup di Paris. "Cukup dengan kamu pesan kopi di sini, itu sudah jadi ucapan terima kasih yang lebih dari cukup."

Felysha tertegun sejenak mendengar jawaban yang begitu kaku. Ia merapatkan syalnya, sebuah gerakan otomatis yang Mahesa sadari sebagai tanda bahwa gadis itu merasa tidak nyaman. "Kamu... sibuk ya?"

"Selalu sibuk di jam begini," dusta Mahesa. Kedai sedang sepi, hanya ada mereka berdua dan suara musik jazz instrumental yang diputar pelan dari sudut ruangan. Ia meraih portafilter dari mesin, mengetuk sisa bubuk kopi ke dalam wadah pembuangan dengan bunyi tok-tok yang ritmis dan keras. Ia sengaja membuat suara berisik untuk mengisi kesunyian yang menekan.

Mahesa mengambil takaran kopi baru. Ia memasukkannya ke dalam penggiling, mendengarkan deru mesin penggiling yang memecah biji kopi menjadi bubuk halus. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kopi yang tajam, mencoba mencari ketenangan di sana. Ia sedang menghitung risiko. Berapa besar kemungkinan Felysha akan datang ke sini setiap hari? Berapa besar kemungkinan Pierre akan mampir saat Felysha ada di sini? Pikiran itu membuatnya ingin segera melepas celemeknya dan lari keluar lewat pintu belakang.

"Aku mau pesan kopi. Apa yang paling enak di sini?" Felysha mencoba mencairkan suasana. Ia kini sudah duduk di salah satu kursi tinggi di depan konter, menumpukan kedua tangannya di atas meja kayu.

Mahesa tidak menoleh. Ia menekan bubuk kopi dengan tamper menggunakan tenaga bahunya, memastikan permukaannya rata sempurna. "Semuanya sama saja. Tergantung seleramu."

"Kalau gitu, buatkan apa saja yang menurut kamu cocok buat sore yang dingin begini," ucap Felysha pelan.

Mahesa mulai memasangkan portafilter ke mesin. Bunyi uap yang mendesis saat air panas mulai menembus bubuk kopi memenuhi ruangan. Ia mengambil sebuah cangkir keramik berwarna biru tua—warna yang entah kenapa mengingatkannya pada judul hidupnya sendiri. Sambil menunggu espresso mengalir, ia mengambil botol susu dari kulkas bawah. Ia menuangkan susu ke dalam pitcher logam, lalu menyalakan pipa uap.

Bunyi hiss yang kencang dari pipa uap memberikan Mahesa alasan untuk tidak perlu bicara. Ia berkonsentrasi penuh pada pusaran susu di dalam pitcher, memastikan busanya halus seperti beludru. Ia menyukai proses ini karena proses ini membutuhkan perhatian penuh, memaksanya untuk melupakan sejenak bahwa di hadapannya ada seorang gadis yang hidupnya baru saja ia acak-acak secara tidak langsung.

Setelah susu mencapai suhu yang pas, ia mematikan uapnya. Mahesa mengetuk pitcher ke meja untuk memecah gelembung udara, lalu mulai menuangkannya ke dalam espresso. Ia menciptakan pola rosetta yang sederhana namun presisi di atas permukaan kopi. Ia meletakkan cangkir itu di atas tatakan kayu, lalu mendorongnya perlahan ke arah Felysha.

"Enam Euro," ucap Mahesa singkat.

Felysha meraba tasnya, mengeluarkan dompet cokelat yang Mahesa tahu persis isinya sudah pernah ia sentuh. Ia melihat Felysha mengeluarkan uang kertas sepuluh Euro. Saat Mahesa mengambil uang itu, ujung jarinya sempat bersentuhan dengan jari Felysha yang terasa sangat dingin. Mahesa segera menarik tangannya seolah-olah baru saja tersengat listrik. Ia berbalik menuju mesin kasir, menekan tombol hingga laci uang terbuka dengan bunyi ting yang tajam.

"Ini kembaliannya," Mahesa meletakkan uang koin di atas konter, tidak memberikannya langsung ke tangan Felysha.

Felysha menatap uang koin itu, lalu menatap Mahesa. "Mahesa, kenapa kamu kelihatan... takut?"

Pertanyaan itu menghantam Mahesa tepat di ulu hati. Ia berhenti merapikan sendok, matanya menatap tajam ke arah Felysha. "Takut? Aku cuma barista yang sedang bekerja, Felysha. Kamu pelanggan. Nggak ada yang perlu ditakuti."

"Tapi cara kamu bicara, cara kamu nggak mau lihat mata aku... kamu beda banget sama pria yang di taman malam itu," Felysha menyesap kopinya sedikit, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya. "Kamu kelihatan kayak orang yang lagi menyembunyikan sesuatu."

Mahesa tertawa, sebuah tawa yang dipaksakan dan terdengar hambar. Ia mengambil kain lap lagi, kembali menggosok konter dengan gerakan yang lebih cepat. "Semua orang di Paris menyembunyikan sesuatu. Itu cara kita bertahan hidup di sini. Kamu juga, kan? Kenapa kamu jalan sendirian malam-malam di gang gelap kalau nggak ada yang kamu sembunyikan dari orang rumahmu?"

Felysha terdiam. Serangan balik Mahesa berhasil mengenai sasarannya. Gadis itu menunduk, menatap pola kopi di dalam cangkirnya yang mulai memudar. Ia meraba kalung peraknya, satu-satunya benda yang ia bawa dari Jakarta sebagai pelarian.

"Aku cuma mau jadi diriku sendiri sebentar, tanpa ada yang ngatur," bisik Felysha.

Mahesa merasakan denyut bersalah yang semakin tajam. Ia ingin mengatakan sesuatu yang menenangkan, tapi ia tahu itu akan berbahaya. Semakin ia dekat dengan Felysha, semakin besar kemungkinan rahasianya dengan Pierre akan terbongkar. Ia harus menjaga jarak. Ia harus memastikan Felysha tidak merasa terlalu nyaman di kedai ini.

"Dirimu sendiri itu mahal harganya, Felysha," Mahesa berkata sambil membelakangi Felysha, berpura-pura mengecek stok biji kopi di rak belakang. "Terkadang, harganya adalah rasa amanmu. Kamu sudah mengalaminya sendiri, kan?"

Mahesa bisa mendengar bunyi helaan napas panjang dari arah belakangnya. Ia tahu ia baru saja bersikap kasar, tapi itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka berdua—atau lebih tepatnya, menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran yang sudah di depan mata.

Ia berjalan menuju pintu belakang yang tertutup tirai kain tebal. "Nikmati kopimu. Aku harus ke belakang sebentar untuk mengecek panggangan biji kopi."

Mahesa tidak menunggu jawaban. Ia menyibakkan tirai dan masuk ke dalam ruang penyimpanan yang sempit dan pengap. Begitu tirai tertutup, ia menyandarkan punggungnya pada rak kayu, membiarkan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di atas lantai semen yang dingin. Ia menekan kedua telapak tangannya ke wajah, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.

Di luar, di ruang kedai yang hangat, Felysha duduk sendirian dengan secangkir kopi biru tua. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia anggap penyelamat itu kini sedang gemetar ketakutan di balik tirai. Mahesa menyadari satu hal yang paling mengerikan sore itu: Felysha bukan hanya menemukan kedai kopinya, tapi gadis itu secara tidak sengaja telah menemukan retakan paling besar dalam hidup Mahesa yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Dan Mahesa tidak tahu, berapa lama lagi ia bisa bertahan di balik topeng barista ini sebelum semuanya benar-benar hancur berantakan.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!