NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 34

Yessy berjalan dengan riang melewati halaman rumah Hasna, menembus gang kecil di samping rumah Farida, sambil berdendang, gadis belia itu mengayunkan dua bungkus kerupuk yang baru dibelinya.

Namun, langkahnya terhenti dengan suara lembut Hasna.

“Yes, Ayuk nitip pisang rebus buat Ibu.”

Yessy menoleh cepat, menerima plastik putih berisi beberapa pisang raja rebus.

“Makasih, Yuk,” ucap Yessy sambil nyengir kuda.

Hasna mengangguk pelan, senyum hangat terulas dari wajah teduhnya. Ia lalu berdehem kecil, menekan suaranya agar terdengar biasa. “Ehm, Yes, emang bener, kemarin Bang Rizal ke pabrik pusat buat rapat?”

“Iya, Ayuk Hasna tau dari mana?” Mata sipit Yessy menatap penuh selidik. “Nguping, ya pas saya ditanya sama Wak Farida di warung tadi.”

Satu tangan Hasna terulur, mengusap gemas kepala Yessy, namun ada semburat ketidaksukaan di sorot matanya. “Kok tiba-tiba Ibu sama kamu juga ikut, apa Kak Nadya yang minta?”

Yessy menggeleng cepat. “Abang yang ngajak, Yuk Nadya malah nggak mau awalnya karena Adam baru pulang dari rumah sakit, terus dipaksa sama Bang Rizal,” jawab Yessy.

Mendengar jawaban Yessy, hati Hasna mencelos, matanya memerah, dadanya naik turun—menahan air mata yang nyaris tumpah. Senyum getir terselip di nada bicaranya yang sedikit bergetar.

“Hmm,” Hasna mengangguk pelan. “Ya sudah, sana cepat pulang, nanti keburu dingin itu pisang rebusnya,” ujarnya, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.

Yessy menggaruk kepalanya yang tak gatal, tangannya terangkat setengah, melihat sekilas bungkusan pisang yang diberi Hasna, bibir tipisnya bergumam pelan.

“Perasaan memang sudah dingin ini pisang.”

Gadis belia itu pun kembali berjalan pulang sambil berdendang.

Di dalam rumah, Nadya nampak sibuk menyiapkan sarapan, sesekali netra sendunya melirik Rizal yang bermain dengan Adam di ruang tengah.

Duda satu anak itu nampak berbeda dengan pakaian santai, kaos oblong warna biru tua, celana gunung sebatas lutut, dan rambut setengah basah yang dibiarkan sedikit berantakan, membuat penampilan jauh lebih muda.

“Tumben lama betul Yessy beli kerupuknya,” seru Nadya sambil menghidangkan nasi goreng bawang merah andalannya.

Bu Harmi yang baru saja dari teras menyahut. “Itu baru jalan pulang.” Disusul suara Yessy masuk rumah. “Lama betul, Yes, Abangmu keburu mau ke arel, lo?” lanjut Bu Harmi.

“Di cegat Yu Hasna nitip pisang rebus buat Ibu, terus ditanya-tanya dulu, kemarin dari mana, Abang kenapa nggak jadi ke pabrik pusat, Wak Farida juga tanya-tanya, semua tanya, pusing saya,” sahut Yessy.

Gadis yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Rizal itu langsung meletakkan kerupuk dan pisang rebus yang dibawanya di meja makan, lalu menghampiri Adam.

“Sini, Bang, Adam biar sama Yessy,” ujarnya kemudian.

“Kamu ikut makan aja, Yes. Adam biar nenen sama Ayuk, waktunya nen itu dia, terus tidur.” Nadya yang baru saja selesai menyiapkan sarapan menyahut sambil mengelap tangannya.

“Kamu dulu aja, Nad yang sarapan, Adam juga masih anteng itu,” Rizal turut menimpali seraya menarik kursi meja makan untuknya dan juga Nadya.

“Iya, Ayuk Nadya makan aja dulu, Yessy diet,” seloroh Yessy lalu membawa Adam ke teras depan.

“Bu, sarapan dulu,” lanjut Rizal, memanggil sang Ibu yang kembali sibuk di depan mesin jahitnya.

“Kalian berdua makanlah dulu, Ibu masih kenyang makan bolu pisang yang dibeli Nadya kemarin,” sahut Bu Harmi.

Wanita paruh baya itu memang tak terbiasa sarapan pagi, hanya minum teh dan makan sepotong roti atau rebusan, baru setelah lewat jam sembilan pagi ia akan makan nasi.

Rizal pun mengedikkan bahu, lalu mulai menyuapkan nasi goreng yang sudah disiapkan di piringnya.

“Abang hari ini nggak ke areal?” tanya Nadya di sela-sela sarapan mereka.

“Ke areal, tapi mungkin cuma ngecek aja, belum waktu panen juga. Kenapa?” sahut Rizal balik bertanya.

“Tanya ajalah,” sahut Nadya asal.

“Kirain,” Rizal bergumam pelan.

Suasana pun kembali sunyi, tersisa suara sendok dan piring dan beberapa suapan terakhir yang dimakan tanpa tergesa.

Matahari mulai merangkak tinggi, mengubah langit pucat menjadi kebiruan, suara burung yang sejak fajar saling bersahutan di gantikan aktivitas mesin pemotong kayu di kejauhan. Jalanan mulai ramai dengan motor-motor tua yang baru pulang dari mencari pakan ternak, sebagian baru berangkat menuju perkebunan kopi atau lada yang tersebar hampir di penjuru desa.

Di dalam kamar dengan wangi lavender, Adam baru saja terlelap dari tidurnya, bibir kecilnya masih sedikit terbuka, sesekali berkedut halus—pertanda perutnya sudah kenyang.

Nadya menatap anak susunya dengan lembut, bibirnya mengulum senyum tipis, lalu menyelimuti Adam dengan selimut katun halus bermotif dinosaurus hadiah dari Rizka.

Ia kemudian beranjak dari kasur, membuka laptopnya sambil mendengarkan musik tahun 80an kesukaannya. Lagu Paint My Love dari Band era 90an mengalun lembut, menemani Nadya yang mulai fokus menatap huruf-huruf di proposal skripsi-nya.

Tak selang berapa lama, Rizal muncul di depan pintu.

“Belum beres skripsi kamu?” tanyanya setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Revisi,” sahut Nadya dengan wajah masam.

Rizal manggut-manggut, lalu membaringkan diri di samping sang putra.

“Banyak yang harus direvisi__” Bibirnya menguap di tengah pertanyaannya yang belum selesai, membuat ucapannya sedikit terputus-putus.

“Nggak, cuma kurang jelas aja saya menjabarkan tentang akibat alergi susu formula.” Nadya menjawab tanpa melihat lawan bicaranya. “Biasalah dosen pembimbing, suka cari-cari kesalahan. Ia lalu menoleh pelan. “Abang—”

Ucapannya terputus oleh suara dengkuran Rizal yang mengalun pelan di samping Adam. Sudut bibir gadis manis itu terangkat tipis seraya berdecak kecil.

“Ck, dasar bapak-bapak, perut kenyang kenak bantal langsung molor.”

Ia kemudian meneruskan pekerjaannya, membaca dengan saksama proposal yang baru saja di ketiknya. Jari-jari lentiknya kembali menari lincah di atas keyboard menambahkan beberapa poin yang disarankan dosen pembimbingnya.

Sesekali mata sendunya melirik Adam yang tertidur pulas di dekapan sang Papa. Bibirnya mengulas senyum, batinnya bersemu hangat. Entah mengapa, melihat dua laki-laki yang beberapa bulan memberi warna di hidupnya tertidur lelap, membuat Nadya ingin melihatnya lebih dekat.

Ia kemudian beranjak dari depan laptopnya, berbaring dengan hati-hati di samping sang putra. Tatapannya berpindah perlahan, dari wajah polos Adam ke sosok Rizal—laki-laki yang tak pernah ia sangka bisa menghadirkan rumah untuknya.

Nadya menatap lama, memandang dalam diam, seolah menjaga kedamaian itu dengan tatapan. Satu jarinya terulur—mengusap lembut hidung Adam, lalu berpindah ke depan wajah teduh Rizal, namun gerakannya menggantung di udara saat tiba-tiba laki-laki itu membuka mata, ditambah pekikan keras Bu Sartini yang sudah berdiri di ambang pintu.

“Astagfirullah, kalian berzina?!”

Bersambung

1
haci
aku anterrr padud😩
Anna: Tercium maksud lain🙄
total 1 replies
Yuyun Harti
semangat update kak author
Anna: karna kamu aku semangat 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
pak ilyas ini bener2 iblis berwujud manusia anak swndiri aja mau dia embat
Anna: kira-kira di kasih azab apa enaknya?
total 1 replies
Samsiah Yuliana
knapa pulak ini hah,,,
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Anna: Sudah di jawab sama Andreaz.
total 1 replies
haci
kak lagii tegang kenapa ke skip 😩
Anna: Malem, Kakk ... malem. Buru-buru amat pengen cepet pagi. 🫢🫶
total 3 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho bari baca sedetik sdh bersambung??? macam.mana ni up nya cuma seuprit
Anna: 🫢🫢🫢🫢🫢
total 1 replies
haci
jefri or pak ilyas nii🤣
Ita Nuryani
hayo siap itu ??? bang Rizal bkal cemburu
Anna: cuma panas dingin🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
suara siapa ya.... apakah Rizal kenal??
Anna: Yang jelas bakal bikin Rizal panas dingin 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
Rizaall..... ngga kapok kena bogem lagi ya... 😄😄😄
Anna: udah ganti capitan maut.
total 1 replies
Linceu thea
😂😂 kena deh hasna
Yessi Kalila
wkwk... ketahuan aslinya Hasna... 😄
Anna: Belum semua 🫢
total 1 replies
haci
asikk gosipp kan saja wakk🤣
haci: kapannn upp kak aku bola balee dari pagiii
uda kangenn ihh 😩
total 2 replies
Ita Nuryani
mas duda yg sabar y, jaga iman 🤭
Anna: godaan yang terlalu menggoda. 😖
total 1 replies
SooYuu
waduh
SooYuu
seruuuuu! semangat up thor, selamat sudah berhasil kembali membawa cerita baru. ❤️❤️
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
SooYuu
harus nunggu beberapa bab buat liat garangnya si abang duda ini🤣
SooYuu
owalah yu sar jan😩😩
nayla tsaqif
🤣🤣 Kasihannn bang zal,, pdhl belom setahun lho puasa,, masak gk tahan!
Anna: Namanya juga Kadal. kata Nadya. 🫢
total 1 replies
Rehan Atar
binggung ngk dibaca penasaran dibaca tambah penasarann @efek bersambung rasanya pengen dimumpulin dlu sampe beberapa episode tapii mengatall tak baca lanjutannyaaa 😄😄😄
Anna: harap bersabar, jari sedang berusaha keras. 😖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!