NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:24.8k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 33

5 TAHUN LAGI

Pelukan itu hangat. Terlalu hangat untuk dunia yang dingin.

Lorenzo membiarkan Aria menangis di bahunya. Satu menit dan dua menit. Tangannya tetap melingkar di punggung Aria, ibu jarinya mengusap pelan, menenangkan.

Tapi Aria yang pertama sadar.

Dia merenggangkan pelukan. Perlahan menarik diri dari ceruk leher Lorenzo. Wajahnya basah, mata sembap, napas masih berantakan. Dia menatap pria di depannya seraya mengusap air matanya. Nyata dan masih hidup meski ada goresan di pelipisnya, kemeja kusut, serta bau asap tipis masih menempel. Tapi itu Lorenzo.

“Aku...” Suaranya serak. Dia menelan ludah. “Fabio bilang... ada ledakan di Sisilia. Dan...”

Kata-kata itu terhenti di tenggorokan. Karena kata selanjutnya lebih berat. Tentang ayah dari anak di perutnya, tentang Matteo dan tentang semua salah pahamnya.

Lorenzo menatapnya datar. Mata silver itu membaca Aria seperti buku terbuka. Dia sudah menebak dan selalu berhasil.

“Apa yang kau dengar hari ini?” Tanya Lorenzo bersuara pelan, berat dan serak. Tidak ada emosi, tapi setiap suku kata menusuk.

Aria membuka mulut sedikit ragu dan malu karena sadar bahwa dia sudah salah faham. Dia sudah menuduh Lorenzo, membentak, mengusirnya Dan pria ini malah pasang badan untuk dosa orang lain.

Tepat saat bibir Aria bergerak, ketukan pintu memecah sunyi.

Tok! Tok!

Keduanya menoleh.

Lorenzo berdiri lebih dulu. Langkahnya tenang saat menghampiri pintu lalu membukanya. Dan ternyata itu Fabio yang dengan wajah tidak terbacanya namun penuh ketegasan. “Tuan. Tuan Emilio memanggil Anda di ruangannya. Rumah utama. Dia sudah tahu soal kedatangan Anda.”

Seketika, udara di kamar berubah menjadi dingin.

Mata Lorenzo menyipit tajam, itu semua sudah dia tebak. “Sampaikan padanya aku akan datang.”

“Baik, Tuan.” Fabio menunduk, lalu pergi tanpa suara.

Pintu tertutup. Lorenzo berbalik dan melihat Aria sudah berdiri di depannya, dengan tatapan cemas penuh tanya.

“Ada apa?”

“Tetap di kamar.” Perintah Lorenzo singkat.

Dia hendak melangkah pergi, tapi tangan Aria lebih cepat menahan jemari pria itu dan menggenggam pergelangan tangan Lorenzo erat, menahannya.

Tentu saja Lorenzo menoleh, menatapnya.

“Kembali lah” Bisik Aria. Matanya naik, menatap Lorenzo begitu dalam. “Setelah selesai... kembali lagi ke sini.”

Lorenzo menunduk, menatap tangan kecil yang menahannya. Lalu ke wajah Aria. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, bukan marah ataupun dingin. Sesuatu yang lain, yang sudah lama mati di hatinya.

Dia tidak menjawab, hanya mengangguk sekali dan pelan. Lalu melepaskan genggaman Aria dengan hati-hati, sebelum akhirnya keluar.

Di halaman mansion, dia berpapasan dengan Adriana yang baru keluar dari mobil. Wanita itu baru dari rumah utama, baru selesai bicara dengan Fabio. Melihat Lorenzo, langkah Adriana terhenti, matanya melebar sepersekian detik. Kaget melihat keberadaan Lorenzo.

“Lorenzo.”

Lorenzo tidak berhenti jalan dan menatapnya balik.

“Kau kembali?” Adriana cepat mengatur napas. “Mereka bilang kau....”

“Serangan dan ledakan memang terjadi.” Suara Lorenzo datar. Dia terus berjalan melewati Adriana. “Tapi bukan aku yang tewas.”

Dia tidak menyebut siapa yang tewas. ia tetap berjalan masuk untuk menemui seseorang yang harus bertanggungjawab.

Brakk! Pintu ruang kerja Emilio terbuka. Lalu tertutup.

Emilio langsung berbalik dari jendela. Cerutu kelima mati di asbak. Matanya menyala saat melihat siapa yang masuk.

“Sebuah ledakan hampir saja membunuhku di Sisilia.” Lorenzo buka suara duluan. Nada santai, tapi dinginnya sampai ke tulang Emilio. Dan kini pria itu menghampiri ayahnya tanpa rasa takut.

Emilio tegang, rahangnya mengeras. “Kenapa kau ke Sisilia tanpa izin dariku? Aku masih bos di sini, Lorenzo. Kau tidak menghormati ku.”

Lorenzo melangkah masuk lebih dalam. Tidak duduk, tidak membungkuk. “Karena aku tidak perlu izin untuk ziarah ke kuburan ibuku.” Dia berhenti di depan Emilio berdiri. Senyumnya miring penuh amarah yang tertahan. “Atau haruskah aku bilang... ke kuburan kebohonganmu?”

“Jaga bicaramu!” tegas Emilio hampir berteriak. “Kau pikir kau siapa—”

“Aku pikir aku anak yang akan kau tipu selama dua puluh tahun, Emilio.” Lorenzo memotong. Suaranya naik sedikit, hanya sedikit, tapi ruang kerja itu terasa lebih sempit. “Kau menyuruhku bersumpah, mengabdi dan menebus dosa membunuh ibuku, padahal kita tahu siapa pelakunya.”

Hening.

Wajah Emilio pucat, mulutnya membuka, tapi tidak ada suara. “Kau tidak tahu apa-apa Lorenzo.”

“Aku tahu.” Lorenzo tak berpaling sedikitpun dan masih menatap tajam. “Don Vito tewas dalam ledakan yang kau kirim.”

“Aku bodoh karena selama ini aku menangis tiga hari karena seekor tupai. Dan kau memanfaatkan semua itu. Mengikatku dengan janji konyol.” Dia mencondongkan tubuh. Suaranya semakin pelan dan dalam.

“Kau mengatakan tanpa bukti yang jelas, Lorenzo. Dan kau hanya mendengar dari seseorang yang hubungan darahnya telah rusak dengan Leonor.”

Tanpa pikir panjang, Lorenzo langsung menodongkan pistol ke arah wajah Emilio dengan tatapan dingin dan datar.

Sementara Emilio membeku dan tak bisa berkutik.

“Kau sudah membuatku bersumpah atas nama ibuku, Emilio.” Suaranya serak, tiap kata ditekan. “Dan jika bukan karena nama itu...” Jeda. Jari di pelatuk bergerak sedikit. “Maka aku akan melanggarnya dan menghabisi mu malam ini.”

Darah Emilio turun ke kaki, rasanya tak bisa bernapas bahkan untuk berkedip pun sulit. Emilio hanya menatap lubang hitam di depannya dan mata anaknya yang sudah bukan seperti darah dagingnya sendiri.

“Jadi kau ingin menghabisi ku?”

Lorenzo menatap tajam, cukup lama dia mencengkram erat pistol tersebut, lalu menurunkan pistol itu pelan. “Aku akan bertahan sampai lima tahun lagi. Seperti janjiku.” ucapnya santai.

“Tapi saat lima tahun itu tiba...” Dia menatap Emilio lurus. “Maka aku tak segan membalas mereka yang sudah terlibat. Termasuk istri kedua mu itu.”

Lorenzo berbalik melangkah ke pintu, tidak menoleh sama sekali.

Namun langkahnya terhenti di ambang pintu saat dia hanya menoleh ke kanan. “Kirim saja seseorang untuk menghabisi ku, aku menganggap semua ini akan menjadi permainan, bukan keluarga.”

Pintu dibanting ringan namun cukup untuk bikin semua pajangan di lemari bergetar.

Emilio masih diam. Lalu napasnya lepas dan berat. Dia terhuyung ke belakang, kedua tangan menumpu di meja kerjanya seraya kepalanya menunduk rendah.

Kedua tangannya gemetar dan giginya menggertak.

“HAAAAA!”

SRAKK! BRUAKK!

Kedua tangannya menyapu meja tanpa ragu sehingga asbak, gelas kristal, dokumen, foto berbingkai. Semua terbang, pecah, berserakan di lantai marmer. Dia terengah, dada naik turun, mata merah juga air mata yang tertahan.

Sementara di lorong menuju sayap timur mansion utama, terlihat sepi ketika Lorenzo melangkah panjang dengan tatapan tajam bak ingin melahap siapapun yang dia lihat.

Dari sisi yang berlawanan, Monica berjalan pelan. Gaun tidurnya satin, cangkir teh hangat di tangan, senyum kecil di bibir merahnya. Kabar Lorenzo mati sudah dia rayakan dengan anggur mahal tanpa menunggu kabar selanjutnya.

Hingga dia berpapasan dengan Lorenzo dan saat itu juga.

Pyaarr!!!

Cangkir yang di tangan Monica reflek terjatuh saking kagetnya melihat penampakan Lorenzo di depan matanya. “Awww! Astaga...”

“Lo-Lorenzo?” ucapnya pelan tak percaya, sedikit kesal.

Pria itu melangkah santai, mendekat ke arahnya. “Ada kabar lain untukmu, kau harus mendengarkannya karena ini penting.” kata Lorenzo.

Tentu saja Monica menatapnya dan mendengarkan nya tanpa bisa berkata-kata.

“Segera habisi aku, sebelum aku yang menghabisi mu di lima tahun kedepan.” kata Lorenzo terdengar dingin bak hantu.

Ia melangkah melewati Monica begitu saja, sementara wanita itu terpaku, mata terbuka lebar dan bibir menganga kecil dan kaget.

“Mem... Membunuh..?” gumamnya yang seketika menelan ludah hingga bergegas menuju ke ruangan Emilio.

1
Rahmi Mamimima
Tuh kan.. Brrti mmg fix anak lorenzo
Bkn mateo
vnablu
dasaarrr Vitorio belum menyerahkan juga dia smpe segitunya mau merebut semua aset De Santos...gimana ini mereka udah tau semuanya rencana Lorenzo tentang anak itu
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
nahh kan Adriana ini mengetahui semuanya tapi dia tetep diam karena tidak ingin ada satu orang pun tahu kalau dia melihat semua yang terjadi pintar Adriana lebih baik kamu diam daripada panjang masalahnya 😔😔
Eci Rahmayati: tetep Istikomah ya adrriana biar tidak ikut lits orng mati di tangan Lorenzo
total 2 replies
Kinara Widya
lanjut
Four.: mohon bersabar 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Vitorio dpt dr mana coba trs DNA Aria sm calon bayinya...dasar licik ya....
Four.: dari mana aja asal berhasil 😄
total 1 replies
🌸UmmiMasPutro🌸
jadi lorenzo yg bunuh atas permintaan Emilio, tp kenapa?
kan bisa dgn pura pura metong g harus metong beneran.
kok bisa Emilio nyuruh lorenzo nembak dya
Four.: soalnya Emilio pikir dia udah banyak melakukan dosa kepada putranya sendiri sampai menyuruhnya terikat janji hanya karena kikir akan nikmat dunia alias Monica si cantik jelita itu 😌😁
total 1 replies
Kinara Widya
ternyata anaknya Lorenzo..
Kinara Widya: tapi kok bisa Mattew yg d kira memperkosa aria...apa Mattew LG mabuk dan d jebak kak...padahal yg tanam benih s Loren...atau Matteo sama perempuan lain
total 2 replies
Tiara Bella
lg aman ini musuhnya blm pd keluar lg....vittorio kemana GK ada kabarnya dia sm Adriana
Four.: pindah rumah mungkin /Chuckle/
total 1 replies
Tiara Bella
plot twist bngt kan Emilio yg minta bt ditembak sm Lorenzo....
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
sudah 6 bulan aja... kemana nih musuh-musuh pada masih hidup kan 😄
Four.: MASIHHHH /Scream//Scream//Determined/
total 1 replies
vnablu
haduh mimpi besar kamu Monica yang ada kamu metong duluan sebelum 5 tahun ke depan
Four.: kan mimpi dulu GPP biar seneng 😁
total 1 replies
vnablu
tuhhh kan bener Lorenzo yang bunuh tapii karena Emilio yang memintanya sendiri 😌
Four.: yap, kaget gak luuu 🤭
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
Eci Rahmayati
gundik dmna mana sama aja entah itu di novel ataupun di kehidupan nyata 😔 serakah dan tidak tau diri
Four.: berarti harus welcome sama yang tahu diri aja Yakk 😌🤭
total 1 replies
🌸UmmiMasPutro🌸
tlp larenzo cerita kn
🌸UmmiMasPutro🌸: ish author nih😂
total 2 replies
Mita Paramita
Monica & vitorio pasangan iblis segala macem cara dilakukan buat harta De Santos 🤨
Mita Paramita: bukannya mereka pasangan thor🤣🤣🤣 udah selingkuh lama 🤨🤨🤨
total 2 replies
Kinara Widya
benar kata teresa ...vitorio itu klo nggak ada maksud nggak mungkin menemuimu...mangkanya harus hati2 Aria...karena sangat mencurigakan....semoga Aria baik2 saja
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
monika gigit lidah...lain gigit jari lagi...😂😂😂
Four.: pokoknya jangan gigit orang yaa nanti dikira zombie 😁
total 1 replies
vnablu
lahhh udah punya perusahaan sendiri masih aja kamu mau menguasai De Santos... dasarr serakah 😄
Four.: enggak kok
total 1 replies
vnablu
kayakk pernah denger deh namanya tapi yg cerita mana ya thorrr atau cuma perasaanku aja 🤔🤔😌
Four.: ah masak sih, bukannya suamiku ya/Sly/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!