NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Berondong
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.

‎Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.

‎Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.

‎Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.

Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?

Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Baru?

Sejak pertemuannya dengan Dimas di taman sore itu, Arumi memikirkan banyak hal terkait perasaannya terhadap Dimas. Jika membicarakan tentang perasaan, untuk saat ini, Arumi sedang berusaha sembuh dari luka. Bukan berarti Arumi tak suka. Arumi hanya ingin memastikan dirinya bisa mempercayai seseorang lagi.

Selain itu, posisinya saat ini bukanlah posisi yang akan dengan mudah diterima oleh keluarga pria lajang manapun. Statusnya sebagai janda anak satu telah tersemat padanya sejak pengadilan agama resmi meluluskan gugatan cerainya terhadap Ardi.

Tak akan mudah bagi Arumi jika harus menjalin hubungan asmara dengan status jandanya. Arumi bahkan tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarga Dimas seandainya dia menerima perasaan Dimas.

"Nggak. Nggak mungkin," gumam Arumi.

"Hm? Apanya yang nggak mungkin, Miss?" tanya Angga, rekan kerja Arumi.

"Eh? Oh, nggak. Nggak apa-apa, Mister," kata Arumi sambil tersenyum kikuk. Angga tersenyum.

"Miss Arumi bisa cerita ke saya kalo ada masalah," kata Angga ramah. Arumi tersenyum. Dia tidak mungkin menceritakan tentang Dimas dengan rekan kerja yang belum lama dia kenal.

"Oh ya," kata Angga membuat Arumi sedikit terkejut.

"Gimana kalo nanti kita makan siang bareng, Miss? Ada cafe baru nggak jauh dari sini," ajak Angga tanpa sungkan.

"Eh?"

"Deket kok. Jalan juga sampe," kata Angga.

"Berdua aja?" tanya Arumi ragu-ragu. Angga tersenyum.

"Rame-rame seru kali ya, Miss? Sekalian bisa numpang promo bimbel sekali-kali kedepannya," kata Angga. Arumi tersenyum lalu mengangguk.

"Kalo gitu saya ajak yang lain dulu, Miss," kata Angga lalu berlalu mendekati rekan kerja yang lain.

Arumi menghela nafas, lega. Dia sudah khawatir kalau Angga mengajaknya makan siang berdua. Sejak menjadi janda, dia sangat hati-hati berinteraksi dengan lawan jenis.

'Ini bahkan lebih sulit dari saat masih gadis,'

***

"Lhoh? Yang lain mana?" tanya Arumi pada Angga saat keduanya akan berjalan menuju cafe.

"Mmm... Pada bawa bekal. Ria ada janji makan siang sama cowoknya. Trus Bu Pinkan katanya masih ngurusin kerjaan, nanti nyusul," jawab Angga.

Arumi bingung. Dia tidak ingin terlihat hanya berdua dengan Angga. Dia tak ingin ada rumor yang aneh-aneh tentang dirinya dan Angga.

"Mari, Miss," ajak Angga. Arumi ragu-ragu. Dia ingin menolak, tapi dia terlanjur mengiyakan ajakan Angga tadi.

"Miss?" panggil Angga.

"Ah! I-iya,"

Arumi dan Angga berjalan menyusuri trotoar menuju cafe yang dimaksud Angga. Arumi berusaha menjaga jarak saat berjalan bersama Angga.

Angga menoleh, tersenyum melihat tingkah Arumi yang seperti gadis remaja tengah jalan dengan gebetannya.

"Miss Arumi nggak nyaman?" tanya Angga langsung pada intinya.

"Eh?"

Angga tersenyum.

"Miss keliatan banget jaga jarak sama saya," lanjut Angga. Arumi diam.

"Apa karena saya lebih muda?" tanya Angga lagi, menghentikan langkahnya. Arumi berhenti, menatap Angga yang ternyata tengah menatapnya.

"Saya cuma takut menimbulkan kesalahpahaman," kata Arumi sambil tertunduk.

"Salah paham?" tanya Angga sambil mengerutkan alis. Arumi masih diam tertunduk.

"Kita sama-sama single. Apa yang jadi bikin salah paham, Miss?" tanya Angga, bingung.

Arumi menatap Angga dengan tatapan tak percaya. Arumi yakin, seluruh rekan kerjanya tahu dia adalah single mom —janda anak satu.

"Saya jomblo. Begitu juga Miss Arumi,"

"Tapi saya bukan jomblo biasa,"

Angga menaikkan kedua alisnya, seakan baru tersadar maksud Arumi. Angga maju selangkah, mendekat ke arah Arumi.

"Single mom? I don't really care," kata Angga dengan nada berbisik, sambil menatap Arumi.

"Saya cuma butuh lebih mengenal kamu. Kita cuma butuh saling kenal," lanjut Angga.

"Maaf. Tapi..."

"Arumi?"

Sebuah suara memotong kalimat Arumi. Arumi menoleh. Arumi terkejut melihat Dimas berdiri di depan cafe yang mereka tuju. Sepertinya Dimas baru saja membeli kopi dari sana terlihat dari kantong plastik berisi dua cup kopi yang dibawanya.

"Dimas?"

Dimas berjalan mendekat ke arah Arumi dan Angga.

"Ada masalah?" tanya Dimas sambil menatap Arumi dan Angga bergantian. Arumi menggelengkan kepalanya.

"Kami cuma mau makan siang di cafe Ruang Kopi," kata Arumi, mencoba bersikap tenang, meski perasaannya sedang tak begitu baik. Dimas menatap Angga.

"Oh. Kenalin. Ini Angga, rekan kerja aku di bimbel. Angga, ini Dimas. Dia..."

"Pacar Arumi," kata Dimas sambil mengulurkan tangan ke arah Angga. Arumi menoleh ke arah Dimas. Dimas menatap Arumi sambil tersenyum lebar.

"Ini aku mau ke bimbel kamu," kata Dimas sambil mengangkat kantong plastik berisi dua cup kopi.

"Eh?"

"Tadinya mau kasih kejutan ke kamu. Malah ketemu disini," lanjut Dimas. Arumi terlihat bingung.

"Atau kita makan siang bertiga aja di cafe?" tanya Dimas menawarkan pada Arumi dan Angga. Angga tersenyum kecut.

"Nggak perlu. Saya bisa makan siang sendiri. Mari, Miss," kata Angga lalu berbalik dan berjalan pergi.

Arumi menatap punggung Angga dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Dia suka kamu kan?" tanya Dimas pada Arumi membuat Arumi tersadar Dimas masih di sampingnya.

"Eh?"

"Dia tau kamu punya Kayla?" tanya Dimas lagi. Arumi mengangguk.

"Semua rekan kerja ku tau aku single mom," kata Arumi. Dimas manggut-manggut.

"Dan dia tetep deketin kamu?" tanya Dimas memastikan firasatnya tak salah.

"Entah. Dia hanya bilang butuh lebih saling mengenal," kata Arumi. Dimas menatap Angga yang sudah berjalan jauh.

"Dia punya nyali juga," komentar Dimas sambil menyunggingkan senyuman. Arumi menatap Dimas.

"Soal... tadi..."

"Ah, maaf. Aku jadi ngaku-ngaku pacar kamu. Soalnya aku liat kamu keliatan nggak nyaman sama dia," kata Dimas. Arumi menunduk.

"Atau... kamu... sebenernya..."

"Makasih, Dim. Tapi, aku nggak bisa..."

"Aku udah bilang, aku bakal tunggu. Kamu nggak perlu..."

"Seberapapun aku memikirkannya, jawabannya tetep nggak bisa," potong Arumi. Beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka, menatap mereka.

"Maaf, Dim. Ini bukan hanya tentang perasaan kita," kata Arumi lirih.

"Kayla?"

"Bukan itu saja,"

Dimas terdiam. Dia tahu maksud Arumi. Arumi sudah jelas memikirkan pandangan orangtua Dimas terkait hubungan mereka jika Arumi bersedia menerima perasaan Dimas.

"Soal ayah ibu ku, itu urusan ku," kata Dimas mencoba menenangkan pikiran Arumi.

"Atau soal apapun nantinya, biarkan aku yang tangani," lanjut Dimas. Arumi diam. Dimas mendekat ke arah Arumi.

"Aku cuma pengen tau gimana perasaan kamu ke aku," kata Dimas. Arumi menatap Dimas.

"Soal yang lain, kita hadapi nanti. Sama-sama. Atau kalau kamu nggak sanggup, biar aku aja. Kamu cukup tunggu dan liat," kata Dimas.

"Aku nggak bakal bikin kamu nangis," lanjut Dimas.

Arumi terdiam. Jantungnya sungguh riuh berdetak. Namun, dirinya tak ingin terlena dengan rayuan Dimas. Dirinya masih belum bisa sepenuhnya percaya. Sebagian dirinya masih begitu terluka.

'Cinta saja tak kan cukup, Dim,'

***

1
YuWie
salah Dim..krn kamu speck yg jadi rebutan wanita lajang..ehhh malah kecantol sama arumi..apalagi hari gini keperawanan di cari2... 🤣
YuWie
lhaaa..itu tau arumi gak mikirin kamu... dah sama farida aja yg katamu bikin nap-su mi naik
YuWie
udah gak napsu lagi sama temen ons mu ar
Dessy Azzahrah
Eh kayla...doanya...🤭🤭
Dessy Azzahrah
oalah jebulnya.......😡😡😡
Vivi Zenidar
Ga salah... Dimas
Vivi Zenidar
semoga mama Dimas dapat menerima Arumi
Vivi Zenidar
penyesalan selalu di akhir
Vivi Zenidar
semoga dimas dan arumi bisa bersama
YuWie
jangan maksa Dim.. mbayangke arum kie spt mbak ayu thik2 😁
Vivi Zenidar
pls arumi...... buka hatimu
Nanaiko
jadi keinget awal-awal punya bayi.. 🥺
Vivi Zenidar
Jadi sediiiiih
Nanaiko
Eh Ardi.. kadieu.. kepret ku aing
Purnamanisa: Ardi bingung kak 🤣🤣
total 1 replies
YuWie
telattt pak ardi
Purnamanisa: penyesalan selalu datang terlambat😁😁
total 1 replies
Vivi Zenidar
penyesalan tiada guna
Vivi Zenidar
huuuufttt... semoga arumi tidak salah mengambil keputusan
Vivi Zenidar
cerita nya menarik
Purnamanisa: makasi kak 😊
total 1 replies
YuWie
ya gara2 kamu lah pak..main api, menatap istri malas..rak jelas pak2..sekarang baru kerasa ditinggal.
YuWie
iya yokk..ardi.. istrimu sdh punya bukti kelanjutan ons mu tuh. terus aja berpura2,sdh anyep kenapa dipaksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!