Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Di sebuah tempat terpencil, jauh dari hiruk-pikuk dunia, berdirilah sebuah rumah kecil di kaki pegunungan. Tanah di sana tidak bagus bagi banyak tanaman.
Di tempat terpencil itu, kehidupan berjalan dengan cara yang keras dan tidak pernah benar-benar berpihak pada warganya.
Mereka bertahan hidup dengan apa yang bisa didapatkan dari tanah dan hutan. Gandum ditanam dengan susah paya, sayur liar yang dikumpulkan dari lereng-lereng gunung, dan sesekali mereka berburu untuk menambah sedikit asupan nutrisi mereka.
Namun bahkan hasil dari jerih payah itu... bukan sepenuhnya milik mereka.
Gandum yang seharusnya menjadi sumber makanan utama, justru lebih sering berakhir sebagai kewajiban. Sebagian besar hasil panen harus di serahkan untuk membayar pajak yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Yang tersisa, hanyalah dedak. bagian kasar yang harus di buang, kini menjadi makanan sehari-hari.
Jika musim panen cukup baik, mereka bisa menyisakan sedikit bulir gandum untuk di campur. Itu pun sudah dianggap kemewahan.
Jika tidak, mereka hanya makan dedak. Kering, dan hambar, namun cukup untuk bertahan hidup.
Tak ada yang benar-benar mengeluh, bukan karena mereka menerima keadaan. Melainkan karena mereka tahu, suara mereka tidak akan sampai ke mana-mana.
Di bawah kebajikan yang berat dan tidak adil, mereka tetap menanam, dan tetap bekerja.
Dan bukan untuk hidup lebih baik, tapi agar tetap bisa bertahan hidup.
Kembali ke cerita.....
Di rumah sederhana itu, hiduplah sebuah keluarga kecil. Sepasang suami istri berusia sekitar tiga puluh tahun dan seorang anak perempuan berusia dua belas tahun.
Sore itu, di halaman rumah yang sempit, mereka bertiga tampak sibuk. Sang ayah, Pak Leo, mencangkul tanah yang keras. Bu Raya menyiapkan lubang-lubang kecil, sementara anak mereka, Sofia, dengan hati-hati menanam bibit buah-buahan yang baru saja mereka dapatkan.
Wajah Sofia tampak berbeda dari anak-anak seusianya. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik kemerahan, sebagian bahkan bernanah. Namun di balik itu semua, matanya tetap berbinar penuh harap.
Bibit buah itu bukan sekedar tanaman bagi keluarganya, tapi itu adalah harapan untuk kehidupan mereka kedepannya.
Beberapa hari sebelumnya, Sofia menemukan suatu batu kecil di gunung saat mencari sayur liar. Batu itu berkilau seperti berlian, dingin saat disentuh, dan entah bagaimana terasa hidup.
Dan tanpa dia sadari, batu itu terhubung dengan sebuah sistem misterius AetherShop, dan juga dengan seseorang bernama Zee.
Keluarga kecil itu bukanlah penduduk asli Desa Kabut. Mereka berasal dari Kota, namun kehidupan di kota tidak lagi menerima mereka.
Sofia menginap penyakit aneh yang tidak dapat disembuhkan oleh tabib mana pun. Bukannya mendapat bantuan, keluarga itu justru diusir dengan tidak hormat. Padahal Pak Leo adalah seseorang yang pernah berjasa besar bagi daerah tersebut.
Ketidakadilan itu bahkan menyeret anak sulung mereka. Satria, seorang pemuda berusia dua puluh tahun ke dalam penjara, Satria memberontak kepada kepala Daerah yang dianggapnya kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Sejak saat itu, keluarga kecil itu hidup terasingkan. Bahkan di desa terpencil ini pun, mereka tidak benar-benar diterima. Warga menjauh, takut akan tertular penyakit Sofia.
Di tempat lain, jauh dari pegunungan sunyi itu, suasana yang sangat berbeda tengah berlangsung di Desa Pesisir.
Malam itu, seluruh warga berkumpul dalam sebuah acara syukuran dan makan bersama. Tenda besar berdiri kokoh, lampu-lampu sederhana menerangi wajah-wajah penuh harap.
Zee berdiri di depan mereka, diminta oleh Pak Sam untuk menyampaikan beberapa patah kata. Suaranya tenang, namun hangat. Setelah itu, Pak Sam sebagai kepala desa turut memberikan sambutan singkat sebelum acara dimulai.
Warga mulai mengantri dengan tertib. Tidak ada dorong-dorongan, dan keributan. Para ibu-ibu dengan cetakan melayani sebagian bapak-bapak, sebagian lagi membantu anak-anak kecil agar tetap tenang.
Baru setelah semuanya terlayani, para ibu duduk dan makan bersama.
Suasana penuh rasa syukur, tawa kecil terdengar di sana-sini. Beberapa orang matanya bahkan tampak berkaca-kaca.
Mereka sangat bersyukur, dengan adanya Zee lah mereka bisa merasakan makanan seenak ini, dan semua hal-hal baru.
Namun di tengah kehangatan itu, Zee merasa ada yang kurang. Terlalu sunyi, tidak ada hiburan dan biasa.
Tanpa banyak bicara, Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi AetherShop. Beberapa saat kemudian, Dia memesan sebuah layar tancap besar.
Tak lama kemudian, A1 dan A2 datang membawa perlengkapan tersebut. Mereka dengan sigap memasang layar di tengah lapangan.
Ketika layar menyala, muncullah sebuah drama klasik Kera Sakti. Mulai di putar, warga desa sontak terdiam.
Mata mereka semua terpaku. Sebagian berbisik tak percaya, ada juga yang bertanya-tanya pelan. Namun perlahan, semua larut dalam cerita yang tersaji di hadapan mereka.
Dan malam itu berubah menjadi sesuatu yang tidak terlupakan. Mereka makan, tertawa, dan menonton bersama.
Ketika drama berakhir, makanan pun hampir habis. Tapi masih banyak cukup sisa. Atas permintaan Zee, Pak Sam membaginya secara merata kepada seluruh warga.
Sebelum pergi, Zee memberikan semua perlengkapan yang digunakan tadi kepada Desa Pesisir. Mulai dari peralatan masak, tenda, meja, kursi, hingga layar tancap.
Dia juga memberikan sebuah ponsel kepada Pak Sam, yang telah diisi berbagai film untuk hiburan malam warga.
Tak hanya itu, Zee juga meminta A1 dan A2 untuk memasang tower jaringan internet di desa tersebut, sekaligus memantau perkembangan Desa Pesisir. Dia juga meminta A1 mengajarkan Pak Sam cara menggunakan ponsel dan layar tersebut.
Setelah semuanya selesai, Zee pun pamit pulang.
Langkahnya membawanya kembali ke kapal pesiar. Dia masuk ke dalam kamar, lalu melakukan teleportasi menuju titik tersembunyi nya, jauh dari Desa Rambutan.
Ketika Dia muncul, hari masih sore. Kontras dengan Desa Pesisir yang telah tenggelam dalam gelapnya malam.
Zee menatap sekelilingnya, setelah memastikan tempatnya sepi. Dia pun mengeluarkan mobilnya dan melaju pulang.
Tapi dalam perjalanan pulangnya... ada notifikasi masuk di ponselnya. Dia segera menepi mobilnya sebentar di samping jalan, dan mulai membuka ponselnya.
Terdapat beberapa Pesan yang masuk.
*Selamat atas keberhasilan Nona terhadap perubahan Desa Pesisir.
*Selamat Nona mendapatkan poin tanpa batas.
*Selamat Nona telah membuka Mall Shop tanpa batas
*Selamat Nona mendapatkan ruang penyimpanan tanpa batas, dengan tato mahkota di pergelangan tangan.
"Hah..." kaget Zee, Dia segera memeriksakan tangannya dan betul ada gambar mahkota kecil di pergelangan tangannya.
Zee juga membuka aplikasi AetherShop.
*Poin: Tanpa Batas
*Mall Shop: Tanpa Batas
Setelah itu, Zee mulai mengusap gambar mahkota di pergelangan. Dan benar saja sebuah ruang penyimpanan yang luas tanpa batas.
"Ya ampun, Aku tidak menyangkah mendapatkan semua ini." batinnya
Zee pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.
Saat tiba di rumah, para pekerja tampak baru selesai menikmati teh sore. Mereka segera berpamitan satu per satu.
Zee membalas dengan senyum ringan, sebelum masuk ke dalam rumah.
Di sana, Dia bertemu Bu Maya yang juga hendak pulang.
"Eh, Neng Zee, sudah pulang?" tanya Bu Maya.
"Iya, Bu." jawab Zee singkat.
"Kalau begitu, Ibu pamit dulu ya."
"Iya, Bu."
Setelah itu, rumah kembali sunyi. Zee naik ke lantai dua, membersihkan diri, lalu berganti pakaian. Tubuhnya terasa ringan, tidak lelah, dan bahkan masih cukup berenergi.
Dia turun kembali ke lantai bawah, memastikan semua lampu menyala dan pintu serta jendela terkunci rapat.
Setelah yakin semuanya aman, Dia kembali ke kamarnya. Zee duduk di atas tempat tidurnya mulai memejamkan mata sejenak dan...
Sling!
Dalam sekejap, tubuhnya menghilang. Dan muncul kembali di sebuah kamar apartemen di lantai empat.
Udara di sana terasa sejuk, berbeda jauh dari suasana rumahnya di dunia nyata.
Zee berdiri diam sejenak, menatap ruangan itu.
Zee segera menuruni eskalator menuju lantai bawah. Di setiap lantai yang Dia lewati, matanya menyapu seluruh ruangan dengan teliti. Tak ada yang berubah. Barang-barang disana tetap tersusun rapi, dan bersih, seolah waktu tidak pernah berjalan di tempat itu.
Saat tiba di lantai satu, Zee melangkah keluar dari gedung empat lantai tersebut. Udara luar menyambutnya dengan tenang. Dia berjalan menyusuri area perkebunan dan peternakan yang baru saja Dia dapatkan beberapa hari lalu.
Langkahnya melambat. Dalam diam, pikirannya mulai bekerja.
Dia sadar, dia tidak mungkin terus-menerus datang ke tempat ini. Meskipun ruang ini seakan terjaga dari perubahan, dan tetap seperti semula, rasa penasarannya terhadap perkembangan tempat ini tidak pernah hilang.
Akhirnya, Zee mengambil keputusan. Dia merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Dia membuka aplikasi AetherShop, lalu mulai melakukan pembelian.
Beberapa saat kemudian, muncul dua sosok robot laki-laki dan perempuan di hadapannya, A4 dan A5.
A4 berdiri dengan tegap dan kokoh, sementara A5 memiliki bentuk menyerupai perempuan dengan garis wajah yang halus dan ekspresi yang lebih hidup.
Zee memperhatikan keduanya sejenak, sebelum Dia mengambil keputusan berikutnya.
Dia pun memutuskan menukar A3 robot laki-laki yang selama ini menjadi asistennya., dengan A5.
Dan mulai sekarang, A5 akan mendampinginya di dunia nyata. Sedangkan A3 bersama A4 akan tetap berada di tempat ini. Menjaga, mengawasi, dan memberikan laporan perkembangan secara berkala.
Semuanya mulai terasa lebih teratur, dan terkendali.
Sementara itu, di kota besar, tepatnya di tempat tinggal Daniel...
Supermarket dan hotel yang dia kelola kini berjalan dengan sangat lancar. Buah-buahan yang dia beli dari Zee selalu habis dalam waktu singkat begitu tiba di etalase.
Tak peduli harganya tinggi, permintaannya tetap melonjak.
Para pelanggan, mulai dari warga biasa hingga rekan bisnis, berlomba-lomba mendapatkan buah berkualitas tersebut. Rasanya yang selalu segar dan manfaat dari berbagai buah yang jauh berbeda dari biasanya. Sehingga membuatnya sulit untuk ditandingi.
Namun, kesuksesan itu tidak datang tanpa menarik perhatian.
Di salah satu ruangan kantor yang mewah, seorang pria paruh baya tampak berdiri dengan wajah tegang. Dialah Pak Harto Tarigan, pesaing bisnis keluarga Daniel.
Tangannya mengepal di atas meja.
"Kamu cepat cari tahu, dari mana Daniel mendapatkan buah-buahan itu," perintahnya tajam kepada asistennya.
"Siap, Pak!" jawab sang asisten sigap sebelum segera pergi.
Pak Harto menghela napas panjang, namun amarahnya menyipit penuh kecurigaan.
"Supermarket dan hotel mereka sudah di ambang kehancuran. Hampir bangkrut... Tapi bagaimana bocah itu bisa membalik keadaan dengan begitu cepat?" gumamnya pelan.
Dia terdiam sejenak, dengan rahangnya yang mengeras.
"Pasti ada sesuatu di balik ini semua..."
Dan di saat itulah, benih persaingan yang lebih besar mulai tumbuh diam-diam, tapi berbahaya.