NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Junho sakit.

Hari itu berjalan lebih cepat dari biasanya, meskipun kesibukan di gedung megah itu seolah tak tergoyahkan. Siang itu, pukul satu, Nala sedang berdiri di depan mesin cetak untuk mencetak beberapa konsep yang diminta untuk rapat sore nanti, hingga akhirnya Yoohan datang mendekat lalu bicara pelan dan datar.

“Bisa bicara sebentar?” ujarnya.

Nada suaranya yang tiba-tiba membuat Nala buru-buru mengangguk walaupun masih terkejut.

“Iya, Yoohan-ssi?” ujar Nala bingung.

“Begini,” Yoohan menatapnya sejenak sebelum melanjutkan. Nada suaranya tetap datar seperti biasa, namun kali ini terdengar sedikit ragu, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. “Junho tidak masuk hari ini. Katanya sakit kepala cukup parah setelah semalaman menyelesaikan demo,” lanjutnya yang membuat Nala mengerutkan kening.

“Oh… semoga tidak apa-apa. Tapi—”

Ucapan Nala terhenti karena Yoohan memotong pelan.

“Masalahnya, ada file konsep revisi yang dia bawa pulang tadi pagi. Rapat sore ini butuh file itu, dan sistem server belum diunggah ulang,” ujarnya yang membuat Nala menatap bingung.

“Bukannya bisa minta staf administrasi mengurusnya?” tanya Nala hati-hati. Ia tahu betul prosedur LYNX—semua akses data milik artis harus melalui jalur resmi.

Yoohan menarik napas pendek, menatap ke arah ruangan manajer yang tampak kosong.

“Biasanya iya. Tapi Manajer Han sedang di luar kota, dan Soojin belum kembali dari lokasi syuting. Aku sudah mencoba menghubungi Junho, tapi dia tidak menjawab. Hanya membalas pesan singkat tadi pagi—bilangnya file itu ada di meja ruang tamunya.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap Nala lagi.

“Karena proyek ini dipegang langsung oleh timku dan kamu termasuk tim inti—juga kamu yang terakhir bekerja dengannya semalam—aku ingin kamu mengambil file itu. Aku akan kirimkan surat izin akses sementara agar bagian keamanan apartemen mengizinkanmu masuk,” ujarnya yang membuat Nala langsung menegakkan tubuhnya.

“Aku?” Suaranya terdengar pelan, tetapi jelas memuat nada gugup.

Melihat itu, Yoohan mengangguk pelan.

“Aku tahu ini di luar rutinitasmu, tapi tak ada pilihan lain. Selain itu, kamu yang paling tahu format konsepnya—jadi bisa langsung memastikan file-nya benar sebelum kubawa ke rapat,” ujarnya.

Nala diam beberapa detik, berusaha mencerna kalimat itu. Rasanya janggal—bukan karena ia menolak, tapi karena situasinya terasa terlalu… pribadi.

Pergi ke apartemen Junho?

Itu bukan hal yang biasa bagi seseorang sepertinya.

“Apakah… tidak masalah kalau aku—” ujar Nala, bahkan sebelum sempat menyampaikan alasannya untuk menolak.

“Sudah kukirim formulir akses dan alamat apartemennya lewat pesan internal,” potong Yoohan tenang. “Dan jangan khawatir, aku sudah beri laporan ke bagian legal supaya tidak menyalahi kontrak NDA-mu. Ini murni urusan pekerjaan,” lanjutnya.

Nada suaranya terdengar final, tetapi tetap sopan. Ia menatap Nala sejenak, lalu menambahkan dengan nada sedikit lebih lembut.

“Ah, dan satu lagi. Kalau kamu tiba di sana dan dia belum membuka pintu, masuk saja. Aku akan kirimkan sandi apartemennya. Pastikan dia baik-baik saja, tapi jangan buat keributan apa pun. Aku tidak ingin kabar sakitnya jadi masalah di tengah jadwal yang padat ini. Mengerti?” ujarnya mewanti-wanti.

Nala terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil. Jelas, sekeras apa pun ia mencoba, ia tidak akan bisa menghindari perintah ini.

“Baik, Yoohan-ssi,” jawab Nala pelan.

“Bagus,” ujar Yoohan singkat, lalu berbalik pergi.

Nala masih berdiri di depan mesin cetak, menatap lembar-lembar kertas yang belum sempat diambil. Suara mesin perlahan berhenti, menyisakan denging samar di antara pikirannya yang mulai bercampur—antara gugup, canggung, dan sedikit penasaran.

Setelah Yoohan meninggalkannya, Nala menatap kertas di atas mesin printer lalu mengambilnya. Ia menghela napas panjang, merasa hari ini kemungkinan besar akan menjadi hari yang panjang juga.

Sebenarnya Nala malas pergi ke sana—itu pasti melelahkan. Belum lagi ia harus menghadiri rapat sore ini. Benar-benar melelahkan.

Namun tetap saja ia tidak bisa menolak.

Dengan langkah berat ia berjalan kembali ke mejanya, melewati beberapa karyawan lain di ruangan itu. Eunsook yang melihatnya sekilas tampak heran, lalu akhirnya bertanya.

“Kamu kenapa, Nala-ssi? Kulihat wajahmu tertekan seperti itu setelah bicara dengan Yoohan-ssi?” tanyanya dengan senyum menggoda.

“Tidak, Eonni. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” ujarnya sembari tersenyum kecil, berusaha terlihat biasa saja.

Eunsook mengangguk pelan, meskipun matanya masih menyimpan rasa penasaran.

Nala berjalan ke mejanya dan meletakkan kertas hasil cetakan itu dengan hati-hati. Ia lalu mulai mengambil beberapa barangnya—tas kecil, ponsel, serta kartu akses yang biasa tergantung di tepi meja.

Melihat itu, Jeongin yang mejanya memang bersebelahan dengannya langsung menoleh.

“Kau mau ke mana, Nala?” tanyanya bingung melihat Nala membereskan beberapa barangnya dengan tergesa.

“Aku ada tugas negara,” ujarnya bercanda, mencoba terdengar santai.

Jeongin mengernyit semakin bingung.

“Apa?” tanyanya lagi, benar-benar tidak mengerti.

“Nanti aku ceritakan. Aku harus pergi sekarang,” ujar Nala cepat sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Jeongin yang masih memandangnya dengan ekspresi penuh tanda tanya.

Mobil hitam  itu melaju pelan menyusuri kawasan elit Gangnam-gu, di mana setiap gedung tampak seperti karya arsitektur yang dirancang untuk diam—mahal, sunyi, dan berwibawa. Nala menggenggam kemudi dengan kedua tangan, tatapannya fokus tapi gelisah.

Langit di luar mulai beranjak ke arah sore, bias cahaya matahari memantul di kaca jendela mobil, menimbulkan pantulan keemasan di wajahnya yang tampak lelah. Ia menatap sekilas pesan yang dikirim Yoohan di layar ponselnya—alamat apartemen, kode akses sementara, serta catatan singkat:

“Ambil file di meja ruang tamu, pastikan dia baik-baik saja.”

Nala menghela napas panjang, antara lelah dan juga bingung. Terkadang dia berpikir ingin berhenti bekerja, tapi jelas itu keputusan bodoh karena kalau dia berhenti sebelum masa kontrak habis itu sama saja membuat kekacauan untuk hidupnya sendiri. Berurusan dengan hukum LYNX Entertainment rasanya pilihan terburuk.

“Baik-baik saja, katanya… kalau tidak baik-baik saja, aku harus apa?” gumamnya lirih, lebih kepada diri sendiri.

Begitu mobilnya berhenti di depan gedung yang menjulang elegan dengan logo “Lotte Signiel Residences”, ia terdiam beberapa detik. Bangunan itu tampak seperti dunia lain—tempat yang hanya bisa dimasuki mereka yang terbiasa hidup di atas awan. Petugas keamanan berpakaian hitam menghampirinya dengan tatapan profesional.

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya nya dengan bahasa Korea, Nala yang memang sudah sedikit banyak mengerti langsung mengangguk buru-buru menunjukkan kartu identitas karyawan LYNX serta dokumen izin akses yang dikirim Yoohan.

“Saya, Nala Aleyra. Dapat izin akses sementara dari Manajer Produksi Yoohan-ssi untuk mengambil dokumen kerja milik Kim Junho-ssi,”  ujar nya.

Petugas itu menatapnya beberapa detik sebelum memindai kode di layar ponselnya. Beberapa detik kemudian, sistem keamanan berbunyi pelan dan layar monitor menampilkan tanda hijau.

“Silakan, apartemen 47-B. Gunakan lift pribadi di koridor sebelah kiri. Waktu akses Anda terbatas tiga puluh menit,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk cepat.

“Terima kasih.”

Nala menghela nafas panjang, langkahnya bergema lembut di lantai marmer putih. Lift berlapis kaca itu membawa dirinya naik dengan kecepatan nyaris tak terasa—tapi dada Nala justru terasa makin sesak.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca, mencoba tersenyum, namun hanya menemukan wajah yang canggung dan sedikit gugup. Ia menatap ujung jarinya yang bergetar pelan.

“Tenang saja, ini cuma ambil file. Tidak lebih,” gumam nya.

Begitu pintu lift terbuka, lorong panjang berkarpet abu lembut menyambutnya. Nala berhenti sejenak di depan pintu dengan angka 47-B terukir rapi di pelat logam. Ia mengetik kode akses yang sempat di berikan Yoohan dan menunggu bunyi klik lembut sebelum perlahan membuka pintu.

Aroma lembut dari diffuser ruangan langsung menyambut—campuran sandalwood dan citrus yang khas, aroma yang entah kenapa langsung mengingatkannya pada ruangan studio malam tadi.

Apartemen itu luas, minimalis, tapi hangat. Semua tertata presisi: rak buku, piano digital di pojok, dan tumpukan kertas musik di atas meja ruang tamu.

Nala melangkah pelan. Sepatu hak datarnya nyaris tak menimbulkan suara di lantai marmer mengkilap itu. Ia menatap sekeliling, mencari file yang dimaksud Yoohan, sebelum perhatiannya berhenti pada satu hal—suara. Suara napas yang terdengar tidak beraturan dari arah sofa.

Nala menoleh cepat, namun mata nya membulat saat melihat Junho duduk di sana, tubuhnya sedikit terkulai, kemeja putihnya kusut, rambutnya berantakan. Wajahnya tampak pucat nyaris sewarna tembok di belakangnya.

“Junho-ssi?” panggil Nala pelan, ragu apakah sebaiknya ia bicara. Tapi pria itu menoleh lambat, seolah baru sadar ada orang lain di ruangan.

“Nala-ssi?” suaranya parau, nyaris tak terdengar, Nala melangkah lebih dekat.

“Yoohan-ssi menyuruh ku mengambil file revisi demo… kamu baik-baik saja?” tanya nya bingung sekaligus tanpa sadar dia merasa khawatir, tapi Junho tersenyum kecil, tapi senyum itu lebih mirip guratan kelelahan.

“Aku hanya sedikit pusing. Tidak apa-apa…” ujar nya sembari menggeleng pelan. Matanya tampak sayu dan kulitnya terasa terlalu pucat untuk sekadar “tidak apa-apa”.

“Harusnya kamu istirahat saja di kamar, aku sudah di beritahu Yoohan-ssi juga,” ujar Nala pelan takut salah bicara.

Junho menggeleng pelan.

“Tidak perlu. Aku sudah… menaruhnya di sana.” Ia menunjuk ke arah meja, tapi gerakannya goyah.

Dia hendak berdiri dengan gerakan lemah Nala spontan menahan lengannya agar tidak kehilangan keseimbangan. Ia merasakan suhu tubuh Junho yang hangat—terlalu hangat.

“Akhh maaf, tubuh kamu panas, duduk saja, aku akan ambil sendiri,” ucapnya tanpa sadar, nada khawatir terselip dalam suaranya.

Dia melepaskan tangan nya dari lengan Junho segera menunduk cepat. Junho mencoba tersenyum lagi.

“Mungkin hanya demam ringan. Aku—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, setetes merah tiba-tiba jatuh di punggung tangannya. Nala terpaku. Butuh satu detik untuk menyadari bahwa itu darah—darah segar yang menetes dari hidung Junho.

“Junho-ssi!” seru Nala cepat, panik langsung menyambar.

Ia menatap pria itu yang kini terlihat kehilangan fokus. Junho sempat ingin berdiri, tapi tubuhnya limbung, pandangannya kabur, dan sebelum ia sempat memegang sandaran sofa, tubuhnya sudah jatuh ke depan.

Refleks, Nala menangkapnya tubuh Junho terasa berat, hangat, dan tidak bergerak. Dia menyangka Junho pingsan tapi pria itu menggigil hebat,  Nala tidak mengerti apakah itu normal bagi orang pingsan atau Junho sebenarnya tidak pingsan, tapi mata nya terpejam dan darah terus mengalir dari hidungnya.

“Junho-ssi! Hei—Junho!” panggilnya panik, menepuk pipi pria itu dengan tangan gemetar.

Tidak ada respon, hanya napas berat yang keluar dari bibirnya. Nala menahan tubuh itu dengan kedua tangannya, berusaha menurunkannya perlahan ke lantai agar tidak terbentur. Napasnya sendiri kini memburu cepat. Ia melirik sekitar—pusing, bingung harus berbuat apa.

“Ya Allah… aku bahkan tidak tahu harus hubungi siapa… bagaimana ini,” gumamnya terburu-buru.

Tangannya gemetar mencari ponsel di tas, tapi pandangannya sempat terhenti sejenak di wajah Junho yang kini benar-benar dekat—terlalu dekat. Pucat, lelah, tapi tetap tampak tenang seolah tidur di tengah badai. Nala menelan ludah, mencoba menepis detak jantungnya yang berdentum keras di dada.

“Fokus, Nala, fokus… kau harus selamat kan dia, apapun itu,” Ia menekan nomor darurat internal SOLIX yang memang dia dapat jika terjadi sesuatu yang urgent, dia bisa menghubungi itu.

"Hallo... " Ujar suara di seberang sana.

"Ini Nala, saya bagian tim kreatif penulisan inti untuk SOLIX, bantu saya tolong," ujar nya dengan suara bergetar.

"Baik... Tenang, apa yang terjadi? Tolong jelaskan pelan pelan," ujar nya di sebrang sana.

"Saya di rumah  Junho-ssi, sedang mengambil beberapa file pekerjaan, yang di minta oleh Yoohan-ssi... Tapi saat sampai, beliau tiba-tiba pingsan, saya tidak tahu beliau benar benar pingsan atau tidak karena tubuhnya sangat panas menggigil hebat dan ya keluar darah dari hidung nya,"  ujar Nala menjelaskan setenang mungkin suaranya hampir pecah di akhir kalimat.

Beberapa detik kemudian, suara operator menenangkan di ujung sana menjawab cepat, berjanji segera mengirim bantuan. Nala menatap lagi sosok Junho yang masih tak sadarkan diri di pelukannya.

Hening.

Hanya suara detak jam dinding dan napasnya sendiri yang terdengar di antara paniknya.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pria itu—Junho tidak tampak seperti bintang besar. Idolanya itu tidak tampak seperti leader SOLIX yang berkarisma dan penuh kendali.

Saat itu, yang Nala lihat hanyalah seorang manusia—lemah, rapuh, dan terperangkap dalam diam yang menakutkan.

Suara jam dinding di ruang tamu terasa begitu nyaring di antara keheningan yang menggantung. Hanya deru napas Junho yang berat dan tak beraturan yang terdengar, disertai dengusan pelan setiap kali tubuhnya menggigil.

Nala masih berlutut di samping sofa, wajahnya pucat tapi matanya tak beranjak sedikit pun. Tadi dia mengira Junho hanya pingsan karena kelelahan, tapi tubuh pria itu terus bergetar tak terkendali. Sekujur kulitnya terasa panas, seolah demam tinggi tengah melanda, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia menatap bingung, antara ingin menolong dan takut menyinggung batas yang tak seharusnya ia lewati. Aku tak boleh menyentuhnya, aku hanya staf, pikirnya. Tapi begitu melihat darah di hidung Junho kembali menetes, nalurinya mengalahkan semua ketakutan itu.

“Ya  Allah…” gumamnya pelan, buru-buru meraih tisu basah dari tas kecilnya. "Maaf... Aku tidak bermaksud menyentuh mu," ujar Nala .

Tangannya bergetar saat ia mengusap darah di wajah Junho — lembut, hati-hati, seolah setiap sentuhan bisa memecahkan pria itu. Ia bahkan menahan napas sendiri, takut suaranya saja bisa mengganggu ketenangan yang rapuh di ruangan itu.

Kulit Junho terasa panas di bawah jemarinya. Panas yang tidak wajar. Nala menatap wajah itu—pucat, bibirnya kering, alisnya berkerut menahan sakit dalam tidurnya.

Pria itu tampak berbeda dari yang biasa ia lihat di kantor: tidak ada wibawa, tidak ada jarak, tidak ada aura bintang panggung yang memukau… hanya manusia yang kelelahan sampai nyaris tumbang.

Ia menoleh sekeliling, panik dengan pelan dan hati-hati dia menurunkan kepala Junho ke bantal sopa yang dia letakkan di lantai, untuk mengangkat pria itu jelas dia tidak mampu jadi mau tak mau Nala membiarkan tubuh Junho tergeletak di lantai beralaskan karpet tebal itu. Lalu bergegas ke dapur, membuka lemari pendingin tanpa berpikir panjang, meraih air mineral dan sepotong es batu kecil dari freezer.

“Ya ampun, aku minta maaf karena masuk ke dapurmu... Jujur aku hanya ingin ambil air,” katanya cukup keras — bukan untuk menjelaskan pada siapa pun, tapi lebih untuk mengurangi rasa bersalahnya sendiri.

Tak ada jawaban. Junho tetap terbaring di sana, napasnya semakin berat. Nala menelan ludah, lalu menenggelamkan sapu tangannya ke dalam air dingin.

“Setidaknya ini bisa sedikit menurunkan panasmu…” bisiknya pelan, meski tahu pria itu tak mendengar.

Nala kembali melangkah ke ruang tamu dengan wajah tegang, membawa semangkuk air dingin dan saputangan basah yang kini menetes perlahan di jemarinya. Suara langkahnya begitu hati-hati, seolah takut menciptakan bunyi yang bisa memecahkan keheningan mencekam di ruangan itu.

Pria itu masih terbaring di lantai, keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara rona pucat di wajahnya semakin kentara di bawah cahaya lembut dari lampu gantung.

“Junho-ssi…” panggil Nala lagi, kali ini lebih pelan namun dengan nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

Tidak ada jawaban. Hanya desahan berat dan gemetar halus di ujung jarinya saat ia menyentuh pergelangan tangan Junho, mencoba memastikan bahwa detak jantungnya masih ada. Jantungnya sendiri seolah berhenti ketika merasakan betapa panas kulit pria itu di balik sentuhan lembutnya.

"Maaf ya... Aku harus melakukan ini... Maaf kalau aku lancang," ujar nya dan dengan napas bergetar, Nala memeras sedikit saputangan basah itu lalu meletakkannya di dahi Junho, gerakannya lembut dan ragu, seolah menyentuh sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh.

“Kenapa bisa separah ini…” gumamnya lirih, jemarinya bergetar saat menyeka sisa darah yang menodai bagian bawah hidung Junho.

Ia menelan ludah, rasa canggung dan khawatir saling beradu dalam dada. Pikirannya berteriak agar menjauh—bahwa ini sudah melampaui batas profesional seorang staf terhadap idol besar seperti Kim Namjunho. Tapi hatinya… tidak tega. Tidak mungkin ia membiarkan seseorang dalam kondisi seperti itu sendirian.

Darah nya sudah sedikit berkurang, karena Nala terus menyeka nya dengan tisu basah nya. Tapi tumpukan tisu berwarna merah itu seolah menjadi saksi jika pria ini sedang tidak baik, dia berdiri perlahan untuk membuang bekas tisu itu ke tempat sampah lalu setelah nya  kembali duduk di lantai, lututnya menempel ke karpet, kedua tangannya memegangi sapu tangan itu agar tak bergeser.

Matanya terus menatap Junho dengan campuran cemas dan tak percaya — entah karena situasi yang dihadapinya, atau karena dirinya sendiri yang bisa begitu berani untuk menyentuh sosok sepopuler itu tanpa memikirkan konsekuensinya.

Suara detik jam terdengar lebih keras dari biasanya. Udara dingin dari pendingin ruangan bahkan tak mampu menutupi panas yang membakar telapak tangannya saat ia menyentuh kulit Junho lagi, menyesuaikan posisi tubuh pria itu agar lebih nyaman.

“Ya Tuhan… kalau aku tahu begini, aku tidak akan menolak saat ditawari bantuan Yoohan-ssi tadi, bagaimana jika aku tidak ada,” desisnya, matanya sempat menatap sekeliling apartemen megah itu—semuanya tampak rapi dan sunyi, terlalu kontras dengan sosok yang terbaring lemah di tengah ruangan.

Ia menatap wajah Junho yang tampak tenang dalam pingsannya, namun pucatnya membuat Nala semakin panik. Sekilas, bayangan tentang pria itu di ruang latihan—tegas, karismatik, dan nyaris tak tersentuh— pria yang dulu hanya bisa dia lihat di layar kembali berkelebat di kepalanya, membuat kontras situasi kini terasa begitu menusuk.

Tanpa sadar, Nala kembali berbisik, suaranya nyaris seperti doa yang keluar di antara kekalutan, tangan nya bergerak mencelupkan sapu tangan itu ke air dingin lagi sebelum memeras nya dan menempelkan nya lagi di kening Junho, nafasnya masih berat tapi dia tak menggigil sehebat tadi.

“Tolong sadar, Junho-ssi… setidaknya agar aku tahu harus berbuat apa.”

Dan di tengah keheningan itu, suara langkah tergesa dari luar ruangan terdengar—tim medis yang dipanggil sudah tiba. Tak lama bunyi bel terdengar Nala dengan cepat berdiri kearah pintu dan membuka pintu apartemen itu lagi.

Begitu tim medis memasuki ruangan, Nala bergeser memberi ruang. Wajahnya pucat, masih menyimpan sisa kepanikan, namun pandangannya terus menempel pada sosok Junho yang kini ditangani dengan cepat dan terampil. Suara peralatan medis, instruksi singkat, dan langkah-langkah terburu-buru mengisi ruang tamu mewah itu.

“Tekanan darahnya menurun, suhu tubuh tinggi,” ujar salah satu petugas. Yang lain menambahkan.

“Mungkin kelelahan berat. Tubuhnya memaksa untuk berhenti,” sahut nya.

Kata-kata itu menancap di kepala Nala, membuat dadanya mengeras. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan napasnya yang masih tersengal. Ada perasaan bersalah yang samar — karena datang dengan rasa enggan, tapi kini malah diliputi kekhawatiran yang tak ia pahami sepenuhnya.

Ketika tim medis mulai menenangkan situasi, Nala melangkah mendekat. Ia menunduk sedikit, suaranya pelan dan nyaris tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk kecil itu.

“Tolong… jaga dia baik-baik. Jangan biarkan sendirian,” ujar nya pelan namun cukup di dengar oleh para tim medis.

"Baik... Anda tidak perlu khawatir kondisi nya sudah membaik, beliau hanya perlu istirahat dan semuanya akan kembali membaik, kami akan pasang infus juga," ujar nya yang membuat Nala mengangguk.

Dia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu meluncur begitu saja. Refleks, murni dorongan hati yang tak sempat difilter oleh logika.

"Terimakasih banyak, Saya tida bisa berlama-lama di sini, karena masih ada pekerjaan. Terimakasih," ujar Nala.

Petugas medis itu hanya mengangguk sopan mereka memang tim medis yang di miliki oleh LYNX jadi Mala tidak perlu khawatir pada apapun lagi, setelah nya Nala menunduk sedikit sebelum berbalik.

Langkahnya terasa berat saat meninggalkan apartemen itu. Aroma antiseptik dari tas medis masih menempel di hidungnya, bercampur dengan sisa dingin udara ruangan yang belum sepenuhnya hilang dari kulitnya.

Begitu pintu lift tertutup, ia menghela napas panjang — kali ini benar-benar lelah. Bukan hanya tubuhnya, tapi pikirannya yang masih menolak diam. Bayangan wajah Junho dengan darah yang menetes di bawah hidungnya terus berputar di kepala.

Di dalam mobil, tangan Nala bergetar halus saat menyalakan mesin. Ia menatap selembar file yang tergeletak di jok penumpang — file yang tadi ia bawa dari meja Junho, tujuan awalnya datang ke sana.

Rasanya jauh sekali dari prioritas, namun ia tahu ia harus kembali ke kantor. Sebuah rapat penting menunggunya sore ini, dan hidupnya tak pernah memberi ruang bagi emosi untuk berlama-lama.

“Fokus, Nala. Kau hanya diutus bekerja,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan denyut tak beraturan di dadanya.

Dia benar-benar masih tidak menyangka jika dia akan melihat pria yang dulu dia idolakan dan kagumi di televisi bisa dia lihat secara langsung bahkan dalam keadaan yang tak pernah dia bayangkan.

Mobil itu perlahan melaju meninggalkan kompleks apartemen elit yang penjagaannya begitu ketat. Di kaca spion, gedung tinggi itu masih terlihat — megah, dingin, dan sunyi. Dan entah kenapa, bahkan setelah mobilnya melaju jauh, Nala masih merasa seolah sesuatu dari dalam sana… sedang menatap kepergiannya.

Tak lama kemudian akhirnya Nala sampai di gedung tersebut udara sore di lantai sepuluh LYNX terasa lebih berat dari biasanya. Ruang rapat dipenuhi cahaya lembut dari jendela kaca besar, memantulkan siluet setiap orang yang sibuk memeriksa berkas, mempersiapkan presentasi, dan menyesuaikan posisi laptop mereka di meja panjang berlapis marmer abu itu.

Nala duduk di kursinya, berusaha menatap layar, tapi pandangannya terus kabur. Setiap huruf di layar seakan menari tak tentu arah, mengabur di antara pikirannya yang belum juga tenang.

Suara-suara di sekelilingnya terasa jauh — seolah datang dari balik dinding tebal. Yoohan menjelaskan sesuatu tentang pembagian komposisi, Jeongin mengangguk dari sisi lain meja, dan hoseung sesekali memberi instruksi tegas.

Tapi Nala hanya menatap kosong ke arah gelas air di depannya, jemarinya tanpa sadar menggenggam pulpen hingga buku catatannya penuh dengan coretan acak tanpa makna.

Gambar wajah Junho terus muncul dalam benaknya. Pucat. Lelah. Dan tubuhnya yang menggigil hebat, seolah panas itu menyiksa sampai batas terakhir. Ia bahkan masih bisa mengingat dinginnya air di ujung jarinya saat menempelkan sapu tangan basah ke dahi pria itu.

Suara panggilan lembut membuyarkan lamunannya.

“Nala-ssi?” panggil Yoohan yang membuat Nala tersentak kecil, buru-buru menegakkan punggungnya. Semua mata kini tertuju padanya.

“A—ah, ya?” suaranya terdengar terlalu pelan untuk ukuran ruang rapat yang formal.

Yoohan menatapnya dengan ekspresi cemas, lalu menatap Manajer Han sebelum akhirnya berbicara.

“Kami tadi sedang membahas tentang struktur bridge lagu Eclipse Memory. Biasanya kau yang memberikan masukan bagian ini, Nala-ssi. Kenapa hanya diam ? Ada yang salah?" Tanya nya memastikan.

"Tidak... Tidak apa-apa, maafkan aku..." Ujar nya menunduk cepat.

"Baiklah... sekarang fokus pada meeting bisa?" Tanya Yoohan tegas.

“Oh, ya…” Nala menunduk cepat, berusaha mencari berkas di depannya yang sebetulnya sudah ia baca berkali-kali. Tapi pikiran dan jemarinya terasa tak sinkron. “Maaf, aku hanya sedikit... kelelahan,” ujarnya pelan, mencoba tersenyum sopan.

Beberapa rekan kerjanya saling bertukar pandang — tak ada yang menegur, tapi juga tak ada yang melewatkan perubahan halus itu. Biasanya Nala selalu jadi orang pertama yang membuka diskusi, yang suaranya ringan namun tajam menembus ruangan. Sekarang, ia hanya diam, sesekali mengangguk, tapi matanya tak benar-benar melihat.

Yoohan akhirnya melanjutkan pembahasan, tapi dari posisi duduknya, ia sempat menangkap pandangan samar Nala yang jatuh ke arah jendela — ke arah langit Seoul yang mulai meredup. Pandangan yang jauh dan berlapis kegelisahan.

Nala menghela napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas ia teringat pada tangan Junho yang dingin di bawah sentuhannya, dan suara berat napas pria itu yang sempat membuat dadanya sendiri sesak.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!