NovelToon NovelToon
Petualangan Bintang ( Han Le)

Petualangan Bintang ( Han Le)

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ouw Tok Ong

Rumah Juragan Ciu berdiri megah di pinggiran Sungai Baihe bagian hulu. Gerbangnya kokoh dan terbuat dari besi tebal.

"Taihiap, ini rumah Juragan Ciu," salah satu warga berkata memberitahukan pada Tetua Lu.

"Ayo kita ke sana!" ucap Tetua Song yang memang berangasan.

"Berhenti!"

Baru saja mereka melangkah mendekat, satu seruan keras terdengar. Dari balik gerbang, empat centeng dengan tubuh kekar dan penuh otot menghadang di depan gerbang.

"Siapa kalian dan mau apa kemari?!" tanya seorang centeng dengan kasar.

"Panggil Juraganmu! Kami ingin bertemu!" bentak Tetua Song.

"Pergilah! Jangan mencari gara-gara di sini, nanti tulang tuamu yang sudah rapuh itu akan patah," ejek seorang centeng karena melihat Tetua Song yang kurus tinggi.

"Plaaak!"

"Aaaargh!"

Baru saja ia selesai berbicara, satu tamparan keras membuatnya terpelanting jauh.

"Kurang ajar kau, kakek renta!" Centeng yang terpelanting tadi berteriak marah melihat Kakek Song berdiri diam di tempat awal dia berdiri. Ternyata Kakek Song yang memang berangasan tak mampu menahan emosi dan langsung menampar centeng itu.

"Mulutmu bau seperti comberan. Aku harap tamparan tadi bisa menghilangkan baunya," Tetua Song menjawab dengan enteng sambil mengelap tangan yang baru saja ia pakai menampar.

"Seraaaang dia!"

Bukannya sadar, centeng itu malah menyuruh temannya menyerang Tetua Song.

"Hiaaaat!"

"Hiaaaat!"

"Wuuuut!"

Centeng-centeng itu bergerak mengepung Tetua Song dan yang lainnya.

"Biarkan aku menggerakkan tulang tuaku ini. Kalian minggir dulu," Tetua Song meminta yang lainnya menjauh. Ia maju sambil memutar tongkat bambunya.

"He he he, majulah. Tongkatku sudah lama tak mendapat korban," lanjut Tetua Song berkata sambil terkekeh.

"Hiaaaat!"

"Wuuuut!"

"Tak!"

"Plaaaaak!"

"Aduuuuh!"

Satu orang mencoba menyerang, tetapi dengan santai Tetua Song menangkis dan menyerang balik dengan satu tamparan keras, membuat centeng yang menyerangnya tadi terpelanting tak sadarkan diri setelah menjerit kesakitan.

"Kau mau mencoba?" tanya Tetua Song sambil menunjuk centeng yang tersisa dengan ujung tongkatnya.

Ketiga centeng itu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka sedikit gentar melihat gesitnya gerakan Tetua Song.

"Ha ha ha, aku tak menyangka di desa kecil seperti ini tiga tetua Kay-pang bisa hadir bersamaan."

Saat para centeng itu sedang tegang, satu suara terdengar dari dalam rumah. Pintu gerbang besi yang kokoh itu berderit nyaring, terbuka perlahan menyingkap sosok pria kurus dengan jubah berwarna ungu tua yang menjuntai hingga ke tanah. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung dengan rona kebiruan di sekitar kelopak mata — tanda bahwa ia adalah orang yang bermain dengan racun sepanjang hidupnya. Di tangannya, ia memegang sebuah kipas bulu gagak yang sesekali dikibaskannya, menyebarkan aroma harum yang aneh dan menusuk hidung.

"Siapa kau?!" bentak Tetua Song, matanya menyipit waspada. Sebagai tokoh kawakan, ia bisa merasakan aura kematian yang sangat pekat dari pria ini.

"He-he-he... apakah tiga tetua Kay-pang sudah begitu pikun hingga tidak mengenali Ouw-tok-ong (Raja Racun Hitam)?" Pria itu terkekeh, suaranya seperti gesekan ampelas pada kayu.

Mendengar nama itu, Tetua Lu dan Tetua Chen tersentak. Wajah mereka berubah tegang. "Ouw-tok-ong... Tan Kiat! Tokoh sesat yang sepuluh tahun lalu menghilang setelah membantai satu keluarga di kota Luoyang?" seru Tetua Lu.

"Tepat sekali, Tetua Lu. Juragan Ciu adalah keponakanku yang berbakti. Dia memberiku tempat bernaung yang nyaman untuk melanjutkan penelitian racunku. Dan kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikan racun baru yang kuberi nama Hek-coa-san (Serbuk Ular Hitam). Sangat pas jika kalian bertiga menjadi kelinci percobaanku," ucap Tan Kiat sambil menutup kipasnya dengan suara pletek yang tajam.

"Ouw-tok-ong! Jadi kau yang meracuni Kepala Desa Ling hingga ia lumpuh dan menderita selama berbulan-bulan?" tanya Han Le yang sejak tadi mengamati dari belakang. Ia teringat cerita penduduk desa tentang penderitaan Kepala Desa Ling yang malang.

Tan Kiat melirik Han Le dengan tatapan menghina. "Bocah ingusan, kau tahu apa tentang seni racun? Kepala Desa Ling itu terlalu banyak ikut campur urusan bisnis keponakanku. Kematian yang lambat adalah hadiah yang pantas untuknya."

"Bangsat! Manusia iblis!" Tetua Song tak bisa lagi membendung amarahnya. Karakter pengemis tua ini memang seperti api yang disiram minyak. "Lu-heng, Chen-heng, biarkan aku yang menghajar tikus got ini!"

Tetua Song melesat maju dengan kecepatan yang mengagumkan. Tongkat bambu hijaunya berputar menciptakan pusaran angin yang kuat. Ini adalah jurus Kek-tung (Mengaduk Samudra). Ia tahu lawannya mahir racun, maka ia menggunakan putaran tongkat untuk menciptakan tameng angin agar serbuk racun tidak bisa mendekatinya.

Wuuuut! Wuuuut! Wuuuut!

Tan Kiat tetap berdiri di tempatnya. Begitu tongkat Tetua Song hampir mengenai kepalanya, ia mengibaskan lengan bajunya yang lebar.

"Pufff!"

Segumpal asap hitam keluar dari lengan baju itu. Tetua Song yang sudah waspada segera mengubah gerakannya di udara. Ia melakukan salto ke belakang, menghindari kepulan asap tersebut. Benar saja, saat asap itu mengenai daun pintu gerbang yang terbuat dari besi, besi itu langsung mendesis dan menghitam, tanda korosi yang sangat kuat.

"Berhati-hatilah, Song-te! Jangan sampai kulitmu tersentuh asapnya!" teriak Tetua Lu memperingatkan.

Tetua Song mendengus. "Jangan meremehkan kakek tua ini!"

Ia kembali menyerang, kali ini dengan teknik Sin-coa-kang (Tenaga Ular Sakti). Tongkatnya mematuk-matuk dengan sangat cepat, mengincar titik-titik saraf di tubuh Tan Kiat. Tan Kiat bergerak dengan licin, tubuhnya seolah-olah tidak bertulang, meliuk-liuk menghindari patukan tongkat Tetua Song.

"He-he-he, lambat sekali, kakek pengemis," ejek Tan Kiat. Tiba-tiba, dari sela jari-jarinya, ia melepaskan lima buah jarum halus berwarna ungu yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.

"Awas senjata gelap!" seru Han Le.

Tanpa sadar, Han Le menggerakkan tangannya, melepaskan sebuah kerikil kecil dengan tenaga dalamnya.

"Ting! Ting!"

Dua jarum terpental oleh kerikil Han Le, sementara tiga lainnya berhasil ditangkis oleh Tetua Song dengan ujung tongkat bambunya. Namun, Tetua Song terkejut saat melihat ujung tongkat bambunya yang biasanya sangat keras kini mulai nampak layu dan lunak seolah-olah membusuk.

'Ilmu racunnya sudah mencapai tingkat tinggi, ia bisa merusak benda mati!' batin Tetua Song. Ia segera menyalurkan tenaga dalam murni ke tongkatnya untuk menahan laju pembusukan tersebut.

Melihat Tetua Song mulai kesulitan, Tetua Chen dan Tetua Lu bersiap maju, namun Han Le menahan mereka sejenak. "Tetua, biarkan saya membantu. Tenaga murni Kiu-yang milik saya adalah musuh alami dari segala jenis racun dingin dan hitam."

Han Le melesat maju, namun ia tidak langsung menyerang. Ia menggunakan teknik Liau-lian-pau untuk memutari arena pertempuran. Setiap kali Tan Kiat hendak melepaskan racun, Han Le melepaskan hawa panas dari telapak tangannya untuk membakar racun tersebut di udara sebelum sempat menyebar.

"Siapa kau sebenarnya, bocah?!" Tan Kiat mulai gusar. "Hawa panas ini... dari mana kau mempelajarinya?!" serunya kaget.

Han Le memiliki latihan keras saat kecil bersama ayahnya, Arya. Hanya saja karena dulu masih kecil, ia baru bisa mempelajari dan mengembangkan tenaga panas Kiu-yang ini, sedangkan tenaga Es miliknya belum cukup matang usianya untuk dikeluarkan.

"Aku adalah mimpi buruk bagi orang-orang sepertimu!" jawab Han Le tegas.

"Syuuut!"

Tetua Song melihat celah. Saat Tan Kiat teralih perhatiannya oleh Han Le, ia menusukkan tongkatnya dengan jurus In-liong-chit-sat (Naga Tersembunyi Tujuh Kematian). Tongkat bambu itu meluncur lurus ke arah ulu hati Tan Kiat.

Tan Kiat yang terdesak terpaksa mengeluarkan jurus simpanannya, Hek-tok-ciang (Telapak Racun Hitam). Tangannya berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau bangkai yang menyengat. Ia menghantamkan telapak tangannya ke arah ujung tongkat Tetua Song.

"BOOM!"

Benturan tenaga dalam terjadi. Tetua Song terdorong mundur tiga langkah, wajahnya agak memucat karena hawa dingin racun merayap masuk melalui tongkatnya. Sementara itu, Tan Kiat juga terpental, tangannya gemetar karena panas yang disalurkan oleh Han Le secara tidak langsung.

"Keponakanku! Keluar dan habisi mereka!" teriak Tan Kiat ke arah dalam rumah.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!