Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kehamilan Prita yang baru menginjak usia dua bulan ternyata membawa kejutan lain: ngidam yang sangat spesifik.
Sore itu, di dalam kamar mess, Prita duduk di tepi ranjang dengan wajah memelas, menatap Abraham yang baru saja pulang kerja dengan baju penuh noda oli.
"Mas, Prita pengen banget makan Ronde titipan di Alun-alun Kidul Yogyakarta. Yang hangat, kolang-kalingnya banyak, dan jahenya terasa pedas," ucap Prita dengan nada yang sangat meyakinkan.
Abraham yang sedang melepas sepatu boot-nya langsung tertegun.
Jarak dari mess mereka di Jawa Timur ke Yogyakarta bukan perjalanan singkat.
"Yogyakarta, Dik? Itu jauh sekali. Dik, Mas nggak bisa libur minggu ini. Proyek di Gondanglegi lagi masa commissioning, Mas harus ada di lapangan terus," jawab Abraham dengan nada menyesal.
Prita terdiam sebentar, lalu dengan nekat ia berdiri dan mulai merapikan tas kecilnya.
"Ya sudah, kalau Mas tidak bisa antar, aku berangkat sendiri saja, Mas."
Abraham langsung berdiri, rasa lelahnya mendadak hilang berganti panik.
Ia memegang pundak Prita, mencoba menahan gerakan istrinya.
"Tapi Dik, Mas khawatir. Kamu itu sering mual, jalanan ke Jogja itu jauh dan macet. Bagaimana kalau kamu pusing di jalan?"
Prita mendongak, menatap suaminya dengan tatapan keras kepala khas ibu hamil yang sedang menginginkan sesuatu.
"Mas, aku bisa berangkat sendiri naik bis, ucap Prita" dengan nada tegas.
"Prita sudah besar, Mas. Prita bisa jaga diri. Lagipula naik bis malam kan nyaman, Prita bisa tidur."
Abraham mengacak rambutnya frustrasi. Ia tahu kalau Prita sudah berkata seperti itu, sulit untuk dibantah.
Di satu sisi, ia takut terjadi apa-apa dengan "calon kaptennya" di perjalanan, namun di sisi lain, ia benar-benar tidak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya.
"Naik bis sendirian itu bahaya buat orang hamil, Prita. Nanti kalau bisnya ngerem mendadak bagaimana? Atau kalau kamu butuh apa-apa?" suara Abraham merendah, penuh kecemasan.
Prita meraih tangan Abraham, mencoba menenangkan suaminya.
"Mas Ham percaya sama Prita, ya? Prita cuma mau makan ronde itu saja. Habis makan, Prita langsung pulang lagi kok.
Abraham terdiam seribu bahasa. Ia menatap perut Prita, lalu menatap wajah istrinya.
Ia tahu, jika ia melarang terlalu keras, Prita bisa stres, dan itu juga tidak baik untuk janin mereka.
Abraham menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada keinginan kuat sang istri. Ia tahu, melawan keinginan ibu hamil yang sedang mengidam hanya akan membuat Prita stres, dan itu jauh lebih berbahaya bagi janin mereka.
Dengan langkah berat, Abraham melangkah menuju lemari kayu mereka.
Ia membuka laci kecil yang terkunci rapat, tempat ia menyimpan uang tabungan dari "pemberian" ibu tirinya tempo hari.
Ia menghitung lembaran uang berwarna merah itu dengan teliti, lalu menyerahkannya kepada Prita.
"Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi janji sama Mas, jangan angkat yang berat-berat di jalan," ucap Abraham sambil menyodorkan uang tiga juta ke tangan Prita.
"Ini buat ongkos, buat beli Ronde sepuasmu, dan buat jaga-jaga kalau kamu butuh taksi atau menginap di hotel yang bagus kalau kecapekan. Jangan irit-irit, yang penting kamu dan calon kapten nyaman."
Prita tertegun melihat jumlah uang yang cukup banyak itu, namun ia segera menyimpannya ke dalam dompet dengan rasa syukur.
"Terima kasih, Mas Ham. Mas jangan khawatir terus, Prita akan sering-sering kasih kabar lewat telepon."
Abraham tidak menjawab, ia justru sibuk menyiapkan jaket tebal dan botol air minum untuk bekal istrinya.
"Ayo, Mas pakai motor saja biar cepat sampai ke Malang. Mas antar kamu ke Terminal Arjosari sekarang. Kalau naik bus dari pinggir jalan, Mas makin tidak tenang."
Prita menganggukkan kepalanya patuh. Ia mengenakan helmnya sementara Abraham memanaskan mesin motor di halaman mess.
Suasana di Terminal Arjosari sore itu cukup ramai. Abraham menggandeng tangan Prita sangat erat menuju loket bus eksekutif tujuan Yogyakarta.
Ia memastikan Prita mendapatkan kursi paling depan agar kakinya bisa selonjoran dan tidak terlalu mual karena guncangan.
"Ingat, kalau sampai Jogja langsung kabari Mas. Jangan jalan kaki jauh-jauh, pakai taksi online saja," pesan Abraham berkali-kali saat bus mulai menyalakan mesinnya.
Prita tersenyum manis dari balik jendela bus,
melambaikan tangannya ke arah suaminya yang berdiri mematung di peron terminal dengan wajah yang masih tampak sangat berat melepaskannya pergi sendirian.
Suasana Terminal Arjosari masih membekas di benak Abraham.
Lambaian tangan Prita dari balik kaca bus eksekutif tujuan Yogyakarta tadi terus terbayang, membuatnya merasa ada yang hilang di jok belakang motornya.
Dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan sayang, Ham kembali ke mess dengan kecepatan rendah, memikirkan bagaimana ia harus melewati malam sendirian tanpa omelan manja istrinya.
Namun, begitu roda motornya memasuki halaman mess, firasatnya mendadak buruk.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam
terparkir tepat di depan kamarnya—mobil yang sangat ia kenali.
Sesampainya di sana, ia dikejutkan dengan kedatangan orang tuanya.
Ayah Abraham berdiri mematung di dekat pintu dengan wajah serba salah, sementara sosok wanita di sampingnya tampak meledak-ledak.
"Bagus ya! Pulang kerja jam segini, istri entah ke mana, dan kamu malah asyik keluyuran!" suara melengking itu memecah keheningan sore di mess.
Ibu tiri Ham marah besar. Matanya berkilat penuh amarah, tangannya gemetar menahan emosi yang sudah memuncak sejak ia menginjakkan kaki di sana.
"Apa yang kamu lakukan di lapangan kemarin, Abraham?! Kamu membuat Diana menangis sampai sesenggukan pulang ke rumah! Dia itu anak baik-baik, bidan terpandang, dan dia datang jauh-jauh hanya untuk memberi perhatian padamu!" teriak ibu tirinya tanpa memedulikan tatapan teknisi lain yang mulai mengintip dari balik jendela mess.
Abraham turun dari motor, melepaskan helmnya dengan gerakan tenang namun rahangnya mengeras.
Ia menatap ibu tirinya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dia menangis karena dia tidak tahu diri, Bu," jawab Abraham dingin.
"Sudah saya katakan, saya punya istri. Tapi Ibu terus memaksanya masuk ke dalam hidup saya. Kalau dia sakit hati, itu bukan salah saya, tapi salah Ibu yang memberinya harapan palsu."
"Kurang ajar kamu! Ibu melakukan ini demi kebaikanmu! Lihat mess ini, kumuh! Istrimu itu cuma bisa bikin kamu susah, sampai kabur-kaburan segala! Mana dia sekarang? Sembunyi?" cecar ibu tirinya sambil hendak menerobos masuk ke dalam kamar.
Abraham segera pasang badan, menghalangi pintu kamarnya dengan lengan kekar.
"Prita tidak ada. Dia sedang pergi mencari ketenangan karena ulah Ibu dan video-video sampah itu. Dan satu hal lagi yang perlu Ibu tahu..."
Abraham menatap ayahnya yang hanya diam membisu, lalu kembali menatap ibu tirinya dengan tajam.
"Istri saya sedang hamil. Jadi, tolong berhenti mengganggu kami sebelum saya benar-benar memutus hubungan dengan keluarga ini demi keselamatan anak saya."
Mendengar kata "hamil", ibu tiri Abraham tertegun sejenak, namun wajahnya justru semakin memerah karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh anak tirinya sendiri.
"Hamil? Mungkin saja bukan anak kamu, Abraham!" ucap ibu tiri Ham dengan nada meremehkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menyakitkan.
"Ingat kan, dia itu sempat kabur sendirian ke Gunung Kawi? Siapa yang tahu dia bertemu siapa di sana? Perempuan kalau sudah nekat kabur dari rumah, apa saja bisa dilakukan."
Darah Abraham seolah mendidih hingga ke ubun-ubun.
Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang hampir meledak.
Ia melangkah satu tindak maju, membuat ibu tirinya sempat tersentak mundur karena intimidasi dari tubuh kekar sang anak tiri.
"Cukup, Bu!" bentak Abraham dengan suara rendah yang bergetar karena emosi.
"Hina saya sesuka Ibu, tapi jangan pernah sekali pun Ibu menghina kesucian istri saya dan darah daging saya sendiri!"
Ayah Abraham yang sedari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara dengan nada gemetar.
"Sudahlah, Ma, jangan bicara sembarangan. Itu keterlaluan."
"Keterlaluan apa, Pa? Kita harus realistis! Anak ini terlalu polos, gampang dibodohi perempuan kampung itu!" sahut ibu tirinya, masih tidak mau kalah.
Abraham menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Ia teringat Prita yang saat ini sedang duduk di dalam bus menuju Yogyakarta, berjuang melawan mual demi menuruti ngidamnya.
Ia tidak boleh goyah oleh fitnah ini.
"Ibu dengar baik-baik," ucap Abraham, kini suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan.
"Uang sepuluh juta yang Ibu kasih ke Prita buat nyuruh dia pergi? Sudah saya masukkan ke tabungan calon anak saya. Dan fitnah Ibu barusan? Itu adalah alasan terakhir saya untuk melarang Ibu menginjakkan kaki di mess ini lagi."
Abraham menunjuk ke arah mobil sedan hitam itu.
"Silakan pergi. Sebelum saya kehilangan rasa hormat saya sepenuhnya sebagai anak kepada orang tua."
Ibu tirinya terperangah, tidak menyangka Abraham akan seberani itu mengusirnya.
Dengan langkah kasar dan wajah memerah padam, ia masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu.
"Awas kamu, Abraham! Kamu akan menyesal sudah membela perempuan itu!" teriaknya dari balik kaca mobil yang perlahan mulai melaju meninggalkan halaman mess.
Abraham berdiri mematung, menatap debu yang ditinggalkan mobil tuanya.
Dadanya masih terasa sesak. Di saat istrinya sedang berjuang dengan kehamilan pertamanya, justru keluarganya sendiri yang memberikan luka paling dalam.