NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Langkah Pertama Meilina

Pagi itu, suasana di kantor pusat Wicaksana Corp terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena ada perubahan besar yang terlihat secara langsung, namun orang-orang berbicara lebih pelan. Tatapan saling bertukar lebih sering. Dan bisik-bisik kecil terdengar di hampir setiap sudut ruangan.

Sebuah kabar telah menyebar bahkan sebelum pengumuman resminya keluar. Langit Wicaksana akan mengambil alih posisi Direktur Utama Wicaksana Insurance. Dan yang lebih mengejutkan,  Direktur Operasional yang baru adalah Meilina Arvantara.

Di lantai paling atas gedung itu, ruang rapat utama sudah terisi. Beberapa jajaran direksi duduk dengan wajah serius. Map-map laporan terbuka di depan mereka, namun perhatian mereka jelas tidak sepenuhnya ada di sana.

Pintu ruang rapat terbuka. Langit masuk dengan langkah tenang. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi apa pun. Semua mata langsung tertuju padanya. Beberapa orang mengangguk hormat. Langit membalas dengan anggukan kecil sebelum duduk di kursi utama.

Belum ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya ketika pintu kembali terbuka. Dan kali ini, Meilina masuk. Wanita itu berjalan dengan langkah percaya diri. Wajahnya tenang. Seolah beberapa hari lalu, pembatalan pertunangan tidak pernah terjadi. 

Namun saat matanya bertemu dengan Langit, ada sesuatu yang berubah. Sangat kecil tapi cukup terasa. Ia berjalan menuju kursi di sisi kanan Langit. Duduk dengan tenang.

“Selamat pagi,” ucapnya ringan.

Langit hanya mengangguk. “Pagi.” Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Hanya profesionalitas. 

Rapat dimulai.  Salah satu direktur senior membuka pembicaraan dengan suara formal. “Hari ini kita akan membahas restrukturisasi manajemen Wicaksana Insurance, termasuk perubahan posisi Direktur Utama dan Direktur Operasional.”

Langit membuka map di depannya. Matanya bergerak cepat membaca beberapa halaman sebelum akhirnya berbicara. 

“Perubahan ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” katanya tenang. “Ini langkah yang memang harus diambil.”

Tatapannya bergerak menyapu seluruh ruangan. “Perusahaan berada dalam kondisi yang tidak stabil. Dan kita tidak punya banyak waktu untuk memperbaikinya.”

Beberapa kepala mengangguk. Namun tidak semua. Meilina bersandar sedikit di kursinya. Mendengarkan. Mengamati.

Langit melanjutkan, “Mulai hari ini, semua keputusan strategis akan langsung berada di bawah koordinasi saya. Dan operasional akan ditangani oleh Direktur Operasional baru… Meilina Arvantara.”

Semua mata kembali tertuju pada wanita itu. 

Meilina tersenyum tipis. Lalu membuka map di depannya. “Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” katanya tenang.

Suaranya lembut. Namun terasa seperti sesuatu yang lebih tajam dari itu.

Rapat berlangsung hampir dua jam. Pembahasan demi pembahasan berjalan cepat. Strategi baru. Pemangkasan proyek. Evaluasi risiko. Dan beberapa keputusan yang cukup berani.

Sepanjang rapat itu, satu hal menjadi jelas bagi semua orang. Langit memimpin dengan tegas dan tanpa ragu. Dan Meilina selalu berada di sisinya. Menambahkan. Menguatkan. Menyempurnakan. Seolah mereka sudah bekerja bersama sejak lama.

Rapat akhirnya selesai. Satu per satu orang keluar dari ruangan. Namun Langit tetap duduk di tempatnya. Menutup map di depannya perlahan.

“Strategimu tidak berubah,” suara Meilina terdengar.

Langit tidak langsung menoleh. “Tidak perlu berubah.”

Meilina tersenyum tipis. “Langsung memotong yang tidak perlu.”

“Efisien.”

“Kejam,” koreksi Meilina ringan.

Langit akhirnya menoleh. “Dalam bisnis, itu sering kali hal yang sama.”

Meilina tertawa kecil.

Hening sejenak.

Meilina menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku tidak menyangka kita akan berada di posisi seperti ini.”

Langit berdiri dari kursinya. “Aku juga.”

“Namun sekarang kita di sini,” balas Meilina menatap lurus ke arah Langit. 

Langit menatapnya datar. “Ini hanya pekerjaan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat senyum Meilina memudar sedikit. “Bagimu mungkin,” katanya pelan.

Langit tidak menanggapi. Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum Langit sepenuhnya keluar, Meilina kembali bersuara.  “Langit.”

Langit berhenti, tapi tidak menoleh.

“Aku akan menjalankan tugasku dengan baik,” lanjut Meilina. Nada suaranya kembali profesional namun terasa tidak tulus. 

Langit menjawab singkat, “Pastikan itu.”

Lalu ia keluar.

Siang itu, berita tentang perubahan manajemen mulai menyebar ke luar.

Portal bisnis memuat headline besar.

“Langit Wicaksana Resmi Ambil Alih Wicaksana Insurance”

Dan tidak lama setelah itu…

“Kolaborasi Langit Wicaksana dan Meilina Arvantara Jadi Sorotan”

Foto mereka saat rapat pagi tadi ikut tersebar. Dua sosok dengan latar belakang kuat. Dua nama besar. Dan satu posisi yang membuat mereka berdiri berdampingan.

🥀🥀🥀🥀🥀

Ishani duduk di ruang tengah rumah Langit. Iyan tertidur di pelukannya. Televisi menyala pelan. Awalnya ia tidak benar-benar memperhatikan. Namun sebuah nama membuatnya menoleh.

“…Langit Wicaksana…”

Ishani mengangkat kepalanya. Matanya tertuju pada layar. Dan di sana ia melihatnya.

Langit.

Duduk di meja rapat. 

Dengan ekspresi yang sangat ia kenal, tenang dan tegas. Namun yang membuat Ishani terdiam bukan itu. Melainkan sosok wanita di sampingnya.

Meilina. 

Duduk begitu dekat. Begitu sejajar. Begitu… pantas.

Presenter itu terus berbicara. Namun suara itu terasa menjauh di telinga Ishani. Tangannya tanpa sadar mengerat sedikit pada Iyan. Bayi itu bergerak kecil. Namun tidak bangun.

Ishani menelan pelan. Matanya masih tertuju pada layar. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Bukan marah. Bukan cemburu yang jelas. Hanya perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan.

Malam harinya, Langit pulang lebih lambat dari biasanya. Ia membuka pintu dengan langkah lelah. Namun begitu masuk, ia langsung melihat Ishani duduk di sofa. Iyan berada di pangkuannya.

“Belum tidur?” tanya Langit.

Ishani menggeleng kecil. “Nunggu.”

Langit berjalan mendekat. “Kenapa?”

Ishani menatapnya sebelum berkata pelan, “Aku lihat berita hari ini.”

Langit berhenti. Ia sudah menduganya. “Hmm.”

Hanya itu jawabannya.

Ishani menunduk. “Kak Langit sekarang… sibuk ya.”

Langit menatapnya. “Aku memang sibuk.”

Jawaban jujur. Namun nadanya tidak dingin.

Ishani mengangguk pelan.

Keduanya terdiam.

Lalu Langit berkata, “Ada yang ingin kamu tanyakan?”

Ishani tidak menjawab.  Ia sebenarnya ingin bertanya. Tentang wanita itu. Tentang dunia yang tidak dikenalnya.  Tentang posisinya. Namun  ia tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya ia hanya menggeleng. “Tidak.”

Langit memperhatikannya. Lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Namun ia tidak memaksa. Ia hanya duduk di sebelah Ishani.

“Dia sudah minum susu?” tanyanya sambil melihat Iyan.

“Iya.”

Langit mengangguk. Tangannya bergerak pelan menyentuh tangan kecil bayi itu.

Refleks. Dan seperti biasa, Iyan menggenggam jarinya.

Langit tersenyum tipis. Dan untuk sesaat

dunia yang rumit itu terasa jauh.

🥀🥀🥀🥀🥀

Di sebuah ruangan kantor,  Meilina berdiri di depan jendela besar. Ponselnya berada di tangannya. Di layar itu terpampang foto yang sama.

Ia dan Langit. Berdampingan. Seolah memang seharusnya begitu. Meilina tersenyum tipis. 

“Akhirnya…” gumamnya. Tatapannya berubah sedikit lebih dalam dan tajam. “Mulai hari ini… aku tidak perlu mendekatinya lagi.”

Jeda sejenak. 

Senyumnya perlahan melebar. “Karena aku sudah ada di sampingnya.”

1
Lisa
Moga aj Langit dpt menepati kata² nya.
Lisa
Tetap bertahan ya Shani..
☠️⃝🖌️M⃤ʟɪʟʏ vey༉‧♬⃝♥
nahkann, langit pasti uda mulai tertarik sama ishani, sedikit demi sedikit pelan tapi pasti😄
Xlyzy
menikah bukan hal yang bisa di putuskan dengan mudah lebih baik fikiran dulu matang matang
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bisa lho ada orang yang segininya banget 😭
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
bener lho yg dibilang bu maura ini 😭
Three Flowers
akhirnya Ishani menerima wasiat dari sang suami, dan mungkin itu akan menjadi awal yang indah bagi mereka untuk mengarungi rumah tangga, tanpa melupakan Biru
PrettyDuck
kalo kamu di sisi ishani karena sayang, akui aja
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
PrettyDuck
tapi kamu mau teruss
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
PrettyDuck
langit mau nikahin ishani bukan cuma gara2 biru nih
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
PrettyDuck
bukan tugas langit jaga biru
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
-Thiea-
sepertinya akan sulit menghadapi ayahnya.
-Thiea-
memang gak mudah di terima akal sehat. tapi kalo keduanya udah setuju dan sama-sama menerima, restui aja sudah.
Cimol krispy
kemarin berarti adalah kondisi terminal luciditas. sedih banget/Sob/
Miu Nuha.
kamu tetep punya hak atas dirimu sendiri, lang. tapi berusahalah bersikap bijak karena kamu udh dewasa 😌,, segala memang masih rumit sekarang...
Filan
lah... tapi pas mati maksa Langit berkorban juga...
Ini hanya mimpi sih ya...
Filan
Kasihan Langit yang harus selalu dipaksa kuat demi Biru ya.

Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲
Mentariz
Kamu juga berhak bahagia, lang
Mentariz
Mimpinya terasa nyata dan sangat buruk
Mentariz
Dari kecil, hidup langit udah gak adil 🥲 ibunya kayak pilih kasih gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!