Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH MIMPI
Rani berjalan di atas hamparan awan putih. Langkahnya begitu ringan.
Seolah tubuhnya tak lagi memiliki beban.
Ia bersenandung pelan, memutar tubuhnya dengan lincah. Kupu-kupu berwarna-warni beterbangan mengelilinginya, indah, damai, dari kejauhan, terdengar tawa.
Tawa kecil Claudia … disusul suara hangat Farhan. Rani tersenyum.
Meski tak melihat keduanya, ia tahu—mereka ada.
Seekor kupu-kupu hinggap di punggung tangannya. Rani mengangkatnya perlahan, menatapnya penuh bahagia.
Lalu tiba-tiba ....
Jleger! Petir menyambar keras, Rani terkejut.
Suasana indah mendadak hitam dan dingin. Ia ketakutan, tawa Claudia dan Farhan pun menghilang bersamaan dengan petir yang menyambar-nyambar.
"Claudia!" pekiknya memanggil sang putri. Ia menoleh ke segala arah.
Kosong.
Tiba-tiba, langit di atasnya terbelah. Bukan hujan yang turun, melainkan ribuan lembar surat panggilan pengadilan yang menyala terbakar.
Lidah api merah saga menjilat tumitnya, mengejar setiap langkah pelariannya.
Rani tersandung, jatuh tersungkur di atas hamparan duri.
Ia berteriak-teriak memanggil Claudia, lalu Farhan. Tapi tak ada satu sahutan keduanya. Mereka seolah-olah menghilang.
"Mas Farhan!" teriaknya lagi.
Jleger! Suara guntur memekakkan telinga. Langit yang gelap mendadak merah menyala. Api menggulung dari segala arah.
Lidah-lidah api menjilat udara. Rani terbelalak, sekumpulan api mendadak mengejarnya.
"Tidak ...! Tidak ...!" teriaknya lagi ketakutan.
"Mas ... Tolong!" pekiknya lagi lalu tubuhnya tersentak hebat.
Rani terbangun dengan keringat dingin mengucur deras. Nafasnya tersengal-sengal, matanya melebar bergerak ketakutan.
"Mas?"
Hening ... kamar gelap, karena memang biasanya Rani mematikan lampu ketika tidur.
"Mas Farhan!" panggilnya lagi.
Tak ada suara sahutan.
Rani mencoba menurunkan kaki, mencari tumpuan di lantai marmer yang biasanya dingin.
Namun, kakinya hanya menggapai kehampaan. Ia merasa ranjangnya melayang di tengah jurang kegelapan.
"Ah!" Rani kebingungan.
Asap tipis kembali masuk, Rani kembali bersembunyi di bawah selimut. Ia mendengar jantungnya yang berdegup kencang.
Deg! Deg! Deg!
"You a liar!" sebuah teriakan terdengar.
Rani terkisap, matanya melebar sempurna. Ia mendengar suara Farhan dan Iqbal yang bertengkar.
"Aku tidak bohong Farhan. Istrimu masih istri sah ku!" teriak Iqbal membuka tabir kebohongan Rani.
"Aku tidak percaya. Kau telah meninggalkannya di tangan seorang mucikari. Aku yang menolongnya saat rentenir mengejar-ngejar Rani!"
"Aku tidak peduli. Kau memang perebut istri orang! Kau pebinor Farhan!" teriak Iqbal.
"Rani!" teriak Farhan.
Rani yang ada dalam selimut langsung ketakutan setengah mati. Ia menggeleng cepat, berharap ini adalah mimpi.
"Rani!" teriak Farhan lagi.
"Nggak, Mas... dia bohong... Mas, tolong!"
Rani menjerit, menutup telinganya kuat-kuat, berusaha mematikan suara-suara yang menguliti harga dirinya itu.
"Tolong hentikan!"
Tiba-tiba Rani merasa ada yang menarik selimutnya kuat-kuat. Rani berusaha menahan selimut itu. Tapi ... Langsung terbuka.
"Rani ... Kamu kenapa sayang?" Farhan menatapnya penuh kecemasan.
Klik!
Lampu kamar menyala terang benderang, menusuk paksa kornea mata Rani. Ia mengerjap hebat, wajahnya pucat pasi dengan air mata yang mengalir deras. Di depannya, Farhan berdiri tegak, mencengkeram kedua bahunya dengan wajah penuh kecemasan yang teramat sangat.
"Mas?" suara Rani bagai udara lewat. Tak terdengar.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya Farhan kembali. Ia benar-benar khawatir,
Namun di mata Rani yang masih terbayang mimpi tadi, tatapan Farhan seolah-olah sedang mencari jejak kebohongan di pupil matanya.
"Rani ... Sayang!" Farhan memeluknya karena melihat istrinya tak bernafas.
Rani tersentak, ketika merasakan pelukan hangat dari suaminya.
"Mas?"
"Ya sayang, ini aku," sahut Farhan lembut.
"Mas Farhan?" panggil Rani ragu.
Farhan mengurai pelukannya, menatap mata Rani yang masih memancarkan ketakutan.
"Iya ... Aku di sini," jawab Farhan lembut. Ia mengecup mesra bibir istrinya.
Hanya mengecup saja, tidak menarik Rani dalam erotisme. Rani akhirnya tersadar, nafasnya mulai terdengar memburu.
"Mas ... Ini benar kamu kan ... Hiks! Hiks!" Rani menatap suaminya.
"Iya sayang ... Ini aku," jawab Farhan lembut.
Rani langsung memeluk suaminya, tangisnya pecah sampai membasahi piyama Farhan.
"Sihhhh ... Shhhh!" Farhan menenangkan Rani dengan mengelus punggungnya.
"Mas ... Aku takut ... Takut sekali," ujar Rani sambil terisak.
"Sudah jangan diingat. Ayo istighfar!" suruh Farhan lembut.
Rani menatap suaminya, ia lupa bagaimana pengucapan istighfar itu.
"Astaghfirullahhal'adzim!" bimbing Farhan.
"Astaghfirullahhal'adzim!" Rani mengikuti ucapan suaminya.
"Apa sudah tenang?" tanya Farhan lembut.
Rani mengangguk, tapi begitu Farhan hendak melepaskan pelukannya. Rani menolak, ia memeluk kuat-kuat suaminya.
"Tidak ... Jangan lepaskan! Aku masih takut!" pintanya memohon.
Farhan tersenyum, dengan senang hati ia memeluk sang istri. Ia merebahkan dirinya di sisi Rani. Perempuan itu langsung ikut berbaring dan memposisikan diri senyaman mungkin diperlukan sang suami.
"Aku akan menemanimu. Ayo tidur. Jangan lupa baca doa," suruh Farhan.
Rani hanya mengangguk, tapi sekali lagi. Ia lupa doa tidur, tetapi perlahan, matanya terasa berat dan ia pun tertidur pulas.
Entah berapa lama, Rani tersentak karena cahaya tiba-tiba menusuk matanya yang terpejam.
"Eum ... Tutup tirainya ... Aku masih ngantuk!" rengeknya.
Farhan tersenyum, tapi ia tetap membuka lebar tirai dan jendela agar sinar dan udara pagi masuk.
Mau tak mau Rani pun bangun, matanya menyipit ketika melihat cahaya matahari.
"Selamat pagi sayang. Ayo bangun!" suruh Farhan lembut.
Akhirnya Rani bisa membuka mata lebar. Ia melihat suaminya sudah rapi.
"Ayo cepat subuh!" suruh Farhan.
"Astaga Mas ... Matahari sudah tinggi! Masa aku disuruh sholat subuh?" tanya Rani tak percaya.
"Tidak apa-apa. Karena kamu kesiangan, tidak masalah jika kamu terlambat sholat!" jawab Farhan tegas.
Dengan terpaksa Rani ke kamar mandi untuk berwudhu. Walau hanya membasuh muka dan mencuci tangan saja, ia keluar dan langsung menggelar sajadah lalu memakai mukena.
Rani bertakbir selanjutnya, ia pun sholat dalam diam. Sungguh ia hanya bergerak-gerak saja. Tidak membaca doa apapun. Farhan pun sudah turun setelah ia bertakbir tadi.
Hanya satu rakaat, Rani menyelesaikan sholatnya. Ia gegas membuka mukena dan melipatnya asal.
"Ck!" decaknya kesal saat melempar kain itu begitu saja.
Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa kengerian mimpi semalam masih membekas seperti jelaga hitam di dadanya.
Sholat yang baru saja ia lakukan tak lebih dari sekadar senam pagi yang dipaksakan—tanpa doa, tanpa kekhusyukan, hanya gerakan kosong untuk menyenangkan mata Farhan.
Ia turun dengan pakaian rumah. Dress selutut tanpa lengan warna hijau lumut. Begitu kontras dengan kulitnya yang putih tanpa cacat.
"Wah ... Mama cantik sekali!" puji Claudia yang telah memakai seragam rapi.
"Makasih sayang," sahut Rani tersenyum.
Ia duduk di sebelah putrinya. Memakan sarapan yang disiapkan asisten lain Farhan menyewa tenaga baru untuk memasak dan bebersih rumah.
Asih keluar kamar Rafna dengan kereta dorongnya. Rani berkerut, bukan karena kereta dorong itu. Tapi Asih berpakaian rapi.
"Mau kemana bawa Rafna?" tanyanya.
"Konseling," jawab Farhan.
Rani baru ingat jika Rafna masih perbaikan gizi.
"Ini konseling terakhirnya," sambung Farhan lagi.
Rani memilih diam, gara-gara bersinggungan dengan Iqbal. Ia sampai lupa pada putrinya Rafna.
"Apa aku boleh ikut?" pintanya penuh harap. Ia ingin menebus kesalahannya.
Farhan menatap istrinya lama. Rani benar-benar memohon pada suaminya.
"Baiklah!" sahut Farhan pada akhirnya setuju.
"Setelah antar Claudia sekolah!" ujar Farhan lagi.
"Iya Mas!" angguk Rani kuat-kuat.
Bersambung.
dududuu.
Next?