Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — KALAU AKU HANCUR, JANGAN IKUT HANCUR BERSAMAKU
Ruangan kecil itu tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Terlalu sempit.
Terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak siap kuhadapi.
Arkan masih memegang wajahku.
Tatapannya lurus ke mataku.
Tidak main-main.
Tidak bercanda.
Dan sialnya…
aku tahu dia serius.
“Aku tidak bisa kehilangan kamu lagi.”
Kalimat itu terus menggema di kepalaku.
Membuat dadaku kacau.
Aku perlahan menurunkan tangannya dari wajahku.
Bukan karena tidak mau disentuh.
Tapi karena aku takut kalau dia terus menatapku seperti itu—
aku akan runtuh.
“Kita bahkan belum benar-benar punya.”
Suaraku pelan.
Arkan mengernyit sedikit.
“Apa?”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Kehidupan normal.”
Aku menyandarkan tubuh ke sofa.
“Kita bahkan tidak pernah benar-benar hidup seperti orang biasa.”
Sunyi.
“Aku diburu sejak kecil.”
Aku menatap lantai.
“Kamu dibesarkan di keluarga penuh kebohongan.”
Tanganku mengepal pelan.
“Dan sekarang…”
Aku tertawa kecil lagi.
“…aku ternyata cuma flashdisk hidup.”
Arkan hampir tersenyum mendengarnya.
Hampir.
“Tetap saja kamu Alena.”
Aku menatapnya cepat.
Dan lagi-lagi—
cara dia melihatku membuat pertahananku melemah.
Bukan seperti alat.
Bukan seperti target.
Tapi seperti manusia.
Sial.
“Aku serius.”
Dia mendekat sedikit.
“Aku tidak peduli apa yang ada di kepala kamu.”
“Masalahnya mereka peduli.”
Tatapanku langsung berubah dingin lagi.
The Founder.
The Circle.
Sistem sialan itu.
Mereka tidak akan berhenti.
“Kalau sistem itu aktif penuh…”
Aku menggigit bibir pelan.
“…aku bisa mati.”
Arkan langsung mengeras.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi itu fakta.”
“Aku bilang jangan.”
Nada suaranya langsung berubah tajam.
Dan itu membuatku diam sesaat.
Karena aku tahu—
dia takut.
Aku menghela napas pelan.
“Arkan.”
Tatapannya kembali ke mataku.
“Kalau nanti aku benar-benar…”
Aku berhenti sebentar.
Susah sekali mengucapkannya.
“…hancur karena semua ini.”
“Tidak akan.”
“Dengerin dulu.”
Aku menatapnya serius.
“Kalau itu terjadi…”
Dadaku terasa sesak.
“…jangan ikut hancur bersamaku.”
Sunyi.
Dan ekspresi Arkan langsung berubah.
Marah.
“Jangan ngomong seolah kamu bakal pergi.”
Aku tersenyum kecil.
Sedih.
“Kita tidak pernah punya jaminan akhir bahagia.”
“Aku tidak peduli.”
Jawabannya terlalu cepat.
Terlalu yakin.
“Aku peduli.”
Bisikku pelan.
Tatapannya langsung melemah sedikit.
Karena akhirnya—
aku mengakuinya.
Aku peduli padanya.
Sangat peduli.
Dan justru itu yang membuatku takut.
Sebelum suasana berubah makin rumit—
Leon turun dari lantai atas.
Wajahnya tegang.
“Kita punya masalah.”
Tentu saja.
Hidupku memang tidak pernah kasih jeda.
“Apa lagi?” desahku lelah.
Leon melempar tablet ke meja.
“Ada berita tentang kalian.”
Aku langsung mengambilnya.
Dan dalam sepersekian detik—
darahku langsung dingin.
Headline besar memenuhi layar.
PEWARIS ARKAVERA TERLIBAT ORGANISASI GELAP
Nama Alena Wijaya Muncul Dalam Kasus Penghilangan Data Nasional
“Apa-apaan ini…”
Bisikku pelan.
Berita itu menyebar cepat.
Foto kami.
Rekaman CCTV.
Bahkan ada potongan video dari hotel tadi malam.
“Mereka sengaja bocorin semuanya.”
Kata Leon cepat.
“Dan bukan cuma itu.”
Aku menggulir layar lebih bawah.
Lalu tubuhku langsung membeku.
Karena ada satu foto lain.
Foto ayahku.
Dengan tulisan besar di bawahnya.
BURONAN LAMA DIDUGA MASIH HIDUP
Sial.
The Founder mulai bermain terbuka.
“Mereka mau bikin kita diburu publik juga.”
Bisik Arkan dingin.
Dan dia benar.
Kalau identitas kami sudah tersebar—
kami tidak bisa bergerak bebas lagi.
“Ada lebih buruk.”
Suara ayahku terdengar dari belakang.
Kami langsung menoleh.
Wajah pria itu terlihat jauh lebih serius sekarang.
“Kalau berita ini sudah keluar…”
Tatapannya jatuh ke arahku.
“…berarti mereka mulai mempersiapkan aktivasi sistem.”
Jantungku langsung berdetak keras.
“Apa maksudnya?”
Ayahku berjalan mendekat perlahan.
“Emosi ekstrem mempercepat sinkronisasi neural.”
Aku langsung muak mendengarnya.
“Bisa ngomong bahasa manusia normal?”
Leon hampir tertawa kecil.
Hampir.
Tapi ayahku tetap serius.
“Semakin emosimu tidak stabil…”
Dia menatapku dalam.
“…sistem itu semakin aktif.”
Sunyi.
Dan perlahan—
aku mulai sadar sesuatu yang mengerikan.
Semua yang mereka lakukan…
bukan cuma untuk menyakitiku.
Tapi untuk memancing reaksiku.
Rasa takut.
Marah.
Trauma.
Cinta.
Kehilangan.
Semua emosi itu…
mengaktifkan sistem dalam kepalaku.
“Brengsek…”
Aku memegang pelipis.
Tiba-tiba kepalaku terasa nyeri.
“Alena?”
Arkan langsung mendekat.
Aku mengangkat tangan.
Memberi tanda aku masih oke.
Tapi sebenarnya—
tidak.
Karena sejak tadi malam…
aku mulai merasakan sesuatu.
Kilatan.
Potongan gambar aneh.
Kode.
Suara-suara samar.
Dan sekarang—
semuanya mulai muncul lebih sering.
“Ayah…”
Suaraku pelan.
Tatapan pria itu langsung berubah khawatir.
“Ada apa?”
Aku menelan ludah.
“Aku mulai lihat sesuatu.”
Ruangan langsung sunyi.
“Apa maksudmu?” tanya Arkan cepat.
Aku memejamkan mata sebentar.
Mencoba menjelaskan.
“Kayak…”
Aku menggenggam kepala pelan.
“…potongan data.”
Ayahku langsung pucat.
“Tidak…”
Bisiknya pelan.
“Ayah?”
Dia langsung berjalan cepat mendekatiku.
“Kapan mulai?”
“Beberapa hari lalu.”
“Apa yang kamu lihat?”
Aku menggeleng frustrasi.
“Aku tidak tahu.”
Dan itu benar.
Kadang cuma angka.
Kadang wajah orang asing.
Kadang koordinat.
Kadang file.
Semuanya muncul seperti kilatan mimpi buruk.
“Astaga…”
Ayahku mundur pelan.
“Apa?”
teriakku mulai emosi.
Dia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Sistemnya mulai bangun.”
Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.
“Apa artinya?”
Suara Arkan berubah dingin.
Ayahku diam beberapa detik.
Seolah takut mengatakannya.
Lalu—
“Kalau sinkronisasinya selesai…”
Tatapannya bergetar.
“…Alena tidak akan bisa membedakan mana pikirannya sendiri dan mana data sistem.”
Darahku langsung terasa dingin.
Apa?
“Ayah bercanda kan…”
Bisikku pelan.
Tapi wajahnya tidak berubah.
Tidak ada yang bercanda.
“Tidak…”
Aku langsung berdiri.
“Tidak.”
Kepalaku mulai terasa sakit lagi.
Lebih sakit.
Potongan gambar aneh kembali muncul.
Lebih jelas sekarang.
Sebuah ruangan gelap.
Monitor.
Kode merah.
Dan—
simbol lingkaran hitam.
Aku langsung memegang kepala keras.
“Alena!”
Arkan menangkap tubuhku cepat sebelum jatuh.
Napasmu mulai kacau.
“Lihat aku.”
Suaranya terdengar jauh.
Tapi potongan gambar itu terus muncul.
Sebuah suara.
“WELCOME BACK.”
Aku langsung membeku.
Karena suara itu…
adalah suara The Founder.