Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama
Pagi ini hari pertama Angkasa kembali bekerja. Bukan sebagai CEO seperti sebelumnya. Tapi sebagai Direktur pemasaran yang bekerja di perusahaan orang lain. Ya, bagi sebagian orang yang pernah ada di posisinya, mungkin malu dari pemilik perusahaan jadi karyawan orang lain.
Tapi tidak bagi Angkasa, asalkan ia masih bisa menghasilkan uang untuk istri dan calon anaknya... apapun akan ia lakukan, asalkan mereka bahagia.
"Sayang, semuanya sudah siap! Aku berangkat kerja dulu ya?" pamit Angkasa sambil mencium kening Leya yang masih tertidur.
"Hmmm!" Leya menggeliat, berusaha membuka kedua matanya yang berat. "Mas udah mau berangkat? aku kesiangan dong? gak bisa temani Mas sarapan," sesalnya.
Belakangan ini Leya memang jadi lebih sering mengantuk. Bahkan ia yang biasanya bangun pagi, kini hampir tidak bisa membuka kedua matanya.
"Tidak apa-apa sayang! kamu istirahat lebih banyak dan jangan lupa makan. Mas pergi dulu!"
Dengan muka bantal, Leya mengantarkan suaminya sampai pintu depan.
"Tunggu keadaan kita kembali stabil... Mas akan belikan kamu rumah yang lebih baik apartemen ini ya?" ucap Angkasa, bukan bualan tapi tekad yang sudah ia rancang dengan matang.
"Ok! Aku tunggu Mas buktikan janji itu!" sahut Leya dengan senyum ceria yang membuat Angkasa tambah bersemangat.
Angkasa kembali mencium kening istrinya sekali lagi. Lalu ia mulai melangkah, memulai lembaran baru dalam hidupnya yang ia harapkan akan semakin lebih baik.
Mobilnya melaju menuju ke perusahaan baru yang sedang jadi bahan perbincangan hangat di kalangan para pengusaha.
Bukan tanpa alasan. Pasalnya pemilik perusahaan itu adalah orang Indonesia yang selama ini menetap di luar negri. Di luar sana nama perusahaan itu sudah cukup terkenal, karena memiliki beberapa cabang di beberapa negara. Termasuk Indonesia yang baru mereka rintis selama tiga bulan ini.
Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit, Angkasa tiba dikawasan gedung perkantoran. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, mengalahkan tingginya perusahaan yang sebelumnya ia kelola.
Ah! mengingat perusahaan itu, membuat hatinya terasa nyeri dan kesal. Karena ia tahu, ayahnya tidak memiliki kemampuan lebih dalam mengelola perusahaan, yang dulu saat pertama kali ia tangani sedang terancam bangkrut. Kini, hanya dalam hitungan bulan... mungkin semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun ini akan kandas begitu saja.
"Ngapain sih masih mikirin perusahaan itu!" Angkasa cepat menggeleng, lalu keluar dari mobil dan mulai melangkah masuk ke perusahaan tersebut.
Suasana lobby ramai, sangat ramai. Karena perusahaan ini memiliki puluhan karyawan yang bekerja disetiap lantainya. Di lobby ada dua lift yang bisa digunakan para karyawan. Tapi di depan kedua lift tersebut, sudah penuh dengan antrian para karyawan yang ingin naik ke lantai tujuan mereka.
Angkasa ikut mengantri seperti yang lainnya.
"Loh Angkasa, ngapain di sini? jangan bilang kamu kerja disini?" tanya seorang wanita dengan nada mengejeknya yang sangat ketara.
Angkasa memutar bola matanya dengan malas. Ia diam, terlalu malas menanggapi ocehan sepupu dari pihak ayahnya... yang pastinya sudah tahu semuanya.
"Kenapa diam saja? malu ya? dari seorang CEO turun jadi karyawan? Makanya jangan bodoh! udah bagus punya istri pengusaha, malah milih bocah yang gak berguna!"
Wanita itu semakin menjadi-jadi. Sejak dulu ia memang tidak pernah suka dengan Angkasa apalagi ibunya. Dan alasannya jelas karena kejadian dahulu.
"Jangan ikut campur urusan orang lain. Pikirkan aja dirimu yang udah umur 40 tahunan lebih tapi gak laku-laku!" balas Angkasa.
Skak matt!
Wanita yang bernama Susi itu terdiam. Wajahnya memerah antara marah, malu atau mungkin campuran keduanya.
Karyawan disekitar yang mendengar percakapan mereka menahan tawa. Karena Susi.. terkenal karyawan paling sinis dan sering menghina orang lain.
Ting!
Ketika pintu lift terbuka, Angkasa dan yang lainnya melangkah masuk. Termasuk Susi yang menatap Angkasa dengan tatapan permusuhan yang ingin segera membunuh lawannya.
"Kamu karyawan baru?" sapa seorang pria yang berdiri disampingnya.
Angkasa mengangguk. "Iya Mas!"
"Kerja dibagian apa?" tanya lagi penasaran.
"Pemasaran. Masnya dibagian apa?" Angkasa sengaja tidak menyebutkan jabatannya.
"Wah berarti kita satu devisi. Aku Gumelar!" pria itu mengulurkan tangan.
Angkasa membalasnya. "Angkasa!" jawabnya.
Untuk awal yang baru, tempat ini cukup menarik. Meskipun ada biang kerok yang bikin kesal pagi ini... tapi setidaknya masih ada karyawan lain yang ramah dan menyenangkan.
Setelah lift sampai dilantai tujuannya, Angkasa segera turun bersama Gumelar dan Susi yang masih juga melayangkan tatapan permusuhan.
"Sial! kenapa harus satu devisi sama kamu sih!" kesal Susi. "tapi baguslah, setidaknya jabatan kamu pasti jauh lebih rendah dibawah aku!" lanjutnya.
Angkasa hanya menggeleng. Sekali lagi, ia terlalu malas meladeni orang yang banyak bicara seperti Susi.
Angkasa lanjut menuju ke ruangannya sendiri. Tapi...
"He! Kamu ngapain kesana? Itu ruangan khusus untuk Direktur! karyawan rendahan kayak kamu disini!" tujuk Susi ke arah lorong bagian lain khusus untuk karyawan biasa.
"Berisik!" balasnya, lanjut menuju ke ruangannya sendiri.
Sebelum mulai bekerja, asisten pribadi dari pemilik perusahaan itu datang ke ruangannya untuk memberitahukan apa saja tugas dan tanggung jawabnya selama bekerja disana. Bukan hanya itu saja, sebagai Direktur baru Angkasa wajib memperkenalkan diri dihadapan para anggota timnya, agar nanti bisa bekerjasama dengan baik.
Sebenarnya untuk urusan hal ini Axel tidak harus turun langsung. Tapi Axel berkeinginan untuk turun dan menemui Angkasa secara langsung. Karena Axel lah yang merekomendasikan Angkasa ke atasannya. Sebab saat ia tak sengaja membaca CV nya, ia sangat tertarik.
"Halo semuanya, mohon perhatiannya sebentar!" ucap Axel, berdiri ditengah para karyawan yang sedang fokus bekerja.
Mereka yang tadinya fokus pada layar komputer, kini mulai mengangkat kepala.
"Selamat pagi semuanya, pagi ini saya akan memperkenalkan direktur pemasaran kita yang baru. Namanya Pak Angkasa, saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik!" lanjut Axel.
Semua karyawan menyambut dengan ramah. Kecuali satu orang... Susi. Wanita perawan tua itu terkejut, matanya sampai melotot saat melihat Angkasa ternyata bukan karyawan biasa seperti dirinya.
"Sial! kenapa harus dia sih yang jadi direkturnya!" maki Susi dalam hati.
Jika yang lainnya berjalan maju untuk berkenalan dan memberi selamat. Maka hal itu tidak berlaku pada Susi, yang dengan sengaja mengambil foto untuk ia laporkan ke pamannya.
"Om, Angkasa kerja di perusahaan tempat aku jadi direktur pemasaran!" tulis Susi pada pesan yang langsung ia kirimkan ke pamannya.
---
Di rumahnya, Persimon sedang santai main ponsel. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi, ia masih ada di rumah dan entah jam berapa pria tua itu akan pergi bekerja.
"Papa gak ke kantor?" tanya Anna melihat suaminya masih sangat santai.
"Berisik! bukan urusan kamu!" sinisnya.
Anna hanya bisa menghela nafas. Sulit, sangat sulit bahkan mustahil bagi dirinya untuk menjangkau suaminya yang semakin jauh.
"Tapi kalau begini terus... perusahaan bisa bangkrut Pa!" Anna berusaha tetap menasehati dengan lembut. Sejujurnya ia tidak mau perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh orangtuanya dsn dikembangkan oleh putranya, harus bangkrut dan gulung tikar ditangan suaminya.
Praaang!
Cangkir kopi yang ada di atas meja melayang. Pecah dan hampir saja melukai kaki Anna yang andai saja reaksi wanita tua itu tidak cepat bergerak.
"Sekali lagi aku katakan... diam! Untuk apa aku punya banyak karyawan disana jika aku sendiri masih harus turun tangan!" kesalnya.
Persimon berniat pergi dan mencari tempat santai yang lain. Tapi pesan dari keponakannya membuat langkahnya terhenti.
"Dasar anak tolol!" makinya. "punya segalanya malah milih hidup melarat! rasakan! jadi kesat orang lain kan!" Persimon tertawa puas melihat putranya hidup sengsara.