Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Akhir pekan yang dinanti akhirnya tiba. Langit Seoul tampak cerah berwarna biru muda, dihiasi gumpalan awan putih yang berarak pelan ditiup angin sepoi-sepoi.
Suasana hati Kim Ae Ra pun sama cerahnya dengan cuaca hari itu. Ia sudah bersiap-siap sejak pagi, mengenakan gaun musim semi berwarna pastel yang ringan dan nyaman, membuatnya terlihat cantik dan bersemangat.
Di depan gedung apartemennya, sebuah mobil hitam elegan sudah menunggu. Hyun Jae Hyuk turun dari kursi pengemudi saat melihat Ae Ra keluar.
Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru langit dipadukan dengan celana chino berwarna krem, tampil santai namun tetap mempesona. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya saat melihat kekasihnya berjalan mendekat.
"Wah, cantik sekali pacarku hari ini," ucap Jae Hyuk sambil membuka pintu mobil penumpang depan untuk Ae Ra. Matanya tak lepas dari wajah gadis itu, penuh kekaguman.
Ae Ra tertawa kecil, pipinya sedikit memerah karena pujian itu.
"Kamu juga ganteng banget hari ini, Jae Hyuk. Makasih ya udah jemput."
"Emang boleh nggak jemput cewek secantik kamu?" canda Jae Hyuk sambil masuk kembali ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
"Ayo kita berangkat. Aku penasaran banget sama tempat reuni ini. Pasti seru ya bisa ketemu teman-teman lama kamu."
"Iya, pasti seru banget! Aku juga udah kangen banget sama mereka. Dulu kita sering banget ngobrol di toserba itu, kadang sampai lupa waktu," jawab Ae Ra sambil menatap ke luar jendela, matanya berbinar penuh kenangan.
Perjalanan menuju lokasi reuni—sebuah kafe kecil yang nyaman di daerah Itaewon yang dipilih oleh Seo Jun—berjalan dengan menyenangkan. Mereka mengobrol ringan, mendengarkan musik favorit, dan sesekali tertawa bersama.
Jarak antara kantor dan tempat tujuan tidak terlalu jauh, sehingga tak lama kemudian, mereka sudah tiba di lokasi.
Mereka memarkirkan mobil dan berjalan menuju pintu masuk kafe. Sebelum masuk, Ae Ra berhenti sebentar dan menoleh ke arah Jae Hyuk.
"Jae Hyuk," panggilnya pelan.
Jae Hyuk menatapnya, alisnya sedikit terangkat.
"Ada apa, Sayang?"
Panggilan sayang itu membuat hati Ae Ra berdebar kencang, tapi ia segera tersenyum.
"Cuma mau bilang, makasih ya udah mau ikut. Aku tahu mungkin bakal agak canggung di awal, tapi aku senang banget kamu ada di sini sama aku."
Jae Hyuk tersenyum lembut, lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ae Ra erat-erat.
"Aku senang bisa ada di sini sama kamu, Ae Ra. Dan jangan khawatir, aku pasti bisa akrab sama teman-temanmu. Lagian, kan aku cuma mau lihat kamu bahagia. Ayo masuk?"
Ae Ra mengangguk antusias.
"Ayo!"
Saat Ae Ra mendorong pintu kafe itu, bel kecil di atasnya berbunyi nyaring. Suasana di dalam kafe hangat dan cozy, dengan aroma kopi dan kue yang harum memenuhi udara.
Beberapa orang yang sudah duduk di meja besar di sudut ruangan langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar bunyi bel.
"Ae Ra!!" seru satu suara nyaring, diikuti oleh beberapa suara lain yang menyambut dengan gembira.
Ae Ra langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Halo semuanya! Aku datang!"
Ia berjalan mendekat ke meja itu, diikuti oleh Jae Hyuk yang tetap menggenggam tangannya. Orang-orang di meja itu—teman-teman lama dari toserba, termasuk pemilik toserba tua yang ramah—langsung berdiri dan menyambut Ae Ra dengan hangat. Ada yang memeluknya, ada yang menepuk bahunya, semua tampak senang bisa bertemu kembali.
"Akhirnya kamu datang! Kami kangen banget sama kamu!" seru Soo Jin, salah satu teman dekat Ae Ra di toserba, sambil memeluknya erat.
"Aku juga kangen banget sama kalian! Maaf ya aku jarang datang belakangan ini, sibuk banget di kantor," jawab Ae Ra sambil tertawa bahagia.
"Enggak apa-apa kok, kami ngerti. Lagian kan kamu lagi sibuk bikin kesuksesan besar sama perusahaan besar itu, ya kan?" timpal teman lainnya, Min Ho, sambil mengedipkan mata.
Ae Ra hanya tertawa malu, lalu ia menarik tangan Jae Hyuk yang berdiri diam dengan senyum ramah di sampingnya.
"Ngomong-ngomong, kenalin nih, ini Hyun Jae Hyuk. Teman… eh, maksudku pacarku." Ia sedikit salah bicara karena gugup, membuat yang lain tertawa kecil.
Jae Hyuk langsung menyapa dengan sopan dan ramah, mengulurkan tangannya.
"Halo semuanya, salam kenal. Aku Hyun Jae Hyuk. Senang banget akhirnya bisa bertemu teman-teman Ae Ra yang sering dia ceritakan."
Para teman Ae Ra pun menyambut Jae Hyuk dengan antusias. Mereka menyuruhnya duduk dan langsung memberinya sambutan hangat, membuat Jae Hyuk tidak merasa canggung sama sekali.
"Wah, ternyata pacar Ae Ra ganteng banget dan sopan ya! Pantas aja Ae Ra sering senyum-senyum sendiri belakangan ini," goda Soo Jin, membuat wajah Ae Ra makin merah.
"Iya nih, beruntung banget Ae Ra," tambah yang lain.
Jae Hyuk tertawa renyah, lalu menatap Ae Ra dengan tatapan penuh cinta.
"Bukan Ae Ra yang beruntung, tapi aku yang beruntung banget bisa punya dia."
Kalimat itu membuat semua orang di meja itu bersorak gemas, termasuk Ae Ra yang kini menunduk malu tapi hatinya berbunga-bunga.
Tidak lama kemudian, Lee Seo Jun pun datang. Ia tampil santai dengan kemeja flanel dan celana jeans, senyum lebar terukir di wajahnya saat melihat keramaian di meja itu.
"Wah, sepertinya aku datang pas banget ya? Suasananya udah rame banget," ucap Seo Jun sambil mendekat.
"Seo Jun!!" seru semua orang.
Seo Jun menyapa teman-temannya satu per satu dengan hangat, lalu matanya beralih ke arah Ae Ra dan Jae Hyuk. Ia tersenyum lebar dan mengulurkan tangan ke arah Jae Hyuk.
"Halo, Tuan Hyun. Senang banget akhirnya Anda bisa datang juga. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu."
Jae Hyuk menerima jabatan tangan itu dengan ramah.
"Halo, Tuan Lee. Sama-sama, terima kasih sudah mengundang. Tempatnya bagus sekali, dan teman-temannya sangat ramah."
"Senang mendengarnya. Silakan dinikmati acaranya ya," jawab Seo Jun, lalu duduk di kursi kosong yang tersedia di dekat situ.
Acara reuni pun berjalan dengan sangat meriah dan menyenangkan. Mereka makan bersama, berbagi cerita lucu tentang masa-masa di toserba, tertawa lepas, dan saling bertukar kabar.
Jae Hyuk dengan mudah berbaur dengan mereka, mendengarkan cerita-cerita tentang Ae Ra saat masih sering nongkrong di toserba dengan antusias, sesekali ikut tertawa atau bertanya hal-hal kecil.
Di satu momen, saat teman-teman lain sedang sibuk mengobrol satu sama lain, Seo Jun mendekat sedikit ke arah Ae Ra dan Jae Hyuk yang sedang duduk berdampingan.
"Lihat kalian berdua begini, aku turut senang," ucap Seo Jun pelan dengan tulus.
"Ae Ra, kamu terlihat sangat bahagia. Dan Tuan Hyun, terima kasih sudah menjaga dia dengan baik."
Jae Hyuk menatap Seo Jun dan tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Lee. Dan kamu juga, terima kasih sudah menjadi teman yang baik buat Ae Ra. Aku tahu betapa berartinya persahabatan kalian buat dia."
Seo Jun tertawa kecil.
"Kita semua teman baik, kan? Dan aku senang sekali semuanya berakhir baik-baik saja. Dulu aku sempat khawatir, tapi sekarang melihat kalian begini, aku tenang."
Ae Ra menatap kedua pria itu—satu adalah cinta hidupnya, dan satu lagi adalah teman baik yang selalu ada—dengan hati yang penuh rasa syukur.
"Makasih ya kalian berdua. Aku merasa jadi cewek paling beruntung di dunia punya kalian di hidupku."
Momen itu terasa begitu hangat dan indah. Di kafe kecil itu, di tengah tawa teman-teman lama, batasan antara bos dan bawahan, antara pewaris perusahaan besar dan orang biasa, seakan hilang tak berbekas. Yang tersisa hanyalah ikatan persahabatan, rasa saling menghormati, dan cinta yang tulus.
Saat matahari mulai condong ke barat dan sore menjelang, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu dengan perasaan puas dan bahagia.
Mereka berjanji untuk sering bertemu lagi, tidak peduli seberapa sibuknya mereka nanti.
Di perjalanan pulang, Ae Ra bersandar di bahu Jae Hyuk di dalam mobil, matanya terpejam dengan senyum damai di wajahnya.
"Hari ini indah banget ya, Jae Hyuk?" bisiknya pelan.
Jae Hyuk mencium puncak kepala Ae Ra lembut.
"Iya, Sayang. Sangat indah. Dan ini baru awalnya. Kita masih punya banyak waktu buat bikin kenangan indah lainnya, berdua sama-sama."
Ae Ra tersenyum lebih lebar, merasa damai dan bahagia. Ia tahu, hidupnya kini sudah lengkap. Ia memiliki cinta, ia memiliki teman, dan ia memiliki masa depan yang cerah di hadapannya.
Dan apa pun yang akan terjadi nanti, ia siap menghadapinya dengan hati yang penuh cinta dan keyakinan.