Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Penolakan
Malam sebelumnya, setelah makan malam, Samudra sempat mendapat kabar dari Sania bahwa ada jadwal meeting untuk hari ini.
Dan kini—
Samudra sudah berada di lokasi meeting.
Ruangan itu cukup formal, dengan meja panjang dan beberapa kursi tersusun rapi. Beberapa dokumen sudah terbuka di depannya, namun saat ini ia justru sedang melihat ponselnya, membaca sesuatu dengan ekspresi tenang.
Di sampingnya, Sania berdiri sambil mengecek kembali berkas-berkas yang mereka bawa.
Beberapa saat hening.
Lalu—
“Berarti setelah pekerjaan ini saya langsung pulang ke rumah ya, Pak? Dan besoknya tetap harus masuk kantor?” tanya Sania akhirnya, memecah keheningan.
Samudra yang sejak tadi fokus pada ponselnya langsung menoleh.
“Iya, kamu langsung masuk kantor,” jawabnya singkat.
Sania mengangguk. Namun setelah itu—
Ia menarik napas pelan. Tapi cukup untuk menarik perhatian Samudra. Alis pria itu sedikit berkerut.
“Ada apa?” tanyanya.
Sania terlihat ragu sejenak. Lalu tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa, Pak…”
Samudra menatapnya beberapa detik.
“Kamu mau libur dulu?” tanyanya langsung, nada suaranya datar tapi tidak dingin.
Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Sania semakin terlihat.
“Iya, Pak… sebenarnya kalau diperbolehkan, saya ingin libir satu hari,” ujarnya hati-hati.
Samudra tidak langsung menanggapi. Sania melanjutkan, sedikit lebih santai,
“Soalnya saya mau ajak keluarga saya jalan-jalan.”
Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan cepat,
“Tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa, Pak. Saya paham kok, nanti kerjaan di kantor juga pasti banyak.”
Samudra terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Sania dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Lalu—
“Ya sudah, kamu libur satu hari,” ucapnya.
Sania langsung sedikit terkejut.
“Beneran, Pak?”
Samudra mengangguk.
“Iya. Kerjaan bisa diatur.”
Senyum di wajah Sania langsung melebar.
“Terima kasih banyak, Pak!”
Samudra hanya mengangguk kecil, lalu kembali melihat ponselnya. Namun sebelum itu—
Ia sempat berkata,
“Tapi jangan sampai lupa tanggung jawab.”
Sania langsung mengangguk cepat.
“Siap, Pak. Nggak akan.”
@@@
Beberapa menit kemudian, meeting dimulai. Samudra kembali menjadi sosok profesional seperti biasa tenang, fokus, dan penuh perhitungan. Cara bicaranya tegas, setiap penjelasan tersusun rapi.
Sania di sampingnya juga bekerja dengan cepat, membantu menampilkan data dan mencatat poin-poin penting.
Semuanya berjalan lancar. Namun di sela-sela itu—
Sesekali, tanpa sadar, Samudra kembali melihat ponselnya. Bukan karena pekerjaan. Melainkan…
Pesan dari seseorang.
Samira.
Tadi pagi, sebelum berangkat, Samira sempat mengirim foto Binar yang sedang sarapan dengan wajah berantakan karena saus.
Dan entah kenapa—
Sudut bibir Samudra sempat terangkat hanya karena itu. Sania yang duduk di sampingnya sempat melirik sekilas.
@@@
Sementara itu, di kamar hotel—
Samira duduk di sofa sambil menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah konten video. Suasana kamar cukup tenang, hanya suara dari ponselnya yang terdengar pelan.
Jika ditanya Binar…
Gadis kecil itu kini sudah tertidur pulas di atas kasur, setelah sebelumnya sibuk bermain rakitan lego sepertinya karena capek akhirnya tertidur. Napasnya teratur, wajahnya terlihat damai seperti biasa.
“Huft… bosen banget,” gumam Samira pelan.
Bagaimana tak bosan kalau dari tadi setelah bermain dengan Binar ia hanya bermain ponsel. Pandangan Samira perlahan beralih ke arah jam dinding.
11.30 siang.
“Pantas saja Bibi tidur… memang sudah jamnya,” gumamnya.
Ia menyandarkan punggungnya, lalu kembali menatap layar televisi. Namun fokusnya sudah hilang.
Pikirannya justru ke mana-mana.
Terutama…
Ke seseorang.
“Sebentar lagi makan siang…” ucapnya pelan.
Tangannya tanpa sadar meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Layar dibuka.
Kosong.
Belum ada pesan masuk dari Samudra. Samira menatap layar itu beberapa detik.
“Jadi nggak ya… ajak makan siang?” gumamnya pelan.
Sejujurnya, ia tidak tahu. Karena selama ini… ia tak pernah dijanjikan apa-apa oleh Samudra.
Samira menarik napas kecil.
“Ya sudah… tunggu sampai jam dua belas saja,” putusnya pelan.
Ia kembali melirik jam. Masih setengah jam lagi.
“Kalau sampai jam dua belas belum ada kabar… berarti nggak jadi,” lanjutnya dalam hati.
Ia menunduk, memainkan ujung ponselnya.
“Lagian Bibi juga nanti pasti bangun jam segitu…”
Ia tersenyum kecil, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Kalau pun nggak jadi… ya nggak apa-apa.”
Ada jeda.
“…kan masih ada waktu lagi.”
Namun—
Meski berkata seperti itu…
Matanya kembali melirik layar ponsel. Seolah tetap berharap.
Kalau kali ini…akan berbeda.
@@@
Akhirnya, meeting selesai.
Semua pembahasan berjalan lancar, dan kesepakatan pun telah dicapai. Kedua belah pihak resmi menjalin kerja sama, sementara penandatanganan kontrak akan dilakukan nanti di kota, setelah Samudra kembali.
Pak Bastian, salah satu pihak klien, tersenyum puas.
“Kebetulan sudah hampir jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama sekalian merayakan kerja sama ini, Pak Samudra?” tawarnya ramah.
Samudra mendengar itu, lalu tersenyum tipis.
Namun—
“Sebelumnya saya minta maaf, Pak,” ucapnya tenang.
“Saya terpaksa harus menolak ajakan Bapak.”
Pak Bastian sedikit terkejut, tapi tetap mendengarkan.
“Kebetulan saya sudah ada janji dengan istri dan anak saya untuk makan siang bersama,” lanjut Samudra.
“Mungkin lain kali kita bisa menjadwalkannya lagi saat bapak ke kantor saya.”
Nada suaranya tegas. Samudra ingat betul, ia sudah berjanji. Dan kali ini… ia tidak ingin mengingkarinya.
“Oh, iya juga ya…” Pak Bastian tertawa kecil.
“Saya sampai lupa kalau Bapak sudah berkeluarga.”
Ia kemudian menambahkan dengan nada lebih santai,
“Kalau begitu, sekalian saja ajak makan siang bersama. Bagaimana, Pak?”
Kalimat itu membuat Samudra terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Pikirannya bekerja.
Di satu sisi, itu bukan ide yang buruk. Namun di sisi lain—
Selama ini, kehidupan pribadinya memang sangat ia jaga. Hampir tidak ada yang benar-benar tahu siapa istrinya.
Selama lima tahun menikah, ia tidak pernah secara terang-terangan memperkenalkan Samira di lingkungan kerja.
Orang-orang hanya tahu—Ia sudah menikah. Dan memiliki seorang anak perempuan.
Hanya itu.
Tidak lebih.
Pak Bastian seolah mengerti keraguan itu.
“Ah, tapi kalau tidak memungkinkan juga tidak apa-apa, Pak,” ujarnya sambil tersenyum.
“Saya paham, kehidupan pribadi memang ada batasnya.”
Samudra menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Terima kasih atas pengertiannya, Pak,” jawabnya sopan.
“Untuk saat ini, saya belum bisa karena itu tanpa sepengetahuan istri saya."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Mungkin lain waktu… setelah saya bicarakan dengan istri saya terlebih dahulu."
Pak Bastian mengangguk.
“Baik, Pak Samudra. Tidak masalah.”
Mereka pun berjabat tangan sekali lagi sebelum benar-benar berpisah.
@@@
Setelah keluar dari ruangan Samudra langsung mengeluarkan ponselnya. Tanpa berpikir lama, ia membuka chat. Jarinya bergerak cepat.
Samudra: Aku sudah selesai. Mau pulang sekarang. Kamu sama Bibi siap-siap ya, kita jadi makan di luar.
Beberapa detik.
Pesan itu terkirim.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!